Rakernas CSNU


rumahnahdliyyin.com, Probolinggo - CSNU (Computer Society of Nahdlatul Ulama), yang didirikan pada bulan April 2016, merupakan asosiasi dosen dan praktisi dibidang komputer yang berafiliasi kepada NU. Target utama CSNU adalah meningkatkan akreditasi prodi-prodi bidang informatika dan komputer di lingkungan Nahdlatul Ulama. Prodi yang tadinya C diusahakan menjadi B, yang sudah B diusahakan menjadi A.

Pertanggung jawaban pengurus lama dan pemilihan pengurus baru pada Rakernas 2018 kemarin, hari Sabtu, 31 Maret 2018, di Universitas Nurul Jadid, Paiton, alhamduliLlah telah berjalan lancar. Berbagai strategi penting telah berhasil dijalankan dan alhamduliLlah sudah banyak memberikan manfaat luar biasa. Doctoral Camp, berbagai workshop peningkatan kapasitas pendidikan tinggi NU, program Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT), penerbitan jurnal ilmiah yang bernama Nusantara Journal of Computer Applications (NJCA) dan berbagai program lainnya, alhamduliLlah telah berjalan lancar.

Baca Juga: Mengenal ISNU

Semoga lebih banyak lagi prodi-prodi bidang informatika dan komputer dari berbagai Perguruan Tinggi NU di seluruh tanah air yang dapat segera bergabung dan saling berkolaborasi.

Dan selamat atas terpilihnya Dr. Hozairi, Universitas Islam Madura, Pamekasan, sebagai Ketua CSNU. Semoga sukses membawa maju pendidikan tinggi NU di bidang informatika dan komputer.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Terima kasih kepada KH. Najiburrahman Wahid, Universitas Nurul Jadid, Paiton, selaku Ketua CSNU periode 2016-2018 dan seluruh jajaran pengurus atas segala dedikasi dan perjuangannya sejak awal berdirinya CSNU. Semoga Allah SWT. senantiasa meridloi dan menerima seluruh amal ibadah kita.

Mohon do'a juga kepada Ulama dan Masyayikh NU untuk kemajuan pendidikan tinggi di lingkungan NU.[]
Read More

Santri Kediri Ikrar Menjadi Pengawas Pilkada


rumahnahdliyyin.com, Kediri - Bertempat di Hutan Kota Joyoboyo, Jalan Ahmad Yani, Kota Kediri, ditengah guyuran hujan deras, ada sekitar lima ratus santri dan santriwati mengucapkan ikrar menjadi pengawas Pilwali dan Pilgub Jatim 2018.

Pemilihan santri sebagai bagian dari pengawas proses Pilkada di Kota Kediri ini, menurut Anggota Bawaslu, Mansur, sebagaimana dilansir oleh detik.com, karena santri merupakan bagian dari masyarakat yang sangat mudah diterima oleh masyarakat dan oleh berbagai macam kalangan.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain itu, Mansur juga mengakui bahwa mengikut sertakan santri dan santriwati pondok pesantren ini merupakan salah satu cara Bawaslu untuk mengajak masyarakat menjadi agen penyampai informasi terkait aturan maupun pelanggaran.

"Iya, memang kami sengaja mengajak santri untuk ikut mengawasi jalannya pesta demokrasi Kota Kediri dan Jawa Timur. Selain mengawasi proses kampanye, nantinya para santri juga menjadi penyampai informasi terkait pilkada," kata Mansur di lokasi acara pada Minggu dini hari, 1 April 2018.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Fungsi dan tugas mereka nantinya, jelas Mansur, melaporkan kepada Bawaslu jika menemukan adanya pelanggaran kampanye ataupun menyampaikan informasi terkait peraturan kampanye Pilwali dan Pilgub.

"Fungsi dan tugas para santri nantinya adalah mengawasi serta melaporkan kepada Bawaslu jika ada pelanggaran kampanye," imbuh Mansur.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Sementara itu, Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, mengapresiasi Bawaslu dan santri yang memiliki niat baik dan berinisiatif untuk ikut ambil bagian dalam pengawasan proses Pilkada.

