Wafatnya "Imam Ghozali Indonesia"; Mengenang Prof. DR. KH. M. Tolhah Hasan


rumahnahdliyyin.com - Suatu malam saya bertanya ke istri, "Kenapa beli kitab sebanyak ini?", sambil melihat puluhan kitab dengan hardcover hijau tua yang baru datang dengan beberapa judul: Mukhtashor fii Ulumiddin, Al-Ghunyatuth Tholibin, Al-Fathur Robbany karya Asy-Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani yang menumpuk di ruang tengah. Istri menjawab, "satu set untuk saya, satu set yang lain untuk (dihadiahkan ke) Kiai Tolhah."

Seingat saya, ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya, waktu ke Kairo, saya pernah mengantar istri keliling ke toko kitab di dekat kampus Al-Azhar, tujuannya sama: mencarikan kitab-kitab pesanan Kiai Tolhah Hasan tentang Fiqh dari 4 madzhab (Madzahibul Arba'ah). Bahkan, musim haji 2018 lalu, kepada istri saya, KH. Tolhah juga memesan kitab Quutul Qulub karya Abu Tholib Al-Maky.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Model interaksi keilmuan semacam ini yang sering dilakukan istri saya dengan Kiai Tolhah Hasan, baik sebagai kerabat maupun pengurus di Yayasan Al-Maarif Singosari, dengan menjadikan Kiai Tolhah Hasan sebagai "jujugan" utama dalam berkonsultasi ketika menemukan persoalan organisasi, pendidikan di lingkungan Al-Maarif dan pesantren, hingga urusan pemilihan kitab tafsir Al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa yang akan diajarkan istri ke jama'ah ibu-ibu di Masjid Besar Hizbullah Singosari.

Kiai Tolhah memang pribadi yang lengkap. Seorang organisatoris handal (memulai menjadi aktifis Ansor hingga menjadi pimpinan PBNU), memiliki kemampuan akademik dalam disiplin ilmu umum (Pendiri dan Rektor Unisma), serta kealiman dan penguasaan literatur keisIaman yang luas. Gus Dur, bahkan, pernah menyebut KH. Tolhah Hasan sebagai Imam Ghozali-nya Indonesia. Maka tak heran ketika KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI keempat, KH. Tolhah Hasan diangkat sebagai Menteri Agamanya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Saya sendiri punya banyak pengalaman pribadi dengan Kiai Tolhah dalam banyak hal, termasuk mengaji rutin kitab Rowai'ul Bayan Tafsiir Ayatul Ahkam karangan Muhammad Ali Ash-Ashobuny ke beliau di kediaman Singosari. Di luar urusan mengaji, sejak saya aktif di Ansor PAC. Singosari hingga Cabang Kabupaten Malang, saya punya pengalaman ketika saya ditunjuk menjadi ketua panitia Harlah Ansor ke 69. Saya diminta untuk membuat buku (Tak Lekang Ditelan Zaman) tentang sejarah kepengurusan GP. Ansor Kabupaten Malang sejak berdiri hingga Kepemimpinan Sahabat Hanief (saat saya menjadi sekretaris cabang), maka KH. Tolhah menjadi salah satu sesepuh yang kami sowani karena beliau mantan Ketua PC. Ansor di awal Tahun 1960-an.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama yang Keras Terhadap Penjajah

Salah satu cerita beliau yang sangat menarik adalah: hampir semua ranting di tingkat desa/dusun di Kabupaten Malang pernah beliau kunjungi.

Ketika Haul Gus Dur Tahun 2013, saya diminta keluarga Ciganjur untuk menjadi narahubung KH. Tolhah Hasan untuk memberikan ceramah dan testimoni tentang Almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Ketika selesai acara, saya menyaksikan Kiai Tolhah menolak diberi bisyaroh oleh panitia. Beliau begitu hormat kepada Almarhum Gus Dur dan merasa sebagai keluarga besarnya.

Sewaktu Persiapan Harlah Ansor Tahun 2012 di Solo yang akan dibuka Presiden SBY, saya pernah diminta Sahabat Nusron Wahid untuk mengantar sowan ke KH. Tolhah Hasan di rumah beliau di Cibubur. Tetapi waktu itu, KH. Tolhah Hasan bersamaan dengan agenda lain sehingga tidak bisa hadir dalam pemberian penghargaan sebagai sesepuh di Harlah Ansor ke- 78 di Solo.

Baca Juga: KH. M. Aniq Muhammadun; Pakar Nahwu yang Tersembunyi

Di tahun-tahun terakhir ketika KH. Tolhah Hasan memilih untuk menetap di Singosari, setidaknya ada dua pengalaman dibidang keorganisasian yang patut diteladani Warga NU: beliau "menolak" dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi. Pertama, ketika saya menyaksikan KH. Hasyim Muzadi sowan ke Kiai Tolhah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rois 'Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Tolhah ngendikan tidak bersedia karena faktor usia. Kedua, ketika saya mengantar Pak LBP dan Mbak Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolhah Hasan bersedia menjadi Ketum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Sebelum saya berangkat ke Tiongkok untuk melanjutkan studi S3, Kiai Tolhah sempat memberikan wejangan ke saya tentang kemajuan China yang perlu dipelajari. Bahkan dalam berbagai kesempatan pulang ke Indonesia, ketika bertemu beliau, KH. Tolhah sering mengenalkan saya ke beberapa orang sebagai pengurus NU Tiongkok.

Beberapa minggu lalu saya mendengar berita dari istri: Kiai Tolhah masuk RS dan memberikan update kabar perkembangan kesehatan beliau dari waktu ke waktu. Hari ini, 29 Mei 2019, saya menerima kabar tentang wafatnya tokoh dan kiai panutan kita semua, KH. M. Tolhah Hasan, "Imam Ghozali-nya Indonesia".

Kullu man 'alaiha faan, wayabqo wajhurabbika dzul jalaali wa al-ikroom.

Sugeng tindak, pak kiai...



* Oleh: Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok.
Read More

Mengintip Masjid Peninggalan Paku Buwono X di Boyolali


rumahnahdliyyin.com, Boyolali - Pada umumnya, masjid di Indonesia selalu dinamai dengan mengambil kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. Namun, tidak demikian halnya dengan salah satu masjid yang berada di Boyolali. Masjid yang terletak di kompleks wisata religi Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, itu, dinamai dengan mengambil kata-kata dari bahasa Jawa. Yaitu bernama Masjid Cipto Mulyo.

Unik, bukan? Masjid Cipto Mulyo ini ternyata merupakan salah satu masjid tertua di Boyolali. Ia dibangun oleh Raja Keraton Surakarta, yaitu Paku Buwono X, pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil Akhir 1838 Je atau 1905 M. Kalau dihitung sampai sekarang (tahun 2019), masjid ini kurang lebih sudah berusia 114 tahun. Dan ada pendapat yang mengatakan bahwa kata "Cipto Mulyo" digunakan oleh Raja sebagai nama masjid, dengan harapan supaya hidup kita menjadi mulia, sejahtera lahir dan batin, baik di dunia dan akhirat.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Selain namanya yang unik, bentuk bangunan masjid ini juga tergolong berbeda dari masjid kebanyakan. Masjid Cipto Mulyo ini menampilkan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran terpasang di ventilasi pintu.

Sejak dibangun ratusan tahun lalu, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun, bentuk masjid masih dipertahankan seperti saat awal dibangun dulunya. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah. Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya. Hanya saja, saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Sejumlah benda-benda masjid pun masih asli sejak zaman dulu, seperti bedug dan kentongan. Bahkan, bedug berukuran besar itu dibuat dari kayu utuh. Di kentongan itu juga terdapat tulisan PB X.

Di serambi depan, tepatnya di atas tangga masuk, juga masih terpasang prasasti dari kayu dengan tulisan huruf Jawa yang menjelaskan tentang waktu didirikannya Masjid Cipto Mulyo ini. Kemudian kubah masjid yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Baca Juga: Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo

Selain termasuk sebagai masjid yang bersejarah dan merupakan jejak peninggalan penyebaran Islam di wilayah Pengging, di belakang masjid ini juga terdapat kompleks makam salah satu pujangga Keraton Surakarta, yaitu Yosodipuro.[]




Sumber: detik.com
Read More

Mengintip Masjid Tertua di Sidoarjo


rumahnahdliyyin.com, Sidoarjo - Masjid Al-Abror terletak di Dusun Kauman, Kelurahan Pekauman, Kecamatan Kota Sidoarjo. Tepatnya yakni berada di samping selatan sebuah mal, Jalan Gajah Mada, Sidoarjo, Jawa Timur. Karena berada di kawasan pusat perbelanjaan inilah masjid tersebut tidak terlalu nampak. Namun, siapa sangka Masjid Al-Abror merupakan cikal bakal pusat penyebaran Islam di Sidoarjo serta berdirinya Kabupaten Sidoarjo?

Masjid Al-Abror merupakan salah satu saksi bisu berdirinya Sidoarjo serta siar Islam di Kota Delta itu. Sekilas, orang tidak akan menyangka bila bangunan dua lantai yang berdiri kokoh dengan dominasi warna hijau dan kuning tersebut merupakan masjid tertua di Sidoarjo.

Baca Juga: Masjid Jawa di Thailand

Masjid Al-Abror dibangun pada tahun 1678 M. Mereka yang membangun adalah Mbah Moelyadi yang dibantu oleh Mbah Badriyah, Mbah Muso dan Mbah Sayid Salim. Keempat orang tersebut bukanlah penduduk asli Kauman. Mbah Moelyadi berasal dari Mataram, yang karena ada pemberontakan Trunojoyo, lantas ia pergi ke Kauman. Mbah Sayid Salim berasal dari Cirebon. Sedangkan Mbah Badriyah dan Mbah Muso keduanya berasal dari Madura. Keempatnya, makamnya pun berada di lokasi masjid ini.

Hingga kini, Masjid Al-Abror sudah direnovasi tiga kali. Dua bagian bangunan asli yang merupakan peninggalan pada tahun 1678 M., masih bisa disaksikan hingga sekarang, yaitu pintu masuk sisi utara masjid dan tempat pemakaman Mbah Moelyadi yang berada di depan tempat imam. Dan di sebelah makam Mbah Moelyadi, ada makam ketiga tokoh lainnya itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali Papua

Masjid Al-Abror dibangun berdekatan dengan Sungai Jetis yang merupakan jalur transportasi utama kala itu. Pada tahun 1859 H. dilakukan pemugaran oleh bupati pertama Bupati Sidokare (nama Sidoarjo waktu itu), yaitu R. Notopuro.

Ketika pemugaran itu, bangunan yang tidak direnovasi hanya pintu gerbang di sisi utara masjid yang dicat putih. Juga petunjuk waktu pertanda sholat dengan sinar matahari yang berada di depan masjid.

Adapun renovasi yang terakhir yaitu pada tahun 2007 oleh Bupati Wein Hendarso. Semua bangunan pun diubah hingga seperti yang terlihat saat ini.[]




Sumber: detik.com
Read More

Konsep Kebahagiaan Manusia


rumahnahdliyyin.com - Para filsuf muslim yang mewarisi khazanah filsafat Yunani sering mengemukakan bahwa sumber kebahagiaan adalah ارتسام المعقولات فی النفس (irtisām al-ma'qūlāt fi al-nafs), yakni munculnya pengetahuan dalam nous atau nafs, jiwa kita. Para filsuf itu menggambarkan pengetahuan itu sebagai rosm, tulisan, atau gambar yang tercetak dalam jiwa.

Yang dimaksud gambar di sini adalah gambar benda-benda yang ada di sekitar kita. Ketika rumah yang kita lihat dengan mata kita berubah menjadi image atau gambar rumah dalam pikiran, bukan lagi rumah fisik, maka kita memiliki pengetahuan tentang rumah itu.
Rumah yang sudah berubah menjadi gambar pikiran itu, dalam filsafat, disebut sebagai ma'qūlāt (معقولات). Dalam tradisi filsafat Barat, dia disebut: intelligibles.

Menurut filsuf muslim seperti al-Farabi (w. sekitar 950), makin banyak ma'qulat atau pengetahuan yang tercetak dalam pikiran kita, makin besar kemungkinan kita untuk bahagia.

Baca Juga: Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab

Dalam tradisi filsafat Islam, isi pengetahuan itu hanyalah dua saja, yaitu taşowwur (تصور) dan taşdīq (تصديق). Taşowwur adalah pengetahuan tentang suatu barang secara individual tanpa relasi (nisbah, idlôfah), hubungan dengan sesuatu yang lain. Sementara taşdīq adalah pengetahuan kita tentang benda dalam hubungannya dengan hal lain.

Rumit? Jangan khawatir. Sebetulnya sederhana kok, cuma para filsuf itu kadang senang merumitkan hal yang sebetulnya sederhana. Saya kasih contoh agar mudah memahami konsep ini.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Jika kita tahu apa rumah itu, maka inilah yang disebut taşowwur. Rumah adalah, misalnya, bangunan yang menjadi tempat tinggal manusia. Tetapi jika kita tahu bahwa rumah A terletak di perumahan B, ini namanya taşdīq. Dalam tashdiq kita tidak saja mengetahui sesuatu saja, tetapi sesuatu dalam relasinya kepada sesuatu yang lain. Dalam contoh tadi, kita mengetahui tentang rumah yang terletak di sebuah tempat. Konsep rumah berhubungan dengan konsep tempat.

Dalam taşdīq selalu terdapat pengetahuan tentang dua hal atau lebih. Makin rumit suatu pengetahuan, makin banyak dan kompleks hubungan-hubungan antara banyak hal yang ada di dalamnya. Itulah konsep sederhana tentang pengetahuan dalam tradisi filsafat Islam. Tentu, ini semua berasal dari tradisi filsafat Aristoteles di Yunani. Meski demikian, filsuf Muslim bukan sekedar mewarisi saja, melainkan melakukan pengembangan secara kreatif.

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Sekarang saya akan bergerak ke tahap berikutnya, yaitu tentang implikasi atau dampak dari pengetahuan. Jika kita punya pengetahuan, apakah akibatnya?

Ada dua model di sini. Pertama, pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang enabling, membuat manusia mampu berbuat sesuatu. Dengan kata lain, pengetahuan adalah kekuasaan.

Roger Bacon (w. 1626), filsuf Inggris, konon dikenal sebagai orang yang mempopulerkan ucapan ini: scientia potentia est, pengetahuan adalah kemampuan dan kekuasaan. Contohnya sederhana saja. Jika kita memiliki pengetahuan melalui Google Map bahwa letak toko A ada di jalan B, maka pengetahuan ini akan enabling, membuat kita berdaya dan mampu untuk pergi ke toko itu secara benar. Karena itu, kebodohan adalah situasi ketidakberdayaan, powerlessness, عدم القدرة ('adam al-qudroh).

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Konsep tentang pengetahuan sebagai kekuasaan ini belakangan menjadi sasaran kritik keras dari para filsuf "kiri", misalnya para filsuf yang berkumpul dalam Mazhab Frankfurt. Kritik mereka sederhananya adalah demikian: konsepsi tentang pengetahuan sebagai kekuasan membuat manusia memakainya sebagai alat untuk menguasai dan memanipulasi alam secara eksesif, dan akibatnya menimbulkan banyak bencana dan kerusakan habitat manusa.

Kritik itu malah bergerak lebih jauh. Pengetahuan sebagai kekuasaan ini, dalam praksis kehidupan modern, bukan saja berlaku pada hubungan manusia dengan benda, melainkan juga dalam hubungan intersubyektif antar manusia. Hubungan-hubungan antar manusia semakin mengarah kepada model penguasaan, penundukan, pembendaan (reifikasi, تشیيئ). Pengetahuan tentang manusia lain justru menjadikan kita mampu (powered) menundukkan dan menguasai dia.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Ini, misalnya, terjadi dalam dunia marketing. Pengetahuan tentang perilaku konsumen membuat kita mampu merumuskan "strategi" yang jitu untuk membujuk agar mereka mau membeli barang yang kita jual. Pembujukan seperti itu pada dasarnya adalah sebentuk "kolonialisme," atau penundukan yang halus atas yang lain. Orang lain tidak lagi dianggap sebagai manusia yang berkesadaran, melainkan obyek mati yang menjadi sasaran penguasaan dan penundukan.

Karena itu, kita perlu mengenal konsep kedua, yaitu pengetahuan sebagai sumber cinta dan menyayangi: المعرفة هى المحبة (al-ma'rifah hiya al-mahabbah). Dalam konsep ini, pengetahuan bukan kekuasaan, melainkan sesuatu yang menyebabkan kita mencintai dan menghargai sesuatu yang kita ketahui itu. Pengetahuan adalah sumber dari mana kasih-sayang berasal.

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Konsep kedua ini kita jumpai, misalnya, di kitab Ihya' Ulum al-Din karya Imam Ghozali (w. 1111). Di beberapa pembahasan tentang tema akhlaq dalam juz ketiga kitab ini, Imam Ghozali selalu mengaitkan antara "pengetahuan" dan "mencintai", antara معرفة (ma'rifah) dan محبة (mahabbah). Ini relevan terutama dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kecintaan kita kepada Tuhan adalah permulaan kita untuk mencintai-Nya. Tanpa pengetahuan yang tepat tentang Tuhan, tak mungkin kita mencintai-Nya.

Model pengetahuan kedua patut kita pakai terutama dalam hubungan-hubungan intersubyektif antara manusia. Pengetahuan tentang manusia lain seharusnya menjadi sumber kecintaan dan penghargaan kita kepada mereka, bukan malah membuat kita justru memiliki alat yang kian canggih untuk "mengeksploitasi".
Dengan demikian, ketiadaan pengetahuan akan membuat kita cenderung membenci orang atau golongan lain. Pepatah Melayu sudah menegaskan ini sejak lama, "tak kenal maka tak sayang". Pepatah Arab juga mengenalkan pemahaman serupa:
 الإنسان أعداء ما جهلوا (al-insānu a'dā'u mā jahilū; manusia cenderung memusuhi perkara yang ia tak ketahui).

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Kalau kita kembalikan kepada konsep kebahagiaan, pengetahuan yang mendorong kita menyayangi dan menghargai liyan akan membuat kita bahagia. Makin besar pengetahuan, makin dalam penghargaan kita terhadap orang lain, dan makin bertambah pula kebahagiaan kita. Pengetahuan, cinta/penghargaan, kebahagiaan--ketiganya saling berhubungan secara kausal.

Mana model yang tepat? Apakah pengetahuan sebagai kekuasaan atau pengetahuan sebagai cinta?

Menurut saya, kedua model pengetahuan ini kita butuhkan sekaligus, asal kita paham bagaimana meletakkan keduanya dalam proporsi yang tepat. Ada bidang-bidang tertentu dalam kehidupan di mana pengetahuan dibutuhkan sebagai alat untuk membuat kita "mampu" menguasai sesuatu yang lain. Misal yang baik adalah pengetahuan seorang dokter tentang penyakit sebagai alat untuk menguasai dan menundukkannya. Meskipun, dalam hal penyakit ini, ada konsepsi dalam mistik/tasawwuf Islam yang memandang penyakit bukan sebagai musuh yang harus ditundukkan, melainkan sebagai "sahabat" yang membukakan pintu kepada Tuhan (dalam istilah kitab Hikam: وجهة من التعرف, wijhah min al-ta'arruf).

Baca Juga: Menjernihkan Makna "An-Nas" dalam Hadits untuk Memerangi Musyrikin

Sementara itu, ada bidang-bidang lain di mana kita seharusnya memperlakukan pengetahuan sebagai sumber kasih sayang dan penghargaan kepada orang lain. Dalam hubungan antar-manusia, sebaiknya pengetahuan kita perlakukan demikian. Jangan sampai kita menjadikan pengetahuan sebagai alat untuk menguasai orang lain.

Problem kita dalam era medsos saat ini persis di sini: kita sering terlibat dalam percakapan di medsos bukan untuk mengenal lebih baik orang lain yang secara ironis disebut sebagai "friend", melainkan untuk "menundukkan", bahkan menyerang dia. Di sini, yang berlaku adalah model scientia potentia est, pengetahuan adalah kekuasaan dan menguasai.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Mampukah kita bergerak ke level yang lebih tinggi, lebih rohani, dan memandang pengetahuan kita tentang orang lain dalam medsos ini sebagai sumber kasih sayang dan penghargaan kita kepada dia? Semuanya terserah kepada kita untuk memutuskan: hendak bahagia dengan menghargai orang yang beda, atau sengsara dengan menegasikan dan menyangkal kehadiran orang lain itu?

Sekian.



* Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla (Pengampu Pengajian Ihya' Ulumiddin)
Read More

Di Bulan Gus Dur, Jaringan Gusdurian Menerima Asia Democracy and Human Rights Award 2018


rumahnahdliyyin.com - Bulan Desember ini adalah bulan istimewa bagi kami, Jaringan Gusdurian Indonesia. Pertama, bulan ini adalah bulan Gus Dur. Bulan ketika kita semua memperingati wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di bulan ini, haul Gus Dur diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia untuk mengenang sekaligus menebarkan tauladan beliau.

Kedua, di Desember tahun ini, Jaringan Gusdurian mendapatkan anugerah Asia Democracy and Human Rights Award 2018 oleh The Taiwan Foundation for Democracy (TFD). Penghargaan ini secara langsung diberikan oleh Presiden Republik China Taiwan, Ibu Tsai Ing-wen.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Menurut TFD, Jaringan Gusdurian telah bekerja untuk mempromosikan dialog antaragama, multikulturalisme, konsolidasi masyarakat sipil, toleransi, demokrasi dan hak asasi manusia. Dengan berpegang pada sembilan nilai utama Gus Dur, JGD selama ini tak kenal lelah berjuang untuk kebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama.

Jaringan Gusdurian juga dinilai telah melakukan intervensi yang berarti terhadap masalah diskriminasi di Indonesia dengan membela mereka yang menjadi korban. Jaringan Gusdurian juga menjadi salah satu organisasi terkemuka dalam memerangi radikalisme dan intoleransi di Indonesia, termasuk mengurangi dan mengurangi potensi konflik komunal di negeri yang penuh dengan keragaman agama dan etnis.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Presiden Federasi Internasional untuk Hak Asasi Manusia (FIDH), Dimitris Christopoulos, terkesan oleh upaya dialog antar-iman yang dilakukan oleh Jaringan Gusdirian, yang berasal dari aktivis Islam moderat di dunia dimana Islamophobia telah masuk ke dalam agenda politik.

Sementara Dr. Shin Hae Bong, Presiden Japan’s Human Rights Now, menyatakan bahwa Jaringan Gusdurian telah berkontribusi menciptakan ruang dialog yang aman bagi orang-orang dengan beragam latar belakang agama dan etnis, yang sangat penting dalam masyarakat multi-etnis, memainkan peran katalis dalam mempromosikan dialog antaragama, demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia dan di luar negeri.

Baca Juga: Ruh Gus Dur di Sidera

Penghargaan ini tentu saja membanggakan dan patut disyukuri. Ini menandakan bahwa kerja-kerja kami selama ini mendapatkan apresiasi di tingkat internasional.

Secara khusus, Jaringan Gusdurian mengucapkan terimakasih kepada The Taiwan Foundation for Democracy yang telah memberikan penghargaan ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada mitra-mitra kerja kami di Indonesia dan luar negeri yang selama ini telah membantu kerja-kerja Jaringan Gusdurian.

Penghargaan ini, secara khusus, kami dedikasikan kepada seluruh pejuang HAM di Indonesia dan seluruh dunia yang selama tidak kenal lelah terus berjuang menegakkan keadilan, demokrasi dan HAM.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Namun demikian, bagi kami, penghargaan ini lebih merupakan cambuk. Cambuk keras agar kami tidak berhenti dan terus bekerja. Perjuangan untuk menegakkan HAM tidak boleh berhenti hanya dengan sebuah award.

Bagi kami, penghargaan ini justru menjadi tanda bahwa Jarigan Gusdurian harus bekerja lebih keras dalam memperjuangkan keadilan, bebebasan beragama, hak minoritas dan toleransi beragama. Di masa mendatang kasus-kasus diskriminasi dan menguatnya politik identitas akan menjadi tantangan berat bagi kerja-kerja perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kami berharap penghargaan ini juga menjadi penanda baru bagi lebih dari seratus komunitas gusdurian yang tersebar di seluruh Indonesia untuk terus bekerja menebarkan nilai-nilai yang telah diajarkan Gus Dur bagi terwujudnya masa depan Indonesia yang lebih berperikemanusiaan.

Salam.

Seknas Jaringan Gusdurian Indonesia.
[]
Read More

Peringati Maulid Nabi, Warga Maros di Biak Tetap Lestarikan Tradisi


rumahnahdliyyin.com | Biak Numfor - Himpunan Keluarga Maros, Sulawesi Selatan, tetap menjaga tradisi budaya masyarakat Bugis-Makassar meskipun tengah berada di tanah perantauan, di Biak Numfor, Papua. Tradisi budaya tersebut yaitu membagi makanan ketan telur yang dihias dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu, 8 Desember 2018, itu dihadiri juga oleh Pelaksana Tugas Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap. Dalam kesempatan itu, Plt. Bupati mengajak warga Maros untuk memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. tidak berhenti pada perayaan seremonialnya semata.

Baca Juga: Maulid

"Jadikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. untuk saling berbagi dan menjaga kebersamaan antarwarga Maros dalam mendukung program pemerintah," ujarnya sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Ia juga mengajak warga Maros agar terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat lain dan hidup berdampingan di Kabupaten Biak Numfor.

Melalui hikmah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., menurut Herry, diharapkan warga Maros dapat meningkatkan nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia

Sementara itu, Ketua Himpunan Keluarga Maros Biak Numfor, Abdul Kadir, mengakui bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. itu dilaksanakan warga Maros sebagai bukti pengamalan nilai ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT.

"Di peringatan Maulid, warga Maros telah membagikan telur ketan beserta lauk-pauk untuk diberikan kepada setiap tamu yang hadir," katanya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 Hijriyah oleh Himpunan Keluarga Maros di Biak Numfor itu memang berlangsung dengan hikmad dan cukup meriah. Adapun ketan telur maulid disediakan oleh panitia penyelenggara.[]
Read More

Ruh Gus Dur di Sidera


rumahnahdliyyin.com - Ketika menjadi presiden, Gus Dur sering melakukan lawatan ke berbagai negara. Tujuannya untuk meyakinkan dunia internasional agar tak turut campur mengobok-obok Indonesia.

Ketika itu negeri kita diambang disintegrasi. Separatis muncul di Papua, GAM di Aceh dan RMS di Maluku yang remote-nya dimainkan di luar negeri.

Banyak orang murka. Mereka menuduh Gus Dur cuma "jalan-jalan" menghabiskan uang rakyat. Dan puncaknya waktu Gus Dur berkunjung ke ibu kota Perancis, Paris. Para pembencinya semakin menjadi-jadi.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tapi apa kata Gus Dur saat ditanyakan hal itu, "Tahu apa mereka dengan yang saya kerjakan. Lha ngapain juga saya jalan-jalan ke Paris kalo nggak ada gunanya? Wong Paris dan Jakarta bagi saya sama saja kok. Sama-sama gelap." Ujarnya cuek. Buat Gus Dur keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk melakukan banyak hal bagi persatuan bangsa.

Hari Minggu kemarin, saya mengunjungi Sidera. Salah satu desa yang mengalami bencana Liquifaksi. Dan betapa terkejutnya saya karena bertemu Gus Dur di tempat ini.

Tapi, jangan salah paham dulu. Sebab yang saya maksud dengan pertemuan itu bukanlah pertemuan fisik. Di Sidera itu saya menemukan "ruh" Gus Dur. Gus Dur yang menjelma menjadi semangat persatuan. Semangat toleransi.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang

Di Sidera toleransi dijunjung tinggi. Masjid dan Gereja berdampingan. Warga muslim dan kristiani hidup rukun. Menurut warga setempat, walaupun orang Tator mayoritas, mereka tetap menghormati etnis Jawa yang minoritas.

Paska gempa di Sidera, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Saya dengar, ada orang Jawa menetap di rumah orang Tator karena rumahnya hancur. Mereka diterima dengan baik layaknya keluarga sendiri.

Inilah yang mendorong komunitas para pecinta toleransi yang diperjuangkan Gus Dur (GUSDURIAN) untuk membangunkan warga Sidera Hunian sementara (Huntara). Harapannya, Huntara ini bisa didiami oleh siapa saja tanpa tersekat-sekat primordialisme.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Huntara ini menempati lokasi yang tidak terlalu luas. Letaknya di sepanjang jalan yang menghubungkan Desa Sidera dan Desa Jono Oge. Bangunanya sederhana, terbuat dari triplek dan dipetak-petak memanjang dari timur ke barat berbentuk persegi empat. Bangunan ini mengingatkan saya pada los-los pedagang di pasar tradisional di pedesaan. Selain hunian warga, dibangun juga musholla. Tempatnya pas di tengah-tengah Huntara.

Huntara terlihat mencolok, karena dicat warna-warni dan dihiasi gambar serta pesan-pesan bijak Gus Dur, sehingga ia terlihat unik dan mengundang perhatian warga yang lewat. Tidak sedikit diantara mereka yang mampir dan berswafoto di depannya.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Raga Gus Dur mamang telah tiada. Ia disemayamkan nun jauh di Jombang. Namun semangatnya tetap hidup. Ia tetap "pelesiran" ke mana-mana. Dan kini saya melihat Gus Dur berada di Sidera.[]



* Oleh : Abdul Hakim Madda
Read More

Ustadz Umar Al-Bintuni: Yang Ada Adalah Manusia dan Bangsa Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Paniai - PHBI Kabupaten Paniai, Papua, pada Sabtu, 1 Desember 2018, menghadirkan ustadz. Drs. Umar Bauw Al-Bintuni sebagai penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 1440 H. Acara yang bertempat di Masjid Al-Mubarok Enarotali itu berlangsung lancar.

Dalam ceramahnya, dai kelahiran Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, itu mengajak umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. sekaligus meneladani akhlaq beliau dalam kehidupan sehari-hari.

"Hablum-minalloh dan yang paling utama ini adalah hablum-minannas, hubungan baik kepada sesama manusia. Apalagi kita hidup di tengah-tengah umat Nasrani yang beraneka ragam. Kita harus mengetahui hak-hak bertetangga dengan umat non-muslim yang diajarkan oleh Nabi kita. Jangan sampai perbedaan ini menjadikan perpecahan. Namun bersatu merajut persaudaraan, bergandengan untuk kehidupan yang harmonis," ujar Kasi Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Papua itu.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Selain itu, ia juga sedikit mengulas sejarah masuknya agama Islam di Papua. Dituturkannya bahwa pada tahun 1213 M., agama Islam sudah ada di Teluk Bintuni Fakfak dan menjadi agama mayoritas masyarakat asli setempat. Namun ketika ada umat Nasrani datang yang ingin menyebarkan agama Nasrani, pun tidak ditolak. Pada waktu itu, raja setempat malah mengantarkan dan menunjukkan ke sebuah pulau yang namanya Pulau Mansinam (sekarang Manokwari, red.) yang mana masyarakat di sana sama sekali belum mengenal agama dan masih menganut agama nenek moyang dan ateisme.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Selanjutnya, dai asli Papua itu kemudian memaparkan contoh kerukunan yang ada di Teluk Bintuni. Di sana ada Masjid Pattimburak yang arsiteknya merupakan perpaduan antara gereja dan masjid. Masjid tersebut dulunya dibangun bersama umat Nasrani dan Katolik. Dan di sebelah Masjid tersebut juga dijadikan sebagai tempat ibadah orang Nasrani dan Katolik. Di sana hidup rukun berdampingan dan saling membantu satu dengan lainnya, sebagaimana dalam kehidupan sehari hari masyarakat di sana. Apabila dari umat Islam memerlukan pertolongan, umat Nasrani pun tidak enggan untuk membantu.

Kalau sudah seperti itu, lanjutnya lagi, tidak ada agama Islam atau Nasrani. Yang ada adalah manusia dan bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, di sana ada istilah “Satu Tungku Tiga Batu” sebagai gambaran bahwa meskipun kita berbeda agama namun kita harus bersama-sama bergandengan tangan dan tidak bermusuhan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada acara tersebut, Bupati Paniai terpilih pun, bapak Mekky Nawipa, tampak hadir dan memberikan sambutannya. Walaupun ia seorang Nasrani, ia tetap menghargai peringatan hari-hari suci umat Islam dan mengapresiasi acara peringatan Maulid Nabi itu.

"Kita semua adalah makhluk Tuhan dan kita ketahui bahwa kita hidup dan lahir di Indonesia. Dan saya yakin semua agama mengajarkan untuk saling menghormati, mengasihi antar umat satu dengan yang lainnya. Mari bersama-sama menjaga kerukunan dan membangun Papua menjadi maju, harmonis dan tidak ada perpecahan," ajak bapak Bupati.[]
(M. Taha)
Read More

Gus Dur; Menertawakan Diri Sendiri


rumahnahdliyyin.com - Salah satu sifat Gus Dur yang tidak dimiliki oleh tokoh-tokoh besar, baik tokoh bangsa, tokoh politik, tokoh agama lainnya, apalagi cuma tokoh kecil sahaja, adalah tidak malu menertawakan diri sendiri, selain menertawakan orang lain. Bahkan menertawakan NU. Lha, bukankah dia seorang kiai? Keturunan pendiri NU, Ketua Umum PBNU lagi. Tidak mungkin deh, beliau merendahkan diri sendiri.

Saudaraku, menertawakan bukan berarti menghina. Meskipun Gus Dur semasa hidupnya sering menertawakan dirinya sendiri, serta tidak jarang menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini sebagai bahan kelakar, beliau pasti tak bermaksud menghina, wong ini cuma canda alias lelucon guyonan, kok. Lagi pula, kalau Gus Dur benar-benar menertawakan NU, siapa juga yang berani protes.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam keseharian, sikap menertawakan orang lain, tanpa disadari, cukup sering kita lakukan, seakan-akan menjadi sebuah kebiasaan tersendiri. Kita sering menertawakan keluguan orang lain, menertawakan kelemahan serta kekurangan orang lain.

Biasanya sebagian orang yang berkecukupan suka menertawakan orang yang lebih rendah dari mereka karena cara berpakaian dan bersikapnya dianggap sangat norak. Sebaliknya, sebagian orang yang hidupnya hanya apa adanya suka menertawakan sikap orang kaya yang senang bermewah-mewah, menghamburkan kekayaan.

Begitu juga orang yang merasa pintar suka menertawakan kebodohan orang lain. Sebaliknya, orang yang bodoh suka menertawakan sikap orang pintar yang dianggap sering sok tau. Orang dari kota menertawakan orang desa. Juga sebaliknya dan seterusnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Sikap menertawakan orang lain memang sangatlah mudah dan bisa dilakukan kapan saja. Namun yang sering terabaikan dan mungkin sulit untuk dilakukan adalah menertawakan diri sendiri.

Kita sering lupa menertawakan sikap kita yang suka mengejek orang lain, menghina, menyakiti orang lain, membuka dan menyebarkan aib orang lain dan seterusnya. Padahal sikap menertawakan diri sendiri dapat menjadi cermin diri agar kedepannya kita dapat melakukan yang terbaik.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Konon, Umar ibn Khothob, sahabat Rosululloh, kadang suka menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat masa lalunya yang ia anggap lucu. Betapa tidak, ia membuat patung dari roti untuk kemudian disembah. Dan ketika dia merasa lapar, patung itu ia makan sendiri.

Gus Dur memang ahlinya memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Seperti beliau katakan, “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Jika Gus Dur masih hidup, mungkin Gus Dur akan cengar-cengir saja melihat politik Indonesia hari ini yang penuh caci maki tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon. Barangkali ia cengar-cengar juga ketika melihat meme yang menghina salah satu putrinya, Alissa Qotrunnada Munawaroh, dengan sebutan “anak si buta”.

Ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur sebagai Presiden RI makin kencang di mana-mana, Cak Nun mampir ke istana. Cak Nun mendatangi Gus Dur sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Cak Nun kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur, “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.” Mereka berdua pun ngakak.

Baca Juga: Tubuh Menurut Gus Dur

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ untuk bersholawat barsama-sama. Para hadirin senang sekali melafalkan sholawat yang dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, Gus Dur nyeletuk, “Saya minta anda semua bersholawat agar saya tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat,” Gus Dur membuat orang satu lapangan terpingkal-pingkal.

Baca Juga: Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya

Salah satu ulah Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku, yaitu agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa,” Hadirin pun tertawa.

Seandainya Gus Dur mengucapkannya di zaman sekarang ini, mungkin beliau akan didemo oleh 7 juta umat karena dianggap menistakan agama.

Gus, kami rindu pada sampeyan.[]



* Oleh: Rusdian Malik
Read More

Makna 'Aqidah Islamiyyah, Makna Islam dan Rukun Iman


rumahnahdliyyin.com - Inilah makna 'Aqidah Islamiyyah, Islam dan rukun-rukun 'Aqidah Islamiyyah (rukun iman) dalam kitab Al-Jawahirul Kalamiyyah karangan Syaikh Thohir Al-Jazairi.

Makna 'Aqidah Islamiyyah

س: مَا مَعْنَى الْعَقِيْدَةِ الاِسْلَامِيَّةِ؟
ج: اَلْعَقِيْدَةُ الْإِسْلَامِيَّةِ هِيَ الْاُمُوْرُ الَّتِىْ يَعْتَقِدُهَا اَهْلُ الْإِسْلَامِ، اَىْ يَجْزِمُوْنَ بِصِحَّتِهَا

Soal: Apa makna 'aqidah Islamiyyah?
Jawaban: 'Aqidah Islamiyyah adalah perkara-perkara yang diyakini oleh pemeluk Islam (artinya: mereka mantab membenarkannya).

Baca Juga: Ahlussunnah wal-Jama'ah

Makna Islam

س: مَا مَعْنَى الْاِسْلَامِ؟
ج : اَلْاِسْلَامُ هُوَ الْاِقْرَارُ بِاللِّسَانِ، وَالتَّصْدِيْقُ بِالْقَلْبِ بِاَنَّ جَمِيْعَ مَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَصِدْقٌ

Soal: Apa makna Islam?
Jawaban: Islam adalah mengikrarkan dengan lidah dan membenarkan dengan hati bahwa semua hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. adalah haq dan benar.

Baca Juga: Habib Luthfi: Pentingnya Ber-NU

Rukun 'Aqidah Islam (Rukun Iman)

سَ: مَا اَرْكَانُ الْعَقِيْدَةِ الْاِسْلَامِيَّةِ: اَىْ اَسَاسُهَا ؟
جَ: اَرْكَانُ عَقِيْدَةِ الْاِسْلَامِيَّةِ سِتَّةُ اَشْيَاء: وَهِيَ الْاِيْمَانُ بِاللَّهِ تَعَالَى, وَالْاِيْمَانُ بِمَلَائِكَتِهِ, وَالْاِيْمَانُ بِكُتُبِهِ, وَالْاِيْمَانُ بِرُسُلِهِ, وَالْاِيْمَانُ بِالْيَوْمِ الْاَخِرِ, وَالْاِيْمَانُ بِالْقَدرِ

Soal: Berapa rukun 'aqidah Islamiyyah (artinya: pokok-pokok Islam)?
Jawaban: Rukun-rukun 'Aqidah Islamiyyah ada enam:
1. Iman kepada Alloh Ta’ala.
2. Iman kepada malaikat-malaikat-Nya.
3. Iman terhadap kitab-kitab-Nya.
4. Iman kepada para rosul-Nya.
5. Iman terhadap hari akhir.
6. Iman terhadap taqdir.

Wallohu a'lam.[]
Read More