Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Umat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Umat. Tampilkan semua postingan

Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat Dari Pesantren


rumahnahdliyyin.com, Serang - Beragam riak dan gejolak kebangsaan yang terjadi di negeri ini, bermuara pada problem ekonomi umat. Karena itu, Pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), KH. Ma’ruf Amin, menginisiasi Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) yang akan dilaunching bersama sejumlah Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Umat (LPEU) oleh Presiden RI Joko Widodo, di Penata, Rabu, 14 Maret 2018, besok.

KMSN dan LPEU yang digerakkan oleh puluhan pesantren tersebut, telah bergerak disejumlah sektor bisnis dan usaha.

“Gerakan ini tidak "ujug-ujug" (tiba-tiba) ada. Ini sudah digelorakan kiai Ma’ruf sejak lama. Secara konseptual dan kodifikasi hukum, kiai memulainya sejak tahun 90-an. Saat itu, beliau mendorong lahirnya perbankan dan lembaga keuangan Syari'ah. Kemudian, sejak didaulat menjadi Rais 'Aam PBNU, beliau menggelar "halaqoh" keliling daerah se-Indonesia. Para kiai Syuriyyah NU dari tingkat Wilayah, Cabang hingga Ranting NU diajak berdialog untuk memetakan persoalan keummatan, sekaligus mendorong para kiai untuk bangkit menata kembali perekonomian umat dari berbagai sektor,” papar Ketua Panitia Grand Launching Pemberdayaan Ekonomi Umat, Uday Abdurrahman, di Penata, Serang, Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Kaleng Penguat Ekonomi Umat
Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Upaya pemberdayaan ekonomi umat tersebut, kata uday, tak bisa dilakukan sendirian atau hanya sekelompok tokoh. Karena itu, Kiai Ma’ruf mendorong pemerintah, tokoh agama dan para pengusaha untuk bersinergi mengintegrasikan komitmen dalam pemberdayaan ekonomi umat.

“Kiai menyebutnya sebagai Arus Baru Ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Gerakan Kiai Ma’ruf Amin, yang kini menjabat sebagai Rais 'Aam PBNU dan sekaligus juga Ketua Umum MUI itu, menurut Uday, bukan tanpa rintangan. Banyak pihak yang awalnya skeptis. Bahkan mencibir.

“Tapi, beliau selalu bilang, yang penting kita bergerak saja. Nanti kalau sudah terlihat hasilnya, yang lain pun akan ikut bergerak. Sebab, di pesantren, kita diajarkan bahwa "alharakah, barakah". Pergerakan akan berbuah berkah,” imbuhnya.

Baca Juga:
Program Pemerintah 1.5 Triliun Tidak Jalan, Gerakan Koin NU Harus Digalakkan

Saat ini, meski belum genap setahun dibentuk, KMSN dan LPEU yang baru beranggotakan 25 pesantren di seluruh Indonesia itu telah bergerak di sejumlah sektor bisnis, yakni sektor jasa keuangan, ritel, budidaya pertanian, perikanan dan peternakan, serta sektor jasa.

“Jadi, pesantren anggota KMSN ini akan jadi percontohan gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Kita sudah bekerjasama dengan Leumart di sektor ritel, REI di sektor properti, C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu dan Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) untuk produk pertanian dan olahan jagung. Dengan REI kita akan membuat desa wisata dan rest area di Malang. Martha Thilaar juga kemarin mengajak kerjasama untuk pengembangan spa dan hotel Syari'ah,” paparnya.

Ketua Umum KMSN, Sholahuddin, menambahkan bahwa untuk olahan jagung yang dikembangkan di tiga pesantren di Lamongan, produksinya kini telah menembus pasar Malaysia dan di negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga:
Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Sholah berharap, ke depan, KMSN tak hanya melibatkan 25 pesantren di Indonesia yang kini sudah bergerak, tapi juga bisa mengajak ribuan pesantren, pengelola masjid, majelis ta’lim, kampus, hingga organisasi kemasyarakatan di tingkat desa. Pesantren yang memiliki lahan agak luas diajak mengembangkan produk pertanian sehat, perkebunan,  peternakan dan perikanan akan didorong untuk mengembangkan produknya.

“Saat ini, yang sudah berjalan budidaya jagung di pesantren Nurul Huda, Kuningan, di Serang, Lamongan 3 pesantren, di Bangka Belitung dan Kalimantan Timur dengan KTNA Kaltim. Kita juga kerjasama dengan C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu di kepulauan seribu,” paparnya.

Pasca Grand Launching di Penata, pihaknya juga merencanakan untuk membuka outlet atau ritel Leumart di 50 Pesantren di Jawa Timur.

“Ke depan, kita kembangkan Leumart ini di tiap kota 50 outlet atau ritel, bekerja sama dengan pesantren, masjid, kampus, ormas atau majelis ta’lim. Pengembangan pupuk hayati, yang memproduksi banyak pupuk untuk produk pertanian sehat, ada green kopi, olahan jagung dari eskrim, kerupuk, puding, dll. Di Lamongan sudah jalan, bahkan sudah eksport ke malaysia dan Timur Tengah. Ke depan, kita bisa bermitra dengan UMKM, kelompok tani, bahkan personal,” paparnya. []
(Malik)
Read More

Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat


rumahnahdliyyin.com - Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) baru saja menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 21-23 Februari 2018 lalu.

Acara yang dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo itu mengangkat tema “Memperkokoh Komitmen Islam Kebangsaan Menuju Orde Nasional”. Isu penting yang menjadi bahasan Rakernas I MDHW antara lain yaitu soal radikalisme.

Gerakan radikalisme yang berujung pada terorisme merupakan momok mengerikan. Sebab, telah membuat citra Islam lekat dengan agama teror yang menyukai jalan kekerasan. Celakanya, eskalasi gerakan ini bukan semakin surut. Namun, justru kian meningkat.

Hasil survei Wahid Institute pada 2017 lalu menyebutkan bahwa sebanyak 0,4 persen atau 600.000 penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen atau 11 juta orang berpotensi bertindak radikal.

Tak hanya itu, survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada tahun 2017 pula menyebutkan bahwa ada sebanyak 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia yang terindikasi tertarik pada paham radikal. Data ini menunjukkan bahwa radikalisme merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian khusus.

Isu berikutnya adalah soal ekonomi umat. Isu ini penting. Karena jika merujuk data World Bank (2015), Indonesia merupakan negara ranking ketiga tertimpang setelah Rusia dan Thailand.

Gini rasio mencapai 0,39% dan indeks gini penguasaan tanah mencapai 0,64%. Sedangkan 1% orang terkaya menguasai 50,3% kekayaan nasional dan 0,1% pemilik rekening menguasai 55,7% simpanan uang di bank.

Fakta ini sungguh menyedihkan. Sebab, kekayaan Indonesia dimonopoli oleh segelintir orang yang menguasai lahan, jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan ataupun obligasi pemerintah. Tentu persoalan ketimpangan bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan nasional.

Islam Kebangsaan

Karena itu, dalam konteks mengatasi gerakan radikalisme, pemahaman ihwal pentingnya memperkokoh komitmen Islam kebangsaan perlu dilakukan secara masif dan berkelanjutan. Islam kebangsaan merupakan Islam yang memiliki semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Sejarah mencatat, Islam kebangsaan telah menjadi kekuatan fundamental dalam upaya melawan kolonialisme. Islam kebangsaan mempererat tali persaudaraan sebangsa (ukhuwah wathoniyah).

Dalam bahasa Prof. DR. (HC.) KH. Ma’ruf Amin, Islam kebangsaan adalah Islam yang menerima kemajemukan. Bingkai kemajemukan yang dimaksud di sini harus bersifat politis-yuridis dan teologis.
Bingkai politis-yuridis adalah kebijakan tentang bentuk negara Indonesia. Yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila sebagai falsafah bangsa, dan UUD 1945 sebagai konstitusi negaranya. Ini berarti, keputusan politik para pendiri bangsa merupakan konsensus nasional.

Sedangkan bingkai teologis adalah untuk mewujudkan integrasi nasional yang kokoh. Bingkai teologis ini menjadi perekat sekaligus pemahaman kepada seluruh elemen masyarakat tentang betapa pentingnya menjaga integrasi bangsa ini secara bersama-sama dalam upaya menjaga keutuhan dan kesatuan nasional. Baik kaitannya dengan NKRI maupun Pancasila.

Ekonomi Umat

Sementara itu, dalam konteks memperkuat ekonomi umat, kita perlu mendorong umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia tidak hanya menjadi penonton dan konsumen. Namun, harus mampu bergeser menjadi aktor utama dan produsen dalam setiap jengkal denyut nadi perekonomian Indonesia.

Karena itu, perlu misalnya dilakukan penataan aktivitas perekonomian secara bottom up. Atau yang oleh pemerintah dikenal dengan istilah ultra-mikro.

Pasalnya, ketimpangan ekonomi akan makin tajam bila tak ada upaya serius untuk mengatasinya. Di saat yang sama, persoalan lapangan pekerjaan juga akan menjadi bom waktu bila tak segera diantisipasi.

Hal ini mengingat jumlah usia produktif yang ditandai dengan bonus demografi di Indonesia makin meningkat dari tahun ke tahun. Bila tak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi tidak akan mendatangkan “berkah”, namun justru “musibah”.

Itulah mengapa dalam menancapkan visi organisasinya, MDHW memiliki empat pilar gerakan. Yaitu dzikir, halaqoh, gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.

Konsep dzikir yang dimaksud di sini tidak sekadar dzikir wirid sebagaimana umumnya. Namun, dzikir secara universal yang berangkat dari konsep dasar “Fas’aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun.” (maka, tanyalah kepada ahli dzikir jika kamu tidak mengetahui).

Sedangkan halaqoh merupakan konsep silaturrahim, konsolidasi, musyawarah, baik itu dengan para ulama' maupun elemen bangsa yang lain. Konsep halaqoh yang dimaksud yaitu sebagai jembatan mencari problem solver dari berbagai permasalahan kebangsaan yang ada.

Adapun gerakan sosial menekankan bahwa kehidupan sosial (berkelompok, berbangsa, bernegara) harus dibangun atas nilai-nilai persaudaraan dan persatuan serta gotong-royong dengan mengedepankan kasih sayang (rahmah), perdamaian (salam) dan toleransi (tasamuh).

Secara konkret, gerakan ini akan merespons berbagai problem dan dinamika sosial yang ada. Mulai dari bencana alam, renovasi tempat pendidikan dan tempat ibadah atau pemberian beasiswa bagi yang tidak mampu.

Sementara yang dimaksud dengan pemberdayaan ekonomi umat adalah upaya untuk mengatasi ketimpangan dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Akhirnya, Islam sebagai agama rahmat semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) harus menjadi spirit dalam berbangsa dan bernegara. Dan umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia harus menjadi pionir mewujudkan tananan nasional (orde nasional) yang lebih baik. []


Oleh: Hery Haryanto Azumi, Sekjen Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) serta Wasekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Read More

Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Acara Launching Angkringan GP. Ansor Rembang di Jl. Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang.

muslimpribumi.com - Di Semarang, Solo ataupun daerah lain di Jawa Tengah, termasuk pula Jogja, angkringan sangat akbrab di mata. Di pusat keramaian maupun di pinggir-pinggir jalan, ia begitu mudah bisa didapati.

Angkringan biasanya terbuat dari kayu dan papan yang berbentuk gerobak. Dengan beratapkan terpal, jenis lapak yang menjajakan makanan dan minuman ini bisa memuat enam hingga delapan orang. Dan tak jarang pula, si empunya lapak juga menyediakan tikar bila pembeli melimpah atau pembeli menginginkan duduk lesehan.

Bisa dikatakan, angkringan merupakan salah satu tempat yang merakyat. Dari mulai para mahasiswa, karyawan, bahkan pejabat, bisa nyaman menikmati suasananya.

Untuk memberdayakan ekonomi bagi para kadernya, baru-baru ini Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Rembang, meluncurkan program angkringan di tiap kecamatan. Peluncuran yang dikemas dengan acara “ngangkring bareng" santri dan warga di sepanjang Jalan Kiai Bisri Mustofa, Leteh, Rembang, pada Sabtu sore, 13 Januari kemarin ini dilanjutkan dengan menyantap nasi, lauk dan kopi ala angkringan.

“Tiap kecamatan diberi satu unit gerobak angkringan. Lengkap dengan "uborampe" yang dibutuhkan. Ini ikhtiyar kita mewujudkan visi besar Nahdlatul Ulama dan Ansor untuk meningkatkan kemandirian dan perekonomian kader,” terang Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang M. Hanies Cholil Barro.

Selain sebagai upaya untuk mewujudkan kemandirian perekonomian organisasi dan kader, ternyata program ini juga bertujuan supaya masyarakat bisa menjadi lebih dekat dengan Ansor. Termasuk bisa bekerjasama dalam hal yang lainnya.

“Sebelum diluncurkan, operator per-kecamatan mengikuti pelatihan singkat pengelolaan angkringan. Pelatihan tentang pelayanan prima terhadap konsumen pun diberikan,” lanjutnya kemudian.

Selain Standar Operasional Prosedur (SOP) angkringan telah diberikan, Departemen Perekonomian Ansor di level kabupaten juga sudah memberikan pedoman tentang produk yang boleh dan dilarang dijual di angkringan tersebut.

“Untuk mengendalikan mutu dan kelanjutannya, Departemen yang membidangi akan selalu melakukan kontrol per-pekannya. Dengan upaya semacam ini, diharapkan angkringan Ansor bisa berkembang dengan pesat,” tandas pria yang akrab dipanggil dengan Gus Hanis ini.

Wakil Ketua Bidang Perekonomian Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Nadhief Shidqi, menambahkan, operator angkringan di tiap kecamatan terhubung secara online dengan Departemen Perekonomian. Setiap kasus, termasuk ide-ide inspiratif akan didiskusikan tiap harinya melalui layanan grup whatsapp. Dengan demikian, harapannya, setiap persoalan dan ide segar akan secara cepat diatasi serta SOP pun dapat dipantau penerapannya secara tepat.

Sumber: mataairradio.com
Read More

Kaleng Penguat Ekonomi Umat


muslimpribumi.com - Eksistensi NU bisa dilihat dari seberapa kuat keberadaan NU di tingkat ranting atau anak ranting. Di situlah organ NU yang secara langsung menggerakkan dan bersentuhan dengan masyarakat dalam berbagai aktivitas organisasi dan sekaligus menjaga ideologi NU.

Kualitas kepengurusan ranting NU tidak cukup dengan hanya adanya struktur kepengurusan saja. Namun, harus dilihat sejauh mana aktivitas kepengurusan tersebut mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Yaitu bagaimana antara jama'ah dan jam'iyyah saling menghidupi. Jika kegiatannya hanya sekedar tahlilan saja, maka kepengurusan tersebut bisa dikatakan kurang efektif. Tahlilan atau pengajian bisa berjalan dengan sendirinya tanpa perlu diurus oleh NU secara organisatoris.

Salah satu contoh pengelolaan Ranting NU yang sukses adalah NU Ranting Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Upaya untuk menciptakan kemandirian dimulai dari kemandirian ekonomi dengan membuat Unit Pengelolaan Zakat (UPZ) ZIS NU Pacarpeluk melalui program Pacarpeluk Bersedekah. Mereka menempatkan kaleng-kaleng ke rumah warga dan menyarankan agar setiap harinya penduduk setempat menyisihkan koin senilai 500 atau 1000 rupiah ke dalam kaleng tersebut.

Kini dalam tiap bulannya kaleng-kaleng yang berjumlah 600 buah itu berhasil mengumpulkan sekitar lima juta rupiah. Terdapat lima program utama untuk pemanfaatan dana tersebut. Pertama, santunan duka, yaitu sumbangan air minum dalam kemasan kepada warga yang sedang berduka karena kematian. Air tersebut untuk minuman saat tahlilan selama tujuh hari. Kedua, jaminan pengobatan rawat jalan dengan Kartu Pacarpeluk Sehat bagi warga yang belum memiliki Kartu Indonesia Sehat atau BPJS. Ketiga, santunan persalinan bagi keluarga kurang mampu. Keempat, jenguk keluarga sakit berupa sumbangan dana bagi keluarga yang sakit. Dan yang terakhir yaitu program peduli bencana. Dalam bencana banjir di Pacitan baru-baru ini, UPZ Pacarpeluk menyumbangkan uang senilai dua juta rupiah.

Prinsip saling menghidupi antara jama'ah dan jam'iyyah serta pengelolaan yang transparan dan akuntabel benar-benar mampu dijalankan dengan baik sehingga masyarakat merasakan bahwa dana yang mereka sumbangkan bisa dimanfaatkan oleh tetangga atau keluarga yang sedang membutuhkan bantuan. Satu orang tidak bisa membantu semua orang, akan tetapi semua orang bisa membantu satu orang yang benar-benar membutuhkan. Disinilah NU mampu menjalankan peran sebagai lembaga yang mampu menjembatani kedua belah pihak tersebut.

Kisah sukses pengelolaan Ranting NU Pacarpeluk ini mendorong beberapa ranting NU daerah lainnya untuk belajar. Model pengelolaan kaleng koin sedekah UPZ Pacarpeluk ini juga menjadi salah satu dari 10 pemenang terbaik kompetisi Kreatifitas dan Inovasi (Krenova) Kabupaten Jombang 2017 atas nama ketua Ranting NU Pacarpeluk Nine Adien Maulana. Di MWC. Megaluh sendiri, dari 13 ranting NU, sudah terbentuk tujuh kepengurusan UPZ LAZISNU dengan jumlah donatur mencapai 2.200 warga.

Kesadaran akan semakin pentingnya kemandirian NU kini semakin meningkat. Pola menempatkan kaleng koin banyak diadopsi di banyak daerah. Di Ranting NU Desa Kemaduh, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk, dalam setiap bulannya dana yang dikumpulkan mencapai sekitar tiga juta rupiah. Capaian angka tiga juga untuk sebuah desa dengan basis ekonomi pertanian ini sesungguhnya menggambarkan besarnya potensi penggalian dana karena saat ini semakin banyak daerah, terutama yang berbasis di perkotaan yang ekonomi berbasis sektor industri dan jasa dengan tingkat kemakmuran yang lebih tinggi.

Di Jawa Timur terdapat 7.724 desa dan 777 kelurahan. Mengingat Jawa Timur merupakan basis utama NU, jika 70 persen dari seluruh total desa dan kelurahan terdapat ranting yang hidup dan bergerak, maka setiap bulan akan terkumpul dana sebesar 17.8 miliar jika masing-masing ranting mampu mengumpulkan dana sekitar tiga juta per bulan. Dalam satu tahun ada 214 miliar yang bisa dikumpukan dan didistribusikan. Tentu saja, angka tersebut masih merupakan hitung-hitungan diatas kertas. Realisasi di lapangan akan sepenuhnya tergantung pada para muharrik atau penggerak di tingkat ranting.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan uang sebesar tersebut. Tak semuanya harus dihabiskan seketika. Cabang NU di masing-masing daerah bisa membuat amal usaha untuk melayani warga NU dan masyarakat umum yang membutuhkan, baik dalam pemberdayaan ekonomi, pendidikan maupun kesehatan. Jika pengumpulan dana tersebut bisa berjalan dengan konsisten dalam waktu jangka panjang, maka bisa dilakukan investasi produktif untuk melayani umat. Membuat gedung atau kantor yang memadai memang penting, tetapi jangan sampai dana-dana dari masyarakat tersebut dikeluarkan untuk hal-hal yang kurang produktif atau kurang menyentuh masyarakat.

PCNU atau MWCNU yang selama ini rantingnya belum aktif atau bahkan belum memiliki ranting NU di desa tertentu memiliki kewajiban untuk menggerakkan, mendampingi dan mengarahkan bagaimana basis NU ini bisa aktif. Karena sesungguhnya disitulah keberadaan NU secara nyata dirasakan oleh warga. Ranting NU yang sudah berhasil bisa menjadi tempat untuk belajar. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.

Sumber: nu.or.id
Read More