Bid'ah



muslimpribumi.com - Diantara perihal agama yang sejatinya telah usang, namun hingga hari ini tak pernah bosan dan jemu untuk selalu dibahas dan diperdebatkan adalah soal bid’ah. Yaitu suatu hal baru yang notabene belum pernah ada contohnya pada masa Baginda Nabi Muhammad SAW.
Tidak sedikit sabda-sabda Baginda Nabi Muhammad SAW. yang berkaitan dengan bid’ah. Diantaranya yaitu “Kullu muhdatsatin bid’atun wakullu bid’atin dlolaalatun wakullu dlolaalatin fin-naar,” setiap hal baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan ada di neraka.

Ada lagi yang berbunyi, “man sanna fil-islaami sunnatan hasanatan falahu ajruhaa wa ajru man ‘amila bihaa ba’dahu min ghoiri an-yanqusho min ujuurihim syaiun. Waman sanna fil-islaami sunnatan sayyiatan kaana ‘alaihi wizruhaa wawizru man ‘amila bihaa ba’dahu min ghoiri an-yanqusho min auzaarihim syaiun,” Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala dari apa yang telah diperbuatnya itu sekaligus pahala orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang yang mengikutinya itu. Dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka ia mendapat dosa atas perbuatan  itu  sekaligus  dosa  orang-orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa orang-orang yang mengikutinya itu.

Dari dua hadits ini, secara gamblang dapat terbaca bahwa antara hadits pertama dan hadits kedua seperti ada pertentangan. Hadits pertama Baginda Nabi Muhammad SAW. menyatakan bahwa semua bid’ah merupakan kesesatan yang imbalannya adalah neraka. Sedangkan hadits yang kedua malah menginformasikan bahwa orang yang membuat bid’ah akan mendapat pahala. Dengan catatan, bid’ah yang dibuat itu merupakan bid’ah yang baik. Bukan bid’ah yang buruk.

Terkait pertentangan kedua hadits ini, para ulama’ menjelaskan bahwa hadits yang pertama substansinya bersifat global yang masih membutuhkan perincian. Dan hadits kedua-lah perinciannya. Sebab, sesuatu yang mustahil apabila Baginda Nabi Muhammad SAW. tidak konsisten dalam bersabda.

Karena itu, para ulama’ sepakat membagi bid’ah menjadi dua. Yaitu bid’ah baik dan bid’ah buruk. Misalnya, Imam Syafi’i. Beliau menyebut bid’ah yang tidak sesuai Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ sebagai bid’ah dlolaalah atau bid’ah buruk. Sedangkan bid’ah yang tidak menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ sebagai bid’ah yang tidak tercela atau bid’ah baik. Demikian pula pendapat ulama’-ulama’ lain yang kedalaman ilmunya tidak diragukan lagi seperti Imam Baihaqi, Imam Nawawi, Imam Ibnu Atsir, dan lain-lain.

Perlu diketahui, orang pertama yang melakukan suatu hal baru yang selama Baginda Nabi Muhammad SAW. tidak pernah melakukannya adalah para sahabat yang termasuk khulafaur-rosyidin. Andai semua bid’ah adalah kesesatan, tentu tidak mungkin sahabat-sahabat utama itu melakukannya. Sebab, Baginda Nabi SAW. juga menyuruh kita untuk mengikuti mereka sebagaimana dalam sabda beliau, “’alaikum bisunnatii wasunnatil-khulafaair-roosyidiina min-ba’dii,” hendaklah kalian berpegang pada sunahku dan sunah khulafaur-rosyidin setelahku.

Zayd bin Tsabit suatu ketika didatangi oleh Abu Bakar dan ‘Umar bin Khoththob. Waktu itu Abu Bakar sedang menjabat sebagai khalifah.

Kepada Zayd bin Tsabit, Abu Bakar berkata: “Sungguh, ‘Umar bin Khoththob telah datang padaku dan berkata bahwa sesungguhnya perang di Yamamah telah merenggut nyawa para penghafal Al-Qur’an. ‘Umar khawatir kalau hal itu terus berlangsung akan sangat banyak orang yang hafal Al-Qur’an yang akan mati. ‘Umar menyarankan kepadaku agar aku mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an. Tapi, aku mengatakan pada ‘Umar, bagaimana mungkin aku melakukan suatu hal yang Rasulullah SAW. tidak melakukannya? ‘Umar menjawab, demi Allah SWT., ini demi kebaikan dan merupakan kebaikan. ‘Umar pun tidak henti-henti meyakinkanku hingga Allah SWT. menjernihkan dadaku dan sependapat dengan saran ‘Umar ini.”

Abu Bakar berkata lagi kepada Zayd bin Tsabit: “Engkau adalah lelaki yang masih muda, cerdas, tak pernah berbuat jahat dan telah mencatat wahyu untuk Rasulullah SAW. Maka, ikutlah sekarang. Kumpulkan dan tulislah Al-Qur’an.

Zayd bin Tsabit berkata: “Demi Allah SWT., apabila dibebankan kepadaku untuk memindahkan sebuah gunung dari gunung-gunung itu tidak terasa lebih berat daripada perintahmu kepadaku untuk mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an ini. Bagaimana kalian berdua (Abu Bakar dan ‘Umar bin Khoththob) berbuat suatu hal yang Rasulullah SAW. tidak melakukannya?”

Abu Bakar pun menjawab pertanyaan Zayd bin Tsabit ini sebagaimana jawaban ‘Umar bin khoththob ketika menyarankan hal ini kepadanya: “Demi Allah SWT., ini demi kebaikan dan merupakan kebaikan,”

Selain itu, Abu Bakar juga tak henti-hentinya meyakinkan Zayd bin Tsabit hingga akhirnya Allah SWT. menjernihkan dadanya sebagaimana Allah SWT. telah menjernihkan dada Abu Bakar dan ‘Umar bin Khoththob terkait masalah ini sebelumnya.

Zayd bin Tsabit pun kemudian mulai mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an. Dan proses ini akhirnya rampung pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Tholib serta seluruh sahabat rodliyallahu ‘anhum.

Dari hal baru yang dilakukan oleh para sahabat inilah akhirnya kita hari ini bisa menikmati hasilnya, yaitu wujud Al-Qur’an yang sudah dalam bentuk buku.

Akhirnya, meski ringkas, penjelasan tentang bid’ah ini semoga dapat dipahami serta bermanfaat. Dan semoga Allah SWT. senantiasa menjauhkan dan melindungi kita semua dari bid’ah yang buruk dan menuntun kita untuk selalu mendekat dan melaksanakan bid’ah yang baik. Amin.
Wallahu a’lam.[]


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *