Konsep Kebahagiaan Manusia


rumahnahdliyyin.com - Para filsuf muslim yang mewarisi khazanah filsafat Yunani sering mengemukakan bahwa sumber kebahagiaan adalah ارتسام المعقولات فی النفس (irtisām al-ma'qūlāt fi al-nafs), yakni munculnya pengetahuan dalam nous atau nafs, jiwa kita. Para filsuf itu menggambarkan pengetahuan itu sebagai rosm, tulisan, atau gambar yang tercetak dalam jiwa.

Yang dimaksud gambar di sini adalah gambar benda-benda yang ada di sekitar kita. Ketika rumah yang kita lihat dengan mata kita berubah menjadi image atau gambar rumah dalam pikiran, bukan lagi rumah fisik, maka kita memiliki pengetahuan tentang rumah itu.
Rumah yang sudah berubah menjadi gambar pikiran itu, dalam filsafat, disebut sebagai ma'qūlāt (معقولات). Dalam tradisi filsafat Barat, dia disebut: intelligibles.

Menurut filsuf muslim seperti al-Farabi (w. sekitar 950), makin banyak ma'qulat atau pengetahuan yang tercetak dalam pikiran kita, makin besar kemungkinan kita untuk bahagia.

Baca Juga: Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab

Dalam tradisi filsafat Islam, isi pengetahuan itu hanyalah dua saja, yaitu taşowwur (تصور) dan taşdīq (تصديق). Taşowwur adalah pengetahuan tentang suatu barang secara individual tanpa relasi (nisbah, idlôfah), hubungan dengan sesuatu yang lain. Sementara taşdīq adalah pengetahuan kita tentang benda dalam hubungannya dengan hal lain.

Rumit? Jangan khawatir. Sebetulnya sederhana kok, cuma para filsuf itu kadang senang merumitkan hal yang sebetulnya sederhana. Saya kasih contoh agar mudah memahami konsep ini.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Jika kita tahu apa rumah itu, maka inilah yang disebut taşowwur. Rumah adalah, misalnya, bangunan yang menjadi tempat tinggal manusia. Tetapi jika kita tahu bahwa rumah A terletak di perumahan B, ini namanya taşdīq. Dalam tashdiq kita tidak saja mengetahui sesuatu saja, tetapi sesuatu dalam relasinya kepada sesuatu yang lain. Dalam contoh tadi, kita mengetahui tentang rumah yang terletak di sebuah tempat. Konsep rumah berhubungan dengan konsep tempat.

Dalam taşdīq selalu terdapat pengetahuan tentang dua hal atau lebih. Makin rumit suatu pengetahuan, makin banyak dan kompleks hubungan-hubungan antara banyak hal yang ada di dalamnya. Itulah konsep sederhana tentang pengetahuan dalam tradisi filsafat Islam. Tentu, ini semua berasal dari tradisi filsafat Aristoteles di Yunani. Meski demikian, filsuf Muslim bukan sekedar mewarisi saja, melainkan melakukan pengembangan secara kreatif.

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Sekarang saya akan bergerak ke tahap berikutnya, yaitu tentang implikasi atau dampak dari pengetahuan. Jika kita punya pengetahuan, apakah akibatnya?

Ada dua model di sini. Pertama, pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang enabling, membuat manusia mampu berbuat sesuatu. Dengan kata lain, pengetahuan adalah kekuasaan.

Roger Bacon (w. 1626), filsuf Inggris, konon dikenal sebagai orang yang mempopulerkan ucapan ini: scientia potentia est, pengetahuan adalah kemampuan dan kekuasaan. Contohnya sederhana saja. Jika kita memiliki pengetahuan melalui Google Map bahwa letak toko A ada di jalan B, maka pengetahuan ini akan enabling, membuat kita berdaya dan mampu untuk pergi ke toko itu secara benar. Karena itu, kebodohan adalah situasi ketidakberdayaan, powerlessness, عدم القدرة ('adam al-qudroh).

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Konsep tentang pengetahuan sebagai kekuasaan ini belakangan menjadi sasaran kritik keras dari para filsuf "kiri", misalnya para filsuf yang berkumpul dalam Mazhab Frankfurt. Kritik mereka sederhananya adalah demikian: konsepsi tentang pengetahuan sebagai kekuasan membuat manusia memakainya sebagai alat untuk menguasai dan memanipulasi alam secara eksesif, dan akibatnya menimbulkan banyak bencana dan kerusakan habitat manusa.

Kritik itu malah bergerak lebih jauh. Pengetahuan sebagai kekuasaan ini, dalam praksis kehidupan modern, bukan saja berlaku pada hubungan manusia dengan benda, melainkan juga dalam hubungan intersubyektif antar manusia. Hubungan-hubungan antar manusia semakin mengarah kepada model penguasaan, penundukan, pembendaan (reifikasi, تشیيئ). Pengetahuan tentang manusia lain justru menjadikan kita mampu (powered) menundukkan dan menguasai dia.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Ini, misalnya, terjadi dalam dunia marketing. Pengetahuan tentang perilaku konsumen membuat kita mampu merumuskan "strategi" yang jitu untuk membujuk agar mereka mau membeli barang yang kita jual. Pembujukan seperti itu pada dasarnya adalah sebentuk "kolonialisme," atau penundukan yang halus atas yang lain. Orang lain tidak lagi dianggap sebagai manusia yang berkesadaran, melainkan obyek mati yang menjadi sasaran penguasaan dan penundukan.

Karena itu, kita perlu mengenal konsep kedua, yaitu pengetahuan sebagai sumber cinta dan menyayangi: المعرفة هى المحبة (al-ma'rifah hiya al-mahabbah). Dalam konsep ini, pengetahuan bukan kekuasaan, melainkan sesuatu yang menyebabkan kita mencintai dan menghargai sesuatu yang kita ketahui itu. Pengetahuan adalah sumber dari mana kasih-sayang berasal.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Konsep kedua ini kita jumpai, misalnya, di kitab Ihya' Ulum al-Din karya Imam Ghozali (w. 1111). Di beberapa pembahasan tentang tema akhlaq dalam juz ketiga kitab ini, Imam Ghozali selalu mengaitkan antara "pengetahuan" dan "mencintai", antara معرفة (ma'rifah) dan محبة (mahabbah). Ini relevan terutama dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kecintaan kita kepada Tuhan adalah permulaan kita untuk mencintai-Nya. Tanpa pengetahuan yang tepat tentang Tuhan, tak mungkin kita mencintai-Nya.

Model pengetahuan kedua patut kita pakai terutama dalam hubungan-hubungan intersubyektif antara manusia. Pengetahuan tentang manusia lain seharusnya menjadi sumber kecintaan dan penghargaan kita kepada mereka, bukan malah membuat kita justru memiliki alat yang kian canggih untuk "mengeksploitasi".
Dengan demikian, ketiadaan pengetahuan akan membuat kita cenderung membenci orang atau golongan lain. Pepatah Melayu sudah menegaskan ini sejak lama, "tak kenal maka tak sayang". Pepatah Arab juga mengenalkan pemahaman serupa:
 الإنسان أعداء ما جهلوا (al-insānu a'dā'u mā jahilū; manusia cenderung memusuhi perkara yang ia tak ketahui).

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Kalau kita kembalikan kepada konsep kebahagiaan, pengetahuan yang mendorong kita menyayangi dan menghargai liyan akan membuat kita bahagia. Makin besar pengetahuan, makin dalam penghargaan kita terhadap orang lain, dan makin bertambah pula kebahagiaan kita. Pengetahuan, cinta/penghargaan, kebahagiaan--ketiganya saling berhubungan secara kausal.

Mana model yang tepat? Apakah pengetahuan sebagai kekuasaan atau pengetahuan sebagai cinta?

Menurut saya, kedua model pengetahuan ini kita butuhkan sekaligus, asal kita paham bagaimana meletakkan keduanya dalam proporsi yang tepat. Ada bidang-bidang tertentu dalam kehidupan di mana pengetahuan dibutuhkan sebagai alat untuk membuat kita "mampu" menguasai sesuatu yang lain. Misal yang baik adalah pengetahuan seorang dokter tentang penyakit sebagai alat untuk menguasai dan menundukkannya. Meskipun, dalam hal penyakit ini, ada konsepsi dalam mistik/tasawwuf Islam yang memandang penyakit bukan sebagai musuh yang harus ditundukkan, melainkan sebagai "sahabat" yang membukakan pintu kepada Tuhan (dalam istilah kitab Hikam: وجهة من التعرف, wijhah min al-ta'arruf).

Baca Juga: Menjernihkan Makna "An-Nas" dalam Hadits untuk Memerangi Musyrikin

Sementara itu, ada bidang-bidang lain di mana kita seharusnya memperlakukan pengetahuan sebagai sumber kasih sayang dan penghargaan kepada orang lain. Dalam hubungan antar-manusia, sebaiknya pengetahuan kita perlakukan demikian. Jangan sampai kita menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk menguasai orang lain.

Problem kita dalam era medsos saat ini persis di sini: kita sering terlibat dalam percakapan di medsos bukan untuk mengenal lebih baik orang lain yang secara ironis disebut sebagai "friend", melainkan untuk "menundukkan", bahkan menyerang dia. Di sini, yang berlaku adalah model scientia potentia est, pengetahuan adalah kekuasaan dan menguasai.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Mampukah kita bergerak ke level yang lebih tinggi, lebih rohani, dan memandang pengetahuan kita tentang orang lain dalam medsos ini sebagai sumber kasih sayang dan penghargaan kita kepada dia? Semuanya terserah kepada kita untuk memutuskan: hendak bahagia dengan menghargai orang yang beda, atau sengsara dengan menegasikan dan menyangkal kehadiran orang lain itu?

Sekian.



* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla (Pengampu Pengajian Ihya' Ulumiddin)
Read More

Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Ruh Gus Dur di Sidera


rumahnahdliyyin.com - Ketika menjadi presiden, Gus Dur sering melakukan lawatan ke berbagai negara. Tujuannya untuk meyakinkan dunia internasional agar tak turut campur mengobok-obok Indonesia.

Ketika itu negeri kita diambang disintegrasi. Separatis muncul di Papua, GAM di Aceh dan RMS di Maluku yang remote-nya dimainkan di luar negeri.

Banyak orang murka. Mereka menuduh Gus Dur cuma "jalan-jalan" menghabiskan uang rakyat. Dan puncaknya waktu Gus Dur berkunjung ke ibu kota Perancis, Paris. Para pembencinya semakin menjadi-jadi.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tapi apa kata Gus Dur saat ditanyakan hal itu, "Tahu apa mereka dengan yang saya kerjakan. Lha ngapain juga saya jalan-jalan ke Paris kalo nggak ada gunanya? Wong Paris dan Jakarta bagi saya sama saja kok. Sama-sama gelap." Ujarnya cuek. Buat Gus Dur keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melakukan banyak hal bagi persatuan bangsa.

Hari Minggu kemarin, saya mengunjungi Sidera. Salah satu desa yang mengalami bencana Liquifaksi. Dan betapa terkejutnya saya karena bertemu Gus Dur di tempat ini.

Tapi, jangan salah paham dulu. Sebab yang saya maksud dengan pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik. Di Sidera itu saya menemukan "ruh" Gus Dur. Gus Dur yang menjelma menjadi semangat persatuan. Semangat toleransi.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang

Di Sidera toleransi dijunjung tinggi. Masjid dan Gereja berdampingan. Warga muslim dan kristiani hidup rukun. Menurut warga setempat, walaupun orang Tator mayoritas, mereka tetap menghormati etnis Jawa yang minoritas.

Paska gempa di Sidera, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Saya dengar, ada orang Jawa menetap di rumah orang Tator karena rumahnya hancur. Mereka diterima dengan baik layaknya keluarga sendiri.

Inilah yang mendorong komunitas para pecinta toleransi yang diperjuangkan Gus Dur (GUSDURIAN) untuk membangunkan warga Sidera Hunian sementara (Huntara). Harapannya, Huntara ini bisa didiami oleh siapa saja tanpa tersekat-sekat primordialisme.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Huntara ini menempati lokasi yang tidak terlalu luas. Letaknya di sepanjang jalan yang menghubungkan Desa Sidera dan Desa Jono Oge. Bangunanya sederhana, terbuat dari triplek dan dipetak-petak memanjang dari timur ke barat berbentuk persegi empat. Bangunan ini mengingatkan saya pada los-los pedagang di pasar tradisional di pedesaan. Selain hunian warga, dibangun juga musholla. Tempatnya pas di tengah-tengah Huntara.

Huntara terlihat mencolok, karena dicat warna-warni dan dihiasi gambar serta pesan-pesan bijak Gus Dur, sehingga ia terlihat unik dan mengundang perhatian warga yang lewat. Tidak sedikit diantara mereka yang mampir dan berswafoto di depannya.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Raga Gus Dur mamang telah tiada. Ia disemayamkan nun jauh di Jombang. Namun semangatnya tetap hidup. Ia tetap "pelesiran" ke mana-mana. Dan kini saya melihat Gus Dur berada di Sidera.[]



* Oleh : Abdul Hakim Madda
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

Gus Dur; Menertawakan Diri Sendiri


rumahnahdliyyin.com - Salah satu sifat Gus Dur yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar, baik tokoh bangsa, tokoh politik, tokoh agama lainnya, apalagi cuma tokoh kecil sahaja, adalah tidak malu menertawakan diri sendiri, selain menertawakan orang lain. Bahkan menertawakan NU. Lha, bukankah dia seorang kiai? Keturunan pendiri NU, Ketua Umum PBNU lagi. Tidak mungkin deh, beliau merendahkan diri sendiri.

Saudaraku, menertawakan bukan berarti menghina. Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon guyonan, kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa juga yang berani protes.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain, tanpa disadari, cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak. Sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan.

Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain. Sebaliknya, orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa. Juga sebaliknya dan seterusnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Konon, Umar ibn Khothob, sahabat Rosululloh, kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah. Dan ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang ahlinya memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan, “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci maki tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur, “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Mereka berdua pun ngakak.

Baca Juga: Tubuh Menurut Gus Dur

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ untuk bersholawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan sholawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk, “Saya minta anda semua bersholawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat,” Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Baca Juga: Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa,” Hadirin pun tertawa.

Seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.

Gus, kami rindu pada sampeyan.[]



* Oleh: Rusdian Malik
Read More

Makna 'Aqidah Islamiyyah, Makna Islam dan Rukun Iman


rumahnahdliyyin.com - Inilah makna 'Aqidah Islamiyyah, Islam dan rukun-rukun 'Aqidah Islamiyyah (rukun iman) dalam kitab Al-Jawahirul Kalamiyyah karangan Syaikh Thohir Al-Jazairi.

Makna 'Aqidah Islamiyyah

س: مَا مَعْنَى الْعَقِيْدَةِ الاِسْلَامِيَّةِ؟
ج: اَلْعَقِيْدَةُ الْإِسْلَامِيَّةِ هِيَ الْاُمُوْرُ الَّتِىْ يَعْتَقِدُهَا اَهْلُ الْإِسْلَامِ، اَىْ يَجْزِمُوْنَ بِصِحَّتِهَا

Soal: Apa makna 'aqidah Islamiyyah?
Jawaban: 'Aqidah Islamiyyah adalah perkara-perkara yang diyakini oleh pemeluk Islam (artinya: mereka mantab membenarkannya).

Baca Juga: Ahlussunnah wal-Jama'ah

Makna Islam

س: مَا مَعْنَى الْاِسْلَامِ؟
ج : اَلْاِسْلَامُ هُوَ الْاِقْرَارُ بِاللِّسَانِ، وَالتَّصْدِيْقُ بِالْقَلْبِ بِاَنَّ جَمِيْعَ مَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَصِدْقٌ

Soal: Apa makna Islam?
Jawaban: Islam adalah mengikrarkan dengan lidah dan membenarkan dengan hati bahwa semua hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. adalah haq dan benar.

Baca Juga: Habib Luthfi: Pentingnya Ber-NU

Rukun 'Aqidah Islam (Rukun Iman)

سَ: مَا اَرْكَانُ الْعَقِيْدَةِ الْاِسْلَامِيَّةِ: اَىْ اَسَاسُهَا ؟
جَ: اَرْكَانُ عَقِيْدَةِ الْاِسْلَامِيَّةِ سِتَّةُ اَشْيَاء: وَهِيَ الْاِيْمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى, وَالْاِيْمَانُ بِمَلَائِكَتِهِ, وَالْاِيْمَانُ بِكُتُبِهِ, وَالْاِيْمَانُ بِرُسُلِهِ, وَالْاِيْمَانُ بِالْيَوْمِ الْاَخِرِ, وَالْاِيْمَانُ بِالْقَدرِ

Soal: Berapa rukun 'aqidah Islamiyyah (artinya: pokok-pokok Islam)?
Jawaban: Rukun-rukun 'Aqidah Islamiyyah ada enam:
1. Iman kepada Alloh Ta’ala.
2. Iman kepada malaikat-malaikat-Nya.
3. Iman terhadap kitab-kitab-Nya.
4. Iman kepada para rosul-Nya.
5. Iman terhadap hari akhir.
6. Iman terhadap taqdir.

Wallohu a'lam.[]
Read More

KH. M. Aniq Muhammadun: Pakar Nahwu Yang Tersembunyi

 

rumahnahdliyyin.com - Putra KH. Muhammadun Pondowan ini adalah sosok yang bersahaja. Beliau menerima tamu dengan tangan terbuka. Para tamu tidak sungkan (malu) menyampaikan unek-unek (isi hati sesuai keinginan atau kebutuhan). Kiai Aniq menjawab sesuai pertanyaan atau keluhan yang disampaikan.

Beliau lebih dikenal sebagai ahli fiqh. Wawasan dan pemikiran fiqhnya mendalam. Banyak orang mengatakan bahwa kiai Aniq itu tabahhur (nyegoro) atau tahqiq (memahami secara mendalam dan di luar kepala) kitab kuning, khususnya fiqh.

Baca Juga: Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab

Penulis, bersama rombongan dari Yayasan Luthful Ulum Wonokerto Pasucen, dulu pernah menyampaikan masalah tentang zakat fitrah yang biasa terjadi di madrasah. Kiai Aniq menjawab bahwa di zaman Mbah Madun praktek zakat di madrasah tersebut ada hilah (mengatur), yaitu guru yang menerima zakat harus benar-benar guru yang masuk ashnaf tsamaniyah (golongan delapan) yang berhak menerima zakat, khususnya fakir-miskin.

Dalam forum Bahtsul Masail di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama, dari level Majlis Wakil Cabang, Cabang, Wilayah dan Pusat (Muktamar, Munas, Kombes), pandangan dan pemikiran beliau sangat dinanti. Posisi kiai Aniq dalam forum tersebut sebagai mushohhih (korektor) yang mengoreksi dan memilih jawaban dan 'ibarot kitab yang tepat dengan konteks masalah yang dikaji.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Kiai Aniq juga sering diundang dalam forum diskusi ilmiah, selain dalam forum pengajian. Di IPMAFA, tepatnya di Prodi Zakat Wakaf, kiai Aniq pernah menyampaikan pemikiran tentang zakat produktif dan wakaf produktif. Dalam konteks zakat profesi dan zakat produktif, Kiai Aniq menjelaskan dengan 'ibarot "ijaratun nafsi", yakni menyewakan potensi diri dengan kompensasi tertentu.

Hal ini diperbolehkan, sehingga profesi yang komersial, seperti dokter, komisaris, manajer, aparatur sipil negara dan lain-lain yang sudah mencapai satu nishob selama satu tahun wajib mengeluarkan zakat.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Dalam konteks zakat produktif, kiai Aniq menjelaskan pandangan fiqh yang menganjurkan pemberian zakat dalam bentuk kail dari pada ikan, seperti modal usaha, alat untuk bekerja dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa zakat produktif sudah dijelaskan dalam kitab fiqh klasik.

Namun dalam konteks wakaf, kiai Aniq konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf uang yang lebih dikenal dengan wakaf produktif. Mengutip kitab Asnal Matholib, kiai Aniq menjelaskan bahwa wakaf adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan dipindahkan kepemilikannya kepada Allah secara permanen, bukan temporer, untuk menggapai ridlo Alloh.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Meskipun undang-undang wakaf memperbolehkan wakaf uang dan wakaf temporer, kiai Aniq tetap konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf temporer atau wakaf uang tersebut.

Pandangan-pandangan fiqh kiai Aniq di satu sisi dinamis-kontekstual dan di sisi lain tekstual. Semua ini tidak lepas dari pemahaman beliau yang mendalam terhadap substansi kitab kuning yang beliau kaji selama puluhan tahun, sehingga kebenaran ilahi yang beliau cari, bukan kebenaran yang mengikuti nafsu dan ruang yang nisbi.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Muallif Nahwu

Di samping pakar fiqh yang dibuktikan dalam berbagai forum Bahtsul Masail dan seminar, kiai Aniq Muhammadun ternyata adalah sosok pakar nahwu. Dalam bidang ini, beliau sudah punya karya yang dikaji tidak hanya di Pondoknya (Mambaul Ulum Pakis), tapi juga di tempat lain, seperti di Pasuruan.

Nama kitab nahwu yang ditulis Kiai Aniq adalah Tashil Al-Salik Fi Tarjamati Alfiyyati Ibni Malik yang menjelaskan dengan bahasa Jawa kitab Alfiyyah Ibnu Malik yang sangat populer di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kitab ini ditulis kiai Aniq ketika beliau sudah berdomisili di Pakis, di tengah mengasuh para santri. Kitab ini memang stoknya terbatas. Oleh sebab itu, perlu diperbanyak supaya semakin banyak pelajar dan umat Islam yang bisa menikmati karya ulama Nusantara.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Generasi Kiai Muhammadun Pondowan

Kiai Aniq melanjutkan kepakaran ilmu nahwu dari ayahandanya KH. Muhammadun Pondowan yang menurut Sayyid Muhammad Al Makki diberi gelar "Sibawaih Jawa".

Kiai Aniq memulai studi di Pondowan, kemudian selama 6 tahun di Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen di pesantren Mathaliul Huda (PMH) Pusat di bawah asuhan KH. Abdullah Zain Salam. Selama di Kajen, kiai Aniq juga ngaji banyak kitab kepada KH. MA. Sahal Mahfudh, khususnya tentang fiqh dan ushul fiqh.

Setelah itu, kiai Aniq kembali ke Pondowan untuk mengaji kepada ayahandanya secara langsung selama kurang lebih 10 tahun. Berbagai Syarah Alfiyyah Ibnu Malik, seperti Ibnu 'Aqil dan Dahlan dilahap dengan renyah langsung dari ayahandanya.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Di tengah mengaji, kiai Aniq juga mengajar para santri dan melatih mereka Bahtsul Masail. Kiai Aniq merintis musyawarah kitab Fathul Qorib dan Fathul Mu'in di Pondowan yang sebelumnya tidak ada.

Setelah menikah dengan Hj. Salamah Zubair Dahlan Sarang, kiai Aniq di Pondowan sebentar, kemudian berdomisili di Sarang. Tidak lama di Sarang, kiai Aniq kembali ke Pati dengan memilih lokasi yang dekat dengan Pondowan, yaitu Pakis. Di Pakis inilah kiai Aniq merintis pesantren yang dikenal dengan nama Mambaul Ulum (tempat berseminya ilmu).

Pesantren ini terus berkembang. Jumlah santri terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, jumlah santri putra dan putri sekitar 300-an. Santri berasal dari berbagai wilayah, mulai Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan lain-lain.

Baca Juga: Mengaji Tiap Pekan, Tafsir Al-Ibriz Khatam Tujuh Belas Tahun

Tanya Jawab Fiqh

Di samping karya bidang nahwu, kiai Aniq juga mempunyai karya fiqh dalam bentuk tanya jawab yang dipublikasikan oleh Media Harian. Karya ini insya Alloh akan diterbitkan dalam bentuk buku untuk melengkapi karyanya di bidang nahwu.

Semoga KH. M. Aniq Muhammadun diberikan kesehatan, umur panjang dan keberkahan ilmu yang bermanfaat untuk para santri, umat Islam dan bangsa secara keseluruhan. Amiin Yaa Robbal 'Alamiin.[]



* Oleh: Jamal.
Pakis, Sabtu, 16 Nopember 2018.
Read More

Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab


rumahnahdliyyin.com - Sosok yang pertama kali menanamkan kecintaan terhadap bahasa Arab, terutama ilmu nahwu/shorof (Arabic syntax/morphology), pada diri saya adalah ayah saya sendiri, kiai Abdullah Rifa’i (rahimahu ‘l-Lah), seorang kiai kampung yang mengelola pesantren kecil di sebuah desa bernama Cebolek (Ya, desa ini ada kaitannya dengan Serat Cebolek yang terkenal itu, karangan pujangga besar Surakarta, Yasadipura I).

Ayah saya mencintai luar biasa ilmu nahwu dan membaktikan sebagian besar hidupnya kepada bidang pengetahuan klasik ini. Dia menulis sebuah kitab dalam bahasa Arab, berbentuk nadhom (syair), yang secara khusus membahas aspek-aspek yang "aneh" dan unik dalam bahasa Arab--yaitu ghoro'ib al-lughoh. Judulnya: Al-Mifann (secara harafiah artinya: sesuatu/orang yang membawa berita tentang hal-hal yang menakjubkan—alladzi ya’ti bi-‘aja’ib al-umur).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Karya ayah saya ini hanya terbit secara terbatas dalam bentuk foto kopi dan ditulis tangan oleh sepupu saya yang juga seorang kaligrafer, yaitu Mas Amin.

Kitab Al-Mifann ini dibuka dengan sebuah bait (mengikuti pola metrik [bahar] rojaz yang sangat populer) sebagai berikut:
Al-hamdu li 'l-Lahi 'l-ladzi dallat 'alaih # Aja'ibu 'l-kawni wa auma'at 'ilaih.

Bab pertama dalam kitab ini membahas bagaimana cara menulis huruf hamzah (kaifiyyat kitabat al-hamzah). Bagi para pemula yang sedang belajar bahasa Arab, fenomena huruf hamzah ini memang agak membingungkan dari segi rasm atau ortografi (cara penulisan).

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Bab lain membahas tentang apa yang dikalangan Arab grammarian disebut dengan dlomir sya'n (dlomir adalah kata ganti, pronomina). Fenomena dlomir yang unik ini sering saya singgung dalam beberapa sesi Ngaji Ihya'. Dasar pengetahuan saya bersumber sepenuhnya dari keterangan ayah saya waktu ngaji di pondok dulu.

Dalam Al-Mifann, ayah saya menulis tiga untaian bait berikut untuk menjelaskan dlomir sya’n tersebut:
(1) Bi-mudlmar al-sya'ni yusamma mudlmaru # Qad fassarothu jumlatun dza 'l-mudlmaru.
(2) Mulazimu 'l-ifrodi la 'l-tadzkiri # Idz huwa hina 'umdatu 'l-tafsiri.
(3) Untsa muthobiqun laha musamma # Bi-mudlmari 'l-qissati fafham fahma.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Kira-kira makna bait ini adalah sebagai berikut: Yang disebut dengan dlomir sya'n adalah kata ganti yang dijelaskan oleh kalimat (jumlah) yang terletak sesudahnya. Dlomir ini selalu berbentuk tunggal (mufrod), berbeda dengan dlomir atau kata ganti lain yang bisa berbentuk tunggal (misalnya: huwa/hiya—dia laki-laki/perempuan), ganda (huma) atau jama' (hum/hunna). Jika jumlah/kalimat yang menerangkan dlomir ini dimulai dengan kata yang jenis kelaminnya mu'annats (perempuan), maka dlomir sya'n berubah nama menjadi dlomir qissah.

Pada bagian lain dalam kitab itu, ayah saya menyinggung fenomena yang oleh para linguis Arab klasik dulu sering disebut dengan kasykasyah. Kasykasyah adalah semacam dialek suku Arab tertentu yang mengucapkan pronomina "ki" (kata ganti orang kedua perempuan) dengan menambahkan akhiran "sy" di ujung. Jadi, kalimat Qobbaltuki (aku menciummu), misalnya, menjadi Qobbaltukisy. Dialek kasykasyah ini masih luas dipakai di Mesir dan sekitarnya hingga sekarang.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Mengenai fenomena kasykasyah ini, ayah saya menulis bait berikut:
Kasykasyatun qul wadl’u syininin ‘aqiba # Kafi ‘l-mukhothobati hina rukkiba.

Salah satu pembahasan lain yang menarik berkenaan dengan cara bagaimana meng-i’rob frasa “laa siyyama” (لا سيما) yang banyak sekali dipakai dalam kitab-kitab klasik. Kata ini maknanya adalah: apalagi, lebih-lebih. Waktu di pesantren dulu, kemampuan meng-i’rob frasa “laa siyyama” ini menjadi semacam litmus test, tolok ukur apakah seorang santri sudah mencapai tingkat tinggi atau masih permulaan dalam ilmu nahwu.

Secara singkat, sesuai dengan ulasan yang ditulis oleh ayah saya dalam kitab ini, cara meng-i’rob (i’rob di sini maksudnya adalah: mendudukkan secara gramatis masing-masing unit kata dalam sebuah kalimat) frasa “laa siyyama” adalah sebagai berikut.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Partikel “laa” dalam “laa siyyama” adalah “laa linafyi al-jinsi”; yakni “laa” (artinya: tidak) yang berfungsi untuk menegasikan. Secara gramatik, partikel “laa” semacam ini memiliki karakter yang sama dengan partikel “inna”—yaitu diikuti dengan “isim” yang berkedudukan “manshub” (accusative noun—kata benda yang menjadi sasaran tindakan), dan “khobar” yang berkedudukan “marfu’” (predicative noun—kata benda yang menjadi predikat atau “menerangkan” suatu subyek).

Dengan demikian, kata “siyya” dalam “laa siyyama” berkedudukan sebagai “accusative noun”, yakni berfungsi sebagai “isim” bagi partikel “laa”, dan berkedudukan “manshub” (diberi tanda fathah)—“laa siyya”.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Sementara, partikel “ma” yang terletak setelah kata “siyya” memiliki tiga kemungkinan gramatik. Pendapat mayoritas para Arab grammarian (al-jumhur): partikel “ma” di sana adalah za’idah, artinya tambahan yang tidak memiliki status gramatik apapun (karena itu, tak memiliki i’rob).

Jika mengikuti pendapat mayoritas ini, maka kata “siyya” harus di-idlofah-kan (digabungkan sehingga membentuk susunan idlofah [idlofa construction]) kepada kata yang terletak sesudahnya.
Dengan demikian, kita akan mengatakan, misalnya: Uhibbu Sayyidatana Fathimata, la siyyama zauji-ha. Artinya: Saya mencintai Siti Fatimah, apalagi suaminya (yaitu Sayyidina Ali). Kata “zauj” dalam kalimat ini dibaca “zauji” (dengan vokal kasroh di ujungnya) karena ia berkedudukan sebagai “mudlof-ilaih” (yaitu unit kedua dalam susunan “idlofah” yang selalu berkedudukan “majrur” [genitive], dan dibaca kasroh). Sementara “mudlof”-nya (unit pertama dalam susunan idlofah) adalah kata “siyya”.

Pendapat kedua mengatakan bahwa partikel “ma” dalam “laa siyyama” berkedudukan sebagai “ma maushulah”, dan dengan demikian berfungsi sama dengan “isim maushul”.

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Sekedar keterangan selingan: dalam bahasa Inggris, isim maushul bisa disebut sebagai relative pronouns, kata ganti yang menghubungkan nomina/kata benda atau pronomina/kata ganti dengan klausa (jumlah/جملة) yang terletak sesudahnya. Dalam kalimat, misalnya, “I meet John who teaches English” (saya bertemu John yang mengajar bahasa Inggris), kata “who” di sana disebut, dalam ilmu nahwu, sebagai isim maushul, atau kata ganti (pronomina) yang mengubungkan antara kata “John” dengan frasa (jumlah) sesudahnya, yaitu: "teaches English".

Dengan mengikuti pendapat kedua ini, contoh kalimat di atas menjadi berbunyi seperti ini: “Uhibbu Sayyidatana Fathimata, la siyyama zauju-ha.” Kata “zauj” dibaca "zauju” (dengan akhiran vokal “u”—marfu’) karena berkedudukan sebagai “khobar” atau “predicative noun”. Kata “zauju” dalam kalimat terakhir berkedudukan “marfu’” karena ia menjadi “khobar” untuk “mubtada’” (nominative noun) yang bersifat “virtual”, artinya tidak nampak; hanya saja, ia dibayangkan nampak, walau di balik layar. Dalam istilah para ahli tata bahasa Arab, ini disebut sebagai “mubtada’ muqoddar”—mubtada’ yang dibayangkan di dalam pikiran saja, tetapi tidak tampak secara lahiriah dalam kalimat.

Masih ada pendapat ketiga dan keempat, tetapi tak akan saya ulas di sini, karena pasti akan menambah bingung mereka yang tak akrab dengan kajian nahwu. Bagi yang menggemari bidang ini, tentu saja ulasan semacam ini sangat menyenangkan dan menarik—mirip dengan jimnastik pikiran.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Ayah saya wafat pada 2003. Beliau hidup pada zaman ketika literatur tentang nahwu/shorof belum melimpah dan bisa didapatkan dengan cara yang amat mudah melalui ebooks yang tersebar-membanjir di internet seperti saat ini.

Beliau juga hidup pada saat ketika Maktabah Syamilah (perpustakaan virtual yang memuat ribuan kitab dari pelbagai disiplin ilmu dan sangat populer di kalangan para santri “millenial” sekarang) belum dikenal sekarang.

Ayah saya juga tak memiliki ma’ajim nahwiyyah (ensiklopedi nahwu) yang sekarang banyak tersedia di pasaran. Melalui ma’ajim seperti itu, biasanya kita bisa mencari sejumlah topik apapun dalam ilmu nahwu/shorof secara mudah.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Karena tak memiliki sumber-sumber seperti ini, ayah saya harus membaca banyak literatur yang memuat serpihan-serpihan informasi tentang pelbagai topik ilmu nahwu. Melalui bacaan bertahun-tahun dan mencatat sedikit demi sedikit itulah, ayah saya kemudian menyusun kitab Al-Mifann ini.

Saya sendiri tak memiliki kesabaran mencatat info secara teliti seperti itu. Ayah saya melakukan hal ini bertahun-tahun karena kecintaannya pada ilmu nahwu (selain kecintaannya pada bidang yang lain, yaitu ilmu fiqh).

Bertahun-tahun diajar oleh ayah saya dengan “ngaji” pelbagai kitab nahwu, terutama Alfiyyah, akhirnya saya mewarisi “gen” kecintaan pada ilmu ini. Sejak di pesantren, dan berlanjut hingga sekarang, saya selalu menggemari literatur nahwu/shorof, baik yang klasik maupun modern.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Pada saat kuliah di universitas Saudi Arabia yang berkedudukan di Jakarta (yaitu: LIPIA: Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), saya mengembangkan lebih jauh kegemaran pada ilmu nahwu ini, melalui bacaan atas sejumlah literatur mutakhir yang ditulis oleh para linguis Arab modern.

Di sana saya bertemu dan menjadi murid dari seorang dosen asal Saudi, Dr. Ahmad al-Nahari (jika saya tak salah ingat), yang memperkenalkan saya kepada salah seorang sarjana nahwu besar abad ke-20 dari Mesir, Dr. Abdul Khaliq ‘Udhaima (w. 1984). Dr. Udhaima menulis disertasi di Universitas al-Azhar tentang Abul ‘Abbas al-Mubarrid, seorang linguis dan ahli nahwu besar dari abad ketiga Hijriyah. Ia tinggal di kota Baghdad dan hidup di era Dinasti Abbasiyah.

Baca Juga: KH. Ahmad Rifa'i dan Batik Rifa'iyah

Dosen lain yang “mengubah” cara berpikir saya mengenai ilmu nahwu adalah Dr. Kamal Ibrahim Badri, seorang linguis dari Sudan. Saya pernah diajar oleh sarjana yang keren ini selama setahun di LIPIA. Dialah yang mengenalkan kepada saya teori-teori linguistik modern, terutama teori linguistik strukturalnya Leonard Bloomfield, di samping teori generatif-transformatif (al-nadzariyyah al-taulidiyyah wa al-tahwiliyyah)—nya Noam Chomsky.

Melalui Dr. Badri, saya berkenalan dengan seorang sarjana nahwu Arab klasik yang berasal dari Cordoba, Spanyol, yaitu Ibn Madla’ al-Andalusi (w. 1196 M). Ketika membaca untuk pertama kali karyanya yang berjudul Al-Rodd ‘Ala al-Nuhah (Sanggahan atas Para Sarjana Nahwu), saya benar-benar seperti terserang sengatan arus listrik. Kritik Ibn Madla’ atas teori ‘amil (faktor yang menyebabkan suatu kata memiliki case/i'rob tertentu; misalnya kenapa mubtada’ berkedudukan marfu’ dan berakhiran dengan vokal “u”), misalnya, sangat menarik. Kritiknya agak mirip dengan metode linguistik Bloomfield yang cenderung deskriptif dan “behavioristik”.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah

Ibn Madla’, di mata saya, adalah sosok Ibn Hazm (w. 1064 M) untuk ilmu nahwu. Dalam bidang fiqh, Ibn Madla’ memang mengikuti Madzhab Zahiri yang salah satu tokoh pentingnya adalah Ibn Hazm. Dengan kata lain, dia menerapkan Madzhab Zahiri yang bermula dari fiqh ke dalam wilayah kebahasaan.

Dr. Badri pula yang mengenalkan kepada saya seorang linguis besar Mesir yang melakukan sejumlah pembaharuan ilmu nahwu, yaitu Dr. Tammam Hassan (1918-2011). Karya Dr. Hassan yang berjudul Al-Lughoh al-‘Arobiyyah: Ma’naha wa Mabnaha benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap ilmu nahwu ini.

Saat belajar di Amerika, kegemaran saya pada ilmu nahwu terus berlanjut dan berkembang. Di sana, saya pernah “nyantri” kepada seorang sarjana Jerman yang mengajar di Harvard University, yaitu Prof. Wolfharts Heinrich. Dari sarjana ini, saya belajar banyak hal, antara lain mengenai Sibawayh (w. sekitar 796 M). Imam Sibawayh, sarjana raksasa kelahiran Persia ini, dianggap sebagai peletak dasar yang sesungguhnya dari ilmu nahwu.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Sejak “ngaji” nahwu kepada ayah saya di pondok dulu, saya sering mendengar dari mulut beliau nama Sibawayh ini dan kitabnya yang hanya berjudul pendek: Al-Kitab. Begitu masyhurnya karya Sibawayh ini, kata ayah saya, jika ada nama “Kitab” disebut dalam sebuah pembahasan ilmu nahwu, tanpa embel-embel apapun, maka semua sudah mafhum bahwa yang dimaksud adalah kitab karangan Sibawayh.

Saya baru melihat dan berkesempatan mempelajari kitab karya Sibawayh ini untuk pertama kali, ketika saya belajar di Amerika, di bawah bimbingan Prof. Heinrich. Membaca kitab ini untuk pertama kali, saya sungguh kaget luar biasa. Nahwu sebagaimana ditulis oleh Sibawayh dalam karyanya ini berbeda sekali corak dan “rasa”-nya dari ilmu nahwu yang saya pelajari dalam kitab-kitab standar di pesantren selama ini.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Membaca nahwu dalam karya Sibawayh ini seperti membaca “traktat filsafat bahasa”. Di sana kita menjumpai ulasan yang menarik sekali tentang sejumlah fenomena kebahasaan dengan analisa yang tak beda dengan sebuah spekulasi filsafat.

Harap diingat: Imam Sibawayh menulis ilmu yang belum ada presedennya saat itu. Dia harus menciptakan istilah dan alat ungkap baru, serta membuat kategori-kategori serta alasan-alasannya sendiri, dari nol sama sekali. Membaca Al-Kitab-nya Sibawayh ini kira-kira sama rasanya dengan membaca karya Adam Smith, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (terbit pertama kali pada 1776 M.) yang menjadi salah satu fondasi ilmu ekonomi modern.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Saya sungguh berterima kasih kepada guru-guru (terutama ayah saya, Kiai Abdullah Rifa’i) yang telah menanamkan pada diri saya kecintaan terhadap bahasa dan bagaimana sebuah bahasa bekerja melalui sebuah “tata” dan regulasi sehingga menjadi sistem yang stabil.

Semoga Tuhan merahmati mereka.[]

NB: Keterangan gambar: Kitab Al-Mifann (gambar kanan) karya kiai Abdullah Rifai (gambar kiri) dari desa Cebolek, Pati, Jawa Tengah. Ia lahir di desa Bugel, Jepara, dan "nyantri" kepada kiai Muhammadun dari desa Pondohan, Pati, dan kemudian menikah dengan salah satu puterinya yang bernama Siti Salamah (semoga mereka bertiga dicurahi rahmat Allah SWT.).




* Oleh: KH. Ulil Abshar Abdalla
Read More

Kemiripan Gus Baha' dan Pak AR. Fachruddin


rumahnahdliyyin.com - Menjadi muslim biasa saja. Kalau diringkas, kira-kira begitulah salah satu inti mengaji dari Gus Baha’. “Kalau kuat naik haji, ya naik haji. Itu bagus, karena masuk dalam rukun Islam. Tapi, ya harus tahu ilmunya. Kamu naik haji, pulang ke rumah dikunjungi orang-orang kampung, terus kamu bilang, ‘Pokoknya rugi jadi muslim kalau tidak naik haji, tidak sowan ke Kanjeng Nabi’. Omongan seperti itu menyakiti banyak orang yang tidak kuat berhaji..."

“Ibadah hajimu belum tentu diterima, mulutmu sudah pasti menyakiti tetangga-tetanggamu. Makanya, jadi muslim itu yang biasa saja. Karena saya orang alim, ya ibadah saya mengajar. Kalian yang awam, tugasnya belajar. Orang kaya, ibadahnya sedekah. Orang miskin, ibadahnya bersabar."

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

“Manusia itu diciptakan tujuannya supaya beribadah kepada Tuhan. Masalahnya, definisi ibadah kita itu sering cupet. Ibadah, itu kan tidak hanya salat, puasa, haji, sedekah dan lain-lain. Momong anak ya ibadah, mencari rezeki ya ibadah, kumpul silaturahmi dengan kawan ya ibadah, makan ya ibadah, tidur ya ibadah. Makanya, kalau tidur ya diniati ibadah, daripada kalau tidak tidur nanti malah ghibah, mabuk-mabukan, pergi ke tempat prostitusi...."

“Jadi orang jangan terlalu khusyuk. Orang khowarij itu khusyu'-khusyu'...”

Pendek kata, mengikuti ngaji bersama Gus Baha’ membuat otak kita siap berjumpalitan.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

“Kamu punya uang banyak. Terus ada orang menjual tanah strategis di pinggir jalan. Kamu kuat membeli tapi tidak kamu beli, kalau tanah itu kemudian dibeli orang lalu dipakai menjadi tempat maksiat, kamu ikut berdosa. Makanya, kalau ada orang baik yang kaya, kalian harus suka. Setidaknya dengan uang di tangannya, dunia tidak bertambah buruk.”

Saya kemudian ingat Pak AR. Fachruddin. Beliau pernah memantik kontroversi ketika ditanya apakah uang hasil menang SDSB boleh dipakai membangun masjid? Beliau menjawab: boleh. Jawaban tersebut menimbulkan polemik. Karena dalil yang sering dipakai adalah uang untuk kebaikan harus dari uang yang baik.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Jawaban beliau sangat masuk akal: Lha kalau duit hasil keburukan hanya boleh untuk keburukan, makin buruk dunia ini. Uang satu miliar hasil menang SDSB kalau tidak boleh dipakai untuk kebaikan, berarti boleh dipakai untuk berbuat kejahatan. Padahal, uang itu sangat besar pada zaman tersebut.

Gus Baha’ punya kemiripan pendapat dengan Pak AR. Fachruddin. Banyak sekali pemikiran Gus Baha’ yang menarik dan kontekstual dengan persoalan muslim zaman sekarang.

Baca Juga: Soal Islam Nusantara, Gus Yahya: Orang Eropa Saja Tidak Bingung

Coba kalau Anda sempat, cari di Youtube yang dia dipanel dengan salah satu putra Mbah Maimun. Sama-sama orang alim. Gus Baha’ membantah asumsi salah satu petinggi TV9, yang menyatakan sinetron itu mengajarkan ibu-ibu hal yang gak bener.

“Ya, belum tentu. Wong buat ibu-ibu, sinetron itu hanya hiburan kok. Seharian capek dan sumpek ngurus rumah. Daripada ngrasani tetangga, nukari bojo, aluwung nonton teve...”

Tepak, Gus... Masuuuuk!

Gak perlu pakai teori resepsi atau bahasa yang akademik, jawaban Gus Baha’ cespleng!



* Oleh: Puthut EA.
Read More