Tampilkan postingan dengan label Pagar Nusa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pagar Nusa. Tampilkan semua postingan

Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, mengingatkan pentingnya kecerdasan dalam bermedia sosial. Hal itu diungkapkannya pada Selasa malam kemarin, 6 Maret 2018, dalam agenda acara "Istighotsah dan Diskusi Politik dan Cyber: Menuju Medsosul Karimah" di Masjid PBNU, Jakarta Pusat.

"Sekarang ini, yang penting bagi kita semua itu kecerdasan bermedia sosial. Agar Indonesia tetap tenang dan damai. Tidak terusik dari kekisruhan di media sosial. Kita harus lawan kebencian. Kita bangun algoritme kebersamaan," paparnya.

Pada acara ini, hadir pula Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU), KH. Miftahul Akhyar (Wakil Rais 'Aam PBNU), KH. Said Asrori (Syuriah PBNU), Kombes Mulya (Polri), Suwadi D. Pranoto (Wasekjen PBNU), KH. Aizzudin Abdurrahman (Ketua PBNU), Sabrang Damar Mowopanuluh (Noe Letto), KH. Atholillah Habib (Waketum Pagar Nusa) dan Hasanuddin Wahid (Sekum Pagar Nusa).

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Sa'id Aqil Siroj, dalam kesempatan ini mengajak warga Nahdliyyin dan semua warga Indonesia untuk cerdas dalam bermedia sosial. Beberapa negara Timur Tengah yang telah mengalami krisis dan konflik pun di sebutkan sebagai pembelajaran.

Baca Juga:
Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol
Ppagar Nusa Temanggung Adakan Muskercab

"Kita lihat bagaimana perpecahan yang terjadi di Timur Tengah. Dari Syiria, Yaman, Libia dan beberapa negara di sekitarnya. Sebagian besar, diawali dengan perdebatan yang tak kunjung henti di media sosial. Ini harus kita sadari bersama," ungkap kiai Sa'id.

Lebih lanjut, kiai Sa'id mengajak umat muslim dan warga Indonesia untuk melawan kebencian. Sebab, jelas sekali bahwa kebencian, apalagi menebarnya, adalah suatu hal yang dilarang oleh ajaran agama.

"Sudah jelas, ajaran agama melarang kita untuk menebar kebencian. Yang harus dilakukan, yakni membagi kebahagiaan, amal sholih dan akhlaqul karimah," jelas kiai Sa'id.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi, Sabrang Damar (Noe Letto), menganalisa bagaimana berkembangnya media sosial serta tertinggalnya pemikiran warga Indonesia. Di hadapan ratusan pendekar dan jama'ah Istighotsah, Sabrang mengingatkan agar kita semua sadar diri ketika bermedia sosial.

"Sekarang ini, revolusi Industri tahapan ketiga. Kita pernah dengar bitcoin dan beberapa inovasi digital. Tapi, sekarang ini, warga Indonesia masih terpaku pada perdebatan yang riuh di media sosial," papar Sabrang.

"Kita harus lihat, bagaimana media sosial itu diciptakan, siapa yang menciptakan? Media sosial dirancang hampir sama dengan narkoba, agar addict (kecanduan). Medsos dicipta sedemikian rupa, agar pengguna kecanduan. Nah, ini yang harus kita pahami," imbuh Sabrang Noe Letto agak lebih rinci.

"Jangan seperti anak kecil yang berkelahi dengan anak kecil. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pawang yang mampu memayungi perdebatan-perdebatan yang ada," ucapnya kemudian.

Baca Juga:
Ketum PP. Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan
Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Sedangkan Suwadi D. Pranoto, pakar geostrategi, menyampaikan pentingnya menganalisa skenario dibalik penciptaan media sosial.

"Jelas, bahwa kita tidak hanya melihat media sosial, semata teknis teknologi digital. Kita harus melihat lebih mendalam. Aspek filosofis dan strategis dibalik itu," kata Suwadi yang akrab disapa dengan Cak Su ini.

Pada masa khidmah kepengurusan tahun 2017-2022, Pagar Nusa dibawah komando Nabil Haroen ini mengkonsolidasi diri dengan meluaskan jaringan dan meningkatkan kualitas pendekar. Sedangkan kegiatan Istighotsah dan Kajian yang diselenggarakan secara rutin tiap bulannya di Masjid PBNU ini merupakan ajang silaturrahmi kebangsaan dan menguatkan ukhuwwah Islamiyyah. []
Read More

Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa


Assalamu 'alaikum warahmatulLaahi wabarakatuh

Semoga rahmat Allah SWT. selalui menaungi kita semua dan syafa'at RasululLah menghampiri kita di hari akhir nanti.

Mencermati perkembangan beberapa bulan terakhir ini, isu dan praktek kekerasan kepada siapapun di negeri ini tengah menjadi perbincangan. Tentunya kita harus pandai, bijak dan cerdas dalam mencerna segala informasi yang tengah berkembang.

Mengenai isu bangkitnya PKI (Partai Komunis Indonesia), isu semacam ini akan sering berhembus pada tahun politik. Tahun politik ini menjadi ajang kontestasi gagasan, kekuatan, sekaligus isu-isu yang saling mempengaruhi. Mengapa? Karena sebagaimana kita tahu bahwa isu ini sangat sensitif dan mudah menyulut emosi dan perasaan segenap lapisan bangsa ini. Kita semua sepakat bahwa PKI telah menjadi partai terlarang secara hukum dan sampai sekarang masih berlaku.

Kalau saya ditanya, bagaimana jika PKI hidup kembali? Saya tentu akan dengan tegas menjawabnya, tidak. Namun, akan lain soal jika pertanyaannya adalah bagaimana mengenai wacana atau polemik bangkitnya PKI? Tentu jawabannya akan sangat panjang dan tidak mungkin saya tuangkan dalam renungan pendek ini. Sebuah jawaban yang paling sederhana adalah dulu tentara yang membasmi PKI, kalau sekarang PKI akan bangkit lagi, tentu tentara tidak akan tinggal diam. Kecuali jika tentara sudah tiada semuanya, bolehlah kita sedikit gusar atas isu bangkitnya PKI.

Saya sangat mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman teror kepada para pemuka agama. Terlebih pada para panutan kita, kiai.

Seringkali saya menjumpai bahwa antara fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama. Sebaran informasi yang tidak bertanggungjawab itu sudah dibumbui. Ditambahi penyedap supaya menjadi gorengan murahan.

Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast. Kita terima dan langsung kita share tanpa terlebih dahulu melakukan ricek. Sehingga kita akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. Atas berita yang kita terima, jika kita tidak mampu melakukan ricek, akan lebih baik jika kita diamkan dan menunggu informasi valid dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai satu contoh, saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, tempo hari. Begitu mendapati sesuatu yang mencurigakan, langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses. Inilah karakter pesantren yang menjadi jati diri kita. Kejadian di Al-Falah, Ploso, hampir saja menjadi isu besar yang tidak bertanggungjawab jika tidak segera diambil langkah antisipatif.

Kalau bicara soal pembelaan kita terhadap kiai, tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi. Semboyan kita adalah Bela Kiai Sampai Mati! Artinya apa? Kita tidak akan pernah mundur sejengkalpun ketika para kiai kita diteror, diancam dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. Dalam membela kiai, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri.

Disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga para kiai kita. Apakah kita menjaga kiai karena kiai tidak mampu menjaga dirinya? Tidak! Beliau sudah tidak ambil pusing soal keamanan dirinya. Karena bagi beliau, yang terpenting adalah bagaimana mengayomi dan menemani umat dan masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Dan soal menjaga kiai adalah bagian dari kewajiban kita sebagai Pagar NU dan Bangsa.

Oleh karenanya, kenapa saya serukan untuk selalu sowan kiai? karena banyak hal yang akan kita terima dari beliau. Tidak hanya menjaga energi. Tetapi juga sekaligus menjaga beliau sepanjang waktu.

Kiai kita adalah para kiai yang selalu teduh dalam bersikap, ramah dalam ber-mu'asyarah dan bijak dalam bertindak. Kiai mengajari kita bagaimana beretika dan bersopan santun. Kita juga belajar, apa dan bagaimana arti penting tabayyun dari beliau. Pelajaran banyak dan dahsyat ini akan selalu kita temui dalam keseharian kiai, bukan hanya teori. Dan teror atau ancaman yang kini tengah terjadi adalah bagian kecil dari perjuangan kiai.

Akhirnya, saya mengajak semua pendekar untuk bergandeng tangan menjaga kiai kita dan merapatkan barisan kita. Secara berkala, kita harus berkoordinasi dengan pengurus NU dan aparat yang berwenang. Untuk menjaga keamanan, juga perlu peran serta masyarakat dalam mewujudkan dan menciptakan rasa aman. Dan untuk menciptakan rasa aman, tidak perlu terlebih dahulu diciptakan rasa tidak aman.

Semoga Allah SWT. senantiasa meridlai segala langkah kita.

Wassalamu 'alaikum warahmatulLaahi wabarakatuh

Muchamad Nabil Haroen, Ketua Umum PP. Pagar Nusa. []
Read More

Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan


muslimpribumi.com , Sumsel - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, sangat menyayangkan tindakan penyerangan Gereja St. Lidwina Sleman dan penganiayaan terhadap pastor serta jemaat gereja. Pada Minggu pagi tadi, 11 Februari 2018, Gereja St. Lidwina Dk. Jambon, Trihanggo, Kec. Gambing, Kab. Sleman, Yogyakarta, diserang seorang lelaki bersenjata tajam. Penyerang melukai pastor dan beberapa jemaat. Selain itu, penyerang juga melukai seorang polisi yang berusaha mengamankan pelaku.

Menanggapi penyerangan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menyeru gerakan intoleran tidak bisa dibiarkan lagi. "Saya sangat menyayangkan penyerangan yang terjadi di Gereja St. Lidwina, Sleman. Beberapa waktu lalu, terjadi penyerangan kiai di Cicalengka, Jawa Barat. Kalau penyerangan ini terus dibiarkan, akan memecah belah dan berdampak buruk bagi bangsa ini," ungkap Nabil dalam Silaturahmi Pagar Nusa se-Sumatera Selatan, di Tuga Jaya, Ogan Komering Ilir, Sumsel, hari ini.

Nabil Haroen mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 dan 2019, yang dianggap sebagai tahun politik, konsolidasi dan silaturahmi antar elemen warga harus ditingkatkan. "Kemarin kiai yang dibacok, sekarang pastor yang diserang. Ini semacam rangkaian kekerasan yang harus diputus. Tidak sekedar mencari dan menemukan pelaku, tapi memutus jaringan kekerasan ini. Jangan sampai Indonesia kita dibuat keruh oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab," terang Nabil.

Nabil Haroen mengajak warga Nahdliyyin, santri dan bersama warga lintas agama, serta Polri dan TNI, untuk saling menjaga situasi agar tetap kondusif. "Kita jangan sampai kalah dengan kekerasan. Harus ada gerakan bersama untuk memutus mata rantai kekerasan ini. Pagar Nusa sudah menginstruksikan jaringan pendekar untuk merapatkan barisan, konsolidasi dengan warga lintas agama serta simpul-simpulnya untuk saling bekerjasama. Kami juga terus berkomunikasi intensif dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk bersama-sama menciptakan situasi kondusif," jelas Nabil Haroen yang didampingi Emi Sumirta, Ketua PW. Pagar Nusa Sumatera Selatan, Ki Cokro, M. Aziz, Muamarullah dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

"Jangan sampai, situasi politik pada masa menjelang Pilkada, Pilleg, dan Pemilihan Presiden, pada tahun 2018 dan 2019 ini, menjadi turbulensi sehingga dimanfaatkan kelompok yang tidak bertanggungjawab," ungkap Nabil dihadapan ratusan pendekar Pagar Nusa dan antar Perguruan Silat di Ogan Kemiring Ilir.

Nabil Haroen mengajak pada tokoh-tokoh lintas agama untuk saling silaturahmi, untuk menyamakan persepsi menjaga bangsa. "Silaturahmi lintas agama harus diintensifkan antara tokoh maupun antar warganya. Ini penting agar umat antar agama saling bersilaturrahmi. Mari kita tingkatkan ukhuwwah basyariyyah, persaudaraan kemanusiaan kita, untuk menjaga situasi tetap damai. Kalau ukhuwwah ini terjaga, tujuan pelaku kekerasan untuk mencipta situasi chaos, tidak akan tercapai," harap Nabil Haroen.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa akan  menyelenggarakan Silaturrahmi antara ulama, santri dan pemuka lintas agama di beberapa kawasan, untuk keamanan dan persaudaraan kebangsaan. Agenda ini merupakan satu rangkaian dengan Ijazah Kubro Pagar Nusa pada Januari 2018 lalu di Cirebon, Jawa Barat (*).
Read More

Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol


muslimpribumi.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan apresiasi tinggi atas agenda Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa. Agenda Ijazah Kubro dan Pengukuhan berlangsung di Lapangan Puser Bumi, Ciperna, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (28/01/2018).


Agenda ini dihadiri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Rais 'Aam PBNU Prof. Dr. KH. Ma'ruf Amin, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, KH. Said Asrori, KH. Ayib Abbas dan beberapa kiai sepuh. Dalam agenda ini, ulama dan ahli bela diri dari Tunisia, Dr. Nazim Syarif, hadir sebagai tamu kehormatan.


Panglima TNI mengapresiasi kader-kader dan pendekar Pagar Nusa yang mempraktikkan disiplin tinggi. "Saya sangat mengapresiasi Pagar Nusa yang memiliki kedisiplinan tinggi," ungkap Marsekal Hadi.

Dalam pandangannya, TNI sangat berharap dapat menjalin kerjasama intensif dengan Pagar Nusa dalam tujuan menjaga NKRI. "Saya yakin, Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama menjadi pilar penting untuk masa kini dan masa mendatang. Pagar Nusa dan Nahdlatul Ulama sangat dibutuhkan bangsa ini," jelasnya dihadapan ribuan pendekar Pagar Nusa dan warga Nahdliyyin.

Panglima TNI juga membuka pintu kepada kader Pagar Nusa untuk masuk ke Akmil dan Akpol. Hal ini dalam rangka membuka kesempatan bagi santri pendekar untuk mengabdi kepada bangsa melalui TNI dan Polri. "Kami membuka pintu bagi kader muda pendekar Pagar Nusa untuk masuk ke Akmil dan Akpol. Pagar Nusa telah membuktikan tingkat disiplin tinggi," tegas Panglima.

Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menegaskan bahwa Pagar Nusa konsisten mengabdi kepada kiai dan menjaga NKRI. "Pagar Nusa itu Pagarnya NU dan Bangsa. Kami tidak hanya barisan pendekar yang mengandalkan otot. Tapi sekaligus dengan kekuatan intelektual dan kematangan spiritual. Ini yang ditempa di Pagar Nusa," jelas Nabil Haroen.

Pagar Nusa, ungkap Nabil Haroen, juga memiliki sejarah panjang membela NKRI. "Sejarah Pagar Nusa sepanjang sejarah pesantren dan Nahdlatul Ulama. Para pendekar santri terlibat dalam perang melawan kolonial dan perjuangan kemerdekaan. Sudah seharusnya Pagar Nusa terus mengawal Indonesia dengan arahan dari kiai-kiai," jelas Nabil, yang didampingi Sekretaris Umum Pagar Nusa, M. Hasanuddin Wahid, dan Ketua Panitia Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pagar Nusa, Zainul Munasichin.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa mengirim beberapa pelatih pencaksilat ke beberapa negara Eropa, Tunisia, Mesir, Eropa, Jepang dan China.
Read More