rumahnahdliyyin.com - Konflik Afghanistan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dan hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kalau konflik bakal berakhir. Bom meledak hampir setiap pekan. Puluhan ribu masyarakat sipil dan ribuan pasukan keamanan Afghanistan pun tewas menjadi korban.
Tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data bahwa jumlah korban masyarakat sipil yang meninggal adalah 11.418 orang. Mungkin saja juga lebih dari itu.
Berbagai macam teori tentang konflik Afghanistan pun dikembangkan. Ada yang berpendapat bahwa konflik Afghanistan itu disebabkan karena campur tangan asing. Negara-negara yang memiliki kepentingan menjadikan Afghanistan sebagai medan untuk bertempur. Pendapat lain mengemukakan bahwa pertikaian antar suku dan kelompok keagamaan-lah yang menjadi sumbu dari konflik di Afghanistan.
Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU
Pada tahun 2011, Nahdlatul Ulama (NU) pernah mengundang kelompok-kelompok Afghanistan yang bertikai itu untuk berkumpul bersama di Indonesia. Mereka diajak duduk bersama untuk membahas solusi konflik yang mendera negaranya dan mewujudkan perdamaian di sana. Pertemuan ini pun memiliki dampak yang cukup signifikan. Mereka yang dulu bertikai, mulai sadar untuk membangun perdamaian di Afghanistan. Bahkan, beberapa tahun setelahnya, didirikan Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang moderat ala NU.
Setelah kelompok-kelompok yang bertikai itu sepakat untuk mengakhiri konflik, mengapa perdamaian yang diinginkan itu tidak kunjung terwujud di Afghanistan? Apa yang sebetulnya terjadi dengan negara berpenduduk 34,6 juta jiwa itu? Apakah konflik yang terjadi di negara-negara lain yang mayoritas berpenduduk muslim juga memiliki pangkal persoalan yang sama dengan yang ada di Afghanistan?
Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam
Pada Selasa, 17 April 2018, Jurnalis NU Online, A. Muchlishon Rochmat, berhasil mewawancarai Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, untuk mengetahui dan melihat lebih dalam apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan serta arah peradaban dunia saat ini. Berikut petikan wawancaranya:
Apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan, gus?
Kalau kita mau melihat ke akar yang paling dalam dari konflik Afghanistan, saya ingin mengatakan bahwa Afghanistan itu adalah produk dari keseluruhan elemen-elemen negatif dalam peradaban dunia sekarang ini. Elemen negatif yang pertama adalah persaingan antara kekuatan global dalam politik dan ekonomi yang mengabaikan nasib dan nyawa manusia. Mereka manganggap korban manusia adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari capaian ekonomi dan politik yang menjadi tujuannya.
Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia
Ini dilakukan semua pihak. Kita tidak bisa menyalahkan Barat atau Soviet saja. Tapi juga negara-negara lain. Termasuk negara Islam. Negara-negara Islam seperti Saudi Arabia, Qatar, Iran dan Pakistan, ikut dalam permainan konflik di Afghanistan untuk kepentingan masing-masing. Naasnya, Islam dijadikan simbol untuk menggalang dukungan atau digunakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang berkonflik.
Negara Barat dan beberapa negara lainnya memiliki kepentingan di Afghanistan. Kepentingan apa yang Anda maksud? Bisa dijelaskan lebih detail, gus?
Misalnya, dulu Amerika Serikat memanfaatkan Afghanistan ini untuk mengalahkan Uni Soviet. Saudi mendukung karena ada kepentingannya, yaitu menghadapi Irak. Pakistan ikut terlibat karena kepentingan untuk memperoleh kompensasi-kompensasi dengan berbagai bentuk, baik dari negara Barat seperti Amerika Serikat maupun negara kaya Saudi.
Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia
Bagaimana dengan persoalan internal Afghanistan sendiri? Apakah itu juga mempengaruhi secara signifikan konflik yang berkembang di Afghanistan?
Dalam dimensi yang lebih kotor lagi, konflik Afghanistan juga terkait dengan pertarungan politik dalam negeri. Kelompok-kelompok yang bertikai mencampur adukkan antara pemanfaatan isu-isu agama dan identitas etnik. Terutama oleh sekelompok elit militer Afghanistan untuk kepentingan hegemoni politik domestik.
Dalam beberapa kesempatan yang lalu, NU pernah melakukan upaya second track diplomation dengan mengundang para kelompok Afghanistan yang bertikai untuk "duduk bersama". Sejauh mana upaya ini memberikan efek terhadap proses rekonsiliasi di Afghanistan?
Tidak mungkin menyelesaikan masalah Afghanistan melalui pendekatan-pendekatan parsial. Kita pernah mencoba dengan pendekatan yang paling valid terkait dengan konflik Afghanistan. Atas jasa dari pak As’ad Said Ali, para pemimpin kelompok Afghanistan yang bertikai berhasil diundang ke sini untuk berunding dan difasilitasi oleh PBNU pada tahun 2011. Yang hadir merupakan representasi dari war lord, panglima perang yang saling bersaing.
Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam
Pertemuan ini berhasil karena mencapai konsensus-konsensus yang substansial dan efektif. Kita berbicara soal perdamaian dalam realitas, bukan hanya omong kosong. Misalnya, yang kita minta untuk dijadikan kesepakatan bersama adalah kebebasan setiap orang untuk bergerak di mana saja di dalam wilayah Afghanistan tanpa ada gangguan.
Saat datang, mereka tidak mau ngomong dengan yang lainnya. Namun diakhir pertemuan, mereka saling berpelukan sambil menangis karena menyadari bahwa perdamaian adalah sesuatu yang mereka butuhkan.
Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia
Tapi, mengapa "perang" itu masih berkobar hingga saat ini di Afghanistan?Bukankah para war lord sudah sepakat untuk berdamai?
Karena perdamaian itu bertentangan dengan kekuatan-kekuatan besar yang memiliki kepentingan di Afghanistan, maka proses ini kemudian dijegal-jegal. Tidak lama setelah pulang dari sini, mantan Presiden Afghanistan, Syaikh Burhanuddin Rabbani, dibunuh. Orang-orang yang dulu terlibat dalam proses perundingan di sini sangat terinspirasi dengan inisiatif NU hingga mereka ngotot untuk mendirikan NU Afghanistan sendiri.
Seberapa besar pengaruh NU Afghanistan dalam upaya mewujudkan perdamaian di Afghanistan?
Pertama, lagi-lagi karena ini parsial dari sisi sebagian kelompok grassroot di Afghanistan–sementara kekuatan-kekuatan besar tidak suka karena bertentangan dengan kepentingan mereka, maka kemajuannya juga terhalang. NU Afghanistan tidak bisa berkembang secara signifikan. Walaupun orang-orang ini terus menerus memperjuangkan perdamaian di Afghanistan, namun sangat lambat.
Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina
Kedua, begitu juga pendekatan keagamaan, juga macet. Bersama pak As’ad, saya sendiri terlibat dalam beberapa upaya rekonsiliasi Afghanistan yang diselenggarakan Dunia Internasional dengan pendekatan Islam. Semuanya omong kosong. Mereka ngomong banyak hal tentang agama, tetapi satu pun diantara mereka tidak menyentuh sisi yang paling berbahaya dari anjuran agama, yaitu sisi untuk berperang atas nama agama.
Itu sangat berbahaya, karena kita berhadapan dengan realitas masyarakat yang tidak mau majemuk. Semua mengaku Islam dan menuduh yang lain kafir. Semua berhak, bahkan wajib, untuk membunuh orang. Agama itu ide, perdamaian itu soal realitas. Maka dari itu, antara ide dan realitas harus nyambung.
Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia
Ketiga, ini bukan hanya urusan orang Islam. Persoalan Afghanistan adalah urusan seluruh orang di dunia. Jelas-jelas Amerika terlibat di situ. Rusia terlibat, China terlibat. Afghanistan hanya satu "titik api" dari sekian banyak titik api yang ada di dunia; Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Pakistan, Bangladesh. Ini masalah global dan harus dipecahkan bersama-sama.
Jadi, Anda melihat pangkal segala persoalan yang terjadi di banyak negara, terutama negara-negara Islam, itu seperti apa?
Salah satu dimensi yang paling penting dari masalah ini adalah kebangkrutan Islam sebagai agama. Islam bangkrut. Kenapa bangkrut? Karena tidak mampu menyediakan jalan keluar yang efektif bagi manusia hari ini.
Kenapa Islam bangkrut? Karena ulamanya malas berpikir dan pengecut menghadapi kenyataan. Seluruh dunia celaka, ya agamanya yang bangkrut. Kalau ulama-ulama yang alim, keramat itu tidak mau berpikir tentang ini, menurut saya mereka hanya menyia-nyiakan agama.
Baca Juga: Tasawwuf Pancasila
Beberapa waktu lalu, Barat menyerang Suriah. Apakah ini menjadi tanda peradaban dunia semakin kacau?
Persis, itu kebusukan peradaban yang belum dirubah. Sebetulnya, peradaban dunia membutuhkan arah baru. Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal demokrasi, pembangunan, kemakmuran. Dunia membutuhkan visi baru tentang kemuliaan.
Sekarang, semuanya berlomba-lomba untuk mencapai prestasi-prestasi ekonomi, politik. Tapi, tidak ada yang peduli terhadap kemuliaan; bagaimana membangun peradaban yang mulia, menjadikan manusia bermartabat, tidak jatuh menjadi binatang pemakan sesama. Ini yang diperlukan dunia saat ini.
Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika
Bagaimana dan dari mana seharusnya peradaban dengan visi kemuliaan seperti itu dibangun?
Saya sudah bertemu semua orang, mulai dari ulama-ulama di Timur Tengah, orang-orang Barat, Yahudi Zionis, Rusia dan Cina. Sebetulnya, ada momentum politik. Tidak ada inspirasi dari seluruh penjuru peradaban dunia ini selain dari Islam. Islam itu risalah rohmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Itu yang dibutuhkan dunia.
Kita ribut soal turats, menghormati ulama-ulama salaf. Kalau tidak ada jawaban dari situ, buat apa. Turats kalau tidak bisa digunakan, buat apa. Kalau tidak memberi solusi, apa manfaatnya. Bukannya kita tidak menghormati capaian dari ulama-ulama salaf, kita harus berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna untuk tantangan hari ini walaupun menyelisihi pemikiran dari ulama terdahulu. Kan, belum tentu sesuatu yang baik pada masa lalu, baik pula pada saat ini.
Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Harapan terbesar dari solusi peradaban adalah Indonesia. Di Indonesia, dimana harapan itu bersumber? Nahdlatul Ulama. Kita punya modal. Kita memiliki pemimpin-pemimpin dalam sejarah yang menuntun kita untuk menuju solusi sejak zaman kiai Wahab Chasbullah, sampai sekarang kiai Said Aqil Siroj. Ini adalah arah menuju solusi.
Kita harus bersama-sama membangun gerakan untuk menuju satu arah yang bisa menjadi jalan keluar dari kemelut persoalan dunia saat ini. Umat Islam paling berkepentingan dalam hal ini. Kenapa? Karena kita harus membuktikan bahwa Islam betul-betul berguna untuk manusia. Islam tidak hanya menjadi sumber bencana.[]
(Redaksi RN)
