Bully Zaman Mbah Bisri


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah kisah tentang gasak-gasakan (atau bahasa sekarang bully) antar kiai di zaman Mbah Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus. Kisah ini dikisahkan oleh Gus Mus pagi ini saat kami sarapan di hotel di Gimpo, sebuah kota kecil di luar Seoul, Korea Selatan.

Zaman dulu, di kota Rembang masih ada penjual daging babi yang membawa pikulan dan berkeliling dari kampung ke kampung. Suatu saat, penjual ini lewat di depan rumah Pak Hamyah, seorang dukun sunat dan sekaligus teman akrab Mbah Bisri. Pak Hamyah pun langsung memanggil penjual daging babi itu.

"Lek..! Coba kamu ke rumah Mbah Bisri di Leteh sana. Dia kemaren sepertinya pengen daging babi."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Penjual itu pun langsung pergi ke rumah Mbah Bisri. Sampai di sana, "Mbah Bisri, katanya butuh daging babi. Monggo lho... "

"Siapa yang bilang?" tanya Mbah Bisri.

"Kata Pak Hamyah, tadi."

"Weee, Hamyah gemblung!" kata Mbah Bisri agak jengkel.

Dua sahabat ini memang sudah sering saling gasak-gasakan. Mbah Bisri lalu mencari akal bagaimana membalas bully-an sahabat karibnya ini. Dapatlah beliau ide untuk membalas.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Suatu hari, Mbah Bisri punya "gawe" di rumahnya. Beliau mengundang banyak tamu, termasuk sahabatnya, Pak Hamyah. Mbah Bisri sudah pesan sejak awal kepada santri ndalem, agar menyediakan satu cangkir kosong yang tertutup. Cangkir itu, pesan Mbah Bisri, agar disuguhkan ke Pak Hamyah.

Terjadilah senario yang sudah direncanakan Mbah Bisri. Santri ndalem menyuguhkan kopi ke semua tamu. Tiba giliran cangkir kosong yang sudah disediakan khusus untuk Pak Hamyah, santri itupun segera meletakkan cangkir tertutup itu di depan sahabat Mbah Bisri itu.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Setelah itu, santri itu kemudian berlalu sambil memendam tawa kecil didalam hatinya, "Kiai ya kayak awak dhewe ya, padha gasak-gasakan juga."

"Monggo kopinipun dipun unjuk, para sedherek," kata Mbah Bisri seraya mempersilahkan tamu-tamunya untuk meminum kopi.

Dengan tanpa curiga sedikitpun, Pak Hamyah segera mengambil cangkir, membuka tutupnya, dan melihat cangkir itu kosong, "Asemik, aku diwales Bisri rupanya."

Baca Juga: KH. Kholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk menutup rasa malu, pak Hamyah tetap mengangkat cangkir itu dan mendekatkannya ke mulut sambil mengeluarkan suara khas, "Slurrrrrp, haaaaaah..." Pak Hamyah pura-pura menikmati kopi itu dengan penuh perasaan.

"Piye kopine, Hamyah?" tanya Mbah Bisri dengan meledek.

Pak Hamyah hanya bisa tersenyum kecut. Mungkin, dia sedang memikirkan trik bully yang lain untuk Mbah Bisri.[]




* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *