Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya


rumahnahdliyyin.com - Salah satu penyebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Atas permintaan istri pertamanya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ibrahim pun memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS. dari rahim istri kedua tersebut.

Permintaan Siti Sarah itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim AS. belum dikaruniai seorang anak pun. Kasus ini, ternyata mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan, Solo. Bedanya, kiai Mannan menolak permintaan istrinya untuk poligami itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoax

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkyudan, Surakarta, yang didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981.

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami, meski diminta sendiri oleh istri beliau, yaitu Mbah Nyai Mushlihah, adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan untuk berpoligami kendati sudah pernah menikah hingga tiga kali.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Perkawinan Mbah Kiai Abdul Mannan dengan istri pertamanya, berakhir dengan mufaroqoh yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua, berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Sedangkan perkawinannya dengan istri yang ketiga, yakni dengan Mbah Nyai Mushlihah, berlangsung langgeng hingga Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri, wafat pada tahun 1981 sebelum beberapa minggu kewafatan Mbah Kiai Ahmad Umar.

Pertanyaannya, mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Berdasarkan penuturan dari salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah, Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—dengan terus terang, Mbah Nyai Mushlihah memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan yang notabene sebagai suaminya supaya menikah lagi. Hal tersebut karena Mbah Nyai Mushlihah merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya untuk melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang, wanita yang sudah menopause, pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Selain itu, menurunnya kemampuan berhubungan seksual, jika dipaksakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Untuk itu, Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki memang bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, tapi beliau menolak permintaan itu. Sebab, pada dasarnya, beliau tidak menginginkan berpoligami. Tentu saja beliau punya beberapa alasan atas penolakannya itu, yang pada intinya demi menghindari madlorot yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburuan dan permusuhan diantara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah yang mencemburui Siti Hajar serta bersikap tidak ramah. Padahal, kehadiran Siti Hajar sebagai istri kedua Nabi Ibrahim AS. merupakan permintaan Siti Sarah sendiri.

Jadi, alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH. Abdul Mannan untuk berpoligami itu bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim AS. Hanya saja, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai lebih dari enam orang anak, termasuk Mbah Ngis, yang dilahirkannya sendiri.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Memilih Puasa

Dikalangan pesantren dikenal ada tiga tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang ilmu pengetahuan agamanya luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu serta tenaganya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang ilmu hikmahnya menonjol dan banyak riyadloh sehingga menjadi sosok yang arif-bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan sendiri, dalam tipologi ini, tergolong dalam kiai tipe yang ketiga, yaitu lebih menonjol sebagai kiai 'arif.

Dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah "meminta pensiun" dari tugas melayani urusan kasur, Mbah Kiai Abdul Mannan bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hsyim Asy'ari

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih dikandung badan. Tapi, poligami bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal yang berupa syahwat itu. Ada cara lain untuk mengatasinya, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.

Cara berpuasa itulah yang dipilih oleh Mbah Kiai Abdul Mannan ketika mencari solusi terbaik dalam mengatasi persoalan syahwatnya disaat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqh) dengan jawaban moral (akhlaq) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah SWT. dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Bukhori: Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.[]



Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Sumber: NU Online
Read More

Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Siang selepas sholat Dhuhur, pada hari Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak penuh oleh lautan manusia. Umat muslim Kabupaten tersebut dan juga dari Kabupaten terdekat, yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai, berduyun-duyun datang ke halaman masjid itu untuk turut memperingati Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

"Saya senang sekali di pedalaman Papua ada Peringatan hari-hari besar Islam. Kalau di kota-kota besar Papua, itu sudah biasa. Kalau bisa, jangan hanya satu kali saja, ketika peringatan Isro'-Mi'roj saja, namun hari-hari besar lainnya," ungkap KH. Syaiful Islam Payage yang menjadi pembicara dalam acara peringatan tersebut.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana dan Dakwah Umat Islam

Sebagai ketua MUI Papua, kiai Payage menyatakan bahwa dia siap melayani umat Islam yang berada di pelosok-pelosok dan pedalaman Papua. Lebih lanjut, dia pun bercerita bahwa hari ini, sebenarnya dia dipanggil ke Jakarta oleh bapak Kemenag RI.

"Tapi saya menunda dulu dan hadir di pengajian ini. Sebagai orang nomor satu dimata umat Islam di Papua, saya mendahulukan melayani kepentingan umat terlebih dahulu," ujar kiai yang pernah nyantri di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, itu.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Selain mengajak dan menekankan supaya umat Islam senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan, kiai Payage menambahkan pula bahwa sebagai "gubernurnya" umat Islam Papua, dia sangat malu apabila ada umat Islam di Papua yang melakukan tindakan intoleransi dan perpecahan antar umat beragama.

Selanjutnya, dia juga memaparkan pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW. dan mempelajari ajaran-ajaran yang dibawanya dari Allah SWT.

"Saya bisa kenal Islam, bisa begini, karena ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Apabila umat Islam ingin anak-anaknya belajar Islam, saya siap menampung di Pesantren Payage saya di Jayapura," ucapnya kepada hadirin.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-indonesia Bentuk HAPPI

Dia juga menyatakan bahwa kelak, sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, insya Allah Islam di Papua akan berkembang. Tidak hanya masyarakat pendatang saja, namun juga masyarakat asli Papua.[]



(M. Taha)
Read More

Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Tidak seperti biasanya yang lenggang, pada Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak sesak oleh lautan manusia. Umat muslim berduyun-duyun melangkahkan kakinya menuju halaman masjid itu guna menghadiri peringatan Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

Dalam acara peringatan Isro'-Mi'roj tersebut, Panitia dan Pengurus BKM Ash-Shiddiq, Wagete, Kab. Deiyai, Papua, ini mengundang umat muslim dan ormas Islam NU yang ada di sekitar Kabupaten Deiyai. Yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai. Disamping memperingati Isro'-Mi’roj, kegiatan ini sekaligus juga untuk menjalin dan memperkuat silaturrahmi umat Islam antar Kabupaten.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Adapun yang menjadi pembicara dalam acara ini yaitu KH. Syaiful Islam Payage yang berasal dari Jayapura. Selain menguraikan tentang Isro'-Mi'roj, kiai Payage yang menjabat sebagai Ketua MUI Provinsi Papua ini juga menjelaskan keutamaan sholat lima waktu kepada para hadirin.

Lebih lanjut, dalam mauidhoh hasanahnya, kiai asli Papua itu mengajak umat Islam untuk bersama-sama menjaga persatuan. Khususnya umat Islam yang berada di Papua. Baik persatuan antar sesama umat Islam sendiri maupun kerukunan antar umat beragama.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

"Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, itu agamanya bermacam-macam. Kalau kita lihat, agama yang dianut oleh bangsa Indonesia itu ada enam agama. Oleh karena itu, menjaga kerukunan adalah salah satu dakwah bagi umat Islam dan sekaligus salah satu sarana dalam berdakwah," tegasnya.[]



(M. Taha)
Read More

Kroyokan Sedekah Berawal Dari Cemburu


rumahnahdliyyin.com | Bantul - Bermula dari sedekah di kedua masjid yang ada di lingkungan tempat tinggalnya yang berada di Kampung Prancak, kawasan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Bantul, Yogyakarta, Joko Taruno sudah mampu bersedekah di 33 masjid se-DIY setiap Jum'atnya saat ini. Niatnya sederhana, hanya ingin mencari sangu untuk bekalnya di akhirat kelak.

Mulai pukul sepuluh pagi, setiap Jum'at, satu per-satu warga dari berbagai lapisan, mulai tukang becak, sopir maupun musafir, sudah mengambil snack dan minuman untuk dibawa. Ada yang mengambilnya untuk dikonsumsi pribadi dan ada juga yang diantarnya ke masjid-masjid yang ada di sekitaran Kampus ISI Yogyakarta, Jalan Parangtritis, Bantul.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

“Kami utamakan dahulu di dua masjid sekitar. Yakni Masjid Abdul Kadir Nur Wahdaniyah dan Masjid Kampus ISI. Kedua masjid ini menjadi cikal bakal saya dan rekan-rekan satu komunitas untuk bisa selalu bersedekah,” papar Koordinator Kroyokan Sedekah, Joko Taruno, Jum'at (20/4/2018), seperti yang dikutip dari suaramerdeka.com.

Sudah tiga tahun terakhir ini Joko Taruno selalu bersedekah dengan menyediakan makanan ringan dan minuman ke masjid-masjid untuk nantinya dikonsumi seusai Sholat Jum'at.

“Awalnya, saya itu cemburu. Karena, kenapa orang lain bisa berbuat baik, sementara saya tidak. Setelah itu, makin dipertegas ketika setiap habis Sholat Jum'at di Masjid Jogokaryan selalu ada kegiatan pemberian makanan dan minuman gratis bagi jamaah. Makanya saya juga ingin melakukan hal itu (membagikan makanan setiap Sholat Jum'at) dengan gratis,” ceritanya.

Baca Juga: NU Care Lazisnu Peduli Papua

Joko pun mencoba menerawang jauh apa yang telah dilakukannya pada tiga tahun silam ketika mengawali "Kroyokan Sedekah" ini. Kala itu, berbekal seringnya menggelar seni pertunjukkan, karena kebetulan pula lulusan ISI, Joko pun kerap sekali mendapatkan kerja sama dengan sebuah perusahaan teh kemasan. Setiap Jum'at, setidaknya ratusan gelas teh dibagikan ke jamaah di dua masjid sekitar rumahnya.

“Iseng apa yang saya lakukan ini saya share lewat medsos, dan alhamduliLlah mendapat respon dari kawan-kawan. Hingga akhirnya mereka pun ikut terlibat dengan menyumbangkan teh,” ungkapnya.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Gayung bersambut, dari aksi itu, akhirnya terkumpul seribu gelas dimana pergelasnya seharga seribu rupiah. Teh-teh ini pun dibagikan ke jamaah Sholat Jum'at masjid di sekitar rumahnya untuk setiap pekannya.

“Terkadang sisa. Sehingga saya sebar ke masjid lainnya. Saya memegang prinsip, ketika mengajak orang lain bersedekah, setidaknya dia mampu melakukan hal kebaikan. Dan uang sumbangan seribu rupiah itu bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk sesuai keinginan para relawan,” jelasnya.

Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Umat Dari Pesantren

Lambat laun, aksi "Kroyokan Sedekah"-nya menjadi besar. Bahkan, pihak perusahaan teh tersebut menyerahkan bantuan teh dengan ukuran apapun asalkan Joko menyediakan tempat air minum ukuran jumbo sepuluh liter. Selain itu, tak hanya minuman teh yang disedekahkan, melainkan juga memberikan makanan-makanan kepada jamaah Sholat Jum'at.

“Lagi-lagi lewat medsos. Saya tawari siapa yang ingin sedekah dengan menyediakan snack, akhirnya malah melimpah ruah. AlhamduliLlah. Karena itu, kami berkembang terus dengan setidaknya ada 33 masjid di DIY yang merasakan dampaknya. Termasuk bantuan bencana alam, longsor Ponorogo, termasuk yang terakhir di Cilacap,” jelas pria asal Jakarta yang lahir tahun 1980 itu

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas

Dengan lebih dari 500 member "Kroyokan Sedekah" di Facebook dan Instagram, komunitas ini terus menerus berkembang.

“Lewat "Kroyokan Sedekah" ini, pemberian makanan gratis juga dilakukan di tempat lain. AlhamduliLlah, kami juga membangun rumah di Gunungkidul dan Bantul. Termasuk dari Sulawesi juga memberikan sedekah mereka. Lalu saat Romadlon nanti, ada pembagian 500 nasi dan 500 roti untuk diberikan ke masjid-masjid,” paparnya.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Lebih lanjut, Joko berharap supaya apa yang dirintisnya saat ini terus bisa berkembang. Bahkan, pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual makanan bernama "Songgobuwono" tersebut sudah membuat surat wasiat.

“Dalam wasiat ini saya katakan bahwa meskipun nanti gerakan "Keroyokan Sedekah" mulai meredup, namun gerakan sedekah tetap harus ada di dua masjid di sekitar tempat tinggal saya,” tandasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More

Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama


rumahnahdliyyin.com,
 Semarang - Menag Lukman Hakim Saifuddin mengawali kunjungan kerjanya di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dengan menjadi pembicara di acara "Ngaji Kebangsaan; Mengasah Jati Diri Indonesia" di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang.

Sebagaimana disebutkan dalam laman resmi Kemenag, kemenag.go.id pada Jum'at (20/05/2018), Menag tiba di Kampus UIN Walisongo sekitar pukul 14.00 WIB. dengan didampingi Kepala Kanwil Kemenag Jateng (Farhani), Rektor UIN Walisongo (Muhibbin) dan Kabag TU Pimpinan Khoirul Huda.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Ngaji Kebangsaan yang diselenggarakan di Auditorium II yang terletak di Kampus 3 UIN Walisongo itu dihadiri oleh para mahasiswa. Tampak hadir juga para Kakankemenag Kab./Kota se-Jawa Tengah, perwakilan Pemprov. Jateng dan segenap civitas akademika UIN Walisongo Semarang.

Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, doa dan penampilan pagelaran seni Islami dari mahasiswi UIN Walisongo ini dimoderatori oleh Musahadi, Wakil Rektor 1 UIN Walisongo itu.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Dalam kesempatan itu, Menag Lukman Hakim menyatakan bahwa Indonesia meletakkan agama pada posisi yang strategis dalam peranannya menata kehidupan berbangsa. Sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka, kehidupan semua etnis dan suku di Nusantara, dimanapun wilayah geografisnya, diwarnai dengan nilai-nilai agama.

"Kita bisa sebut, mulai dari Aceh, Batak, Minang, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Papua dan etnis lainnya, tidak bisa terpisahkan dengan nilai-nilai agama. Selain itu, semua kearifan lokal di Nusantara juga memiliki rujukan pada nilai-nilai agama. Tidak ada kearifan lokal yang tidak bisa dirujuk dengan nilai agama, terlepas apapun agamanya di Indonesia," terang Menag.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Mengasah Jati Diri Indonesia (Mengaji) ini merupakan program strategis Kementerian Agama dalam upayanya untuk mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan ditengah-tengah masyarakat.[]



(Redaksi RN)
Read More

Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia


rumahnahdliyyin.com - Dalam daftar Time 100 yang dirilis pada Kamis, 19 April 2018, waktu setempat, ibu Sinta Nuriyah masuk dalam deretan 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Time. Istri mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu masuk dalam kategori icons.

Tokoh-tokoh internasional lainnya yang masuk dalam kategori tersebut diantaranya yaitu penyanyi dan aktris Jennifer Lopez, Rihanna dan Christopher Wylie yang menjadi whistleblower dalam skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Maimoen

Mona Eltahawy, dalam time.com menulis bahwa ibu Sinta masuk dalam Time 100 karena dia sangat berperan dalam menjaga keberagaman masyarakat antar agama di Indonesia dan khususnya melindungi perempuan muslim di Tanah Air. Hal ini dinilai penting. Terutama ditengah tingginya tekanan dari kelompok Islam garis keras, termasuk di Indonesia, akhir-akhir ini.

"Perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai feminis muslim ini memiliki gelar di hukum syari'ah dan kajian perempuan. Dia paham bagaimana agama yang dipolitisasi akan sangat berdampak negatif terhadap perempuan dan kaum minoritas," kata Eltahawy.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Selanjutnya, ibu Sinta juga dinilai turut memberikan penyuluhan kepada perempuan-perempuan transgender, mendukung mantan Gubernur Jakarta yang beragama Kristen karena dituduh melecehkan agama dan lain-lain.

"Para pria seringkali hanya membicarakan perempuan muslim terkait penggunaan jilbab. Tetapi, dia mengingatkan kita bahwa perempuan muslim memiliki hal-hal yang jauh lebih kompleks dan lebih menarik untuk dibicarakan," tambah jurnalis dan penulis itu.

Baca Juga: Tionghoa dan Kran Pembuka Ekslusivitasnya

Ibu Sinta Nuriyah menjadi satu-satunya tokoh Indonesia yang masuk dalam daftar Time 100 pada tahun ini. Tokoh Indonesia lainnya yang pernah masuk dalam Time 100 adalah Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009.[]




(Redaksi RN)
Read More

Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Beragama


rumahnahdliyyin.com - Dua tokoh agama yang berpengaruh di dunia, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dari Nahdlatul Ulama dan Master Cheng Yen dari Buddha Tzu Chi yang berpusat di Xincheng mengadakan pertemuan di kota Hualien Taiwan, Rabu lusa, 18 April 2018.

