Syaikhona Kholil Bangkalan


rumahnahdliyyin.com - Bila berbicara tentang Ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yaitu Nahdlatul Ulama, maka nama KH. Kholil bin Abdul Lathif tidak bisa tidak harus disebutkan. Sebab, lantaran beliaulah organisasinya para ulama itu akhirnya dibentuk dan didirikan.

KH. Mohammad Kholil bin Abdul Lathif, atau yang lebih akrab ditelinga dengan nama Syaikhona Kholil Bangkalan, lahir pada hari Selasa, 11 Jumadil Akhir, tahun 1235 Hijriyah atau yang dalam penanggalan Masehi bertepatan dengan tahun 1820 Masehi.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari ayahnya, yaitu kiai Abdul Lathif, nasab Syaikhona Kholil bersambung hingga Sunan Gunung Jati. Secara berurutan, nasab tersebut yaitu Syaikhona Kholil bin Abdul Lathif bin Hamim bin Abdul Karim bin Muharram bin Asra Al-Karomah bin Abdullah bin Sayyid Sulaiman Mojo Agung bin Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Semenjak kecil, Syaikhona Kholil mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya sebelum kemudian melakukan pengembaraan mencari ilmu ke pulau Jawa. Pesantren Langitan yang diasuh oleh kiai Muhammad Nur, pernah beliau cecap ilmunya pada sekitar tahun 1850-an.

Selepas dari Pesantren Langitan, Tuban, Syaikhona Kholil kemudian belajar ke Pesantren Cangaan, Bangil, yang diasuh oleh kiai Asyik Seguta. Dari sini, Syaikhona Kholil kemudian menuju ke Pesantren Koboncandi.

Ketika di Pesantren terakhir ini, Syaikhona Kholil juga sembari belajar di Pesantren Sidogiri yang diasuh oleh kiai Noer Hasan. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri yang lumayan jauh, yakni tujuh meter, ditempuh oleh Syaikhona Kholil dengan berjalan kaki sembari wiridan surat Yasin.

Baca Juga:
Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari
Imam Sibawaih-nya Papua

Selama menjadi santri, Syaikhona Kholil dikenal sebagai ahli tirakat. Kendati ayahnya tergolong mapan dari segi ekonomi, namun Syaikhona Kholil tidak mengandalkan orang tuanya. Untuk menyokong keperluan di Pesantren, beliau pernah menjadi buruh batik. Bahkan, beliau juga tak segan menjadi buruh pemetik kelapa demi untuk mewujudkan niatnya yang ingin belajar ke Haromain.

Walhasil, ketika berusia 24 tahun dan sudah menikah dengan Nyai Asyik (puteri dari Londro Putih), Syaikhona Kholil pun berangkat ke Haromain. Mengingat bekalnya yang tidak seberapa, Syaikhona Kholil pun menggunakan waktu luangnya selama belajar untuk bekerja menjadi tukang khoth. Kerap juga beliau memakan kulit semangka.

Diantara para guru Syaikhona Kholil selama di Haromain yaitu Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Adzim Al-Maduri dan Syaikh Nawawi Al-Bantani.

Baca Juga:
Kisah Masa Kecil Rasulullah Bersama Ibunya
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Dengan penuh kesungguhan yang disertai dengan tirakat selama belajar, maka tak heran bila kemudian Syaikhona Kholil dikenal sebagai seorang yang 'alim dan sufi. Karena itu, beliau bak magnet bagi masyarakat untuk mempercayakan anak-anak mereka supaya dididik oleh beliau.

Di Cengkubuan, Bangkalan, Madura, akhirnya beliau membuat Pesantren. Namun, ketika puteri beliau, Fathimah, telah beliau nikahkan dengan kiai Muntaha, Pesantren itu diserahkan kepada menantunya tersebut. Sedangkan beliau pindah menuju ke Kademangan yang juga masih di Bangkalan dan mendirikan Pesantren lagi.

Baca Juga:
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits
Ahlussunnah wal-Jama'ah

Hampir seluruh murid-murid Syaikhona Kholil berhasil menjadi ulama dan kiai besar. Diantaranya yaitu Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Ma’shoem Lasem, KH. Cholil Harun Rembang, KH. Faqih Maskumambang, KH. Ridlwan Abdullah, KH. Sholeh Lateng, KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Hasan Genggong, KH. Achmad Shiddiq, KH. Zaini Mun’im Paiton, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Munawir Krapyak, KH. Romli Tamim, dll.

Usia Syaikhona Kholil tergolong sangat panjang. Beliau wafat ketika usia beliau menginjak 105 tahun. Tepatnya yaitu pada tanggal 29 Romadlon 1343 H. atau 1925 M. Setahun sebelum Nahdlatul Ulama yang beliau restui didirikan. Dan pasti dunia benar-benar merasa kehilangan salah satu ulamanya ketika itu. Lahu Al-Fatihah... []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Geber Musholla IPNU-IPPNU Klaten


rumahnahdliyyin.com, Klaten - Dalam rangka memperingati Harlah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ke 64 dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ke 63, Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kabupaten Klaten mengagendakan beberapa rangkaian kegiatan peringatan.

Setelah minggu lalu mengawali kegiatan dengan GAMIS (Go Ziarah Muassis IPNU-IPPNU) serta Silaturahim dengan PC. Sleman dan PC. Bantul, hari Minggu kemarin, 11 Maret 2018, PC. IPNU-IPPNU Klaten bersama Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Klaten mengadakan GEBER Musholla.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama
GEBER Musholla adalah Gerakan Bersih Musholla. Gerakan ini diinisiatori oleh rekan Muchtar yang kebetulan juga tengah mengemban tugas organisasi sebagai Ketua PC. IPNU Klaten. Hal ini kemudian dilaksanakan oleh seluruh pengurus maupun anggota IPNU-IPPNU di kabupaten Klaten secara serentak di banyak lokasi dalam waktu yang sama.

Bila di banyak daerah sudah sering dijumpai kegiatan Bersih Masjid bersama, PC. IPNU-IPPNU Klaten sedikit berbeda cara dalam mendedikasikan diri terjun di masyarakat, yaitu dengan GEBER Musholla ini. Pasalnya, sangat banyak dijumpai musholla di kampung-kampung yang keadaannya memprihatinkan. Padahal selalu dipakai untuk ibadah. Berbeda dengan masjid yang kondisinya lebih terawat.

Baca Juga:
Berhukum Dengan Selain Hukum Allah
Jubir HTI Bungkam
Selain itu, GEBER Musholla ini adalah yang pertama yang dilaksanakan di Kabupaten Klaten. Bahkan di Jawa Tengah.

Kegiatan GEBER Musholla ini diikuti oleh kuranglebih 400 anggota IPNU-IPPNU. Mereka tersebar di 30 titik di seluruh kabupaten klaten. Tidak hanya membersihkan musholla, beberapa titik juga menambahkan kegiatan sumbangan alat kebersihan dan keperluan ibadah.

Masyarakat sangat mengapresiasi kegiatan ini. Bahkan, ada yang meminta supaya kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin dan jangkauannya pun agar diperluas lagi.

Baca Juga:
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia
Hari Akhir

Masyarakat juga memberi masukan supaya GEBER Musholla yang perdana ini, bisa dijadikan sebagai acuan bila betul mau diteruskan menjadi kegiatan rutin. Sebab, sejatinya kebangkitan muslim adalah dari rumah ibadahnya. Dan siapa lagi pelopornya kalau tidak para pemuda dan pelajar seperti IPNU-IPPNU. Maju Spiritual, Maju Intelektual dan Peka Keadaan Sosial. []
(Redaksi RN)
Read More

Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia


rumahnahdliyyin.com, Bantul - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Nasaruddin Umar, pada Minggu, 11 Maret 2018 ini, mengisi Dialog Nasional di UMY. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan bahwa Indonesia, saat ini, merupakan pusat kepemimpinan Islam yang sebelum-sebelumnya selalu dipegang oleh negara-negara di Timur Tengah atau di tanah Arab.

"Dunia hampir sepakat bahwa sekarang ini kepemimpinan Islam itu ada di Asia Tenggara. Dalam hal ini adalah Indonesia," kata kiai Nasaruddin.

Baca Juga:
Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam
Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

Pendapat kiai Nasaruddin ini dirujukkan pada sebuah indeks yang menyebutkan bahwa negara paling merdeka menjalankan syari'at Islam adalah Indonesia. Bukan di negara-negara Timur Tengah atau di negara-negara Arab.

Selain itu, sekarang ini Indonesia juga tengah dicontoh oleh negara-negara Islam lain. Terutama dalam hal toleransi antar anak bangsa yang terdiri dari banyak suku, bangsa, ras, bahasa, budaya dan lainnya, namun bisa tetap hidup rukun, tentram dan nyaman.

"Yang paling penting lagi bahwa dunia Islam sekarang ini mencontoh banyak sekali apa yang ada di Indonesia. Kita memang bukan negara Islam, negara Pancasila. Tapi, sekarang menjadi contoh negara-negara Islam. Jadi, ini suatu pertanda bahwa kiblat peradaban Islam ini memang sudah bergeser," tandasnya.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Selanjutnya, kiai asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini, juga menerangkan tentang sebuah Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW. rindu terhadap kekasihnya. Kekasihnya itu bukanlah para sahabat, melainkan umat muslim yang hidup jauh setelah masa beliau.

"Kekasihku (Rasulullah SAW.) ialah mereka yang akan hidup jauh dari tempat kelahiranku di sini. Dan mereka akan hidup jauh dari waktu aku sekarang (hidup)," tutur kiai Nasaruddin.

"Nah, yang paling jauh dari tanah Arab, itu Indonesia. Jangan-jangan yang dirindukan Nabi adalah kita. Bangsa yang paling mencintai Rasulullah, insya Allah, Indonesia," lanjutnya.

Baca Juga:
Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang
Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Di tanah Nusantara ini, sambungnya lagi, hampir 24 jam sholawatan atau puji-pujian terhadap Rasulullah SAW. tak pernah berhenti didengungkan. Di tanah ini pulalah semua muslim dan muslimah diberikan kemerdekaan untuk beribadah.

"Ada pakar yang mengatakan bahwa Saudi Arabia atau tanah Arab itu tugasnya memang melahirkan Islam. Tetapi estafet kepemimpinan berikutnya, sejarah membuktikan bergeser. Islam lahir di Mekah, terus pindah ke Madinah," terangnya.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dalam fakta sejarah, daerah yang menjadi pusat peradaban Islam memang berpindah-pindah.

"Selesai Khulafa'ur Rasyidin, pindah lagi ke Syiria, yaitu Bani Umayyah. Setelah itu, pindah lagi ke Baghdad setelah kekuasaan diambil alih oleh Abbasiyyah. Setelah itu, ke Turki Utsmani. Nah, saat ini Indonesia," pungkas Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah itu. []
(Redaksi RN)


* Sumber: detik.com
Read More

Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam


rumahnahdliyyin.com, Bantul - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Nasaruddin Umar, mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara penyelamat wajah Islam di dunia. Keramahan umat Islam Indonesia selama ini, menjadi penepis anggapan bahwa Islam itu mengerikan dan penuh kekerasan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah.

"Untung ada Indonesia. Seandainya tidak ada Indonesia, maka muka Islam ini mau dibawa ke mana. Pasti akan ada kesimpulan, agama Islam adalah agama teroris, agama kekerasan," tuturnya dalam Dialog Nasional di UMY, Minggu, 11 Maret 2018 ini.

Baca Juga:
Islam Bhinneka Tunggal Ika
Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kiai Nasaruddin juga menerangkan bahwa saat ini, Indonesia dianggap sebagai kebanggaan bagi negara-negara Islam. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi yang memberikan kemerdekaan penuh kepada warganya dalam beribadah.

"Dunia tidak bisa mengatakan Islam itu agama teroris. Buktinya, ada sebuah negara yang namanya Indonesia, yang peringkat demokrasinya tidak kalah dengan yang lain. Jadi, ini suatu bukti bahwa Islam itu bisa paralel dengan prinsip demokrasi, paralel dengan sistem keuangan modern," paparnya lagi.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Agama Tanpa Budaya

Kemudian, lanjutnya, Indonesia juga pararel dengan kesetaraan gender. Kaum perempuan juga bisa aktif berkegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

"Jadi, beruntunglah para perempuan di Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan Timur Tengah, yang mengisi pasar tradisional itu adalah laki-laki. Tapi sebaliknya di Indonesia, pasar tradisional itu didominasi perempuan," lanjutnya.

Merujuk dari kenyataan ini, menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, dapat disimpulkan bahwa meski bukan negara Islam, tetapi umat muslim di Indonesia diberikan kebebasan, keamanan, kenyamanan dan ketenteraman dalam beribadah. Terutama bagi kalangan muslimah yang diberikan kebebasan lebih di ruang-ruang publik.

Baca Juga:
Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak ISIS melakukan aksinya di Irak dan Suriah, Islam sebagai agama yang dikoar-koarkan oleh mereka pun mendapat sorotan negatif di mata dunia. Ditambah lagi dengan konflik-konflik antar negara di Timur Tengah yang tak kunjung usai, yang notabene para aktornya juga pemeluk Islam. []
(Redaksi RN)


* Sumber: detik.com
Read More

Jubir HTI Bungkam


rumahnahdliyyin.com - Kamis, 8 Maret 2018, adalah hari bersejarah bagi saya. Sebab, saya berhasil membungkam Juru Bicara (Jubir) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sdr. Ismail Yusanto, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jakarta Timur, terkait gugatan HTI terhadap keputusan Pemerintah yang membubarkan HTI.

Saya dihadirkan sebagai "saksi fakta". Dan saya sebut kesaksian saya ini sebagai palu godam bagi Hizbut Tahrir. Sebuah Partai Politik Internasional yang tujuannya ingin mendirikan Negara Khilafah, menghapus NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

Hizbut Tahrir adalah partai politik yang mengkafirkan semua negara di dunia ini meskipun penduduknya mayoritas muslim. Atau, meskipun negara itu sudah mengklaim mempraktekkan hukum Islam. Bagi Hizbut Tahrir, tidak ada satu "Negara Islam" pun di dunia saat ini. Semuanya masuk "Negara Kafir" (biladul-kufr).

Baca Juga:
Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama
UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Kesaksian saya yang menohok mereka dan menelanjangi mereka, berasal dari buku-buku utama mereka yang disebut al-kutub al-mutabannniyyah (buku-buku yang diadopsi) yang dijadikan sebagai sumber utama doktrin Negara Khilafah ala Hizbut Tahrir.

Kesaksian saya menjadi hadiah yang buruk bagi Partai Politik Internasional Hizbut Tahrir yang akan merayakan ulang tahunnya pada tanggal 14 Maret ini.

Hizbut Tahrir berdiri pada 14 Maret 1953. Tapi tepat enam hari sebelum Ultah Hizbut Tahrir, saya sudah memberikan kado yang membuat mereka marah dan panik. Sehingga, setelah kesaksian saya, mereka menyebarkan sebuah tulisan yang menuduh saya berbohong.

Andai saya benar berbohong, maka Majelis Hakim pasti akan mengatakan hal itu. Karena saya berhasil membungkam Jubir Hizbut Tahrir di Pengadilan dan mereka tak kuasa membela diri dari kesaksian saya di Pengadilan, maka mereka pun menyebarkan fitnah terhadap diri saya setelah Persidangan.

Mengapa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) marah dan menyebarkan fitnah? Karena saya berhasil membungkam Jubirnya di Persidangan.

Berikut catatan saya:

Saya dihadirkan di Pengadilan ini sebagai "saksi fakta" karena saat awal-awal saya studi di Al-Azhar, Cairo, Mesir, pada tahun 1998-1999, saya pernah ikut halaqoh/liqo'/pertemuan Hizbut Tahrir yang diselenggarakan di rumah kontrakan orang Indonesia di Cairo yang berinisial A selama 5 bulan.

Saya bersama kawan yang satu almamater Pesantren dengan saya, inisialnya N. Saat itu, kami diajak oleh "mentor" A mengkaji buku karya Taqiyudin An-Nabhani yang pertama, Nidhomul Islam. Mentor "A" seperti halnya saya, baru juga sampai di Mesir. Saya masuk Fakultas Ushuluddin, Al-Azhar, sedangkan "A" tidak bisa masuk kuliah karena tidak bisa bahasa Arab. Dia terdaftar di Ma'had untuk kursus Bahasa Arab.

Saat kajian buku Hizbut Tahrir, "A" menggunakan terjemahan bahasa Indonesia. Sementara saya bersama kawan saya, langsung membaca dari buku aslinya yang berbahasa Arab.

Baca Juga:
Demokrasi Mengembalikan Politik Islam Ke Jalur yang Benar
Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Selain buku Nidhomul Islam, karya utama Pendiri Hizbut Tahrir, Taqiyuddin An-Nabhani, yang didalamnya sudah dimuat UUD Negara Khilafah versi Hizbut Tahrir yang berisi 191 Pasal, kami juga membaca buku-buku mutabanni Hizbut Tahrir. Seperti Nidhomul Hukmi fil-Islam (syarah/penjelasan atas buku Nidhomul Islam oleh Abd. Qadim Zallum, Amir Hizbut Tahrir kedua, pengganti Taqiyuddin). Buku-buku Hizbut Tahrir yang lain juga, seperti Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Mafahim Siyasiyyah, dll. Buku-buku yang tergolong mudah dibaca karena tipis-tipis sekali (Nidhomul Islam, karya utama Taqiyuddin, hanya 142 halaman).

Tapi, ada Penulis yang memfitnah saya. Dia membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk memahaminya. Saya yakin, dia membaca buku ini (dia tidak bisa bahasa Arab) sambil kursus bahasa Arab. Makanya butuh waktu 1,5 tahun. Atau dia sampai sekarang tidak paham juga. Makanya dia masih ikut HTI seperti halnya tokoh-tokoh HTI yang rata-rata tidak bisa bahasa Arab dan lemah bahasa Arabnya, misalnya Jubirnya: Ismail Yusanto.

Selain pernah mengikuti liqo' Hizbut Tahrir dan membaca buku-buku mereka, saya juga mengikuti Hizbut Tahrir di milis-milis dan website mereka. Pernah bertemu beberapa kali juga dengan tokoh-tokoh mereka dalam diskusi di beberapa kota di Indonesia. Juga mengamati di televisi, media online dan media sosial mereka.

Penasehat Hukum dari Pemerintah, Ahmad Budi Yoga, yang saya tahu juga aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP. Ansor, bertanya kepada saya, "Mengapa hanya 5 bulan ikut Hizbut Tahrir?"

Saya menjawab: Karena saya ikut Opaba (Orientasi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diadakan oleh NU Mesir--saat itu masih bernama Keluarga Mahasiswa Nadlatul Ulama (KMNU) Mesir di paroh pertama tahun 1999.

Meskipun saya lahir dari keluarga NU, ayah saya punya pesantren NU di Situbondo, tapi inilah pengkaderan NU yang pernah saya ikuti. Dari pengkaderan itu, saya pun sadar bahwa ide Negara Khilafah Hizbut Tahrir bertentangan dengan sikap kebangsaan dan kenegaraan yang diputuskan oleh para alim-ulama dan Muktamar NU. Bahwa NU setia pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Tidak pernah terlibat dalam pemberontakan, karena ulama-ulama NU ikut mendirikan Negara ini. 'Indonesia adalah warisan ulama NU'.

Dalam konteks saat itu juga, saya juga seorang "pengembara intelekual" yang membaca semua buku-buku kelompok Islam. Dari Hizbut Tahrir, Ikhwan Muslimin (dengan tokohnya Muhammad Al-Ghazali dan Yusuf Al-Qardlawi), reformis modernis (Muhammad Abduh), karya-karya Hasan Hanafi, Abid Al-Jabiri, Ahmad Khalafullah, Bint Syathi', Qasim Amin, Thaha Husain, dll.

Tapi yang pasti, saya mulai tidak tertarik ide Khilafah Hizbut Tahrir karena isinya hanya dogma, bukan diskusi. Isinya propaganda, bukan kajian kritis. Untuk semua persoalan yang dibahas, jawabannya cuma satu: Khilafah. Apapun masalahnya, jawabannya: Khilafah.

Saya masih ingat buletin-buletin HTI di era SBY yang membahas kenaikan listrik dan BBM. Proyek yang mangkrak dan investasi asing, semua solusinya: Khilafah.

Baca Juga:
Berhukum Dengan Selain Hukum Allah
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Dalam pertemuan Hizbut Tahrir, tidak boleh membaca kitab-kitab lain. Semuanya harus membaca buku-buku mutabanni/adopsi/standar yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir. Jadi, yang ikut Hizbut Tahrir tidak akan dapat perbandingan. Padahal di NU Mesir, saat itu sedang maraknya pembahasan kebangkitan pemikiran Islam dan Arab di Timur Tengah.

Kembali ke Pengadilan:
Kemudian saya ditanya, "Menurut Anda, apa itu Hizbut Tahrir?"

Saya jawab: Ta'rif (definisi/tentang) Hizbut Tahrir yang mereka tulis sendiri di buku Ta'rif yang masuk dalam list buku-buku utama mereka, saya kutipkan teks aslinya dalam bahasa Arab (karena bahasa resmi dan buku asli Hizbut Tahrir adalah Arab). Kutipan Arab ini, saya hafal dan saya lafalkan di Pengadilan di depan Majelis Hakim:

"Hizbut Tahrir hizbun siyasiun, mabda'uhu al-Islam, as-siyasah 'amaluhu wal-Islamu mabda'uhu, wa huwa ya'malu baynal-ummah wa ma'aha li tattakhidal-Islam qadliyatan laha, wa liyuquduha li i'adatil-khilafah wal-hukmi bima anzalallahu ilal-wujud. Hizbut Tahrir takattulun siyasiyun, wa laysa takattulan ruhiyan, wa laya takattulan ilmiyah, wa laysa takattulan ta'limiyah wa laysa takattulan khairiyah...."

Hizbut Tahrir adalah partai politik yang ideologinya adalah Islam. Politik aktivitasnya, Islam ideologinya dan ia beraktivitas diantara umat dan bersamanya untuk menjadikan Islam sebagai topik utama serta memimpin ummat untuk mengembalikan Khilafah dan hukum yang diturunkan oleh Allah. Hizbut Tahrir adalah organisasi politik, bukan organisasi spiritual (seperti tarekat), bukan organisasi ilmiah/akademik (seperti lembaga riset), bukan organisasi pengajaran (seperti madrasah, universitas, sekolah), bukan organisasi sosial kemasyarakatan (yang melayani sosial, ekonomi, pendidikan dan kemaslahatan masyarakat).

Ta'rif diatas terdapat pada halaman empat dari buku Ta'rif (Definisi Hizbut Tahrir) yang dikeluarkan resmi oleh Hizbut Tahrir Internasional, 29 Naisan (April) 2010.

Hizbut Tahrir juga mempolitisir ayat 104 dalam Surat Ali Imron (Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung) yang maknanya dimutlakkan "pendirian partai politik" (hizbun siyasiyun), yakni: Hizbut Tahrir. Ini terdapat pada halaman tujuh dari buku Ta'rif Hizbut Tahrir.

Padahal, selama saya membaca buku-buku tafsir, baik yang klasik hingga kontemporer, tidak ada penafsir yang memaknai ayat 104 Ali Imron ini untuk mendirikan partai politik. Ayat ini malah menginspirasi komunitas-komunitas muslim untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran melalu pendirian lembaga-lembaga sosial dan pelayanan masyarakat (seperti pendidikan, santunan, ekonomi, kesejahteraan, dll).

Tapi, Hizbut Tahrir dalam buku Ta'rif halaman 13, malah meremehkan organisasi layanan masyarakat dengan mengatakan: "mereka memandang untuk mengembalikan Islam dengan membangun masjid-masjid, menerbitkan karya-karya, mendirikan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, dengan pendidikan akhlaq, mereformasi individu..."

Dari apa yang ditulis oleh Hizbut Tahrir, jelas-jelas sekali bahwa Hizbut Tahrir Bukan Ormas, Tapi Partai Politik. Bukan ormas yang melayani kemaslahatan masyarakat karena Hizbut Tahrir nyinyir pada ormas-ormas yang melayani masyarakat (seperti NU, Muhammadiyah, dll).

Karena aktivitas Hizbut Tahrir adalah politik, oleh karena itu, Hizbut Tahrir (HTI) di Indonesia tidak pernah membangun masjid, madrasah, pesantren, universitas, rumah sakit, layanan sosial, dll. Sebab, bagi Hizbut Tahrir, hal ini tidak penting.

Baca Juga:
Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Saya juga ditanya, "Bagaimana dengan Hizbut Tahrir di Mesir?"

Saya jawab: Saya tidak tahu, tidak pernah bertemu dengan orang Mesir yang anggota Hizbut Tahrir. Karena saya tahu Hizbut Tahrir dilarang di Mesir. Kalau saya ketahuan ikut Hizbut Tahrir, saya bisa ditangkap Amn Daulah/State Security dan di-tarhil/dideportasi.

Dan saya lihat di Mesir, Hizbut Tahrir juga tidak laku. Tidak seperti di Indonesia. Yang saya lihat di Mesir, yang banyak adalah Ikhwan Muslimin. Tapi waktu itu, mereka masih Ormas yang punya lembaga sosial kemasyarakatan, santunan, dll.

Saya juga ditanya, "Apa selama ikut pengajian Hizbut Tahrir ada pengajian Al-Quran atau Hadits-Hadits?"

Saya jawab: Tidak, karena yang dikaji hanyalah buku-buku mutabanni (buku adopsian) Hizbut Tahrir.

Saya juga ditanya, "Dalam pengamatan anda, adakah ormas-ormas yang menolak Hizbut Tahrir?"

Saya jawab: Ada, seperti Banser-Ansor NU, Pemuda Pancasila dan ormas-ormas yang lain."

Hizbut Tahrir dan Pengkafiran

Hizbut Tahrir, dalam buku Ta'rif, mengkafirkan semua negara saat ini yang ada di dunia, meskipun mayoritas penduduknya muslim. Bagi Hizbut Tahrir, jenis negara cuma dua: Negara Islam (Darul-Islam) dan Darul-Kufr (Negara Kafir).

Dihalaman 14 ditulis: "Negara dimana kita hidup saat ini, meskipun mayoritas penduduknya muslim, tapi tetap disebut "Negara Kafir" menurut istilah syari'at. Karena, negara ini menjalankan "Hukum Kafir"."

Istilah "Negara Kafir" (Darul-Kufr) ini mendominasi di buku-buku Hizbut Tahrir.
Di halaman 95 buku Ta'rif, Hizbut Tahrir menegaskan: "Dan di negeri muslim saat ini, tidak ada negeri atau negara yang menjalankan hukum Islam dalam pemerintahan dan urusan kehidupan lainnya. Oleh karena itu disebut sebagai "Negara Kafir" meskipun penduduknya kebanyakan muslim."

Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Iran, Brunei, Arab Saudi, Emirat, Qatar, Kuwait, Oman, Tunisia, Maroko, semuanya "Negara Kafir" bagi Hizbut Tahrir. Sampai Makkah dan Madinah pun tetap masuk "Negeri Kafir" bagi Hizbut Tahrir. Karena, tidak ada satu pun negeri dan negara yang menjalankan hukum Islam menurut Hizbut Tahrir.

Baca Juga:
Bahaya Berjihad Demi Syahwat
Tidak Perlu Menanggapi Berita Provokatif

Membungkam Jubir HTI

Setelah mengutip buku-buku Hizbut Tahrir, saya mau menceritakan bagaimana saya membungkam Jubir HTI. Jubir HTI bertanya kepada saya, "Kata anda, dalam pertemuan di Hizbut Tahrir tidak dibahas Al-Quran?"

Kemudian Jubir HTI tergopoh-gopoh mencari buku Nidhomul Islam yang ternyata terjemahan bahasa Indonesia ke Majelis Hakim ingin menunjukkan permulaan pembahasan buku itu dari ayat 11 Surat Ar-Ra'd:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah dengan diri mereka sendiri."

Jubir HTI tampak gusar. Sampai mengingatkan soal ancaman kesaksian palsu kepada saya.

Saya hanya tersenyum. Jubir HTI ini gagal paham. Saya sampaikan klarifikasi ke Majelis Hakim, "Yang saya maksud pengkajian Al-Qur'an adalah membaca Al-Qur'an dengan tafsirnya. Apa itu Tafsir Jalalayn, Tafsir Thobari, Ibnu Katsir, dll. Kalau Hadits, ya, mengkaji Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Turmudzi, Buluqhul Marom, dan lain-lain kajian kitab-kitab Fiqih seperti di Pesantren. Ini yang tidak ada di Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir hanya mengkaji buku-buku mereka sendiri."

Jubir HTI pun bungkam.

Mau membela diri soal pembagian "Negara Kafir" dan "Negara Muslim", Jubir HTI mengutip pendapat Abdul Wahhab Khallaf dalam bukunya As-Siyasah Asy-Syar'iyyah (saya yakin, itu buku terjemahannya. Saya sendiri sudah khatam versi Arabnya saat di Mesir).

Kata Jubir HTI, "Ini Abdul Wahhab Khallaf menulis juga pembagian "Negara Islam" dan "Negara Kafir".

Saya tanggapi, "Mohon izin, Yang Mulia Majelis Hakim. Boleh saya tanggapi?"

Hakim mengangguk.

"Syaikh Abdul Wahhab Khallaf adalah ulama Mesir. Saya membaca kitab-kitab beliau. Dalam kitab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah, perbedaan "Negara Kafir" dan "Negara Islam" itu penjelasan teoritis dan akademis dalam perdebatan ilmu politik Islam, ushul fiqih dan syari'at Islam. Tapi Syaikh Abdul Wahhab Khallaf sebagai orang Mesir, sangat mencintai negaranya, Mesir. Tidak pernah mengkafirkan negaranya. Tidak seperti Hizbut Tahrir yang mengkafirkan negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim saat ini."

Jubir HTI bungkam. Tidak bisa melanjutkan debat.

Kemudian Jubir HTI ngeles, "Apakah Anda pernah mendengar orang HTI mengkafirkan muslim yang lain?"

Saya jawab, "Yang dikafirkan oleh Hizbut Tahrir itu negara-negara dimana jutaan dan milyaran muslim hidup. Apa ini tidak lebih parah?"

Lagi-lagi, Jubir HTI bungkam.

Jubir HTI, "Anda tadi bilang, selain Banser, ada Pemuda Pancasila yang menolak HTI. Apa punya bukti? Saya ketemu Pak Yapto gak ada masalah."

Saya jawab, "Saya punya bukti yang saya baca di media online dan penolakan Pemuda Pancasila terhadap HTI."

Karena dalam Pengadilan saya tidak membawa capture berita-berita selain Banser, Ansor dan Pemuda Pancasila yang menolak HTI, saya buktikan disini:
Pemuda Pancasila Mendukung Pemerintah Membubarkan HTI: http://www.seputarbanten.com/2017/05/pemuda-pancasila-mendukung-pemerintah.html?m=1

MUI dan 21 Organisasi menolak Ideologi HTI. Ormas-ormas itu diantaranya yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malut, Muhammadiyah Kota Ternate, KBPP Polri, GP. Ansor Kota Ternate, FKPPI, Pemuda Pancasila, KNPI, GMNI, HMI, KAMMI, IMM Ternate dan Ormas, OKP serta LSM lainnya: https://m.jpnn.com/news/mui-dan-21-organisasi-tolak-ideologi-hti

Pemuda Pancasila Banten Tolak HTI: https://m.youtube.com/watch?v=NVuHmv_d478 (video)

Dan silakan cari sendiri jejak-jejak digital penolakan Pemuda Pancasila terhadap HTI.

Kemudian, Jubir HTI tanya lagi, "Apa Saudara tahu, Pengurus Pusat NU...."

Saya potong, "Pengurus Besar, bukan Pusat, PBNU..."

Jubir HTI, "Iya, Pengurus Besar NU, KH. Said Aqil, Bendara Umum, dalam pertemuan dengan saya mendukung HTI?"

Pertanyaan Jubir HTI ini diprotes oleh Penasehat Hukum dari LBH Ansor, "Anda kalau berbicara harus berdasarkan bukti. Jangan klaim sudah bertemu dengan KH. Said Aqil, Ketua Umum PBNU. Mengklaim-klaim gitu."

Jubir HTI bungkam.

Saya malah komentar, "Tidak ada dukungan KH. Said Aqil atau PBNU, atau NU kepada HTI. Kiai Said mendukung pembubaran HTI karena NU setia pada Republik ini. PBNU itu: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945."

Dan Jubir HTI pun tetap bungkam.

Demikian catatan dan kesaksian dari saya. Semoga Allah SWT. mencatatnya sebagai amal jariyah untuk pembelaan negeri ini yang kemerdekaannya dibela dengan perjuangan rakyat Indonesia: khususnya kaum muslimin, para santri, alim-ulama, yang mengorbankan nyawa mereka untuk Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah sidang, telinga saya berdengung lagu Ya Lal Wathon yang dikarang oleh KH. Wahab Chasbullah sebagai bentuk cinta negeri dan patriotisme yang bersumber dari iman Islami:

ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطَنْ
Ya lalwathon, ya lalwathon, ya lalwathon

حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ
Hubbul-wathon minal-iman

وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ
Wala takun minal-hirman

اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ
Inhadlu ahlal-wathon

اِندُونيْسِياَ بِلاَدى
Indonesia biladi

أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ
Anta ‘unwanul-fakhoma

كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ
Kullu mayya’tika yauma

طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا
Thomihayyalqo himama

Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah hai bangsaku

Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah hai bangsaku

Indonesia negeriku
Engkau panji martabatku
Siapa datang mengancammu
Kan binasa dibawah durimu

Wallahul-muwaffiq Ila aqwamith-thoriq


* Oleh: Mohamad Guntur Romli
Read More

Sembilan Rekomendasi Silatnas ke-VI Alsyami


rumahnahdliyyin.com, Medan - Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami), yang menghimpun eks-pelajar dan mahasiswa Suriah asal Indonesia, telah menyelenggarakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) ke-6, pada tanggal 9-11 Maret 2018, di hotel Al-Munawwarah Asrama Haji Kota Medan, Sumatera Utara.

Baca Juga: Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax

Diikuti oleh 250 alumni Suriah dari seluruh Indonesia, forum silaturrahim yang membahas isu-isu strategis keagamaan (diniyyah), kebangsaan (wathoniyyah) dan kemanusiaan (insaniyyah) ini mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut:

  1. Mengajak tokoh-tokoh agama, utamanya yang pernah belajar di Timur Tengah, untuk meningkatkan dan mengokohkan gerakan moderasi agama yang rahmatan lil-‘alamin dan secara bersama-sama memerangi pemikiran ekstrem dan radikal. Termasuk, segala tindak kriminal yang berbungkus atau mengatasnamakan agama. Terutama, ujaran kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan yang mengkhianati nilai-nilai luhur keagamaan dan kemanusiaan.
  2. Menyerukan kepada masyarakat supaya selektif dalam memilih guru atau mempersepsi ulama/ustadz dan bersikap hati-hati dalam menerima informasi keagamaan yang bersumber dari media sosial/internet. Sebab, pembelajaran agama yang sempurna adalah yang didapat dari guru yang bersanad secara talaqi dan informasi keagamaan harus merujuk sumber-sumber yang otoritatif dengan memperhatikan konteks kultural masyarakat setempat.
  3. Menyarankan ormas-ormas Islam supaya memperkuat jejaring Islam wasathi (moderat) yang merupakan jalan As-Sawad Al-A’dhom (mayoritas) umat Islam dunia, memperhatikan perkembangan aliran keagamaan dan mengembangkan sistem respon dini terhadap ideologi aliran keagamaan yang membahayakan aqidah, persatuan dan kesatuan bangsa.
  4. Meminta kepada pemerintah untuk bersikap tegas mengatasi persoalan radikalisme dan tidak tunduk kepada tekanan kelompok radikal. Karena itu, diperlukan langkah yang komprehensif. Termasuk, dengan memperkuat payung hukum penanganan radikalisme-terorisme dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan.
  5. Menghimbau praktisi politik untuk berhenti menggunakan sentimen agama dalam pertarungan politik praktis, karena dampaknya yang amat destruktif dan dapat mengoyak kelangsungan hidup bangsa.
  6. Meminta kepada pemerintah untuk pro-aktif dalam menyikapi dinamika geo-politik negara-negara yang mayoritas muslim. Terutama krisis Yaman, selain Palestina, Rohingya dan Suriah. Selain itu, juga supaya mendukung Arab Saudi untuk kembali ke Islam moderat dan mengajaknya bekerja sama untuk mewujudkan dialog yang sehat dengan aktor negara regional demi perdamaian dan harmoni Timur Tengah.
  7. Mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menyalurkan donasi ke lembaga yang mengaku akan menyalurkannya kepada masyarakat tertimpa krisis atau konflik. Teliti kredibilitas, reputasi dan prosedur penyalurannya. Penyaluran donasi ke lembaga yang salah hanya akan menguntungkan lembaga penerima dan berpotensi menjadi sumber pendanaan konflik.
  8. Memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah melalui kemitraan dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus Suriah, di bawah koordinasi Sdr. Ade Widodo (+6287873661717).
  9. Menegaskan posisi Alsyami sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun dan merawat umat dan bangsa.


Medan, 11 Maret 2018.
Ttd.
Pengurus Pusat Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami)


Narahubung: +6281938299525 (Sdr. Najih). []
Read More

Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i


rumahnahdliyyin.com - Namanya Rafael. Tapi itu dulu. Dulu, sebelum ia tiap hari menyambangi masjid. Dulu, sebelum ia mengerjakan ibadah yang namanya sholat. Dulu, sebelum ia menyatakan diri sebagai seorang muslim dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat.

"Ustadz Syafi'i bicara pada saya: kau punya nama sekarang Rifa'i, sudah. Saya Syafi'i, kau Rifa'i," ucapnya pada saya yang disertai senyum-senyum menirukan perkataan ustadz Syafi'i.

Ustadz Syafi'i adalah ustadz yang menuntun Rafael membaca dua kalimat syahadat. Beliau pulalah yang mengganti nama Rafael menjadi Rifa'i. Meskipun hanya sebuah nama, namun hal ini merupakan fase bersejarah yang sangat penting dan paling bermakna bagi Rifa'i. Sebab, sejak dari sinilah fase kehidupannya sebagai seorang muslim baru dimulai.

Tak berselang lama kemudian, pria yang telah membaca syahadat di salah satu masjid di Merauke ini pun melaksanakan khitan. Meski waktu itu usia Rifa'i sudah 20-an tahun, namun ia tak merasa ada beban untuk melaksanakan khitan.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Rifa'i merupakan pria kelahiran distrik Atsi. Dulu, Atsi termasuk dalam Kab. Merauke. Tapi, sejak pemekaran pada tahun 2004, distrik Atsi kini masuk dalam wilayah Kab. Asmat.

Sebagai distrik yang tergolong pedalaman, jarang ada penduduk asli Atsi yang berpendidikan tinggi. Karenanya, banyak tenaga-tenaga pendidik dan kesehatan yang bertugas disana berasal dari luar. Dan Rifa'i mengenal salah satu dari mereka. Yaitu seorang suster dari Jawa.

Dari perkenalan inilah kemudian Rifa'i diajak suster tersebut pergi ke Merauke. Kendati asli orang Jawa, orang tua si suster tersebut juga memiliki rumah dan tinggal di Merauke. Oleh orang tua suster tersebut, akhirnya Rifa'i diangkat menjadi anak. Dan singkat cerita, di Merauke inilah Rifa'i menyatakan diri sebagai muslim.

"Bapak, saya ingin masuk Islam," ucap Rifa'i pada bapak angkatnya waktu itu.

Baca Juga:
Kiai Said Tuntun Syahadat Warga Amerika
Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf
Kiai Said Tuntun Seorang Agnostik Amerika Masuk Islam

Kendati seorang muslim, bapak angkat Rifa'i tidak lantas meloloskan begitu saja keinginan Rifa'i. Bapak angkatnya bilang bahwa Islam itu bukan agama main-main. Jadi, ia meminta Rifa'i untuk tidak usah pindah ke agama Islam.

Larangan orang tua angkat Rifa'i, ternyata tidak menyurutkan niatnya. Berulang-ulang ia sampaikan pada orang tua angkatnya itu bahwa ia tidak sedang main-main. Ia serius.

Setelah orang tua angkatnya berhasil diyakinkan, akhirnya diajaklah Rifa'i untuk menemui seorang ustadz setempat, yaitu ustadz Syafi'i. Bertempat di salah satu masjid di Merauke, akhirnya berlangsunglah pengikraran dua kalimat syahadat oleh Rifa'i atau Rafael yang dibimbing oleh ustadz Syafi'i.

"Saya sering menangis di dalam Gereja. Di depan (patung) Yesus, saya sering menangis sambil meminta supaya Tuhan memberikan firdaus (surga)," terangnya pada saya ketika saya menanyakan bagaimana hidayah Islam datang padanya.

Kebiasaan Rifa'i menangis di depan patung Yesus di dalam Gereja ini, berlangsung lama. Baik selama ia masih berada di Atsi, maupun ketika ia sudah berada di Merauke. Tidak ada sesuatu atau kejadian khusus lainnya yang menuntun Rifa'i dalam perjalanannya merengkuh hidayah Islam selain hal tersebut.

Memang, jalan menuju hidayah Islam itu macam-macam. Kendati demikian, bila Allah SWT. sudah menghendaki siapa saja untuk memeluk Islam, pasti itu akan terjadi walaupun tanpa ada proses yang berjalan.

انّ الله يهدى من يشاء

Akhirnya, pria yang kini tinggal di distrik Agats, Asmat, Papua itu, kini juga aktif mensyiarkan Islam di beberapa daerah di tanah Papua bersama Jama'ah Tablighnya. []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Inflasi Ulama


rumahnahdliyyin.com - Dalam kondisi tercabik perang saudara dan dalam durasi tidak sampai satu bulan, Yaman kehilangan tiga ulamanya. Belum lama ditinggal wafat Al-Habib Salim Asy-Syathiri pada pertengahan Februari, di awal bulan ini, Al-Habib Idrus Bin Sumaith syahid di atas sajadahnya. Beliau dibunuh teroris, 3 Maret silam.

Dua hari berselang, seorang ulama zahid yang dijuluki 'Ainu Tarim (matanya Kota Tarim), Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Bin Syihab, menyusul dua sahabatnya. Tidak sampai satu bulan, Tarim, Hadramaut kehilangan permata ilmunya. Ketiga ulama ini masyhur ketajaman mata hatinya dan menjadi punjer-nya Yaman.

Baca Juga:
Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Di awal Maret ini pula, KH. R. Abd Hafidz bin Abdul Qadir Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, berpulang ke hadirat-Nya. Ulama sederhana, yang menjadi penjaga wahyu sebagaimana ayah dan kakeknya.

Satu per satu tiang pancang ilmu dirobohkan oleh Allah SWT. Kita bersedih bukan hanya karena ditinggalkan beliau-beliau. Melainkan karena kita tidak mampu menyerap gelontoran ilmu saat beliau-beliau masih hidup. Kita juga bersedih bukan hanya semakin sedikitnya stok ulama. Melainkan karena kewafatan beliau-beliau, meninggalkan generasi yang rapuh seperti saya, dan mungkin juga anda. Wafatnya beliau-beliau menjadi penanda apabila satu ulama berpulang, ikut pula keilmuan yang dimiliki.

Ibaratnya dalam dunia sepakbola, satu pemain pensiun, tidak akan bisa digantikan oleh pemain dengan kualitas yang setara. Pele, Maradona, Zidane, tidak akan bisa digantikan oleh Messi, Ronaldo, Mohammed Salah dan sebagainya. Kemampuan mereka genuine, tidak bisa dikloning dan tidak bisa di-kopipaste. Semua punya karakter dan kemampuan yang khas.

Demikian pula dalam dunia ulama. Satu orang KH. Hasyim Asy'ari, tidak bisa ditiru oleh KH. Hasyim Muzadi. Keduanya punya karakter, keilmuan dan gaya yang khas.

Di sinilah barangkali alasan mengapa dalam kitabnya, Tanqihul Qaul, Syaikh Nawawi Al-Bantani menukil sabda Rasulullah SAW. yang termuat dalam Lubabul Hadits-nya Imam As-Suyuthi bahwa diantara tanda orang munafik adalah tidak bersedih atas wafatnya seorang ulama (Baginda SAW. mengucapkan "munafik" sebanyak tiga kali).

Kalau kita biasa-biasa saja, merasa wajar atas robohnya tiang rumah kita, berarti ada yang eror dalam pribadi kita. Demikian pula ketika ada tiang pancang dunia bernama ulama yang wafat dan kita santai, tidak menampakkan simpati, mungkin ada sesuatu yang hilang dari kita. Jangan-jangan, kita bagian dari kaum munafik itu? WaLlâhu a'lam.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Madzhab Gantung Kaki

Karena itu, mengingat gentingnya kewafatan para ulama, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, dalam Al-Manhajus Sawi, membuat penjelasan tersendiri. Dengan mengutip pendapat Imam Baghowi dalam tafsirnya, Habib Zain memuat QS. Ar-Ra'd ayat 41 (dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?) dengan memaknai apabila "pengurangan" dalam ayat ini bermakna kematian para ulama dan hilangnya ahli fiqh.

Begitu berharganya seorang ulama hingga dalam kitab ini pula Habib Zain mengutip kalimat Sayyidina 'Abdullah ibnu Mas'ud radliyaLlâhu 'anhu bahwa kematian seorang ulama adalah lubang dalam Islam dan tidak ada yang bisa menambalnya sepanjang siang dan malam. Oleh karena itu, kata Ibnu Mas'ud, carilah ilmu sebelum dicabut. Dan, ilmu dicabut dengan kematian orang-orangnya.

Demikian gawatnya kewafatan seorang ulama hingga Sayyidina 'Ali karramaLlâhu wajhah juga menganalogikannya dengan telapak tangan. Apabila dipotong salah satunya, maka tidak bisa tumbuh kembali.

Demikian beberapa keterangan yang termuat dalam Al-Manhajus Sawi karya Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.

***

Dalam Konferensi Dakwah yang dihelat di Magelang, 1 Oktober 1951, KH. A. Wahid Hasyim melontarkan statemen keras bahwa saat itu sebutan ulama sudah mengalami inflasi. Inflasi tersebut, menurut Kiai Wahid, diakibatkan dari banyaknya ulama "palsu" yang beredar sebagaimana inflasi dalam bidang ekonomi karena banyaknya peredaran uang palsu.

Banyak orang yang disebut ulama hanya untuk menunjukkan bahwa menjadi ulama itu tidak sulit. Meskipun pengetahuan keagamaan mereka dangkal, tetapi mereka dipandang sebagai pemimpin Islam. Mereka justru malah memimpin para ulama yang sesungguhnya. Bahkan, membatasi ruang geraknya.

Statemen kiai Wahid Hasyim diatas, dikemukakan kembali oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Jika di era 1950-an saja kiai Wahid menilai seperti itu, lantas bagaimana dengan kondisi sekarang. Dimana selain banyak yang mendaku diri sebagai ulama, juga ada yang berlagak mujtahid mutlak yang dengan songong dan sombong bilang tidak perlu merujuk pendapat otoritatif para ulama, cukup merujuk pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Benarlah jika demikian, kewafatan para ulama ternyata juga memunculkan generasi yang tidak tahu diri karena terlalu tinggi menilai kualitas dirinya.

WaLlâhu a'lam bishshowâb.


* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya.
Read More

Madzhab Gantung Kaki


rumahnahdliyyin.com - Ini pengalaman KH. Mansur Adnan, salah satu Syuriah PWNU Jatim pada tahun 1980-an, sewaktu beliau diundang ceramah di daerah Malang Selatan yang terkenal tandus dan langka air.

Ketika itu, kiai Mansur mampir di sebuah musholla untuk sholat isya'. Waktu mengambil air wudlu' di pancuran, air mengalir sangat kecil. Beruntung tidak habis sampai ia sempurna berwudlu'.

Waktu itu, sholat jama'ah sudah masbuq (ketinggalan). Setelah kiai Mansur mendapat satu roka'at, ada seseorang menyusul sholat di samping kanannya. Pada waktu ruku', orang tadi nyaris jatuh. Tapi beruntung, tertahan oleh kiai Mansur.

Waktu kiai Mansur sudah salam, orang di sisi kanan tadi masih melanjutkan sholatnya. Tapi, kiai Mansur heran. Orang itu ternyata hanya berdiri dengan satu kaki, yaitu kaki kanannya.

"Oh, mungkin kaki kirinya sakit. Makanya tadi hampir jatuh," batin kiai Mansur.

Setelah sholatnya selesai, sambil saling memperkenalkan diri, kiai Mansur bertanya basa-basi.

"Tadi waktu sholat, kaki kirinya kok diangkat, apa sedang sakit?"

"Tidak, kiai. Tadi waktu wudlu', saya kehabisan air ketika tinggal membasuh kaki kiri. Jadi, kaki kiri saya tidak bisa ikut sholat," jawab pria itu dengan lugunya.

Oooo… Mendengar jawaban polos tadi, kiai Mansur tidak jadi menegur. Hanya membatin: Ternyata ada madzhab baru. Namanya "Madzhab Gantung Kaki". []


* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More

Politiknya Kiai


rumahnahdliyyin.com - Kiai itu bukan cendekiawan yang–seperti ditamsilkan oleh Arief Budiman—berumah di angin. Pergulatan ilmiah memang menempati satu ruang istimewa dalam perihidup kiai. Tapi bukan yang paling banyak menyita energinya.

Melanjutkan tradisi yang telah dimapankan sejak era Wali Songo, sosok kiai hadir terutama sebagai missionaris. Dalam perkembangan kiprahnya, kiai beserta para pengikutnya membangun komunitas tersendiri yang independen–oleh Gus Dur digambarkan sebagai subkultur dimana kiai kemudian tegak sebagai pemimpin paripurna.

Ia mengayomi kehidupan rohani pengikut-pengikutnya, sekaligus menggeluti segala tungkus-lumus duniawi mereka. Ia mewakili, memakelari dan seringkali harus mengkonsolidasikan mereka untuk “menghadapi dunia luar”.

Dalam konteks ini, jelaslah bahwa kiai, pada dasarnya, juga pemimpin politik. Sepanjang sejarah, kiai senantiasa menjadi pengimbang (counterfailing-elite) terhadap para penguasa keraton.

Baca Juga: Mengapa Indonesia Tidak Mau Negara Islam

Catatan Sartono Kartodirdjo, bahkan lebih menegaskan lagi fungsi kepemimpinan politik kiai: pada sekitar 600 kali pemberontakan petani melawan VOC selama abad ke-19, hampir seluruhnya diprakarsai oleh gerakan-gerakan tarekat, dimotivasi dengan seruan-seruan agama dan dipimpin oleh… kiai! Ketika komunitas disekitar kiai mengalami tekanan dari luar, fungsi kepemimpinannya menuntutnya untuk tidak tinggal diam.

Semua analisis sosiologi dan ekonomi menyatakan bahwa dibawah rezim kapitalis moderen, komunitas-komunitas lokal semakin tertekan. Politik ekonomi negara justru cenderung mempersempit ruang gerak mereka. Lebih-lebih setelah globalisasi, dimana negara sendiri tertekan oleh kekuatan-kekuatan raksasa global, komunitas-komunitas lokal kian lantak.

Ditengah situasi ini, bukankah peran politik kiai sebagai pemimpin lokal semakin relevan? Bahkan, cukup banyak kiai masa kini yang semangat berpolitiknya tumbuh justru karena masih diliputi “romantisme peran kepemimpinan masa lalu” itu.

Hanya saja, kiprah politik kiai dewasa ini memang menunjukkan tanda-tanda “dekaden”. Pengaruhnya memudar. Langkah-langkahnya rombeng dan tumpul. Pilihan-pilihannya ceroboh. Sasaran-sasarannya "remeh". Tak heran jika sebagian orang menjadi jemu dibuatnya. Kemudian menyerukan agar kai-kiai berhenti saja dari mengurusi politik.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Dekadensi itu berakar pada sekurang-kurangnya sejumlah faktor berikut:
Pertama, wawasan politik kiai belum juga beranjak dari wacana kitab kuning. Dalam wacana kepustakaan klasik pesantren itu, kekuasaan hanya dikaitkan dengan jabatan (imaamah). Maka, yang dibicarakan hanya seputar kriteria normatif calon pejabat (imaam), tata-cara mendaulat pejabat (nashbul imaam) dan etika kepejabatan atau panduan akhlaq untuk pejabat.

Politik memang soal kekuasaan. Tak ada politik tanpa keterkaitan dengan kekuasaan. Masalahnya, kebanyakan kiai belum menyadari adanya wujud-wujud kekuasaan selain jabatan. Yang tampak dari kiprah politik mereka nyaris seluruhnya berkutat diseputar dukung-mendukung calon pejabat di berbagai cabang dan tingkat pemerintahan.

Kiai belum cukup memahami kekuasaan dalam wujud kekuatan kelompok penekan. Dalam wujud penguasaan sumberdaya-sumberdaya ekonomi, alam dan manusia. Dalam wujud jaringan kepentingan dan sebagainya. Memahami saja belum, apalagi memainkannya secara kreatif.

Kedua, gerusan peradaban global telah meruntuhkan batas-batas komunitas independen yang menjadi keratonnya kiai di masa lalu.

Kini, praktis kerajaan kiai hanya setakat pagar batas pesantrennya saja. Intensitas pergulatannya dengan masyarakat diluar pagar itu berkurang. Kalaupun masih ada ikatan khusus dengan kelompok-kelompok tertentu, posisi-pusat kiai lebih berwatak selebritas ketimbang kepemimpinan langsung.

Dengan sendirinya, penghayatan kiai terhadap kepentingan komunitas lokal pun berkurang. “Kepentingan sempit” dari lembaga pondok-pesantren miliknya sendiri semakin mendominasi motivasi politik kiai. Kalaupun ada agitasi tentang kepentingan yang luas, tema dan argumennya malah bersifat abstrak seperti: membela agama, anti-komunis, anti-liberal, anti-ahmadiyah, anti-porno dan sebagainya. Kepentingan riil dari komunitas lokal terlewati.

Celakanya, gagasan-gagasan abstrak yang akhir-akhir ini digemari sejumlah kiai itu–walaupun mungkin populer di media massa—justru oleh rakyat banyak tak dirasakan relevansinya dengan masalah-masalah nyata kehidupan mereka. Kiprah politik kiai pun kian teralienasi dari lingkungannya.

Ketiga, kemiskinan yang merajalela dan kehidupan ekonomi yang semakin sulit telah merontokkan nilai luhur dan ideologi dari daftar motivasi politik rakyat. Masa depan yang terasa gelap membuat mereka tak acuh pada kepentingan jangka panjang. Barangsiapa memberi sedikit kenyamanan untuk hari ini–bukan janji besok, apalagi masa depan yang jauh—kepadanyalah mereka berpihak. Bahkan agama itu sendiri kian tersingkir dari pusat pergulatan hidup mereka.

Jangan-jangan, merebaknya minat terhadap agama dewasa ini bukan demi agama itu sendiri. Yang terasa justru kesan bahwa masyarakat memburu agama seperti orang sakit mencari pengobatan alternatif: jalan pintas untuk keluar dari kesulitan.

Sambutan antusias terhadap seruan bersedekah tidak didorong oleh rasa keagamaan dan solidaritas sosial yang menguat, tapi oleh motivasi untuk memperoleh ganjaran rizqi yang berlipat dari yang telah dikeluarkan. Kiai dihayati sebagai dukun, politik uang diterima dengan riang-gembira.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Jelas bahwa yang menjadi masalah bukan keterlibatan kiai dalam politik, tapi kualitasnya. Menyerah dan menarik diri dari politik, justru berarti putus asa.

Tantangan kiai adalah bagaimana memperkaya wawasan, memperdalam intensitas keterlibatan dengan kepentingan-kepentingan kaum lemah dan mengasah kreatifitas dan keterampilan dalam memberdayakan dan memanfaatkan instrumen-instrumen politik yang lebih beragam.


* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.
Read More