Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai Papua


rumahnahdliyyin.com - Sebelum melangkah lebih jauh tentang NU di Paniai, penulis ingin sedikit memberikan deskripsi singkat tentang kondisi geografi dan corak masyarakat di Kabupaten Paniai.

Begini, Kabupaten Paniai merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Papua yang berada di pegunungan tengah Papua. Atau, tepatnya di pedalaman Papua yang berjarak sekitar 300 km. dari daerah Nabire.

Dalam hal beragama, penduduk Kabupaten Paniai memeluk agama yang beragam, mulai dari Kristen, Katolik, Islam, Hindu dan agama yang lainnya. Begitu pula untuk suku, ras dan budaya. Ada Papua, Jawa, Buton, Batak, Bugis dan lainnya.

Adapun agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat asli Paniai sendiri adalah agama Kristen dan Katolik. Meskipun Islam merupakan agama yang minoritas di Paniai, akan tetapi sudah menjadi kewajiban umat Islam ketika berinteraksi antar agama harus mengedepankan prinsip Islam, yaitu ta'awun, tawasuth, tasamuh, tawazun dan lainnya demi kemaslahatan antar umat beragama.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai Papua Peringati Harlah NU Ke-92

Latar Belakang Berdirinya NU

Keberadaan umat Islam di Kabupaten Paniai, dari tahun ke tahun, cukup mengalami perkembangan. Menurut data Baznas, dua tahun terakhir ini, yaitu pada tahun 2016 dan 2017, jumlah pemeluk Islam ada sekitar 5.000 jiwa.

Jumlah umat Islam tersebut rata-rata berasal dari kaum pendatang. Artinya, tidak penduduk asli Papua. Dan para pendatang tersebut berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Diantaranya dari Bugis, Makassar, Buton, Maluku, Batak, Jawa dan lainnya. Dalam aktivitas kesehariannya, masyarakat muslim pendatang ini berprofesi sebagai pedagang, guru, dokter, PNS, aparat keamanan dan berbagai jenis profesi lainnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Dalam menjalankan ajaran Islam, dari jumlah data 5.000 jiwa umat Islam tersebut, ternyata 2.000 jiwa diantaranya adalah pengamal Islam Aslussunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyyah. Karena umat Islam yang ada di sini merupakan kaum pendatang dan bermacam-macam latar belakangnya, baik dari segi pendidikan maupun pengetahuan agamanya yang sangat minim sekali, maka terkadang ada umat Islam di Paniai yang tidak tahu dalil-dalil ibadah yang bertanya: "Mengapa umat Islam itu cara berfikir dan beribadahnya seperi itu?"

Di samping itu, di Paniai sendiri terkadang kedatangan kelompok Islam dengan wajah yang berbeda-beda yang kemudian sering menimbulkan pertanyaan: "Sebenarnya ajaran Islam itu yang bagaimana?"

Mengingat kuantitas umat Islam yang semakin bertambah, akan terasa ganjal apabila semua problematika umat hanya didengarkan saja tanpa diberikan solusi serta jawaban yang jelas.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari sinilah akhirnya para guru yang ada di Madrasah Diniyyah memerankan fungsinya sebagai penerang dan rujukan umat. Dari sini pula, kemudian muncul gagasan untuk mendirikan sebuah Organisasi Masyarakat yang bernama Nahdlatul Ulama (NU).

Dengan adanya ormas NU ini, disamping sebagai wadah bagi umat Islam di Kabupaten Paniai, juga difungsikan sebagai jalan dakwah dan syiar Islam serta penanaman nilai-nilai pendidikan agama Islam yang berfaham Aswaja An-Nahdliyyah.

Sejarah Awal Berdirinya NU

Awal berdirinya NU di Kabupaten Paniai tidak bisa lepas dari campur tangan serta sentuhan para guru yang mengajar di Madrasah Diniyyah Al-Ma’arif NU yang berdiri pada Juni 2013. Para guru yang mengajar di madrasah yang sebelumnya bernama Al-Mubarok ini merupakan alumni pesantren. Dengan pertemuan setiap mengajar dan diskusi ringan serta seringnya bermusyawarah, maka muncullah ide dari para guru ini untuk mendirikan Ormas NU.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Setelah bertekad dan sepakat untuk mendirikan Jam’iyyah NU, dari forum guru sendiri mendapatkan kendala, yaitu bagaimana proses tata cara untuk mendirikan PCNU. Beberapa guru, akhirnya bertanya kepada teman-temannya yang aktif di NU di Jawa.

Setelah mendapat informasi yang cukup memadai, kemudian dikomunikasikanlah hal itu kepada para tokoh agama serta orang tua yang sudah lama tinggal di Paniai ini sekaligus memohon saran. Sebab, jangan sampai adanya PCNU ini, nanti akan berdampak perselisihan antar umat Islam.

Dan alhamduliLlâh, dari golongan orang-orang tua tersebut menyetujui dan sepakat. Dukungan pun datang dari Ketua MUI Paniai, yakni H. Joko Suprayetno serta Kemenag Paniai Seksi Pendis dan Bimas Islam, yaitu H. Dahlan Kader.

Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua

Langkah selanjutnya, pada tanggal 20 Agustus 2014, diadakanlah musyawarah di serambi Masjid Al-Mubarok, Enarotali, Paniai. Diantara yang hadir waktu itu adalah Kepala Madin (Ahmad Muslih), para guru Madin (Shodikin, Sumadi Rohmat dan Nur Khoironi) dan dari pengurus Masjid (Sabri dan Darmawan Arif). Musyawarah ini membahas tentang struktur kepengurusan dan program yang akan datang.

Dan alhamduliLlâh, pada tanggal 24 Agustus 2014, struktur kepengurusan PCNU Paniai ditetapkan. Adapun struktur PCNU masa khidmat 2014-2019 ini yaitu H. Dahlan Kader sebagai Syuriah dan Sodikin sebagai Ketua Tanfidziyyah. Sedangkan untuk sekretaris dipegang oleh Sumadi Rahmat dan Nurkhoironi. Dan untuk bendahara dipegang oleh Wahyu dan Eli Sitorus.

Dan alhamduliLlâh lagi, pada bulan Desember 2014, atau bertepatan dengan tanggal 9 Robi'ul Awwal 1439 H., struktur kepengurusan PCNU Paniai ini disahkan melalui SK oleh PBNU.


* Oleh: M. Taha, aktivis Muda NU di Paniai.

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *