rumahnahdliyyin.com - Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menyelipkan kisah yang beliau alami ketika mengulas QS. Al-Insyiroh, khususnya pada ayat 5 dan 6, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Ketika pertama kali dipenjara oleh rezim Bung Karno, pada 27 Januari 1964, beliau gelisah. Akhirnya, Buya Hamka membuka mushaf. Membaca Al-Qur’an.
Lima hari penahanan pertama, Al-Qur’an telah dia khatamkan tiga kali. Kemudian beliau mengatur waktu untuk membaca dan menulis tafsir Al-Qur’an. Hingga saat beliau dibebaskan pada Mei 1966, ulama' Minangkabau ini sudah lebih dari 155 kali mengkhatamkan Al-Qur’an dalam durasi dua tahun. Luar biasa!
Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara
Ini diantara hikmah dari penahanan, Buya Hamka bisa dengan lancar menyelesaikan karyanya. Tak hanya itu, berkat royalti Tafsir Al-Azhar yang diterima, pada tahun 1968, beliau bisa naik haji bersama keluarga. Inilah diantara contoh apabila setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
QS. Al-Insyiroh atau yang masyhur dengan sebutan Surat Alam Nasyroh adalah Surat Makkiyah yang terdiri dari 8 Ayat. "Asy-Syarh" bermakna lapang dan luas. Dikatakan orang itu lapang dada, maksudnya berjiwa terbuka dan riang. Sifat seperti ini menjadi kebanggaan bagi orang Arab dan mereka mengekspresikan dalam bentuk puji-pujian.
Baca Juga: Inflasi Ulama'
Demikian pentingnya sikap lapang dada ini, hingga Allah SWT. mengabadikan do'a Nabi Musa AS. dalam QS. Thoha ayat 25-28; “Robbisyrohlî shodrî wa yassirlî amrî wahlul ‘uqdatam-millisânî yafqohû qoulî.” (Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.).
"Al-Wizru" berarti beban yang berat. Karena itu, menurut Prof. Quraish Shihab, dalam tafsirnya, ada istilah wazir (menteri) karena memikul beban tanggung jawab yang berat. Demikian pula al-wizr yang berarti dosa, karena yang berdosa merasakan beban berat dalam jiwanya. Disamping itu, dosa menjadi sesuatu yang sangat berat dipikul oleh pelakunya di kemudian hari.
Baca Juga: Madzhab Gantung Kaki
Turunnya surat ini mengindikasikan ada sesuatu beban berat yang dipikul oleh Rasulullah SAW. Beban ini, menurut para ulama', antara lain:
- Wafatnya istri beliau, Khadijah RA., dan paman beliau, Abu Thalib.
- Beratnya wahyu Al-Qur’an yang beliau terima, sebagaimana termuat dalam QS. Al-Hasyr: 21 (terj. “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah SWT.").
- Keadaan masyarakat pada masa jahiliyyah. Pendapat terakhir ini dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Prof. Quraish Shihab, yang menganggap apabila beban berat terletak pada sisi psikologisnya, yaitu tentangan dan permusuhan kaum musyrikin kepada Rasulullah SAW.
Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits
Ayat keempat, warofa’nâ laka dzikroka, “Dan kami tinggikan sebutanmu”. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah SWT. senantiasa menyertakan nama Rasulullah SAW. setelah nama Allah SWT. Misalnya dalam syahadat, adzan, iqomah dan seterusnya. Bahkan, Allah SWT. memerintahkan bersholawat kepada Rasulullah SAW. setelah Allah SWT. memberikan contoh dalam QS. Al-Ahzab ayat 56.
Buya Hamka, dalam tafsirnya Al-Azhar, ketika menafsirkan ayat ketiga ini, mengutip riwayat Abu Dhahhak dan Ibnu Abbas bahwa “Apabila disebut nama-Ku, namamu pun turut disebut dalam adzan, iqomah dan syahadat. Di hari Jum’at di atas mimbar, di hari raya Idul Fitri, Idul Adlha, Hari Tasyriq di Mina dan Wukuf di Arafah, di hari melontar jumroh ke-tiga-nya, diantara bukit Shafa dan Marwah, bahkan sampai pada khutbah nikah, namamu dijajarkan menyebutnya dengan nama-Ku, sampai ke timur hingga ke barat. Malahan, jika ada seseorang beribadah kepada Allah SWT. Yang Maha Kuasa, seraya mengakui adanya surga dan neraka dan segala yang patut diakui, tetapi dia tidak mengakui bahwa engkau adalah Rasulullah SAW., maka tidaklah ada manfaatnya segala pengakuannya itu. Malahan dia kafir.” Demikian salah satu tafsiran dari Sayyidina Abdullah ibn Abbas RA.
Baca Juga: Inilah Jawaban Terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat
Ayat ke-tujuh dan ke-delapan, yaitu faidzâ faroghta fanshob (Terj. Versi Depag, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”), mengindikasikan apabila makna istirahat itu bukan rehat, mengaso, maupun bersantai-santai setelah usai mengerjakan sesuatu. Melainkan perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain dengan prinsip ar-rohah fi tabadulil a’mal (istirahat itu ada pada pergantian pekerjaan).
Sedangkan ayat terakhir, Wa ilâ Robbika Farghob, “….dan hanya kepada Tuhanmu, hendaklah engkau berharap,” menunjukkan pentingnya terminal akhir, yaitu Allah SWT. sebagai landasan setiap aktivitas. Dua ayat terakhir ini sekaligus menjelaskan mengenai mekanisme kerja kaum mukminin, yaitu keseimbangan antara ikhtiyar dan tawakkal. Berusaha saja tanpa berdo'a, itu sombong. Dan do'a saja tanpa usaha, itu malas.
Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah
Dalam kajian keilmuan, para ulama' besar, di masa mudanya, telah kenyang melalui berbagai kesulitan. Mengenai kesabaran, ketabahan dan semangat para ulama' dalam menuntut ilmu ini diulas oleh Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam karyanya Shofahat min Shobr Al-Ulama' ala Syada’id Al-‘Ilm wat-Tahsil.
Meminjam judul sinetron tahun 1990-an; “Sengsara Membawa Nikmat”, demikian pula perjalanan menuntut ilmu. Yang kita lihat dari keberhasilan para ulama' bukan dari “hasil akhirnya”, melainkan pada proses dirinya membentuk karakteristik keilmuannya.
WAllâhu a'lam bisshowâb.
[]
* Oleh: Rijal Mumazziq, Beberapa poin ini disampaikan dalam Kajian Tafsir Rutinan di Ponpes Mabdaul Ma'arif, Desa/Kec. Jombang, Kab. Jember, Selasa malam, 18 Dzulqo'dah 1439 H./ 31 Juli 2018.
