Tampilkan postingan dengan label Fiqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqh. Tampilkan semua postingan

Fatwa Mufti Makkah untuk Zakat Sagu di Nusantara Timur


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah secarik manuskrip berisi fatwa dari Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî (w. 1343 H./1924 M.), seorang ulama' besar dunia Islam yang juga menjabat mufti madzhab Syafi’i di Makkah, terkait hukum mengeluarkan zakat fitrah untuk wilayah Nusantara Timur.

Fatwa ini kemungkinan besar ditulis pada akhir abad ke-19 M. atau awal abad ke-20 M. Manuskrip ini sendiri tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Universitaire Bibliotheken Leiden), Belanda, dalam kumpulan arsip Christian Snouck Hurgronje (w. 1936), seorang orientalis besar Belanda yang juga penasihat pemerintahan colonial Hindia-Belanda (menjabat sepanjang tahun 1889-1906).

Baca Juga: Alumni Santri di Sorong, Papua, Bahas Soal Zakat

Sebagaimana dimaklumi bahwa mengeluarkan zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang ditunaikan satu tahun satu kali, yaitu pada bulan Romadlon. Zakat yang dikeluarkan berupa bahan makanan pokok suatu negeri di mana seorang muslim itu tinggal dan dengan ukuran tertentu.

Bagi muslim Timur Tengah, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian berbahan pokok gandum, maka zakat fitrah yang ditunaikan juga berupa gandum. Sementara bagi muslim di India, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian sekaligus nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun berupa gandum atau beras. Sementara bagi muslim Nusantara, yang mana makanan pokok mereka adalah nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun adalah beras.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Lalu bagaimana dengan muslim Nusantara yang berasal dari kawasan Timur, yang mana makanan pokok mereka adalah sagu, bukan gandum dan bukan juga nasi? Apakah mereka menunaikan zakat fitrahnya dengan beras, dengan pertimbangan diqiyaskan dengan muslim Nusantara wilayah Barat dan Tengah yang memang makanan pokoknya adalah nasi? Ataukah mereka tetap menunaikan zakat fitrah dengan sagu?

Pertanyaan inilah yang diajukan kepada Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî dalam kapasitasnya yang bukan hanya sebagai mufti Syafi’iyyah di Makkah, tetapi juga sebagai guru para ulama' besar asal Nusantara pada abad ke-20 M.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus

Tertulis pertanyaan dalam secarik kertas fatwa tersebut:

ما قولكم في أهل قطر يقتاتون شيئا يسمى بالساقو ولا تزرع بلدهم غيره ولا يميلون الى قوت غيره. فهل والحال ما ذكر يخرجون زكاة فطرتهم منه لكونهم اعتادوه قوتا غالبا اختيارا أم يكلفون بتحصيل غيره من قوت غير بلدهم. لازلتم هداة مرشدين الى الصراط السوي

"Apa pendapat Tuan tentang penduduk sebuah negeri (daerah) yang mana mereka menggunakan makanan pokok mereka dengan sesuatu yang disebut “Sagu”. Di daerah itu tidak ditanam (tanaman yang dijadikan makanan pokok) selain sagu tersebut. Mereka juga tidak memakan makanan pokok selain sagu. Dalam kondisi demikian, apakah mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut karena mereka memang menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka sebagai pilhan, atau mereka diharuskan mendapatkan makanan pokok dari luar daerah mereka (sepeti beras)? Semoga engkau selalu menjadi petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang lempang."

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî kemudian menjawab pertanyaan di atas dengan menegaskan bahwa muslim Nusantara kawasan Timur yang menjadikan sagu sebagai bahan pokok makanan utama mereka, maka zakat fitrah yang dikeluarkannya pun harus berupa sagu. Beliau menulis:

تقدم نظير هذا السؤال قبل سنين وأجبنا عنه نظير ما يتحرر هنا وهو أن أهل القطر الذين يقتادون الاقتيات بالساقو يخرجون زكاة فطرتهم منه، ولا يطلب منهم تحصيل غيره من قوت غير بلدهم. فان الواجب المقرر في كتب المذهب هو اخراج الفطرة من أغلب قوت البلد حتى لو كان في البلد نوعان أو أكثر يقتاد أهل البلد منها جميعا. فالواجب اخراج زكاة الفطر من أغلب ما يقتادون منه. وإن كان الجميع على السواء فيخرج الفطرة من أيها شاء. ولا يكلف أحد جلب البرا وغيره من أخرى والله أعلم. أمر برقمه مفتى الشافعية بمكة المحمية والأقطار الحجازية الراجي غفران المساوي عبد الله بن السيد محمد صالح الزواوي. كان الله لهما آمين آمين.

"Pertanyaan semacam ini telah datang kepada kami sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kami pun menjawab pertanyaan seperti itu di sini: bahwasannya para penduduk suatu negeri (daerah) yang terbiasa menjadikan makanan pokok mereka dengan sagu, maka mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut. Tidak diharuskan bagi mereka untuk mendatangkan makanan pokok selain sagu (seperti beras, gandum, dll) dari luar wilayah mereka, yang memang bukan menjadi makanan pokok negeri mereka. Hal yang wajib dan ditetapkan dalam kitab-kitab rujukan madzhab kita (madzhab Syafi’i) adalah mengeluarkan zakat firah dari makanan pokok mayoritas penduduk sebuah negeri, meski di negeri tersebut terdapat dua buah makanan pokok atau lebih. (dalam kasus seperti itu, maka) yang wajib untuk dikeluarkan zakat fitrahnya adalah makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh para penduduk negeri. Jika antara dua makanan pokok atau lebih itu taraf konsumsinya sama, maka para penduduk negeri boleh memilih mana saja untuk menunaikan zakat fitrahnya. Tidak diharuskan seseorang untuk mendatangkan sebuah makanan pokok lain dari luar wilayah negeri mereka. WAllôhu a’lam. Telah memerintah untuk menuliskan (fatwa) ini, seorang mufti madzhab Syafi’i di Makkah dan kota-kota Hijaz lainnya, seorang yang mengharapkan ampunan Tuhannya, ‘Abdullâh b. Sayyid Muhammad Shâlih al-Zawâwî. Semoga Allah senantiasa bersama keduanya. Amin."

Baca Juga: Menyikapi Fatwa yang Kontroversial

Pendapat Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî di atas merupakan pendapat konvensional-klasik hukum zakat fitrah dalam madzhab Syafi’i, yang mana seorang muslim harus membayar zakat fitrahnya dengan bahan makanan pokok mereka, seperti beras, gandum atau sagu. Saat ini, berkembang pendapat para ulama' yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, senilai harga takaran zakat fitrah yang semestinya ditunaikan.

WAllôhu A’lam.[]



* Oleh: Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban, Bandung, Muharrom 1440 H./Oktober 2018 M.
Read More

Saat Gempa Bumi, Sholat Dibatalkan atau Diteruskan?


rumahnahdliyyin.com - Sudah tersebar video sholat berjama'ah saat gempa bumi di Lombok. Ada yang lari membatalkan sholat dan Imam sholat tetap bertahan dalam sholatnya. Bagaimana cara yang tepat?

Cara yang dijelaskan oleh para ulama' kita adalah menyelamatkan diri dari gempa tanpa membatalkan sholat; lari ke tempat yang aman kemudian melanjutkan sholat.

Baca Juga: Waktu-Waktu Sholat Fardlu

Imam Ibnu Hajar menyampaikan dalil hadits dalam kitabnya Bulughul Marom:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﻳﻘﻄﻊ اﻟﺼﻼﺓ ﺷﻲء ﻭاﺩﺭﺃ ﻣﺎ اﺳﺘﻄﻌﺖ». ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ ﻭﻓﻲ ﺳﻨﺪﻩ ﺿﻌﻒ

Dari Abu Sa'id Al-Khudlri RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Tidak ada suatu apapun yang bisa memutuskan (membatalkan) sholat. Maka, pertahankan sholat semampumu," (HR. Abu Dawud, dalam sanadnya ada perawi dlo'if).

Hadits diatas adalah dalil larangan membatalkan sholat tanpa sebab.

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Dan sudah maklum bahwa dalam sholat tidak boleh melakukan gerakan banyak, memukul, melompat, lari dan lainnya. Sebab, hal itu dapat membatalkan sholat. Namun, ada pengecualian, sebagaimana dikatakan oleh Imam An-Nawawi:

ﻫﺬا ﻛﻠﻪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﺻﻼﺓ ﺷﺪﺓ اﻟﺨﻮﻑ ﺃﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻓﻴﺤﺘﻤﻞ اﻟﻀﺮﺏ ﻭاﻟﺮﻛﺾ ﻭاﻟﻌﺪﻭ ﻟﻠﺤﺎﺟﺔ 

Semua hukum yang membatalkan sholat karena gerakan yang banyak adalah di selain sholat karena ketakutan. Jika dalam sholat karena ketakutan (khouf), maka diperbolehkan memukul, berjalan cepat dan lari karena terdesak. (Al-Majmu', 4/95).

Baca Juga: Tatacara Sholat Gerhana

Bagaimana dengan gempa? Memang sejauh ini saya belum menemukan secara teks lari dari gempa tetap tidak membatalkan sholat. Namun, Imam An-Nawawi memberikan contoh yang hampir mirip, yaitu:

(ﻭﻟﻪ ﺫا اﻟﻨﻮﻉ) ﺃﻱ ﺻﻼﺓ ﺷﺪﺓ اﻟﺨﻮﻑ (ﻓﻲ ﻛﻞ ﻗﺘﺎﻝ ﻭﻫﺰﻳﻤﺔ ﻣﺒﺎﺣﻴﻦ ﻭﻫﺮﺏ ﻣﻦ ﺣﺮﻳﻖ ﻭﺳﻴﻞ ﻭﺳﺒﻊ)

"Diantara bentuk sholat khouf (sangat ketakutan) adalah dalam peperangan dan pelarian yang diperbolehkan. Juga menyelamatkan diri dari kebakaran, banjir dan hewan buas". (Minhajut Tholibin dan Qulyubi, 1/348).

Baca Juga: Muslim di Yaman Sholat Tarowih hingga Seratus Roka'at

Diantara dalil yang disampaikan oleh para ulama' kita, di saat ketakutan namun tetap tidak membatalkan sholat, adalah hadits berikut:

ﻭﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ - ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ - ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «اﻗﺘﻠﻮا اﻷﺳﻮﺩﻳﻦ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ: اﻟﺤﻴﺔ ﻭاﻟﻌﻘﺮﺏ». ﺃﺧﺮﺟﻪ اﻷﺭﺑﻌﺔ ﻭﺻﺤﺤﻪ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ

Dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: "Bunuhlah dua hewan hitam saat kalian dalam sholat, ular dan kalajengking." (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majah. Dinilai shohih oleh Ibnu Hibban).[]



* Oleh: Ustadz Ma'ruf Khozin, Pemateri kajian kitab hadis Bulughul Marom di Masjid Al-Akbar, Surabaya.
Read More

Kontroversi Bacaan Doa diantara Dua Sujud


rumahnahdliyyin.com - Saya ditanya oleh seorang kawan di medsos mengenai meme yang viral di WhatsApp group tentang kesalahan bacaan doa saat duduk diantara dua sujud dalam sholat. Ada juga yang mengirimkan kepada saya video seorang ustadz yang mengatakan, tambahan kata wa’fu’annii itu hanya bikinan ulama' Indonesia.

Pertama, gambar yang beredar itu terlalu semangat sampai mencoret juga kata wa’aafinii. Padahal, kata wa’aafinii ini terdapat dalam hadits riwayat Sunan Abi Dawud. Jadi, seharusnya jangan ikut dicoret. Mungkin terlalu semangat mau nyunnah kali, ya.

Baca Juga: Waktu-Waktu Sholat Fardlu

Kedua, mayoritas ulama' mengatakan, duduk diantara dua sujud itu termasuk rukun sholat, namun membaca doa diantara dua sujud itu sunnah. Artinya, nggak bacapun, nggak masalah. Sholatnya tetap sah. Kalau mau berdoa, dianjurkan kita mengikuti contoh yang diajarkan Nabi SAW. saat dalam posisi duduk diantara dua sujud. Namun, bukan berarti baca doa lain itu salah.

