Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Muslim di Yaman Sholat Tarowih Hingga Seratus Roka'at


rumahnahdliyyin.com, Tangerang Selatan - Pada umumnya, jama'ah sholat Tarowih yang dilaksanakan oleh kaum muslim di seluruh dunia sebanyak delapan atau dua puluh roka'at. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi sebagian kaum muslim di Yaman.

"Bisa sampai seratus roka'at," ujar A'wan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman, Taufan Azhari, sebagaimana diberitakan dalam laman NU Online.

Baca Juga: Perbedaan Ulama Tentang Niat Puasa Romadlon

Hal tersebut bisa terjadi, jelas Taufan, karena masjid-masjid di kota Tarim, Yaman, menggelar sholat Tarowih pada waktu yang berbeda-beda. Jadwal sholat Tarowih tersedia sejak setelah sholat Isya' sampai menjelang Sahur.

Sedangkan untuk sholat Tarowih yang dilaksanakan di masjid-masjid di Yaman sendiri, sebanyak 20 roka'at. Mereka yang sholat Tarowih hingga seratus roka'at itu karena mereka berpindah-pindah dari masjid satu ke masjid lainnya dimana waktu sholat Tarowih di masing-masing masjid memang tidak bersamaan.

Baca Juga: Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon

Hal demikian ini bisa terjadi, sambung Taufan, karena mengikuti laku Habib Salim Asy-Syathiri. Karena adanya perbedaan jadwal sholat Tarowih itu, maka masyarakat Yaman bisa memilih untuk sholat Tarowih di Yaman.

Para pelajar Indonesia sendiri, dengan niatan ngalap (berharap) berkah, melakukan sholat Tarowih hingga di lima masjid yang berbeda.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal

"Anak Indonesia nggak sedikit yang tabarrukan di masjid-masjid sampai ber-Tarowih seratus roka'at sebagaimana Habib Salim Asy-Syathiri pernah melakoninya," pungkas Taufan.[]

(Redaksi RN)
Read More

Santri Tremas Dakwah ke Desa-Desa Tiap Romadlon


rumahnahdliyyin.com, Pacitan - Selama bulan suci Romadlon 1439 H. ini, Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, kembali menerjunkan para santrinya untuk berdakwah di tempat-tempat terpencil yang masih minus pengetahuan agamanya. Sebanyak 137 santri yang terjun ini melaksanakan tugas wajib program "Dakwah Bilhal" dengan satu santri menempati satu masjid atau musholla.

Menurut pengurus Pesantren Tremas, Ali Muhadaini, program ini diikuti oleh para santri lulusan Madrasah Aliyah Salafiyah Mu'adalah yang baru diwisuda pada 7 Mei lalu.

"Para santri kita terjunkan ke tiap desa di seluruh wilayah Kecamatan di Pacitan dan beberapa daerah di Wonogiri, seperti Giritontro, Ngadirojo, Pracimantoro, Paranggupito, Baturetno, Batuwarno, Jatisrono. Ada pula daerah Rongkop Gunung Kidul dan Karanganyar," jelas Ali pada Jum'at (18/05/2018), sebagaimana diberitakan di laman NU Online.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Ali mengatakan bahwa program "Dakwah Bilhal" ini dimulai pada tanggal 28 Sya’ban dan akan berakhir hingga tanggal 2 Syawwal 1439 H. nanti. Selama di tempat dakwah, para santri akan menjalankan tugas yang antara lain yaitu menjadi imam sholat lima waktu, tarawih, memberikan ceramah dan pengajian, mengajar TPQ, mengurus pelaksanaan zakat fitrah, menjadi khotib Idul Fitri dan bersosialisasi dengan masyarakat.

"Dengan berbekal keilmuan yang telah dimiliki, Insya Allah mereka mampu mengemban tugas mulia ini," tambahnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Program wajib "Dakwah Bilhal" ini telah dilakukan oleh Pesantren Tremas semenjak awal tahun 2000. Melalui program "Dakwah Bilhal" ini para santri membawa dua buah misi dari Pesantren Tremas, yaitu misi belajar bermasyarakat dan misi mengenalkan dunia pesantren kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, Ali mengatakan bahwa "Dakwah Bilhal" ini bekerjasama dengan jajaran perangkat desa setempat serta Muspika di wilayah Kecamatan. Tiap tahun sasaran dakwah terus mengalami perluasan. Hal ini seiring dengan kebutuhan dai di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Pentingnya Niat Dalam Launching Santriversitas

"Respon masyarakat terhadap program ini juga cukup besar. Terbukti, kami sampai kuwalahan memenuhi permintaan dari masyarakat," terangnya. []

(Redaksi RN)
Read More

Belajar Kemanusiaan dari Papua


rumahnahdliyyin.com - Pada siang yang dihiasi hujan tadi, Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) dan IKKS berkunjung untuk menyalurkan bantuan ke Usili. Seperti pernah saya tuliskan jauh-jauh sebelumnya, Usili merupakan satu dari sekian kompleks di Kabupaten Sorong ini yang dihuni oleh masyarakat suku Kokoda. Berbeda dengan Maibo dan Kurwato yang mana penghuninya muslim seluruhnya, di Usili terdapat dua agama yang dianut oleh para penduduknya. Yakni Islam dan Nasrani.

Kendati demikian, perbedaan itu tak pernah menyulutkan api konflik diantara mereka. Apalagi saling teror dan baku bunuh. Bahkan, mereka sangat guyub-rukun tanpa sedikitpun ada sekat ketika tengah bersosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Pernah suatu sore, tanpa sengaja saya bertemu dengan tokoh Usili di pasar setempat, yaitu pak Nimrod. Beliau yang non-muslim tiba-tiba mengeluhkan nasib pendidikan agama anak-anak muslim di sana setelah sebelumnya kita hanya saling bertukar kabar saja. Kepada saya ia mengungkapkan bahwa ia merasa sangat prihatin lantaran anak-anak di sana tidak pernah lagi mengaji lantaran tidak pernah ada yang mengajar lagi.

Mendengar dan menyaksikan dengan mata dan telinga sendiri, hal yang demikian ini terkadang membuat saya merenung: apakah Papua yang notabene sering dikatakan "terbelakang" itu hanya "mitos"? Apakah Papua yang kerap disebut "bodoh" itu hanya "khayalan"?

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama

Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mengerti apakah benar orang "terbelakang" itu mampu punya kesadaran untuk memikirkan nasib generasi mereka ke depan meskipun beda keyakinan? Apakah benar orang "bodoh" bisa mencapai pemikiran hingga mencapai ke tingkat universal kemanusiaan?

Dan terjadinya peledakan bom di Surabaya tadi pagi, pikiran saya jadi ikut bergolak dan bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang "terbelakang" dan "bodoh"? Mereka yang ada di Jawa? Atau mereka yang ada di Papua?

Mari merenung bersama. Salam.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Masjid Jawa di Thailand


rumahnahdliyyin.com, Bangkok - Ketua Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis, dalam lawatannya ke negara-negara ASEAN mengatakan bahwa di Bangkok, Thailand, terdapat Masjid Jawa (Jawa Mosque) yang menjadi sarana syiar Islam bagi umat muslim setempat.

Seperti dikutip dari laman nu.or.id, pada Jum'at (11/05/2018), kawasan di sekitar Masjid Jawa itu dikenal dengan nama Soi Charoen Rat. Sedangkan letak persisnya berada di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok, Thailand. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh masyarakat Melayu dan keturunan orang Jawa yang merantau di sana.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Masjid Jawa didirikan diatas tanah Muhammad Saleh, seorang perantauan asal Rembang, Jawa Tengah, pada 1906. Mulanya, tanah tersebut merupakan tempat pengajian dan Yasinan yang kemudian diwaqofkan menjadi masjid dan tempat pendidikan.

Lebih lanjut, kiai Cholil menerangkan bahwa Masjid Jawa itu memiliki madrasah dengan jumlah siswa mencapai 200-an orang. Di masjid itu pula, pengajian Al-Qur’an digelar selama seminggu dengan jadwal untuk anak-anak pada hari Senin-Jum'at dan untuk dewasa tiap hari Minggu.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dalam kesempatan itu, kiai Cholil Nafis juga sempat bertemu dan berbincang dengan Zuhrah (putri H. Muhammad Saleh, pendiri Masjid Jawa) dan Ma’rifah (cucu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah) yang merupakan keturunan Jawa yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

Dengan mengutip hasil perbincangannya dengan Ma’rifah, kiai Cholil menceritakan bahwa bahasa Indonesia ternyata diajarkan secara rutin di Madrasah Masjid Jawa itu. Tujuannya yaitu untuk terus memelihara rasa cinta terhadap Indonesia. Kendati demikian, untuk pengantar pembelajarannya, bahasa yang digunakan acap kali campur antara bahasa Thailand, Indonesia dan Jawa.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, lanjut kiai Cholil, pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Masjid Jawa itu juga banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Disamping, tentu saja tetap memakai bahasa Thailand pula.

Selain arsitekturnya khas Jawa dengan warna bangunan hijau muda dan atap limasan berundak tiga, jika dilihat sepintas, Masjid Jawa itu seperti Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini.

“Tradisi khas Nusantara seperti beduk, pengajian dan sholawatan, bahkan juga tahlilan, juga ada di Masjid Jawa ini. Terlihat suasana masyarakat sekitar masjid seperti budaya Jawa,” jelas kiai Cholil.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Bangunan utama Masjid Jawa itu berbentuk segi empat dengan ukuran 12 x 12 meter dan dilengkapi dengan empat pilar ditengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, pada tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

“Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa,” cerita kiai Cholil.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Diluar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di bagian depan (mihrob), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi dengan tangga serta dua buah jam lonceng yang terbuat dari kayu di kanan dan kirinya.

Ada dua bangunan utama, yaitu masjid dan madrasah yang berbentuk rumah panggung dengan aneka deretan kursi dan meja dikolong rumah. Di seberang masjid, ada pemakaman Islam. Sedangkan di samping kiri masjid, terdapat prasasti peresmian masjid yang menggunakan bahasa Thailand.[]




(Redaksi RN)
Read More

NU-Muhammadiyah Memanggil di Universitas Brawijaya Malang


rumahnahdliyyin.com | Malang – Badan Intelejen Negara (BIN) mencatat bahwa ada sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang terserang virus radikalisme. Dari hasil penelitian ini, BIN pun memberikan perhatian khusus terhadap tiga kampus yang dianggap menjadi basis penyebaran paham radikal itu.

Selain penemuan itu, penelitian BIN juga mengungkapkan bahwa ada 24 persen mahasiswa yang sepakat dengan wajibnya berjihad demi tegaknya negara Islam. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, jelas mengancam keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

Dari data inilah, akhirnnya intelektual muda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Universitas Brawijaya tergugah untuk membuat sebuah kolaborasi gerakan. Wajah Islam moderat yang dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus tampil di Perguruan Tinggi.

Bersamaan dengan momen Daftar Ulang SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya tahun 2018, para mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di lingkungan Universitas Brawijaya itu bersatu padu membuat sebuah gerakan “Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah Memanggil”.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Dengan tema “Milenial Berkarya, Milenial Berbudaya, Milenial Berkemajuan”, mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Universitas Brawijaya itu membuat stand dan acara pembukaan pun dilakukan bersama di depan Gedung Samantha Krida untuk menyambut mahasiswa baru hasil penjaringan SNMPTN.

Selain itu, mereka juga hadir untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, budaya yang baik dan semangat nasionalisme. Gerakan yang diselenggarakan pada Selasa (08/05/2018) ini, juga diikuti oleh para mahasiswa Universitas Brawijaya pada umumnya.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Nilai Agama

Pembukaan stand bersama ini dilakukan mulai pagi hari hingga selesainya kegiatan daftar ulang SNMPTN bagi mahasiswa baru. Stand dari kedua ormas yang digelar berdampingan, sangat menunjukkan adanya sinergitas gerakan dalam setiap ranah dakwah di lingkungan Universitas Brawijaya.

Mahasiswa Nahdlatul Ulama kelihatan aktif membagikan brosur-brosur informasi mengenai organisasi Nahdlatul Ulama kepada khalayak. Tampak pula mahasiswa lain yang notabene juga santri, membagikan informasi Pondok Pesantren area Kota Malang kepada mahasiswa baru. Selain itu, stand yang digelar itu juga melayani pendampingan untuk mahasiswa baru, baik itu informasi akademik, jurusan/fakultas, maupun informasi lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Komunitas mahasiswa yang terafiliasi kedalam Nahdlatul Ulama dari unsur KMNU, PKPT, IPNU-IPPNU, PMII, MATAN dan mahasiswa NU pada umumnya, turut hadir dalam memeriahkan gerakan bersama yang disebut dengan Gerakan Sambut Maba NU-Muhammadiyah itu.

Koordinator pelaksana dari Nahdlatul Ulama, M. Syafiq Afif Adani, menyebutkan bahwa gerakan ini adalah tindak lanjut dari sinergitas yang telah lebih dahulu dibangun oleh NU-Muhammadiyah di tingkat pusat.

“Beberapa waktu lalu, para orangtua kita di PBNU dan PP. Muhammdiyah melakukan silaturrahmi untuk membahas persoalan kebangsaan. Mengapa tidak, kita di wilayah mahasiswa melakukan kegiatan yang sama?" ungkap Syafiq, begitu sapaan akrabnya.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Sementara itu, koordinator pelaksana dari Muhammadiyah, Azhar Syahida, menyampaikan pernyataan yang senada pula. Menurutnya, gerakan ini sangat baik, sehingga ke depannya harus terus dijalankan secara berkelanjutan.

Perlu diketahui bersama bahwa Mahasiswa Nahdlatul Ulama di Universitas Brawijaya adalah forum silaturrahmi antarmahasiswa di lingkungan Universitas Brawijaya, baik yang ada di organisasi struktural NU maupun kultural. Sangat banyak aktivitas ke-NU-an yang telah dilakukan di kampus. Diantaranya yaitu mengaji kitab kuning, diskusi Aswaja, sharing keilmuan dan prestasi mahasiswa, Majelis Ta’lim dan Sholawat, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta program pendampingan intensif dibidang akademik maupun non-akademik.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Gerakan bersama antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ini tidak lain adalah untuk membentengi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri agar terhindar dari virus radikalisme dan terorisme, menyerukan wajah Islam yang ramah dan moderat, menyebarkan nilai-nilai toleransi dan semangat Hubbul-Wathon minal-Iman, serta lebih jauh lagi adalah membentuk generasi muda bangsa Indonesia menjadi milenial yang berkarya, berbudaya dan berkemajuan.[]
(Mohammad Ainurrofiqin)
Read More

PBNU Luncurkan BBM Serentak


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan aksi Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah pada Minggu, 13 Mei 2018, secara serentak di seluruh musholla dan masjid se-Indonesia. Aksi serentak ini akan diluncurkan pada besok hari Rabu, 9 Mei 2018, di Gedung PBNU, Jakarta.

“Tujuan BBM Berkah ini adalah untuk mendorong masjid ikut berperan mewujudkan situasi nasional yang bersih dari kotoran lahir-batin menyongsong bulan suci Romadlon sekaligus untuk berpartisipasi mewujudkan situasi bangsa yang aman dan tentram,” jelas Ali Sobirin, Koordinator Nasional acara ini.

Baca Juga: Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Peluncuran yang akan diisi dengan acara Deklarasi ini akan dihadiri oleh para Penggerak Masjid Seluruh Indonesia, para Koord. BBM Kabupaten/Kota, para Ta'mir Masjid dan Marbot se-Jabodetabek dan pengurus PBNU.[]




(Redaksi RN)
Read More

Bully Zaman Mbah Bisri


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah kisah tentang gasak-gasakan (atau bahasa sekarang bully) antar kiai di zaman Mbah Bisri Mustofa, ayahanda Gus Mus. Kisah ini dikisahkan oleh Gus Mus pagi ini saat kami sarapan di hotel di Gimpo, sebuah kota kecil di luar Seoul, Korea Selatan.

Zaman dulu, di kota Rembang masih ada penjual daging babi yang membawa pikulan dan berkeliling dari kampung ke kampung. Suatu saat, penjual ini lewat di depan rumah Pak Hamyah, seorang dukun sunat dan sekaligus teman akrab Mbah Bisri. Pak Hamyah pun langsung memanggil penjual daging babi itu.

"Lek..! Coba kamu ke rumah Mbah Bisri di Leteh sana. Dia kemaren sepertinya pengen daging babi."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Penjual itu pun langsung pergi ke rumah Mbah Bisri. Sampai di sana, "Mbah Bisri, katanya butuh daging babi. Monggo lho... "

"Siapa yang bilang?" tanya Mbah Bisri.

"Kata Pak Hamyah, tadi."

"Weee, Hamyah gemblung!" kata Mbah Bisri agak jengkel.

Dua sahabat ini memang sudah sering saling gasak-gasakan. Mbah Bisri lalu mencari akal bagaimana membalas bully-an sahabat karibnya ini. Dapatlah beliau ide untuk membalas.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Suatu hari, Mbah Bisri punya "gawe" di rumahnya. Beliau mengundang banyak tamu, termasuk sahabatnya, Pak Hamyah. Mbah Bisri sudah pesan sejak awal kepada santri ndalem, agar menyediakan satu cangkir kosong yang tertutup. Cangkir itu, pesan Mbah Bisri, agar disuguhkan ke Pak Hamyah.

Terjadilah senario yang sudah direncanakan Mbah Bisri. Santri ndalem menyuguhkan kopi ke semua tamu. Tiba giliran cangkir kosong yang sudah disediakan khusus untuk Pak Hamyah, santri itupun segera meletakkan cangkir tertutup itu di depan sahabat Mbah Bisri itu.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Setelah itu, santri itu kemudian berlalu sambil memendam tawa kecil didalam hatinya, "Kiai ya kayak awak dhewe ya, padha gasak-gasakan juga."

"Monggo kopinipun dipun unjuk, para sedherek," kata Mbah Bisri seraya mempersilahkan tamu-tamunya untuk meminum kopi.

Dengan tanpa curiga sedikitpun, Pak Hamyah segera mengambil cangkir, membuka tutupnya, dan melihat cangkir itu kosong, "Asemik, aku diwales Bisri rupanya."

Baca Juga: KH. Kholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk menutup rasa malu, pak Hamyah tetap mengangkat cangkir itu dan mendekatkannya ke mulut sambil mengeluarkan suara khas, "Slurrrrrp, haaaaaah..." Pak Hamyah pura-pura menikmati kopi itu dengan penuh perasaan.

"Piye kopine, Hamyah?" tanya Mbah Bisri dengan meledek.

Pak Hamyah hanya bisa tersenyum kecut. Mungkin, dia sedang memikirkan trik bully yang lain untuk Mbah Bisri.[]




* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla
Read More