"Selain Bawaslu, polisi, TNI dan KPU, masyarakat juga memiliki kewajiban ikut serta menjadi pengawas dan melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan adanya pelanggaran, dalam hal ini santri," jelas Anthon.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ikrar santri menjadi pengawas Pilkada ini diakhiri dengan Deklarasi Anti-Hoax oleh para santri dan santriwati bersama dengan anggota Bawaslu Kota Kediri, Polres Kediri Kota dan Kodim 0809 Kediri.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

Sejarah dan Keutamaan Istighotsah


rumahnahdliyyin.com - Ketika bangsa mengalami bencana, baik bencana alam, bencana sosial maupun bencana terkait carut-marutnya kepemimpinan nasional, masyarakat Muslim di Indonesia--khususnya kalangan pesantren dan warga NU--terbiasa melaksanakan Istighotsah dalam rangka memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.

Dzikir dan do'a yang terdapat dalam Istighotsah, disusun pertama kali oleh KH. Muhammad Romli Tamim, Jombang, yang kemudian disepakati oleh para kiai sepuh NU dijadikan sebagai bacaan baku secara turun-temurun hingga sekarang.

Baca Juga: Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis

KH. Ishomuddin Ma'shum, telah menulis buku tentang Sejarah dan Keutamaan Istighotsah yang baru-baru ini telah diterbitkan oleh LTN Pustaka PWLTN NU Jawa Timur. Buku ini mengulas dengan sangat menarik mengenai sejarah penyusunan Istighotsah dan perkembangannya dengan disertai kisah-kisah inspiratif yang penuh hikmah.

Buku ini, dengan cukup mendalam, juga mengungkap rahasia dan keutamaan dzikir dalam Istighotsah berdasarkan Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para Ulama' Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja). Selain itu, buku ini sekaligus juga menjawab secara ilmiah tuduhan kelompok-kelompok tertentu yang telah meyakini adanya unsur-unsur bid’ah dan kesesatan didalam Istighotsah.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ini beberapa endorsmen dari para kiai terhadap buku tersebut.

“Tradisi Istighotsah adalah tradisi yang baik yang telah diwariskan oleh para kiai pesantren dan NU. Maka, jadikan buku ini sebagai langkah awal untuk mengenalnya, sehingga kita senang menjadikannya sebagai washilah ruhiyyah agar semakin dekat dengan Allah SWT., hingga memperoleh kedamaian jiwa bersama-Nya.” KH. Anwar Manshur (Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Istighotsah adalah sarana seorang hamba untuk mendekat--sekaligus memohon--kepada Allah SWT. agar semua impian dan keinginan dapat dikabulkan. Istilah ini tidaklah asing bagi kalangan pesantren dan NU. Termasuk bagi para pengikut tarekat di Indonesia. Tapi, kita semua hampir tidak tahu, siapakah sebenarnya yang terlibat menyusun bacaan-bacaan Istighotsah. Hingga dalam setiap acara Istighatsah, dipastikan bacaannya sama. Karenanya, buku ini layak dibaca sebab menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus memberikan penjelasan sejarah dan keutamaan-keutamaan dalam setiap bacaanya Istighotsah." KH. Sholeh Qosim (Pengasuh PP. Bahauddin Sepanjang, Sidoarjo).

Mengenai keterangan buku secara lengkap, yaitu:

  • Judul: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah
  • Penulis: KH. Ishomuddin Ma'shum
  • Pengantar: KH. Tamim Romli
  • Editor: Wasid Manshur
  • Penerbit: LTN Pustaka PWLTN NU Jatim
  • Tebal: 136 halaman
  • Pemesanan: 085230702045

[]
Read More

Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis


rumahnahdliyyin.com - Buku berjudul Tarekat & Semangat Nasionalisme yang dibagikan secara gratis pada pembukaan acara Musyawarah Idaroh (MUSDA) ke-4 Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wusto Jawa Timur, menampilkan fakta sejarah tentang peran para kaum Tarekat dan kaum Sufi dalam proses berdirinya NKRI hingga kontribusinya dalam mempertahankan dan mengembangkan NKRI. Buku ini juga menepis asumsi bahwa kaum Tarekat dan Sufi hanyalah seorang yang ahli Dzikir.

"Dengan potensi sosial yang solid diikat oleh rasa kebersamaan dan ketaatan searah kepada pimpinan spiritual, maka institusi tarekat menjadi potensial untuk ditransformasikan sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap realitas politik dan pemerintahan yang tidak adil. Termasuk mengawal NKRI," papar Dr. Ahmad Marzuqi, Koordinator Penulisan Buku tersebut disela-sela Pembukaan acara tersebut, Sabtu, 31 Maret 2018.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Ada 2000 eksemplar buku Tarekat & Semangat Nasionalisme yang dibagikan secara gratis kepada para peserta aktif dalam acara tersebut. Mereka terdiri dari para Mursyid, pengurus Idaroh Aliyah, pengurus Idaroh Wustho dan beberapa tamu undangan VIP. Tamu-tamu undangan VIP tersebut antara lain yaitu Kapolda, para pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh lintas agama.

Penulisan buku tersebut terinspirasi dari teladan KH. M. Sholeh Bahruddin selaku Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan.

Baca Juga: Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim

“Terkait buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme, buku ini lahir diawali dari inspirasi beliau Romo kiai Sholeh Bahruddin selaku pengasuh Pondok Pesantren Ngalah. Selain inspirasi dari beliau, buku ini berawal dari kegelisahan dari situasi dimana negara kita sudah mulai mengalami krisis cinta tanah air," imbuh Alumni Pondok Pesantren Ngalah tersebut saat Konferensi Pers bersama para wartawan disela-sela kegiatan Musda tersebut.[]
(Dianis)
Read More

Nahdliyyin Kalbar Deklarasikan Pilkada Damai


rumahnahdliyyin.com, Sekadau – Sabtu, 31 Maret 2018, ribuan warga Nahdliyyin Kalimantan Barat mengkampanyekan dan mendeklarasikan Pilkada Damai Anti Hoax dan Isu Sara dalam acara Apel Akbar Kesetiaan Pancasila yang berlokasi di Lapangan Parkir Lawang Kuari, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir.

“Kepada Warga NU se-Kalimantan Barat, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan. Yang pertama, tolak politik uang dan politisasi sara Pilkada. Mari kita jaga bersama Pilkada ini menjadi Pilkada yang demokratis dan berintegritas. Tolak uangnya dan laporkan pemberinya. Bantu kami, Bawaslu, untuk mengawasi pemilu,” kata Sarifa Aryana, Komisioner Bawaslu Kalimantan Barat.

Baca Juga: Gema Yalal Wathon di Sekadau Tunjukkan Nahdliyyin di Kalbar Banyak

Bawaslu juga berpesan supaya warga Nahdliyyin memeriksa nama-namanya di DPS. Apakah namanya tercantum dalam daftar pemilihan, atau tidak.

“Dan yang kedua, periksa nama kita di pengumuman DPS dikelurahan, RW dan RT untuk memastikan hak pilih kita. Dan lapor ke posko penerimaan pengaduan jika nama kita tidak terdaftar. Mari kita bergembira menyambut pesta demokrasi pada 27 juni 2018,” pesannya.

Selain itu, Sarifa juga mengajak agar warga NU Kalimantan Barat untuk ikut berperan dan membantu Bawaslu dalam menyampaikan Pilkada Damai.

Baca Juga: LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya

Selanjutnya, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, KH. Hildi Hamid, memandu warga Nahdliyyin untuk membacakan Pernyataan sikap warga NU Se-Kalimantan Barat pada Apel Kesetiaan Pancasila dan Harlah NU 92, Sabtu 31 Maret 2018 itu. Isi dari pertanyaan sikap tersebut yaitu:

  1. Menolak berita hoax/berita bohong/fitnah yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
  2. Mendukung kepolisian melakukan penegakan hukum untuk memberantas pelaku hoax.
  3. Kami siap mendukung Pilkada Kalbar berjalan dengai damai dan menjaga pluralisme di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Deklarasi Pilkada Damai ini bertujuan agar warga Nahdliyyin se-Kalimantan Barat ikut andil dan berperan untuk menebarkan kedamaian. Terutama saat Pilkada mendatang.

Acara apel Akbar yang dinilai merupakan momen yang pas untuk menyampaikan Deklarasi Pilkada Damai ini pun sekaligus untuk memastikan bahwa acara Apel Akbar ini murni acara Nahdlatul Ulama, tidak ada sangkut paut politik didalamnya.[]
(Maulida)
Read More

Gema Yalal Wathon di Sekadau Tunjukkan Nahdliyyin di Kalbar Banyak


rumahnahdliyyin.com, Sekadau - Ribuan warga Nahdliyyin se-Kalimantan Barat, siang tadi, Sabtu, 31 Maret 2018, membanjiri Lapangan Parkir Lawang Kuari, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir. Ribuan masa tersebut hadir dalam rangka mengikuti Apel Akbar Kesetiaan Pancasila. Lantunan Lagu Mars Yalal Wathon pun bergema di lapangan tersebut.

Seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama hingga Badan Otonom Nahdlatul Ulama, seperti Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, juga para kiai, Polda dan TNI Kalimantan Barat, bersemangat, lantang dan hidmat dalam menyanyikan Mars Yalal Wathon.

Baca Juga: LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya

“Mars Yalal Wathon ini adalah lagu kebangsaan warga Nahdliyyin. Untuk itu, mari kita nyanyikan lagu ini dengan penuh kebanggaan,” pungkas Bang Nasir, Ketua Panitia Apel Akbar sekaligus pemandu lagu sebelum acara apel dimulai.

Semangat Nahdliyyin muda di Kalimantan Barat tidak diragukan lagi. Pasalnya, sebagian besar massa yang memenuhi lapangan tersebut adalah para Nahdliyyin muda yang merupakan santri dan pelajar yang ada di Kalimantan Barat. Mereka sangat antusias dan menjiwai ketika menyanyikan lagu mars Yalal Wathon.

Baca Juga: Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Tidak kalah dengan Nahdliyyin muda, kaum Hawa yang menjadi Fatayat dan Muslimat pun sangat bersemangat ketika menyayikan lagu karangan KH. Abdul Wahab Chasbullah itu. Mereka bernyanyi, seakan-akan telah mengenalkan lagu kebanggaan NU itu di lingkungan Sekadau.

Bergemanya lagu mars Yalal Wathon ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama di Kalimantan Barat, khususnya di Sekadau, telah maju. Antusias dan semangat warga Nahdlatul Ulama se-Kalimantan telah nampak ketika mereka mulai melantunkan lagu mars tersebut. Suara ribuan Nahdliyyin se-Kalimantan Barat tersebut menjadi saksi bahwa suara warga Nahdliyyin di Kalimantan Barat sangat banyak.[]




(Redaksi RN)
Read More

Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim


rumahnahdliyyin.com, Pasuruan - Sebanyak 5000 kartu arwah dalam kegiatan Tahlil Kubro, dibacakan untuk mengawali Pembukaan Musyawarah Idaroh (MUSDA) ke-4 Ahlith-Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho, Propinsi Jawa Timur. Kegiatan yang dimulai setelah Sholat Shubuh tadi itu merupakan permintaan langsung dari Ulama Jawa Timur untuk memperkuat tradisi Nahdlatul Ulama.

"Itu merupakan request langsung dari pengurus Jatman jatim untuk memperkuat tradisi kaum Nahdliyyin. Sebab, tahlil dan kirim arwah atau haul merupakan tradisi NU yang perlu dilestarikan," tutur Syukron Fanani selaku Panitia Penanggung Jawab kegiatan Tahlil Kubro dan Pembacaan Kartu Arwah disela-sela acara tersebut.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Ia juga menjelaskan bahwa Pembacaan Kartu Arwah tersebut dibacakan oleh Pengurus Jatman Kecamatan Purwosari, Pengurus MWC. NU Purwosari dan Segenap Ustadzh Pondok Pesantren Ngalah. Adapun Kartu Arwah tersebut berasal dari Jama’ah Thoriqoh se-Jawa Timur yang dikirim melalui pengurus Jatman Idaroh Wustho Propinsi Jawa Timur.

“Kartu arwah itu berasal dari Jama’ah Thoriqoh se-Jawa Timur yang disebar panitia melalui pengurus Jatman dari tingkat Wustho, Syu’biyah, hingga ditingkat ranting," pungkas mahasiswa Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Baca Juga: Pentingnya Ber-NU Menurut Habib Luthfi

Usai Tahlil Kubro, kegiatan dilanjut dengan Manaqib Kubro Sanatiyah, Yudharta Bersholawat Bersama TNI-POLRI, Pembukaan Musda, Ikrar Perdamaian Masyarakat Dunia dan Pertemuan Mursyid Thoriqoh Se-Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung hingga 1 April ini bertempat di Universitas Yudharta, Komplek Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan.[]
(Dianis)
Read More

Strategi Mbah Bisri Memelihara Diri dari Larangan Tamak


rumahnahdliyyin.com - Pada suatu misi pengajian, kiai Bisri Mustofa mengajak serta seorang santri seniornya. Menjelang sampai ke tempat acara, kiai Bisri menyuruh sopir berhenti di sebuah warung makan. Hidangan dipesan. Tapi si santri senior menolak ikut makan.

“Masih kenyang," katanya. Kiai Bisri pun membiarkannya.

Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih dahulu mempersilakan untuk menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja kiai Bisri menolak.

“Baru saja makan! Nanti saja."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan. Tapi kiai Bisri tetap menolak.

“Masih kenyang."

Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar, karena tadi tidak ikut makan di warung. Kiainya pura-pura tidak tahu.

Melihat diantara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa beruntung.

“Lumayan, buat ganjal perut," pikirnya.

Apa lacur, baru saja tangannya menjulur hendak meraih lemper, kiai Bisri tiba-tiba beranjak berdiri dan langsung pamitan.

Si santri harus menahan perih perut sampai esok hari. Karena besek berkat yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak diserahkan.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Menurut Imam Ghozali (Asy-Syaikh Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun-nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiroos ‘anin-nawaahiy (memelihara diri dari larangan). Apa beda keduanya?

Dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan, sehingga pukulan itu luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung didalam benteng, sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiroos. Jadi, ijtinaab itu manuver, sedangkan ihtiroos itu security system.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Setiap hendak menghadiri undangan pengajian, kiai Bisri Mustofa mewajibkan diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan, meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan makan. Itu adalah ihtiroos ‘anith-thoma’, supaya tidak berharap-harap (thoma’) akan suguhan si tuan rumah.

Menjelang Pemilu 1977, setelah NU (terpaksa) berfusi kedalam PPP, sejumlah kiai NU justru menyeberang ke Golkar. Diantaranya lantaran iming-iming bantuan dana dari Pemerintah. Pada hari-hari itu, Kiai Bisri memborong banyak mobil. Ada tujuh buah mobil di rumah. Padahal garasi hanya cukup untuk satu. Mobil-mobil itupun dijajarkan di jalanan di depan rumah.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Meskipun ada tujuh, hanya satu saja yang dipergunakan, yaitu sebuah sedan Datsun keluaran tahun ’60-an. Bagaimana dengan enam lainnya? Tak banyak yang tahu rahasianya. Ternyata, selain sedan Datsun, mobil-mobil itu mustahil bisa hidup mesinnya kecuali didorong. Artinya, cuma body yang mulus, sedangkan mesinnya bodhol.

Apa tujuannya memborong “kereta-kereta tak berguna” macam itu?

“Untuk dipamerkan!” kata kiai Bisri.

Pameran dalam rangka apa?

“Supaya orang mengira aku ini sudah kaya raya."

Apa untungnya dianggap kaya?

“Supaya tak ada yang berani menawariku uang."

Kalau nggak mau uang, ya ditolak saja toh?

“Kalau ada yang nawari, kuatirnya justru aku yang nggak tahan…”



* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf, Pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

** Tulisan ini pernah dimuat di teronggosong.com dengan judul "Ihtiroos".
Read More

Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI


rumahnahdliyyin.com - Keberadaan Jam’iyyah Ahlut-Thariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dalam rangka ikut serta menjaga keutuhan NKRI menjadi bagian terpenting dari misi keberadaan organisasi para pengamal tarekat tersebut. Sesuai dengan amanah ulama pendahulu, pengamal tarekat ini harus mampu menjadi teladan dalam menjaga moralitas dan keutuhan bangsa ditengah-tengah masyarakat.

Komitmen mengawal keutuhan NKRI menjadi spirit Idarah Wustha JATMAN Jawa Timur dalam menyelenggarakan Musyawarah Idarah (Musda) ke-4, Sabtu–Minggu (31 Maret dan 1 April 2018) di Universitas Yudharta, Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Baca Juga: Pentingnya Ber-NU Menurut Habib Luthfi

Melalui Musda ke-4 JATMAN Jatim itu diharapkan dapat mempererat serta memperkokoh ukhuwwah islamiyyah, basyariyyah dan wathoniyyah demi keutuhan NKRI. Sebagai forum tertinggi di Idarah Wustha (tingkat propinsi), Musda memiliki peran untuk memilih, menyusun dan menetapkan kepengurusan yang baru.

Wakil Katib Idarah Wustha JATMAN Jatim, KH. Kholil Arpapi, menuturkan bahwa Musda juga menjadi forum untuk evaluasi program kerja kepengurusan yang lalu dan merancang kembali program untuk kepengurusan berikutnya.

“Dan melaksanakan bathsul masail tarekat untuk memecahkan problematika yang berkaitan dengan tarekat,” tuturnya kemudian.

Baca Juga: Jihad Dalam Konteks Negara Bangsa di Era Modern

Faidlus Syukri, selaku Ketua panitia Musda, membeberkan peserta yang terlibat aktif dalam forum Musda tersebut. Yakni, sebanyak 55 peserta berasal dari Idarah Wustha dan 240 peserta dari Idarah Sub’iyah (tingkat kota/kabupaten).

“Ditambah dengan undangan dari Idarah Aliyah 180 orang, Idarah Wustha se-Indonesia 120 orang dan sebanyak 187 Mursyid se-Jatim, perwakilan jama'ah thoriqoh dari masing-masing syu'biyah dari Jatim, jama'ah Manaqib dan Dzikrul Ghofilin yang diasuh KH. Sholeh bahruddin” ungkapnya.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa rangkaian acara di pembukaan Musda, akan digelar. Seperti pembacaan sholawat dan Maulid Diba’, Manaqib Kubro, orasi kebangsaan oleh Kapolda Jatim (Irjen Pol. Machfud Arifin) dan Pangdam V Brawijaya (Mayjen TNI Arif Rahman), pembacaan taushiyyah Idarah Aliyah, ikrar perdamaian masyarakat dunia dan penandatanganan prasasti.

Pembukaan Musda akan dilakukan oleh Gubernur Jatim, H. Soekarwo, dan dihadiri ribuan undangan dari berbagai kalangan. Seperti TNI-POLRI, Bupati dan DPRD Kabupaten, Muspika, dunia usaha dan industri, pengurus NU, FKUB Jatim dan beberapa Negara sahabat dari Konsul Amerika, RRT, Australia dan jepang.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Penegasan netralitas dalam berpolitik
Musda ke-4 tahun 2018 ini juga merupakan penegasan peran strategis JATMAN dalam meneguhkan moralitas bangsa dan mengawal keutuhan NKRI. Para pengamal ajaran tarekat dalam JATMAN harus menjadi teladan dengan mewarisi sikap para ulama terdahulu yang turut serta mendirikan bangsa.

Sebagaimana nasihat Rais 'Aam JATMAN, Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, pada Muktamar JATMAN Januari lalu bahwa warga tarekat supaya tidak hanyut dalam pusaran politik demi kepentingan kekuasaan oleh kekuatan politik tertentu.

“Politik JATMAN adalah politik kebangsaan. Yang tak lain untuk menjaga dan memelihara keutuhan NKRI,” ujarnya saat itu.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Hal yang sama, berlaku untuk Musda ke-4 JATMAN Jatim. Musda yang digelar bersamaan dengan tahun politik (baca: pilkada serentak) rentan dilirik oleh kekuatan politik. Tidak terkecuali kekuatan politik yang saat ini tengah berkompetisi untuk mendulang dukungan suara dalam kontestasi demokrasi di tahun politik ini.

Namun, sebagaimana ditegaskan Rais JATMAN Jatim, KH. Muh. Martain Karim, bahwa Musda ke-4 JATMAN Jatim bersih dari kepentingan elit politik yang maju sebagai calon Kepala Daerah.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Senada dengan Kiai Martain, Ketua Panitia Musda (Faidlus Syukri) juga menuturkan atas kesepakatan panitia, para kiai dan mursyid tarekat bahwa dengan tegas menolak politik praktis masuk dalam agenda Musda.

“Komitmen kita senantiasa kepada politik kebangsaan sebagaimana termanifestasikan dalam tema Musda. Yakni meneguhkan moralitas bangsa dan mengawal keutuhan NKRI,” tegas pria yang alumni Pesantren Ngalah itu.[]
 ​

Pasuruan, 29 Maret 2018
Tim Media Center Musda JATMAN ke-4 Jatim
Read More

Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, Atau Sebaliknya


rumahnahdliyyin.com, Jayapura - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Papua, Ustadz Saiful Islam Al-Payage, menegaskan bahwa umat Islam di Bumi Cendrawasih sangat mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama. Pernyataan ini dikemukakan oleh Ustadz Payage dalam Silaturrahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) yang bertemakan "Merajut Persatuan dan Kesatuan, Memelihara Toleransi antar Umat Beragama di Tanah Papua" yang diprakarsai oleh Polda Papua.

"Perlu saya tegaskan bahwa umat Islam di Papua tidak sekali pun membuat intoleransi. Saya akan terdepan untuk mencegah sikap intoleransi," kata Ustadz asli Papua itu di Kota Jayapura, Papua, pada Selasa, 27 Maret 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Menurutnya, umat muslim di Papua dan di Indonesia, pada umumnya telah hidup berdampingan cukup lama dengan pemeluk agama lainnya secara harmonis satu sama lain.

"Jadi, sangat salah sekali jika ada tindakan anarkis atau konflik atas nama agama. Karena, baik Islam dan Kristen, pada dasarnya adalah satu. Asal Islam dan Kristen itu satu. Jika dalam Islam disebut Nabi Ibrahim, maka dalam Kristen disebut Abraham. Dari sini-lah paham ini menyebar hingga ada Islam, Kristen, Yahudi dan agama lainnya" tambah tokoh muslim asli Papua ini yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi'iyyah, Situbondo, Jawa Timur.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Berbicara terkait agama, imbuh Ustadz Payage, pada intinya sama. Semua agama mengajarkan nilai universal. Nilai kebaikan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebersihan hati dan akhlaq, sudah pasti diajarkan. Dan toleransi, juga pasti dikedepankan.

"Demi menjaga toleransi di Papua, saya harapkan isu yang terjadi diluar sana jangan dibawa ke Papua, atau sebaliknya. Saya meyakini bahwa daerah bagian barat, (Indonesia Barat, red.) pada suatu kelak akan mencontoh kerukunan dan sikap toleransi di Papua. Apalagi, semua komponen di Papua sudah komitmen untuk hidup rukun dan damai," tegasnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifai

Sedangkan mengenai pembangunan Masjid Al-Aqsha dan menaranya di Sentani, Kabupaten Jayapura, menurut Ustadz Payage sebenarnya sudah ditangani oleh MUI setempat. Hanya saja terlanjur viral kemana-mana.

"Bahkan, saya sendiri akhirnya bertemu dengan Ketua DPRD Kabupaten Jayapura untuk bahas ini. Tapi informasi beredar di media sosial facebook tidak bisa dibendung. Bahkan untuk bertindak cepat, kami gelar pertemuan di LPTQ Kotaraja, Kota Jayapura, dengan para pimpinan muslim yang ada," katanya lagi.

Sekarang, katanya lagi, sudah ada tim kecil yang dibentuk bersama untuk menyelesaikan persoalan menara masjid yang dimaksud. Sehingga, diharapkan semua pihak bersabar dalam menyikapi persolan tersebut.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : antaranews.com
Read More