Lagipula, ternyata riwayat haditsnya beraneka ragam dan para ulama' juga berdiskusi mengenai statusnya. Ada yang bilang, yang shohih itu adalah riwayat yang mengatakan, berdoa cukup dengan kalimat robbighfirlii saja. Ulama' lain menerima riwayat yang mengindikasikan juga boleh berdoa lebih panjang dari kalimat pendek itu.

Baca Juga: Muslim di Yaman Sholat Tarowih hingga Ratusan Roka'at

Akhirnya, Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab (3/437) menggabungkan redaksi yang berbeda itu dan merangkum tujuh kata, yaitu allaahummaghfirlii warhamnii wa ‘aafinii wajburnii warfa’nii wahdinii warzuqnii.

‎وأما حديث ابن عباس فرواه أبو داود والترمذي وغيرهما بإسناد جيد ، ورواه الحاكم في المستدرك وقال : صحيح الإسناد ، ولفظ أبي داود { اللهم اغفر لي وارحمني وعافني واهدني وارزقني } ولفظ الترمذي : مثله لكنه ذكر " { وأجرني وعافني } " وفي رواية ابن ماجه ( وارفعني ) بدل ( واهدني ) ، وفي رواية البيهقي { رب اغفر لي وارحمني وأجرني وارفعني وارزقني واهدني } فالاحتياط والاختيار : أن يجمع بين الروايات ويأتي بجميع ألفاظها وهي سبعة { اللهم اغفر لي وارحمني وعافني وأجرني وارفعني واهدني وارزقني }

Lantas, bagaimana dengan tambahan kata wa’fu’annii? Benarkah tidak nyunnah kalau memberi tambahan satu kata dalam doa saat duduk diantara dua sujud?

Baca Juga: Tatacara Sholat Gerhana

Saya sarankan, selain pak ustad itu buka kitab hadits, juga sebaiknya buka kitab fiqh. Ahli hadits itu apoteker, sedangkan ahli fiqh itu ibaratnya dokter. Apoteker tahu kandungan obat, namun hanya dokterlah yang punya kapasitas mendiagnosis penyakit dan menuliskan resepnya.

Kalau da’i gimana? Yah, ibaratnya perawat saja, deh; bagian yang membantu dan mengingatkan pasien, sudah minum obat atau belum. Ini tidak bermaksud merendahkan salah satu profesi diatas, hanya sekedar membuat perumpamaan, siapa yang berhak mengambil kesimpulan suatu masalah.

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut hingga Beliau Wafat

Mari, kita ngaji berbagai kitab fiqh dalam masalah ini.

Kitab semisal Ghoyah Al-Muna karya Syaikh Muhammad bin ‘Ali Ba ‘Athiyyah Al-Hadhrami Ar-Ru’ani atau Kasyifatus Saja karya Syaikh Nawawi Al-Bantani (yang kedua kitab ini merupakan Syarh dari Kitab Safinah) sudah menyebutkan mengenai tambahan wa’fu’annii tersebut.

Misalnya, Imam Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatus Saja menjelaskan:

‎قال الشبراملسي: وقد جزم ابن المقري بعدم وجوب الاعتدال والجلوس بين السجدتين في النفل اهـ وأكمله أن يقول: رب اغفر لي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني واعف عني. قوله: رب اغفر لي أي استر ما وقع من ذنوبي وما سيقع منها. وقوله: وارحمني أي رحمة واسعة. وقوله: واجبرني أي أغنني واعطني مالاً كثيراً وهو من باب قتل. وقوله: وارفعني أي في الدنيا والآخرة. وقوله: وارزقني أي رزقاً واسعاً، ومحل جواز الدعاء بذلك إن قصد الرزق من الحلال أو أطلق وإلا حرم. 

‎وقوله: واهدني أي لصالح الأعمال. وقوله: وعافني أي سلمني من بلايا الدنيا والآخرة. وقوله: واعف عني أي امح ذنوبي، ويأتي في الضمائر المذكورة بلفظ الإفراد ولو إماماً لأن التفرقة بينه وبين غيره خاصة بالقنوت، قال السويفي في تحفة الحبيب: ويسن للمنفرد وإمام محصورين رضوا بالتطويل أن يزيدوا على ذلك: رب هب لي قلباً تقياً من الشرك برياً لا كافراً ولا شقياً

Baca Juga: Belajar Bernegara dari Sholat Jama'ah

Penjelasan Imam Nawawi Al-Bantani tidak bisa dianggap seolah-olah beliau-lah yang membuat-buat tambahan kata wa’fu’annii hanya karena beliau ulama' Nusantara. Beliau mengutip dari ulama' lain, yaitu Imam Asyibromalisi, yang memberi tambahan kata wa’fu’annii. Bahkan, Imam Nawawi Al-Bantani juga mengutip doa tambahan lainnya dari kitab Tuhfah Al-Habib atau yang biasa dikenal dengan Hasyiah Al-Bujairimi ‘alal Khatib yang mengomentari kitab Al-Iqna’. Ini tambahan doanya:

Robbi Hablii qolban taqiya minasy syirki bariyyan laa kaafiron wa laa saqiyyan (Tuhanku, berikan untukku anugerah hati yang taqwa, bebas dari syirik, tidak kufur dan tidak celaka).

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Penjelasan lebih lanjut, kita temui di kitab-kitab besar dalam mazhab Syafi’i berikut ini. Kitab Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj (1/518):

كما في السجود أخذا من الروضة ( قائلا : رب اغفر لي وارحمني وأجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني ) للاتباع روى بعضه أبو داود وباقيه ابن ماجه  

وقال المتولي : يستحب للمنفرد : أي وإمام من مر أن يزيد على ذلك رب هب لي قلبا تقيا نقيا من الشرك بريا لا كافرا ولا شقيا وارفعني وارحمني من زيادته على المحرر ، وأسقط من الروضة ذكر ارحمني وزاد في الإحياء بعد قوله وعافني واعف عني وفي تحرير الجرجاني يقول رب اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت الأعز الأكرم

Dianjurkan saat sholat sendiri atau sebagai imam yang tidak memberatkan jama'ahnya untuk menambah doa saat duduk diantara dua sujud dengan kalimat: robbi Hablii qolban taqiyan naqiyan minasy syirki bariyyan laa kaafiron wa laa saqiyyan, warfa’nii warhamni (Tuhanku, berikan untukku anugerah hati yang taqwa, suci-bebas dari syirik, tidak kufur dan tidak celaka. Tuhanku, angkatlah derajatku dan turunkan rahmat-Mu bagiku).

Baca Juga: Inflasi Ulama

Bahkan, disebutkan dalam teks diatas bahwa ada tambahan doa lainnya dari Imam Al-Jurjani.

Kitab karya ulama' besar madzhab Syafi’i yang bernama Imam Ramly ini memberi info menarik bahwa yang memberi tambahan kata wa’fu’annii itu adalah Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya'.

Jadi, jelas tambahan kata wa’fu’annii bukan bikinan ulama' Indonesia. Ulama' pesantren tidak mengada-ngada. Semuanya jelas ada rujukannya.

Mari kita cek langsung pada kitab Ihya'. Saya menemukannya di Juz 1, halaman 155:

‎وأن يقول سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى ثَلَاثًا فَإِنْ زَادَ فَحَسَنٌ إِلَّا أَنْ يَكُونَ إِمَامًا
‎ثُمَّ يَرْفَعُ مِنَ السُّجُودِ فَيَطْمَئِنُّ جَالِسًا مُعْتَدِلًا فَيَرْفَعُ رَأْسَهُ مُكَبِّرًا وَيَجْلِسُ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ قَدَمَهُ الْيُمْنَى وَيَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَالْأَصَابِعُ مَنْشُورَةٌ وَلَا يَتَكَلَّفُ ضَمَّهَا وَلَا تَفْرِيجَهَا
‎وَيَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي وَاجْبُرْنِي وَعَافِنِي وَاعْفُ عني 

Klop, kan!?

Baca Juga: Trans-Gender dalam Pandangan Syari'at Islam

Kitab Hasyiyah Al-Jamal (1/380) juga menyebutkan bahwa tambahan wa’fu’annii itu berasal dari Imam Al-Ghazali. Bukan cuma itu, tambahan doa yang dianjurkan dibaca saat duduk diantara dua sujud, menurut kitab ini, termasuk Doa Sapu Jagad: robbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzaaban naar. Simak kutipan berikut:

‎زاد في الإحياء واعف عني، ويستحب للمنفرد وإمام من مر أن يزيد رب هب لي قلبا تقيا نقيا من الشرك بريا لا كافرا ولا شقيا وفي تحرير الجرجاني رب اغفر وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت الأعز الأكرم ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

Kitab fiqh lainnya yang lazim digunakan sebagai standar rujukan, yaitu Hasyiah Qalyubi (1/184), juga mencantumkan tambahan kata wa’fu’annii, plus dengan tambahan doa lainnya yang sudah disebutkan di kitab-kitab sebelumnya, seperti yang saya cantumkan teksnya di bawah ini:

‎وَاعْفُ عَنِّي. رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إنَّك أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ، رَبِّ هَبْ لِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا مِنْ الشِّرْكِ بَرِيًّا لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا

Baca Juga: Berhukum dengan Selain Hukum Allah SWT.

Sebagai pamungkas, biar sedap rasanya, kita kutip juga keterangan Syaikh bin Baz dalam Fatwanya:

‎ثم يرفع من السجدة قائلاً: (الله أكبر) ويجلس مفترشاً يسراه ناصباً يمناه، فيضع يده اليمنى على فخذه اليمنى أو على الركبة باسطاً أصابعه على ركبته، ويضع يده اليسرى على فخذه اليسرى أو على ركبته ويبسط أصابعه على ركبته هكذا السنة، إذا جلس بين السجدتين يضع اليمنى على فخذه اليمنى أو ركبته اليمنى، ويضع اليسرى على فخذه اليسرى أو ركبته اليسرى، ويقول: رب اغفر لي.. رب اغفر لي.. رب اغفر لي كما كان النبي يقول ﷺ، ويستحب أن يقول مع هذا: اللهم اغفر لي، اللهم اغفر لي، وارحمني، واجبرني، وارزقني، وعافني، يروى هذا عن النبي ﷺ أيضاً مع قوله: رب اغفر لي.. رب اغفر لي، اللهم اغفر لي، وارحمني، واهدني، واجبرني، وارزقني، وعافني، وإن دعا بالزيادة فلا بأس كأن يقول: اللهم اغفر لي ولوالدي، اللهم أدخلني الجنة وأنجني من النار، اللهم أصلح قلبي وعملي.. ونحو ذلك لا بأس، ولكن يكثر من المغفرة.. من طلب المغفرة فيما بين السجدتين اقتداء بالنبي عليه الصلاة والسلام.

Menurut ulama' Wahabi ini, mengucapkan tambahan doa dalam duduk diantara dua sujud itu tidak masalah. Misalnya tambahan doa Allaahumaghfirlii waliwaalidayya, atau Allaahumma adkhilnil-jannah wa anjinii minan-naar, atau Allaahumma ashlih qolbii wa ‘amalii, dan doa-doa yang semacam ini tidak mengapa. Intinya adalah doa mohon ampunan kepada Allah SWT. diantara dua sujud dengan mengikuti Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Madzhab Gantung Kaki

Diatas sudah saya jelaskan bahwa mayoritas ulama' memandang sunnah membaca doa saat duduk diantara dua sujud. Bahkan, para ulama' selain menggabungkan tujuh kata dalam berbagai riwayat hadits, mereka juga memberi tambahan redaksi doa. Dari hanya satu tambahan kata wa’fu’annii, sampai doa satu-dua kalimat yang lebih panjang.

Kenapa, sih, kita senang sekali mempersoalkan hal-hal yang sekunder seperti ini dan sibuk menyalah-nyalahkan bacaan doa saudara kita, hanya karena ada satu tambahan kata, padahal para ulama' tidak mempersoalkannya?

