Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa


muslimpribumi.com - Madrasah Diniyyah atau yang sering di sebut Madin merupakan lembaga pendidikan keagamaan non-fomal yang sampai saat ini keberadaanya dari masa ke masa telah terbukti memberikan kontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Umumnya, Madrasah Diniyyah berkembang dan tersebar di pulau Jawa mulai dari desa-desa hingga kampung-kampung di pelosok Nusantara ini. Dan kebanyakan mereka yang mendirikan punya latar belakang santri dari pondok pesantren.

Berbicara mengenai problematika Madrasah Diniyyah di forum seminar, kajian serta penelitian yang memerlukan waktu dan dana yang tidak sedikit, hasilnya akan sia-sia saja dan tidak akan menemui pokok dari akar permasalahan dan menemu solusi yang jitu jikalau sekedar dibicarakan saja tanpa melihat secara langsung dan tindakan nyata.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa salah satu faktor utama untuk menyelenggarakan pendidikan formal maupun non-formal adalah soal finansial. Kemudian tenaga pendidik atau guru, gedung, kemudian santrinya.

Memang, Madrasah Diniyyah di Indonesia mengalami permasalahan yang kompleks dan hampir di semua daerah lain juga sama, baik itu yang ada di pulau Jawa maupun di luar Jawa. Untungnya, Madrasah Diniyyah memiliki susuatu yang melekat pada pengelola dan para gurunya yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain seperti sekolah konvensional kebanyakan, yaitu keikhlasan.

Tidak ada salahnya kalau mari kita simak potret Madrasah Diniyyah di Papua. Dan sebelum melangkah lebih jauh, paling tidak kita semua sudah tahu bahwa di Papua mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Kristen dan Katolik. Umat Islam di Papua merupakan bagian minoritas saja. Memang ada beberapa daerah di Papua yang penduduk aslinya mayoritas muslim, misalnya di Kabupaten Fakfak. Kendati demikian, pada umumnya masyarakat di Papua yang beragama Islam adalah masyarakat pendatang mulai dari pegawai, pekerja dan pedagang yang berasal dari Jawa, Bugis, Buton, Makasar dan lain lain. Ada pula masyarakat asli Papua yang beragama Islam namun sangat tidak signifikan jumlahnya.

Perlu diketahui juga bahwa kondisi sosial-budaya masyarakat Papua sangatlah beragam. Baik budaya, agama, ras, maupun suku. Namun, kebanyakan penduduk asli Papua bisa menerima, wellcome dan baik-baik saja terhadap keberagaman. Kalaupun ada yang keberatan dan intoleransi serta bersifat fanatik bisa dibilang sangat sedikit.

Kemudian, apakah ada Madrasah Diniyyah di Papua? Dengan asumsi bahwa di tiap daerah di Papua pasti terdapat umat Islamnya, maka dipastikan ada Madrasah Diniyyah di daerah-daerah tersebut mengingat sangat pentingnya keberadaannya. Disamping itu, dari Pemerintah Daerah lewat Kemenag selalu mendukung dan mengapresiasi langkah dan kegiatan bagi umat Islam, baik itu pendidikan maupun kegiatan sosial keagamaan demi syi'ar Islam di tanah Papua.

Namun kenyataannya, eksistensi Madrasah Diniyah di lapangan sangatlah berbeda dan sangat memprihatinkan. Apabila di Jawa rata-rata masalahnya adalah disegi finansial, namun kebanyakan persoalan Madrasah Diniyyah di Papua tidak hanya soal uang an sich. Yang paling utama yaitu keberadaan seorang guru. Terutama di Madrasah-Madrasah Diniyyah yang mengajarkan Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyah.

Permasalahan ini bukan hanya terjadi di daerah saya saja (Kab. Paniai, Papua. red), namun menjadi kendala di semua Madrasah Diniyyah dan TPQ di Papua dan Papua Barat. Ada Madrasah Diniyyah namun tidak ada yang mengajar merupakan suatu hal yang sungguh ironis dalam dunia Islam. Ada juga yang ingin mendirikan Madrasah Diniyyah namun diurungkan karena tak ada yang mengajar. Lebih ironis lagi, ada Madrasah Diniyyah yang bubar lantaran bubarnya para pengajar.

"Mungkin karena problem Madrasah Diniyyah di Papua belum menjadi isu Nasional. Masih di taraf perorangan yang lokal," canda teman yang ada di kabupaten lain menanggapi perihal ini.

Selain itu, ada juga Madrasah Diniyyah yang tidak/belum memiliki tempat atau gedung yang memutuskan dengan menempuh jalan "nunut nebeng" di teras serambi Masjid.

Sebagaimana saya jelaskan di depan bahwa rata-rata yang ikut dalam membantu pendirian, para guru serta yang menghidupkan Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat adalah para santri-santri NU dari pesantren dan mempunyai jiwa militan, ikhlas nasyrul-'ilmi yang mengamalkan ajaran Islam Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Semoga saudara-saudara yang mengajar dan mengabdi di Madrasah Diniyyah di Papua dan Papua Barat senantiaaa diberi kesehatan dan bisa Istiqomah melanjutkan ajaran dan cita cita Nahdlatul Ulama’.

Kemudian, harapan dari teman-teman yang mengabdi di Papua dan Papua Barat adalah memohon kepada PBNU atau organisasi lain yang berahaluan Ke-NU-an untuk mengirimkan dan menugaskan kader-kadernya di Papua dan Papua Barat. Dari PCNU Kab. Paniai kami siap menerima dan membuka pintu lebar-lebar menyambut kedatangannya. Serta insya Allah dari PCNU kami sanggup memberikan biaya transport, biaya hidup serta bisyaroh.

Dengan langkah seperti itu, umat Islam di Papua dan Papua Barat, khususnya PCNU di Papua dan Papua Barat, bisa mengambil pelajaran dan NU bisa berkembang dan maju disamping pengelolaan Madrasah Diniyyah dan TPQ diharapkan bisa berkembang dan para santri mempunyai pengetahuan dan pelajaran tentang Ke-NU-an serta Madrasah Diniyyah tidak kosong karena tidak ada gurunya dan Madrasah Diniyyah di Papua bisa berjalan dengan baik dan berkembang seperti di daerah Jawa dan daerah lainnya yang sudah mantab dan istimewa.

Salam.


* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kab. Paniai, Prop. Papua.     

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *