rumahnahdliyyin.com - Membenarkan merupakan arti iman secara bahasa. Sedangkan menurut syari’at Islam, iman berarti membenarkan semua hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dan pembenaran itu harus diyakini didalam hati, diikrarkan pada lisan dan seluruh anggota tubuh harus melaksanakannya sebagai cerminan atau bukti bahwa apa yang diyakini dalam hati dan diikrarkan di lisan itu adalah benar adanya.
Pertama dan yang utama yang harus diimani oleh seseorang yang mengaku sebagai orang yang beriman adalah mengimani Allah SWT. Baik mengimani secara terperinci dengan sifat-sifat wajib-Nya yang berjumlah 20, sifat jaiz-Nya yang hanya satu, dan sifat mustahil-Nya yang juga berjumlah 20, maupun mengimani secara global bahwa Allah SWT. adalah Maha Sempurna yang tiada banding.
Dalam kitab Kaasyifatus-Sajaa disebutkan bahwa barang siapa yang meninggalkan empat kata dalam mengimani Allah SWT., maka sempurnalah imannya. Empat kata tersebut yaitu “dimana”, “bagaimana”, “kapan” dan “berapa”. Maksudnya, apabila ditanyakan, “dimanakah Allah SWT.?” Maka, jawabannya adalah bahwa Allah SWT. itu Maha Suci dari tempat dan waktu.
Hal ini senada dengan perkataan salah seorang sahabat Rasulullah SAW. yang juga menantu beliau, yaitu sayyidina 'Ali bin Abi Tholib krw. bahwa Allah SWT. itu sudah ada sebelum ada tempat. Dan sekarang (setelah Allah SWT. menciptakan tempat) Allah SWT. juga ada sebagaimana dulu Dia berada.
Mengenai surat Thooha ayat lima yang berbunyi:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“Allah SWT. Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘arsy," sayyidina 'Ali bin Abi Tholib krw. mengatakan bahwa sungguh Allah SWT. menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya. Bukan menjadikannya sebagai tempat untuk Dzat-Nya.
Lebih lanjut, bapak dari cucu kesayangan Rasulullah SAW. yang dijuluki oleh Nabi SAW. dengan pintunya ilmu ini mengatakan bahwa sungguh Allah SWT. yang menciptakan “tempat”, tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana Dia. Dan Allah SWT. yang menciptakan “bagaimana”, tidak boleh dikatakan bagaimana Dia.
Apabila ditanyakan, “bagaimanakah Allah SWT.?” Maka, jawabannya adalah bahwa Allah SWT. itu Maha Suci dari serupa terhadap sesuatu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya pada ayat ke sebelas dalam surat Asy-Syuuroo:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Allah SWT."
Selanjutnya, apabila ditanyakan, “kapan Allah SWT. itu ada?” Jawabannya yaitu bahwa Allah SWT. itu tiada yang mendahului dan tiada pula yang mengakhiri. Sebab, Allah SWT. adalah Sang Konseptor sekaligus Sang Kreator kehidupan ini. Jadi, mustahil Allah SWT. itu ada yang mendahului dan ada yang lebih akhir dari-Nya.
Dan yang terakhir, apabila ditanyakan, “berapakah Allah SWT.?” Maka jawabannya adalah bahwa sungguh Allah SWT. itu Maha Esa. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Juga tidak bergantung pada selain-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ikhlash:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah, hai Muhammad SAW., bahwa Dia adalah Allah SWT. Yang Maha Esa."
Demikianlah cara kita sebagai orang beriman untuk mengimani Allah SWT. sebagaimana pandangan para ‘ulama ahlus-sunnah wal-jama’ah. Dalam mengimani Allah SWT., kita tidak boleh memikirkan tentang Dzat-Nya atau Sosok-Nya. Sebab, nalar kita tidak akan mampu menangkap dan mencerna.
Andai kita sebagai manusia memikirkan dan membayangkan sosok Allah SWT. seperti sosok manusia seperti kita, misalnya Allah SWT. memiliki dua tangan dan dua kaki, maka kambing yang juga makhluk ciptaan-Nya tentu akan membayangkan sosok Allah SWT. sebagaimana sosoknya yang punya empat kaki. Sungguh Allah SWT. itu Maha Suci dari penyerupaan apa pun dan tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Akhirnya, semoga apa yang disampaikan ini cukup bisa dipahami, dimengerti dan bermanfaat kepada kita semua. Dan semoga kita semua dimasukkan oleh Allah SWT. kedalam golongan orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan iman yang sesungguhnya. Amin.
waLlaahu a’lam. []
* Oleh: Agus Setyabudi, Aktifis Muda NU di Papua.
