rumahnahdliyyin.com - Perjalanan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya Poros Tengah pada 1999 yang kala itu dimotori oleh mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais.
Saat itu, pasca-reformasi, masyarakat terbelah. Sebagian menghendaki agar BJ. Habibie melanjutkan posisinya sebagai Presiden. Sementara dikubu lain, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999, menghendaki Megawati Soekarno Putri yang jadi Presiden.
Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq
Dalam situasi politik yang memanas, bahkan sempat pecah menjadi bentrokan fisik yang dikenal dengan Peristiwa Semanggi antara "Laskar Merah" dan "Laskar Islam" itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.
Lewat Poros Tengah itu, Pak Amien Rais menengahi. Presidennya bukan Habibie, juga bukan Megawati. Dari sinilah kemudian muncul nama Gus Dur, yang kala itu sedang sakit, sebagai sosok tokoh yang memang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kelompok Megawati maupun oleh kalangan umat Islam, untuk diusung sebagai Presiden.
Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang
Setelah disepakati bahwa Gus Dur yang akan diusung jadi Presiden, Amien Rais kemudian meminta Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang kala itu diminta oleh Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu, untuk menemaninya ke Ciganjur menemui Gus Dur.
Sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur), saat itu Cak Imin deg-degan. Kondisi Gus Dur sakit, tapi diminta menjadi Presiden.
Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina
Setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sedang membutuhkan tokoh yang mampu jadi penengah. Amien mengatakan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan mampu menenangkan pertentangan dan pertempuran antara sesama anak bangsa yang tengah memanas dalam menentukan pemimpin kala itu.
Gus Dur, setelah Amien Rais selesai bicara, tiba-tiba ambil posisi duduk dari posisi yang sebelumnya rebahan. Gus Dur pun lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon Presiden Indonesia.
Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen
Mendengar pernyataan Gus Dur yang bersedia menjadi calon Presiden itu, Cak Imin mengaku kaget yang bercampur haru. Namun menurutnya, Amien Rais lebih kaget lagi.
"Lhoh, rencananya, kan, Gus Dur nolak jadi calon Presiden dan menyerahkan posisi calon Presiden pada saya?" bisik Amien Rais pada Cak Imin.
Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama
Dalam perjalanan pulang, jawaban Gus Dur yang tidak sesuai dengan skenario awal itu, membuat Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega yang mendukung Amien Rais menjadi calon Presiden.
Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif yang menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan menjadi Presiden yang mewakili dari berbagai kekuatan? Menjawab cecaran pertanyaan itu, Cak Imin pun menyatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai Presiden dalam kondisi yang sakit itu.
Baca Juga: Politiknya Kiai
Dari sinilah kemudian Gus Dur sering mengutarakan sebuah anekdot yang berbunyi: "Berpolitik tidak usah pakai biaya. Saya saja jadi Presiden tanpa Tim Sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya Pak Amien Rais."[]
(Redaksi RN)
* Tulisan ini didasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagaimana dimuat di laman tempo.co, ketika ia hadir dalam forum Kongres Ulama Nusantara di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada Minggu, 1 Maret 2018.
