Tampilkan postingan dengan label FPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FPI. Tampilkan semua postingan

Hubungan, Kesamaan dan Perbedaan FPI dan HTI


rumahnahdliyyin.com - FPI dan HTI dua organisasi Islam yang muncul setelah jatuhnya Soeharto. Kedua organisasi ini memiliki semangat yang sama dalam hal formalisasi syari'ah. Daya kritis keduanya terhadap penguasa sama kerasnya. Dan mereka bersih dari pengaruh KKN di masa Orde Baru. Tiga kesamaan ini membuat FPI dan HTI bisa berdekatan.

Momentum Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) keempat pada 17-21 April 2005 di Jakarta yang diselenggarakan Majlis Ulama Indonesia (MUI), HTI intensif mendekati ormas dan tokoh Islam. HTI kemudian membentuk lajnah khusus untuk menggarap tokoh dari ormas-ormas Islam. Lajnah ini disebut Lajnah Fa'aliyah. Ustadz Al-Khaththath ditunjuk sebagai ketua dibantu beberapa orang anggota lajnah. Agenda terdekat Lajnah Fa'aliyah pasca KUII keempat adalah menjaga hubungan dengan tokoh-tokoh ormas peserta KUII yang kemudian melahirkan Forum Umat Islam (FUI) yang digagas oleh HTI.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Saat itu, sebenarnya FUI kepanjangan tangan dari DPP HTI. Ustadz Al-Khaththath dan anggota Lajnah Fa'aliyah di-BKO-kan di FUI. Mereka selalu konsultasi dengan DPP HTI soal isu dan aksi apa yang bisa diangkat melalui FUI. Setiap bulan, perkembangan aktivitas Lajnah Fa'aliyah, khususnya di FUI, dilaporkan pada rapat bulanan DPP HTI. Dari sini lahir aksi-aksi FUI. Di daerah-daerah, HTI melakukan hal yang sama dengan di pusat. Membentuk Lajnah Fa'aliyah tingkat propinsi. Mengontak para tokoh ormas. Menjalin hubungan dengan mereka. Bila memungkinkan, membentuk wadah bersama seperti FUI di Jakarta.

Di balik kesamaan emosi dalam memperjuangkan syari'ah, FPI dan HTI menyimpan perbedaan yang dalam dan mendasar. Secara 'aqidah, FPI menganut paham Asy'ariyah yang oleh HTI dianggap sesat. FPI mengambil Syafi'iyah sebagai madzhab fiqih, sedangkan HTI bermadzhab Nabhaniyah. FPI ingin mewujudkan NKRI Bersyari'ah, adapun HTI berjuang ingin membentuk Khilafah Tahririyah. FPI langsung dibawah komando ketua umumnya HRS, sedangkan ketua DPP HTI hanya pelaksana tugas Amir Hizbut Tahrir. Tapi HTI perlu FPI sebagai sekutu sementara untuk melawan penguasa mengingat FPI memiliki massa, kader yang banyak dan militan, serta jaringan yang kuat di Jakarta.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Persekutuan sementara ini tidak berumur panjang. Hanya berjalan 3 tahun. Persekutuan ini berakhir ketika Insiden Monas 2008 pecah ketika FPI dan HTI melalui wadah FUI mengadakan aksi bersama. Pada saat aksi terjadi bentrokan antara massa AKKBB dengan oknum massa FPI. Atas kejadian itu, DPP HTI cuci tangan. Lalu keluar dari FUI. DPP HTI yang culas blas. Hal ini membuat marah HRS. Sejak itu, hubungan FPI dan HTI jadi memanas. Saling menjelekkan satu sama lain di forum-forum. Adapun posisi Ustadz Al-Khaththath memilih keluar dari HTI. Dia tetap di FUI dan berhubungan terus dengan HRS sampai sekarang.

Dua tahun setelah Insiden Monas, FPI dan HTI masih tegang. Di Bangka Belitung, sebagai ketua HTI, saya mengundang HRS dalam acara Safari Dakwah. Mengundang tokoh-tokoh Islam nasional dan kontroversial cara paling efektif untuk mensosialisasikan HTI di Babel. Tokoh-tokoh yang selama ini wajah dan suaranya mereka tonton di TV, kini hadir di tengah-tengah mereka. Sebelum HRS, awal 2008 saya mengundang ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan ustadz Al-Khaththath dalam acara Sarasehan Umat Islam Bangka Belitung.

Baca Juga: FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia

Safari Dakwah HRS di Bangka memicu kontroversi di internal HTI. Di safari dakwah ini HRS jadi penceramah tunggal. Iklan acara dimuat di buletin Al-Islam cetakan HTI Babel. Tentu saja acara safari dakwah HRS di Bangka sepengetahuan dan seizin DPP HTI. Pada saat yang sama, kebetulan ada kunjungan rutin supervisi dari DPP HTI. Hikmahnya, HRS dan DPP HTI bisa ketemu kembali. Pertemuan itu terjadi di ruang VIP Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Sekalian mengantar kepulangan HRS ke Jakarta.

FPI dan HTI sudah saling kenal. Persekutuan FPI dan HTI terjalin kembali. Pada kasus pembakaran bendera di Garut, sepintas lalu publik melihat FPI membela HTI. Tetapi di sisi lain, FPI Malang dan Jombang setuju HTI dilarang eksis kembali. FPI sama sekali tidak bersikap ambigu terhadap HTI karena pada insiden pembakaran di Garut persepsi FPI bendera itu bendera tauhid bukan bendera HTI.

Emangnya tauhid itu semacam ormas baru yang punya bendera?!


* Oleh: Ayik Heriansyah, Mantan HTI.
Bandung, 29 Oktober 2018.
Read More

FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Malang - Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Malang sepakat bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tak boleh ada di Indonesia. Hal itu ditegaskan FPI Kabupaten Malang dalam acara Cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang, yang digelar oleh Polres Malang, pada Jum'at (26/10/2018).

Menurut Sekretaris FPI Kabupaten Malang, Muhammad Khosim, pihaknya memohon maaf karena pimpinan FPI Kabupaten Malang tak bisa hadir atas undangan cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang itu.

"Pimpinan kami sedang ada acara, tidak bisa hadir. Karena kita (FPI Kabupaten Malang) masih baru, pimpinan kami menyampaikan agar kita tidak banyak menyampaikan statemen, soal pembakaran bendera HTI di Garut itu," jelasnya.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Namun, DPW. FPI Kabupaten Malang, tegas Khosim, telah sepakat bahwa insiden di Garut itu bukan unsur kesengajaan dari teman-teman Banser.

"Selain itu, kita (FPI Kabupaten Malang), sepakat bahwa HTI di Indonesia tidak boleh ada," tegas Khosim, di depan ratusan undangan dan para tokoh organisasi keagamaan dan kepemudaan yang hadir saat itu.

Menyikapi kejadian pembakaran bendera HTI di Garut itu, karena terjadi multi tafsir antara bendera HTI atau Al-Liwa'-Ar-Royah, Khosim mengatakan: "FPI sampai dengan saat ini tidak ada agenda menggelar aksi apapun di Kabupaten Malang," tegasnya yang disambut aplaus oleh para hadirin.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Selain itu, Khosim juga menambahkan bahwa FPI Kabupaten Malang dengan teman-teman Banser di Kabupaten Malang sudah clear.

"Namun, seperti yang disampaikan MUI Kabupaten Garut, adalah permintaan maaf Banser kepada teman-teman yang menafsirkan berbeda, harus dilakukan," katanya.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sementara itu, menurut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang, Drs. H. Mursidi, MM., warga Muhamadiyah Kabupaten Malang sepakat tidak boleh ada aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan yang berpotensi pada perpecahan dan rusaknya persatuan bangsa.

"Kejadian Garut itu, agar menjadi bahan muhasabah, agar tidak terulang kejadian yang sama dengan alasan apapun. Tidak boleh terjadi lagi di Indonesia, terutama di Kabupaten Malang," katanya.[]
Read More

Jurang dan Jembatan FPI - NU


muslimpribumi.com - Bismillah.... Untuk memulai menulis catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan pertanyaan untuk kita renungkan. Pertanyaan ini sangat urgent dan mendasar sekali, bisakah FPI & NU "berdamai"? Sengaja saya beri tanda petik dalam kalimat berdamai, karena ini menjadi bahasan saya dalam catatan penting selanjutnya dalam judul yang saya angkat kali ini.

Tidak ada maksud sedikitpun saya mensejajarkan keduanya. Sebagaimana diketahui bersama, NU berdiri jauh sebelum kemerdekaan indonesia, tahun 1926 atas prakarsa para Ulama terkemuka seperti Hadlratussyaikh Mbah Yai Hasyim Asy'ari, Mbah Yai Wahab Hasbullah, Mbah Yai Bisri Syansuri serta para Ulama terkemuka lainnya atas restu Seorang Waliyullah yang sangat dihormati & disegani para Ulama kala itu, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Bangkalan.

Berdirinya NU kalau kita baca dalam berbagai tulisan dan sejarah yang banyak ditulis, jelas sekali untuk "menghadang" gerakan faham Wahabi yang mulai gencar tumbuh dan berkembang kala itu. Dibentuknya komite Hijaz sebagai salah satu indikatornya, jelas sekali sebagai sikap para Ulama menyikapi kegelisahan yang ada.

NU berdiri tidak hanya pada aspek ijtima'iyah saja. Juga tidak hanya pada sisi jama'ah saja. Tapi jauh lebih penting dari itu, yakni sisi dakwah dan keagamaan, masalah-masalah diniyyah ijtima'iyah menjadi porsi utama dalam tujuan berdirinya NU.

Karena NU itu organisasi Ulama, maka seharusnya yang mengurusi NU itu harusnya berlatar belakang Ulama, minimal berlatar belakang Pesantren. Karena, bagaimana bisa "ngopeni" NU secara lahir dan bathin kalau pengurusnya misalnya, tidak memahami Ulama, tidak memahami Pesantren? Karena, NU lahir dari Pesantren, NU itu bukan "Perusahaan" yang bisa dimenej serba intruktif dan top down, apalagi mengesampingkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah terhadap para Ulama sepuh misalnya.

Karena ruh NU itu berada di Ulama dan Pesantren, maka wajib hukumnya NU mempertahankan dan menjaga ruh ini. NU harus Istiqaamah menjaga uswah ini sebagaimana ketika awal berdirinya NU, Hadlratus Syaikh sebagai Rois Akbar NU memegang peranan sangat penting dan dominan. Posisi Syuriah lebih mendominasi dan menjadi rujukan mutlak di lingkungan NU. Sedang posisi Tanfidziyah yang kala itu dipercayakan kepada Hasan Gipo yang bertalar pengusaha, lebih pada pelaksana mandat para Ulama yang ada dijajaran Syuriah.

Lain NU, lain pula FPI. Setau saya, organisasi ini berdiri sekitar tahun 1996-an. Berawal dari cikal bakal Pamswakarsa yang kala itu dibentuk oleh Jenderal Wiranto. Saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa, terdengar jelas sekali sayup-sayup di ibukota dan beberapa kota besar di tanah air munculnya OTB. Organisasi Tanpa Bentuk, begitu belakangan sering disebut oleh berbagai kalangan kala itu. Istilah Pamswakarsa atau Pengamanan Swakarsa atau swadaya masyarakat ini sengaja diciptakan dan dibentuk oleh pemerintah kala itu.

Jadi menurut saya, FPI memang dari awal sengaja dibentuk atas dasar politis. Politis yang saya maksud adalah karena munculnya dari benih organ Pamswakarsa yang memang sengaja dibentuk pemerintah. Wajar kalau FPI berpatronase dengan pemerintah dalam menjalankan program-programnya.

Dimana ada pelacuran terang-terangan maupun terselubung, di situ ada FPI yang getol menolaknya. Dimana ada diskotek, minum-minuman keras, kemaksiatan, dll. disitu ada FPI yang getol menolaknya secara "kasar" dan tanpa ampun. Seharusnya negara dan pemerintah berfungsi ofensif dengan penegakan hukumnya. Kadang kita banyak saksikan justru tumpul dan ada pembiaran-pembiaran sehingga ada kesan justru FPI yang dijadikan "ban serep" menghadapi semua itu.

Sampai-sampai sering muncul stigma agak kurang sedap terhadap FPI, bahkan plesetan negatif seperti Front Pentungan Indonesia, dll., karena setiap beraksi dan menolak "kemungkaran" tersebut, sedikit-sedikit selalu memakai "pentungan."

Diawal-awal berdiri tahun 1996-an, tentu kita ingat bagaimana Pamswakarsa juga beraksi setiap ada kerusuhan yang terjadi di Ibukota. Juga banyak memakai pentungan sebagaimana belakangan FPI juga memakai hal yang sama.

Catatan kecil saya ini tidak ada maksud memojokkan FPI sebagai sebuah organisasi massa yang saat ini tumbuh dan berkembang dibawah komando Al-Mukarrom Habib Rizieq. Tetapi saya hanya ingin sedikit mengurai kenapa FPI & NU itu "sulit" sekali berdamai. Bisakah kedua organisasi ini bisa berdamai?

Dilihat dari jumlah pengikut, jelas keduanya tidak bisa disamakan atau di sejajarkan. NU menurut data diatas kertas, ummat atau pengikutnya diatas 60 juta. Bahkan, konon secara kultural dan ajaran ada yang mengatakan bahwa separo lebih jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah ummat atau pengikut NU. Sedang pengikut FPI sendiri, belum ada data atau sumber yang jelas berapa jumlah pengikutnya.

Begitu kuatnya aroma ketidaksepahaman antara FPI dan NU, pernah suatu ketika sampai-sampai Sang Komando FPI Al-Mukarrom Habib Rizieq pernah mengatakan didalam suatu forum majlis bahwa Gus Dur itu "buta mata dan buta hati," saya sendiri masih ikut ceplas-ceplos yang dikatakan Al-Habib itu. Ini juga yang oleh sebagian besar ummat NU "mungkin" masih diingat dan melekat kuat sampai saat ini.

Entah karena disengaja atau keceplosan atau keseleo sebagaimana Ahok keseleo "menistakan" Al-Qur'an, Sang Habib sejak tahun 1999 sampai Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, di berbagai forum dan kesempatan, HR selalu menyerang GD dengan kata-kata dan kalimat pedas lainnya. Sekali lagi, saya tidak mengerti apa motif yang sebenarnya kedua tokoh yang beda peran dan zaman ini berseberangan, baik secara tertutup maupun terbuka.

Walau Gus Dur menanggapi dengan rileks dan santai dengan slogan beliau yang terkenal itu: "begitu saja kok repot," tetapi ummat NU tetap saja sangat keberatan dan tidak terima dengan tudingan dan olok-olok sang Habib itu. Karena Gus Dur itu sebagai representasi NU, menghina Gus Dur sama saja dengan menghina NU. Kita tau Gus Dur adalah putra dari tokoh dan pahlawan nasional, KH. Abdul Wahid Hasyim dan cucu dari Pendiri NU sekaligus tokoh dan pahlawan nasional juga, beliau Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Al-Mukarrom Habib Rizieq sebagai komando FPI yang konon juga di tahbis menjadi Imam Besar FPI, alangkah elok, etis dan santunnya, andai saja Sang Habib "menyampaikan permohonan maaf"-nya kepada NU. Lebih khusus kepada keluarga Allah Yarham Al-Maghfurlah Gus Dur, dan umumnya kepada ummat NU atas tudingan atau ucapannya yang saya tulis diatas tadi. Sehingga "luka" hati dan perasaan ummat NU secara umum bisa terobati. Sebagai seorang Habib, saya yakin beliau mau demi kemaslahatan dan persaudaraan serta persatuan ummat secara umum.

Belakangan, apalagi saya mengamati dan melihat ada beberapa, bahkan bisa jadi sudah lumayan banyak, ummat NU yang ikut bergabung dengan FPI. Bahkan teman-teman se-Almamater saya dari sesama santri dan Alumni Tebuireng juga mulai ikut bergabung dengan FPI.

Tentu tidak elok rasanya kalau-kalau Dzurriyyah Hadlratus Syaikh dimana santri dan alumni Tebuireng pernah mengenyam nyantri atau jadi SANTRI Tebuireng, tetapi Dzurriyyah Hadlratus Syaikh "dihujat" dan diolok-olok sang Habib yang notabene ditahbis menjadi imam besar di internal FPI. Sebagai santri-santri Tebuireng yang ikut bergabung dengan FPI ataupun santri-santri lainnya yang ada garis ilmu dengan Hadlratus Syaikh seharusnya memberikan saran positif kepada Sang Habib sebagai imam besarnya. Selama masih ada beban sejarah dan psikologis itu, selama itu pula kedua organ ini sepertinya sulit bisa melupakan "luka lama itu."

Belum lagi persoalan Manhajiyah, keduanya sepertinya bagai kutub utara dan kutub selatan. Walau FPI selalu mengatakan saat ini telah banyak mengalami perubahan dan sama-sama mengaku berhaluan Ahlussunnah wal Jama'ah. Tapi, urusan Manhajiyah ini sejatinya adalah hal yang sangat mendasar dan prinsip. Seharusnya ini menjadi agenda penting kalau keduanya ingin ishlah "berdamai." Selama hal-hal mendasar ini belum tuntas menjadi kesepakatan bersama dan dibahas dalam tingkat dialog dan tabayyun, selama itu pula keduanya sulit dicapai dalam membangun harmonisasi, baik dalam dakwah maupun gerakan ke-ummat-an.

Melalui catatan kecil tulisan saya ini, saya berharap banyak, kedepan FPI bisa lebih santun, meninggalkan stigma "penthungan" sebagaimana saya tulis diatas. Mulai menggeser dari gerakan "jalanan" menjadi lebih ilmiah, santun dan beradab. Slogan An-Nahyu 'an Al-Munkar yang sering jadi pedoman dilapangan oleh para laskar-laskarnya itu harus mulai digeser menjadi "An-Nahyu 'an Al-Munkar Laa bil-Munkar wa Laakin An-Nahyu 'an Al-Munkar bil-Ma'ruuf," mencegah kemungkaran bukan dengan cara-cara munkar (cara-cara agitatif, provokatif, kekerasan, intimidatif, dll.), tetapi mencegah kemungkaran dengan cara-cara yang baik, santun, dan beradab atau dengan cara-cara ma'ruuf lainnya.

Kalau hal-hal prinsip ini kedepan terus mengalami perubahan secara signifikan, saya merasa yakin dan husnudzon keduanya, "FPI & NU", akan bertemu dan berdamai secara alamiah. Sebagai organ yang jauh lebih muda, seharusnya FPI bisa lebih pro aktif & mengkaji serta mengevaluasi konsep dan mabadi' organisasinya demi kemaslahatan ummat dan keutuhan bangsa ini dari jurang perpecahan yang lebih besar lagi.

Sejauh ini saya melihat dan membaca, sementara hanya NU dan Muhammadiyah yang masih tetap konsisten menjaga NKRI ini dari jurang dis-integrasi bangsa ini. Elemen-elemen bangsa lainnya termasuk FPI dll. seharusnya memberikan bukti kecintaannya dalam mengawal dan menjaga keutuhan NKRI dari cerai berai dan dis-integrasi..!!!

Wallaahu A'lam

Catatan kecil disepertiga malam.
Bumi Al-Rahman Al-Waqi'ah.
Pesantren Roudlotut Tholibin, Kombangan, Bangkalan, 21 Januari 2017.

Al-Dla'if wal Faqier, Lora H. Fawaid Abdullah (Pimpinan Pesantren Roudlotut Tholibin, Kombangan, Bangkalan & Mantan Ketua Umum Pengurus Wilayah Jawa Timur IKAPETE "Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng").
Read More