Menjernihkan Hukum Tahun Baru Masehi

 Menyambut tahun baru dengan pengajian (Ilustrasi).
                           
muslimpribumi.com - Polemik tahunan kembali beredar di detik-detik menuju pergantian tahun baru 2018 Masehi. Muara polemik adalah fatwa hukum yang simpang-siur antara kubu yang mengharamkan dengan yang membolehkan peringatan tahun baru Masehi. Sebagai pertimbangan sebelum memilih fatwa hukum, perlu diurai tiga "benang kusut" yang tampaknya menjadi penyebab pro-kontra fatwa.

Benang kusut pertama adalah asosiasi kata "Masehi" dengan Yesus, sehingga tahun Masehi dipandang sebagai tahun Kristen. Apalagi didukung bukti historis bahwa kelahiran Yesus dijadikan landasan penetapan tahun 1 Masehi, yang pertama kali dirayakan pada 1 Januari 45 SM. Asosiasi ini identik dengan asosiasi pohon cemara sebagai pohon natal.

Implikasinya, ketika asosiasi Yesus melekat pada kata "Masehi", maka fatwa hukum yang dikeluarkan adalah haram merayakan tahun baru Masehi, karena dinilai tasyabbuh (menyerupai) agama lain.

Sebaliknya, jika asosiasi tersebut dihilangkan sebagaimana kasus pohon cemara bukanlah pohon natal, meskipun digunakan sebagai pohon natal, maka fatwa hukum yang dikeluarkan adalah boleh merayakan tahun baru Masehi.

Persoalannya sederhana, perhitungan tahun hanya ada dua model. Pertama, Kalender Matahari yang didasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari (revolusi bumi). Kedua, Kalender Bulan yang didasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi (revolusi bulan). Kalender Matahari dianut Tahun Masehi, sedangkan Kalender Bulan dianut Tahun Hijriah.

Namun, Kalender Matahari dan Bulan tidak bisa diklaim sebagai "milik pribadi" suatu agama, entah Kristen maupun Islam. Keduanya adalah Kalender "milik bersama", karena digunakan sebagai standar penanggalan di seluruh dunia, seperti Penanggalan Tionghoa dan Saka.

Secara implisit, surat Yunus [10]: 5 membenarkan dua model Kalender di atas. Ayat lain yang mendukung adalah surat Al-Kahfi [18]: 25 tentang kisah Ashhabul Kahfi yang tertidur selama 300 tahun menurut Kalender Matahari, atau 309 tahun menurut Kalender Bulan; karena selisih antara Kalender Matahari dengan Kalender Bulan adalah 9 tahun untuk setiap 300 tahun.

Ringkasnya, penyematan kata "Masehi" pada Kalender Matahari, bukan berarti tahun Masehi sama dengan tahun Kristen, sehingga tidak secara otomatis membuatnya dihukumi haram, hanya gara-gara didasarkan penamaan non-Islami. Seandainya penggagasnya dulu adalah Muslim, tentu Kalender Matahari tidak akan disebut Tahun Masehi, bisa jadi Tahun Aljabar. 

Benang kusut kedua, pola pikir idealis versus realistis. Pola berpikir idealis mengandaikan kehidupan khayali di tengah kehidupan realistis. Pola pikir idealis menuntut umat manusia sebersih malaikat. Implikasinya, pola pikir idealis tidak mau menerima kenyataan berupa dilema antara dua hal negatif. Misalnya, jika ada pasien yang harus memilih antara amputasi ataukah penyakitnya menjalar ke seluruh tubuh, maka pola pikir idealis akan menuntut dokter agar menyembuhkan penyakit tersebut tanpa amputasi.

Sama halnya ketika melihat fenomena perayaan tahun baru yang hampir tidak bisa dibendung, maka pola pikir idealis akan mengeluarkan fatwa haram terhadap aktivitas apa pun yang menyangkut tahun baru Masehi, sekalipun berupa aktivitas dzikir dan doa bersama. Alasannya jelas, tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sehingga dinilai bid’ah dhalalah atau inovasi agama yang tersesat.

Sebaliknya, pola pikir realistis berusaha menemukan alternatif terbaik di antara kondisi yang serba negatif. Apakah membiarkan umat Islam merayakan tahun baru Masehi di tempat-tempat umum yang berpotensi terjadi kemaksiatan, setidaknya berupa ikhtilath (percampuran lawan jenis non-mahram), ataukah menyediakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti dzikir dan doa bersama di masjid, mushalla atau sekolah?

Tentu alternatif kedua lebih baik daripada alternatif pertama. Oleh sebab itu, fatwa yang berasal dari pola pikir realistis adalah membolehkan peringatan tahun baru Masehi, asalkan tidak diisi kemaksiatan. Misalnya, pendapat Abu al-Hasan al-Maqdisi yang dikutip dalam al-Hawi karya Imam al-Suyuthi.

Tampaknya, pola pikir realistis lebih relevan dengan redaksi yang digunakan oleh Rasulullah SAW dalam menyikapi kemunkaran, yaitu fal-yughayyirhu yang berarti maka ubahlah. Artinya, penanganan kemungkaran tidak melulu melalui prosedur larangan (nahi munkar); dapat juga melalui prosedur perubahan (transformasi). Inilah yang diteladankan Walisongo ketika mengubah cerita wayang yang biasanya didasarkan epos Ramayana dan Mahabarata yang bersifat politeisme, menjadi kisah-kisah Islami yang bersifat monoteisme (tauhid), seperti Kalimasada.

Jadi, daripada melarang Muslim merayakan tahun baru Masehi, namun realitanya pasti banyak yang ikut merayakannya; lebih baik menyediakan kegiatan-kegiatan yang terpuji di malam tahun baru Masehi, seperti mengadakan dzikir dan doa bersama.

Benang kusut ketiga adalah pemberlakuan hukum itu bersifat kaku ataukah luwes? Bagi ulama yang memandang bahwa hukum harus diberlakukan secara kaku, tanpa memedulikan situasi dan kondisi, maka hanya ada satu hukum untuk satu kasus. Misalnya, hanya ada satu hukum terkait ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru, yaitu haram tanpa terkecuali.

Sebaliknya, bagi ulama yang memandang bahwa hukum harus diberlakukan secara luwes, sesuai situasi dan kondisi, maka banyak hukum untuk satu kasus. Misalnya, banyak hukum terkait ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru. Bagi pihak yang berkepentingan, seperti pejabat yang mengayomi warga non-Muslim, maka hukum mengucapkannya adalah boleh (mubah). Demikian halnya seorang Muslim boleh mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru kepada tetangganya yang beragama Kristen, semata-mata demi memperkuat hubungan harmonis antartetangga. Contoh ulama yang membolehkan adalah Yusuf al-Qardhawi, Musthafa al-Zarqa, Ali Jumah dan Quraish Shihab. []


* Oleh: Rosidin, Pengurus LTN PBNU Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Read More

Bid'ah



muslimpribumi.com - Diantara perihal agama yang sejatinya telah usang, namun hingga hari ini tak pernah bosan dan jemu untuk selalu dibahas dan diperdebatkan adalah soal bid’ah. Yaitu suatu hal baru yang notabene belum pernah ada contohnya pada masa Baginda Nabi Muhammad SAW.
Tidak sedikit sabda-sabda Baginda Nabi Muhammad SAW. yang berkaitan dengan bid’ah. Diantaranya yaitu “Kullu muhdatsatin bid’atun wakullu bid’atin dlolaalatun wakullu dlolaalatin fin-naar,” setiap hal baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan ada di neraka.

Ada lagi yang berbunyi, “man sanna fil-islaami sunnatan hasanatan falahu ajruhaa wa ajru man ‘amila bihaa ba’dahu min ghoiri an-yanqusho min ujuurihim syaiun. Waman sanna fil-islaami sunnatan sayyiatan kaana ‘alaihi wizruhaa wawizru man ‘amila bihaa ba’dahu min ghoiri an-yanqusho min auzaarihim syaiun,” Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala dari apa yang telah diperbuatnya itu sekaligus pahala orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang mengikutinya itu. Dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka ia mendapat dosa atas perbuatan  itu  sekaligus  dosa  orang-orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya itu.

Dari dua hadits ini, secara gamblang dapat terbaca bahwa antara hadits pertama dan hadits kedua seperti ada pertentangan. Hadits pertama Baginda Nabi Muhammad SAW. menyatakan bahwa semua bid’ah merupakan kesesatan yang imbalannya adalah neraka. Sedangkan hadits yang kedua malah menginformasikan bahwa orang yang membuat bid’ah akan mendapat pahala. Dengan catatan, bid’ah yang dibuat itu merupakan bid’ah yang baik. Bukan bid’ah yang buruk.

Terkait pertentangan kedua hadits ini, para ulama’ menjelaskan bahwa hadits yang pertama substansinya bersifat global yang masih membutuhkan perincian. Dan hadits kedua-lah perinciannya. Sebab, sesuatu yang mustahil apabila Baginda Nabi Muhammad SAW. tidak konsisten dalam bersabda.

Karena itu, para ulama’ sepakat membagi bid’ah menjadi dua. Yaitu bid’ah baik dan bid’ah buruk. Misalnya, Imam Syafi’i. Beliau menyebut bid’ah yang tidak sesuai Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ sebagai bid’ah dlolaalah atau bid’ah buruk. Sedangkan bid’ah yang tidak menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ sebagai bid’ah yang tidak tercela atau bid’ah baik. Demikian pula pendapat ulama’-ulama’ lain yang kedalaman ilmunya tidak diragukan lagi seperti Imam Baihaqi, Imam Nawawi, Imam Ibnu Atsir, dan lain-lain.

Perlu diketahui, orang pertama yang melakukan suatu hal baru yang selama Baginda Nabi Muhammad SAW. tidak pernah melakukannya adalah para sahabat yang termasuk khulafaur-rosyidin. Andai semua bid’ah adalah kesesatan, tentu tidak mungkin sahabat-sahabat utama itu melakukannya. Sebab, Baginda Nabi SAW. juga menyuruh kita untuk mengikuti mereka sebagaimana dalam sabda beliau, “’alaikum bisunnatii wasunnatil-khulafaair-roosyidiina min-ba’dii,” hendaklah kalian berpegang pada sunahku dan sunah khulafaur-rosyidin setelahku.

Zayd bin Tsabit suatu ketika didatangi oleh Abu Bakar dan ‘Umar bin Khoththob. Waktu itu Abu Bakar sedang menjabat sebagai khalifah.

Kepada Zayd bin Tsabit, Abu Bakar berkata: “Sungguh, ‘Umar bin Khoththob telah datang padaku dan berkata bahwa sesungguhnya perang di Yamamah telah merenggut nyawa para penghafal Al-Qur’an. ‘Umar khawatir kalau hal itu terus berlangsung akan sangat banyak orang yang hafal Al-Qur’an yang akan mati. ‘Umar menyarankan kepadaku agar aku mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an. Tapi, aku mengatakan pada ‘Umar, bagaimana mungkin aku melakukan suatu hal yang Rasulullah SAW. tidak melakukannya? ‘Umar menjawab, demi Allah SWT., ini demi kebaikan dan merupakan kebaikan. ‘Umar pun tidak henti-henti meyakinkanku hingga Allah SWT. menjernihkan dadaku dan sependapat dengan saran ‘Umar ini.”

Abu Bakar berkata lagi kepada Zayd bin Tsabit: “Engkau adalah lelaki yang masih muda, cerdas, tak pernah berbuat jahat dan telah mencatat wahyu untuk Rasulullah SAW. Maka, ikutlah sekarang. Kumpulkan dan tulislah Al-Qur’an.

Zayd bin Tsabit berkata: “Demi Allah SWT., apabila dibebankan kepadaku untuk memindahkan sebuah gunung dari gunung-gunung itu tidak terasa lebih berat daripada perintahmu kepadaku untuk mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an ini. Bagaimana kalian berdua (Abu Bakar dan ‘Umar bin Khoththob) berbuat suatu hal yang Rasulullah SAW. tidak melakukannya?”

Abu Bakar pun menjawab pertanyaan Zayd bin Tsabit ini sebagaimana jawaban ‘Umar bin khoththob ketika menyarankan hal ini kepadanya: “Demi Allah SWT., ini demi kebaikan dan merupakan kebaikan,”

Selain itu, Abu Bakar juga tak henti-hentinya meyakinkan Zayd bin Tsabit hingga akhirnya Allah SWT. menjernihkan dadanya sebagaimana Allah SWT. telah menjernihkan dada Abu Bakar dan ‘Umar bin Khoththob terkait masalah ini sebelumnya.

Zayd bin Tsabit pun kemudian mulai mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an. Dan proses ini akhirnya rampung pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Tholib serta seluruh sahabat rodliyallahu ‘anhum.

Dari hal baru yang dilakukan oleh para sahabat inilah akhirnya kita hari ini bisa menikmati hasilnya, yaitu wujud Al-Qur’an yang sudah dalam bentuk buku.

Akhirnya, meski ringkas, penjelasan tentang bid’ah ini semoga dapat dipahami serta bermanfaat. Dan semoga Allah SWT. senantiasa menjauhkan dan melindungi kita semua dari bid’ah yang buruk dan menuntun kita untuk selalu mendekat dan melaksanakan bid’ah yang baik. Amin.
Wallahu a’lam.[]


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Lomba Cipta & Baca Puisi Di Papua

  Panitia Lomba berfoto bareng dengan para juara lomba

muslimpribumi.com | Sorong - Kamis, 28 Desember kemarin, di kompleks suku Kokoda di Kurwato, Aimas, Kab. Sorong, Papua Barat, tidak sepi seperti biasanya. Anak-anak dari Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA/TPQ) dan Madrasah Diniyyah se-Kab. Sorong berduyun-duyun datang ke kompleks itu.


Ya, sebelumnya mereka telah menciptakan puisi. Sebab, lomba pada hari itu yang diselenggarakan oleh Buletin An-Nahdlah dan Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah yang notabene sebagai penerbit buletin tersebut adalah Lomba Cipta & Baca Puisi. Jadi, anak-anak itu tidak sekedar membacakan puisi. Melainkan juga menciptanya dengan tema yang telah ditentukan oleh panitia lomba, yaitu tentang Nabi Muhammad SAW.

Meski pagi itu dihiasi dengan hujan, sejak pukul 07.30 waktu setempat, Kurwato mulai diramaikan dengan anak-anak penuntut ilmu agama Islam tersebut. Dengan didampingi para ustadz dan ustadzah di tempat mereka belajar, dari wajah-wajah mereka terlihat sekali antusias mereka untuk membacakan puisi yang telah mereka ciptakan. "Lomba ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dunia tulis-menulis yang melekat pada diri anak-anak di Papua. Khususnya anak-anak muslim," begitu penjelasan ketua Panitia Lomba, bapak Hamzah Edoba.

Sebelum membuka lomba, pihak Kementerian Agama Kab. Sorong yang pada pagi itu diwakili oleh bapak Supriyanto, dalam sambutannya lebih fokus memberikan semangat kepada masyarakat suku Kokoda.

"Suku Kokoda yang akan datang harus berubah. Harus lebih maju. Tapi perubahan dan kemajuan itu tidak boleh dengan menjadi orang lain. Maksudnya, tetaplah menjadi orang Kokoda yang maju. Misalnya tetap selalu memakai bahasa Kokoda. Jangan lantas maju, kemudian tidak lagi memakai bahasa Kokoda. Jangan lantas maju, memakai bahasa "gue", "elu". Tetaplah jadi Kokoda. Jangan jadi Kokoda-Jawa, Kokoda-Bugis, Kokoda-Batak atau Kokoda-kokoda yang lain. Banggalah menjadi orang Kokoda," papar Kepala Bagian Pendidikan Islam Kementerian Agama ini agak panjang lebar.

Lomba yang berakhir hingga menjelang 'Ashar itu, akhirnya diperoleh enam anak sebagai pemenang lomba. Tiga anak meraih Juara satu, dua dan tiga. Dan tiga anak lagi meraih juara harapan satu, dua dan tiga.

Juara satu berhasil diraih oleh seorang anak yang berasal dari TPA. Al-Muttaqin, yaitu ananda Suci Resky Ramadhani dengan puisi hasil kreatifitasnya yang berjudul "Muhammad, Aku Rindu".

Juara dua diraih oleh ananda Syifa'us Sariroh dari Madrasah Diniyyah Syarifah Ibrahim dengan puisi karyanya yang berjudul "Matahari Dunia".

Juara tiga direngkuh oleh ananda Kartika Apria Ningrum yang berasal dari TPA. Baitur Rahim dengan puisinya ciptaannya yang berjudul "Nabi Tercintaku".

Masing-masing juara ini mendapatkan piala, souvenir dan beberapa rupiah untuk modal pengembangan diri mereka dalam menggeluti dunia listerasi, khususnya sastra, dan terkhusus lagi sastra puisi.

Adapun Juara Harapan 1 diraih oleh ananda Nur Afifah Nanda Riyanti dengan puisi karyanya yang berjudul "Kerinduan Bertemu Rasulullah SAW." Dia berasal dari TPA. Nurul Hidayah.

Sedangkan Juara Harapan 2 dan 3 berasal dari Madrasah Diniyyah yang sama, yaitu dari Madrasah Diniyyah Adz-Dzakirin. Berturut-turut Juara Harapan dua dan tiga yaitu ananda Previ Nur Ismawati dengan karya puisinya yang berjudul "Kelahiran Sang Nabi" dan ananda Dwi Putri Ayu Astuti yang karya pusinya berjudul "Nabi Yang Mulia". Masing-masing Juara Harapan ini mendapatkan piagam penghargaan serta souvenir.

Selain ke-enam anak tersebut, semua peserta lomba juga diberi Sertifikat sebagai penghargaan panitia lomba terhadap partisipasi seluruh peserta lomba yang berjumlah 48 anak ini.

"Insya Allah lomba ini akan kami selenggarakan tiap tahunnya pada tiap kali perayaan kelahiran manusia termulia di bumi ini, yaitu baginda sayyidina Nabi Muhammad SAW.", ucap Nikson Daat sekretaris panitia lomba yang sekaligus layouter buletin An-Nahdlah tersebut.[]
(Redaksi MP)
Read More

Tokoh Nasional Hadiri Haul 8 Tahun Gus Dur


muslimpribumi.com, Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan haul ke-8 Gus Dur juga dihadiri oleh sederet tokoh-tokoh nasional selain ribuan masyarakat umum yang memadati lokasi acara di Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (22/12) malam.

Di antara tokoh nasional yang hadir, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri, tokoh NU Sulawesi Selatan Anregurutta Sanusi Baco, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Panglima TNI periode lalu Jenderal Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Mahfud MD, KH Husein Muhammad, dua Cagub Jawa Timur Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa serta para ulama dan habaib.

Dikonfirmasi oleh NU Online, Ketua Panitia Pelaksana Haul ke-8 Gus Dur, Yenny Wahid mengutarakan, pada momen haul tahun 2017 ini, nilai-nilai kebijaksanaan Gus Dur dalam kehidupan agama, bangsa, dan negara harus terus dihidupkan.

Hal itu, menurutnya, praktik nyata perjuangan dan pengabdian Gus Dur demi bangsa dan negara. “Ini sesuai dengan tema haul, Semua Demi Bangsa dan Negara,” ujar Yenny singkat di sela-sela kesibukannya mengomandani kegiatan haul.

Tema tersebut sengaja dipilih sekaligus sebagai bahan refleksi untuk semua elemen bangsa. Bahwa perspektif dan pilihan politik siapa pun boleh saja berbeda. Sebagaimana agama, suku, dan ras juga tidak semua sama. 

”Namun, semuanya tetap harus disatukan oleh keinginan membangun bangsa, bukan hanya memenangkan kepentingan pribadi dan golongannya saja,” imbuh Direktur Eksekutif Wahid Foundation itu. 

Selain diisi pembacaan tahlil dan istighotsah, acara haul dimeriahkan penampilan Queen Marry, grup biola asal Temanggung, Jawa Tengah, dan grup musik kawakan Bimbo.

Haul di Ciganjur ini sekaligus menandai diselenggarakannya haul Gus Dur di seluruh penjuru tanah air. Beragam bentuk penghormatan dalam rangka haul Gus Dur ini, baik dalam bentuk khataman Al-Qur’an, semaan, istighotsah, tahlil, pertunjukkan seni hingga seminar dan diskusi.

Sumber www.nu.or.id
Read More

Maulid


muslimpribumi.com - Sebagaimana telah kita ketahui dan sudah kita imani bersama bahwa orang yang telah membawa agama mulia yang kita peluk ini, yaitu Islam, adalah Muhammad bin Abdullah. Seorang manusia agung yang terlahir dari rahim Sayyidatina Siti Aminah binti Wahb.

Beliau lahir pada hari Senin, malam 12 Robi'ul Awwal tahun Gajah. Disebut dengan tahun Gajah karena pada tahun tersebut Abrahah Al-Asyram, penguasa Yaman, sedang berusaha menyerang Mekah untuk menghancurkan Ka'bah dengan pasukan gajahnya. Dan hal ini telah diabadikan oleh Allah SWT. dalam Al-Qur'an surat Al-Fiil.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW. ini disambut gembira oleh kakeknya, yaitu Abdul Muththolib. Dialah yang memberi nama seorang bayi yang telah menjadi yatim sejak berumur dua bulan dalam kandungan ibundanya ini dengan nama “Muhammad”.

Tidak hanya kakeknya saja yang gembira atas kelahiran Rasulullah SAW. ini. Pamannya, yaitu Abu Lahab, karena saking gembiranya mendengar kabar kelahiran Rasululullah SAW. ini, seketika pun langsung memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah yang telah memberinya kabar tersebut.

Kendati Abu Lahab adalah dedengkot orang kafir dan telah dikecam dalam Al-Qur'an sebagai orang celaka, karena kegembiraannya ini, dia dapat keringanan siksaan pada tiap hari kelahiran Nabi SAW. ini, yaitu tiap hari Senin.

Sebagai umat Islam, tentunya kita semua juga sangat gembira atas lahirnya Nabi kita ini. Tanpa beliau, pasti kita semua masih hidup dalam kejahiliyahan hingga hari ini. Ibarat film , beliau adalah pahlawan kita. Super hero kita semua.

Dalam kitab Haulal-Ihtifal Bidzikril Maulidin Nabawi Asy-Syarif, Sayyid Muhammad bin 'Alawi Al-Maliki Al-Hasani mengatakan bahwa 
kegembiraan atas keberadaan Rasulullah SAW. merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh agama. Firman Allah SWT., “Qul bifadllillaahi wabirohmatihi fabidzaalika falyafrohuu ,” katakanlah bahwa dengan anugerah Allah SWT. dan dengan rahmat-Nya, supaya berbahagia-lah mereka semua.

Ibnu Abbas RA. mengatakan bahwa yang dimaksud dengan anugerah dalam ayat diatas adalah ilmu. Sedangkan yang dimaksud dengan rahmat adalah Nabi Muhammad SAW.

Tentu saja setiap orang mempunyai cara berbeda-beda dalam mengekspresikan kegembiraan. Rasulullah SAW. sendiri dalam mensyukuri kelahiran beliau ini yaitu dengan berpuasa. Pernah suatu hari beliau ditanya oleh seorang sahabat yang mendapati beliau sedang berpuasa dihari senin. Beliaupun menjawab bahwa hari itu adalah hari kelahiran beliau.

Bergembira atas lahirnya Rasulullah SAW. dengan meniru beliau dengan berpuasa, tentu sangat baik. Kendati demikian, melakukan hal lain selama tidak menyimpang dan menyalahi aturan agama juga tidak apa-apa. Terlebih bila yang dilakukan itu terbukti baik dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. serta menambah syi'ar Islam. Seperti berkumpul untuk berdzikir, membaca Al-Qura'n, sholawatan, mendengar kisah-kisah mulia beliau, bersedekah atau lainnya.

Bersyukur dan bergembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. alangkah baiknya dilakukan setiap saat. Akan tetapi, lebih dianjurkan lagi 
pada setiap hari Senin dan setiap bulan Robi'ul Awwal. Sebab, hal itu adalah berkaitan dengan ketepatan waktu kelahiran Rasulullah SAW. 
Karena itu, para ulama dan kiai-kiai kita telah mengajari kita semua pada tiap hari Senin malam untuk melakukan pembacaan sholawat bersama-sama di Musholla, Masjid dan tempat lainnya. Juga melakukan hal yang sama ketika datang bulan Robi'ul Awwal selama sebulan penuh.

Tetapi sayang, kelihatannya lambat laun tradisi yang mulia ini mulai berkurang dilaksanakan dimana-mana. Semakin hari semakin meredup dan perlahan menghilang entah karena apa. 
Meskipun demikian, tiap bulan Robi'ul Awwal tiba kita masih bisa melihat kaum muslimin dimana-mana bersuka cita merayakan kelahiran Rasulullah SAW. dengan berbagai rangkaian acara.

Bukankah kita selalu bersuka cita ketika tiba hari kelahiran anak, istri atau suami kita tercinta? Bukankah kita selalu memperingati kelahiran orang-orang terdekat yang kita cintai dan sayangi itu dengan minimal membuat pesta ala kadarnya?

Kalau terhadap mereka saja kita bersuka cita karena kelahirannya, tentu terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. kita juga sudah sepatutnya melakukan hal yang sama. Sebab, mereka dan Nabi Muhammad SAW. adalah orang-orang yang kita cintai bukan?

Akhirnya, al-mar-u ma'a man ahabbah, seseorang akan dikumpulkan bersama dengan orang yang dicintainya. Semoga di akhirat kelak kita semua dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Termasuk dan terlebih dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Amin. Wallaahu a'lam.

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Gus Mus Raih Yap Thiam Hien Award 2017

Gus Mus dalam acara Sastra Pelataran di Semarang
              
rumahnahdliyyin.com - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan Gus Mus terpilih sebagai peraih Yap Thiam Hien Award tahun 2017.

Kiai yang akrab dengan Gus Dur ini dinilai sudah memperjuangkan hak asasi manusia melalui ajaran agamanya.

Ada 5 orang dewan juri Yap Thiam Hien Award pada tahun ini. Mereka adalah Makarim Wibisono (diplomat senior), Siti Musdah Mulia (Ketua Umum ICRP), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K. Susilo (aktivis perempuan dan anak) serta Todung Mulya Lubis (Ketua Yayasan Yap Thiam Hien).

Proses penentuan peraih Yap Thiam Hien Award 2017 diawali dengan mengumpulkan kandidat yang dihimpun dari jaringan/komunitas dan masyarakat luas sejak Mei 2017.

Awalnya, ada 34 nama yang muncul dan terus mengerucut hingga menjadi 4 nama.

"Akhirnya, pada sidang dewan juri kedua yang dilaksanakan 11 Desember 2017, kami sepakat memilih KH. Ahmad Mustofa Bisri sebagai peraih Yap Thiam Hien Award 2017," kata Todung Mulya Lubis saat jumpa pers bersama dewan juri lainnya di Jakarta pada Kamis, 21 Desember 2017.

Todung mengatakan, Gus Mus memang tidak pernah dikenal sebagai aktivis hak asasi manusia. Ia lebih dikenal sebagai kiai, pimpinan pondok pesantren, dan budayawan.

"Namun buat saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang hak asasi manusia," kata Todung.

Todung mengatakan, Gus Mus juga telah berjasa memperkuat hak beribadah dalam keyakinan setiap pribadi masing-masing.

Gus Mus adalah muslim toleran yang menghargai agama minoritas, bahkan aliran kepercayaan yang statusnya tidak diakui pemerintah.

"Dia tidak bersuara lantang seperti Munir, Yap Thiam Hien, ataupun Adnan Buyung. Tapi dalam puisi, dalam ceramahnya, selalu meneguhkan komitmen untuk pluralitas dan kemajemukan," kata Todung.

Todung menambahkan lagi, terpilihnya Gus Mus juga mempertimbangkan konteks politik Indonesia kekinian. Kondisi dimana agama kerap dijadikan alat politik untuk meraih kekuasaan.

"Dia concern dan prihatin melihat agama dipolitisasi, dijadikan alat politik. Dia tidak mengerti kenapa agama masuk dalam politik dengan vulgar," kata Todung.

Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2017 ini rencananya akan diserahkan langsung kepada Gus Mus dalam sebuah acara seremoni yang digelar pada 24 Januari 2018 mendatang.


Sumber: kompas.com
Read More

Gus Mus - Akhlaq Sebagai Inti Islam


muslimpribumi.com - Islam itu "innama bu'itstu liutammima makaarimal-akhlaaq." Simak selengkapnya tausiyah singkat dari KH. A. Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam video ini. pada pokoknya, pada intinya adalah akhlaq. Sabda Nabi Muhammad SAW.

Read More

Yang Membatalkan Wudlu’



muslimpribumi.com - Setelah menyampaikan fardlu-fardlu wudlu’ pada kesempatan sebelumnya, kali ini akan disampaikan hal-hal yang dapat membatalkan wudlu’ yang jumlahnya ada empat, yaitu:

  1. Sesuatu yang keluar dari qubul maupun dubur. Baik hal-hal yang wajar seperti air kencing, kentut, maupun hal-hal yang tidak wajar semisal cacing, batu, besi, emas, bahkan walaupun yang keluar itu berupa makanan yang enak atau lainnya.
  2. Hilangnya akal dengan sebab apapun. Seperti gila, ayan, mabuk, tidur dan lain sebagainya. Untuk tidur, ada yang bisa tidak membatalkan wudlu’, yaitu apabila tidurnya dengan posisi duduk dan itupun bila pantatnya tidak bergeser yang dapat memungkinkan keluarnya angin darinya atau semisalnya.
  3. Bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahrom yang sudah baligh. Artinya, bersentuhan kulit dengan orang yang halal untuk dinikahi tanpa penghalang kain atau semisalnya. Jadi, tidak apa-apa bersentuhan kulit dengan lawan jenis jika masih bayi atau anak-anak yang belum baligh.
  4. Menyentuh qubul atau dubur manusia dengan telapak tangan atau jemari bagian dalam. Termasuk juga qubul maupun duburnya sendiri. Yang dimaksud dengan bagian dalam yaitu bagian telapak tangan dan jemari yang apabila kita tempelkan kedua telapak tangan kita, bagian itu tidak terlihat dari luar.

Jadi, apabila sehabis wudlu’ kemudian kita mengalami hal-hal sebagaimana tersebut diatas, maka wudlu’ kita telah batal. Dan kita harus berwudlu’ lagi apabila kita ingin melakukan ibadah yang ibadah itu mensyaratkan pelakunya harus suci terlebih dahulu dari hadats kecil.

Demikian kiranya paparan yang bisa kami berikan. Meski singkat, semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Amin.
Wallahu a’lam. []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Ahlussunnah wal-Jama'ah


rumahnahdliyyin.com - Baginda Nabi Muhammad SAW. dalam sebuah hadits telah bersabda, "iftaroqotil-yahuudu 'alaa ihdaa wasab'iina firqotan, wan-nashooroo 'alaa itsnaini wasab'iina firqotan. Wasataftariqu ummatii 'alaa tsalaatsin wasab'iina firqotan. An-naajiyatu minhaa waahidatun. Walbaaquuna halkaa. Qiila: waman an-naajiyatu? Qoola: ahlussunnati wal-jamaa'ati. Qiila: wamaa ahlussunnati wal-jamaa'ati? Qoola: maa ana 'alaihi wa ashhaabii."

Kaum Yahudi telah terberai menjadi 71 kelompok. Sedangkan kaum Nasrani telah terbelah menjadi 72 kelompok. Adapun umatku (sabda Nabi Muhammad SAW.) akan terpecah menjadi 73 kelompok yang mana hanya satu kelompok saja yang selamat dan sisanya binasa. Ada sahabat yang bertanya: "Siapa kelompok yang selamat itu?" Rasulullah SAW. menjawab: "Yaitu ahlussunnah wal-jama'ah." Ada sahabat yang bertanya lagi: "Apa itu ahlussunnah wal-jama'ah?" Jawab Rasulullah SAW.: "Yaitu apa yang aku berada diatasnya bersama para sahabatku."

Apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. diatas, kian hari kian tampak benderang. Macam-macam golongan dalam Islam sudah banyak kita temukan. Bermunculan subur bagai jamur di musim penghujan. Masing-masing kelompok saling klaim sebagai pihak ahlussunnah wal-jama'ah sebagaimana yang disebut oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. sebagai satu-satunya golongan yang selamat.

Pengklaiman semacam ini sangatlah wajar. Setiap kelompok tentu merasa dan ingin kelompoknyalah sebagai kelompok yang benar. Menjadi kelompok yang selamat sebagaimana yang diisyaratkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dengan ahlussunnah wal-jama'ah. Justru yang tidak wajar adalah apabila ada kelompok yang mengklaim diri sebagai kelompok yang sesat dan akan binasa dalam api neraka.

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa ahlussunnah wal-jama'ah adalah orang yang mengikuti Rasulullah SAW. dan para sahabatnya. Jadi, apabila ada kelompok-kelompok yang mengaku dan mengklaim diri sebagai ahlussunnah wal-jama'ah, maka kita bisa mengamati mereka apakah mereka mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. atau tidak. Atau, malah sebaliknya mereka menentang dan mengingkarinya.

Jika ternyata kelompok tersebut terbukti mengikuti apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW., maka kita harus mengamatinya lagi apakah mereka juga mengikuti para sahabat Nabi SAW., atau tidak. Atau, jangan-jangan malah mereka justru mencela dan memaki para sahabat.

Jika dalam pengamatan sudah terbukti dengan validitas yang terjamin bahwa kelompok tersebut memang mengikuti ajaran Rasulullah SAW. dan para sahabatnya, maka tidak disangsikan lagi bahwa kelompok tersebut adalah kelompok ahlussunnah wal-jama'ah yang telah disebutkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. sebagai satu-satunya kelompok yang selamat.

Namun, untuk mengidentifikasi dengan tepat dan benar dengan validitas yang terjamin bahwa suatu kelompok benar-benar telah mengikuti Rasulullah SAW. dan para sahabatnya bukanlah perkara yang sederhana. Tidak semudah seperti kita semua bisa mengenali mana kopi dan mana susu ketika keduanya disuguhkan kepada kita. Membutuhkan beberapa bidang keilmuan yang harus dikuasai untuk melakukan ini.

Nah, bersyukurlah kita semua bahwa para ulama' sudah jauh hari mengkaji perihal ini. Sehingga kita semua tidak harus melakukan pengidentifikasian hal ini sendiri-sendiri. Terlebih kebanyakan dari kita hanyalah orang awam yang tidak mempunyai keilmuan yang mumpuni untuk hal ini. Juga tentu saja kebanyakan dari kita tidak punya cukup waktu untuk hal ini.

Al-Hafidh Murtadlo Az-Zabidi telah mengatakan bahwa apabila disebutkan "ahlussunnah wal-jama'ah" maka yang dimaksud adalah Asy'ariyah dan Maturidiyah. Maksudnya, orang-orang yang mengikuti aqidah Imam Abu Hasan Al-Asy'ari (wafat 324 H) dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi (wafat 333 H). Hal ini dikarenakan beliau berdualah yang menjelaskan aqidah ahlussunnah wal-jama'ah ketika merebak berbagai aliran dalam Islam seperti Jabariyah, Qodariyah, Mu'tazilah, Musyabbihah, dan lain sebagainya. Dari sinilah sehingga ashlussunnah wal-jama'ah dinisbatkan pada nama kedua Imam mulia ini.

Perlu diketahui, pengikut kedua Imam ini sangatlah banyak. Ada ratusan juta umat Islam di seluruh dunia. Termasuk para pengikut madzhab fiqih Syafi'i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Dengan kata lain, pengikut Imam Asy'ari dan Imam Al-Maturidi merupakan mayoritas muslim dunia. Apa mungkin ada yang salah dari sesuatu yang diikuti oleh mayoritas orang dari waktu ke waktu? Sehubungan dengan hal ini Kanjeng Nabi Muhammad SAW. telah bersabda, "Innallaaha laa yajma'u ummatii 'alaa dlolaalatin. Wayadullaahi 'alal-jamaa'ati," Sungguh Allah SWT. tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan. Dan pertolongan Allah SWT. akan diberikan kepada jama'ah.

Sebagaimana kita amati dan lihat bersama, dewasa ini animo umat Islam bangsa ini terhadap agama Islam sangat luar biasa. Hal ini seharusnya merupakan suatu indikasi yang positif. Namun, sebagaimana kita saksikan bersama, yang terjadi justru adalah sebaliknya. Negara ini dibuat gaduh karenanya. Bila ditelusuri, ternyata yang bikin gaduh adalah kelompok Islam minoritas. Suatu kelompok yang sering sekali dengan mudah menuduh pihak lain diluar kelompok mereka sebagai pelaku syirik dan bahkan kafir. Dan bila ditelusuri lebih jauh, ternyata mereka bukanlah pengikut Imam Asy'ari dan Imam Al-Maturidi. Padahal, setiap saat mereka dengan lantang mengklaim diri sebagai ahlussunnah wal-jama'ah. Parahnya, mereka juga mensesat-kafirkan kedua Imam yang menjelaskan aqidah ahlussunnah wal-jama'ah.

Akhirnya, marilah kita yang awam ini hendaknya mengikuti para ulama' yang sudah terbukti keilmuannya. Dengan demikian, kita semua bisa membentengi diri dan tidak terbawa masuk ke dalam kelompok-kelompok yang mengaku sebagai ahlussunnah wal-jama'ah padahal sejatinya bukan ahlussunah wal-jama'ah. Dan semoga Allah SWT. senantiasa menghindarkan kita semua dari kelompok-kelompok tersebut. Amin. Wallaahu a'lam. []

Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Gusmus - Keistimewaan Nabi Muhammad SAW


rumahnahdliyyin.com - Keistimewaan Kanjeng Nabi Muhammad SAW oleh K.H. Musthofa Bisri (Gusmus)


Read More

PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Kejadian yang sangat viral pada saat ini adalah adanya penceramah agama yang tidak kompeten di salah satu TV Nasional, sehingga mengundang keprihatinan ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (LD. PBNU), KH. Maman Imanul Haq.

Kiai Maman juga menegaskan bahwa TV adalah media yang efektif ditonton dan mempengaruhi pola pikir masyarakat umum. "Apabila tayangan ceramah keagamaan yang berkualitas dengan materi dakwah yang transformatif dan aktual disuguhkan oleh penceramah yang kompeten, maka akan mengukuhkan nilai agama yang menjadi spirit perubahan dan perdamaian. Sebaliknya, bila materi ceramah yang hanya tekstual, tidak komprehensif dikarenakan ketidak-kompetenan dan cenderung menyalahkan kelompok yang berbeda, maka akan mempengaruhi masyarakat untuk saling membenci dan akan membingungkan umat," ujarnya.

Kejadian kurang bagus ini menarik perhatian bersama-sama dengan ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) LTN PBNU, Cak Usma, untuk memberikan solusi terhadap penyediaan ustadz penceramah yang memiliki kompetensi keagamaan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang membutuhkan, termasuk stasiun televisi.

"Pada saat ini telah disediakan dan terus dikembangkan website layanan Syi'ar Digital Nahdlatul Ulama' dengan alamat www.nahdlatululama.id yang menyediakan daftar profil ustadz dari berbagai propinsi dengan beragam keilmuan agama yang secara video ditampilkan di kanal video http://youtube.com/nahdlatululama sehingga memudahkan masyarakat perkotaan dan perkantoran dalam mencari ustadz," lanjut Cak Usma.

Dalam kesempatan setelah penyerahan daftar profil 30 ustadz muda NU ke stasiun TV, LDNU dan LTNNU menyepakati secara sinergis dan berkala akan menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk terus mengembangkan kegiatan syiar dakwah NU secara berkesinambungan, termasuk di dalamnya untuk melakukan visit media dan penawaran kepada para pihak yang membutuhkan para ustadz penceramah yang berkompeten, memberikan solusi keagamaan dengan penuh rahmat, serta memberikan dampak sosial yang membawa perbaikan bagi peradaban.[]
Read More

Fardlu Wudlu'


rumahnahdliyyin.com - Wudlu’ merupakan bentuk sesuci dari hadats kecil. Ibadah-ibadah yang mensyaratkan harus suci dari hadats kecil terlebih dahulu dalam pelaksanaannya, maka seseorang harus melakukan wudlu’ terlebih dahulu.

Sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, wudlu’ juga memliki tatacara. Dalam kesempatan kali ini, akan disampaikan tentang fardlu-fardlu wudlu’ yang jumlahnya ada enam, yaitu:
  1. Niat. Niat dalam wudlu’ berada dalam hati dan pelaksanaanya yaitu ketika membasuh wajah. Sedangkan melafadhkannya adalah sunah. Adapun niat wudlu’ yaitu: nawaitul-wudluu’a lirof’il-hadatsil-ashghori fardlol-lillaahi ta’aala
  2. Membasuh wajah. Bagian wajah yang harus dibasuh yaitu dari atas ke bawah mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala hingga habis janggut. Sedangkan bagian samping yaitu mulai dari pentil telinga kiri hingga pentil telinga yang kanan.
  3. Membasuh kedua tangan. Bagian tangan yang harus dibasuh yaitu mulai dari ujung-ujung jari tangan hingga siku.
  4. Mengusap sebagian kepala. Bagian kepala yang harus diusap bisa bagian mana saja dari kepala, asal bagian itu masih merupakan tempat dimana rambut tumbuh.
  5. Membasuh kedua kaki. Bagian kaki yang harus dibasuh yaitu mulai dari ujung-ujung jari kaki hingga betis.
  6. Tertib. Yaitu berurutan. Artinya mendahulukan yang harus didahulukan dan mengakhirkan yang memang akhir.
Mengingat enam hal diatas merupakan fardlu dalam wudlu’, maka apabila salah satu dari enam hal diatas ada yang terlewati, maka wudlu’ yang dilakukan tidak sah.
Akhirnya, meski ringkas, semoga apa yang disampaikan diatas cukup bisa dipahami dan memberikan manfa’at. Amin.
WAllâhu a’lam.


*Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Masyarakat suku Kokoda, Papua Barat, sedang mengaji

rumahnahdliyyin.com - Dewasa ini, kita kerap mendengar ajakan agar kita, umat Islam, kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dalam ceramah-ceramah agama, baik di majlis-majlis maupun di media elektronik dan sosial, banyak yang menyerukan akan hal ini. Ajakan ini memang sangat mulia. Sangat ideal dan tepat karena memang pegangan atau sumber utama ajaran umat Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Perlu kita pahami bahwa kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits bukan berarti kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits versi terjemahan. Hal inilah yang dewasa ini justru banyak terjadi dikalangan kaum muslim. Tidak sedikit diantara mereka yang beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah apa yang didapatinya dari hasil pembacaannya terhadap Al-Qur’an versi terjemahan. Begitu pula dengan Al-Hadits.

Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagaimana yang telah diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Sekali lagi, bukan kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits versi terjemahan. Setelah Nabi Muhammad SAW. wafat, runtutan untuk mengetahui Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sejati yaitu kepada para sahabat yang merupakan murid Rasulullah SAW. Lalu kepada murid para shahabat yaitu para tabi’in. Kemudian kepada para tabi’it-tabi’in, dan terakhir yaitu kepada para ‘ulama’. Inilah mata rantai umat Islam untuk mempelajari dan memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sebenarnya. Karena itu, dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW. telah bersabda: “Al-‘ulama’ warotsatul-anbiya’”, ‘ulama’ adalah pewaris para Nabi.

Mata rantai ini, dalam tradisi Islam, disebut dengan sanad. Tiap ‘ulama’ pasti punya sanad keilmuan dari para gurunya, para gurunya dari para gurunya, terus demikian hingga tersambung kepada para sahabat dan akhirnya kepada Rasulullah SAW.

Pendek kata, untuk mengetahui Al-Qur’an dan Al-Hadits yang sesungguhnya, umat Islam sekarang ini harus belajar dari para ‘ulama’ yang memiliki sanad jelas hingga Rasulullah SAW. semacam ini. Tidak cukup belajar dari terjemahan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Apalagi hanya dari internet yang tidak jelas. Ketidakcukupan ini dapat dibuktikan oleh adanya upaya dari para ‘ulama’ yang melahirkan kitab-kitab tafsir yang tebal dan berjilid-jilid.

Terjemah dan tafsir tentu beda. Terjemah hanya berisi sebatas alih bahasa. Sedangkan tafsir memuat kandungan isi dan makna. Oleh karena itu, tidak setiap muslim mampu dan boleh mentafsir Al-Qur’an mengingat untuk menjadi mufassir itu tidak sembarangan. Ada syarat-syarat keilmuan yang harus dikuasainya. Diantaranya yaitu ilmu gramatikal bahasa Arab (Nahwu, Shorof, dll), ilmu Balaghoh, mengetahui sebab-sebab turunnya ayat, mengetahui nashikh-mansukh, dll.

Satu ironi kiranya bila ada seorang muslim yang tidak menguasai disiplin ilmu-ilmu sebagaimana diatas, lantas hanya berbekal Al-Qur’an dan Al-Hadits terjemahan sudah berani memfatwakan suatu hal dengan mengatasnamakan berdasar Al-Qur’an dan Al-Hadits. Bila ada muslim yang demikian, sejatinya dia tidak menyelesaikan suatu masalah. Sebaliknya, yang ada justru bisa jadi malah akan menimbulkan kebingungan, kerancuan dan keresahan umat.

Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik, berkata: “Al-isnadu minad-din, walau lal-isnadu laqala man sya’a ma sya’a”, sanad adalah bagian dari agama. Andai tidak ada sanad maka orang akan seenaknya mengatakan apa yang dikehendakinya.

Bahkan Al-Qodli Abu Bakar Al-Arabi dalam kitabnya mengatakan bahwa Allah SWT memuliakan umat Islam dengan sanad yang tidak dimiliki oleh agama Nasrani dan Yahudi.
Terkait dengan hal ini, Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf ayat 4, yang berbunyi “u’tuni bikitabin min qobli hadza au atsarotin min ‘ilmin in kuntum shodiqin”.

Menurut Laits As-Samarqandi, ‘ulama’ ahli tafsir, kalimat “au atsarotin min ‘ilmin” adalah “periwayatan dari Nabi dan para ‘ulama’”. Hal ini senada dengan pendapat Mujahid yang menafsirinya dengan “periwayatan dari orang-orang sebelumnya”. Begitu pula Imam Qurtubi dalam tafsirnya juga berpendapat mengenainya sebagai “suatu pengetahuan dari orang-orang terdahulu dengan sanad yang shahih sampai kepada mereka yang mendengarkan secara langsung”.

Urgensitas sanad selain untuk menjaga otentitas ajaran Islam juga berfungsi untuk melindungi umat Islam sendiri dari apa yang telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yaitu dari api neraka. Sebab, beliau dalam sebuah hadits telah mengancam kepada siapa saja yang mengatasnamakan beliau apa-apa yang tidak pernah beliau kerjakan dengan api neraka. Hadits itu berbunyi “man yaqul ‘alayya maa lam aqul falyatabawwa’ maq’adahu min-nar,” barangsiapa mengatakan sesuatu atas namaku yang tidak aku katakan, maka hendaklah orang itu menyiapkan tempat duduknya di neraka.

Sekali lagi, jargon kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah jargon ideal yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam. Akan tetapi, bagaimana caranya kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sementara pembawa Al-Qur’an dan siempunya hadits sudah tiada 1400-an tahun yang lalu?

Jawabnya, tentu bukan dengan membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits versi terjemah. Melainkan tidak lain dan tidak bukan adalah dengan belajar kepada para ‘ulama’ yang memiliki sanad keilmuan hingga baginda Nabi Muhammad SAW. Atau dengan kata lain yaitu di Pondok Pesantren yang jelas-jelas kiainya punya sanad hingga Rasulullah SAW.

Dari sini, semoga kita tidak salah kaprah menyikapi terhadap jargon ajakan kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits yang akhir-akhir ini banyak diserukan dimana-mana. Semoga Allah SWT. senantiasa melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman. Amin. Wallahu a’lam. []

Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Kisah Masa Kecil Rasulullah bersama Ibunya


rumahnadhliyyin.com - Sebagaimana tradisi suku Quraisy dan kabilah arab pada umumnya, pada hari kedelapan selepas dilahirkan oleh Siti Aminah, Muhammad kecil harus diungsikan ke pedalaman dan baru akan dikembalikan ke ibunya ketika kelak berusia delapan atau sepuluh tahun. Tentu hal ini membuat Siti Aminah gundah. Tapi, tradisi tetaplah tradisi, mau nggak mau harus tetap dilaksanakan.

Aminah pun sadar, ini penting untuk ia lakukan. Ia pun mengikhlaskan putranya untuk dikirim ke pedalaman. Lagipula ia tahu bawah tujuan dikirimkannya  supaya kemampuan berbahasa sang anak bagus—di pedalaman bahasa yang digunakan adalah bahasa arab asli, belum campuran dan bukan bahasa pasar (fusya)—dan bisa mencecap udara pedalaman yang bersih, tidak seperti di kota yang dianggap telah tercemar.

Di pedalaman itu, Muhammad kecil diasuh oleh Halimah bint sa’diyah selama tiga tahun. Muhammad pun tumbuh menjadi anak yang cepat tanggap, telaten dan jujur. Ia juga kerap membantu temannya yang kesusahan dan selalu bersikap bersahaja walaupun ia terkenal memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan anak seumurannya, apalagi ia adalah  keturunan salah satu suku terpandang di kabilah arab. Hal itu membuatnya disukai banyak orang. Tak terkecuali teman sebayanya.

Suatu ketika, saat ia bermain bersama anak-anak lain, ia didatangi oleh dua orang berbaju putih. Ia pun sempat bertanya, tapi tidak dijawab. Dua orang itu berkata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh Muhammad  kecil.

Sontak, hal ini pun membuatnya ketakutan. Tak terkecuali teman-temannya.  Mereka pun berlari mendatangi  rumah Halimatus Sa’diyah dan melaporkan peristiwa yang terjadi.

“Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki telah diambil oleh dua orang laki-laki,” ujar salah seorang dari mereka, agak berteriak.
Halimah pun agak terkaget. Tapi, ia berusaha tetap tenang.

“Apa benar yang kau katakan?”

“Benar. Dan ia telah dibaringkan di sebuah batu, perutnya dibedah  sambil dibolak-balikkan.”

Seketika itu pula wajah Halimah pucat. Ia pun berlari menuju tempat yang diceritakan itu. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di tempat yang diceritakan itu.

Di sana, ia melihat Muhammad yang terdiam, Halimah pun berusaha menenangkannya.

“Apa yang telah terjadi, Anakku.”

Muhammad melihat wajah Halimah. Kemudian merangkulnya. Lalu, dengan agak terbata-bata ia menjawab,”Dua orang itu berbaju putih. Ia berusaha mengambil sesuatu dari tubuhku.”

“Apakah itu?”

“Aku tidak tahu, Ibu.”

Halimah pun merangkulnya sekali lagi. Ia pun sebenarnya ketakutan dan takut jika anak ini sedang kesurupan atau ada keanehan lain yang tidak mengerti. Untuk itu, ia bersepakat dengan keluarganya untuk mengembalikan Muhammad kecil ke Makkah.

Kelak, selepas Muhammad kecil tumbuh dewasa dan diangkat menjadi Rasul, baru ia mengerti bahwa dua orang berbaju putih itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah Swt. untuk mencari dan mengangkat keburukan dalam dirinya.

*Diceritakan ulang dari biografi Sejarah Hidup Muhammad karya Mohammad Husain Haekal
Read More