rumahnahdliyyin.com - Salah satu Pondok Pesantren tertua di Indonesia, yang hingga hari ini masih bisa kita jumpai dan aktif adalah Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Bertempat di samping Bengawan Solo, Pondok Pesantren yang awalnya hanya sebuah surau kecil itu kini luasnya mencapai sekitar tujuh hektar-an dengan jumlah santri lebih dari lima ribu-an.
Muhammad Nur. Itulah nama kiai yang menggelar pengajian di surau kecil itu waktu itu. Selain menggelar pengajian, KH. Muhammad Nur juga melakukan penggemblengan supaya yang belajar kepada beliau juga bisa dan mampu untuk meneruskan perjuangan dalam usaha mengusir penjajahan Belanda (Kompeni) dari bumi Nusantara.
Baca Juga: (Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari)
Dari segi nasab, KH. Muhammad Nur bukanlah orang sembarangan. Beliau masih termasuk keturunan Mbah Abdurrahman atau Pangeran Sambu, Lasem. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah seorang kiai dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Awalnya, orang-orang yang belajar kepada KH. Muhammad Nur di surau kecil itu hanyalah tetangga-tetangga dekat rumahnya saja dan para sanak keluarganya sendiri. Namun, berkat keikhlasan, keistiqomahan, ketekunan dan komitmen beliau dalam membimbing umat, akhirnya orang-orang dari luar daerah pun terpikat untuk berguru juga kepada beliau.
Karena itu, pada tahun 1852, bangunan surau kecil itu tak lagi dikenal sebagai surau. Melainkan sebagai Pondok Pesantren Langitan.
Baca Juga: (Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari)
Orang-orang yang berguru kepada KH. Muhammad Nur berasal dari berbagai daerah. Baik dari Jawa sendiri, maupun dari luar Jawa. Dan beberapa dari mereka, ternyata dikemudian hari menjadi kiai dan ulama besar.
Diantara mereka adalah yang sekarang kita kenal dengan KH. Kholil bin Abdul Lathif atau yang lebih akrab dengan sebutan Syaikhona Kholil Bangkalan. Ada lagi yaitu KH. Hasyim Asy'ari atau yang sekarang digelari dengan Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.
Selama tiga tahun, KH. Hasyim Asy'ari belajar dibawah asuhan KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan ini. Beliau juga sempat menangi dan berteman dengan KH. Kholil Bangkalan selama enam bulan di Pondok Pesantren Langitan ini.
Selain dua kiai kondang diatas, para orang tua tokoh-tokoh NU juga berguru kepada KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan yang awalnya surau itu. Seperti halnya KH. Syamsul Arifin (ayah KH. As’ad Syamsul Arifin), KH. Shiddiq (ayah KH. Ahmad Shidiq) dan KH. Wahab Chasbullah (ayah KH. Abdul Wahab Chasbullah).
Baca Juga: (Syaikhona Kholil Bangkalan)
KH. Muhammad Nur sendiri, mengasuh Pondok Pesantren Langitan ini selama kurang lebih 18 tahun. Yaitu antara tahun 1852 hingga 1870 M. Cita-cita luhur dan semangat beliau dalam membidani berdirinya Pondok Pesantren Langitan ini sungguh sangat dirasakan manfa'atnya masyarakat luas hingga hari ini.
Setelah KH. Muhammad Nur wafat, yaitu pada hari Senin, 30 Jumadil Ula tahun 1297 H. yang dimakamkan di komplek Pesarehan Sunan Bejagung Lor, Tuban, tampuk pimpinan kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan pun dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu KH. Ahmad Sholeh.
Akhirnya, untuk para kiai yang namanya disebutkan diatas, terkhusus untuk KH. Muhammad Nur dan masyayikh Pondok Pesantren Langitan lainnya, lahum Al-Fatihah... []
* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
