Memahami Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya bertumbuh dalam warna Muhammadiyah. Setidaknya, masjid di kampung saya, dulu, sholat Tarawih 11 roka'at meski dalam berbagai urusan masih tercampur dengan "fikih NU".

Pada masa remaja, saya ikut Ibu pulang kampung ke Kauman, Jogjakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah. Hanya ada satu warna dalam memahami dan mempraktikkan agama ini. Sudah pasti saya pun hanya tahu sedikit-sedikit. Bangga saja terhadap kisah-kisah masa lalu dari ibu saya tentang bapak beliau, KH. Abdul Hamid, yang adalah imam Masjid Agung Kauman, yang ditunjuk langsung oleh Sri Sultan dan ikut mendirikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Diluar itu, berbagai pengajian, terutama ceramah idola saya dulu, pak Amien Rais, mengkristalkan sudut pandang saya perihal agama ini. Saya remaja putih abu-abu yang mendeklarasikan partai Matahari Terbit di Lapangan Kridosono. Begitu menggebu-gebu.

Ketika menjadi wartawan pada awal 20-an, saya jadi punya kesempatan untuk memahami macam-macam aliran pemikiran dari rumah ibadah mereka, dari imam-imam mereka: Ahmadiyah, LDII, Syi'ah dan lainnya.

Babak yang cukup berat, karena pada saat yang sama, justru saya ada dalam disiplin pembelajaran Tarbiyah. Pengajian mingguan yang menggebukan ghiroh perjuangan, gerakan turun ke jalan yang menggemakan takbir, persaudaraan para anak muda pendakwah yang hangat dan membuat masa muda begitu ngangenin. Saya bahkan menjadi penyanyi nasyid.

Pula, pada waktu ini saya berkuliah di kampus dengan sentuhan Wahhabi yang sangat kuat. Ketika Pancasila menjadi gurauan di kelas perkuliahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Namun, jurnalistik benar-benar membantu saya untuk menemukan formula toleransi pada masa-masa sulit ini. Bahwa, toleransi kemudian saya artikan bukan kecenderungan untuk berdiam di kotak masing-masing. Toleransi mesti diawali dengan memahami. Diskusi tanpa tendensi. Memahami keyakinan suatu kelompok, berpikir dengan alam pikiran mereka pada prosesnya, lalu kembali kepada keyakinan sendiri.

Itulah mengapa saya kian tak terganggu dengan perbedaan. Bahkan, pada gilirannya, saya bisa memahami Trinitas Kristiani. Memahami, bukan mengimani.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Lalu, pada usia yang kian jauh dari titik remaja ini, saya merasa sangat....sangat nyaman dengan berbagai pemikiran NU. Terutama perihal ke-Indonesia-an.

Menyimak berbagai ceramah kiai-kiai NU, membuka sumbatan yang telah lama menyumpal kebebalan otak saya. Tentang Indonesia, misalnya, saya memahami baru-baru ini. Para kiai melihat Indonesia dengan kacamata yang sangat khas. Tidak terbaca dari sudut pandang yang ahistoris. Maka, menyimak ceramah Gus Wafiq, contohya, saya tidak hanya belajar Tauhid, tapi juga sejarah.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Mengapa tidak perlu menbenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an? Sebab, Indonesia itu lahir dari rahim ijtihad para ulama. Mereka yang kearifannya tidak terjangkau keawaman umat. Hidup pada masa lalu, namun bervisi ratusan tahun ke depan.

Muslim Indonesia adalah "warisan" ulama. Para ulama adalah ahli waris para wali. Mereka yang menanam Islam dalam peradaban Nusantara yang sudah amat tinggi. Peradaban yang sanggup menolak segala bentuk penetrasi. Nusantara bukan sebuah peradaban kosong nilai, bahkan sebelum masa Hindu-Buddha.

Maka, formula Muslim Indonesia telah disiapkan begitu baik, teliti, bijaksana. Praktik Islam dalam keberagaman. Suatu kesadaran yang melahirkan sebuah entitas bernama Indonesia.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Jadi, saya memahami bahwa Pancasila itu nama yang telah ada sejak zaman Majapahit. Namun, isinya menjadi amat bertauhid Islam ketika dilahirkan kembali pada masa kemerdekaan.

Saya baru paham, saya benar-benar baru paham, oh, inikah maksudnya mengapa para ulama NU begitu kukuh dengan konsep Indonesia dan Pancasila. Sebab, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari ijtihad melahirkan identitas Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Label yang memicu kesalahpahaman ketika tidak dimengerti dengan proses memahami.

Maka, saya bahagia karena menjadi tahu betapa terberkahi Tanah Air ini. Mewarisi kearifan hati, kecerdasan pikiran, ketinggian ilmu para ulama yang menjaga Indonesia.

Saya belajar memahami, lalu berusaha bertoleransi.[]



* Oleh: Tasaro GK.
Read More

Halal Bihalal PBNU Serukan Ukhuwwah Wathoniyyah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk menguatkan persaudaraan dan persatuan. Segala bentuk perbedaan agama, suku atau pilihan politik tidak boleh digunakan untuk memecah belah kita sebagai satu bangsa yang utuh.

Dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu, Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, mengingatkan tentang realitas bangsa Indonesia yang sudah menjalin kesepakatan dalam bernegara. Meskipun bukan negara Islam, Indonesia adalah konsensus bersama dari berbagai elemen negeri yang berpenduduk mayoritas muslim.

“Kita sudah berjanji untuk membangun negara ini secara bersama. Karena kita bersaudara, maka kita punya kesepakatan. Kesepakatan itu saya menamakannya ittifaqot akhowiyyah (kesepakatan atas dasar persaudaraan)," katanya.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU untuk Kepentingan Politik Praktis

Ia juga mengimbau supaya kaum muslim Indonesia tak hanya berpaku pada persaudaraan atas dasar agama Islam (ukhuwwah islamiyyah), tapi juga kebangsaan (ukhuwwah wathoniyyah). Hal inilah, sambung kiai Ma’ruf, yang selama ini menjaga Indonesia bisa tetap utuh meski penghuninya sangat majemuk.

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, di panggung yang sama, menegaskan bahwa persoalan dikotomi antara agama dan nasionalisme di Indonesia sudah selesai. Sejak Indonesia belum merdeka, pendiri NU Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah mengenalkan semangat cinta tanah air melalui jargon “hubbul wathon minal iman”.

Baca Juga: Pesan Moral PBNU Terkait Pilkada Serentak 27 Juli

Kiai Said mengajak masyarakat untuk bangga menjadi bangsa Indonesia yang mampu menyelesaikan dikotomi tersebut ditengah bangsa-bangsa Timur Tengah yang dirundung konflik oleh persoalan ini. Secara budaya, menurutnya, Indonesia juga tak kalah dari negara-negara Barat ataupun Arab.

Sedangkan Ketua PBNU, H. Marsudi Syuhud, selaku ketua panitia, dalam kesempatan ini menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi yang digagas oleh salah satu pendiri NU, yakni KH. Wahab Chasbullah dari Jombang, untuk menyatukan para elit politik dan para elit organisasi yang saat itu sedang berseteru.

“Tradisi kumpal-kumpul yang sering dilakukan oleh warga NU tersebut pada akhirnya diterapkan oleh seluruh elemen bangsa, dari mulai masyarakat, organisasi dan instansi pemerintah,” ujar Marsudi.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Menteri Sosial (Idrus Marham), Menteri Komunikasi dan Informatika (Rudiantara) dan Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) serta Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi). Selain itu, tampak pula Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, para Duta Besar negara-negara sahabat serta utusan majelis-majelis agama.[]

(Redaksi RN)
Read More

Gus Yahya: Saya ke Israel Bukan untuk Pengajian


rumahnahdliyyin.com - Kepergiannya ke Israel mengundang kontroversi di dalam negeri. Ia dianggap tidak berempati kepada perjuangan rakyat Palestina, bahkan ada yang memintanya mundur dari posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia merasa tetap harus berangkat meski sadar akan risiko yang akan dihadapi.

Yahya Cholil Staquf mengatakan kehadirannya di American Jews Committee (AJC) Forum Global dua pekan lalu merupakan bagian dari pekerjaan panjang yang dirintis Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid. Sejak lengser dari posisi presiden pada 2001, Gus Dur menawarkan pendekatan moralitas agama dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Yahya, di forum itu, mengusulkan konsep rahmah sebagai jalan menuju damai.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Gus Yahya--sapaan akrabnya--juga diundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia juga banyak bercerita mengenai suasana Idul Fitri di Yerusalem. "Malam Idul Fitri di sana ramai sekali. Semua orang tumpah ke jalan," ujarnya saat ditemui wartawan Tempo Sunudyantoro, Reza Maulana, Diko Oktara dan Dini Pramita serta fotografer Fakhri Hermansyah pada Sabtu pekan lalu. Berikut ini cuplikan wawancara dengannya:

Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, bagaimana Anda menjelaskan kepergian Anda kepada pemerintah?

Pertama, saya sudah menginformasikan rencana kepergian ke Israel jauh-jauh hari. American Jews Committe (AJC) sudah bikin rilis internasional pada 14 Mei. Saya dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei. Waktu itu saya belum tahu mau diangkat jadi anggota Wantimpres. Saya bilang saat itu, saya ada pekerjaan yang membuat saya sering pergi. Saya katakan 1-2 hari lagi mau ke Amerika Serikat, pulang sebentar, pergi ke Israel. Saya sudah jelaskan itu.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Anda tidak membicarakannya dengan Menteri Luar Negeri dan Presiden Jokowi?

Saya tidak punya akses ke Presiden. Tapi pesan saya, kan, sudah viral ke ibu Menteri Luar Negeri. Sudah saya jelaskan bahwa saya tetap akan berangkat karena menyangkut kredibilitas pekerjaan saya bertahun-tahun. Saya paham betul ini berisiko sejak awal, makanya saya tak segera menyanggupi.

Setelah kembali dari Yerusalem, ada keinginan bertemu dengan Presiden Jokowi?

Saya menunggu. Katanya Presiden mau memanggil. Kalau Presiden tanya, ya, saya jelaskan semua omongan saya apa, saya bertemu dengan siapa saja dan berbicara apa saja.

Kapan tawaran dari AJC datang?

Kira-kira Maret, jauh sebelum menjadi anggota Wantimpres. Saya tak berani langsung menjawab. Sebagai orang NU, saya berkonsultasi dengan kiai-kiai saya. Antara lain, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Kiai-kiai saya membolehkan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Apa pesan Gus Mus?

Beliau bilang, saya boleh ke sana, tapi tidak boleh sekadar seperti orang-orang diundang pengajian, ha-ha-ha... Kan, sering muballigh kita diundang pengajian ke luar negeri, tapi cuma datang dan terus pulang. Maksud Gus Mus, ini merupakan pekerjaan yang akan punya dampak berkelanjutan yang membawa manfaat banyak, jangan cuma datang terus pulang.

Selain Gus Mus?

Ada sejumlah kiai dan tak ada yang menolak. Kiai-kiai ini tahu betul saya dan pekerjaan saya selama ini. Saya juga menghubungi teman-teman, termasuk yang di Israel. Mereka katakan itu kesempatan bagus karena akan mendapat perhatian global. Mereka bilang, apa pun yang saya katakan di sana pasti mendapatkan perhatian luas.

Adakah yang menemui dan menentang rencana keberangkatan Anda?

Dua hari sebelum berangkat, Duta Besar Palestina datang ke sini (kantor PBNU). Dia marah-marah. Saya bilang, ini ikhtiar saya. Dia bilang, enggak mungkin berhasil, percuma. Saya bilang, niat saya baik, saya pegang nasihat Umar bin Khoththob kepada putranya: kalau orang memurnikan niat, mengikhlaskan niatnya kepada Allah, urusannya dengan sesama manusia akan dibereskan oleh Allah.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Apalagi yang disampaikan Duta Besar Palestina?

Dia bilang akan berbicara kepada Presiden. Silakan. Saya bilang, ini atas nama pribadi, bukan atas nama NU dan pemerintah. Saya bilang tak bisa dibatalkan.

Anda menyebut ini pekerjaan panjang yang dimulai oleh Gus Dur? Pekerjaan panjang apa?

Sejak Gus Dur lengser, ia menghabiskan sebagian besar energinya mencari solusi dari konflik antar agama. Karena, realitanya, dimana-mana ada konflik atas nama agama. Gus Dur sudah tiga kali ke Israel berbicara dengan berbagai pihak dari Israel dan Palestina.

Setelah Gus Dur wafat, bagaimana?

Ketika Gus Dur wafat, paman saya, kiai Mustofa Bisri, mencoba meneruskan sebisanya sejak 2009. Pada 2011, saya diajak Gus Mus ke pertemuan dengan sejumlah pihak di markas Uni Eropa di Brussels, Belgia, kemudian ke Washington, Amerika Serikat. Habis itu, saya diminta Gus Mus meneruskan.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Di Israel bertemu dengan siapa saja?

Banyak, termasuk tokoh Palestina walau bukan dari Hamas atau otoritas Palestina. Antara lain, Dr. Mohammed Dujani Daoudi. Ia pemikir Palestina yang mengembangkan kerangka kerja keagamaan dan politik untuk perdamaian. Ada juga gerakan Mothers of Peace, gabungan ibu-ibu Yahudi dan Arab. Tidak hanya dari Israel, tapi juga dari Ramallah, Gaza.

Ada yang paling membuat berkesan?

Mothers of Peace. Mereka memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya yang Islam dan Kristen jika tak ada perdamaian. Ini yang paling menyentuh saya. Lalu ada juga Khululam, paduan suara anak-anak muda milenial, yang memodifikasi lagu One Love, milik Bob Marley, ke dalam bahasa Arab dan Ibrani. Sebelum mereka bernyanyi, saya bersama pendeta Kristen dan rabi Yahudi diminta menyampaikan ungkapan keagamaan dari masing-masing kepercayaan. Saya baca hadits Qudsi: Orang-orang yang punya rahmah akan dirahmati oleh Yang Maha Rahmah. Maka, rahmatilah penduduk bumi, maka engkau akan dirahmati oleh Yang di Atas. Kegiatan ini membuat seribu tiket ludes.

Melihat situasi Israel-Palestina, apa tawaran Anda menyelesaikan konflik?

Saat berpidato di AJC Global Forum di Washington pada 2002, Gus Dur melontarkan gagasan tentang pentingnya menambahkan elemen moralitas agama dalam penyelesaian konflik. Bagaimana mengubah persepsi tentang kepentingan menjadi kesejahteraan, lalu masuk ke kemaslahatan umum. Saya bawa gagasan itu, menambahkan sedikit saja. Saya berpikir harus ada satu konsep yang diterima semua, maka saya ajukan rahmah.

Baca Juga: Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel

Apa ide dari konsep rahmah?

Firman Allah mengatakan; "Aku tidak mengutusmu selain sebagai rahmah bagi semesta alam." Rahmah itu sikap yang membuat kita bersedia memaafkan, berbagi dan memberi. Makanya saya bilang, orang tak bisa mewujudkan keadilan diantara pihak-pihak bersengketa kecuali keduanya bersikap rahmah.

Semacam sikap welas asih?

Rahmah itu welas asih dengan kemauan memberi dan menolong. Rahmah tidak butuh prakondisi. Ini soal perasaan, sikap yang kita pilih kalau kita mau. Saya sampai ke pemikiran itu karena ada sabda Rasulullah SAW; "Allah memilih rahmah, memilih bertindak rahmah."

Bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Netanyahu?

Itu saya tidak mengerti. Ahad malam saya tampil di AJC, Senin siang dapat pesan bahwa Perdana Menteri Israel mau bertemu pada Kamis. Saya bisa apa? Masak, tidak diiyakan? Selasa pagi dapat pesan, Presiden Israel (Reuven Rivlin) juga mau bertemu pada Rabu. Saya tidak tahu apa ada orang-orang mengusulkan ke mereka, yang jelas datang saja.

Apa yang dibicarakan?

Dengan Netanyahu, dia berusaha membawa pembicaraan ke normalisasi hubungan Indonesia-Israel.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Apa yang Anda katakan kepada Netanyahu?

Saya bilang tak bisa bicara soal itu. Masa
lah Indonesia-Israel tak bisa lepas dari soal Palestina. Sulit mengharapkan normalisasi kalau tak ada jalan keluar soal Palestina. Lama pertemuan 30 menit. Yang lama itu dia presentasi macam-macam. Netanyahu bawa full team, sepuluh orang. Saya seperti mau diajak pertemuan bilateral.

Kepergian Anda dikritik banyak orang, tapi Anda menghadapinya dengan santai...

Kritikan itu tertulis semua, kan? Termasuk di media sosial. Kalau saya tidak membacanya, kan, tidak masalah? Kecuali yang datang ke sini marah-marah. Kalau disuruh mundur (dari anggota Wantimpres), harus jelas dulu kesalahannya apa. Kalau diberhentikan, walaupun tidak salah, kan, boleh saja. Seandainya waktu itu Presiden meminta tak berangkat, saya tetap berangkat.

Anda sampai berlebaran di Israel, bisa diceritakan suasana di sana?

Di Masjid Al-Aqsho ramai. Sekitar ada 400 ribu orang. Tapi saya di emperannya yang jauh. Di malam Idul Fitri, seluruh kota ramai. Hiasannya macam-macam. Takbirannya hanya di sekitar Al-Aqsho. Tapi dirayakan di seluruh kota. Orang-orang tumpah ke jalan. Saya tidak sempat mencicipi makanan lebaran di sana. Hanya sempat diajak makan malam Sabbath di rumah rabi David Rosen. Celakanya, dia vegetarian. Tapi dia pengertian. Dan seharusnya minum anggur, tapi karena ada kami, akhirnya diganti jus.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seperti apa suasana kehidupan antar agama di Yerusalem?

Kalau di jalan-jalan Yerusalem, orang Arab dan Yahudi asyik-asyik saja. Kecuali yang garis keras. Kalau ada orang merokok di malam Sabtu, mereka mengamuk, karena Sabbath. Saya pernah dibegitukan. Saya ditanya, kenapa merokok. Saya jawab, saya bukan Yahudi. Mereka terima.

Selama di sana, Anda juga mengunjungi tembok Yerusalem?

Iya, saya masuk ke tunnel yang katanya mau merobohkan Masjid Al-Aqsho. Saya diajak masuk melihat kenyataan. Bayangkan, itu warisan peradaban 2.500 tahun. Panjang tembok itu sekitar satu kilo meter dan ditanam 30 meter di dalam tanah. Zaman Turki Utsmani, kota ditinggikan. Jadi, ada 30 meter dari kota yang tertanam. Itu yang mereka gali kembali. Nah, orang bilang bagian yang tertanam itu mengancam Masjid Al-Aqsho.

Kesan Anda setelah melihatnya?

Masjid yang sekarang itu hanya pananda. Menurut interpretasi saya, Masjid Al-Aqsho tempat Nabi Muhammad sholat, ya, di seluruh bangunan besar itu. Saya tanya ke teman, dulu bangunannya seperti apa, karena masjid ini diakui oleh Nabi sebagai tempat ibadah oada zaman sebelum Islam. Dia malah tanya, masjid yang mana, karena dulu dihancurkan oleh kerajaan Romawi.

Jadi, entah di mana tepatnya lokasi sholat (Nabi Muhammad pada saat Isro'-Mi'roj). Belum tentu di tempat yang sekarang jadi Masjid Al-Aqsho. Kalau ini digali, justru memperlihatkan bagaimana dulu bentuk Masjid Al-Aqsho, bagaimana bentuknya di zaman Rasulullah SAW.

Baca Juga: Dari Khotbah 'Ied hingga "Khotbahnya" Yahya

Apa respon Anda menghadapi protes santri Anda yang katanya ada yang mengamuk?

Tak cuma mengamuk, ada yang mengatakan akan menggugat. Saya buktikan posisi saya tak bisa digugat karena saya meminta supaya agama difungsikan dalam mewujudkan perdamaian. Saya malah sempat mengamuk ketika ada yang bertanya, apa untungnya bagi Indonesia? Kok tega memikirkan untung. Pernah dengar tidak, berapa jumlah yang meninggal akibat konflik ini, bagaimana menderitanya mereka di sana. Saya tak melakukan ini untuk NU, saya tak memikirkan Indonesia. Indonesia mau rugi atau untung, terserah. Saya memikirkan nasib orang Palestina dan dampaknya bagi kemanusiaan. Kalaupun NU rugi, biar. Kalau rugi, apa ruginya?■



Disadur dari Koran Tempo, 30 Juni-1 Juli 2018.
Read More

Pesan Moral PBNU Terkait Pilkada Serentak 27 Juni 2018


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Pilkada serentak merupakan hajat politik yang besar dan penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bukan saja berlangsung merata di Indonesia, tetapi juga dimaknai sebagai persiapan politik menghadapi Pemilu 2019 tahun depan.

Berkaitan dengan Pilkada dan pemungutan suara tanggal 27 Juni 2018 yang berlangsung di 171 daerah, Nahdlatul Ulama perlu menegaskan bahwa bangsa Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama adalah bangsa yang berbudaya, berakhlaq, ramah dan santun, sehingga dapat menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain. Untuk itu, PBNU perlu menyampaikan pesan moral sebagai berikut:

Pertama, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi sosial keagamaan yang berpegang teguh pada Khittah 1926, yakni tidak berpolitik praktis, karena bukan organisasi politik. Politik bagi NU adalah politik moral demi kebaikan masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan. Sehingga, dalam Pemilu atau Pilkada, NU secara organisasi tidak dapat mendukung calon tertentu.


Kedua, Nahdlatul Ulama mempercayakan Pilkada kepada penyelenggara (KPU, Bawaslu dan DKPP) agar dapat melaksanakan Pilkada dengan profesional, mandiri, netral dan dapat melayani seluruh kepentingan sebaik-baiknya, baik kepada masyarakat pemilih maupun kepada semua calon tanpa terkecuali.

Ketiga, Nahdlatul Ulama menghimbau kepada warga negara yang memiliki hak pilih agar menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab dengan memegang prinsip bebas, jujur, adil, rahasia dan bermartabat untuk menentukan calon pemimpin daerah yang diyakini memiliki kompetensi dan akhlaq yang baik, seperti kejujuran dan kemauan untuk membangun kemaslahatan masyarakat di daerah masing-masing.

Keempat, kepada para calon kepala daerah dan wakilnya untuk dapat bersaing secara sehat, jujur, fair, taat hukum, mengedepankan akhlaqul karimah dan menerima hasil Pilkada secara bertanggung jawab. Kepada pihak-pihak yang pada akhirnya memiliki ketidakpuasan atas berbagai sebab dalam pelaksanaan Pilkada ini agar menyerahkan kepada mekanisme hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Kelima, Nahdlatul Ulama mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk sama-sama menjaga ketertiban, ketenangan dan keamanan bersama, baik sebelum, saat dan sesudah pelaksanaan Pilkada. Dalam konteks ini, Nahdlatul Ulama menghimbau untuk memandang perbedaan sebagai rahmat. Perbedaan pilihan calon kepala daerah tidak boleh menjadi alasan untuk perpecahan, apalagi saling menghasut, mengintimidasi dan memprovokasi dengan alasan apapun. Semua pihak harus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

والله الموفق الى اقوم الطريق

Jakarta, 25 Juni 2018


Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum
Read More

Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel


rumahnahdliyyin.com - Kata "rahmah" adalah diksi yang konsisten disampaikan Gus Yahya Staquf (GYS) ketika diwawancarai oleh Rabbi David Rosen di sela-sela forum Israel Council on Foreign Relations (ICFR) di Yerusalem beberapa hari lalu. Kata ini sesungguhnya kunci dari kehadirannya yang menuai banyak kritikan, terutama dari kalangan yang dididik membenci apapun yang berkaitan dengan Yahudi dan membabi buta mendukung yang berhubungan dengan Islam. Israel diidentikkan dengan Yahudi, Palestina digebyah uyah sebagai representasi Islam.

Gus Yahya mengklaim kedatangannya mengemban misi penting memperjuangkan keadilan Palestina yang selama ini terus menerus ditindas Israel. Namun sayangnya, kenapa diksi keadilan ('adl) tidak muncul dalam wawancara? Kenapa justru kata rahmah yang seringkali disampaikan? Pertanyaan-pertanyaan ini selanjutnya mendorong banyak orang meragukan komitmen Gus Yahya terhadap keadilan bagi Palestina.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Rahmat vs Keadilan

Lebih tinggi mana rahmat dengan keadilan dalam Islam? Ini pertanyaan menarik. Memaknai rahmah dengan "perdamaian" atau "kasih sayang" sungguhlah mempersempit kata tersebut, apalagi membenturkannya dengan keadilan.

Keadilan sendiri, dalam Al-Qur'an, disimbolkan setidaknya dalam dua diksi; 'adl (equity) dan qist (equally). Pertanyaan reflektif sederhana yang bisa diajukan adalah kenapa teks Al-Qur'an lebih memilih "Islam rahmatan lil-'alamin", bukan "Islam 'adlan lil-'alamin," atau "Islam qistan lil 'alamin"?

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Menurut saya, hal ini sangat mungkin karena disebabkan rahmah merupakan nilai (value) tertinggi dalam Islam. Saya menduga kuat kata ini adalah derivasi dari dua sifat dominan Allah; rahman dan rahim, sebagaimana dalam pembukaan QS. Al-Fatihah.

Didalam berbagai terjemahan Al-Qur'an, kata rahman dalam pembukaan Al-Fatihah diartikan oleh Yusuf Ali (2015) dan Muhsin Khan (2018) dengan "Most Gracious.” Gracious bermakna "very polite in a way that shows respect," atau "tindakan sangat santun untuk menghormati.”

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Sedangkan MH. Shakir (1996) dan Pickthall (1930) menerjemahkan "rahman" dengan "The Beneficent," yang artinya "performing acts of kindness and charity,” atau melakukan kebaikan dan kemurahan.

Keempat penerjemah Al-Qur'an level internasional tadi sepakat menerjemahkan kata "rahim" dengan "Most Merciful.” Merriam Webster (2004) mendefinisikannya dengan "treating people with kindness and forgiveness: not cruel or harsh: having or showing mercy," atau memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh pengampunan, tidak kejam ataupun kasar.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Dari definisi-definisi diatas, sangat terlihat keluhuran wajah Tuhan. Keluhuran yang Ia mandatkan kepada Islam bagi alam semesta. Dalam prakteknya, rahmat itu seperti respon santun Presiden Joko “Jokowi” Widodo terhadap serangan bertubi-tubi Amien Rais, atau sikap elegan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terhadap The Smiling General Soeharto yang kerap memusuhinya.

Rahmat juga tampak dari sikap legowo Buang Djulianto, jemaat Paroki Santa Maria Tak Bercela, yang telah memaafkan pelaku bom Surabaya meski anaknya harus berdarah-darah terpapar tiga proyektil di tubuhnya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Rahmat berposisi sejajar dengan ihsan, level tertinggi seseorang dalam berislam. Ihsan bermakna memberikan sesuatu melebihi yang diterimanya. Didalam rahmat tidak hanya terkandung aspek keadilan, namun juga dorongan untuk memperlakukan orang lain secara lebih baik—aspek yang absen dalam keadilan.

Gus Yahya tidak datang ke Yerussalem dengan proposal keadilan yang demonstratif—membawa daftar kesalahan Israel dan menghardiknya agar meminta maaf. Alih-alih, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini membalut misi keadilannya dengan diplomasi religiusitas tertinggi Islam, bukan memakai narasi blak-blakan yang kerap ditunjukkan sebagian orang.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Sebagaimana Gus Dur, Gus Yahya sangat memahami Israel yang hampir punya segalanya untuk melumat Palestina. Ia juga sepenuhnya mengerti bahwa Israel tidak membutuhkan diplomasi pro-Palestina dengan model kepala batu, sebab cara tersebut akan semakin tidak menguntungkan Palestina.

Untuk apa bersikap kasar terhadap Israel jika rakyat Palestina akan didera gelombang penderitaan?

Gus Yahya juga tengah berstrategi ala santri; lebih memilih menghindari timbulnya kesengsaraan warga Palestina, ketimbang ikut-ikutan menuntut keadilan demonstratif dengan cara blunder. Ia memilih datang ke Yerussalem dan berbicara dengan kesantunan yang berisi.

Baca Juga: Dari Khotbah Ied hingga Khotbahnya Yahya

Mendamaikan Masa Lalu

Lebih dari itu, politik rahmah Gus Yahya ke komunitas Yahudi sebenarnya memiliki pesan profetik yang jauh lebih besar; rekonsiliasi sejarah kelam kebencian Islam terhadap Yahudi yang terus menerus diwariskan hingga saat ini.

Kita bisa melihat betapa sentimen anti-Yahudi terus-menerus dikobarkan di banyak komunitas Muslim, sama halnya sentimen terhadap kekristenan. Namun bagi umat Islam Indonesia, kebencian terhadap Yahudi memiliki bobot jauh lebih berat. Sampai sekarang Israel yang dipersepsi menjadi perwujudan Yahudi masih belum memiliki hubungan dengan kita. Komunitas ini bisa dikatakan paling menderita di negeri ini.

Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman

Sangat mungkin kebencian terhadap Yahudi disulut dan dirawat oleh narasi klasik bernuansa negatif terhadap mereka, dan terbakukan dalam teks-teks agama.

Islam klasik dicitrakan begitu memusuhi Yahudi Madinah, padahal kelompok inilah yang bersedia menerima rombongan Nabi Muhammad SAW. saat keluar dari Makkah, hingga memungkinkan komunitas Islam berkembang pesat pada akhirnya.

Romantisme Islam-Yahudi juga diwujudkan dengan pengakomodasian puasa Asyura Yahudi Madinah oleh umat Islam. Puasa ini untuk mengenang kemenangan Musa atas Fir'aun (Shohih Bukhori V6:60:202).

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Yang juga tidak kalah penting, Yahudi-Islam pernah sama-sama menjadikan Masjid Al-Aqsa di Yerussalem sebagai kiblat beribadah. Islam melakukannya lebih dari 10 tahun, sampai kemudian diubah ke Makkah, sebagaimana tercatat dalam QS. 2: 142-145 dan banyak hadits.

Perubahan kiblat ini sekaligus menandai merenggangnya relasi keduanya dan meninggalkan warisan luka yang berdarah-darah bagi komunitas Yahudi Madinah. Pembantaian, penyerangan, perampasan, pengusiran dan perbudakan dialami oleh Yahudi Bani Nadir, Bani Qaynuqa dan—yang paling tragis—Yahudi Bani Qurayza. Diduga kuat, faktor utama terjadinya kekerasan karena mereka memilih bersetia dengan identitasnya sebagai Yahudi.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Kisah-kisah ini bisa diakses dalam berbagai literatur, misalnya karya Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman dan Muhammad at Medina; Sayyid Abul A’la Maududi, The Meaning of the Qur’an; A. Guillaume dan Ibn Ishaq, Life of Muhammad; maupun Tabari, M.V. McDonald dan Montgomery Watt, The Foundation of the Community.

Kebencian terhadap Yahudi semakin diperuncing oleh rumor seputar wafatnya Nabi Muhammad SAW. yang kabarnya melibatkan Zaynab bint Al-Harits, perempuan Yahudi-Khaybar. Dalam berbagai sumber klasik seperti Shohih Bukhori 4428, Sunan Abi Dawud 4512, Thobaqot Al-Kabir Ibn Sa'd vol. 2, ia digambarkan menjadi penyebab utama kematian Nabi Muhammad SAW. akibat daging beracun yang ia suguhkan. Motifnya, menuntut balas atas apa yang menimpa keluarga dan kelompoknya dalam peristiwa Khaybar.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Meskipun peristiwa-peristiwa ini—terlepas dari validitas dan akurasinya—berlangsung lebih dari seribu tahun lalu, namun selalu gagal disikapi secara dewasa. Yang justru terjadi adalah sebaliknya; narasi tersebut diawetkan untuk saling menyalahpahami dan memupuk kebencian.

Dengan diplomasi rahmat, Gus Yahya menindaklanjuti jalan yang dulu pernah diretas oleh Gus Dur, yakni jalan terjal menampilkan Islam berformat ideal dalam bentuk dialog dengan Israel, demi masa depan Palestina, lebih-lebih demi relasi Islam Indonesia dan Yahudi. Konsep rahmat menyediakan ruang sedemikian luas bagi kita untuk bisa mengasihi Yahudi dan—terutama—berdamai dengan sejarah Islam sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.



* Oleh: Aan Anshori, Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur, GUSDURian, Mahasiswa S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang.



Tulisan ini diambil dari asumsi.co.
Read More

Dari Khotbah 'Ied hingga Khotbahnya Yahya


rumahnahdliyyin.com | Tradisi salat 'Ied di Pondok Pesantren kami di Leteh Rembang, khotbahnya hanya menggunakan bahasa Arab, tanpa diterjemahkan.

Setelah ayahku, KH. Bisri Mustofa dan kakakku, KH. Cholil Bisri--rahimahumäLlãhu--wafat, yang selalu bertindak sebagai imam dan khatib adalah putera KH. Cholil Bisri, anak (keponakan)ku, Yahya Cholil Staquf.

Tahun ini karena Yahya sedang di Israel, maka yang menggantikan sebagai imam dan khatib adalah anak (menantu)ku, Ulil Abshar Abdalla. (untuk menyimak khotbahnya silakan membuka Youtube).

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Setelah selama ini--sejak mahasiswa--dalam membela Palestina, Yahya hanya ikut menembakkan sumpah-serapah dan caci-maki kepada Israel melalui tulisan-tulisan, diskusi-diskusi dan acara-acara Solidaritas Palestina lainnya, dia ingin langsung nglurug dan mengkhotbahi orang Israel yang selama ini seperti tak mengenal apa yang namanya rahmah, kasih-sayang.

Waktu pamitan, aku mengingatkan kepadanya untuk meletakkan sikap keberpihakan NU sejak berdirinya--kepada perjuangan Bangsa Palestina--sebagai landasan upaya/"khotbah"-nya di Israel.
Lalu kupesankan: Tata hatimu, tata niatmu, dan tawakkal-lah kepada Allah. Wakafã biLlãhi wakiilä.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Alhamdulillah, dia benar-benar melaksanakan apa yang dia tekadkan, mengkhotbahi orang Israel di tempatnya dengan landasan sikap keberpihakan kepada Perjuangan Bangsa Palestina.

"Berkhotbah" bahasa Inggris tentang rahmahnya Islam seperti Yahya, pasti banyak yang bisa dan bahkan jauh lebih bagus. Tapi Yahya sudah membuktikan apa yang bisa dia lakukan.

"وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون ، وستردون الى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون  التوبة: ١٠٥)

* Oleh: KH. A. Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Tulisan diambil dari akun Facebook beliau.
Read More

Demi Kemaslahatan Bersama, Umat Islam di Enarotali Papua Sholat 'Id di Bandara


rumahnahdliyyin.com | Paniai - Tidak seperti biasanya, cuaca langit Enarotali yang biasanya mendung dan diselimuti hujan, hari ini (Jum'at, 15/06/2018) tampak bersahabat dengan terbitnya mentari pagi yang cerah dan indah. Begitu juga pemandangan di Bandara yang biasanya penuh dengan lalu lintang penerbangan pesawat, kini berubah menjadi lautan manusia yang melaksanakan sholat 'Id.

Sudah menjadi tradisi dari tahun-tahun sebelumnya bahwa umat muslim di Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua, setiap datangnya hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, pasti menyelenggarakan sholat 'Id di Bandara.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Tradisi ini, tepatnya, berawal pada tahun 2013-an. Yaitu ketika masjid yang digunakan untuk sholat 'Id tidak lagi muat untuk menampung para jama'ah. Dengan demikian, lokasi masjid yang kebetulan berada di sisi jalan itupun menumpahkan para para jama'ah hingga ke pinggir-pinggir jalan.

Kondisi yang demikian ini pun tak ayal membuat para pengguna jalan merasa agak terganggu lantaran lalu lintas menjadi macet. Karena itu, pengurus Masjid, PHBI, ormas NU dan tokoh-tokoh agama, kemudian mengambil langkah dengan berinisiatif untuk mengevaluasi hal tersebut. Dari titik inilah akhirnya muncul gagasan supaya setiap kali pelaksanaan sholat 'Id dilakukan di Bandara saja.



Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam

Dalam mensukseskan penyelenggaraan sholat 'Id ini, PHBI, pengurus masjid dan ormas NU pun melakukan kerja sama dan menjalin komunikasi dengan Pemkab, TNI-Polri serta mengurus perizinan mulai dari keramaian, pengelola Bandara dan PLN. AlhamduliLlah, gagasan ini diterima dengan baik dari semua sisi.

Disamping untuk menunaikan perintah agama, pelaksanaan sholat 'Id di Bandara ini juga sebagai ajang dan wadah untuk memperkuat tali silaturrahmi diantara umat muslim yang berada di Enarotali yang notabene sangat beraneka ragam dari berbagai latar belakang ras dan suku serta sekaligus untuk menunjukkan dan menampilakan wajah Islam yang rohmatan lil-'alamin dalam bingkai ke-Indonesiaan. Dengan tradisi ini, semoga umat muslim di Kabupaten Paniai, Papua, menjadi kuat persatuannya, aman dan tidak ada perpecahan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Kepada semua pihak panitia dan TNI-Polri, umat muslim Enarotali, Paniai, Papua, mengucapkan ribuan syukur dan ungkapan terimakasih sebanyak-banyaknya atas kinerja mereka semuanya yang telah bekerja keras untuk membantu dalam mensukseskan dan memberikan pendampingan penjagaan keamanan selama pelaksanaan sholat 'Id tersebut dengan baik dan lancar.

Akhirnya, tak ingin ketinggalan, umat muslim Enarotali pun mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. []



* Oleh: M. Taha, Aktivis Laskar Muda NU Papua di Kabupaten Paniai, Papua.
Read More

Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah


rumahnahdliyyin.com - Sudah saya prediksi sebelumnya bahwa kehadiran Gus Yahya Cholil Staquf ke Israel akan menjadi buah bibir. Ternyata benar. Ada bibir manis dan ada bibir ndower (nyinyir dan benci setengah mati). Tapi tidak masalah, namanya dakwah itu sudah resiko dimaki-maki orang.

Setelah mendapat kiriman video ceramah Gus Yahya di Israel, kata demi kata saya cermati. Yang terbayang saat ia bicara adalah wajah Abahnya Al-Karim ibnul-Karim, KH. Cholil Bisri. Bahkan suara demi suaranya sangat mirip beliau.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Kuberanikan, saya WA adik putri kandung beliau, benar. “Mas Yahya memang mirip Abah” jawabnya.

Memoriku langsung kembali 12 tahun silam dimana saya ngaji dengan KH. Cholil Bisri di Desa Purwosari, Kudus. Kuingat 11 tahun silam saat saya ditugasi mewawancarai KH. Cholil Bisri saat saya jadi tim redaksi El-Qudsy Madrasah Qudsiyyah Kudus.

Saat itu, sampai rumah saya cerita dengan almarhum Bapak saya. “Itu putranya Mbah Bisri Mustofa Rembang. Bapaknya itu jagoan kalau berpidato dan punya Tafsir Al-Ibriz,” kata Bapakku.

Saya semakin penasaran. Saya catat dua nama itu, KH. Cholil Bisri dan KH. Bisri Mustofa.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Ternyata, saat saya sekolah di Madrasah Diniyyah Mu’awanatul Muslimin, Kenepan Kudus, ngaji Tafsir pakai Kitab Al-Ibriz. Subhanallah. Dan penasaran saya terjawab lagi, ternyata Majalah El-Qudsy Qudsiyyah selalu menerjemah periodik kitab karya KH. Bisri Mustofa berjudu Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakharatul Khutaba’.

Saya tidak mau ngoyo-woro menerjemahkan pidato Gus Yahya. Hanya ingin membuka lagi apa sih isi dari kitab-kitab karya Simbahnya Gus Yahya dan dimana titik kesamaan ilmu Gus Yahya dengan Abahnya KH. Cholil Bisri. Itu saja. Dan inipun saya menulis dengan penuh santai sambil menunggu bedug 'Idul Fitri.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel

Terong Santri

Gus Yahya sudah sangat dikenal. Kesantriannya tidak diragukan. Keilmuannya juga sangat luar biasa karena pernah merasakan kuliah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Soal birokrasi, jelas sudah fasih karena sudah keluar masuk istana jaman Gus Dur. Dan kini diamanahi oleh Jokowi sebagai Wantimpres.

Sehari-hari ia mengajar Kitab Tafsir Jalaian, Alfiyyah Ibnu Malik dan juga memimpin majelis ngaji poro kasepuhan. Sudah bisa dibayangkan. Mulang ngaji kitab (mengajar kitab) itu berat. Lebih berat lagi ngaji di depan kasepuhan (orang-orang tua). Tapi semua sudah selesai dan jadi rutinitas.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Bagaimana kalau ngaji di depan warga Israel yang beragama Yahudi?

Bayangkan saja. Di tengah puncak konflik politik berdalih “agama”, Gus Yahya harus bercerita tentang perdamaian. Dan tidak pakai teks ngajinya. Wow... Kalau saya disuruh begitu, sudah pamit duluan. Heeeeee. Jangan serius-serius bacanya.

Tapi namanya Kiai yang pernah jadi santri, ya tetap berani. Bahkan di beberapa sesi mendapat tepuk tangan meriah dan sesekali membuat peserta tertawa-tawa karena humor pesantren. Eh... saya lupa berpesan. Sebelum baca ini, lihat dulu video lengkap di beberapa forum pidato di Israel, ya. Kalau tidak lihat videonya, nanti galfok (gagal fokus).

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Artinya apa? Itulah warna pemikiran Islam yang harus disampaikan dan dimasukkan di telinga orang-orang Israel. Jangan hanya teriak anti-Israel di jalanan. Hadir kesana dan diskusi lanjut eksekusi. Dikit-dikit dibilang bid’ah dan mendzolimi Islam! Yuk... ngopi dan rekreasi biar fresh pikirannya.

Ngopi itu artinya ngomong pribadi, alias mengaca. Apakah sudah berilmu dan beragama dengan baik? Kalau belum berilmu maka belajar. Kalau merasa belum beragama, ya ngaji. Sederhana kok hidup itu.

Rekreasi itu keluar dari rumah melihat di luar sana ada banyak keindahan, warna ragam dan perbedaan. Itu diangan-angan agar yang beda menjadi sama. Jangan bermulut agama tapi keluarnya kalimat-kalimat tidak manusia. Kasihan lho yang begini itu.

Obat agar suka ngopi dan rekreasi adalah terong santri. Pingin tahu, apa pingin tahu banget? Hadir ke pesantren biar kenal terong santri.

Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman

Penerus Mbah Cholil – Mbah Bisri

Saat Gus Yahya menyebut kata rahmah, kata itu yang pernah kudengar dari Abahnya, KH. Cholil Bisri, 12 tahun silam. Mbah Cholil menjelaskan di atas panggung yang dihadiri ribuan orang seperti ini:

اختلاف الائمة رحمة

Dengan bahasa yang enak dan simpel, Mbah Cholil memaknai: “Perbedaan pemimpin itu manifestasi”.

Saat itu saya tidak paham arti manifestasi. Dan ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat; perwujudan atau bentuk dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Jadi, rahmah itu memang bermakna cukup mendalam. Bahwa sikap manusia dalam menghadapi perbedaan itu butuh perasaan dan pendapat. Dan tertunya karena sudah berbeda, maka perasaan dan pendapat itu membutuhkan bentuk yang tidak kelihatan, yakni kasing sayang—saling memahami.

Bagaimana kalau melihat arti rahmah menurut Simbahnya Gus Yahya, KH. Bisri Mustofa? Saya coba membuka koleksi kitab-kitab karya Mbah Bisri di almari perpustakaan saya. Kebetulan saya sedang menulis Disertasi yang membahas KH. Bisri Mustofa. Jadi, hampir ada 50-an judul kitab yang saya miliki.

Baca Juga: Gus Yahya; Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mbah Bisri Mustofa menulis dalam Tafsir Al-Ibriz, halaman 1052, yang membahas mengenai Surat Al-Anbiya’, ayat 107, juz 17:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: “Ingsun Allah ora ngutus marang siro Muhammad, kejobo dadi rahmat tumerap sekabehane alam; Saya tidak mengutus Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi semua alam semesta”.

Tidak hanya cukup disitu saja. Mbah Bisri Mustofa masih memberikan penjelasan sebagai berikut:

Tanbihun: Kang tompo rohmat sebab wujude Nabi Muhammad iku ora namung wong-wong mukmin yang sholih-sholih, nanging ugo wong-wong kafir lan wong fajir. Jalaran naliko Kanjeng Nabi disawati watu dening kaume, naliko Kanjeng Nabi ditekek lan disuki telethong denin kaume, lan liyo-liyone maneh, upomo naliko iku Kanjeng Nabi ora nyuwun marang Pengeran: Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun, menawi kaume wus ditumpes kabeh. Ono kang disirnaake, ana kang dibusek, dadi kethek utowo dadi babi lan liya-liyane, koyo kaume Nabi-Nabi sak durunge Nabi Muhammad”.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sudah jelas, ya, kalau begitu? Bisa dipahami? Atau masih butuh diterjemah dalam Bahasa Indonesia? Ya sudah deh... saya terjemah bebas saja kalau begitu. Daripada saya diprotes nanti.

“Peringatan: Yang menerima rahmat atas keberadaan Nabi Muhammad itu tidak hanya orang beriman yang sholih saja. Tapi juga orang kafir dan orang yang berbuat keji (juga dapat rahmat). Sebab, ketika Nabi dilempar batu, dicekik, dilempari kotoran binatang dan (gangguan dakwah) lainnya oleh kaumnya, Nabi justru berdo’a: “Ya Allah, berikanlah hidayah pada kaumku karena mereka tidak tahu menahu”, maka kaumnya Nabi Muhammad tidak ditumpas semuanya. Kaumnya tidak dihilangkan, dicuekkan dan jadi kera atau babi, sebagaimana kaum Nabi sebelum Muhammad”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Dalam Tafsir Jalalain, karya Syaikh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Syaikh Imam Jalaluddin As-Suyuthi—yang diajarkan Gus Yahya ngaji di Pondok Rembang—juga dijelaskan bahwa:

﴿وما أرسلناك﴾ يا محمد ﴿إلا رحمة﴾ أي للرحمة ﴿للعالمين﴾ الإنس والجن بك

Ini menegaskan bahwa tugas Nabi Muhammad dan umatnya adalah memberikan perlindungan sosial dan psikologis. Dan ternyata rahmat untuk alam semesta juga diperuntukkan bagi manusia dan jin. Kenapa demikian? Sebab Nabi Muhammad menegaskan dalam haditsnya sebagaimana ditulis dalam penjelasan Tafsir At-Tanwir Wat-Tanwir oleh Ibnu ‘Asyur dalam membedah isi Surat Al-Anbiya’, ayat 107:

ويَدُلُّ لِهَذا المَعْنى ما أشارَ إلى شَرْحِهِ النَّبِيءُ ﷺ بِقَوْلِهِ إنَّما أنا رَحْمَةٌ مُهْداةٌ وتَفْصِيلُ ذَلِكَ يَظْهَرُ في مَظْهَرَيْنِ: الأوَّلُ تَخَلُّقُ نَفْسِهِ الزَّكِيَّةِ بِخُلُقِ الرَّحْمَةِ، والثّانِي إحاطَةُ الرَّحْمَةِ بِتَصارِيفِ شَرِيعَتِهِ

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Membaca Gus Yahya tidak cukup disitu saja. Sebab, setiap hari Gus Yahya ngaji beberapa Kitab Kuning: Alfiyyah karya Ibnu Malik dan Tanqihul Qaul karya Imam Nawawi Al Bantani (setiap sholat Maghrib) dan mengaji dengan kasepuhan Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Dan masih banyak Kitab Kuning lainnya.

Khazanah tentang rahmah dalam kitab-kitab tersebut sangat luas dikupas. Sebut saja Kitab Irsyadul ‘Ibad yang berisi 114 topik pembahasan dengan jumlah 120 halaman. Isinya sangat luar biasa. Didalamnya berisi pembahasan Islam yang rahmah yang tersaji dengan materi keramahan. Pokoknya, membahas Kitab Kuning pasti kita akan semakin rindu.

Baca Juga: Menjernihkan Makna "Nas" dalam Hadits Untuk Memerangi Musyrikin

Oleh sebab itu, melihat Gus Yahya, biarlah menjadi Gus Yahya yang masih muda dan bergelora keilmuannya. saya cukup membaca Gus Yahya sebagai bagian mutiara ilmu yang tidak lepas dari Abah dan Simbahnya. Gus Yahya adalah cerminan kilauan ilmu Syaikh Jalaluddin, Syaikh Zainuddin, Imam Ibnu Malik dan Imam Nawawi—yang secara mudah kita sebut kilauan permata pesantren.

Menyebarkan ilmu itu harus penuh ramah. Jangan malah suka marah-marah. Kalau suka marah-marah, itu namanya bid’ah, sebab Nabi tidak suka marah-marah. Hayo.... pilih mana?

Terlalu panjang ternyata tulisan saya ya?Padahal masih ada satu lagi. Lanjut apa tidak nih?

Lanjut ya? Oke, dilanjut.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Kalau saya menyebut Gus Yahya adalah mutiara ilmunya Mbah Bisri Mustofa soal diplomasi, tidak bisa diganggu gugat. Coba kita lihat isi Zaaduz Zu’ama’ wa Dzakhiratul Khutaba’ karya Simbahnya. Ada bab khusus yang membahas tentang garis besar akhlaq para pembicara dan pemimpin: mengawali pembicaraan dengan mempesona agar didengarkan orang; harus berperilaku baik agar dihargai orang lain; bercita-cita tinggi dan optimis; menjadi pengampun dan pemaaf.

Bahkan oleh Mbah Bisri Mustofa, bab itu ditambahkan penjelasan sebuah ayat Surat Ali Imron: 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Baca Juga: Ulama Ooriter dan Ulama Otoritatif

Sudah cocok, kan? Intinya begitulah cara pemimpin yang bijak dan berjuang mencari jalan damai di negeri konflik. Jangan campur aduk dengan nyinyir karena sejak dari awal tidak suka NU, benci pesantren dan ngremehkan peci hitam, lalu menggoreng-goreng bahwa pidato itu mengkudeta Pemerintah dan mengkhianati Palestina. Selamat berdiskusi.[]



* Oleh: M. Rikza Chamami, Wakil Sekretaris PW. GP. Ansor Jateng & Dosen UIN Walisongo.
Read More

Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman


rumahnahdliyyin.com - Nama lengkap Gus Yahya sebagaimana kita tahu adalah Yahya Cholil Staquf, saya mengenal nama dan wajah beliau dari televisi di sekitar tahun 2002an sebagai juru bicara kepresidenan. Bicaranya runtut namun mengandung pointers yang harus keluar konteks umum demi memberikan kepemahaman secara menyeluruh dari suatu permasalahan.

Sekitar 5 tahun yang lalu saya merasa terhormat ketika kami diundang untuk melakukan diskusi di pesantren Leteh, di mana ketika sesi beliau memberikan arahan, beliau telah membuat gambaran peta perang peradaban yang jauh sangat luas dengan rentetan fakta yang tak terbantahkan.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Beberapa waktu berikutnya ketika saya diminta membantu mengurus di PBNU, beberapa kali saya diundang untuk juga diskusi terkait konflik peradaban. Konflik yang sama dari diskusi 5 tahunan yang lalu, berkisar konflik di jazirah Arab dan keperihatinan terhadap Palestina.

Dari banyak tokoh yang saya temui, Gus Yahya adalah tokoh yang memberikan perhatian yang sangat besar terhadap penderitaan warga Palestina atas penjajahan Israel, keperihatinan atas kericuhan belakangan ini di Indonesia, dan kebersemangatan beliau agar kawula muda NU bersatu menyongsong kemonceran Indonesia.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Belakangan ini, beberapa kali beliau menyampaikan perlunya tindakan nyata, di luar konteks umum, untuk membantu penderitaan rakyat Palestina yang terjebak pada konflik antar kelompok di internal Palestina yang memiliki potensi tidak akan terselesaikan sampai kiamat.

Maka, tak heran bagi saya, ketika beliau sangat berani hadir di Yerusalem yang sudah diklaim sepihak sebagai wilayah Israel, sementara sebagai muslim dan warga Indonesia, tentu masih memegang teguh Yerusalem masih wilayah Palestina.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Beliau dengan gagah berani namun penuh ramah sopan santun, menyampaikan ceramah solusi atas permasalahan Palestina di depan komunitas Yahudi, sebuah langkah langka yang bisa dilakukan oleh tokoh keagamaan maupun kenegaraan. Ibarat Musa yang diperintahkan menyampaikan materi dakwah secara sopan kepada Fir’aun laknatullah.

Langkah beliau jelas mengandung risiko penolakan dari banyak pihak, namun ijtihad beliau untuk menempuh jalan untuk tujuan kebaikan Palestina, tentu sangat layak dihargai. Dan beliau tentu sudah paham atas langkah beliau dengan menyatakannya sebagai inisiatif pribadi yang terlepas dari jabatan Katib Aam PBNU maupun Tim Penasihat Presiden, namun jelas beliau tetap Presiden komunitas Terong Gosong yang sepertinya lebih gayeng dan memiliki ghirah yang menggairahkan.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Kita bersama, hanya sedang melihat upaya beliau, namun tentu ini sebuah langkah dari ribuan langkah pembelaan kepada Palestina yang sudah puluhan tahun dijalankan oleh banyak tokoh, namun penderitaan Palestina bukan membaik malah cenderung semakin parah.

Kita doakan agar upaya beliau ini dapat membuahkan hasil yang positif bagi warga dan negara Palestina tanpa ada syak prasangka buruk kepada beliau. Gus Yahya adalah sosok kyai, menurut saya, yang sudah selesai dengan urusan pribadinya dan selalu berusaha menyumbangkan bagi kebaikan sesama.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Selamat lebaran.
Semoga kita semua dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya dan dunia diberlimpahkan rahmah yang berkelanjutan.

Salam Indonesia Mercusuar Dunia.

Alfatihah.

Aamiin.


* Oleh: Hari Usmayadi (Cak Usma), Ketua PPM. Aswaja.
Read More

Takbir Keliling di Sorong Dinodai Bendera Terlarang


rumahnahdliyyin.com, Sorong - Seperti dimana-mana di belahan Indonesia lainnya, di Sorong, Papua Barat, masyarakat pun menyambutnya dengan tradisi Takbir Keliling. Mereka yang turut dalam takbir keliling ini berasal dari berbagai masjid, musholla ataupun masyarakat yang ada di kota Sorong.

Takbir keliling yang menggunakan moda transportasi roda empat dan roda dua itu cukup sempat membuat jalanan macet. Kendati demikian, mereka yang hanyut dalam takbir keliling ini tak surut dalam menggemakan takbir.

Baca Juga: Arwah HTI Gentayangan di Bandara Halim

Tapi sayang, tradisi yang bagus itu telah dinodai oleh adanya kibaran bendera dari salah satu ormas yang sudah dilarang di Republik ini, yaitu bendera HTI. Aksi ini sempat diabadikan oleh salah satu peserta dalam bentuk video sekitar pada pukul 22.00 waktu setempat (24/06/2018).

"Ya, saya tadi memang keliling kok," kata Muhyiddin, ketika dikonfirmasi apakah video itu hasil rekamannya.


Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Lebih lanjut, Muhyiddin pun menyayangkan bahwa aksi itu seolah dibiarkan oleh pihak kepolisian yang memang mengawal dalam kegiatan takbir keliling itu. Padahal, sedari awal sebelum mulai keliling, bendera itu sudah ada.

"Udah ada benderanya. Emang pihak kepolisian pun kelihatannya mendukung," ungkapnya kemudian.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" Oleh Hizbut Tahrir

Muhyiddin sendiri mengakui bahwa pendukung dan simpatisan HTI di Sorong memang subur. Bahkan, ia menyebutkan bahwa instansi pemerintah dan anak-anak usia SMA di Sorong juga tidak sedikit yang kerasukan paham yang sudah dilarang di negeri ini.[]

(Redaksi RN)
Read More