Sambutan MTQ Ke-27, Bupati Nabire Himbau Umat Islam Untuk Mengamalkan Al-Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Nabire - Rabu (02/05/2018), pukul 20.00 WIT., Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua secara resmi dibuka oleh Plt. gubernur Provinsi Papua, yaitu Jend. Purn. Soedarmo, beserta Ketua LPTQ dan Bupati Nabire, Saias Douw. Pembukaan MTQ yang ke-27 kali ini bertempat di halaman Masjid Agung Al-Falah dan Islamic Center yang berada di jalan Merdeka, Nabire, Papua.

Kegiatan MTQ ini terselenggara berkat kerjasama antara LPTQ, Kanwil Kemenag dan Pemerintah Daerah maupun Provinsi Papua dengan tujuan untuk mengembangkan dakwah sekaligus sebagai sarana untuk memajukan syiar agama Islam di tanah Papua ini. Kendati acaranya bernuansa Islami, namun dari panitia dan masyarakat non-muslim juga turut membantu demi suksesnya acara ini.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi

Adapun cabang perlombaan yang dihelat dalam MTQ ini diantaranya yaitu Tilawah Qur'an, Hifdhil Qur'an, Syahril Qur'an, Fahmil Qur'an, Menulis Makalah Qur'an, Kaligrafi, Cerdas Cermat Al-Qur'an, dengan kategori anak-anak, dewasa dan putra-putri ditiap cabangnya.

Rangkaian acara pembukaan MTQ ini diawali dengan penyerahan Piala Lomba oleh Ketua MTQ sebelumnya yang diselenggarakan di Jayapura kepada Ketua Panitia MTQ yang sekarang, yakni Mote. Dalam penyerahan tersebut, selain mengucapkan rasa terimaksihnya, Ketua Panitia yang sekarang dan sekaligus tuan rumah itu juga menyampaikan akan berusaha semaksimal mungkin demi suksesnya perheletan MTQ kali ini.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia Bentuk HAPPI

Sedangkan bapak Bupati Nabire, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa dengan adanya MTQ ini, umat Islam supaya senantiasa membaca kitab sucinya untuk dijadikan pegangan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ia sendiri penganut agama Kristen, namun ia juga menambahkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan tidak keras.

Lebih lanjut, ia menghimbau dan mengajak semua tokoh adat, agama dan masyarakat supaya senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama, tidak saling fitnah dan mencintai toleransi.

"Mari kita ciptakan kerukunan dan kedamaian di tanah Papua ini," ujarnya yang disambut gemuruh tepuk tangan oleh hadirin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Acara pembukaan MTQ Ke-27 pun secara resmi dinyatakan telah dibuka setelah acara pemukulan bedug yang dilakukan oleh Plt. gubernur Papua.

Setelah hiburan, rebana dan tari-tarian Islami yang dilakukan oleh anak-anak tuan rumah Nabire, acara pembukaan pun ditutup dengan do'a.

Tampak hadir dalam acara ini yaitu Pemkab Nabire, Forkopinda, Kanwil, Ketua MUI Nabire, ormas Islam, tokoh adat dan agama Nabire, bupati Jayapura dan seluruh peserta lomba dan masyarakat Nabire dan sekitarnya.[]



(M. Taha)
Read More

Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak hanya dikagumi oleh ulama-ulama Nusantara, melainkan juga oleh ulama-ulama negara lain. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, misalnya. Grand Syaikh Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai ulama paling berpengaruh di dunia oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre ini memberikan pujian terhadap Pancasila sekaligus kepada Presiden Soekarno yang notabene sebagai pencetusnya.

“Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, prinsip musyawarah dan keadilan adalah intisari ajaran Islam,” ujar Grand Syaikh Al-Azhar itu sebagaimana dikutip oleh laman arrahmahnews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa rumusan Pancasila bukan hanya sekedar sejalan dengan Islam. Lebih dari itu, dalam tiap butir Pancasila merupakan esensi ajaran Islam itu sendiri yang harus diperjuangkan. Dalam keterangannya ini, Grand Syaikh juga menyatakan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam.

Ulama yang juga tokoh terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam itu menambahkan lagi bahwa pemikiran Bung Karno telah berhasil membangun hubungan diplomasi antara Indonesia dengan Mesir dan memberikan inspirasi kepada dunia Internasional, terutama semangat Bung Karno yang anti kolonialismenya.

“Konferesi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno berhasil menggelorakan semangat kepada negara-negara di Asia dan Afrika yang mayoritas masih terjajah untuk merdeka dan berdaulat,” terang Syaikh Ahmad Ath-Thayyeb.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Secara eksplisit, pernyataan ulama nomor wahid di dunia tersebut menunjukkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang ideal untuk Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat yang beragam.

Selain itu, pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar itu juga menunjukkan bahwa Pancasila dan Islam itu sama sekali tidak bertentangan sebagaimana yang akhir-akhir ini mulai dihembuskan oleh kelompok-kelompok tertentu. Sebab, jelas sekali bahwa didalam butir-butir Pancasila itu terdapat esensi ajaran Islam itu sendiri.[]



(Redaksi RN)
Read More

Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, mengimbau kepada umat Islam untuk tidak mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar sembari menganggap pasti salah kelompok-kelompok diluar dirinya.

Menurutnya, monopoli kebenaran bukanlah tindakan yang tepat. Islam melarang penganutnya untuk memvonis kafir sesama kelompok ahli qiblat (sesama umat Islam).

"Tidak boleh mengatakan 'hanya saya yang paling benar, sementara yang lain tidak'," tuturnya saat berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu malam (2/5/2018).

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Kedatangan Grand Syaikh Al-Azhar di Kantor PBNU ini disambut hangat oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj. Di hadapan ratusan hadirin, keduanya berdiskusi dengan tema "Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia."

Syaikh Ath-Thayyeb menekankan kaum muslimin supaya fokus pada titik persamaan daripada mencari-cari titik perbedaan dikalangan umat Islam, baik kelompok Sufi, Wahabi, Ahlussunnah, Syi'ah dan lainnya.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini juga menyampaikan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW. itu sebagai rahmat untuk semua, bukan terbatas untuk umat Islam semata.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sebelumnya, KH. Said Aqil Siroj menjelaskan profil singkat Nahdlatul Ulama dan mengenalkan pula kepada Syaikh Ath-Thayyeb tentang Islam Nusantara sebagai Islam yang menjunjung tinggi moderatisme (wasathiyah).

"Islam Nusantara bukan mazhab baru. Melainkan karakter khas keberislaman di bumi Nusantara yang ramah terhadap budaya, harmoni dengan kebhinekaan," jelasnya.

Grand Syaikh Al-Azhar mengakui bahwa kedatangannya di Indonesia adalah bagian dari agenda untuk memperkuat Islam moderat. Ia optimis bahwa hal ini merupakan langkah awal bagi perdamaian dunia secara umum.[]




(Redaksi RN)
Read More

Khasanah Intelektual Ulama


rumahnahdliyyin.com - Islam di Indonesia (baca: Islam Nusantara), memiliki kekhasan tersendiri, santun, ramah, mencintai tanah airnya, dan bijak terhadap hal-hal baru dengan tetap mempertahankan nilai-nilai agama yang luhur serta mewariskan segudang kekayaan khasanah intelektual. Nahdlatul Ulama (NU) menjadi satu dari beberapa organisasi Kemasyarakatan dan Keagamaan di Indonesia yang memiliki peran penting dalam meneruskan, menjaga, dan mengembangkan tipologi Islam yang berkembang tersebut. 

Dalam memperingati Harlah NU ke-95, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) menggelar "Road Show Khasanah Intelektual Ulama & Pesantren Pasuruan" dengan melibatkan beberapa Pondok Pesantren yakni Pondok Pesantren Nagalah Sengonagung Purwosari, Pondok Pesantren Kramat, dan Pondok Pesantren Darul Ulum Krangpandan Rejoso, Pondok Pesantren Sladi Kejayan dan Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan.

Adapun bentuk kegiatan dengan Ngaji Kitab Karya Ulama & Pesantren Pasuruan yang meliputi Kitab Nazdom Sullamut Taufiq karya Al-Arif Billah K.H. Abdul Hamid bin Abdulloh Umar (Mbah Hamid Pasuruan), Kitab Manakibul Karamat karya K.H. As'ad Abdul Karim Kramat, Kitab Muntaha Nataiju Aqwal karya Kiai Asy;ari Ranggeh, Kitab Sabilussalikin karya Podnok Pesantren Ngalah, dan beberapa Kitab-Kitab karya alm. K.H. Jakfar Shodiq Sladi, serta Soft Launcing dan Bedah Buku "Sejarah dan Keutamaan Istighosah" karya K.H. Drs. Ishomuddin Maksum, M.Pd.I selaku Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan Rejoso. Dalam kegiatan tersebut juga digelar Bazar Buku Islami oleh PWNU LTN Jawa Timur.

"Road Show akan dimulai pada Malam Nisyfu Sya'ban, Senin 30 April 2018 kemudian Selasa,1 Mei. Keduanya bertempat di Pondok Pesantren Ngalah Purwosari. Selanjutnya pada Hari Sabtu, 5 Mei di Pondok Pesantren Kramat Kraton, dan Senin, 7 Mei di Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan Rejoso", ujar Makhfud Syawaludin selaku Sekretaris PC Lakpesdam NU Kabupaten Pasuruan.

"Itu hanya segelintir dari kekayaan Khasanah Intelektual Ulama & Pesantren di pasuruan. Kami berharap kedepan dapat menampilkan semuanya', imbuh mahasiswa Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Terkait tujuan kegiatan tersebut adalah untuk mengelakan Kekayaan Khasanah Intelektual Ulama dan Pesantren serta dalam upaya Menjaga dan Meneruskan Tradisi Literasi di pondik Pesantren sehingga kepesertaan selain dibuka untuk umum juga secara khusus mengundang santri dari utusan Pondok Pesantren se-Pasuruan.

Tim Media Center
PC LAKPESDAM NU Kab. Pasuruan
Read More

Buya Syafi'i Ma'arif: Lawan Orang yang Mau Memperalat Agama


rumahnahdliyyin.com, Magelang - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif, mengingatkan semua kalangan bahwa agama bukanlah untuk kepentingan pragmatisme. Termasuk bukan alat untuk meraih kekuasaan.

"Situasi akan rusak dan runyam kalau agama dijadikan kendaraan politik. Itu ndak bener," katanya seperti dikutip oleh antara.comusai menjadi nara sumber dalam sarasehan kebangsaan yang diselenggarakan oleh komunitas Gereja Kevikepan Kedu, Jawa Tengah, di Magelang, pada Rabu (25/04/2018).

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Politik Praktis

Ia mengemukakan bahwa agama itu sebagai acuan moral dimana para politikus bisa tampil secara beradab dan saling menghargai.

Karena itu, menurut pria yang sering dipanggil dengan Buya Syafi'i itu juga mengemukakan akan pentingnya terus menerus menggaungkan suara-suara yang mencerahkan terkait dengan peranan agama.

"Suara yang mencerahkan itu harus disuarakan terus. Jangan diam. Sebab, kalau diam, seakan-akan mereka yang benar. Orang yang mau memperalat agama itu dilawan," ujarnya.

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

Selain itu, dia juga mengemukakan kaitan antar agama dan peradaban umat manusia, tentang moral serta semangat bersaudara.

"Agama harus beradab. Kalau kita berbudaya, agama tidak dipakai untuk rendahan. Itu, agama tujuan mulia. Jangan dikotori perbuatan-perbuatan yang merusak, yang kotor, yang kumuh," kata Syafi'i Ma'arif yang juga Anggota Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila itu.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Ia juga mengemukakan tentang pentingnya menghindari kampanye politik dalam forum keagamaan.

"Saya kira, kalau sudah menyangkut politik kekuasaan itu, orang emosi lebih meraja dari akal sehat. Jadi, orang menjadi tidak stabil," lanjutnya.

Saat berbicara pada sarasehan kebangsaan yang bertema "Merangkul Kerukunan, Membingkai Pancasila" itu, Buya Syafi'i antara lain mengatakan akan pentingnya setiap orang yang beragama supaya memegang teguh autentisitas agama guna mewujudkan perdamaian.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Jika setiap pemeluk agama berpegang pada autentisitas agama, ujarnya, akan berkembang semangat saling tolong-menolong serta persaudaraan.

"Orang boleh yakin agama masing-masing. Tetapi, orang lihat orang lain. Pendapat yang berbeda, saling menghormati," katanya dalam acara yang juga dihadiri oleh Kepala Gereja Kevikepan Kedu, Romo F.X. Krisno Handoyo itu.[]




(Redaksi RN)
Read More

Situs dan Tradisi Islam di Ternate Bisa Jadi Tujuan Wisatawan Religi


rumahnahdliyyin.com, Ternate - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), seperti diberitakan oleh antaranews.com, mengajak wisatawan supaya memilih Ternate apabila ingin melakukan kunjungan wisata religi pada bulan Romadlon nanti.

"Ternate adalah daerah kesultanan. Dan pada masa lampau merupakan pusat penyebaran Islam di Indonesia Timur. Jadi, sangat menarik menjadi tujuan wisata religi," kata Kepala Disbudpar Ternate, Samin Marsaoly, Selasa (24/04/2018).

Baca Juga: Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama Ini

Banyak objek wisata yang bisa menjadi tujuan wisata religi di Ternate. Diantaranya yaitu Masjid Kesultanan Ternate yang memiliki banyak kekhasan, baik dari segi arsitektur bangunan masjid maupun tradisi ibadah di masjid itu.

Menurut Samin, salah satu tradisi ibadah di Masjid Kesultanan Ternate yaitu setiap laki-laki yang sholat di masjid yang telah berusia 500 tahun lebih itu harus mengenakan celana panjang dan penutup kepala.

Selain itu, perempuan dilarang sholat di bangunan utama masjid serta digelar ritual tradisi ela-ela atau tradisi menyambut malam lailatul-qodar pada malam 27 Romadlon.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Di kedaton Kesultanan Ternate, imbuh Samin Marsaoly, juga dapat disaksikan berbagai peninggalan sejarah terkait Islam. Seperti Al-Qur'an yang ditulis dilembaran baja atau yang berupa tulisan tangan dan jubah yang konon merupakan hadiah dari raja di Arab kepada Sultan Ternate.

Di Ternate juga terdapat banyak makam bersejarah untuk diziarahi. Seperti makam para Sultan Ternate dan makam para wali yang pada zaman dulu menyebarkan Islam di berbagai lokasi di Ternate. Seperti di Kulaba yang setiap bulan Romadlon dikunjungi oleh ribuan peziarah.

Baca Juga: Walisongo dan Dakwah Metode Kambing

Samin menambahkan lagi bahwa pada bulan Romadlon di Ternate juga banyak kearifan lokal yang notabene warisan peninggalan para leluhur yang hingga kini masih dipertahankan. Seperti tradisi membangunkan warga untuk makan sahur yang dikenal dengan nama gendang sahur. Selain itu, juga banyak dijual menu berbuka puasa yang merupakan menu khas di daerah ini.

Selain situs-situs keislaman, objek wisata lainnya yang bisa dinikmati saat berkunjung di Ternate adalah berbagai peninggalan sejarah kolonial. Seperti benteng, cengkih afo atau cengkih tertua di dunia serta wisata bahari berupa keindahan pantai dan bawah laut.[]





(Redaksi RN)
Read More

KH. Ulin Nuha Arwani: Menjadi Penghafal Al-Qur'an Saja Belum Cukup


rumahnahdliyyin.com,
 Demak - Sebanyak 240 santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Badriyyah, Suburan, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, mengikuti wisuda khotmil Qur’an yang ke-42 pada Ahad (22/4/2018). Para santri yang diwisuda tersebut terdiri dari khotimin dan khotimat bil-ghoib 30 juz sebanyak 9 santri, bin-nadhor 30 juz sebanyak 40 putra dan 64 putri, serta juz 'amma putra sebanyak 37 santri dan 90 putri.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyyah, KH. Muhibbib Muhsin Al-Hafidh dan Nyai Hj. Nadhiroh Ma’shum Al-Hafidhoh, berharap supaya para santri yang telah diwisuda itu semakin bertambah semangat dan istiqomah dalam hal mencari ilmu.

“Semoga khotimin dan khotimat yang telah diwisuda mendapatkan ilmu yang berkah, bermanfaat dan ilmu yang bermashlahat, min ahlil-‘ilmi, min ahlil-khoir wa min ahlil-qur’an,” harap KH. Muhibbin sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

KH. Ulin Nuha Arwani, yang tausiyah dalam acara Haflah tersebut, berpesan kepada para santri supaya jangan cepat puas dengan apa yang telah dicapainya itu.

“Masih banyak tahapan yang harus dilewati. Menjadi penghafal Al-Qur’an saja, belum cukup. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari, seperti ilmu fiqih, tauhid, bahasa Arab dan sebagainya,” tuturnya dihadapan para hadirin.

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengingatkan para khotimin dan khotimat supaya berakhlaq sebagaimana ajaran Al-Qur’an, selalu tawadlu' dan mengabdi kepada guru supaya mendapat keberkahan dalam hidup.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Dalam pandangan KH. Ulin Nuha Arwani, ada tiga kategori yang dapat dilakukan dalam menjaga Al-Qur’an, yaitu membaca, mengamalkan, dan berakhlaq sebagaimana perilaku yang ada dalam Al-Qur'an. Karena itu, para santri supaya mengusahakan untuk memenuhi ketiga kategori tersebut.

“Maksud dari shohibul-Qur'an dalam sebuah kitab tafsir, yaitu orang yang mulazim litilawatih, yakni orang yang selalu membacanya, mutakholliq bi akhlaqih, mempunyai adab sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an, wal-amilu bih, mengamalkan pesan Al-Qur'an,” urainya lebih lanjut.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang telah dipelajari supaya selalu dibaca sesuai ajaran yang telah diterima dari guru beserta adabnya. Ditambahkan pula bahwa maksud membaca Al-Qur'an dengan haqqa tilawatih adalah kombinasi membaca antara mulut, akal dan hati.

“Koridor penggunaan lisan adalah dengan memakai tajwid yang benar. Lalu meresapinya dengan akal (tadabbur). Serta memahaminya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya selamat dari murka Allah SWT.,” terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Terakhir, beliau mewanti-wanti kepada para santri yang telah khatam itu supaya jangan sampai membiarkan mushhaf Al-Qur'an begitu saja. Bila mushhafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali, maka Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung orang tersebut seraya berkata: "Ya Tuhan, sungguh hambaMu ini telah mencampakkanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan dia," pungkas KH. Ulin Nuha Arwani.

Ribuan santri, wali santri dan para alumni, juga masyarakat luas, turut hadir memadati arena pengajian ini. Selain KH. Ulin Nuha Arwani, hadir pula KH. Ulil Albab Arwani, KH. Abdul Hadi Muthohar, KH. Abdul Kholiq Murod, KH. Ali Mahsun, Nyai Hj. Ishmah Ulin Nuha, Nyai Hj. Zuhairoh Ulil Albab, Nyai Hj. Mutammimah Harir dan para kiai lainnya.[]




(Redaksi RN)
Read More

Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya


rumahnahdliyyin.com - Salah satu penyebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Atas permintaan istri pertamanya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ibrahim pun memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS. dari rahim istri kedua tersebut.

Permintaan Siti Sarah itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim AS. belum dikaruniai seorang anak pun. Kasus ini, ternyata mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan, Solo. Bedanya, kiai Mannan menolak permintaan istrinya untuk poligami itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoax

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkyudan, Surakarta, yang didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981.

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami, meski diminta sendiri oleh istri beliau, yaitu Mbah Nyai Mushlihah, adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan untuk berpoligami kendati sudah pernah menikah hingga tiga kali.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Perkawinan Mbah Kiai Abdul Mannan dengan istri pertamanya, berakhir dengan mufaroqoh yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua, berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Sedangkan perkawinannya dengan istri yang ketiga, yakni dengan Mbah Nyai Mushlihah, berlangsung langgeng hingga Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri, wafat pada tahun 1981 sebelum beberapa minggu kewafatan Mbah Kiai Ahmad Umar.

Pertanyaannya, mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Berdasarkan penuturan dari salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah, Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—dengan terus terang, Mbah Nyai Mushlihah memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan yang notabene sebagai suaminya supaya menikah lagi. Hal tersebut karena Mbah Nyai Mushlihah merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya untuk melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang, wanita yang sudah menopause, pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Selain itu, menurunnya kemampuan berhubungan seksual, jika dipaksakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Untuk itu, Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki memang bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, tapi beliau menolak permintaan itu. Sebab, pada dasarnya, beliau tidak menginginkan berpoligami. Tentu saja beliau punya beberapa alasan atas penolakannya itu, yang pada intinya demi menghindari madlorot yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburuan dan permusuhan diantara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah yang mencemburui Siti Hajar serta bersikap tidak ramah. Padahal, kehadiran Siti Hajar sebagai istri kedua Nabi Ibrahim AS. merupakan permintaan Siti Sarah sendiri.

Jadi, alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH. Abdul Mannan untuk berpoligami itu bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim AS. Hanya saja, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai lebih dari enam orang anak, termasuk Mbah Ngis, yang dilahirkannya sendiri.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Memilih Puasa

Dikalangan pesantren dikenal ada tiga tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang ilmu pengetahuan agamanya luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu serta tenaganya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang ilmu hikmahnya menonjol dan banyak riyadloh sehingga menjadi sosok yang arif-bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan sendiri, dalam tipologi ini, tergolong dalam kiai tipe yang ketiga, yaitu lebih menonjol sebagai kiai 'arif.

Dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah "meminta pensiun" dari tugas melayani urusan kasur, Mbah Kiai Abdul Mannan bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hsyim Asy'ari

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih dikandung badan. Tapi, poligami bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal yang berupa syahwat itu. Ada cara lain untuk mengatasinya, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.

Cara berpuasa itulah yang dipilih oleh Mbah Kiai Abdul Mannan ketika mencari solusi terbaik dalam mengatasi persoalan syahwatnya disaat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqh) dengan jawaban moral (akhlaq) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah SWT. dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Bukhori: Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.[]



Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Sumber: NU Online
Read More

Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Siang selepas sholat Dhuhur, pada hari Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak penuh oleh lautan manusia. Umat muslim Kabupaten tersebut dan juga dari Kabupaten terdekat, yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai, berduyun-duyun datang ke halaman masjid itu untuk turut memperingati Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

"Saya senang sekali di pedalaman Papua ada Peringatan hari-hari besar Islam. Kalau di kota-kota besar Papua, itu sudah biasa. Kalau bisa, jangan hanya satu kali saja, ketika peringatan Isro'-Mi'roj saja, namun hari-hari besar lainnya," ungkap KH. Syaiful Islam Payage yang menjadi pembicara dalam acara peringatan tersebut.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana dan Dakwah Umat Islam

Sebagai ketua MUI Papua, kiai Payage menyatakan bahwa dia siap melayani umat Islam yang berada di pelosok-pelosok dan pedalaman Papua. Lebih lanjut, dia pun bercerita bahwa hari ini, sebenarnya dia dipanggil ke Jakarta oleh bapak Kemenag RI.

"Tapi saya menunda dulu dan hadir di pengajian ini. Sebagai orang nomor satu dimata umat Islam di Papua, saya mendahulukan melayani kepentingan umat terlebih dahulu," ujar kiai yang pernah nyantri di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, itu.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Selain mengajak dan menekankan supaya umat Islam senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan, kiai Payage menambahkan pula bahwa sebagai "gubernurnya" umat Islam Papua, dia sangat malu apabila ada umat Islam di Papua yang melakukan tindakan intoleransi dan perpecahan antar umat beragama.

Selanjutnya, dia juga memaparkan pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW. dan mempelajari ajaran-ajaran yang dibawanya dari Allah SWT.

"Saya bisa kenal Islam, bisa begini, karena ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Apabila umat Islam ingin anak-anaknya belajar Islam, saya siap menampung di Pesantren Payage saya di Jayapura," ucapnya kepada hadirin.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-indonesia Bentuk HAPPI

Dia juga menyatakan bahwa kelak, sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, insya Allah Islam di Papua akan berkembang. Tidak hanya masyarakat pendatang saja, namun juga masyarakat asli Papua.[]



(M. Taha)
Read More

Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Tidak seperti biasanya yang lenggang, pada Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak sesak oleh lautan manusia. Umat muslim berduyun-duyun melangkahkan kakinya menuju halaman masjid itu guna menghadiri peringatan Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

Dalam acara peringatan Isro'-Mi'roj tersebut, Panitia dan Pengurus BKM Ash-Shiddiq, Wagete, Kab. Deiyai, Papua, ini mengundang umat muslim dan ormas Islam NU yang ada di sekitar Kabupaten Deiyai. Yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai. Disamping memperingati Isro'-Mi’roj, kegiatan ini sekaligus juga untuk menjalin dan memperkuat silaturrahmi umat Islam antar Kabupaten.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Adapun yang menjadi pembicara dalam acara ini yaitu KH. Syaiful Islam Payage yang berasal dari Jayapura. Selain menguraikan tentang Isro'-Mi'roj, kiai Payage yang menjabat sebagai Ketua MUI Provinsi Papua ini juga menjelaskan keutamaan sholat lima waktu kepada para hadirin.

Lebih lanjut, dalam mauidhoh hasanahnya, kiai asli Papua itu mengajak umat Islam untuk bersama-sama menjaga persatuan. Khususnya umat Islam yang berada di Papua. Baik persatuan antar sesama umat Islam sendiri maupun kerukunan antar umat beragama.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

"Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, itu agamanya bermacam-macam. Kalau kita lihat, agama yang dianut oleh bangsa Indonesia itu ada enam agama. Oleh karena itu, menjaga kerukunan adalah salah satu dakwah bagi umat Islam dan sekaligus salah satu sarana dalam berdakwah," tegasnya.[]



(M. Taha)
Read More