rumahnahdliyyin.com, Demak - Sebanyak 240 santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Badriyyah, Suburan, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, mengikuti wisuda khotmil Qur’an yang ke-42 pada Ahad (22/4/2018). Para santri yang diwisuda tersebut terdiri dari khotimin dan khotimat bil-ghoib 30 juz sebanyak 9 santri, bin-nadhor 30 juz sebanyak 40 putra dan 64 putri, serta juz 'amma putra sebanyak 37 santri dan 90 putri.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyyah, KH. Muhibbib Muhsin Al-Hafidh dan Nyai Hj. Nadhiroh Ma’shum Al-Hafidhoh, berharap supaya para santri yang telah diwisuda itu semakin bertambah semangat dan istiqomah dalam hal mencari ilmu.
“Semoga khotimin dan khotimat yang telah diwisuda mendapatkan ilmu yang berkah, bermanfaat dan ilmu yang bermashlahat, min ahlil-‘ilmi, min ahlil-khoir wa min ahlil-qur’an,” harap KH. Muhibbin sebagaimana dilansir oleh NU Online.
Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits
KH. Ulin Nuha Arwani, yang tausiyah dalam acara Haflah tersebut, berpesan kepada para santri supaya jangan cepat puas dengan apa yang telah dicapainya itu.
“Masih banyak tahapan yang harus dilewati. Menjadi penghafal Al-Qur’an saja, belum cukup. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari, seperti ilmu fiqih, tauhid, bahasa Arab dan sebagainya,” tuturnya dihadapan para hadirin.
Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengingatkan para khotimin dan khotimat supaya berakhlaq sebagaimana ajaran Al-Qur’an, selalu tawadlu' dan mengabdi kepada guru supaya mendapat keberkahan dalam hidup.
Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia
Dalam pandangan KH. Ulin Nuha Arwani, ada tiga kategori yang dapat dilakukan dalam menjaga Al-Qur’an, yaitu membaca, mengamalkan, dan berakhlaq sebagaimana perilaku yang ada dalam Al-Qur'an. Karena itu, para santri supaya mengusahakan untuk memenuhi ketiga kategori tersebut.
“Maksud dari shohibul-Qur'an dalam sebuah kitab tafsir, yaitu orang yang mulazim litilawatih, yakni orang yang selalu membacanya, mutakholliq bi akhlaqih, mempunyai adab sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an, wal-amilu bih, mengamalkan pesan Al-Qur'an,” urainya lebih lanjut.
Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh
Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang telah dipelajari supaya selalu dibaca sesuai ajaran yang telah diterima dari guru beserta adabnya. Ditambahkan pula bahwa maksud membaca Al-Qur'an dengan haqqa tilawatih adalah kombinasi membaca antara mulut, akal dan hati.
“Koridor penggunaan lisan adalah dengan memakai tajwid yang benar. Lalu meresapinya dengan akal (tadabbur). Serta memahaminya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya selamat dari murka Allah SWT.,” terangnya.
Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat
Terakhir, beliau mewanti-wanti kepada para santri yang telah khatam itu supaya jangan sampai membiarkan mushhaf Al-Qur'an begitu saja. Bila mushhafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali, maka Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung orang tersebut seraya berkata: "Ya Tuhan, sungguh hambaMu ini telah mencampakkanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan dia," pungkas KH. Ulin Nuha Arwani.
Ribuan santri, wali santri dan para alumni, juga masyarakat luas, turut hadir memadati arena pengajian ini. Selain KH. Ulin Nuha Arwani, hadir pula KH. Ulil Albab Arwani, KH. Abdul Hadi Muthohar, KH. Abdul Kholiq Murod, KH. Ali Mahsun, Nyai Hj. Ishmah Ulin Nuha, Nyai Hj. Zuhairoh Ulil Albab, Nyai Hj. Mutammimah Harir dan para kiai lainnya.[]
(Redaksi RN)
