Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan


rumahnahdliyyin.com - Barusan saya berargumentasi dengan salah seorang kerabat di WAG keluarga tentang Islam Nusantara yang dimatanya Islam yang campur aduk, tak jelas batas mana yang Islam mana yang budaya.

Saya menyanggahnya. Tapi, ya sudah lah. Otak salaf memang beku. Baginya, Islam tak pernah bergerak melintasi ruang dan waktu berakulturasi dengan wilayah yang dilaluinya. Bahkan, dengan era penjajahan, dan membentuk "Agama Islam".

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Islam itu, baginya, beku di era Rasulullah SAW. Meskipun herannya, dia hidup di Nusantara yang Islamnya jelas Islam Nusantara. Wong makannya juga masih nasi, berzakatnya juga dengan beras.

Belakangan, salah satu pemicu penolakan pada gagasan Islam Nusantara dikemukakan oleh penceramah perempuan, Mamah Dedeh. Meskipun dia telah meminta maaf, utamanya kepada kalangan Nahdliyin, saya merasa perlu untuk memberi argumentasi lain sebagai perempuan dengan perspektif perempuan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Mamah Dedeh bisa menjadi muballighot, ceramah didepan umum yang jamaahnya perempuan dan laki-laki, bisa bicara di TV dan suaranya tak dianggap aurot, itu karena ia berada dan menganut islam Nusantara.

Islam Nusantara adalah Islam yang memberi ruang kepada perempuan dan keragaman. Bayangkan, (mengutip Gus Dur yang mengemukakannya pertama kali) hanya di Indonesia perempuan bisa menjadi hakim agama. Itu karena awal mulanya, IAIN membuka pintu kepada santri-santri putri lulusan pesantren untuk lanjut kuliah di Fakultas Syari'ah. Ketika itu, Menteri Agamanya ayahanda beliau, KH. Wahid Hasyim, perempuan menjadi hakim itu barang terlarang di negara-negara Islam lain atau di sumbernya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Islam Nusantara adalah Islam yang memberi ruang kepada keragaman budaya yang kemudian diserap oleh nilai-nilai Islam. Islam Nusantaran adalah Islam yang beradaptasi dengan budaya agraris, budaya sungai, budaya urban, budaya pesisir dan budaya pedalaman.

Budaya Islam adalah budaya yang menghargai alam yang subur. Karenanya, kita menabur kembang di kuburan, membuat ketupat saat Idul Fitri, membuat opor dan rendang dari kelapa, bukan dari kurma, dan menyelenggarakan sholat di tanah lapang. Pelaku-pelaku budaya itu, adalah orang seperti Mamah Dedeh juga, umumnya perempuan.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Budaya (Islam) Nusantara adalah budaya yang memberi ruang kepada perempuan mendirikan organisasi khusus perempuan membahas kebutuhannya sendiri. Karenanya, lahir Aisyiyah dan Muslimat/Fatayat.

Islam Nusantara juga adalah Islam yang mendendangkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. dengan penuh rindu dalam ragam sholawat, mendaras Al-Qur'an dan menghafal hadits. Berulang kali khataman Al-Qur'an sebagai pencapaian pribadi yang dirayakan dengan selamatan dan syukuran, ngaji kitab kuning dari tingkat pemula di madrasah hingga luhur (Ma'had Aly) dan mendalami Ushul Fiqh sebagai metode yang teruji untuk memahami teks klasik Islam.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Dalam keseluruhan proses mengaji itu, perempuan merupakan jiwa yang menghidupkannya. Karena Islam Nusantara, maka ada Majelis Ta'lim, kaum Ibu berbondong-bondong pakai baju warna-warni, pakai bedak dan lisptik, minyak wangi dan pakai aneka jilbab dan hijab dengan pernak-penik aksesorisnya.

Budaya Nusantara adalah budaya yang membolehkan orang kayak Mamah Dedeh cewawakan, ketawa, bahkan terbahak-bahak didepan kaum lelaki, didepan publik.

Masih mau Islam Salafi Islam Arab? saya sih, ogah!
[]



* Oleh: Lies Marcoes, Tulisan diambil dari Akun Facebook.
Read More

Menyikapi Fatwa yang Kontroversial


rumahnahdliyyin.com - Sebagian dari kita cenderung reaktif jikalau mendengar ada fatwa yang terkesan aneh dan kontroversial. Bahkan tanpa ilmu yang memadai, mereka langsung mencerca dan mencemooh ulama yang mengeluarkan fatwa kontroversial. Mereka tidak bisa menerima perbedaan fatwa, apalagi fatwa yang terdengar aneh.

Sebenarnya, selama fatwa tersebut berdasarkan kaidah keilmuan, maka tidak ada yang aneh. Kontroversi itu hal biasa. Pendapat jumhur atau mayoritas ulama itu belum tentu benar. Dan pendapat yang berbeda, belum tentu salah.

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar atas Hadits Khilafah ala Hizbut Tahrir

Sepanjang sejarah pemikiran Islam, para ulama biasa berbeda pendapat. Pada satu kasus, ulama A berbeda dengan jumhur ulama. Pada kasus lain, justru ulama A yang membela pendapat jumhur. Inilah indahnya keragaman pendapat sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Mausu'ah Al-Fiqh Al-Islami wal-Qodloya Al-Mu'ashirah.

Perbedaan pendapat, jikalau dipahami dengan proporsional, akan membawa rahmat. Umat tinggal memilih satu pendapat yang lebih cocok, lebih sesuai dan lebih mashlahat serta lebih mudah dijalankan diantara sekian banyak pendapat. Rasulullah SAW. pun jikalau dihadapkan pada dua perkara, beliau akan memilih perkara yang lebih mudah.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Karena semua pendapat madzhab itu memiliki dasar dan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka pertanyaannya bukan lagi pendapat mana yang benar. Tapi, pendapat mana yang lebih cocok kita terapkan untuk kondisi yang kita hadapi.

Kalau soal kontroversi, ulama mana yang tidak dianggap kontroversial? Semua ulama, pada masanya, pernah dianggap fatwanya aneh dan kontroversial. Misalnya, Imam Syafi'i berbeda pandangan dengan mayoritas ulama ketika mengatakan anak hasil zina boleh dikawini oleh bapaknya. Ini pendapat yang bikin heboh. Atau, bagaimana Imam Malik berpandangan bahwa anjing itu suci dan tidak najis. Ini berbeda dengan pandangan jumhur ulama.

Baca Juga: Perbedaan Ulama Tentang Niat Puasa

Atau, ada pendapat lain yang terkesan sepele, tapi terdengar aneh. Kalau Anda berbohong saat berpuasa, apakah puasa Anda batal? Menurut Imam Dawud Adh-Dhahiri, puasa Anda batal. Menurut jumhur ulama, tidak batal. Apakah saat Anda tersenyum ketika sedang sholat, sholat Anda batal? Iya, batal, menurut Imam Abu Hanifah. Namun tidak batal menurut jumhur ulama.

Apakah kalau Anda makan daging unta, wudlu Anda batal? Iya, batal, menurut Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi tidak batal menurut jumhur ulama. Apakah kalau Anda minum nabidz (selain dari perasan anggur) dan tidak mabuk itu hukumnya halal? Iya, nabidz itu halal pada kadar tidak memabukkan menurut Imam Abu Hanifah. Tapi dinyatakan haram oleh jumhur ulama, baik mabuk atau tidak.

Baca Juga: Ulama Otoriter dan Ulama Otoritatif

Apakah yang haram itu hanya daging babi saja atau semuanya, termasuk lemak dan tulangnya? Jumhur ulama bilang semuanya dari babi itu haram. Tapi Imam Dawud Adh-Dhahiri bilang hanya daging (lahm) nya saja yang haram.

Contoh-contoh diatas bisa terus berlanjut dan semua ulama madzhab pernah berbeda dengan jumhur ulama. Dengan kata lain, pendapat mereka dalam kasus-kasus tertentu dianggap aneh dan kontroversial. Namun bukan berarti mereka pantas untuk kita cerca atau cemooh.

Baca Juga: Ats-Tsauri; Samudera Ilmu dari Kufah

Sesuai hadits Nabi SAW., jikalau mereka salah dalam berijtihad, mereka mendapat pahala satu. Dan jikalau ijtihad mereka benar, maka mereka mendapat pahala dua. Apapun hasil ijtihad mereka, mereka tetap mendapat pahala. Dan kita yang tidak pernah berijtihad dan hobinya cuma mencerca ulama, bukannya dapat pahala, jangan-jangan malah dapat dosa.

Tabik.[]



* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.
Read More

Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu


rumahnahdliyyin.com - Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin, di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawassul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara.

Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin dia akan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan oleh seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengernyitkan kening seperti orang yang menahan buang hajat berbulan-bulan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamtsil dan dalil.

Entahlah, waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak, saya tidak bertanya dan dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja dia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.

Wajar mungkin sang profesor sempoyongan dalam memahami tawassul, karena terbentur dengan cara berpikir yang berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Hal itu merupakan Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu, bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?

Sekitar tahun 1971, KH. Saifuddin Zuhri menceritakan dalam salah satu tulisannya tentang KH. Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?

Menurut kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pemimpin-pemimpin besar Indonesia sendiri yang selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, memang gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak.

Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, yakni tahun 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermadzhab kepada salah satu imam mazhab empat.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Waktu itu, statuten demikian yang lain dari yang lain, tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Buat apa madzhab-madzhab-an. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermadzhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan.

Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, yang dilakukan oleh kelompok bermadzhab. Atau, mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Agama

Menurut kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya untuk menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama.

Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, yaitu menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyyah, justru akan melanggengkan penjajahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermadzhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun.

Menurut kiai Wahab, seandainya Hadlrotusy Syaikh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat informasi dari dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah, Hadlrotusy Syaikh kemudian merestui.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan.

Dalam Secercah Dakwah, kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran.

Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini.[]



* Oleh: Abdullah Alawi, Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab


rumahnahdliyyin.com - Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mudik lebaran Idul Fitri, saya menemukan fenomena luar biasa. Suara Nissa Sabyan menggema di berbagai tempat; di rumah, warung, perkantoran, pasar, kendaraan umum dan pribadi, walimah, pesta pernikahan, gedung-gedung pemerintah dan swasta. Dan setiap bertemu sejawat, mereka bercerita bahwa cafe-cafe yang biasanya “ngerock” dan dangdutan, berubah menjadi alunan lagu-lagu berbahasa Arab dari Nissa Sabyan.

Fenomena itu pernah saya temukan di era 2000-an; suara Sulistyawati dan Haddad Alwy, dengan judul lagunya Ummi dan Ya Thoyyibah, juga menggema di berbagai sudut kampung dan kota, televisi dan radio, pusat-pusat perbelanjaan dan lainnya. Semua orang menghafal lagunya (berbahasa Arab) dan banyak pula yang memahami kalimat-kalimatnya dengan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Dua juta keping terjual, sungguh sangat luar biasa, lagu-lagunya yang berbahasa Arab itu laris manis.

Baca Juga: Sholawat

Ada kebanggaan ketika itu bahwa bahasa Arab tidak hanya menjadi bacaan dalam sholat, tadarrus Al-Qur’an, adzan, iqomah, khutbah Jum'at, kajian-kajian kitab dan ijab qobul, tetapi menjadi bacaan dan dendang lagu setiap hari di beberapa rumah dan tempat keramaian. Semua orang bersholawat. Saya lihat kala itu, dari anak kecil sampai dewasa berusaha untuk memahami dari setiap lirik lagu Ummi dan Ya Thoyyibah yang berbahasa Arab itu.

Fenomena itu muncul kembali, bahkan lebih dahsyat lagi, Deen As-Salam ditonton lebih dari 100 juta kali hanya dalam satu bulan, Ya Rohman 71 juta kali, Ya Habibal Qolbi 172 Juta kali, Ya Asyiqo 82 Juta kali, Ya Maulana 52 juta kali, Law Kana Bainanal Habib 11 juta kali. Itu baru dari akun Youtube Sabyan, belum lagi yang diunduh. Sungguh ini sangat mengejutkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Fenomena ini, menurut pengamatan saya, karena lagu yang dibawakan oleh Khairunnisa (Nissa) berserta personel lainnya sesuai dengan:
  1. Kecintaan atau kegemaran orang Indonesia bersholawat, membaca puji-pujian dan doa, dan mayoritas penduduknya adalah muslim. Seperti Rohman Ya Rohman (doa), Ya Habibal Qolbi (sholawat), Ahmad Ya Habibi (sholawat), Ya Asyiqo (sholawat), Ya Maulana (doa) dan rata-rata lagu yang dibawakan adalah sholawat Nabi SAW. dan doa.
  2. Suara merdu Nissa dengan musiknya mengalun lembut.
  3. Kegilaan pengguna internet dan penikmat Youtube yang mengunduhnya ke berbagai media lain, dari WA, FB dan lainnya.
  4. Bertema religi dan bersamaan dengan bulan Romadlon, seperti; Deen As-Salam, yang penikmatnya sangat luar biasa.
  5. Dibawakan dengan gaya kekinian dengan berbagai keunikannya. Gambus, yang sudah mulai remang, bahkan menghilang, menjadi terang dengan Gambus Sabyan.
  6. Memperkenalkan full team lagu-lagu Gambus Sabyan.
  7. Tidak berhenti pada satu lagu yang sudah populer, tetapi dilanjutkan dengan kemampuan mereka dalam memilih tema-tema yang menarik lainnya sesuai dengan kondisi masyarakat.
  8. Dan yang luput dari pantauan banyak orang adalah karakter bahasa Arab yang unik, sehingga antara suara Nissa-musik-keunikan bahasa Arab, benar-benar membawa ritme menarik. Dan hal ini yang menjadi fokus saya.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Menurut saya, ada karakter khusus Bahasa Arab yang menjadi keunikannya, sehingga dibawakan oleh siapapun saja akan merindu. Kalau di Timur Tengah ada Ummi Kultsum (Penyanyi Arab Legendaris), Amr Diab, Harris J. Sami Yusuf, Maher Zain, Zain Bhikha, Asmahan, Sherine Ahmed dan lainnya. Dan dengarlah suara penyanyi yang melantunkan dengan bahasa Arab, nanti akan mampu dibedakan. Atau dengarlah seorang qori’ Al-Qur’an, maka akan menemukan musik-musik kata yang luar biasa dan tentunya jika dibaca sesuai dengan ilmu Tajwid.

Karakter unik bahasa Arab itu diantaranya terkait dengan bunyi; ada bunyi tebal tipis (tebal/mufakhamah, semi tebal, tipis), tekanan bunyi dalam kata atau stress, vokal panjang (mad), vokal pendek (harokat), bunyi tenggorokan, bunyi bilabial dental. Sedangkan karakter dan keunikan bahasa Arab secara umum tidak mungkin dikaji di sini. Walau setiap bahasa memiliki keunikan (khoshoish), namun karakter bahasa Arab itu lebih unik dibandingkan dengan bahasa-bahasa di dunia.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Nissa Sabyan dengan lagunya yang berbahasa Arab dapat memberikan nuansa sendiri pada gerak bahasa Arab di Indonesia dan dapat menjadi motivasi bagi pembelajar bahasa Arab untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa. Terutama bagi seorang guru bahasa Arab yang mengajar di Sekolah Dasar dan Menengah.

Menurut seorang peneliti, Nabil Katatni, Dekan Fakulats Tarbiyah An-Nauiyyah, bahwa para peneliti psikologi musik menemukan bahwa ritme musik berhubungan erat dengan kehidupan anak pada tahap awal (embrio) sampai dewasa. Menurutnya, dalam rahim ibu sudah mengenal irama, sehingga mudah sekali untuk mengembangkannya dengan lagu-lagu. Demikian ketika anak ingin ditidurkan, irama-irama itu menjadi paling disuka. Maka sangat penting bagi seorang ibu dalam tahap pengembangan bicara anak untuk mendengarkan irama lagu.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Menurut Hanna Athar, musik memberikan motivasi kuat dalam pembelajaran bahasa Arab. Demikian juga menurut para peneliti dan akademisi dalam Konferensi Internasional Kelima Bahasa Arab di Dubai bahwa musik dan lagu-lagu bahasa Arab khusus untuk anak-anak; dapat memotivasi dan memperkuat bahasa Arab. Terutama lagu-lagu yang menggunakan bahasa Arab fushah (baku), misalnya judul lagu Deen As-Salam yang dipopulerkan Nissa Sabyan di Indonesia, yang sebelumnya dinyanyikan oleh Sulaiman Al-Mughni dengan pesan faltuqobil Isa’ah bi ihsan yang disponsori Bank Boubyan Kuwait pada tahun 2015.

Lagu Deen As-Salam, walau beberapa kalimatnya diucapkan dengan lahjah ammiyah (tak baku), namun secara umum bahasanya fushah. Kalimat dengan lahajat ammiyah dalam lagu tersebut seperti; abmahabbat, abtahiyyah, ansyuru, dinya, naskan, kalla, killa.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sedangkan beberapa tulisan yang tersebar dibeberapa media, banyak yang keliru. Karena hanya dituliskan sesuai dengan yang didengarkan. Bila lagu tersebut ingin dijadikan media pembelajaran, maka harus dijelaskan kata-kata yang fushah dan ammiyah-nya agar siswa tidak keliru membacanya.

Berikut lagu dengan tulisan fushah, yang dipopulerkan oleh Sulaiman Mughni, dengan penciptanya Saif Fadhil.

كُلّ هَذِهِ الأَرْضِ مَا تَكْفِي مَسَاحَة
لَوْ نَعِيْشُ بِلاَ سَمَاحَة
وَإِنْ تَعَايَشْنَا بِحُبٍّ
لَوْ تَضِيْقُ الأَرْضُ نَسْكُنُ كُلَّ قَلْبٍ
بِتَّحِيَّة وبِسَّلاَمِ
اُنْشُرُوا أَحْلَى الكَلاَم
زَيِّنُوا الدُنْيَا اِحْتِرَام
بِمَحَبَّةٍ وَابْتِسَامٍ
اُنْشُرُوا بَيْنَ الأَنَام
هذا هُوَ دِيْنُ السَّلاَم

Lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan ini, jika dimanfaatkan dengan baik oleh pengajar bahasa Arab, maka dapat memberikan ruh baru bagi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia dan sebagai syiar bahwa bahasa Arab itu mudah dipelajari. Buktinya, semua orang bisa mendendangkan, mengucapkan, dan melafalkannya. Tahya al-lughah al-arabiyah.



* Oleh: Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Memahami Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya bertumbuh dalam warna Muhammadiyah. Setidaknya, masjid di kampung saya, dulu, sholat Tarawih 11 roka'at meski dalam berbagai urusan masih tercampur dengan "fikih NU".

Pada masa remaja, saya ikut Ibu pulang kampung ke Kauman, Jogjakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah. Hanya ada satu warna dalam memahami dan mempraktikkan agama ini. Sudah pasti saya pun hanya tahu sedikit-sedikit. Bangga saja terhadap kisah-kisah masa lalu dari ibu saya tentang bapak beliau, KH. Abdul Hamid, yang adalah imam Masjid Agung Kauman, yang ditunjuk langsung oleh Sri Sultan dan ikut mendirikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Diluar itu, berbagai pengajian, terutama ceramah idola saya dulu, pak Amien Rais, mengkristalkan sudut pandang saya perihal agama ini. Saya remaja putih abu-abu yang mendeklarasikan partai Matahari Terbit di Lapangan Kridosono. Begitu menggebu-gebu.

Ketika menjadi wartawan pada awal 20-an, saya jadi punya kesempatan untuk memahami macam-macam aliran pemikiran dari rumah ibadah mereka, dari imam-imam mereka: Ahmadiyah, LDII, Syi'ah dan lainnya.

Babak yang cukup berat, karena pada saat yang sama, justru saya ada dalam disiplin pembelajaran Tarbiyah. Pengajian mingguan yang menggebukan ghiroh perjuangan, gerakan turun ke jalan yang menggemakan takbir, persaudaraan para anak muda pendakwah yang hangat dan membuat masa muda begitu ngangenin. Saya bahkan menjadi penyanyi nasyid.

Pula, pada waktu ini saya berkuliah di kampus dengan sentuhan Wahhabi yang sangat kuat. Ketika Pancasila menjadi gurauan di kelas perkuliahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Namun, jurnalistik benar-benar membantu saya untuk menemukan formula toleransi pada masa-masa sulit ini. Bahwa, toleransi kemudian saya artikan bukan kecenderungan untuk berdiam di kotak masing-masing. Toleransi mesti diawali dengan memahami. Diskusi tanpa tendensi. Memahami keyakinan suatu kelompok, berpikir dengan alam pikiran mereka pada prosesnya, lalu kembali kepada keyakinan sendiri.

Itulah mengapa saya kian tak terganggu dengan perbedaan. Bahkan, pada gilirannya, saya bisa memahami Trinitas Kristiani. Memahami, bukan mengimani.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Lalu, pada usia yang kian jauh dari titik remaja ini, saya merasa sangat....sangat nyaman dengan berbagai pemikiran NU. Terutama perihal ke-Indonesia-an.

Menyimak berbagai ceramah kiai-kiai NU, membuka sumbatan yang telah lama menyumpal kebebalan otak saya. Tentang Indonesia, misalnya, saya memahami baru-baru ini. Para kiai melihat Indonesia dengan kacamata yang sangat khas. Tidak terbaca dari sudut pandang yang ahistoris. Maka, menyimak ceramah Gus Wafiq, contohya, saya tidak hanya belajar Tauhid, tapi juga sejarah.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Mengapa tidak perlu menbenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an? Sebab, Indonesia itu lahir dari rahim ijtihad para ulama. Mereka yang kearifannya tidak terjangkau keawaman umat. Hidup pada masa lalu, namun bervisi ratusan tahun ke depan.

Muslim Indonesia adalah "warisan" ulama. Para ulama adalah ahli waris para wali. Mereka yang menanam Islam dalam peradaban Nusantara yang sudah amat tinggi. Peradaban yang sanggup menolak segala bentuk penetrasi. Nusantara bukan sebuah peradaban kosong nilai, bahkan sebelum masa Hindu-Buddha.

Maka, formula Muslim Indonesia telah disiapkan begitu baik, teliti, bijaksana. Praktik Islam dalam keberagaman. Suatu kesadaran yang melahirkan sebuah entitas bernama Indonesia.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Jadi, saya memahami bahwa Pancasila itu nama yang telah ada sejak zaman Majapahit. Namun, isinya menjadi amat bertauhid Islam ketika dilahirkan kembali pada masa kemerdekaan.

Saya baru paham, saya benar-benar baru paham, oh, inikah maksudnya mengapa para ulama NU begitu kukuh dengan konsep Indonesia dan Pancasila. Sebab, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari ijtihad melahirkan identitas Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Label yang memicu kesalahpahaman ketika tidak dimengerti dengan proses memahami.

Maka, saya bahagia karena menjadi tahu betapa terberkahi Tanah Air ini. Mewarisi kearifan hati, kecerdasan pikiran, ketinggian ilmu para ulama yang menjaga Indonesia.

Saya belajar memahami, lalu berusaha bertoleransi.[]



* Oleh: Tasaro GK.
Read More

Halal Bihalal PBNU Serukan Ukhuwwah Wathoniyyah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk menguatkan persaudaraan dan persatuan. Segala bentuk perbedaan agama, suku atau pilihan politik tidak boleh digunakan untuk memecah belah kita sebagai satu bangsa yang utuh.

Dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu, Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, mengingatkan tentang realitas bangsa Indonesia yang sudah menjalin kesepakatan dalam bernegara. Meskipun bukan negara Islam, Indonesia adalah konsensus bersama dari berbagai elemen negeri yang berpenduduk mayoritas muslim.

“Kita sudah berjanji untuk membangun negara ini secara bersama. Karena kita bersaudara, maka kita punya kesepakatan. Kesepakatan itu saya menamakannya ittifaqot akhowiyyah (kesepakatan atas dasar persaudaraan)," katanya.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU untuk Kepentingan Politik Praktis

Ia juga mengimbau supaya kaum muslim Indonesia tak hanya berpaku pada persaudaraan atas dasar agama Islam (ukhuwwah islamiyyah), tapi juga kebangsaan (ukhuwwah wathoniyyah). Hal inilah, sambung kiai Ma’ruf, yang selama ini menjaga Indonesia bisa tetap utuh meski penghuninya sangat majemuk.

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, di panggung yang sama, menegaskan bahwa persoalan dikotomi antara agama dan nasionalisme di Indonesia sudah selesai. Sejak Indonesia belum merdeka, pendiri NU Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah mengenalkan semangat cinta tanah air melalui jargon “hubbul wathon minal iman”.

Baca Juga: Pesan Moral PBNU Terkait Pilkada Serentak 27 Juli

Kiai Said mengajak masyarakat untuk bangga menjadi bangsa Indonesia yang mampu menyelesaikan dikotomi tersebut ditengah bangsa-bangsa Timur Tengah yang dirundung konflik oleh persoalan ini. Secara budaya, menurutnya, Indonesia juga tak kalah dari negara-negara Barat ataupun Arab.

Sedangkan Ketua PBNU, H. Marsudi Syuhud, selaku ketua panitia, dalam kesempatan ini menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi yang digagas oleh salah satu pendiri NU, yakni KH. Wahab Chasbullah dari Jombang, untuk menyatukan para elit politik dan para elit organisasi yang saat itu sedang berseteru.

“Tradisi kumpal-kumpul yang sering dilakukan oleh warga NU tersebut pada akhirnya diterapkan oleh seluruh elemen bangsa, dari mulai masyarakat, organisasi dan instansi pemerintah,” ujar Marsudi.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Menteri Sosial (Idrus Marham), Menteri Komunikasi dan Informatika (Rudiantara) dan Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) serta Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi). Selain itu, tampak pula Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, para Duta Besar negara-negara sahabat serta utusan majelis-majelis agama.[]

(Redaksi RN)
Read More

Gus Yahya: Saya ke Israel Bukan untuk Pengajian


rumahnahdliyyin.com - Kepergiannya ke Israel mengundang kontroversi di dalam negeri. Ia dianggap tidak berempati kepada perjuangan rakyat Palestina, bahkan ada yang memintanya mundur dari posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia merasa tetap harus berangkat meski sadar akan risiko yang akan dihadapi.

Yahya Cholil Staquf mengatakan kehadirannya di American Jews Committee (AJC) Forum Global dua pekan lalu merupakan bagian dari pekerjaan panjang yang dirintis Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid. Sejak lengser dari posisi presiden pada 2001, Gus Dur menawarkan pendekatan moralitas agama dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Yahya, di forum itu, mengusulkan konsep rahmah sebagai jalan menuju damai.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Gus Yahya--sapaan akrabnya--juga diundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia juga banyak bercerita mengenai suasana Idul Fitri di Yerusalem. "Malam Idul Fitri di sana ramai sekali. Semua orang tumpah ke jalan," ujarnya saat ditemui wartawan Tempo Sunudyantoro, Reza Maulana, Diko Oktara dan Dini Pramita serta fotografer Fakhri Hermansyah pada Sabtu pekan lalu. Berikut ini cuplikan wawancara dengannya:

Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, bagaimana Anda menjelaskan kepergian Anda kepada pemerintah?

Pertama, saya sudah menginformasikan rencana kepergian ke Israel jauh-jauh hari. American Jews Committe (AJC) sudah bikin rilis internasional pada 14 Mei. Saya dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei. Waktu itu saya belum tahu mau diangkat jadi anggota Wantimpres. Saya bilang saat itu, saya ada pekerjaan yang membuat saya sering pergi. Saya katakan 1-2 hari lagi mau ke Amerika Serikat, pulang sebentar, pergi ke Israel. Saya sudah jelaskan itu.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Anda tidak membicarakannya dengan Menteri Luar Negeri dan Presiden Jokowi?

Saya tidak punya akses ke Presiden. Tapi pesan saya, kan, sudah viral ke ibu Menteri Luar Negeri. Sudah saya jelaskan bahwa saya tetap akan berangkat karena menyangkut kredibilitas pekerjaan saya bertahun-tahun. Saya paham betul ini berisiko sejak awal, makanya saya tak segera menyanggupi.

Setelah kembali dari Yerusalem, ada keinginan bertemu dengan Presiden Jokowi?

Saya menunggu. Katanya Presiden mau memanggil. Kalau Presiden tanya, ya, saya jelaskan semua omongan saya apa, saya bertemu dengan siapa saja dan berbicara apa saja.

Kapan tawaran dari AJC datang?

Kira-kira Maret, jauh sebelum menjadi anggota Wantimpres. Saya tak berani langsung menjawab. Sebagai orang NU, saya berkonsultasi dengan kiai-kiai saya. Antara lain, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Kiai-kiai saya membolehkan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Apa pesan Gus Mus?

Beliau bilang, saya boleh ke sana, tapi tidak boleh sekadar seperti orang-orang diundang pengajian, ha-ha-ha... Kan, sering muballigh kita diundang pengajian ke luar negeri, tapi cuma datang dan terus pulang. Maksud Gus Mus, ini merupakan pekerjaan yang akan punya dampak berkelanjutan yang membawa manfaat banyak, jangan cuma datang terus pulang.

Selain Gus Mus?

Ada sejumlah kiai dan tak ada yang menolak. Kiai-kiai ini tahu betul saya dan pekerjaan saya selama ini. Saya juga menghubungi teman-teman, termasuk yang di Israel. Mereka katakan itu kesempatan bagus karena akan mendapat perhatian global. Mereka bilang, apa pun yang saya katakan di sana pasti mendapatkan perhatian luas.

Adakah yang menemui dan menentang rencana keberangkatan Anda?

Dua hari sebelum berangkat, Duta Besar Palestina datang ke sini (kantor PBNU). Dia marah-marah. Saya bilang, ini ikhtiar saya. Dia bilang, enggak mungkin berhasil, percuma. Saya bilang, niat saya baik, saya pegang nasihat Umar bin Khoththob kepada putranya: kalau orang memurnikan niat, mengikhlaskan niatnya kepada Allah, urusannya dengan sesama manusia akan dibereskan oleh Allah.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Apalagi yang disampaikan Duta Besar Palestina?

Dia bilang akan berbicara kepada Presiden. Silakan. Saya bilang, ini atas nama pribadi, bukan atas nama NU dan pemerintah. Saya bilang tak bisa dibatalkan.

Anda menyebut ini pekerjaan panjang yang dimulai oleh Gus Dur? Pekerjaan panjang apa?

Sejak Gus Dur lengser, ia menghabiskan sebagian besar energinya mencari solusi dari konflik antar agama. Karena, realitanya, dimana-mana ada konflik atas nama agama. Gus Dur sudah tiga kali ke Israel berbicara dengan berbagai pihak dari Israel dan Palestina.

Setelah Gus Dur wafat, bagaimana?

Ketika Gus Dur wafat, paman saya, kiai Mustofa Bisri, mencoba meneruskan sebisanya sejak 2009. Pada 2011, saya diajak Gus Mus ke pertemuan dengan sejumlah pihak di markas Uni Eropa di Brussels, Belgia, kemudian ke Washington, Amerika Serikat. Habis itu, saya diminta Gus Mus meneruskan.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Di Israel bertemu dengan siapa saja?

Banyak, termasuk tokoh Palestina walau bukan dari Hamas atau otoritas Palestina. Antara lain, Dr. Mohammed Dujani Daoudi. Ia pemikir Palestina yang mengembangkan kerangka kerja keagamaan dan politik untuk perdamaian. Ada juga gerakan Mothers of Peace, gabungan ibu-ibu Yahudi dan Arab. Tidak hanya dari Israel, tapi juga dari Ramallah, Gaza.

Ada yang paling membuat berkesan?

Mothers of Peace. Mereka memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya yang Islam dan Kristen jika tak ada perdamaian. Ini yang paling menyentuh saya. Lalu ada juga Khululam, paduan suara anak-anak muda milenial, yang memodifikasi lagu One Love, milik Bob Marley, ke dalam bahasa Arab dan Ibrani. Sebelum mereka bernyanyi, saya bersama pendeta Kristen dan rabi Yahudi diminta menyampaikan ungkapan keagamaan dari masing-masing kepercayaan. Saya baca hadits Qudsi: Orang-orang yang punya rahmah akan dirahmati oleh Yang Maha Rahmah. Maka, rahmatilah penduduk bumi, maka engkau akan dirahmati oleh Yang di Atas. Kegiatan ini membuat seribu tiket ludes.

Melihat situasi Israel-Palestina, apa tawaran Anda menyelesaikan konflik?

Saat berpidato di AJC Global Forum di Washington pada 2002, Gus Dur melontarkan gagasan tentang pentingnya menambahkan elemen moralitas agama dalam penyelesaian konflik. Bagaimana mengubah persepsi tentang kepentingan menjadi kesejahteraan, lalu masuk ke kemaslahatan umum. Saya bawa gagasan itu, menambahkan sedikit saja. Saya berpikir harus ada satu konsep yang diterima semua, maka saya ajukan rahmah.

Baca Juga: Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel

Apa ide dari konsep rahmah?

Firman Allah mengatakan; "Aku tidak mengutusmu selain sebagai rahmah bagi semesta alam." Rahmah itu sikap yang membuat kita bersedia memaafkan, berbagi dan memberi. Makanya saya bilang, orang tak bisa mewujudkan keadilan diantara pihak-pihak bersengketa kecuali keduanya bersikap rahmah.

Semacam sikap welas asih?

Rahmah itu welas asih dengan kemauan memberi dan menolong. Rahmah tidak butuh prakondisi. Ini soal perasaan, sikap yang kita pilih kalau kita mau. Saya sampai ke pemikiran itu karena ada sabda Rasulullah SAW; "Allah memilih rahmah, memilih bertindak rahmah."

Bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Netanyahu?

Itu saya tidak mengerti. Ahad malam saya tampil di AJC, Senin siang dapat pesan bahwa Perdana Menteri Israel mau bertemu pada Kamis. Saya bisa apa? Masak, tidak diiyakan? Selasa pagi dapat pesan, Presiden Israel (Reuven Rivlin) juga mau bertemu pada Rabu. Saya tidak tahu apa ada orang-orang mengusulkan ke mereka, yang jelas datang saja.

Apa yang dibicarakan?

Dengan Netanyahu, dia berusaha membawa pembicaraan ke normalisasi hubungan Indonesia-Israel.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Apa yang Anda katakan kepada Netanyahu?

Saya bilang tak bisa bicara soal itu. Masa
lah Indonesia-Israel tak bisa lepas dari soal Palestina. Sulit mengharapkan normalisasi kalau tak ada jalan keluar soal Palestina. Lama pertemuan 30 menit. Yang lama itu dia presentasi macam-macam. Netanyahu bawa full team, sepuluh orang. Saya seperti mau diajak pertemuan bilateral.

Kepergian Anda dikritik banyak orang, tapi Anda menghadapinya dengan santai...

Kritikan itu tertulis semua, kan? Termasuk di media sosial. Kalau saya tidak membacanya, kan, tidak masalah? Kecuali yang datang ke sini marah-marah. Kalau disuruh mundur (dari anggota Wantimpres), harus jelas dulu kesalahannya apa. Kalau diberhentikan, walaupun tidak salah, kan, boleh saja. Seandainya waktu itu Presiden meminta tak berangkat, saya tetap berangkat.

Anda sampai berlebaran di Israel, bisa diceritakan suasana di sana?

Di Masjid Al-Aqsho ramai. Sekitar ada 400 ribu orang. Tapi saya di emperannya yang jauh. Di malam Idul Fitri, seluruh kota ramai. Hiasannya macam-macam. Takbirannya hanya di sekitar Al-Aqsho. Tapi dirayakan di seluruh kota. Orang-orang tumpah ke jalan. Saya tidak sempat mencicipi makanan lebaran di sana. Hanya sempat diajak makan malam Sabbath di rumah rabi David Rosen. Celakanya, dia vegetarian. Tapi dia pengertian. Dan seharusnya minum anggur, tapi karena ada kami, akhirnya diganti jus.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seperti apa suasana kehidupan antar agama di Yerusalem?

Kalau di jalan-jalan Yerusalem, orang Arab dan Yahudi asyik-asyik saja. Kecuali yang garis keras. Kalau ada orang merokok di malam Sabtu, mereka mengamuk, karena Sabbath. Saya pernah dibegitukan. Saya ditanya, kenapa merokok. Saya jawab, saya bukan Yahudi. Mereka terima.

Selama di sana, Anda juga mengunjungi tembok Yerusalem?

Iya, saya masuk ke tunnel yang katanya mau merobohkan Masjid Al-Aqsho. Saya diajak masuk melihat kenyataan. Bayangkan, itu warisan peradaban 2.500 tahun. Panjang tembok itu sekitar satu kilo meter dan ditanam 30 meter di dalam tanah. Zaman Turki Utsmani, kota ditinggikan. Jadi, ada 30 meter dari kota yang tertanam. Itu yang mereka gali kembali. Nah, orang bilang bagian yang tertanam itu mengancam Masjid Al-Aqsho.

Kesan Anda setelah melihatnya?

Masjid yang sekarang itu hanya pananda. Menurut interpretasi saya, Masjid Al-Aqsho tempat Nabi Muhammad sholat, ya, di seluruh bangunan besar itu. Saya tanya ke teman, dulu bangunannya seperti apa, karena masjid ini diakui oleh Nabi sebagai tempat ibadah oada zaman sebelum Islam. Dia malah tanya, masjid yang mana, karena dulu dihancurkan oleh kerajaan Romawi.

Jadi, entah di mana tepatnya lokasi sholat (Nabi Muhammad pada saat Isro'-Mi'roj). Belum tentu di tempat yang sekarang jadi Masjid Al-Aqsho. Kalau ini digali, justru memperlihatkan bagaimana dulu bentuk Masjid Al-Aqsho, bagaimana bentuknya di zaman Rasulullah SAW.

Baca Juga: Dari Khotbah 'Ied hingga "Khotbahnya" Yahya

Apa respon Anda menghadapi protes santri Anda yang katanya ada yang mengamuk?

Tak cuma mengamuk, ada yang mengatakan akan menggugat. Saya buktikan posisi saya tak bisa digugat karena saya meminta supaya agama difungsikan dalam mewujudkan perdamaian. Saya malah sempat mengamuk ketika ada yang bertanya, apa untungnya bagi Indonesia? Kok tega memikirkan untung. Pernah dengar tidak, berapa jumlah yang meninggal akibat konflik ini, bagaimana menderitanya mereka di sana. Saya tak melakukan ini untuk NU, saya tak memikirkan Indonesia. Indonesia mau rugi atau untung, terserah. Saya memikirkan nasib orang Palestina dan dampaknya bagi kemanusiaan. Kalaupun NU rugi, biar. Kalau rugi, apa ruginya?■



Disadur dari Koran Tempo, 30 Juni-1 Juli 2018.
Read More

Pesan Moral PBNU Terkait Pilkada Serentak 27 Juni 2018


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Pilkada serentak merupakan hajat politik yang besar dan penting untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, karena bukan saja berlangsung merata di Indonesia, tetapi juga dimaknai sebagai persiapan politik menghadapi Pemilu 2019 tahun depan.

Berkaitan dengan Pilkada dan pemungutan suara tanggal 27 Juni 2018 yang berlangsung di 171 daerah, Nahdlatul Ulama perlu menegaskan bahwa bangsa Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama adalah bangsa yang berbudaya, berakhlaq, ramah dan santun, sehingga dapat menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain. Untuk itu, PBNU perlu menyampaikan pesan moral sebagai berikut:

Pertama, Nahdlatul Ulama merupakan organisasi sosial keagamaan yang berpegang teguh pada Khittah 1926, yakni tidak berpolitik praktis, karena bukan organisasi politik. Politik bagi NU adalah politik moral demi kebaikan masyarakat, bangsa, negara dan kemanusiaan. Sehingga, dalam Pemilu atau Pilkada, NU secara organisasi tidak dapat mendukung calon tertentu.


Kedua, Nahdlatul Ulama mempercayakan Pilkada kepada penyelenggara (KPU, Bawaslu dan DKPP) agar dapat melaksanakan Pilkada dengan profesional, mandiri, netral dan dapat melayani seluruh kepentingan sebaik-baiknya, baik kepada masyarakat pemilih maupun kepada semua calon tanpa terkecuali.

Ketiga, Nahdlatul Ulama menghimbau kepada warga negara yang memiliki hak pilih agar menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab dengan memegang prinsip bebas, jujur, adil, rahasia dan bermartabat untuk menentukan calon pemimpin daerah yang diyakini memiliki kompetensi dan akhlaq yang baik, seperti kejujuran dan kemauan untuk membangun kemaslahatan masyarakat di daerah masing-masing.

Keempat, kepada para calon kepala daerah dan wakilnya untuk dapat bersaing secara sehat, jujur, fair, taat hukum, mengedepankan akhlaqul karimah dan menerima hasil Pilkada secara bertanggung jawab. Kepada pihak-pihak yang pada akhirnya memiliki ketidakpuasan atas berbagai sebab dalam pelaksanaan Pilkada ini agar menyerahkan kepada mekanisme hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Kelima, Nahdlatul Ulama mengajak seluruh warga negara Indonesia untuk sama-sama menjaga ketertiban, ketenangan dan keamanan bersama, baik sebelum, saat dan sesudah pelaksanaan Pilkada. Dalam konteks ini, Nahdlatul Ulama menghimbau untuk memandang perbedaan sebagai rahmat. Perbedaan pilihan calon kepala daerah tidak boleh menjadi alasan untuk perpecahan, apalagi saling menghasut, mengintimidasi dan memprovokasi dengan alasan apapun. Semua pihak harus mengutamakan kepentingan bangsa dan negara dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

والله الموفق الى اقوم الطريق

Jakarta, 25 Juni 2018


Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum
Read More

Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel


rumahnahdliyyin.com - Kata "rahmah" adalah diksi yang konsisten disampaikan Gus Yahya Staquf (GYS) ketika diwawancarai oleh Rabbi David Rosen di sela-sela forum Israel Council on Foreign Relations (ICFR) di Yerusalem beberapa hari lalu. Kata ini sesungguhnya kunci dari kehadirannya yang menuai banyak kritikan, terutama dari kalangan yang dididik membenci apapun yang berkaitan dengan Yahudi dan membabi buta mendukung yang berhubungan dengan Islam. Israel diidentikkan dengan Yahudi, Palestina digebyah uyah sebagai representasi Islam.

Gus Yahya mengklaim kedatangannya mengemban misi penting memperjuangkan keadilan Palestina yang selama ini terus menerus ditindas Israel. Namun sayangnya, kenapa diksi keadilan ('adl) tidak muncul dalam wawancara? Kenapa justru kata rahmah yang seringkali disampaikan? Pertanyaan-pertanyaan ini selanjutnya mendorong banyak orang meragukan komitmen Gus Yahya terhadap keadilan bagi Palestina.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Rahmat vs Keadilan

Lebih tinggi mana rahmat dengan keadilan dalam Islam? Ini pertanyaan menarik. Memaknai rahmah dengan "perdamaian" atau "kasih sayang" sungguhlah mempersempit kata tersebut, apalagi membenturkannya dengan keadilan.

Keadilan sendiri, dalam Al-Qur'an, disimbolkan setidaknya dalam dua diksi; 'adl (equity) dan qist (equally). Pertanyaan reflektif sederhana yang bisa diajukan adalah kenapa teks Al-Qur'an lebih memilih "Islam rahmatan lil-'alamin", bukan "Islam 'adlan lil-'alamin," atau "Islam qistan lil 'alamin"?

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Menurut saya, hal ini sangat mungkin karena disebabkan rahmah merupakan nilai (value) tertinggi dalam Islam. Saya menduga kuat kata ini adalah derivasi dari dua sifat dominan Allah; rahman dan rahim, sebagaimana dalam pembukaan QS. Al-Fatihah.

Didalam berbagai terjemahan Al-Qur'an, kata rahman dalam pembukaan Al-Fatihah diartikan oleh Yusuf Ali (2015) dan Muhsin Khan (2018) dengan "Most Gracious.” Gracious bermakna "very polite in a way that shows respect," atau "tindakan sangat santun untuk menghormati.”

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Sedangkan MH. Shakir (1996) dan Pickthall (1930) menerjemahkan "rahman" dengan "The Beneficent," yang artinya "performing acts of kindness and charity,” atau melakukan kebaikan dan kemurahan.

Keempat penerjemah Al-Qur'an level internasional tadi sepakat menerjemahkan kata "rahim" dengan "Most Merciful.” Merriam Webster (2004) mendefinisikannya dengan "treating people with kindness and forgiveness: not cruel or harsh: having or showing mercy," atau memperlakukan orang lain dengan baik dan penuh pengampunan, tidak kejam ataupun kasar.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Dari definisi-definisi diatas, sangat terlihat keluhuran wajah Tuhan. Keluhuran yang Ia mandatkan kepada Islam bagi alam semesta. Dalam prakteknya, rahmat itu seperti respon santun Presiden Joko “Jokowi” Widodo terhadap serangan bertubi-tubi Amien Rais, atau sikap elegan Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terhadap The Smiling General Soeharto yang kerap memusuhinya.

Rahmat juga tampak dari sikap legowo Buang Djulianto, jemaat Paroki Santa Maria Tak Bercela, yang telah memaafkan pelaku bom Surabaya meski anaknya harus berdarah-darah terpapar tiga proyektil di tubuhnya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Rahmat berposisi sejajar dengan ihsan, level tertinggi seseorang dalam berislam. Ihsan bermakna memberikan sesuatu melebihi yang diterimanya. Didalam rahmat tidak hanya terkandung aspek keadilan, namun juga dorongan untuk memperlakukan orang lain secara lebih baik—aspek yang absen dalam keadilan.

Gus Yahya tidak datang ke Yerussalem dengan proposal keadilan yang demonstratif—membawa daftar kesalahan Israel dan menghardiknya agar meminta maaf. Alih-alih, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini membalut misi keadilannya dengan diplomasi religiusitas tertinggi Islam, bukan memakai narasi blak-blakan yang kerap ditunjukkan sebagian orang.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Sebagaimana Gus Dur, Gus Yahya sangat memahami Israel yang hampir punya segalanya untuk melumat Palestina. Ia juga sepenuhnya mengerti bahwa Israel tidak membutuhkan diplomasi pro-Palestina dengan model kepala batu, sebab cara tersebut akan semakin tidak menguntungkan Palestina.

Untuk apa bersikap kasar terhadap Israel jika rakyat Palestina akan didera gelombang penderitaan?

Gus Yahya juga tengah berstrategi ala santri; lebih memilih menghindari timbulnya kesengsaraan warga Palestina, ketimbang ikut-ikutan menuntut keadilan demonstratif dengan cara blunder. Ia memilih datang ke Yerussalem dan berbicara dengan kesantunan yang berisi.

Baca Juga: Dari Khotbah Ied hingga Khotbahnya Yahya

Mendamaikan Masa Lalu

Lebih dari itu, politik rahmah Gus Yahya ke komunitas Yahudi sebenarnya memiliki pesan profetik yang jauh lebih besar; rekonsiliasi sejarah kelam kebencian Islam terhadap Yahudi yang terus menerus diwariskan hingga saat ini.

Kita bisa melihat betapa sentimen anti-Yahudi terus-menerus dikobarkan di banyak komunitas Muslim, sama halnya sentimen terhadap kekristenan. Namun bagi umat Islam Indonesia, kebencian terhadap Yahudi memiliki bobot jauh lebih berat. Sampai sekarang Israel yang dipersepsi menjadi perwujudan Yahudi masih belum memiliki hubungan dengan kita. Komunitas ini bisa dikatakan paling menderita di negeri ini.

Baca Juga: Gus Yahya yang Saya Kenal; Pendapat dari Pengalaman

Sangat mungkin kebencian terhadap Yahudi disulut dan dirawat oleh narasi klasik bernuansa negatif terhadap mereka, dan terbakukan dalam teks-teks agama.

Islam klasik dicitrakan begitu memusuhi Yahudi Madinah, padahal kelompok inilah yang bersedia menerima rombongan Nabi Muhammad SAW. saat keluar dari Makkah, hingga memungkinkan komunitas Islam berkembang pesat pada akhirnya.

Romantisme Islam-Yahudi juga diwujudkan dengan pengakomodasian puasa Asyura Yahudi Madinah oleh umat Islam. Puasa ini untuk mengenang kemenangan Musa atas Fir'aun (Shohih Bukhori V6:60:202).

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Yang juga tidak kalah penting, Yahudi-Islam pernah sama-sama menjadikan Masjid Al-Aqsa di Yerussalem sebagai kiblat beribadah. Islam melakukannya lebih dari 10 tahun, sampai kemudian diubah ke Makkah, sebagaimana tercatat dalam QS. 2: 142-145 dan banyak hadits.

Perubahan kiblat ini sekaligus menandai merenggangnya relasi keduanya dan meninggalkan warisan luka yang berdarah-darah bagi komunitas Yahudi Madinah. Pembantaian, penyerangan, perampasan, pengusiran dan perbudakan dialami oleh Yahudi Bani Nadir, Bani Qaynuqa dan—yang paling tragis—Yahudi Bani Qurayza. Diduga kuat, faktor utama terjadinya kekerasan karena mereka memilih bersetia dengan identitasnya sebagai Yahudi.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Kisah-kisah ini bisa diakses dalam berbagai literatur, misalnya karya Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman dan Muhammad at Medina; Sayyid Abul A’la Maududi, The Meaning of the Qur’an; A. Guillaume dan Ibn Ishaq, Life of Muhammad; maupun Tabari, M.V. McDonald dan Montgomery Watt, The Foundation of the Community.

Kebencian terhadap Yahudi semakin diperuncing oleh rumor seputar wafatnya Nabi Muhammad SAW. yang kabarnya melibatkan Zaynab bint Al-Harits, perempuan Yahudi-Khaybar. Dalam berbagai sumber klasik seperti Shohih Bukhori 4428, Sunan Abi Dawud 4512, Thobaqot Al-Kabir Ibn Sa'd vol. 2, ia digambarkan menjadi penyebab utama kematian Nabi Muhammad SAW. akibat daging beracun yang ia suguhkan. Motifnya, menuntut balas atas apa yang menimpa keluarga dan kelompoknya dalam peristiwa Khaybar.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Meskipun peristiwa-peristiwa ini—terlepas dari validitas dan akurasinya—berlangsung lebih dari seribu tahun lalu, namun selalu gagal disikapi secara dewasa. Yang justru terjadi adalah sebaliknya; narasi tersebut diawetkan untuk saling menyalahpahami dan memupuk kebencian.

Dengan diplomasi rahmat, Gus Yahya menindaklanjuti jalan yang dulu pernah diretas oleh Gus Dur, yakni jalan terjal menampilkan Islam berformat ideal dalam bentuk dialog dengan Israel, demi masa depan Palestina, lebih-lebih demi relasi Islam Indonesia dan Yahudi. Konsep rahmat menyediakan ruang sedemikian luas bagi kita untuk bisa mengasihi Yahudi dan—terutama—berdamai dengan sejarah Islam sendiri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.



* Oleh: Aan Anshori, Koordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD) Jawa Timur, GUSDURian, Mahasiswa S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang.



Tulisan ini diambil dari asumsi.co.
Read More

Dari Khotbah 'Ied hingga Khotbahnya Yahya


rumahnahdliyyin.com | Tradisi salat 'Ied di Pondok Pesantren kami di Leteh Rembang, khotbahnya hanya menggunakan bahasa Arab, tanpa diterjemahkan.

Setelah ayahku, KH. Bisri Mustofa dan kakakku, KH. Cholil Bisri--rahimahumäLlãhu--wafat, yang selalu bertindak sebagai imam dan khatib adalah putera KH. Cholil Bisri, anak (keponakan)ku, Yahya Cholil Staquf.

Tahun ini karena Yahya sedang di Israel, maka yang menggantikan sebagai imam dan khatib adalah anak (menantu)ku, Ulil Abshar Abdalla. (untuk menyimak khotbahnya silakan membuka Youtube).

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Setelah selama ini--sejak mahasiswa--dalam membela Palestina, Yahya hanya ikut menembakkan sumpah-serapah dan caci-maki kepada Israel melalui tulisan-tulisan, diskusi-diskusi dan acara-acara Solidaritas Palestina lainnya, dia ingin langsung nglurug dan mengkhotbahi orang Israel yang selama ini seperti tak mengenal apa yang namanya rahmah, kasih-sayang.

Waktu pamitan, aku mengingatkan kepadanya untuk meletakkan sikap keberpihakan NU sejak berdirinya--kepada perjuangan Bangsa Palestina--sebagai landasan upaya/"khotbah"-nya di Israel.
Lalu kupesankan: Tata hatimu, tata niatmu, dan tawakkal-lah kepada Allah. Wakafã biLlãhi wakiilä.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Alhamdulillah, dia benar-benar melaksanakan apa yang dia tekadkan, mengkhotbahi orang Israel di tempatnya dengan landasan sikap keberpihakan kepada Perjuangan Bangsa Palestina.

"Berkhotbah" bahasa Inggris tentang rahmahnya Islam seperti Yahya, pasti banyak yang bisa dan bahkan jauh lebih bagus. Tapi Yahya sudah membuktikan apa yang bisa dia lakukan.

"وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون ، وستردون الى عالم الغيب والشهادة فينبئكم بما كنتم تعملون  التوبة: ١٠٥)

* Oleh: KH. A. Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang. Tulisan diambil dari akun Facebook beliau.
Read More