Setelah dua hari mengunjungi rumah sakit, media televisi, pusat bisnis dan universitas yang dikelola oleh komunitas Buddha Tzu Chi, kiai Said Aqil bertatap muka dengan Master Cheng Yen.

"Selamat datang di tempat kami. Bagaimana kesan Bapak terhadap kami setelah melihat langsung aktifitas kami? Tolong beritahu kekurangan penyambutan kami kepada Bapak," sapa Master Cheng Yen sambil membungkukkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang menyatu didepan dada.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mendapat sapaan hangat, kiai Said Aqil menyampaikan rasa terima kasih karena telah disambut secara terhormat dan merasa senang dapat menjalin persaudaraan dengan komunitas Buddha Tzu Chi.

"Kami mengajak Buddha Tzu Chi untuk bersinergi menegakkan keadilan, memberikan pengayoman terhadap yang lemah dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Kami menjalin persaudaraan dengan semua pihak, kecuali pelanggar hukum," balas kiai Said santun.

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Master Cheng Yen dan kiai Said Aqil pun berdiskusi tentang berbagai isu kemanusiaan. Keduanya saling bertukar pikiran, menyampaikan pandangan dan solusinya. Terkadang tampak Master Cheng Yen mengangguk dengan sikap hormat. Begitu juga kiai Said menunjukkan sikap yang sama.

Kepada kiai Said Aqil, Master Cheng Yen menyampaikan rasa bahagianya mengamati kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia. Manusia, kata Master Cheng Yen, perlu saling menolong secara ikhlas dan kasih sayang. Agama itu yang terpenting adalah aksi. Atas keyakinannya itu, ia pun tak segan minta nasehat kepada kiai Said Aqil tentang peran kemanusiaan yang ideal.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Kiai Said Aqil mengatakan bahwa selama ini Master Cheng Yen bersama Buddha Tzu Chi telah memberikan teladan kepada manusia. Esensi agama adalah kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW. selalu memberikan keteladanan dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Karena itu, percuma beragama jika berperilaku bengis dan radikal.

Masyarakat beragama di belahan lain di dunia telah kehilangan esensi dalam beragama. Barat menjunjung tinggi capaian, sedangkan yang di Asia masih mampu membangun peradaban. Di kawasan ini masyarakat tidak mementingkan legal-formal, tapi mengutamakan pembangunan peradaban. Salah satu faktor kekuatannya adalah para agamawannya yang mengutamakan intuisi sehingga selalu dalam tuntunan Tuhan.[]




(Redaksi RN)
Read More

Mengenal Para Mufassir Indonesia


rumahnahdliyyin.com - Tersebutlah nama Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara. Gadis ini selalu berminat menyimak pengajian tafsir yang disampaikan oleh KH. Muhammad Soleh bin Umar As-Samarani, guru para ulama di penghujung abad XIX. Bahkan, saking antusiasnya, Kartini mengikuti pengajian kiai Soleh hingga ke Demak.

Dalam suatu pengajian yang dihelat di bangsal pendopo Kabupaten Demak, Kartini merasa kurang puas dengan uraian kiai Soleh tentang tafsir Al-Fatihah. Seusai pengajian, Kartini yang terkenal kritis itu memberanikan diri untuk menemui kiai Soleh. Ia pun meminta kepada guru kinasihnya itu agar bersedia menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Kiai Soleh yang rendah hati itu, awalnya keberatan karena diperlukan prasyarat keilmuan yang berat untuk menjadi seorang mufassir alias ahli tafsir Al-Qur’an.

Baca Juga: Terjemah Al-Qur'an Bahasa Aceh Masuk Tahap Validasi

"Tapi, bukankah Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka, sekarang Ananda mohon, sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya. Berupa kitab terjemahan dan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Jawa. Sebab, hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan kudus dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan Romo Guru akan besar sekali jasanya,"

Mendengar permintaan Kartini, raut wajah kiai tua asal Darat, Semarang itu, berseri. Seketika itu pula air mata kiai Soleh tumpah, menangis haru mendengar pinta perawan bangsawan itu.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Bermula dari dialog di pendopo kabupaten itulah, setahun berikutnya, kitab yang diidam-idamkan Kartini terbit. Judulnya Faidh Al-Rohman fi Tafsir Al-Qur'an. Kitab karya kiai Soleh ini berukuran folio dan dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid, kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukin di tanah Melayu. Bahkan, kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan, juga memakai kitab ini.

Ditulis dengan aksara Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA. Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM. Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Kiai Soleh Darat wafat pada tanggal 28 Romadlon 1321 H. atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903 M. Penulis produktif ini dimakamkan di komplek Pemakaman Umum Bergota, Semarang.

Kiai Soleh, yang merupakan guru KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, menandai salah satu fase perkembangan tafsir Al-Qur’an di Nusantara. Hampir sezaman dengan kiai Soleh, terdapat nama Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani (1813-1897), seorang ulama Banten yang menjadi guru besar di Haromain.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Syaikh Nawawi menulis sebuah kitab berjudul Tafsir Al-Munir li Ma’alim At-Tanzil yang selesai ditulis pada hari Rabu, 5 Robiul Awwal 1305 H., ketika ia tinggal di Makkah. Sebelumnya, naskah tafsir ini disodorkan kepada ulama Makkah dan Madinah untuk diteliti. Lalu, naskahnya dicetak di negeri itu pula. Atas reputasi keilmuannya yang luar biasa, para ulama pun menggelarinya sebagai Sayyid ulama Hijaz.

Kecemerlangan kiai Soleh Darat dan Syaikh Nawawi sebagai mufassir ini, kemudian dilanjutkan oleh beberapa ulama pada dekade berikutnya. Corak metodologinya pun beragam. Demikian pula dengan bahasa yang digunakan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada era 1930-an, seorang ulama asal Sukabumi, KH. Ahmad Sanusi, menulis kitab tafsir lengkap 30 juz, Roudlotul Irfan fi Ma’rifat Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Sunda. Ia juga menulis karya lain seputar tafsir Al-Qur’an dengan corak yang berbeda. Total, terdapat 75 karya tulis dengan beragam perspektif keilmuan yang dihasilkan oleh ulama yang sempat aktif di Sarekat Islam dan BPUPKI ini.

Sezaman dengan kiai Ahmad Sanusi ini, terdapat nama Syaikh Mahmud Yunus. Nama terakhir ini, selain terkenal dengan kamus Arab-Melayu yang ia ciptakan, rupanya masih memiliki karya tafsir. Judulnya Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Bahasa Indonesia. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Mahmud Yunus sendiri dalam Kata Pengantar di buku tafsirnya, ia memulai penulisannya pada bulan Nopember 1922 dan selesai pada 1938.

Baca Juga: Ulama Otoriter dan Ulama Otoritatif

Di Indonesia, Syaikh Mahmud Yunus merupakan satu diantara pelopor tafsir runtut 30 juz sesuai urutan mushhaf. Setelah Syaikh Mahmud Yunus, terdapat nama A. Hassan dengan Al-Furqon: Tafsir Al-Qur’an. Pendiri organisasi Persatuan Islam ini, memulai penulisan karyanya pada bulan Muharrom 1347 H. yang bertepatan dengan Juli 1928 M. Karena kesibukannya sebagai seorang aktivis organisasi dan dai, ia baru bisa merampungkan karyanya ini pada tahun 1956 M.

Selain itu, dari rahim tanah Sumatera, lahir pula kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Karim yang ditulis oleh tiga serangkai, yaitu Ustadz A. Halim Hassan, Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Untuk penulisannya, dimulai pada bulan Romadlon 1355 H. di Langkat. Beberapa kali penulisannya pun sempat terhenti akibat Perang Dunia II dan langkanya stok kertas. Istimewanya, juz I dan II kitab tafsir ini diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Arab untuk diajarkan di Sembilan kerajaan di Malaysia saat itu.

Baca Juga: Selarik Kisah Mbah Hasyim Asy'ari

Setelah Indonesia merdeka, bangsa ini seolah tak pernah kekurangan stok mufassir. Diantara yang monumental ialah Tafsir Al-Azhar, karya Buya Hamka yang mulai ia rintis melalui pengajian Shubuh di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, 1958. Ketika Buya Hamka dipenjara di era Orde Lama, justru ia bisa lebih fokus merampungkan karyanya ini. Hingga kemudian, pada 1967, karya ini terbit dengan judul Tafsir Al-Azhar.

Langkah ulama terkemuka dari Muhammadiyah ini juga hampir bebarengan dengan dirilisnya Tafsir Al-Ibriz berbahasa Jawa yang ditulis oleh ulama NU, KH. Bisri Mustofa, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Adiknya, KH. Misbah Mustofa, Tuban, tak mau kalah. Ia menerbitkan pula Tafsir Iklil yang juga berbahasa Jawa.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Di Makassar, ada KH. Abdul Mu’in Yusuf yang menulis tafsir Al-Qur’an berbahasa Bugis dan ditulis menggunakan aksara tradisional Bugis. Selain itu, ada juga Anregurutta Daud Ismail yang menerapkan bahasa daerah Bugis dalam proses penafsiran Al-Qur’an.

Di Minangkabau, tercatat sekitar lima ulama yang menyumbangkan karya tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Minangkabau. Pemilihan tafsir dalam bahasa lokal, urai Islah Gusmian dalam Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika Hingga Ideologi (2013), justru menunjukkan orientasi pragmatis, yaitu agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal tertentu sesuai dengan bahasa yang digunakan. Luar biasa, bukan?

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Di sisi lain, karya tafsir ulama Indonesia semakin beragam dan ditulis dengan beragam corak dan varian metodologi yang berbeda satu sama lain. Hasbi Asshiddieqy, bahkan menulis dua karya, yaitu Tafsir Al-Bayan dan Tafsir An-Nur. Karya pertama selesai ditulis pada tahun 1971. Karena kurang puas dengan terbitan pertama, ia lalu menulis karya kedua.

Pihak Departemen Agama RI juga tidak mau kalah. Lembaga "plat merah" ini meluncurkan Al-Qur’an dan Tafsirnya yang setelah mengalami beberapa kali perbaikan bisa diterbitkan oleh Badan Wakaf UII Yogyakarta pada tahun 1995. Pakar tafsir Al-Qur’an, Prof. Dr. Quraish Shihab, kemudian menerbitkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al-Lubaab. Ada pula Prof. KH. Didin Hafiduddin dengan Tafsir Al-Hijri-nya.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Yang pasti, jumlah tafsir Al-Qur’an di Indonesia sendiri, semenjak dakwah Walisongo, bisa dipastikan berjumlah ratusan manakala kita juga memasukkan beberapa obyek tafsir seperti Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Al-Kahfi, Tafsir An-Nisa’, Tafsir Surat Ya-Sin, Tafsir Juz 'Amma dan lain sebagainya, maupun beberapa tafsir tematik (pendidikan, feminis, sufistik, hukum dan sebagainya).

Meski tulisan kali ini terlalu singkat membedah khazanah tafsir Nusantara (Indonesia), namun mengutip periodesasi tafsir Indonesia yang dilakukan oleh Howard M. Federspiel, ada beberapa fase perkembangan tafsir Indonesia yang menarik dicermati. Generasi pertama, kira-kira permulaan abad ke-20 hingga awal 1960-an, ditandai dengan adanya penerjemahan dan penafsiran yang masih didominasi oleh model tafsir terpisah-pisah dan cenderung pada surat tertentu sebagai obyek tafsir. Generasi kedua merupakan penyempurnaan atas generasi pertama, yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Cirinya, biasanya memiliki catatan, catatan kaki, terjemahan per-kata dan kadang-kadang disertai indeks yang sederhana. Adapun tafsir generasi ketiga, mulai muncul pada 1970-an yang telah berwujud penafsiran yang lengkap dengan komentar-komentar yang luas terhadap teks yang disertai terjemahannya. Ini merupakan periodesasi tafsir di Indonesia yang dibuat oleh Howard M. Federspiel dalam Kajian Al-Qur’an di Indonesia (1996).

Pelopor Tafsir di Nusantara

Siapakah yang mula-mula merintis tafsir di kawasan Nusantara? Tersebutkan seorang ulama besar asal Aceh, Syaikh Abdurrauf As-Sinkili (1615-1693). Azyumardi Azra, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (2004), menilai bahwa As-Sinkili adalah ulama terkemuka dengan reputasi internasional. Sebab, mata rantai intelektual dan tarekat yang membentang antara Hijaz dan Nusantara di kawasan Asia Tenggara melalui bertaut pada dirinya. Dengan reputasinya yang jempolan ini, As-Sinkili bahkan mengkader beberapa ulama dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Malaysia, hingga Thailand Selatan.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sebagai pelopor tafsir Al-Qur’an di kawasan Nusantara, ia menulis Tarjuman Al-Mustafid, sebuah kitab tafsir yang diulas menggunakan bahasa dan aksara Melayu-Jawi (Arab-Pegon). Bahasa yang dipilih ini merupakan lingua franca di zamannya karena menjadi bahasa pengantar dalam birokrasi pemerintahan, intelektual, hubungan diplomatik antar negara, hingga bahasa perniagaan.

Tarjuman Al-Mustafid karya As-Sinkili ini, sebenarnya telah didahului oleh Faroid Al-Qur’an dan Tafsir Surah Al-Kahfi. Namun sampai sekarang, dua karya ini tiada diketahui siapa penulisnya. Dua karya ini ditengarai ditulis di era pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), atau bahkan di era sebelumnya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1537-1604). Dan As-Sinkili yang telah menulis Tarjuman Al-Mustafid 30 juz lengkap itu, sampai sekarang dianggap sebagai pelopor tafsir di Nusantara.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Melalui pemaparan singkat ini, pembaca bisa menilai kualitas dan kapabilitas keilmuan para ulama Nusantara, bukan?

WAllahu a’lam bishshowab.
[]


* Oleh: Rijal Mumaziq Z
Read More

Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia


rumahnahdliyyin.com - Konflik Afghanistan sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dan hingga saat ini, belum ada tanda-tanda kalau konflik bakal berakhir. Bom meledak hampir setiap pekan. Puluhan ribu masyarakat sipil dan ribuan pasukan keamanan Afghanistan pun tewas menjadi korban.

Tahun 2016, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data bahwa jumlah korban masyarakat sipil yang meninggal adalah 11.418 orang. Mungkin saja juga lebih dari itu.

Berbagai macam teori tentang konflik Afghanistan pun dikembangkan. Ada yang berpendapat bahwa konflik Afghanistan itu disebabkan karena campur tangan asing. Negara-negara yang memiliki kepentingan menjadikan Afghanistan sebagai medan untuk bertempur. Pendapat lain mengemukakan bahwa pertikaian antar suku dan kelompok keagamaan-lah yang menjadi sumbu dari konflik di Afghanistan.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Pada tahun 2011, Nahdlatul Ulama (NU) pernah mengundang kelompok-kelompok Afghanistan yang bertikai itu untuk berkumpul bersama di Indonesia. Mereka diajak duduk bersama untuk membahas solusi konflik yang mendera negaranya dan mewujudkan perdamaian di sana. Pertemuan ini pun memiliki dampak yang cukup signifikan. Mereka yang dulu bertikai, mulai sadar untuk membangun perdamaian di Afghanistan. Bahkan, beberapa tahun setelahnya, didirikan Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang moderat ala NU.

Setelah kelompok-kelompok yang bertikai itu sepakat untuk mengakhiri konflik, mengapa perdamaian yang diinginkan itu tidak kunjung terwujud di Afghanistan? Apa yang sebetulnya terjadi dengan negara berpenduduk 34,6 juta jiwa itu? Apakah konflik yang terjadi di negara-negara lain yang mayoritas berpenduduk muslim juga memiliki pangkal persoalan yang sama dengan yang ada di Afghanistan?

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Pada Selasa, 17 April 2018, Jurnalis NU Online, A. Muchlishon Rochmat, berhasil mewawancarai Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, untuk mengetahui dan melihat lebih dalam apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan serta arah peradaban dunia saat ini. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang sebetulnya terjadi di Afghanistan, gus?

Kalau kita mau melihat ke akar yang paling dalam dari konflik Afghanistan, saya ingin mengatakan bahwa Afghanistan itu adalah produk dari keseluruhan elemen-elemen negatif dalam peradaban dunia sekarang ini. Elemen negatif yang pertama adalah persaingan antara kekuatan global dalam politik dan ekonomi yang mengabaikan nasib dan nyawa manusia. Mereka manganggap korban manusia adalah sesuatu yang tidak terelakkan dari capaian ekonomi dan politik yang menjadi tujuannya.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Ini dilakukan semua pihak. Kita tidak bisa menyalahkan Barat atau Soviet saja. Tapi juga negara-negara lain. Termasuk negara Islam. Negara-negara Islam seperti Saudi Arabia, Qatar, Iran dan Pakistan, ikut dalam permainan konflik di Afghanistan untuk kepentingan masing-masing. Naasnya, Islam dijadikan simbol untuk menggalang dukungan atau digunakan untuk membenarkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang berkonflik.

Negara Barat dan beberapa negara lainnya memiliki kepentingan di Afghanistan. Kepentingan apa yang Anda maksud? Bisa dijelaskan lebih detail, gus?

Misalnya, dulu Amerika Serikat memanfaatkan Afghanistan ini untuk mengalahkan Uni Soviet. Saudi mendukung karena ada kepentingannya, yaitu menghadapi Irak. Pakistan ikut terlibat karena kepentingan untuk memperoleh kompensasi-kompensasi dengan berbagai bentuk, baik dari negara Barat seperti Amerika Serikat maupun negara kaya Saudi.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Bagaimana dengan persoalan internal Afghanistan sendiri? Apakah itu juga mempengaruhi secara signifikan konflik yang berkembang di Afghanistan?

Dalam dimensi yang lebih kotor lagi, konflik Afghanistan juga terkait dengan pertarungan politik dalam negeri. Kelompok-kelompok yang bertikai mencampur adukkan antara pemanfaatan isu-isu agama dan identitas etnik. Terutama oleh sekelompok elit militer Afghanistan untuk kepentingan hegemoni politik domestik.

Dalam beberapa kesempatan yang lalu, NU pernah melakukan upaya second track diplomation dengan mengundang para kelompok Afghanistan yang bertikai untuk "duduk bersama". Sejauh mana upaya ini memberikan efek terhadap proses rekonsiliasi di Afghanistan?

Tidak mungkin menyelesaikan masalah Afghanistan melalui pendekatan-pendekatan parsial. Kita pernah mencoba dengan pendekatan yang paling valid terkait dengan konflik Afghanistan. Atas jasa dari pak As’ad Said Ali, para pemimpin kelompok Afghanistan yang bertikai berhasil diundang ke sini untuk berunding dan difasilitasi oleh PBNU pada tahun 2011. Yang hadir merupakan representasi dari war lord, panglima perang yang saling bersaing.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Pertemuan ini berhasil karena mencapai konsensus-konsensus yang substansial dan efektif. Kita berbicara soal perdamaian dalam realitas, bukan hanya omong kosong. Misalnya, yang kita minta untuk dijadikan kesepakatan bersama adalah kebebasan setiap orang untuk bergerak di mana saja di dalam wilayah Afghanistan tanpa ada gangguan.

Saat datang, mereka tidak mau ngomong dengan yang lainnya. Namun diakhir pertemuan, mereka saling berpelukan sambil menangis karena menyadari bahwa perdamaian adalah sesuatu yang mereka butuhkan.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Tapi, mengapa "perang" itu masih berkobar hingga saat ini di Afghanistan?Bukankah para war lord sudah sepakat untuk berdamai?

Karena perdamaian itu bertentangan dengan kekuatan-kekuatan besar yang memiliki kepentingan di Afghanistan, maka proses ini kemudian dijegal-jegal. Tidak lama setelah pulang dari sini, mantan Presiden Afghanistan, Syaikh Burhanuddin Rabbani, dibunuh. Orang-orang yang dulu terlibat dalam proses perundingan di sini sangat terinspirasi dengan inisiatif NU hingga mereka ngotot untuk mendirikan NU Afghanistan sendiri.

Seberapa besar pengaruh NU Afghanistan dalam upaya mewujudkan perdamaian di Afghanistan?

Pertama, lagi-lagi karena ini parsial dari sisi sebagian kelompok grassroot di Afghanistan–sementara kekuatan-kekuatan besar tidak suka karena bertentangan dengan kepentingan mereka, maka kemajuannya juga terhalang. NU Afghanistan tidak bisa berkembang secara signifikan. Walaupun orang-orang ini terus menerus memperjuangkan perdamaian di Afghanistan, namun sangat lambat.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Kedua, begitu juga pendekatan keagamaan, juga macet. Bersama pak As’ad, saya sendiri terlibat dalam beberapa upaya rekonsiliasi Afghanistan yang diselenggarakan Dunia Internasional dengan pendekatan Islam. Semuanya omong kosong. Mereka ngomong banyak hal tentang agama, tetapi satu pun diantara mereka tidak menyentuh sisi yang paling berbahaya dari anjuran agama, yaitu sisi untuk berperang atas nama agama.

Itu sangat berbahaya, karena kita berhadapan dengan realitas masyarakat yang tidak mau majemuk. Semua mengaku Islam dan menuduh yang lain kafir. Semua berhak, bahkan wajib, untuk membunuh orang. Agama itu ide, perdamaian itu soal realitas. Maka dari itu, antara ide dan realitas harus nyambung.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Ketiga, ini bukan hanya urusan orang Islam. Persoalan Afghanistan adalah urusan seluruh orang di dunia. Jelas-jelas Amerika terlibat di situ. Rusia terlibat, China terlibat. Afghanistan hanya satu "titik api" dari sekian banyak titik api yang ada di dunia; Suriah, Libya, Yaman, Tunisia, Pakistan, Bangladesh. Ini masalah global dan harus dipecahkan bersama-sama.

Jadi, Anda melihat pangkal segala persoalan yang terjadi di banyak negara, terutama negara-negara Islam, itu seperti apa?

Salah satu dimensi yang paling penting dari masalah ini adalah kebangkrutan Islam sebagai agama. Islam bangkrut. Kenapa bangkrut? Karena tidak mampu menyediakan jalan keluar yang efektif bagi manusia hari ini.

Kenapa Islam bangkrut? Karena ulamanya malas berpikir dan pengecut menghadapi kenyataan. Seluruh dunia celaka, ya agamanya yang bangkrut. Kalau ulama-ulama yang alim, keramat itu tidak mau berpikir tentang ini, menurut saya mereka hanya menyia-nyiakan agama.

Baca Juga: Tasawwuf Pancasila

Beberapa waktu lalu, Barat menyerang Suriah. Apakah ini menjadi tanda peradaban dunia semakin kacau?

Persis, itu kebusukan peradaban yang belum dirubah. Sebetulnya, peradaban dunia membutuhkan arah baru. Kita tidak bisa lagi hanya bicara soal demokrasi, pembangunan, kemakmuran. Dunia membutuhkan visi baru tentang kemuliaan.

Sekarang, semuanya berlomba-lomba untuk mencapai prestasi-prestasi ekonomi, politik. Tapi, tidak ada yang peduli terhadap kemuliaan; bagaimana membangun peradaban yang mulia, menjadikan manusia bermartabat, tidak jatuh menjadi binatang pemakan sesama. Ini yang diperlukan dunia saat ini.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Bagaimana dan dari mana seharusnya peradaban dengan visi kemuliaan seperti itu dibangun?

Saya sudah bertemu semua orang, mulai dari ulama-ulama di Timur Tengah, orang-orang Barat, Yahudi Zionis, Rusia dan Cina. Sebetulnya, ada momentum politik. Tidak ada inspirasi dari seluruh penjuru peradaban dunia ini selain dari Islam. Islam itu risalah rohmatan lil ‘alamin. Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Itu yang dibutuhkan dunia.

Kita ribut soal turats, menghormati ulama-ulama salaf. Kalau tidak ada jawaban dari situ, buat apa. Turats kalau tidak bisa digunakan, buat apa. Kalau tidak memberi solusi, apa manfaatnya. Bukannya kita tidak menghormati capaian dari ulama-ulama salaf, kita harus berpikir bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna untuk tantangan hari ini walaupun menyelisihi pemikiran dari ulama terdahulu. Kan, belum tentu sesuatu yang baik pada masa lalu, baik pula pada saat ini.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Harapan terbesar dari solusi peradaban adalah Indonesia. Di Indonesia, dimana harapan itu bersumber? Nahdlatul Ulama. Kita punya modal. Kita memiliki pemimpin-pemimpin dalam sejarah yang menuntun kita untuk menuju solusi sejak zaman kiai Wahab Chasbullah, sampai sekarang kiai Said Aqil Siroj. Ini adalah arah menuju solusi.

Kita harus bersama-sama membangun gerakan untuk menuju satu arah yang bisa menjadi jalan keluar dari kemelut persoalan dunia saat ini. Umat Islam paling berkepentingan dalam hal ini. Kenapa? Karena kita harus membuktikan bahwa Islam betul-betul berguna untuk manusia. Islam tidak hanya menjadi sumber bencana.[]



(Redaksi RN)
Read More

Muskerwil NU Jateng Diharapkan Mengembalikan Citra Purbalingga


rumahnahdliyyin.com,
 Purbalingga - Musyawarah Kerja Wilayah Nahdlatul Ulama (Muskerwil NU) Jawa Tengah yang akan diselenggarakan pada 19-22 April mendatang akan diselenggarakan di Kabupaten Purbalingga. Kepercayaan yang diberikan kepada PCNU Kabupaten Purbalingga ini membangkitkan kepercayaan diri dan citra Kabupaten Purbalingga yang sebelumnya sempat turun akibat isu terorisme dan radikalisme.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Seperti diberitakan dalam laman suaramerdeka.com, Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Purbalingga, KH. Suroso Abul Rozak, Senin, 16 April 2018, mengatakan bahwa beberapa waktu lalu, Kabupaten Purbalingga terkenal sebagai tempat lahirnya beberapa tersangka teroris. Selain itu, waktu adanya Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang menghebohkan itu, anggota paling banyak juga berasal dari Kabupaten Purbalingga.

"Nah, dengan diamanahi sebagai tuan rumah Muskerwil, ini membangun kepercayaan diri umat Islam, terutama NU. Bahwa Purbalingga tidak segitunya (sarang teroris) dimata luar. Itu (teroris dan radikal) hanya kasuistik saja," ungkapnya.

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa warga Nahdliyyin di Kabupaten Purbalingga ini perlu menunjukkan kekuatan kalau mereka tetap setia dan bersatu padu dalam menjaga NKRI dan Pancasila. Adanya Muskerwil NU Jateng di Purbalingga nanti diharapkan menjadi pemacu agar masyarakat, khususnya Nahdliyyin, dapat membangun kemandirian. Adapun langkah konkretnya yaitu memperkuat lembaga dan amal usaha.

"Dibidang kesehatan, kita sudah membangun empat klinik, Kutasari, Bukateja, Karangmoncol dan Mrebet yang dibangun murni dengan dana umat NU. Besok jelang Muskerwil, yang tiga akan diresmikan. Yang satu sudah tahun lalu," katanya kemudian.

Baca Juga: Cegah Radikalisme, Polres Pekalongan Gelar Pengajian Rutin

Sebagai pembuka pra-Muskerwil, di Pendapa Dipokusumo Kabupaten Purbalingga, pada Sabtu, 14 April 2018, digelar Seminar Nasional Pendidikan Vokasi dan Ruang Ketenagakerjaan di Indonesia dengan pembicara utama Menteri Ketenagakerjaan RI, Muhammad Hanif Dhakhiri.

Muskerwil ini pun akan dihadiri oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj dan Plt. Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko.[]




(Redaksi RN)
Read More