Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah


rumahnahdliyyin.com - Sudah saya prediksi sebelumnya bahwa kehadiran Gus Yahya Cholil Staquf ke Israel akan menjadi buah bibir. Ternyata benar. Ada bibir manis dan ada bibir ndower (nyinyir dan benci setengah mati). Tapi tidak masalah, namanya dakwah itu sudah resiko dimaki-maki orang.

Setelah mendapat kiriman video ceramah Gus Yahya di Israel, kata demi kata saya cermati. Yang terbayang saat ia bicara adalah wajah Abahnya Al-Karim ibnul-Karim, KH. Cholil Bisri. Bahkan suara demi suaranya sangat mirip beliau.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Kuberanikan, saya WA adik putri kandung beliau, benar. “Mas Yahya memang mirip Abah” jawabnya.

Memoriku langsung kembali 12 tahun silam dimana saya ngaji dengan KH. Cholil Bisri di Desa Purwosari, Kudus. Kuingat 11 tahun silam saat saya ditugasi mewawancarai KH. Cholil Bisri saat saya jadi tim redaksi El-Qudsy Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Saat itu, sampai rumah saya cerita dengan almarhum Bapak saya. “Itu putranya Mbah Bisri Mustofa Rembang. Bapaknya itu jagoan kalau berpidato dan punya Tafsir Al-Ibriz,” kata Bapakku.

Saya semakin penasaran. Saya catat dua nama itu, KH. Cholil Bisri dan KH. Bisri Mustofa.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Ternyata, saat saya sekolah di Madrasah Diniyyah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan Kudus, ngaji Tafsir pakai Kitab Al-Ibriz. Subhanallah. Dan penasaran saya terjawab lagi, ternyata Majalah El-Qudsy Qudsiyyah selalu menerjemah periodik kitab karya KH. Bisri Mustofa berjudu Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakharatul Khutaba’.

Saya tidak mau ngoyo-woro menerjemahkan pidato Gus Yahya. Hanya ingin membuka lagi apa sih isi dari kitab-kitab karya Simbahnya Gus Yahya dan dimana titik kesamaan ilmu Gus Yahya dengan Abahnya KH. Cholil Bisri. Itu saja. Dan inipun saya menulis dengan penuh santai sambil menunggu bedug 'Idul Fitri.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel

Terong Santri

Gus Yahya sudah sangat dikenal. Kesantriannya tidak diragukan. Keilmuannya juga sangat luar biasa karena pernah merasakan kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Soal birokrasi, jelas sudah fasih karena sudah keluar masuk istana jaman Gus Dur. Dan kini diamanahi oleh Jokowi sebagai Wantimpres.

Sehari-hari ia mengajar Kitab Tafsir Jalaian, Alfiyyah Ibnu Malik dan juga memimpin majelis ngaji poro kasepuhan. Sudah bisa dibayangkan. Mulang ngaji kitab (mengajar kitab) itu berat. Lebih berat lagi ngaji di depan kasepuhan (orang-orang tua). Tapi semua sudah selesai dan jadi rutinitas.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Bagaimana kalau ngaji di depan warga Israel yang beragama Yahudi?

Bayangkan saja. Di tengah puncak konflik politik berdalih “agama”, Gus Yahya harus bercerita tentang perdamaian. Dan tidak pakai teks ngajinya. Wow... Kalau saya disuruh begitu, sudah pamit duluan. Heeeeee. Jangan serius-serius bacanya.

Tapi namanya Kiai yang pernah jadi santri, ya tetap berani. Bahkan di beberapa sesi mendapat tepuk tangan meriah dan sesekali membuat peserta tertawa-tawa karena humor pesantren. Eh... saya lupa berpesan. Sebelum baca ini, lihat dulu video lengkap di beberapa forum pidato di Israel, ya. Kalau tidak lihat videonya, nanti galfok (gagal fokus).

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Artinya apa? Itulah warna pemikiran Islam yang harus disampaikan dan dimasukkan di telinga orang-orang Israel. Jangan hanya teriak anti-Israel di jalanan. Hadir kesana dan diskusi lanjut eksekusi. Dikit-dikit dibilang bid’ah dan mendzolimi Islam! Yuk... ngopi dan rekreasi biar fresh pikirannya.

Ngopi itu artinya ngomong pribadi, alias mengaca. Apakah sudah berilmu dan beragama dengan baik? Kalau belum berilmu maka belajar. Kalau merasa belum beragama, ya ngaji. Sederhana kok hidup itu.

Rekreasi itu keluar dari rumah melihat di luar sana ada banyak keindahan, warna ragam dan perbedaan. Itu diangan-angan agar yang beda menjadi sama. Jangan bermulut agama tapi keluarnya kalimat-kalimat tidak manusia. Kasihan lho yang begini itu.

Obat agar suka ngopi dan rekreasi adalah terong santri. Pingin tahu, apa pingin tahu banget? Hadir ke pesantren biar kenal terong santri.

Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman

Penerus Mbah Cholil – Mbah Bisri

Saat Gus Yahya menyebut kata rahmah, kata itu yang pernah kudengar dari Abahnya, KH. Cholil Bisri, 12 tahun silam. Mbah Cholil menjelaskan di atas panggung yang dihadiri ribuan orang seperti ini:

اختلاف الائمة رحمة

Dengan bahasa yang enak dan simpel, Mbah Cholil memaknai: “Perbedaan pemimpin itu manifestasi”.

Saat itu saya tidak paham arti manifestasi. Dan ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat; perwujudan atau bentuk dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Jadi, rahmah itu memang bermakna cukup mendalam. Bahwa sikap manusia dalam menghadapi perbedaan itu butuh perasaan dan pendapat. Dan tertunya karena sudah berbeda, maka perasaan dan pendapat itu membutuhkan bentuk yang tidak kelihatan, yakni kasing sayang—saling memahami.

Bagaimana kalau melihat arti rahmah menurut Simbahnya Gus Yahya, KH. Bisri Mustofa? Saya coba membuka koleksi kitab-kitab karya Mbah Bisri di almari perpustakaan saya. Kebetulan saya sedang menulis Disertasi yang membahas KH. Bisri Mustofa. Jadi, hampir ada 50-an judul kitab yang saya miliki.

Baca Juga: Gus Yahya; Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mbah Bisri Mustofa menulis dalam Tafsir Al-Ibriz, halaman 1052, yang membahas mengenai Surat Al-Anbiya’, ayat 107, juz 17:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: “Ingsun Allah ora ngutus marang siro Muhammad, kejobo dadi rahmat tumerap sekabehane alam; Saya tidak mengutus Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi semua alam semesta”.

Tidak hanya cukup disitu saja. Mbah Bisri Mustofa masih memberikan penjelasan sebagai berikut:

Tanbihun: Kang tompo rohmat sebab wujude Nabi Muhammad iku ora namung wong-wong mukmin yang sholih-sholih, nanging ugo wong-wong kafir lan wong fajir. Jalaran naliko Kanjeng Nabi disawati watu dening kaume, naliko Kanjeng Nabi ditekek lan disuki telethong denin kaume, lan liyo-liyone maneh, upomo naliko iku Kanjeng Nabi ora nyuwun marang Pengeran: Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, menawi kaume wus ditumpes kabeh. Ono kang disirnaake, ana kang dibusek, dadi kethek utowo dadi babi lan liya-liyane, koyo kaume Nabi-Nabi sak durunge Nabi Muhammad”.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sudah jelas, ya, kalau begitu? Bisa dipahami? Atau masih butuh diterjemah dalam Bahasa Indonesia? Ya sudah deh... saya terjemah bebas saja kalau begitu. Daripada saya diprotes nanti.

“Peringatan: Yang menerima rahmat atas keberadaan Nabi Muhammad itu tidak hanya orang beriman yang sholih saja. Tapi juga orang kafir dan orang yang berbuat keji (juga dapat rahmat). Sebab, ketika Nabi dilempar batu, dicekik, dilempari kotoran binatang dan (gangguan dakwah) lainnya oleh kaumnya, Nabi justru berdo’a: “Ya Allah, berikanlah hidayah pada kaumku karena mereka tidak tahu menahu”, maka kaumnya Nabi Muhammad tidak ditumpas semuanya. Kaumnya tidak dihilangkan, dicuekkan dan jadi kera atau babi, sebagaimana kaum Nabi sebelum Muhammad”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Dalam Tafsir Jalalain, karya Syaikh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Syaikh Imam Jalaluddin As-Suyuthi—yang diajarkan Gus Yahya ngaji di Pondok Rembang—juga dijelaskan bahwa:

﴿وما أرسلناك﴾ يا محمد ﴿إلا رحمة﴾ أي للرحمة ﴿للعالمين﴾ الإنس والجن بك

Ini menegaskan bahwa tugas Nabi Muhammad dan umatnya adalah memberikan perlindungan sosial dan psikologis. Dan ternyata rahmat untuk alam semesta juga diperuntukkan bagi manusia dan jin. Kenapa demikian? Sebab Nabi Muhammad menegaskan dalam haditsnya sebagaimana ditulis dalam penjelasan Tafsir At-Tanwir Wat-Tanwir oleh Ibnu ‘Asyur dalam membedah isi Surat Al-Anbiya’, ayat 107:

ويَدُلُّ لِهَذا المَعْنى ما أشارَ إلى شَرْحِهِ النَّبِيءُ ﷺ بِقَوْلِهِ إنَّما أنا رَحْمَةٌ مُهْداةٌ وتَفْصِيلُ ذَلِكَ يَظْهَرُ في مَظْهَرَيْنِ: الأوَّلُ تَخَلُّقُ نَفْسِهِ الزَّكِيَّةِ بِخُلُقِ الرَّحْمَةِ، والثّانِي إحاطَةُ الرَّحْمَةِ بِتَصارِيفِ شَرِيعَتِهِ

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Membaca Gus Yahya tidak cukup disitu saja. Sebab, setiap hari Gus Yahya ngaji beberapa Kitab Kuning: Alfiyyah karya Ibnu Malik dan Tanqihul Qaul karya Imam Nawawi Al Bantani (setiap sholat Maghrib) dan mengaji dengan kasepuhan Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Dan masih banyak Kitab Kuning lainnya.

Khazanah tentang rahmah dalam kitab-kitab tersebut sangat luas dikupas. Sebut saja Kitab Irsyadul ‘Ibad yang berisi 114 topik pembahasan dengan jumlah 120 halaman. Isinya sangat luar biasa. Didalamnya berisi pembahasan Islam yang rahmah yang tersaji dengan materi keramahan. Pokoknya, membahas Kitab Kuning pasti kita akan semakin rindu.

Baca Juga: Menjernihkan Makna "Nas" dalam Hadits Untuk Memerangi Musyrikin

Oleh sebab itu, melihat Gus Yahya, biarlah menjadi Gus Yahya yang masih muda dan bergelora keilmuannya. saya cukup membaca Gus Yahya sebagai bagian mutiara ilmu yang tidak lepas dari Abah dan Simbahnya. Gus Yahya adalah cerminan kilauan ilmu Syaikh Jalaluddin, Syaikh Zainuddin, Imam Ibnu Malik dan Imam Nawawi—yang secara mudah kita sebut kilauan permata pesantren.

Menyebarkan ilmu itu harus penuh ramah. Jangan malah suka marah-marah. Kalau suka marah-marah, itu namanya bid’ah, sebab Nabi tidak suka marah-marah. Hayo.... pilih mana?

Terlalu panjang ternyata tulisan saya ya?Padahal masih ada satu lagi. Lanjut apa tidak nih?

Lanjut ya? Oke, dilanjut.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Kalau saya menyebut Gus Yahya adalah mutiara ilmunya Mbah Bisri Mustofa soal diplomasi, tidak bisa diganggu gugat. Coba kita lihat isi Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakhiratul Khutaba’ karya Simbahnya. Ada bab khusus yang membahas tentang garis besar akhlaq para pembicara dan pemimpin: mengawali pembicaraan dengan mempesona agar didengarkan orang; harus berperilaku baik agar dihargai orang lain; bercita-cita tinggi dan optimis; menjadi pengampun dan pemaaf.

Bahkan oleh Mbah Bisri Mustofa, bab itu ditambahkan penjelasan sebuah ayat Surat Ali Imron: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Baca Juga: Ulama Ooriter dan Ulama Otoritatif

Sudah cocok, kan? Intinya begitulah cara pemimpin yang bijak dan berjuang mencari jalan damai di negeri konflik. Jangan campur aduk dengan nyinyir karena sejak dari awal tidak suka NU, benci pesantren dan ngremehkan peci hitam, lalu menggoreng-goreng bahwa pidato itu mengkudeta Pemerintah dan mengkhianati Palestina. Selamat berdiskusi.[]



* Oleh: M. Rikza Chamami, Wakil Sekretaris PW. GP. Ansor Jateng & Dosen UIN Walisongo.
Read More

Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman


rumahnahdliyyin.com - Nama lengkap Gus Yahya sebagaimana kita tahu adalah Yahya Cholil Staquf, saya mengenal nama dan wajah beliau dari televisi di sekitar tahun 2002an sebagai juru bicara kepresidenan. Bicaranya runtut namun mengandung pointers yang harus keluar konteks umum demi memberikan kepemahaman secara menyeluruh dari suatu permasalahan.

Sekitar 5 tahun yang lalu saya merasa terhormat ketika kami diundang untuk melakukan diskusi di pesantren Leteh, di mana ketika sesi beliau memberikan arahan, beliau telah membuat gambaran peta perang peradaban yang jauh sangat luas dengan rentetan fakta yang tak terbantahkan.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Beberapa waktu berikutnya ketika saya diminta membantu mengurus di PBNU, beberapa kali saya diundang untuk juga diskusi terkait konflik peradaban. Konflik yang sama dari diskusi 5 tahunan yang lalu, berkisar konflik di jazirah Arab dan keperihatinan terhadap Palestina.

Dari banyak tokoh yang saya temui, Gus Yahya adalah tokoh yang memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penderitaan warga Palestina atas penjajahan Israel, keperihatinan atas kericuhan belakangan ini di Indonesia, dan kebersemangatan beliau agar kawula muda NU bersatu menyongsong kemonceran Indonesia.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Belakangan ini, beberapa kali beliau menyampaikan perlunya tindakan nyata, di luar konteks umum, untuk membantu penderitaan rakyat Palestina yang terjebak pada konflik antar kelompok di internal Palestina yang memiliki potensi tidak akan terselesaikan sampai kiamat.

Maka, tak heran bagi saya, ketika beliau sangat berani hadir di Yerusalem yang sudah diklaim sepihak sebagai wilayah Israel, sementara sebagai muslim dan warga Indonesia, tentu masih memegang teguh Yerusalem masih wilayah Palestina.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Beliau dengan gagah berani namun penuh ramah sopan santun, menyampaikan ceramah solusi atas permasalahan Palestina di depan komunitas Yahudi, sebuah langkah langka yang bisa dilakukan oleh tokoh keagamaan maupun kenegaraan. Ibarat Musa yang diperintahkan menyampaikan materi dakwah secara sopan kepada Fir’aun laknatullah.

Langkah beliau jelas mengandung risiko penolakan dari banyak pihak, namun ijtihad beliau untuk menempuh jalan untuk tujuan kebaikan Palestina, tentu sangat layak dihargai. Dan beliau tentu sudah paham atas langkah beliau dengan menyatakannya sebagai inisiatif pribadi yang terlepas dari jabatan Katib Aam PBNU maupun Tim Penasihat Presiden, namun jelas beliau tetap Presiden komunitas Terong Gosong yang sepertinya lebih gayeng dan memiliki ghirah yang menggairahkan.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Kita bersama, hanya sedang melihat upaya beliau, namun tentu ini sebuah langkah dari ribuan langkah pembelaan kepada Palestina yang sudah puluhan tahun dijalankan oleh banyak tokoh, namun penderitaan Palestina bukan membaik malah cenderung semakin parah.

Kita doakan agar upaya beliau ini dapat membuahkan hasil yang positif bagi warga dan negara Palestina tanpa ada syak prasangka buruk kepada beliau. Gus Yahya adalah sosok kyai, menurut saya, yang sudah selesai dengan urusan pribadinya dan selalu berusaha menyumbangkan bagi kebaikan sesama.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Selamat lebaran.
Semoga kita semua dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya dan dunia diberlimpahkan rahmah yang berkelanjutan.

Salam Indonesia Mercusuar Dunia.

Alfatihah.

Aamiin.


* Oleh: Hari Usmayadi (Cak Usma), Ketua PPM. Aswaja.
Read More

Takbir Keliling di Sorong Dinodai Bendera Terlarang


rumahnahdliyyin.com, Sorong - Seperti dimana-mana di belahan Indonesia lainnya, di Sorong, Papua Barat, masyarakat pun menyambutnya dengan tradisi Takbir Keliling. Mereka yang turut dalam takbir keliling ini berasal dari berbagai masjid, musholla ataupun masyarakat yang ada di kota Sorong.

Takbir keliling yang menggunakan moda transportasi roda empat dan roda dua itu cukup sempat membuat jalanan macet. Kendati demikian, mereka yang hanyut dalam takbir keliling ini tak surut dalam menggemakan takbir.

Baca Juga: Arwah HTI Gentayangan di Bandara Halim

Tapi sayang, tradisi yang bagus itu telah dinodai oleh adanya kibaran bendera dari salah satu ormas yang sudah dilarang di Republik ini, yaitu bendera HTI. Aksi ini sempat diabadikan oleh salah satu peserta dalam bentuk video sekitar pada pukul 22.00 waktu setempat (24/06/2018).

"Ya, saya tadi memang keliling kok," kata Muhyiddin, ketika dikonfirmasi apakah video itu hasil rekamannya.


Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Lebih lanjut, Muhyiddin pun menyayangkan bahwa aksi itu seolah dibiarkan oleh pihak kepolisian yang memang mengawal dalam kegiatan takbir keliling itu. Padahal, sedari awal sebelum mulai keliling, bendera itu sudah ada.

"Udah ada benderanya. Emang pihak kepolisian pun kelihatannya mendukung," ungkapnya kemudian.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Muhyiddin sendiri mengakui bahwa pendukung dan simpatisan HTI di Sorong memang subur. Bahkan, ia menyebutkan bahwa instansi pemerintah dan anak-anak usia SMA di Sorong juga tidak sedikit yang kerasukan paham yang sudah dilarang di negeri ini.[]

(Redaksi RN)
Read More

Pesan Langit dari Rembang


rumahnahdliyyin.com - Memahami Pesan rahmah KH. Yahya Cholil Staquf dari sisi lain. Dari sudut pandang yang berbeda.

Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sebagai pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yg memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!

Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yang bisa dimainkan oleh Kiai, NU dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yang melampaui keadilan yang diperebutkan dan perdamaian yang dipertarungkan, yaitu pesan rahmah.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Penuhi Undangan ke Israel

Rahmah tidak hanya menuntut, tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yang bertikai.

Betapa sering kita menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa rahmah, kita hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yang menohok.

Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah Anda juga memberi keadilan pada pihak lain.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Pahamkah Anda apa yang dituju Kiai Yahya?

Pesan rahmah disampaikan dangan cara yang rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yang bertikai, tapi semua yang paham bisa merasakan pembelaan yang jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah rahmah!

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel

I stand with palestine dimaknai lewat pesan rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri”, karena pesan rahmah disampaikan dengan kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina bukan karena membenci Israel, tapi karena perwujudan rahmah. Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!

Dunia telah melihat seorang Kiai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerusalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep rahmah yang merangkul, bukan memukul.

Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus untuk menyampaikan pesan rahmah. Sebelumnya Kiai Yahya sudah ke Gedung Putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerussalem, tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia.

Anda boleh tidak setuju dengan apa yang dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi SAW. ada di sana saat pesan rahmah itu diucapkan Kiai Yahya.

“Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

Setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan rahmah yang telah diajarkan Nabi SAW., sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU dan Indonesia.

Pesan langit sudah disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sudah beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yang paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bersholawat pada Kanjeng Nabi SAW.

Mari kita terus sampaikan pesan rahmah ini 🙏

Tabik,



* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand.
Read More

Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini


rumahnahdliyyin.com - Media elektronik dan media sosial di hari-hari terakhir ini dipenuhi dengan pemberitaan mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Kiai yang mengemban amanat sebagai Katib 'Aam PBNU dan baru saja dilantik sebagai Wantimpres ini tidak sedikit yang meresponnya negatif, bahkan cenderung nyinyir, terkait kunjungannya ke Israel.

Sebagaimana diketahui bersama, Ahad waktu setempat kemarin (10/06/2018), Gus Yahya hadir sebagai pembicara dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dalam kesempatan ini, Gus Yahya menyampaikan bahwa perlunya rahmah (kasih sayang) untuk dimiliki oleh semua manusia. Sebab, dengan rahmah inilah ketidakadilan yang selama ini diduga sebagai pemicu konflik di seluruh dunia bisa diatasi.

Dengan menggarisbawahi inti dari apa yang disampaikan oleh Gus Yahya ini, menurut penulis, Gus Yahya sebenarnya sudah berhasil menyuarakan solusi dari kegelisahannya selama ini. Kegelisahannya pada penjajahan. Kegelisahannya terhadap dehumanisasi. Kegelisahannya pada konflik yang terjadi dimana-mana yang seakan belum akan surut juga. Terlebih, konflik-konflik yang mengatasnamakan agama dan Tuhan masing-masing.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Kendati demikian, sangat disayangkan ternyata apa yang berusaha untuk disuarakan oleh Gus Yahya sebagai solusi untuk seluruh dunia ini ditanggapi negatif, bahkan cenderung nyinyir, oleh sebagian kalangan. Termasuk oleh Fadli Zon dan Hidayat Nur Wahid.

Fadli Zon, dalam cuitan di akun twitternya menulis bahwa apa yang dilakukan Gus Yahya dinilai tak berarti apa-apa dan memalukan bangsa Indonesia serta dikira Gus Yahya tidak peka terhadap perjuangan Palestina.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Cuitan Fadli Zon ini sebenarnya tidak begitu penting. Kita semua sudah tahu dan paham siapa Fadli Zon. Kendati seorang politisi dan juga anggota dewan, namun ia kerap menulis hal-hal yang secara akal sehat sangat dangkal. Bahkan, tidak jarang pula cuitannya saling bertentangan bila ditelisik dari waktu ke waktu.

Sedangkan Hidayat Nur Wahid, juga dalam akun twitternya, mengatakan kalau apa yang telah dilakukan Gus Yahya telah membuat kecewa Palestina dan umat Islam serta dinilai tidak sesuai dengan sikap pemerintah yang mendukung Palestina merdeka.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Tanpa bermaksud mengerdilkan HNW, kita semua juga sudah tahu dan paham siapa HNW. Sebagai politisi PKS yang menyuburkan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia, tidak mengherankan bila responnya demikian. Sebab, bagaimanapun juga, kalau di Indonesia IM menjadi PKS, di Palestina IM berubah menjadi Hamas, yaitu salah satu faksi perlawanan terhadap Israel yang ada di Palestina.

Sebagai faksi perlawanan, Hamas merupakan salah satu faksi yang dalam perjuangannya membela Palestina dengan menggunakan aksi-aksi konfrontasi langsung terhadap Israel. Beda dengan Fatah, faksi perlawanan yang ada lainnya di Palestina, yang lebih menerapkan dialog-dialog dan diplomasi dalam perjuangannya. Makanya, tak mengherankan pula apabila Hamas kemudian juga menyayangkan kehadiran Gus Yahya tersebut.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Dari sedikit deskripsi ini, kiranya cukup jelas mengapa ada orang-orang yang merespon negatif, bahkan nyinyir, terhadap upaya Gus Yahya. Adalah latar belakang afiliasi merekalah yang mendorong mereka berkomentar demikian. Padahal, pada dasarnya sama-sama ingin berjuang untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi ini.

Dengan tidak sepakat dengan metode dan cara-cara perjuangan Hamas terkait kemerdekaan Palestina, tidak bisa seseorang yang punya metode dan cara-cara perjuangan tersendiri untuk kemerdekaan Palestina diklaim sebagai tidak mendukung Palestina, bahkan dikatakan sebagai antek Israel.

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Gus Yahya; Sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah Masa Kini

Apa yang telah dilakukan oleh Gus Yahya ini, sungguh mengingatkan penulis pada sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah. Sebagaimana kita ketahui bersama, kiai Wahab pernah melakukan hal yang hampir serupa pada awal abad ke-20.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Konteks antara kiai Wahab dan Gus Yahya memang berbeda. Kiai Wahab melakukannya di Saudi Arabia soal pembongkaran situs-situs bersejarah Islam, sedangkan Gus Yahya melakukannya di Israel dengan persoalan perdamaian. Juga, kiai Wahab berangkat atas nama NU (waktu itu masih Komite Hijaz) dan Gus Yahya berkunjung karena adanya undangan dan atas nama pribadi.

Kendati konteks antara dua kiai NU ini berbeda, namun ada titik persamaan antar keduanya. Pertama, kiai Wahab dan Gus Yahya sama-sama berjuang dengan metode dan strategi damai, yakni dialog dan diplomasi. Kiai Wahab melakukan dialog dan diplomasi dengan pimpinan Arab Saudi, Gus Yahya berdialog dan berdiplomasi dengan orang-orang Yahudi.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kedua, kiai Wahab dan Gus Yahya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Keduanya sadar bahwa untuk mewujudkan kemanusiaan dan perdamaian haruslah menggunakan cara-cara yang manusiawi secara damai.

Ketiga, keduanya sama-sama melakukannya demi kepentingan yang lebih besar. Bukan kepentingan kelompok, apalagi pribadi.

Dari kesamaan-kesamaan inilah kiranya tidak berlebihan apabila Gus Yahya adalah sosok kiai Wahab masa kini. Dengan kemampuannya yang sangat mumpuni, Gus Yahya sedikit pun tidak bergeming kendati berbagai orang dan kalangan menyayangkan ataupun mencibir upaya-upaya yang diusahakannya. Bukankah dalam setiap tindakan pasti ada yang suka dan tidak suka??

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Akhirnya, kalau kiai Wahab diakhir diplomasinya berbuahkan hasil sebagaimana bisa kita nikmati hingga hari ini, demikian pula semoga berhasil juga apa yang menjadi maksud dan tujuan Gus Yahya ke Israel kali ini, yakni terwujudnya perdamaian antara Israel dan Palestina serta berakhirnya segala konflik yang ada di muka bumi ini. Amin.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC


rumahnahdliyyin.com - Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC. Untuk lebih mudahnya, digunakan A dan B. A adalah Rabbi David Rosen dan B adalah Gus Yahya. Silakan disimak.

A: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, presiden Abdurrahman Wahid. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak tiga kali. Lalu, Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

B: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya ke Israel

A: Tapi ini bukan sekedar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikansi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

B: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya, tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung, sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

A: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

B: Hubungan antar Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum, kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri.

Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi, perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua, menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

A: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Qur'an dan Hadits—sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi—adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

B: Bukan hanya mungkin, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Qur'an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW. dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Qur'an dan Hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

A: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

B: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam.

Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan didalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sekarang saatnya kita bertanya, “Apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau, kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?”

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: Tidak ada yang bisa bertahan hidup didalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan.

Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau, apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora, “obat macam apa pun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau merubah gaya hidupnya”.

Salah satu ayat dalam Qur'an juga menyebutkan:

إنّ الله لايغيّر مابقوم حتّى يغيّروا مابأنفسهم

“Sesungguhnya Allah SWT. tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan.

Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Kita harus memilih rahmah karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain.

Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih rahmah”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

A: Konsep rahman dan rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterimakasih banyak atas seruan Anda untuk memilih rahmah. Dan kami harap, Anda mampu menjadi inspirasi bagi muslim di seluruh dunia. Dan kami harap, kami bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati.[]

(Redaksi MP)
Read More

Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel


rumahnahdliyyin.com – Rencana kuliah umum di Israel oleh KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) terpaksa dibatalkan setelah beragam kritik mengalir deras. Memangnya mendukung kemerdekaan Palestina itu caranya cuma harus gontok-gontokan dengan Israel saja?

Musim panas (sekali) 2008 di Tripoli, saya punya kesempatan ikut dengar uneg-uneg dari mahasiswa senior asal Suriah. Sebut saja namanya Abdullah. Ia cerita panjang lebar soal Palestina. Dengan amat menggebu-gebu, mirip Moammar Qadafi kalau lagi bahas revolusi. Memang ia cukup lama mengikuti konflik Israel-Palestina, ya maklum, waktu itu Suriah belum babak belur, hingga fokusnya ke Palestina masih bisa total.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dari ceritanya, saya bisa simpulkan kalau doi sebenarnya cuma fans garis kerasnya Hamas, bukan fans Palestina. Pasalnya, doi tak hanya serang Israel dalam argumennya, tapi juga “pemilik” Palestina lainnya, yaitu Fatah. Setiap langkah yang diambil Fatah untuk Palestina, ia kritisi. Sebaliknya, segala hal yang dilakukan Hamas, ia dukung. Fatah ia anggap sebagai musuh dalam selimut; bantuan-bantuan luar negeri mereka dapat banyak, tapi cuma berani pakai cara-cara pengecut, beraninya kok di meja perundingan diplomasi.

Untuk diketahui pembaca yang budiman, Fatah dan Hamas adalah dua faksi di Palestina dengan corak perjuangan yang berbeda. Fatah memang identik dengan meja-meja perundingan. Tokoh-tokohnya sibuk keliling dunia cari dukungan diplomatis. Sekilas, mereka kelihatan cuma jalan-jalan saja ke mana-mana, enggak mau ikut berdarah-darah ikut angkat senjata.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Sedangkan faksi Hamas lebih identik dengan intifada, AK-47, dan perjuangan yang berdarah-darah. Singkatnya kalau Hamas adalah Hulk, maka Fatah adalah Black Widow-nya. Tentu saja di Palestina tidak cuma ada dua faksi itu, masih ada faksi lain, termasuk faksi komunis Palestina, tapi harus diakui pengaruhnya tak sebesar Hamas dan Fatah.

Waktu mendengar penjelasan kawan saya, saya cuma membatin—bukan karena tidak berani bersuara, tapi karena kemampuan bahasa Arab saya baru sampai level bisa survive di pasar, belum sampai level debat. “Ealah, mosok ya wajah faksi Palestina harus Hamas thok?”

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Saya yakin yang punya pandangan seperti Abdullah, teman saya ini, sangat banyak di bumi Indonesia tercinta. Orang-orang yang alam pikirannya dalam soal Palestina amat hitam-putih. Kalau enggak berani melawan Israel dengan face to face, ya mending ke laut aja.

Nah itulah yang bikin kabar mengenai Kiai Yahya Cholil Staquf (Katib ‘Am PBNU) diundang untuk menghadiri kuliah umum dari The Israel Council on Foreign Relations, sebuah lembaga independen Israel, begitu ramai di media sosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Gus Yahya, biasa disapa begitu, didaulat untuk mengisi kuliah umum dengan tema besar “Pergeseran dari Konflik ke Kerja Sama”. Kabar itu pertama kali diterima publik dari jurnalis Israel, Simon Arann, melalui akun Twiternya dan sontak jadi pergunjingan umat muslim di Indonesia.

Sekilas dari tema tersebut, kita tahu bahwa gagasan yang diusung cukup bagus. “Apa iya enggak capek konflik terus? Ayo guyub rukun disengkuyung bareng!” Kira-kira begitu gagasan panitia yang Yahudi itu. Hm, baik juga bukan?

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Tapi ya begitulah, sangat disayangkan Gus Yahya memilih untuk membatalkan kuliah umum tersebut, meski tetap akan berangkat ke Israel untuk menemui beberapa tokoh di sana. Namun yang jelas, riuh-rendah suara menentang sudah mulai terdeteksi. Rata-rata tekanan yang ada adalah upaya agar Gus Yahya membatalkan kuliah umum ini.

Gus Yahya sendiri jelas merupakan sosok yang sangat dihormati bagi kalangan Nahdliyyin. Beliau menduduki posisi Syuriah, tepatnya Katib ‘Aam. Seseorang di posisi itu bukan main-main karena sudah di-“kiai”-i kan secara kultural jauh sebelum menjadi NU struktural. Tapi pembatalan kuliah umum, jujur, sedikit mengejutkan saya. Meski disisi lain tetap harus disyukuri bahwa Gus Yahya tidak membatalkan kedatangannya ke Israel untuk silaturahmi. Berbicara di forum internasional dibidang perdamaian juga bukan yang pertama bagi beliau, jadi saya yakin Gus Yahya ya enggak gagap-gagap amat-lah di depan tokoh-tokoh Israel.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Hal semacam ini sebenarnya jadi sinyal mengkhawatirkan karena segala upaya untuk mendukung Palestina harus sesuai dengan tafsiran tunggal. Upaya-upaya di luar tafsir tunggal itu pun harus siap dicap menyakiti rakyat Palestina—versi perspektif masyarakat muslim Indonesia.

Memangnya apa sih bentuk monopoli tafsir tunggal tersebut? Antara lain Palestina harus merdeka, Israel harus diusir. Dukung Palestina harus yang berani seperti Hamas, bukan dengan cara pengecut seperti Fatah. Maka tidak cukup ada kedubes Palestina di Indonesia. Kalau bisa bikin juga “kedubes” Hamas yang berani itu. Waw, semangat yang luwar biyasa.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, Hamas sendiri kadang menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Terowongan yang menghubungkan perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, dikomersilkan oleh salah satu elite Hamas, Abu Ibrahim. Anda bisa membaca sendiri laporan dari Spiegel Online, sebuah media di Jerman. Belum lagi laporan Forbes yang menyebut Hamas sebagai salah satu organisasi (Forbes menyebutnya cukup keras; teroris) terkaya dengan pendapatan 13 triliun tiap tahun. Gile!

Meski begitu, bukan berarti faksi Fatah lalu otomatis jadi benar-benar bersih lho ya? Tapi singkatnya begini, Akhi. Dukungan hanya pada Hamas, termasuk melalui donasi, telah lahirkan kekuatan bersenjata yang powerfull di negara konflik. Apa itu baik-baik saja? Dari kacamata upaya perdamaian, ya jelas ini ramashook! Parahnya, di saat bersamaan, upaya-upaya diplomasi yang dilakukan faksi lain masih saja dipandang sebagai solusi lemah yang tak membawa perubahan.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Padahal kita sebagai bangsa, pernah punya pengalaman yang sama dengan Palestina sebagai negeri yang terjajah. Ada yang mati-matian di medan tempur seperti Diponegoro—iya betul, ada yang seperti Pattimura di garis depan—iya betul, serta banyak lagi nama-nama lain yang mengorbankan nyawa di medan tempur. Tapi jangan lupa, kita juga punya Sutan Syahrir, Oerip Soemarmo, Mohamad Roem, hingga Bung Karno yang tidak pernah angkat senjata. Mereka ini adalah sosok yang piawai berjuang lewat jalur dialog dan diplomasi. Dan kita bisa melihat sendiri juga kan hasilnya sekarang?

Persoalan dari ketidaksepakatan terhadap undangan kuliah umum Gus Yahya di Israel adalah munculnya nuansa monopoli mengenai “cara” membela Palestina yang benar. Bentuk monopoli tafsir bela Palestina ini semacam menarasikan bahwa mendukung Palestina itu berarti tak boleh dekat-dekat dengan Israel. Apapun yang berdekatan dengan Negara Yahudi itu berarti indikasi bahwa yang bersangkutan tidak benar-benar membela Palestina.

Baca Juga: Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia

Lha kalau berdekat-dekatan ini niatnya diskusi aja gimana? Ya, enggak boleh. Kalau dengan warga Yahudi non-Pemerintah Israel? Ya pokoknya enggak boleh. Kalau di dialog itu justru lahir solusi untuk mempertegas posisi pro-Palestina? Ya, pokoknya jangan.

Maka tak heran jika Gus Yahya (saya masih khusnudhon) “terpaksa” membatalkan kuliah umum tersebut. Tekanan yang diterima beliau mengingatkan saya dengan tekanan yang diterima Gus Dur ketika masih jadi Presiden, yang saat itu tanpa tedeng aling-aling membuka hubungan bilateral pertama antara Indonesia dengan Israel.

Baca Juga: Yenny Wahid Bicara Tentang Perempuan Kampung di Forum PBB

Padahal kalau kita mau sedikit melihat di luar sana, banyak kok pihak-pihak yang mengupayakan penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan tidak melulu melihat situasinya serba hitam-putih semacam ini. Almarhum Qadafi misalnya, mengusulkan negara “Isratine” (gabungan Israel dan Palestine). Sedangkan negara-negara lain umumnya usulkan solusi dua negara.

Banyak juga negara Islam pro-Palestina merdeka yang juga tetap jalin hubungan dengan Israel dengan pelbagai dinamikanya. Turki dan Saudi, contohnya. Lalu apakah kedua negara tersebut bisa dianggap menyakiti hati umat muslim sedunia karena dekat juga dengan Israel? Enggak juga tuh.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Dari hal tersebut kita bisa berkaca, ada ragam cara untuk tuntaskan konflik panjang itu. Gus Yahya Cholil Staquf memang membatalkan kuliah umumnya, tapi tetap berniat untuk menyambung dialog dengan Israel. Apakah hasilnya nanti signifikan atau tidak, itu lain soal. Toh, ada banyak cara menuju Roma. Ada banyak cara selesaikan konflik Israel-Palestina.

Sebagai penutup, saya ingin memberi pesan sederhana. Akhi, studi perdamaian itu bukan eksakta. Ia bisa dikaji dengan ragam pendekatan. Langkah-langkah menuju damai juga beragam. Satu pendekatan yang tak antum setujui, tak berarti juga bakalan menyakiti warga Palestina. Lagian, sejak kapan antum berhak mewakili Palestina?
[]



* Oleh: Miftakhur Risal, Alumni Islamic Call College Tripoli, Libya. Tulisan ini diambil dari mojok.co.
Read More

1 Syawal, Tradisi Lomba Takbir Keliling di Biak, Papua, Digelar


rumahnahdliyyin.com, Biak - Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Kamis, 14 Juni 2018 mendatang, akan menggelar lomba kendaraan hias pada saat pawai takbir keliling dalam rangka menyambut malam Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.

Koordinator lomba pawai takbir PHBI Biak Numfor, Mulyadi, pada Sabtu (09/06/2018), mengungkapkan bahwa para peserta lomba ini hanya boleh menggunakan kendaraan roda empat (mobil) dan tidak diperbolehkan memakai sepeda motor.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Selain mewajibkan para peserta untuk menghias kendaraan dengan ornamen yang bernuansa religius, dalam lomba ini para peserta juga dituntut untuk mengedepankan tema perdamaian serta kerukunan antar umat beragama.

Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan bahwa diantara syarat lomba lainnya yaitu lafadz takbir hanya boleh dilantunkan dengan suara yang diiringi dengan rebana, beduk atau sejenisnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i

Sedangkan untuk pendaftarannya, para peserta tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Karena itu, bagi para pengurus takmir masjid dan musholla, lembaga Ormas Islam serta remaja masjid yang ingin mengikuti pawai lomba takbir keliling tersebut dapat segera mendaftar di panitia.

"Untuk pendaftaran peserta pawai kendaraan hias takbir keliling Biak tidak dipungut biaya alias gratis. Ya, ini menjadi program tahunan PHBI dalam upaya memperkuat hubungan tali silaturahmi dan kerukunan antarumat beragama," terang Mulyadi.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kendati pendaftaran lomba ini gratis, bukan berarti lomba ini hanya berhadiahkan sertifat, piagam atau semacamnya saja. Lebih dari itu, selain memperoleh piagam, pemenang lomba ini juga akan memperoleh hadiah berupa uang pembinaan dan piala.

Sedangkan untuk rute kelilingnya, imbuh Mulyadi, para peserta akan dilepas dari Lapangan Hanggar Cenderawasih Lanud Manuhua dan berakhir di Jalan Pramuka atau depan Mapolsek Biak Kota.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, tengah ramai dibicarakan di Sosial Media. Kiai yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Yahya ini ramai dibicarakan lantaran adanya undangan dari Israel. Undangan yang datang dari The Israel Council on Foreign Relations ini mendaulat Gus Yahya untuk menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Dalam acara yang akan digelar pada 13 Juni mendatang ini, Gus Yahya akan membawakan materi Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation. Kendati demikian, tidak sedikit pihak-pihak yang menuduh bahwa adanya undangan tersebut menunjukkan bahwa PBNU telah menjalin kerjasama dengan Israel.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Menanggapi isu yang tak berdasar tersebut, Ketua PBNU, Robikin Emhas, dalam keterangan persnya pada Sabtu (09/06/2018) menjelaskan hal yang sebenarnya.

Inilah keterangan Robikin Emhas tersebut:
  1. Tidak ada kerja sama NU dengan Israel. Sekali lagi ditegaskan, tidak ada jalinan kerja sama program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel.
  2. Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib 'Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU.
  3. Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel, bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya.
  4. Setiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyelesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina.
  5. Konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Diperlukan semacam gagasan out of the book yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil. Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hal senada juga dikatakan dan dijelaskan oleh Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, bahwa kehadiran Gus Yahya dalam acara tersebut adalah untuk menyampaikan posisi Palestina sebagai negara yang merdeka. Selain itu, Gus Yahya akan mengatakan kepada Israel tentang persoalan konflik dengan Palestina.

"Di sana memang beliau berjuang menegaskan posisi Palestina sebagai negara berdaulat. Jadi, justru ingin mengatakan kepada Israel bahwa Palestina harus dilihat bukan semata-mata masalah agama, tapi masalah kemanusiaan. Masalah hak berdaulat atas suatu negara. Itu diplomasi yang akan disampaikan oleh Gus Yahya," ungkap Helmy sebagaimana dikutip dari detik.com.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Dari keterangan pers yang disampaikan oleh Ketua PBNU (Robikin Emhas) dan Sekjen PBNU (Helmy Faishal Zaini) inilah maka jelas sudah bahwa apa yang dibicarakan di Sosial Media yang terkesan negatif mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang memang saat ini mengemban amanah sebagai Katib 'Aam PBNU dalam memenuhi undangan ke Israel itu tidaklah benar.[]

(Redaksi RN).
Read More

Alumni Santri di Sorong Bahas Soal Zakat


rumahnahdliyyin.com, Sorong - HAPPI atau Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia mengadakan bahtsul masail sore ini (08/06/2018) di Masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Bermula dari permasalahan yang diajukan oleh salah seorang muslim di Sorong, Papua Barat, maka kumpulan para alumni santri yang tinggal di Sorong, Papua Barat, ini melaksanakan bahtsul masail untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bahtsul masail ini sebenarnya sudah dimulai sejak pekan lalu, yakni tanggal 31 Mei 2018 di Masjid Adz-Dzakirin, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Untuk yang pertama ini, masalah yang dibahas adalah soal zakat fitrah. Mulai dari waktu pelaksanaan zakat fitrah, jumlah kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan, siapa yang wajib mengeluarkan dan yang berhak menerima, siapa yang bisa menyalurkannya dan lain sebagainya.

"Pembahasan zakat fitrah sudah selesai yang didasarkan pada kitab-kitab para fuqoha' yang mu'tabar dan menghasilkan dua versi. Diantara tiga imam madzhab sependapat, termasuk Imam Syafi'i, berzakat fitrah dengan beras dengan ukuran 2.5 kg. atau 2.7 kg. dan yang boleh menggunakan uang adalah madzhab Hanafi dengan takaran beras 3.8 kg.," ungkap M. Munawir Ghozali, ketua HAPPI.

Baca juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Untuk yang kedua, permasalahan yang dibahas yaitu tentang zakat mal. Pembahasan ini dilaksanakan pada malam hari setelah sholat Tarawih sebagaimana pelaksanaan bahtsul masail yang pertama. Pembahasan ini pun sudah rampung.

"Yang berhak mengeluarkan zakat mal diantaranya adalah harta kepunyaan sendiri dengan kadar mengikuti atau berpedoman pada nishob mas 85 karat murni," tambah alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu.

Baca juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk sore tadi, bertempat di masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat, bahtsul masail yang diselenggarakan oleh HAPPI ini membahasa tentang zakat profesi. Hasil yang didapat yaitu bahwa zakat profesi sama dengan zakat mal. Hanya saja, untuk zakat profesi ada dua cara yang bisa dilakukan.

"Zakat profesi bisa dilakukan dengan cara mencicil tiap bulan dan bisa langsung setahun," imbuhnya lagi.

Baca juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Kendati beberapa permasalahan sudah didapatkan hasilnya, namun bahtsul masail yang berjalan secara paralel ini belum selesai sampai di sini.

"Besok malam Ahad insya Allah akan diadakan pembahasan soal fidyah di Masjid Adz-Dzakirin," pungkas M. Munawir Ghozali yang biasa dipanggil dengan ustadz Ali itu.

Untuk peserta yang turut hadir dalam bahtsul masail ini biasanya mencapai belasan orang.[]

(Redaksi RN)
Read More