900 Ulama Komisi Fatwa MUI Akan Ijtima' Nasional


muslimpribumi.com, Lombok - Majelis Ulama' Indonesia (MUI) dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Ijtima' Nasional Komisi Fatwa MUI yang akan dihadiri oleh tidak kurang 900 orang ulama' se-Indonesia yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Tengah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Plt. Bupati Lombok Tengah, H. L. Fathul Bahri, SP., saat memberikan sambutan pada acara Rapat Pleno PCNU Lombok Tengah di Pendopo Wakil Bupati Lombok Tengah pada Selasa kemarin.

Fathul Bahri menjelaskan bahwa ia telah diundang rapat oleh pengurus MUI Pusat dan diputuskan bahwa Ijtima' Nasional MUI itu akan dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah.

Pada acara tersebut, Pemkab Lombok Tengah diminta untuk memfasilitasi semua akomodasi dan transportasi peserta. Mulai dari pembukaan sampai penutupan acara.

"Kalau untuk melayani ulama', Lombok Tengah selalu siap. Kita akan melayani dengan maksimal," ungkap Fathul.

Sementara itu, Ketua Rais Syuriyah PCNU Loteng menyatakan bahwa Lombok Tengah patut bersyukur, terlebih PCNU Lombok Tengah. Karena kedatangan para ulama' ini pasti akan membawa keberkahan untuk Lombok Tengah dan juga Nahdlatul Ulama'.

Dijelaskannya juga bahwa Acara Ijtima' Majelis Fatwa MUI ini adalah acara Nasional yang sangat penting. Sebab pembahasannya mengenai isu-isu aktual dan problematik yang dihadapi oleh Umat Islam Indonesia.

"Kita, Lombok Tengah, tentu akan menjadi bagian dari sejarah besar umat Islam. Sejarah besar warga Nahdlatul Ulama' juga. Karena di Lombok Tengah ini adalah Lumbungnya NU di NTB," tandasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh Syuriah, mulai dari PCNU hingga MWC. NU se-Kabupaten Lombok Tengah, untuk turut membantu Pemerintah Kabupaten dalam mensukseskan kegiatan tersebut. [] (Asb).
Read More

Piala Presiden Festival Sholawat Nusantara


muslimpribumi.com, Jakarta - Sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Keagamaan dan Kepemudaan akan menggelar Festival Sholawat Nusantara.

Festival ini merupakan perlombaan berjenjang yang memperebutkan piala Presiden Joko Widodo. Lomba ini akan diikuti oleh beragam kelompok dan kalangan. Mulai kalangan pesantren, mahasiswa dan pelajar, hingga kelompok-kelompok atau majelis-majelis pengajian kantor, BUMN serta berbagai majelis keagamaan di masyarakat.


Lomba akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Mulai dari lomba antar kecamatan, lalu antar kabupaten yang kemudian diteruskan ke antar provinsi, hingga ke tingkat nasional.

“Dengan tema acara "Cinta Sang Nabi", kami ingin menabur kembali nilai Islam yang penuh bahasa cinta, bukan bahasa perbedaan dan kebencian. Ini adalah upaya merawat tradisi dan kearifan lokal, sekaligus mengangkat kembali kekayaan Islam Nusantara,” kata inisiator  Festival Sholawat Nusantara, Nusron Wahid, saat konferensi pers di Jakarta.

Nusron yang menjadi Ketua Panitia Pengarah mengungkapkan bahwa kekayaan tradisi sholawat di Indonesia merupakan bukti bahwa kehadiran Islam tidak menggerus budaya lokal. Tapi justru membaur dan saling menguatkan.

Menurut Ketua Panitia Acara, Habib Sholeh, digelarnya acara ini sekaligus sebagai inisiatif untuk lebih mengedepankan ajaran Islam yang damai dan menumbuhkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW.

“Kita perlu mengingatkan kembali ruh ajaran Islam yang meneladani akhlaq Rasulullah SAW. Sholawat sebagai ekspresi cinta umat kepada Nabinya merupakan salah satu cara untuk memberikan nuansa Islam yang sejuk,” katanya.

Sekretaris PP. RMI ini meyakini bahwa ketika kita kembali terbiasa mengekspresikan bahasa cinta dalam tradisi keagamaan, maka akan tercipta suasana yang lebih adem.

“Agama jadi perekat yang menguatkan. Bukan menjadi faktor yang bisa memecah belah,” tukasnya.

Untuk pembukaan acara ini, akan digelar sebuah perhelatan yang menggambarkan kekayaan tradisi sholawat. Pada acara pembukaan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2018 ini akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Sementara acara lombanya sendiri akan dimulai di seluruh Indonbesia pada awal Maret 2018. Dan puncak acara sekaligus finalnya akan dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2018 yang bertepatan dengan Peringatan Hari Santri.

“Harus diakui, tradisi sholawat tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren,” ungkap habib Sholeh.

Acara ini terlaksana atas kerjasama beberapa lembaga seperti Lazisma, PP. RMNU, Jama'ah Dzikir Yaqowiyy, Ikhwanul Muballighin, PP. IPNU dan FKDT.

“Kesemua lembaga ini memang yang selama ini menjadikan tradisi sholawat sebagai bagian dari nafas perjuangannya. Jadi ini adalah kerja besar dan kerja bersama untuk tujuan manggaungkan kecintaan kita kepada Sang Nabi,” tutup Habib Sholeh.
Read More

Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri


muslimpribumi.com | Semarang - Kitab yang dikarang oleh KH. Bisri Mustofa, Rembang, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) disebutkan memiliki pesan sejarah dan nasionalisme. Mbah Bisri memang ulama' Jawa yang sangat luar biasa. Karyanya sangat banyak sekali.

"Kita harus banyak berguru dari karya beliau yang berjumlah 176 kitab dan buku," kata Drs. Anasom M. Hum., Ketua Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PPIBJ) UIN Walisongo.

Melihat banyaknya kitab karya Mbah Bisri, maka PPIBJ menggelar diskusi yang membedah tiga Kitab Jawa Pegon, yaitu: Tafsir Al-Ibriz, Tarikhul-Auliya' dan Ngudi Susilo, di metting room LP2M UIN Walisongo.

"Tiga kitab yang dikupas ini jelas memberikan warna karya ulama' Jawa yang sangat peduli terhadap sejarah dan nasionalisme," kata M. Rikza Chamami, dosen FITK UIN Walisongo yang membedah Kitab Ngudi Susilo.

Pesan nilai sejarah Walisongo hingga kemerdekaan Indonesia ditulis secara rapi oleh Mbah Bisri dalam Kitab Tarikhul-Auliya'. Sedangkan pesan-pesan mencintai agama dan negara ditulis dalam Kitab Ngudi Susilo.

Dr. Abu Rokhmad M. Ag., dosen FISIP yang membedah Tafsir Al-Ibriz, juga menyampaikan kehebatan karya Mbah Bisri.

"Dulu tidak ada yang bisa menerjemah 30 juz tafsir yang dikarang Mbah Bisri karena saking sempurnanya," kata dosen FISIP tersebut. "Setiap ada yang mau menerjemah selalu gagal ditengah jalan," imbuhnya.

Tujuan menulis tafsir Al-Ibriz ini jelas agar masyarakat Jawa yang tidak paham bahasa Arab bisa mengetahui artinya dengan bahasa Jawa.

"Ada pola makna gandul khas pesantren dan terjemah bebas dalam tafsir Al-Ibriz ini," jelasnya lebih lanjut.

Bahkan, tafsir ini sudah dipakai untuk mengajar para kiai di semua pesantren di Indonesia, bahkan di Malaysia, Brunei dan Thailand.

Pelajaran yang bisa diambil dari ketokohan Mbah Bisri yaitu untuk menjadi orang luar biasa, bisa dimulai dari orang biasa. Generasi muda saat ini juga perlu meniru produktifitas para ulama' dalam menerbitkan kitab dan buku yang dijadikan bekal referensi di masa mendatang. [] (Asb)
Read More

Ketua PWNU Jatim Minta Umat Tidak Terprovokasi


muslimpribumi.com, Surabaya - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Hasan Mutawakkil Alallah, meminta kepada umat Islam agar tidak terprovokasi dengan serangkaian peristiwa terkait keagamaan yang terjadi di sejumlah daerah beberapa akhir ini.

"Semua harus tetap tenang. Tak terprovokasi. Tapi, tetap waspada dan tidak perlu mengambil tindakan sendiri," ujarnya ketika dikonfirmasi di Surabaya, Selasa.

Menurutnya, kehidupan masyarakat antar agama di Jatim telah berjalan baik dan harmonis. Sehingga diharapkan tidak ada yang terpancing provokasi dalam bentuk apapun.

Serangkaian peristiwa tentang keagamaan di Jatim telah terjadi beruntun. Mulai penyerangan Masjid Baitur Rohim di Tuban pada Selasa, 13 Februari 2018. Kemudian penyerangan terhadap Kiai Hakam selaku pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah, Karangasem, Paciran, pada Minggu, 18 Februari.

Peristiwa lainnya yaitu dugaan adanya teror oleh orang tak dikenal kepada pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Senin malam, 19 Februari.

Pihaknya berharap supaya aparat kepolisian bersungguh-sungguh untuk mengusut tuntas seluruh kasus yang terjadi di Jatim akhir-akhir ini sekaligus mengungkap motifnya.

"Semua kami serahkan ke kepolisian selaku aparat paling berwenang untuk mengungkapnya. Termasuk menyelidiki, apakah kriminal murni, atau ada gerakan terencana dari pihak tak bertanggung jawab," ucapnya.

Polisi dan NU, katanya, mempunyai visi dan tujuan yang sama, yakni menciptakan rasa aman dan tertib ditengah masyarakat dalam mewujudkan NKRI berdasarkan Pancasila.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo tersebut menyampaikan, sebagai umat beragama ditengah banyaknya informasi dan opini, diharapkan umat kembali pada tuntunan agama.

“Mari, jaga bersama lingkungan disekitar kita. Hindari saling menebar kebencian, adu domba dan fitnah antar golongan atau antar umat beragama yang justru merusak sendi kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Terutama di tahun politik 2018 dan 2019,” pungkas kiai Mutawakkil.
Read More

Buletin Jum'at Risalah NU Edisi 06


Buletin Jum’at Risalah NU edisi 06 dengan judul: Keteladanan Rasulullah SAW. dalam Upaya Pemberantasan Korupsi.

Buletin ini dikelola oleh Divisi Penerbitan dan Percetakan Lembaga Ta’lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) PBNU dan bisa didownload di: https://drive.google.com/file/d/1zd3e8aNLzrXoQw-cBQ7GaKwQAMqRA7Yv/view
Read More

Agama Tanpa Budaya


muslimpribumi.com, Cirebon - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama', KH. Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa agama dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa budaya menjadi keras. Sementara budaya tanpa agama menjadi sekuler.

“Agama tanpa budaya, ibarat robot. Kaku. Tidak toleran,” tegasnya pada Seminar Nasional yang digelar Forum Kajian Kitab Kuning (FK-3) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Ahad (18/2). Kegiatan yang diselenggarakan tahunan dalam rangka Gebyar Maulid Nabi (GMN) Muhammad SAW. itu bertema "Islam dan Budaya".

Kiai Said mengatakan bahwa Allah SWT. menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW. dimulai dengan kata iqra' yang dapat didefinisikan sebagai bacalah, cerdaslah, pandanglah dengan luas. Cerdas, tapi tetap beriman.

“Peradaban Islam tidak pernah lepas dari dasar qul huwallaahu ahad," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa saat di Yatsrib (sekarang Madinah), Rasulullah berhasil membangun umat yang tidak berdiri diatas agama. Tapi diatas tamaddun (saling menyokong).

Di Madinah, kata kiai kelahiran Cirebon itu, Nabi Muhammad membangun umat yang beradab, berbudaya, bermartabat, punya cita-cita hidup dan cerdas.

Oleh karena itu, menurutnya, sejarah peradaban Islam, sejarah budaya Islam itu lebih penting untuk dikaji daripada sejarah perang Islam ataupun sejarah politik Islam.

“Peradaban Islam diperkuat oleh banyak faktor. Salah satunya adalah sektor ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, dahulu Imam Sibawaih mengarang ilmu nahwu, kemudian dibukukan, dinadzomkan, lalu ada yang mensyarahi. Namun setelah itu, kekreativitasan berhenti dan yang ada hanyalah melanjutkan karya-karya yang telah ada,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, ia mengajak hadirin untuk mengkaji Islam dan kebudayaan, atau Islam Nusantara sebagai konsepsi Islam di Indonesia.

“Pasang surutnya peradaban Islam ini yang harus menjadi peringatan untuk kita bahwa prinsip Islam Nusantara harus dipahami dengan betul-betul,” katanya.

Contoh ulama' yang sangat memegang teguh Islam Nusantara adalah KH. Hasyim Asy'ari. Buktinya, dialah yang mencetuskan prinsip "hubbul-wathon minal-iman."

Seminar yang dimoderatori Romzi Ahmad itu juga menghadirkan dua pembicara lain, yaitu KH. Ng. Agus Sunyoto yang menyampaikan seputar sejarah proses Islamisasi budaya dari sudut pandang sejarah. Ada juga Ngatawi Al-Zastrouw yang mengantarkan pada gagasan-gagasan konsep Islamisasi dan konsep kebudayaan.


*Sumber: nu.or.id
Read More

Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

muslimpribumi.com, Probolinggo - Ahad, 18 Februari 2018, di aula Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, digelar acara “Ngaji Medsos" dengan tema “Santri Milenial, Cerdas Bermedia Sosial."

Peserta yang hadir ada ratusan santri mahasiswa yang merupakan perwakilan dari sejumlah pesantren yang tergabung dalam Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia.

Hari Usmayadi (ketua LTN PBNU), Mohamad Sururi (redaktur TV9), Muhamad Yasir Arafat (CEO Ala Santri), dan Mahfudz Sunarjie (jurnalis NET TV) menjadi narasumber dalam acara tersebut. Dan Arief Hidayat (jurnalis Kompas TV) sebagai moderatornya.

“Kegiatan ini bisa memberikan wawasan baru bagi mahasiswa dalam dunia medsos agar bisa berjejaring positif dan menjadi buzzer dalam penyebaran konten positif," kata Nur Fadli Hidayat, Wakil Rektor III, dalam sambutannya yang mewakili Rektor Universitas Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid.

Acara ini digelar lantaran munculnya fenomena massifnya berita hoax yang gampang dan cepat beredar luas. Belum sempat melakukan klarifikasi satu isu, sudah timbul isu lain.

Melihat hal tersebut, Nurul Jadid akan mengawali sistem media centre yang akan menjadi corong bagi pesantren. “Ini bisa menjadi pilot project atau percontohan bagi seluruh pesantren di Indonesia," imbuh Fadli.

Dalam presentasinya, Hari Usmayadi, Ketua LTN PBNU, menjelaskan perlunya pesantren membuat media centre. Strukturnya terdiri dari diagram cyber. Ada Steering Commitee, ada unit advokasi dan unit pengkaderannya. “Dalam unit pengkaderan ini diperlukan training atau pelatihan khusus untuk membentuk unit rekrutasi peserta baru," paparnya.

“Ini perlu penguatan konten. Penguatan literasi dan penguatan pengetahuan. Sebagai penguatan media counter agar bisa menyeimbangi berbagai isu yang sedang viral. Adapun kunci aktivitasnya antara lain yaitu pusat informasi. Pusat kontrol. Dan unit rekrutasi atau pengkaderan," tambahnya.

Lalu, bagaimana mengelola isu? Ini harus ada penguatan tim. Tim yang handal akan mudah mengelola isu dan menyiapkan isu tandingan.

Bagaimana mengcounter berita hoax yang tengah viral? Harus ada upaya klarifikasi. Secara judul, berita hoax biasanya bombastis. Isinya hasutan. Foto editan. Sehingga perlu cross-check dengan berita lainnya.

“Tool dakwah terkini adalah Medsos. Maka, perlu penguasaan frame media. Sebab, kondisi saat ini telah masuk era perang semesta. Semua orang diajak untuk terlibat media sosial. Mengkonsumsi informasi media. Disinilah perlunya upaya klarifikasi terhadap informasi yang beredar itu,” pungkas Cak Usma, sapaan akrab ketua LTN PBNU itu.


*Sumber: nuruljadid.net
Read More

Hukum Bagi Pengucap "Nabi Tak Bisa Wujudkan Rahmatan lil-'Alamin"


Jam'iyyah Musyawarah Riyadhotut Tholabah (JMRT), PP. Alfalah, Ploso, Kediri, menggelar acara Bahtsul Masail Kubro Antar pesantren Se-Jawa-Madura ke XX.

Hasil acara yang diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2018 itu dengan rincian sebagai berikut:

Deskripsi masalah:
Lagi-lagi, media sosial dihebohkan oleh seorang muballigh yang membuat blunder saat ceramah di acara Muktamar di salah satu ormas di Riau. Ia mengatakan bahwa "Nabi Muhammad tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-'alamin selama 40 tahun. Bahkan setelah turun wahyu selama 13 tahun, Nabi Muhammad juga tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-'alamin karena berada dibawah tekanan. Ditekan oleh orang-orang yang tidak senang kapada wahyu yang ia terima, maka rahmatan lil-'alamin tidak terwujud diatas muka bumi Allah SWT."

Ia juga berkata: “Kapan rahmatan lil-'alamin itu dapat diwujudkan? Bukan dengan kenabian. Bukan dengan Al-Qur'an ditangan. Tapi, setelah tegaknya Khilafatin Nubuwwah."

Dia mengatakan bahwa "tidak ada yang dapat mewujudkan rahmatan lil-'alamin selain Khilafatin Nubuwwah, Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah (Sambil dijawab dengan teriakan takbir)."

“Jika seluruh umat tidak memperdulikan khilafah ini, maka dia sudah menyia-nyiakan pesan Nabi Muhammad SAW.," ujarnya.

Dia menambahkan, “Dosa terbesar dalam umat ini bukanlah minum khamr. Karena dia akan mabuk untuk dirinya sendiri. Andai ada orang berzina, mungkin madlarat itu hanya untuk mereka berdua dan keluarganya. Tapi, ketika khilafah ini disia-siakan, maka tak terwujudnya rahmatan lil-'alamin dirasakan oleh mulai dari sejak ikan lumba-lumba yang dipertontonkan ditengah anak-anak yang mestinya mendapatkan keadilan, sampai kepada anak yatim. Anak yang dalam fitroh, sampai ke alam semesta tidak mendapatkan rahmatan lil-'alamin. Apa sebabnya? Karena tidak tegaknya khilafah (teriakan takbir)," jawabnya.

Perkataan yang digaris bawahi itulah yang menyebabkan kontra dikalangan netizen. Dan tak sedikit dari netizen yang menganggap muballigh tersebut telah menghina Nabi Muhammad SAW., dan bahkan apa yang disampaikan terkesan mendukung gerakan ormas tersebut.

Pertanyaan:
Apakah peryataan yang disampaikan oleh muballigh yang digaris bawahi dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.?

Jawaban:
Konten/isi pernyataan muballigh tersebut, secara dhohir dianggap menghina Nabi. Hanya saja, jika muballigh tidak ada tujuan menghina, maka tidak sampai dihukumi kufur, tapi haram. Sebab, tidak sesuai dengan tafsir para ulama’.

Referensi:
1. Fatawi Haditsiyah juz 1, hal. 161.
2. Tafsir Rozi juz 11, hal. 80.
3. Al-Fatawi Al-Kubro juz 4, hal. 236.
4. Faidlul-Qodir juz 1, hal. 172.
5. Al-Bahrul Madid juz 2, hal. 297.
6. Al-Mausu’ah Quwaitiyah juz 7, hal. 99.

Mushohih:
Gus H. Ali saudi
K. Su’ud abdillah
K. Hadziqunnuha
K. Sa’dullah

Perumus:
Gus H. Kanzul Fikri
Ust. Bisri Musthofa
Ust. Muhammad Anas
Ust. Shihabudin Sholeh
Ust. Ali Maghfur
Ust. A. Fadlil
Ust. M. Halimi
Ust. Fahrurrozi

Moderator:
M. Alamur Rohman

Notulen:
Hadziqunnuha
M. Iqbal

Read More

Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat


Penggunaan ayat suci sebagai topeng untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, termasuk pemerintahan yang berbentuk khilafah Islamiyah, sudah terjadi sejak zaman khulafaur rasyidin. Seperti terlihat pada sejarah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Tersebutlah nama Abdullah bin Saba', seorang oposan dan pemberontak yang terus melakukan provokasi pada ummat Islam untuk melakukan makar dan melawan semua kebijakan khalifah Utsman. Provokasi dilakukan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an.

Seperti di catat oleh para ahli sejarah Islam, ketika khalifah Utsman mengeluarkan kebijakan membuat ladang khusus untuk unta-unta sedekah yang terlarang untuk umum, para oposan ini menentang dengan menggunakan surat Yunus, ayat 59, sebagai alat legitimasi.

Berlagak sebagai pembela Islam dan penegak ayat suci, mereka mendatangi khalifah Utsman. Dengan suara lantang dan garang mereka berkata: "Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah engkau telah mendapatkan izin dari Allah untuk melakukan hal ini? Engkau telah melakukan tindakan yang mengada-ada terhadap hal yang tidak ditentukan Allah."

Dengan tenang Khalifah Utsman menjawab: "ayat tersebut diturunkan dalam konteks yang lain, bukan dalam masalah seperti ini. Umar bin Khatthab sudah melakukan hal ini sebelumnya. Dia membatasi tanah khusus untuk unta-unta zakat lalu aku menambahnya untuk unta sedekah yang semakin banyak".

Para oposan yang sudah terpenjara teks dan mabok kekuasaan ini, tidak dapat menerima penjelasan yang diberikan oleh khalifah Utsman. Mereka terus mengobarkan permusuhan dan fitnah pada pemerintah yang sah dengan mengobral ayat-ayat Al-Qur'an meski pemerintahan sudah berbentuk khilafah. Fitnah dan provokasi ini berujung pada pembunuhan khalifah Utsman.

Hal yang sama juga terjadi pada khalifah Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat di tangan Abdurrahman ibn Muljam. Seorang muslim yang digambarkan oleh sejarawan Islam, Adz-Dzahabi, sebagai sosok ahli ibadah, hafal dan ahli baca Al-Qur'an, hingga mendapat julukan Al-Muqri'.

Pemahaman keagamaan yang tekstual-skripturalis telah menimbulkan sikap keras pada diri Ibn Muljam sehingga menganggap sayyidina Ali sebagai orang kafir yang layak dibunuh karena tidak menjalankan hukum Islam.

Semangat membunuh Sayyidina Ali ini makin berkobar ketika dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang juga berniat makar lantaran dendam pada khalifah Ali.

Perempuan cantik ini bernama Qathami binti Syijnah. Dia dendam pada sayyidina Ali karena suadaranya terbunuh dalam perang Nahrawan. Perempuan ini mau dinikahi Ibn Muljam dengan syarat dia harus membunuh sayyidina Ali.

Dengan semangat keislaman yang tekstual-puritan dan didorong oleh semangat cinta yang membara, Ibn Muljam semakin mantap niatnya untuk "berjihad" membunuh sayyidina Ali yang dianggap kafir karena tidak menerapkan hukum Allah.

Pemahaman Ibn Muljam ini berdasar pada ayat; "barangsiapa yang tidak menggunakan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah SWT. (Al-Qur'an/syari'at Islam), maka mereka itulah orang-orang kafir" (QS al-Maidah: 44).

Dalam kitab sejarah Islam disebutkan, saat membunuh Ali bin Abu Thalib, Ibn Muljam berkata: "tidak ada hukum, kecuali hukum Allah SWT. Hukum bukan milikmu dan orang-orangmu (wahai Ali). Kemudian dia mengutip surat Al-Baqarah, ayat 207: "Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah. Dan Allah maha penyantun pada hamba-Nya".

Dengan mengutip ayat ini, Ibn Muljam merasa bahwa tindakannya membunuh sayyidina Ali merupakan pengorbanan diri untuk mendapat ridla Allah dan menjadi hamba yang disantuni Allah.

Tindakan ini menjadi cikal bakal tindak kekerasan yang dilakukan oleh kaum radikal-intoleran. Mereka menggunakan ayat-ayat suci untuk makar dan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham. Tindakan ini terus berulang dalam sejarah Islam hingga saat ini.

Para ulama' telah melakukan upaya membendung politisasi ayat yang melahirkan sikap intoleran dan destruktif ini. Mereka menyusun berbagai argumen dan pemahaman teologis yang juga bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits untuk melawan tindakan kekerasan atas nama agama ini.

Paham keagamaan tekstual-puritan yang radikal dan intoleran ini terus menggerogoti pemikiran dan kesadaran umat Islam. Seperti virus dan racun menggerogoti daya tahan tubuh.

Seperti halnya melawan virus dan racun dalam tubuh, maka untuk melawan pemahaman tekstual-puritan yang intoleran dan penuh kekerasan, diperlukan daya tahan diri yang kokoh melalui penanaman ideologi Islam yang rahmatan lil'alamin. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mensosialir secara massif pemahaman keagamaan yang toleran, manusiawi dan penuh kedamaiaan.

Kedua, membangun keadaban kritis masyarakat terhadap penggunaan simbol, ritual dan ayat-ayat suci dalam praktik politik melalui data-data sejarah. Sebagaimana disebutkan diatas, secara historis, ayat-ayat dan simbol agama sangat rentan dimanipulasi dan dijadikan topeng untuk memenuhi ambisi politik dan tindak kekerasan.

Ketiga, melakukan tindakan tegas terhadap upaya penyebaran virus dan racun kekerasan agama. Ini perlu dilakukan sedini mungkin sebelum virus dan racun ini menyebar ke masyarakat sehingga sulit dikendalikan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, tindakan deteksi dini dan memberangus virus ini merupakan keniscayaan. Karena virus radikal dan intoleran yang penuh dengan tindakan kekerasan ini tidak saja mengancam kebhinnekaan, tetapi juga kemanusiaan. Tindakan tegas perlu dilakukan sebelum bangsa ini hancur terjebak dalam konflik yang tidak terkendali.


* Oleh: Al-Zastrouw Ngatawi, Dosen Pasca Sarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.
Read More

Tasawuf Pancasila


Seharusnya, umat Islam tidak perlu lagi mempersoalkan posisi antara agama dan negara. Menurut penulis, masalah agama dan negara itu sudah selesai secara politis ketika pendiri bangsa menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Pancasila adalah dasar negara. Sedangkan Islam merupakan akidah yang harus dipedomani. Pancasila mengakui dan menghormati nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan dalam islam. Pancasila telah mampu berdampingan dengan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia.

Begitulah memang bahwa sejatinya napas atau ruh dari Pancasila itu sendiri ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama (aturan Tuhan) telah hadir dimuka bumi menjadi satu paket dengan proses penciptaan manusia itu sendiri. Oleh karenanya, ketika siapapun mempersoalkan eksistensi agama (dengan produk peradabannya) dan atau akan memisahkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan agama, sama halnya memisahkan ikan dengan air. Atau memisahkan manusia (mahluk hidup) dengan oksigen.

Dengan demikian, Pancasila dan Agama tidak sekadar dapat berdampingan. Justru lebih dari itu, dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, Pancasila akan kehilangan makna jika tidak dijiwai dan atau mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran universal agama (Ketuhanan) itu sendiri.

Substansi dari agama yang diturunkan oleh Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa ialah untuk menjamin tata kehidupan manusia yang berkeadaban secara holistik integral jauh dari tirani dan eksploitasi antara satu dengan yang lain, baik dalam konteks individual maupun komunal. Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum bagi bangsa Indonesia menempatkannya sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis. Sehingga setiap materi muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Hal inilah kemudian yang belakangan sempat menjadi perdebatan ketika lahirnya regulasi (perda) berbasis syari’ah dipandang tidak selaras dengan Pancasila. Padahal, ketuhanan adalah inti dari Pancasila itu sendiri. Ketika sebuah sistem dibangun berdasarkan ketuhanan, insya Allah sudah secara otomatis akan melindungi harkat martabat kemanusian dan keadilan sosial sekaligus.

Jika dilihat dari aspek sejarah, para ulama' Islam memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh, peran pendahulu Nadhlatul Ulama', KH. Wahid Hasyim, yang memiliki komitmen kebangsaan saat terlibat langsung dalam menyiapkan kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno, Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Kalau warga NU ditanya, pilih Islam atau Pancasila, ya dua-duanya. Islam dan Pancasila itu sejalan. Islam itu aqidah, sedangkan Pancasila itu dasar negara. Tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila.

Sebagai negara berideologi Pancasila, Indonesia bukanlah negara sekuler atau negara yang memisahkan antara agama dengan negara. Disisi lain, negara kebangsaan Indonesia yang ber-Pancasila juga bukan negara agama atau negara yang berdasarkan atas agama tertentu. Negara Pancasila pada hakekatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila dan ajaran Islam sama-sama mengajarkan budi pekerti luhur. Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia adalah objektivikasi ajaran Islam. Jika dihayati dengan benar, pancasila juga bisa menjadi pengendali tingkah laku. Karena pancasila juga berisi ajaran moral.

Pancasila merupakan cerminan ajaran Al-Qur'an, tetapi dibahasakan dengan budaya setempat. Sehingga bisa diterima oleh kelompok Non-Muslim sekalipun.

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam adalah Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi Syari'at Islam. Pancasila dirumuskan oleh tokoh bangsa yang mayoritas beragama Islam. Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima silanya yang selaras dengan ajaran Islam.

Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohaniaan yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya.

Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Pertama, Tasawuf Pancasila adalah dimana nilai Islam dan kebangsaan berpadu dalam cinta dan perdamaian dengan ungkapan ad-diin huwa al-hubb, agama adalah cinta. Inilah perangkat moral dan etik untuk mengajarkan nilai dasar Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Kedua, Tasawuf Pancasila sebagai spiritualitas baru diharapkan menjadi energi gerak kolektif bangsa Indonesia untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pancasila dan tasawuf sama-sama sebagai penegak moral. Pancasila dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, sedangkan tasawuf dalam konteks keagamaan.

Pancasila dan Tasawuf sebagai sama-sama penegak moral, maka menarik untuk bagaimana melihat Pancasila dalam perspektif Tasawuf sebagai inti dari ajaran Islam, karena penekanan dari ajaran Tasawuf ialah konsep ihsan, yaitu selalu merasa melihat atau dilihat oleh Allah SWT. yang pada implikasinya dapat mengendalikan tingkah laku maupun perbuatannya dalam hubungan sosial, berbangsa, dan bernegara.

Ketiga, Konsep Tasawuf Pancasila adalah dimana agama dan negara tidak bisa dipisahkan dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia hari ini memerlukan sosok yang bisa menjadi jembatan antara ketiga konsep tersebut. Saat ini Indonesia mulai kehilangan sosok yang mampu menjembatani antara Pancasila, agama dan negara.

Saya berharap kepada organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama, seperti NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan lain-lain, harus berperan aktif dalam membumikan Tasawuf Pancasila ini.

Untuk itu, ayo mari saya mengajak sahabat untuk ber-Tasawuf Pancasila. Karena penulis adalah sebagai pendidik, dalam mimbar ini setidaknya memberikan sumbangsih saran, yaitu: kita harus ada kesadaran kolektif, terkhusus dari lingkungan pendidikan. Misal, perguruan tinggi dengan menggagas wacana diskusi dan implementasi mengenai peran Tasawuf Pancasila sebagai memanifestasi rahmatan lil alamin. Rahmat untuk seluruh umat manusia melalui cinta dan perdamaian.

Menurut penulis, ini penting. Keterlibatan “orang-orang tercerahkan” itu akan meneguhkan sinergitas dan integrasi dua arus pendekatan sekaligus, yaitu: teoretis dan praktis, ilmi dan amali.


* Oleh: Eko Supriatno, penganggit buku “Politik Zaman Now”, tenaga ahli DPRD Provinsi Banten.
Read More