Baca Juga: Demi Kemaslahatan Bersama, Umat Islam di Enarotali Papua Sholat 'Id di Bandara

Jadi, jangankan hanya ditambahi satu kata wa’fu’annii. Ditambahkan doa lainnya, juga boleh. Tidak baca apapun saat duduk diantara dua sujud, sholat kita tetap sah. Mohon para ustadz untuk lebih bijak lagi dan tidak mempersoalkan amalan yang sudah lazim dilakukan di tanah air. Yakinlah, para ulama' kami itu bijak dan paham literatur keislaman. Wa Allahu a’lam bish showab.

Tabik.




* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.
Read More

Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut Hingga Beliau Wafat


rumahnahdliyyin.com - Dalam kitab Kasyifatus Saja disebutkan bahwa qunut merupakan dzikir khusus yang memuat do'a-do'a dan pujian. Oleh karena itu, qunut dikatakan berhasil apabila memuat lafadz-lafadz yang mengandung dua hal tersebut.

Adapun qunut sendiri ada dua:
1. Qunut Nazilah, yaitu qunut yang dikerjakan pada saat sholat Fardlu/Maktubah ketika umat Islam tengah didera bahaya, bencana, wabah penyakit, ataupun serangan dari kaum kafir.
2. Qunut Shubuh atau Witir, yaitu qunut yang dikerjakan pada saat sholat Shubuh atau sholat Witir.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Hukum mengerjakan qunut adalah sunnah. Dalam sholat Shubuh sendiri, mengerjakan qunut termasuk sunnah ab'adl, yaitu suatu kesunnahan yang apabila tidak dikerjakan ditambal atau diganti dengan sujud Sahwi.

Banyak para sahabat Nabi Muhammad SAW. yang mensunnahkan qunut. Diantaranya yaitu Abu Bakar, Umar bin Khothob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas dan lain sebagainya.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Kesunnahan ini didasarkan pada hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. yang diantaranya yaitu yang diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berbunyi:

مازال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقنت فى الفجر حتّى فارق الدّنيا
RasuluLlah SAW. senantiasa berqunut pada waktu sholat Shubuh hingga (beliau) berpisah dengan dunia (wafat). [HR. Ahmad].

Baca Juga: Maulid

Ada memang hadits yang menyatakan bahwa RasuluLlah SAW. hanya mengerjakan qunut sebulan saja, kemudian tidak lagi. Hadits tersebut yaitu:

أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قنت شهرا يدعوا على أحياء من أحياءالعرب ثمّ تركه

Sungguh, RasuluLlah SAW. berqunut selama sebulan, mendo'akan jelek kepada suatu kelompok, kemudian meninggalkannya. [HR. Bukhari].

Baca Juga: Bid'ah

Dalam kitab Shohih Shifatu Sholatin-Nabiy, Habib Hasan bin Ali As-Saqqof memberikan catatan terhadap hadits terakhir ini dengan menukil dari kitab Sunan Kubro bahwa Imam Baihaqi telah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi yang mengomentari hadits tersebut.

Menurut Abdurrahman bin Mahdi, qunut yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW. dalam hadits terakhir diatas maksudnya hanyalah bacaan qunut, bukan qunutnya. Yaitu bacaan qunut Nabi Muhammad SAW. yang berupa melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok. 


Karena itu, mengenai dua hadits tentang qunut yang secara dhohir tampak tidak sinkron sebagaimana diatas, bukan berarti bahwa hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. itu saling bertentangan. Sebab, hadits yang terakhir hanyalah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW. hanya berhenti melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok ketika berqunut selama sebulan saja. Adapun diluar sebulan itu, Nabi Muhammad SAW. dalam qunutnya tidak lagi melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok.

Dengan kata lain, Nabi Muhammad SAW. senantiasa berqunut hingga beliau wafat. Hanya saja, pernah dalam satu bulan penuh Nabi Muhammad SAW. berdo'a dalam qunutnya untuk kejelekan suatu kelompok. WAllâhu a'lam.[]



Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Kurwato, Sorong, Papua Barat.
Read More