rumahnahdliyyin.com - Sudah saya prediksi sebelumnya bahwa kehadiran Gus Yahya Cholil Staquf ke Israel akan menjadi buah bibir. Ternyata benar. Ada bibir manis dan ada bibir ndower (nyinyir dan benci setengah mati). Tapi tidak masalah, namanya dakwah itu sudah resiko dimaki-maki orang.
Setelah mendapat kiriman video ceramah Gus Yahya di Israel, kata demi kata saya cermati. Yang terbayang saat ia bicara adalah wajah Abahnya Al-Karim ibnul-Karim, KH. Cholil Bisri. Bahkan suara demi suaranya sangat mirip beliau.
Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel
Kuberanikan, saya WA adik putri kandung beliau, benar. “Mas Yahya memang mirip Abah” jawabnya.
Memoriku langsung kembali 12 tahun silam dimana saya ngaji dengan KH. Cholil Bisri di Desa Purwosari, Kudus. Kuingat 11 tahun silam saat saya ditugasi mewawancarai KH. Cholil Bisri saat saya jadi tim redaksi El-Qudsy Madrasah Qudsiyyah Kudus.
Saat itu, sampai rumah saya cerita dengan almarhum Bapak saya. “Itu putranya Mbah Bisri Mustofa Rembang. Bapaknya itu jagoan kalau berpidato dan punya Tafsir Al-Ibriz,” kata Bapakku.
Saya semakin penasaran. Saya catat dua nama itu, KH. Cholil Bisri dan KH. Bisri Mustofa.
Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC
Ternyata, saat saya sekolah di Madrasah Diniyyah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan Kudus, ngaji Tafsir pakai Kitab Al-Ibriz. Subhanallah. Dan penasaran saya terjawab lagi, ternyata Majalah El-Qudsy Qudsiyyah selalu menerjemah periodik kitab karya KH. Bisri Mustofa berjudu Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakharatul Khutaba’.
Saya tidak mau ngoyo-woro menerjemahkan pidato Gus Yahya. Hanya ingin membuka lagi apa sih isi dari kitab-kitab karya Simbahnya Gus Yahya dan dimana titik kesamaan ilmu Gus Yahya dengan Abahnya KH. Cholil Bisri. Itu saja. Dan inipun saya menulis dengan penuh santai sambil menunggu bedug 'Idul Fitri.
Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel
Terong Santri
Gus Yahya sudah sangat dikenal. Kesantriannya tidak diragukan. Keilmuannya juga sangat luar biasa karena pernah merasakan kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Soal birokrasi, jelas sudah fasih karena sudah keluar masuk istana jaman Gus Dur. Dan kini diamanahi oleh Jokowi sebagai Wantimpres.
Sehari-hari ia mengajar Kitab Tafsir Jalaian, Alfiyyah Ibnu Malik dan juga memimpin majelis ngaji poro kasepuhan. Sudah bisa dibayangkan. Mulang ngaji kitab (mengajar kitab) itu berat. Lebih berat lagi ngaji di depan kasepuhan (orang-orang tua). Tapi semua sudah selesai dan jadi rutinitas.
Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang
Bagaimana kalau ngaji di depan warga Israel yang beragama Yahudi?
Bayangkan saja. Di tengah puncak konflik politik berdalih “agama”, Gus Yahya harus bercerita tentang perdamaian. Dan tidak pakai teks ngajinya. Wow... Kalau saya disuruh begitu, sudah pamit duluan. Heeeeee. Jangan serius-serius bacanya.
Tapi namanya Kiai yang pernah jadi santri, ya tetap berani. Bahkan di beberapa sesi mendapat tepuk tangan meriah dan sesekali membuat peserta tertawa-tawa karena humor pesantren. Eh... saya lupa berpesan. Sebelum baca ini, lihat dulu video lengkap di beberapa forum pidato di Israel, ya. Kalau tidak lihat videonya, nanti galfok (gagal fokus).
Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini
Artinya apa? Itulah warna pemikiran Islam yang harus disampaikan dan dimasukkan di telinga orang-orang Israel. Jangan hanya teriak anti-Israel di jalanan. Hadir kesana dan diskusi lanjut eksekusi. Dikit-dikit dibilang bid’ah dan mendzolimi Islam! Yuk... ngopi dan rekreasi biar fresh pikirannya.
Ngopi itu artinya ngomong pribadi, alias mengaca. Apakah sudah berilmu dan beragama dengan baik? Kalau belum berilmu maka belajar. Kalau merasa belum beragama, ya ngaji. Sederhana kok hidup itu.
Rekreasi itu keluar dari rumah melihat di luar sana ada banyak keindahan, warna ragam dan perbedaan. Itu diangan-angan agar yang beda menjadi sama. Jangan bermulut agama tapi keluarnya kalimat-kalimat tidak manusia. Kasihan lho yang begini itu.
Obat agar suka ngopi dan rekreasi adalah terong santri. Pingin tahu, apa pingin tahu banget? Hadir ke pesantren biar kenal terong santri.
Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman
Penerus Mbah Cholil – Mbah Bisri
Saat Gus Yahya menyebut kata rahmah, kata itu yang pernah kudengar dari Abahnya, KH. Cholil Bisri, 12 tahun silam. Mbah Cholil menjelaskan di atas panggung yang dihadiri ribuan orang seperti ini:
اختلاف الائمة رحمة
Dengan bahasa yang enak dan simpel, Mbah Cholil memaknai: “Perbedaan pemimpin itu manifestasi”.
Saat itu saya tidak paham arti manifestasi. Dan ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat; perwujudan atau bentuk dari sesuatu yang tidak kelihatan.
Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU
Jadi, rahmah itu memang bermakna cukup mendalam. Bahwa sikap manusia dalam menghadapi perbedaan itu butuh perasaan dan pendapat. Dan tertunya karena sudah berbeda, maka perasaan dan pendapat itu membutuhkan bentuk yang tidak kelihatan, yakni kasing sayang—saling memahami.
Bagaimana kalau melihat arti rahmah menurut Simbahnya Gus Yahya, KH. Bisri Mustofa? Saya coba membuka koleksi kitab-kitab karya Mbah Bisri di almari perpustakaan saya. Kebetulan saya sedang menulis Disertasi yang membahas KH. Bisri Mustofa. Jadi, hampir ada 50-an judul kitab yang saya miliki.
Baca Juga: Gus Yahya; Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia
Mbah Bisri Mustofa menulis dalam Tafsir Al-Ibriz, halaman 1052, yang membahas mengenai Surat Al-Anbiya’, ayat 107, juz 17:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya: “Ingsun Allah ora ngutus marang siro Muhammad, kejobo dadi rahmat tumerap sekabehane alam; Saya tidak mengutus Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi semua alam semesta”.
Tidak hanya cukup disitu saja. Mbah Bisri Mustofa masih memberikan penjelasan sebagai berikut:
“Tanbihun: Kang tompo rohmat sebab wujude Nabi Muhammad iku ora namung wong-wong mukmin yang sholih-sholih, nanging ugo wong-wong kafir lan wong fajir. Jalaran naliko Kanjeng Nabi disawati watu dening kaume, naliko Kanjeng Nabi ditekek lan disuki telethong denin kaume, lan liyo-liyone maneh, upomo naliko iku Kanjeng Nabi ora nyuwun marang Pengeran: Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, menawi kaume wus ditumpes kabeh. Ono kang disirnaake, ana kang dibusek, dadi kethek utowo dadi babi lan liya-liyane, koyo kaume Nabi-Nabi sak durunge Nabi Muhammad”.
Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU
Sudah jelas, ya, kalau begitu? Bisa dipahami? Atau masih butuh diterjemah dalam Bahasa Indonesia? Ya sudah deh... saya terjemah bebas saja kalau begitu. Daripada saya diprotes nanti.
“Peringatan: Yang menerima rahmat atas keberadaan Nabi Muhammad itu tidak hanya orang beriman yang sholih saja. Tapi juga orang kafir dan orang yang berbuat keji (juga dapat rahmat). Sebab, ketika Nabi dilempar batu, dicekik, dilempari kotoran binatang dan (gangguan dakwah) lainnya oleh kaumnya, Nabi justru berdo’a: “Ya Allah, berikanlah hidayah pada kaumku karena mereka tidak tahu menahu”, maka kaumnya Nabi Muhammad tidak ditumpas semuanya. Kaumnya tidak dihilangkan, dicuekkan dan jadi kera atau babi, sebagaimana kaum Nabi sebelum Muhammad”.
Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama
Dalam Tafsir Jalalain, karya Syaikh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Syaikh Imam Jalaluddin As-Suyuthi—yang diajarkan Gus Yahya ngaji di Pondok Rembang—juga dijelaskan bahwa:
﴿وما أرسلناك﴾ يا محمد ﴿إلا رحمة﴾ أي للرحمة ﴿للعالمين﴾ الإنس والجن بك
Ini menegaskan bahwa tugas Nabi Muhammad dan umatnya adalah memberikan perlindungan sosial dan psikologis. Dan ternyata rahmat untuk alam semesta juga diperuntukkan bagi manusia dan jin. Kenapa demikian? Sebab Nabi Muhammad menegaskan dalam haditsnya sebagaimana ditulis dalam penjelasan Tafsir At-Tanwir Wat-Tanwir oleh Ibnu ‘Asyur dalam membedah isi Surat Al-Anbiya’, ayat 107:
ويَدُلُّ لِهَذا المَعْنى ما أشارَ إلى شَرْحِهِ النَّبِيءُ ﷺ بِقَوْلِهِ إنَّما أنا رَحْمَةٌ مُهْداةٌ وتَفْصِيلُ ذَلِكَ يَظْهَرُ في مَظْهَرَيْنِ: الأوَّلُ تَخَلُّقُ نَفْسِهِ الزَّكِيَّةِ بِخُلُقِ الرَّحْمَةِ، والثّانِي إحاطَةُ الرَّحْمَةِ بِتَصارِيفِ شَرِيعَتِهِ
Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain
Membaca Gus Yahya tidak cukup disitu saja. Sebab, setiap hari Gus Yahya ngaji beberapa Kitab Kuning: Alfiyyah karya Ibnu Malik dan Tanqihul Qaul karya Imam Nawawi Al Bantani (setiap sholat Maghrib) dan mengaji dengan kasepuhan Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Dan masih banyak Kitab Kuning lainnya.
Khazanah tentang rahmah dalam kitab-kitab tersebut sangat luas dikupas. Sebut saja Kitab Irsyadul ‘Ibad yang berisi 114 topik pembahasan dengan jumlah 120 halaman. Isinya sangat luar biasa. Didalamnya berisi pembahasan Islam yang rahmah yang tersaji dengan materi keramahan. Pokoknya, membahas Kitab Kuning pasti kita akan semakin rindu.
Baca Juga: Menjernihkan Makna "Nas" dalam Hadits Untuk Memerangi Musyrikin
Oleh sebab itu, melihat Gus Yahya, biarlah menjadi Gus Yahya yang masih muda dan bergelora keilmuannya. saya cukup membaca Gus Yahya sebagai bagian mutiara ilmu yang tidak lepas dari Abah dan Simbahnya. Gus Yahya adalah cerminan kilauan ilmu Syaikh Jalaluddin, Syaikh Zainuddin, Imam Ibnu Malik dan Imam Nawawi—yang secara mudah kita sebut kilauan permata pesantren.
Menyebarkan ilmu itu harus penuh ramah. Jangan malah suka marah-marah. Kalau suka marah-marah, itu namanya bid’ah, sebab Nabi tidak suka marah-marah. Hayo.... pilih mana?
Terlalu panjang ternyata tulisan saya ya?Padahal masih ada satu lagi. Lanjut apa tidak nih?
Lanjut ya? Oke, dilanjut.
Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua
Kalau saya menyebut Gus Yahya adalah mutiara ilmunya Mbah Bisri Mustofa soal diplomasi, tidak bisa diganggu gugat. Coba kita lihat isi Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakhiratul Khutaba’ karya Simbahnya. Ada bab khusus yang membahas tentang garis besar akhlaq para pembicara dan pemimpin: mengawali pembicaraan dengan mempesona agar didengarkan orang; harus berperilaku baik agar dihargai orang lain; bercita-cita tinggi dan optimis; menjadi pengampun dan pemaaf.
Bahkan oleh Mbah Bisri Mustofa, bab itu ditambahkan penjelasan sebuah ayat Surat Ali Imron: 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Baca Juga: Ulama Ooriter dan Ulama Otoritatif
Sudah cocok, kan? Intinya begitulah cara pemimpin yang bijak dan berjuang mencari jalan damai di negeri konflik. Jangan campur aduk dengan nyinyir karena sejak dari awal tidak suka NU, benci pesantren dan ngremehkan peci hitam, lalu menggoreng-goreng bahwa pidato itu mengkudeta Pemerintah dan mengkhianati Palestina. Selamat berdiskusi.[]
* Oleh: M. Rikza Chamami, Wakil Sekretaris PW. GP. Ansor Jateng & Dosen UIN Walisongo.










