Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

muslimpribumi.com, Probolinggo - Ahad, 18 Februari 2018, di aula Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, digelar acara “Ngaji Medsos" dengan tema “Santri Milenial, Cerdas Bermedia Sosial."

Peserta yang hadir ada ratusan santri mahasiswa yang merupakan perwakilan dari sejumlah pesantren yang tergabung dalam Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia.

Hari Usmayadi (ketua LTN PBNU), Mohamad Sururi (redaktur TV9), Muhamad Yasir Arafat (CEO Ala Santri), dan Mahfudz Sunarjie (jurnalis NET TV) menjadi narasumber dalam acara tersebut. Dan Arief Hidayat (jurnalis Kompas TV) sebagai moderatornya.

“Kegiatan ini bisa memberikan wawasan baru bagi mahasiswa dalam dunia medsos agar bisa berjejaring positif dan menjadi buzzer dalam penyebaran konten positif," kata Nur Fadli Hidayat, Wakil Rektor III, dalam sambutannya yang mewakili Rektor Universitas Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid.

Acara ini digelar lantaran munculnya fenomena massifnya berita hoax yang gampang dan cepat beredar luas. Belum sempat melakukan klarifikasi satu isu, sudah timbul isu lain.

Melihat hal tersebut, Nurul Jadid akan mengawali sistem media centre yang akan menjadi corong bagi pesantren. “Ini bisa menjadi pilot project atau percontohan bagi seluruh pesantren di Indonesia," imbuh Fadli.

Dalam presentasinya, Hari Usmayadi, Ketua LTN PBNU, menjelaskan perlunya pesantren membuat media centre. Strukturnya terdiri dari diagram cyber. Ada Steering Commitee, ada unit advokasi dan unit pengkaderannya. “Dalam unit pengkaderan ini diperlukan training atau pelatihan khusus untuk membentuk unit rekrutasi peserta baru," paparnya.

“Ini perlu penguatan konten. Penguatan literasi dan penguatan pengetahuan. Sebagai penguatan media counter agar bisa menyeimbangi berbagai isu yang sedang viral. Adapun kunci aktivitasnya antara lain yaitu pusat informasi. Pusat kontrol. Dan unit rekrutasi atau pengkaderan," tambahnya.

Lalu, bagaimana mengelola isu? Ini harus ada penguatan tim. Tim yang handal akan mudah mengelola isu dan menyiapkan isu tandingan.

Bagaimana mengcounter berita hoax yang tengah viral? Harus ada upaya klarifikasi. Secara judul, berita hoax biasanya bombastis. Isinya hasutan. Foto editan. Sehingga perlu cross-check dengan berita lainnya.

“Tool dakwah terkini adalah Medsos. Maka, perlu penguasaan frame media. Sebab, kondisi saat ini telah masuk era perang semesta. Semua orang diajak untuk terlibat media sosial. Mengkonsumsi informasi media. Disinilah perlunya upaya klarifikasi terhadap informasi yang beredar itu,” pungkas Cak Usma, sapaan akrab ketua LTN PBNU itu.


*Sumber: nuruljadid.net
Read More

Hukum Bagi Pengucap "Nabi Tak Bisa Wujudkan Rahmatan lil-'Alamin"


Jam'iyyah Musyawarah Riyadhotut Tholabah (JMRT), PP. Alfalah, Ploso, Kediri, menggelar acara Bahtsul Masail Kubro Antar pesantren Se-Jawa-Madura ke XX.

Hasil acara yang diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2018 itu dengan rincian sebagai berikut:

Deskripsi masalah:
Lagi-lagi, media sosial dihebohkan oleh seorang muballigh yang membuat blunder saat ceramah di acara Muktamar di salah satu ormas di Riau. Ia mengatakan bahwa "Nabi Muhammad tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-'alamin selama 40 tahun. Bahkan setelah turun wahyu selama 13 tahun, Nabi Muhammad juga tidak bisa mewujudkan rahmatan lil-'alamin karena berada dibawah tekanan. Ditekan oleh orang-orang yang tidak senang kapada wahyu yang ia terima, maka rahmatan lil-'alamin tidak terwujud diatas muka bumi Allah SWT."

Ia juga berkata: “Kapan rahmatan lil-'alamin itu dapat diwujudkan? Bukan dengan kenabian. Bukan dengan Al-Qur'an ditangan. Tapi, setelah tegaknya Khilafatin Nubuwwah."

Dia mengatakan bahwa "tidak ada yang dapat mewujudkan rahmatan lil-'alamin selain Khilafatin Nubuwwah, Khilafah ‘ala Minhajin-Nubuwwah (Sambil dijawab dengan teriakan takbir)."

“Jika seluruh umat tidak memperdulikan khilafah ini, maka dia sudah menyia-nyiakan pesan Nabi Muhammad SAW.," ujarnya.

Dia menambahkan, “Dosa terbesar dalam umat ini bukanlah minum khamr. Karena dia akan mabuk untuk dirinya sendiri. Andai ada orang berzina, mungkin madlarat itu hanya untuk mereka berdua dan keluarganya. Tapi, ketika khilafah ini disia-siakan, maka tak terwujudnya rahmatan lil-'alamin dirasakan oleh mulai dari sejak ikan lumba-lumba yang dipertontonkan ditengah anak-anak yang mestinya mendapatkan keadilan, sampai kepada anak yatim. Anak yang dalam fitroh, sampai ke alam semesta tidak mendapatkan rahmatan lil-'alamin. Apa sebabnya? Karena tidak tegaknya khilafah (teriakan takbir)," jawabnya.

Perkataan yang digaris bawahi itulah yang menyebabkan kontra dikalangan netizen. Dan tak sedikit dari netizen yang menganggap muballigh tersebut telah menghina Nabi Muhammad SAW., dan bahkan apa yang disampaikan terkesan mendukung gerakan ormas tersebut.

Pertanyaan:
Apakah peryataan yang disampaikan oleh muballigh yang digaris bawahi dianggap menghina Nabi Muhammad SAW.?

Jawaban:
Konten/isi pernyataan muballigh tersebut, secara dhohir dianggap menghina Nabi. Hanya saja, jika muballigh tidak ada tujuan menghina, maka tidak sampai dihukumi kufur, tapi haram. Sebab, tidak sesuai dengan tafsir para ulama’.

Referensi:
1. Fatawi Haditsiyah juz 1, hal. 161.
2. Tafsir Rozi juz 11, hal. 80.
3. Al-Fatawi Al-Kubro juz 4, hal. 236.
4. Faidlul-Qodir juz 1, hal. 172.
5. Al-Bahrul Madid juz 2, hal. 297.
6. Al-Mausu’ah Quwaitiyah juz 7, hal. 99.

Mushohih:
Gus H. Ali saudi
K. Su’ud abdillah
K. Hadziqunnuha
K. Sa’dullah

Perumus:
Gus H. Kanzul Fikri
Ust. Bisri Musthofa
Ust. Muhammad Anas
Ust. Shihabudin Sholeh
Ust. Ali Maghfur
Ust. A. Fadlil
Ust. M. Halimi
Ust. Fahrurrozi

Moderator:
M. Alamur Rohman

Notulen:
Hadziqunnuha
M. Iqbal

Read More

Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat


Penggunaan ayat suci sebagai topeng untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, termasuk pemerintahan yang berbentuk khilafah Islamiyah, sudah terjadi sejak zaman khulafaur rasyidin. Seperti terlihat pada sejarah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Tersebutlah nama Abdullah bin Saba', seorang oposan dan pemberontak yang terus melakukan provokasi pada ummat Islam untuk melakukan makar dan melawan semua kebijakan khalifah Utsman. Provokasi dilakukan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an.

Seperti di catat oleh para ahli sejarah Islam, ketika khalifah Utsman mengeluarkan kebijakan membuat ladang khusus untuk unta-unta sedekah yang terlarang untuk umum, para oposan ini menentang dengan menggunakan surat Yunus, ayat 59, sebagai alat legitimasi.

Berlagak sebagai pembela Islam dan penegak ayat suci, mereka mendatangi khalifah Utsman. Dengan suara lantang dan garang mereka berkata: "Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah engkau telah mendapatkan izin dari Allah untuk melakukan hal ini? Engkau telah melakukan tindakan yang mengada-ada terhadap hal yang tidak ditentukan Allah."

Dengan tenang Khalifah Utsman menjawab: "ayat tersebut diturunkan dalam konteks yang lain, bukan dalam masalah seperti ini. Umar bin Khatthab sudah melakukan hal ini sebelumnya. Dia membatasi tanah khusus untuk unta-unta zakat lalu aku menambahnya untuk unta sedekah yang semakin banyak".

Para oposan yang sudah terpenjara teks dan mabok kekuasaan ini, tidak dapat menerima penjelasan yang diberikan oleh khalifah Utsman. Mereka terus mengobarkan permusuhan dan fitnah pada pemerintah yang sah dengan mengobral ayat-ayat Al-Qur'an meski pemerintahan sudah berbentuk khilafah. Fitnah dan provokasi ini berujung pada pembunuhan khalifah Utsman.

Hal yang sama juga terjadi pada khalifah Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat di tangan Abdurrahman ibn Muljam. Seorang muslim yang digambarkan oleh sejarawan Islam, Adz-Dzahabi, sebagai sosok ahli ibadah, hafal dan ahli baca Al-Qur'an, hingga mendapat julukan Al-Muqri'.

Pemahaman keagamaan yang tekstual-skripturalis telah menimbulkan sikap keras pada diri Ibn Muljam sehingga menganggap sayyidina Ali sebagai orang kafir yang layak dibunuh karena tidak menjalankan hukum Islam.

Semangat membunuh Sayyidina Ali ini makin berkobar ketika dia bertemu dengan seorang perempuan cantik yang juga berniat makar lantaran dendam pada khalifah Ali.

Perempuan cantik ini bernama Qathami binti Syijnah. Dia dendam pada sayyidina Ali karena suadaranya terbunuh dalam perang Nahrawan. Perempuan ini mau dinikahi Ibn Muljam dengan syarat dia harus membunuh sayyidina Ali.

Dengan semangat keislaman yang tekstual-puritan dan didorong oleh semangat cinta yang membara, Ibn Muljam semakin mantap niatnya untuk "berjihad" membunuh sayyidina Ali yang dianggap kafir karena tidak menerapkan hukum Allah.

Pemahaman Ibn Muljam ini berdasar pada ayat; "barangsiapa yang tidak menggunakan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah SWT. (Al-Qur'an/syari'at Islam), maka mereka itulah orang-orang kafir" (QS al-Maidah: 44).

Dalam kitab sejarah Islam disebutkan, saat membunuh Ali bin Abu Thalib, Ibn Muljam berkata: "tidak ada hukum, kecuali hukum Allah SWT. Hukum bukan milikmu dan orang-orangmu (wahai Ali). Kemudian dia mengutip surat Al-Baqarah, ayat 207: "Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah. Dan Allah maha penyantun pada hamba-Nya".

Dengan mengutip ayat ini, Ibn Muljam merasa bahwa tindakannya membunuh sayyidina Ali merupakan pengorbanan diri untuk mendapat ridla Allah dan menjadi hamba yang disantuni Allah.

Tindakan ini menjadi cikal bakal tindak kekerasan yang dilakukan oleh kaum radikal-intoleran. Mereka menggunakan ayat-ayat suci untuk makar dan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham. Tindakan ini terus berulang dalam sejarah Islam hingga saat ini.

Para ulama' telah melakukan upaya membendung politisasi ayat yang melahirkan sikap intoleran dan destruktif ini. Mereka menyusun berbagai argumen dan pemahaman teologis yang juga bersumber dari Al-Qur'an dan Hadits untuk melawan tindakan kekerasan atas nama agama ini.

Paham keagamaan tekstual-puritan yang radikal dan intoleran ini terus menggerogoti pemikiran dan kesadaran umat Islam. Seperti virus dan racun menggerogoti daya tahan tubuh.

Seperti halnya melawan virus dan racun dalam tubuh, maka untuk melawan pemahaman tekstual-puritan yang intoleran dan penuh kekerasan, diperlukan daya tahan diri yang kokoh melalui penanaman ideologi Islam yang rahmatan lil'alamin. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mensosialir secara massif pemahaman keagamaan yang toleran, manusiawi dan penuh kedamaiaan.

Kedua, membangun keadaban kritis masyarakat terhadap penggunaan simbol, ritual dan ayat-ayat suci dalam praktik politik melalui data-data sejarah. Sebagaimana disebutkan diatas, secara historis, ayat-ayat dan simbol agama sangat rentan dimanipulasi dan dijadikan topeng untuk memenuhi ambisi politik dan tindak kekerasan.

Ketiga, melakukan tindakan tegas terhadap upaya penyebaran virus dan racun kekerasan agama. Ini perlu dilakukan sedini mungkin sebelum virus dan racun ini menyebar ke masyarakat sehingga sulit dikendalikan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, tindakan deteksi dini dan memberangus virus ini merupakan keniscayaan. Karena virus radikal dan intoleran yang penuh dengan tindakan kekerasan ini tidak saja mengancam kebhinnekaan, tetapi juga kemanusiaan. Tindakan tegas perlu dilakukan sebelum bangsa ini hancur terjebak dalam konflik yang tidak terkendali.


* Oleh: Al-Zastrouw Ngatawi, Dosen Pasca Sarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.
Read More

Tasawuf Pancasila


Seharusnya, umat Islam tidak perlu lagi mempersoalkan posisi antara agama dan negara. Menurut penulis, masalah agama dan negara itu sudah selesai secara politis ketika pendiri bangsa menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Pancasila adalah dasar negara. Sedangkan Islam merupakan akidah yang harus dipedomani. Pancasila mengakui dan menghormati nilai-nilai ketuhanan dan keagamaan dalam islam. Pancasila telah mampu berdampingan dengan agama Islam dan agama lainnya di Indonesia.

Begitulah memang bahwa sejatinya napas atau ruh dari Pancasila itu sendiri ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama (aturan Tuhan) telah hadir dimuka bumi menjadi satu paket dengan proses penciptaan manusia itu sendiri. Oleh karenanya, ketika siapapun mempersoalkan eksistensi agama (dengan produk peradabannya) dan atau akan memisahkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan agama, sama halnya memisahkan ikan dengan air. Atau memisahkan manusia (mahluk hidup) dengan oksigen.

Dengan demikian, Pancasila dan Agama tidak sekadar dapat berdampingan. Justru lebih dari itu, dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, Pancasila akan kehilangan makna jika tidak dijiwai dan atau mengejawantahkan nilai-nilai kebenaran universal agama (Ketuhanan) itu sendiri.

Substansi dari agama yang diturunkan oleh Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa ialah untuk menjamin tata kehidupan manusia yang berkeadaban secara holistik integral jauh dari tirani dan eksploitasi antara satu dengan yang lain, baik dalam konteks individual maupun komunal. Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum bagi bangsa Indonesia menempatkannya sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis. Sehingga setiap materi muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Hal inilah kemudian yang belakangan sempat menjadi perdebatan ketika lahirnya regulasi (perda) berbasis syari’ah dipandang tidak selaras dengan Pancasila. Padahal, ketuhanan adalah inti dari Pancasila itu sendiri. Ketika sebuah sistem dibangun berdasarkan ketuhanan, insya Allah sudah secara otomatis akan melindungi harkat martabat kemanusian dan keadilan sosial sekaligus.

Jika dilihat dari aspek sejarah, para ulama' Islam memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai contoh, peran pendahulu Nadhlatul Ulama', KH. Wahid Hasyim, yang memiliki komitmen kebangsaan saat terlibat langsung dalam menyiapkan kemerdekaan Indonesia bersama Soekarno, Mohammad Hatta dan tokoh lainnya. Kalau warga NU ditanya, pilih Islam atau Pancasila, ya dua-duanya. Islam dan Pancasila itu sejalan. Islam itu aqidah, sedangkan Pancasila itu dasar negara. Tidak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila.

Sebagai negara berideologi Pancasila, Indonesia bukanlah negara sekuler atau negara yang memisahkan antara agama dengan negara. Disisi lain, negara kebangsaan Indonesia yang ber-Pancasila juga bukan negara agama atau negara yang berdasarkan atas agama tertentu. Negara Pancasila pada hakekatnya adalah negara kebangsaan yang Berketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila dan ajaran Islam sama-sama mengajarkan budi pekerti luhur. Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia adalah objektivikasi ajaran Islam. Jika dihayati dengan benar, pancasila juga bisa menjadi pengendali tingkah laku. Karena pancasila juga berisi ajaran moral.

Pancasila merupakan cerminan ajaran Al-Qur'an, tetapi dibahasakan dengan budaya setempat. Sehingga bisa diterima oleh kelompok Non-Muslim sekalipun.

Beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam adalah Pancasila bukan agama dan tidak bisa menggantikan agama. Pancasila bisa menjadi wahana implementasi Syari'at Islam. Pancasila dirumuskan oleh tokoh bangsa yang mayoritas beragama Islam. Selain hal-hal di atas, keselarasan Pancasila dengan ajaran Islam juga tercermin dari kelima silanya yang selaras dengan ajaran Islam.

Islam mengajarkan sebuah ajaran kerohaniaan yang disebut dengan tasawuf. Tasawuf menekankan pentingnya manusia untuk mengenal Tuhannya, yang pada implikasinya akan bisa mengendalikan tingkah lakunya. Ajaran tasawuf lebih menekankan pada pendidikan hati, pengamalan dan penghayatan terhadap agama yang dalam hubungan sosial akan mengakibatkan terkendalinya tingkah laku maupun perbuatannya karena senantiasa merasa melihat ataupun dilihat oleh Tuhannya.

Setidaknya ada dua makna yang disebut dengan Tasawuf Pancasila. Pertama, Tasawuf Pancasila adalah dimana nilai Islam dan kebangsaan berpadu dalam cinta dan perdamaian dengan ungkapan ad-diin huwa al-hubb, agama adalah cinta. Inilah perangkat moral dan etik untuk mengajarkan nilai dasar Islam sebagai agama yang membawa kedamaian, mengajarkan cinta dan kasih sayang.

Kedua, Tasawuf Pancasila sebagai spiritualitas baru diharapkan menjadi energi gerak kolektif bangsa Indonesia untuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Pancasila dan tasawuf sama-sama sebagai penegak moral. Pancasila dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan, sedangkan tasawuf dalam konteks keagamaan.

Pancasila dan Tasawuf sebagai sama-sama penegak moral, maka menarik untuk bagaimana melihat Pancasila dalam perspektif Tasawuf sebagai inti dari ajaran Islam, karena penekanan dari ajaran Tasawuf ialah konsep ihsan, yaitu selalu merasa melihat atau dilihat oleh Allah SWT. yang pada implikasinya dapat mengendalikan tingkah laku maupun perbuatannya dalam hubungan sosial, berbangsa, dan bernegara.

Ketiga, Konsep Tasawuf Pancasila adalah dimana agama dan negara tidak bisa dipisahkan dalam sejarah bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia hari ini memerlukan sosok yang bisa menjadi jembatan antara ketiga konsep tersebut. Saat ini Indonesia mulai kehilangan sosok yang mampu menjembatani antara Pancasila, agama dan negara.

Saya berharap kepada organisasi kemasyarakatan yang berbasis agama, seperti NU, Muhammadiyah, Mathla’ul Anwar, dan lain-lain, harus berperan aktif dalam membumikan Tasawuf Pancasila ini.

Untuk itu, ayo mari saya mengajak sahabat untuk ber-Tasawuf Pancasila. Karena penulis adalah sebagai pendidik, dalam mimbar ini setidaknya memberikan sumbangsih saran, yaitu: kita harus ada kesadaran kolektif, terkhusus dari lingkungan pendidikan. Misal, perguruan tinggi dengan menggagas wacana diskusi dan implementasi mengenai peran Tasawuf Pancasila sebagai memanifestasi rahmatan lil alamin. Rahmat untuk seluruh umat manusia melalui cinta dan perdamaian.

Menurut penulis, ini penting. Keterlibatan “orang-orang tercerahkan” itu akan meneguhkan sinergitas dan integrasi dua arus pendekatan sekaligus, yaitu: teoretis dan praktis, ilmi dan amali.


* Oleh: Eko Supriatno, penganggit buku “Politik Zaman Now”, tenaga ahli DPRD Provinsi Banten.
Read More

Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam


Gala Dinner, Asia Liberty Forum 2018, Oriental Mandarin Hotel, Jakarta, 11 Februari 2018.

(Jangan kuatir, dibawah teks Inggris ini ada terjemahan Indonesianya)

"At a think tank last Thursday afternoon in Washington, DC, someone asked me this question: 'You (the Nahdlatul Ulama) represent the majority of Muslims, in the largest Muslim-majority country in the world. Why don’t you want an Islamic state?'

Here is a story::

There is an historic building not far from this hotel—just a 10-12 minute drive—at Jalan Pejambon near Gambir. It was previously called 'Gedung Chuo Sangi In'—a Japanese term. Now it is called “Gedung Pancasila.”

There is a room in that building where—if you had entered it more than 70 years ago and looked around—you would have seen the dynamics of the entire world at play. That room was full of individuals who embraced all kinds of ideologies and views regarding the future of human civilization. These ranged from Western liberalism to Javanese integralism. From Islamism to Communism. So, the people in that room—Indonesia’s founding fathers—had to find a way to manage their differences, to prevent conflict and violence. That is why—when developing the foundational concept for the Indonesian nation state—the vision they articulated was not limited to Indonesia’s independence: i.e., our right to freedom from colonial occupation and repression.

They also articulated a profound vision for the future of humanity and civilization as a whole. A vision that aspired to promote international stability, security and harmony, based on freedom, enduring peace and social justice. These are all characteristics of nobility. For the vision of Indonesia’s founders was that of a 'noble civilization.'

Since our declaration of Independence in 1945, this vision has been the strongest single factor holding Indonesia, and Indonesians, together. Since Independence we have face countless problems, yet we have prevailed because we have something to unite us and hold on to together. This vision of a noble civilization.

Given the current state of the world, why don’t we—who come from so many different nations, cultures and ethnicities—do the same? Amidst so much diversity, why don’t we embrace the vision of a noble civilization, and nobility of character, as something that can unite all of us on the basis of our shared humanity?

I believe this will not be difficult. Nobility is a simple concept, which all decent people understand. Only cruel and malicious people fail to understand the nature of human nobility.

Nobility is intimately linked to freedom, dignity, compassion and justice. We all know this!

So, when we speak about economics, for example, why don’t we think about a “noble economy?” When we discuss politics, why don’t we think in terms of a “noble politics”? And so forth...."

_____________________________________

Terjemahan:

"Di sebuah lembaga kajian di Washington, Kamis siang yang lalu, seseorang bertanya kepada saya:

'Kalian (Nahdlatul Ulama) adalah mayoritas diantara umat Islam di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Mengapa kalian tidak mau negara Islam?'

Begini ceritanya:

Ada sebuah gedung bersejarah tak jauh dari sini--cuma 10-12 menit--di Jalan Pejambon dekat Gambir. Dulu dinamai Gedung Chuo Sangi In--bahasa Jepang. Sekarang disebut Gedung Pancasila.

Di gedung itu ada satu ruangan yang--jika Anda memasukinya lebih dari 70 tahun yang lalu dan melihat sekeliling ruangan--Anda akan menyaksikan dinamika seluruh jagad tergambar disitu. Ruangan itu dipenuhi orang-orang yang menganut segala macam ideologi dan pandangan tentang masa depan peradaban umat manusia. Dari liberalisme Barat sampai integralisme Jawa. Dari Islamisme sampai komunisme. Maka, orang-orang di ruangan itu--para Bapak Pendiri Indonesia--butuh menemukan cara untuk mengelola perbedaan-perbedaan diantara mereka agar tidak terjadi konflik dan kekerasan. Itulah sebabnya--ketika mereka menyusun konsep landasan bagi Bangsa dan Negara Indonesia--visi yang mereka bangun tidak terbatas hanya tentang kemerdekaan Indonesia, yaitu hak kami untuk merdeka dari penjajahan dan penindasan.

Mereka mengajukan visi yang agung tentang masa depan kemanusiaan dan peradaban secara keseluruhan. Suatu visi yang ditujukan untuk mendorong stabilitas, keamanan dan harmoni internasional, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini semua adalah ciri-ciri kemuliaan. Karena cita-cita para Bapak Pendiri Bangsa ini adalah untuk mencapai "Peradaban yang Mulia".

Sejak Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945, cita-cita agung ini telah menjadi satu faktor paling kuat yang mempersatukan Indonesia beserta segenap bangsanya. Sejak kemerdekaan, kami telah menghadapi berbagai kesulitan yang tak terhitung jumlahnya, tapi kami bertahan karena kami punya sesuatu yang agung sebagai alasan untuk tetap bersatu dalam kebersamaan. Yaitu cita-cita akan peradaban mulia ini.

Mengingat keadaan dunia dewasa ini, mengapa kita--yang datang dari sekian banyak bangsa, budaya dan etnis yang berbeda-beda ini--melakukan hal yang sama? Ditengah begitu banyak perbedaan diantara kita, mengapa kita tidak menjemba cita-cita akan suatu peradaban mulia, dan akhlak mulia, sebagai sesuatu yang bisa mempersatukan kita semua atas dasar kemanusiaan?

Saya yakin ini tidak sulit. Kemuliaan adalah konsep sederhana, yang setiap orang baik-baik pasti memahami. Hanya manusia-manusia jahat dan keji yang gagal paham terhadap makna kemuliaan manusia.

Kemuliaan itu erat kaitannya dengan kemerdekaan, martabat, kasih-sayang dan keadilan. Kita semua tahu ini!

Maka, ketika kita bicara tentang ekonomi, misalnya, mengapa kita tidak berpikir tentang 'perekonomian yang mulia'? Ketika kita mendiskusikan politik, kenapa kita tidak berpikir tentang 'politik yang mulia'? Dan seterusnya...."


Oleh: KH. Yahya Cholil Tsaquf, Katib 'Aam PBNU dan Pengasuh PP. Raudlatul Thalibien, Leteh, Rembang.
Read More

KH. Sa'id Aqil Tuntun Syahadat Warga Amerika


muslimpribumi.com, Jakarta - KH. Sa'id Aqil Siroj, Senin, 12 Februari kemarin, menuntun langsung Diddens Raymond Dale untuk masuk Islam. Hal seperti ini sudah kesekian kalinya dilakukan oleh kiai yang juga ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (PBNU) ini terhadap banyak orang yang hendak masuk Islam

Bertempat di lantai tiga gedung PBNU, Jakarta Pusat, kiai Sa'id membimbing pemuda berkewarganegaraan Amerika Serikat ini menjadi muallaf. Sebagai saksi dalam prosesi sakrak ini yaitu Ketua PBNU KH. Abdul Mannan Ghani dan H. Eman Suryaman.

Sesaat sebelum menuntun pembacaan dua kalimat syahadat, kiai Sa'id memberi nasihat kepada pria kelahiran 27 Desember 1972 ini. Menurut kiai Sa'id, prinsip agama Islam itu sederhana. Yaitu percaya kepada Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi Allah.

"Sangat sederhana. Tuhan hanya satu. Tidak punya ibu dan tidak punya bapak," demikian tutur KH. Sa'id Aqil Siroj pada pria berambut pirang itu sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Selepas menuntun membaca dua kalimat Syahadat, kiai Sa'id pun memberi nama tambahan "Ahmad" pada nama mu'allaf Amerika itu. Jadi, namanya menjadi "Ahmad Diddens Raymond Dale". Selain itu, kiai Sa'id juga memberikan Al-Qur'an yang sebagaimana telah kita ketahui bersama merupakan kitab sucinya umat Islam.

Dalam kesempatan itu, turut hadir menyaksikan pula yaiti Ketua PBNU H. Marsudi Syuhud, H. Hanief Saha Ghofur, Ketua LAZISNU Syamsul Huda, dan Ketua PP. Fatayat NU Anggia Ermarini.


Editor: Agus Sb.
Sumber Foto: nu.or.id
Read More

KH. Saifuddin Amsir Ajak Mencintai NU


muslimpribumi.com - KH. Saifuddin Amsir, mengajak jama'ah Majelis Ta'lim Ahad Pagi Masjid Ni‘matul Ittihad untuk terlibat aktif dalam kegiatan Nahdlatul Ulama'. Beliau mengajak segenap jama'ah majelis ta'lim supaya berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan ke-NU-an.

Demikian disampaikan Kiai Saifuddin Amsir di sela pengajian Ahad pagi di Masjid Ni‘matul Ittihad Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad pagi, 11 Februari kemarin.

“Sebandel apapun kita, harus cinta NU,” kata Kiai Saifuddin Amsir.

Ia menceritakan bagaimana para kiai di Jakarta dahulu melibatkan diri dalam gerakan NU, sebuah gerakan Ahlussunnah wal Jama'ah.

“Guru-guru kita dulu terlibat aktif dalam NU. Ente kudu jadi pengurus NU. Kita harus cinta pada NU,” kata kiai Saifuddin Amsir.

KH. Saifuddin Amsir adalah Rais Syuriyah PBNU 2010-2015. Di Masjid Ni'matul Ittihad Pondok Pinang pada pengajian Ahad pagi, ia mengajar Kitab Mughnil Muhtaj dan Kitab I‘jazul Qur'an.


* Sumber: nu.or.id
Read More

Jihad Dalam Konteks Negara Bangsa di Era Modern


Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur di PP. Sunan Bejagung Tuban, 10-11 Februari 2018

KOMISI MAUDHU'IYYAH
_________________________

JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA DI ERA MODERN

Mengutip KH. Maimun Zubair:
“Masa sekarang sudah tidak ada khilafah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional … Pada masa sekarang kalau bangsanya tidak dijunjung maka akan runtuh.”

Karenanya, Islam tidak anti terhadap eksistensi negara bangsa sebagaimana yang berkembang dewasa kini. Islam menempatkan negara bangsa sebagai bagian penting sebagai wasilah untuk mencapai kemaslahatan. Berkaitan hal ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyatakan:

فَإِنَّ الْإِسْلَامَ لَا يَأْبَى الْاِعْتِرَافَ بِالتَّنْظِيمِ الدَّوْلِيِّ الْقَائِمِ عَلَى أَسَاسِ الْحُدُودِ الْجُغْرَافِيَّةِ، لِأَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْوَسَائِلِ التَّنْظِيمِيّ 

“Maka sungguh Islam tidak enggan mengakui sistem kenegaraan yang eksis berdasarkan batas-batas geografis, sebab itu bagian dari sistem yang menjadi wasilah (untuk mencapai kemaslahatan manusia).”

Namun demikian, prinsip ini tidak menafikan pembelaan terhadap kaum muslimin yang terzalimi di manapun berada. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa komando perang militer hanya merupakan kewenangan pemimpin pemerintahan dan rakyat harus mentaati kebijakannya. Al-Muwaffiq Ibn Qudamah al-Maqdisi (541-620 H/1146-1223 M) menegaskan:

وَأَمْرُ الْجِهَادِ مَوْكُولٌ إِلَى الْإِمَامِ وَاجْتِهَادِهِ وَيَلْزَمُ الرَّعِيَّةَ طَاعَتُهُ فِيمَا يَرَاهُ مِنْ ذَلِكَ

“Urusan jihad dipasrahkan kepada pemimpin negara dan ijtihadnya, dan rakyat wajib mentaati kebijakannya dalam urusan tersebut.”

Perang militer termasuk bagian dari hukum-hukum kenegaraan. Tidak ada perbedaan pendapat ulama' bahwa siasat perang, deklarasi, gencatan senjata, analisis strategi dan dampaknya, semuanya masuk dalam hukum kenegaraan. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh secara ilegal tanpa izin dan persetujuan pemimpin negara ikut campur atas kebijakannya. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh memerangi orang yang berbeda agama hanya berdasarkan menuruti hawa nafsu.

Kewajiban jihad dalam konteks negara bangsa juga sudah terpenuhi dengan kebijakan negara dalam menjaga kedaulatan, menjaga tapal-tapal perbatasan dan memperkuat struktur kekuatan militer dan semisalnya. Bahkan sebenarnya, kewajiban jihad militer adalah kewajiban yang bersifat sebagai perantara (wasilah), bukan sebagai tujuan senyatanya. Karena maksud utamanya adalah menyampaikan hidayah agama.

Dari sini menjadi jelas, pada hakikatnya karakter dasar Islam adalah agama damai dan selalu mengutamakan upaya-upaya kedamaian sebisa mungkin. Perang merupakan solusi terakhir (tindakan darurat) yang dilakukan untuk menjaga perdamaian dan kemaslahatan umat manusia. Perang merupakan strategi taktis dan hanya dilakukan dalam kondisi darurat untuk menjaga kelestarian umat manusia, mencegah kejahatan dan menolak kezaliman di muka bumi.

Demikianlah hakikat jihad sebenarnya dalam Islam yang sesuai dengan nash-nash fuqaha' dan selaras dengan hadits Nabi SAW.:

لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ العَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللهَ العَافِيَةَ، فَإذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Janganlah kalian mengharap bertemu musuh dan mintalah keselamatan kepada Allah SWT. Namun demikian, bila kalian menemuinya maka bersabarlah.” (Muttafaq ‘Alaih).

Perumus:
KH. Arsyad Bushairi
KH. Azizi Hasbullah
KH. Suhaeri Idrus
K. Fauzi Hamzah Syam
Ahmad Muntaha AM
Ma'ruf Khozin
Faris Khoirul Anam Lc., M.H.I.


Tuban, 11 Februari 2018

PW. LBM NU Jawa Timur

Ketua

ttd.

KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I



Wakil Sekretaris

ttd.

Ahmad Muntaha AM
Read More

Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan


muslimpribumi.com , Sumsel - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, sangat menyayangkan tindakan penyerangan Gereja St. Lidwina Sleman dan penganiayaan terhadap pastor serta jemaat gereja. Pada Minggu pagi tadi, 11 Februari 2018, Gereja St. Lidwina Dk. Jambon, Trihanggo, Kec. Gambing, Kab. Sleman, Yogyakarta, diserang seorang lelaki bersenjata tajam. Penyerang melukai pastor dan beberapa jemaat. Selain itu, penyerang juga melukai seorang polisi yang berusaha mengamankan pelaku.

Menanggapi penyerangan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menyeru gerakan intoleran tidak bisa dibiarkan lagi. "Saya sangat menyayangkan penyerangan yang terjadi di Gereja St. Lidwina, Sleman. Beberapa waktu lalu, terjadi penyerangan kiai di Cicalengka, Jawa Barat. Kalau penyerangan ini terus dibiarkan, akan memecah belah dan berdampak buruk bagi bangsa ini," ungkap Nabil dalam Silaturahmi Pagar Nusa se-Sumatera Selatan, di Tuga Jaya, Ogan Komering Ilir, Sumsel, hari ini.

Nabil Haroen mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 dan 2019, yang dianggap sebagai tahun politik, konsolidasi dan silaturahmi antar elemen warga harus ditingkatkan. "Kemarin kiai yang dibacok, sekarang pastor yang diserang. Ini semacam rangkaian kekerasan yang harus diputus. Tidak sekedar mencari dan menemukan pelaku, tapi memutus jaringan kekerasan ini. Jangan sampai Indonesia kita dibuat keruh oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab," terang Nabil.

Nabil Haroen mengajak warga Nahdliyyin, santri dan bersama warga lintas agama, serta Polri dan TNI, untuk saling menjaga situasi agar tetap kondusif. "Kita jangan sampai kalah dengan kekerasan. Harus ada gerakan bersama untuk memutus mata rantai kekerasan ini. Pagar Nusa sudah menginstruksikan jaringan pendekar untuk merapatkan barisan, konsolidasi dengan warga lintas agama serta simpul-simpulnya untuk saling bekerjasama. Kami juga terus berkomunikasi intensif dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk bersama-sama menciptakan situasi kondusif," jelas Nabil Haroen yang didampingi Emi Sumirta, Ketua PW. Pagar Nusa Sumatera Selatan, Ki Cokro, M. Aziz, Muamarullah dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

"Jangan sampai, situasi politik pada masa menjelang Pilkada, Pilleg, dan Pemilihan Presiden, pada tahun 2018 dan 2019 ini, menjadi turbulensi sehingga dimanfaatkan kelompok yang tidak bertanggungjawab," ungkap Nabil dihadapan ratusan pendekar Pagar Nusa dan antar Perguruan Silat di Ogan Kemiring Ilir.

Nabil Haroen mengajak pada tokoh-tokoh lintas agama untuk saling silaturahmi, untuk menyamakan persepsi menjaga bangsa. "Silaturahmi lintas agama harus diintensifkan antara tokoh maupun antar warganya. Ini penting agar umat antar agama saling bersilaturrahmi. Mari kita tingkatkan ukhuwwah basyariyyah, persaudaraan kemanusiaan kita, untuk menjaga situasi tetap damai. Kalau ukhuwwah ini terjaga, tujuan pelaku kekerasan untuk mencipta situasi chaos, tidak akan tercapai," harap Nabil Haroen.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa akan  menyelenggarakan Silaturrahmi antara ulama, santri dan pemuka lintas agama di beberapa kawasan, untuk keamanan dan persaudaraan kebangsaan. Agenda ini merupakan satu rangkaian dengan Ijazah Kubro Pagar Nusa pada Januari 2018 lalu di Cirebon, Jawa Barat (*).
Read More

Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"


Istilah "taubat", akhir-akhir ini sering digunakan secara salah kaprah dan kurang tepat. Seseorang yang sedang mengalami evolusi pikiran dari satu tahap ke tahap lain, disebut bertaubat. Ini jelas tidak tepat.

Istilah "taubat", bagi saya, jelas tak tepat dipakai dalam konteks evolusi gagasan. Taubat hanya tepat dalam konteks tindakan maksiat. Gagasan bukanlah tindakan maksiat. Gagasan bisa mengalami evolusi dan perkembangan. Itu menandakan bahwa gagasan tersebut dinamis. Gagasan yang tak berkembang adalah gagasan yang jumud. Apakah saat Imam Syafi'i berkembang idenya dari qaul qadim ke qaul jadid, beliau sedang bertaubat?

Apakah ketika Imam Asy'ari berubah pikiran, meninggalkan kubu Mu'tazilah dan bergabung dengan kubu Sunni, beliau bertaubat? Imam Asy'ari menggambarkan perubahan sikapnya itu bukan sebagai taubat. Para ulama' Asy'ariyyah juga tak ada satupun yang menggambarkan perubahan posisi teologis Imam Asy'ari sebagai taubat.

Saya tambahkan lagi: ketika diujung hidupnya Imam Ghazali menempuh jalan sufi, dan meninggalkan jalan-jalan pencarian kebenaran yang lain (yaitu jalan para teolog dan filosof) yang pernah beliau cobai; apakah Imam Ghazali melakukan pertaubatan? Tidak sama sekali. Tak ada yang menggambarkan fase mistik Imam Ghazali diujung hidupnya sebagai fase taubat.

Jika Anda dulu menjadi begal, maling, atau koruptor, lalu menyesali tindakan itu semua dan menempuh hidup baru yang lebih bermoral dan meninggalkan kebiasaan sebelumnya, itu bisa disebut taubat.

Tetapi jika Anda adalah seorang pemikir, lalu pemikiran Anda mengalami evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, itu bukanlah pertaubatan. Pikiran, dimanapun, berkembang. Evolusi pemikiran menandakan bahwa yang bersangkutan berproses, tidak jumud. Tetapi evolusi pemikiran bukanlah pertaubatan.

Ketika seorang saintis mengubah teorinya karena data-data yang baru menyanggah hipotesa dia yang awal, dia tak bisa disebut bertaubat. Dia mengoreksi teorinya, tetapi dia tidak sedang bertaubat.

Ketika Prof. Harun Nasution, diujung karir intelektualnya, menggeluti kajian tasawuf, kita tak bisa menyebut beliau bertaubat. Paling jauh kita hanya mengatakan, Prof. Harun memperluas cakrawala intelektualnya dengan memasuki bidang yang baru. Ketika beliau masuk ke kajian tasawwuf, bukan berarti gagasan-gagasan beliau sebelumnya ditinggalkan. Sama sekali tidak.

Oleh karena itu, saya heran ketika ada yang menyebut bahwa saya sedang bertaubat ketika saya membaca kitab Ihya'. Istilah ini mengandaikan bahwa dengan membaca Ihya', saya meninggalkan gagasan-gagasan saya sebelumnya. Istilah "taubat" secara implisit menyarankan bahwa fikiran-fikiran saya sebelum mengaji kitab Ihya' keliru semua, dan telah saya tinggalkan.

Anggapan ini jelas keliru sama sekali. Saya tak meninggalkan sedikitpun gagasan-gagasan saya selama ini. Saya masih berpegang pada gagasan pokok yang saya "perjuangkan" selama ini: bahwa teks-teks Islam harus terus direkontekstualisasi dan dibaca secara baru sesuai dengan semangat zaman yang terus berubah.

Jika ada hal yang "berubah" pada diri saya, maka hanya dalam perkara berikut ini:

Kaum "pembaharu" yang melakukan kritik atas tradisi dalam Islam harus memiliki dimensi spiritualitas, atau "hikmah" dalam bahasa Qur'an. Inti hikmah adalah "humility" atau sikap rendah hati, "andap asor". Dalam membaca ulang tradisi, sebaiknya kita memiliki sikap "humility" ini. Sikap kritis terhadap tradisi tetap penting. Tetapi kritik itu perlu dilakukan dengan sikap yang "andap asor", tawadlu'. Inilah makna spiritualitas bagi saya. Tanpa sikap semacam ini, kita bisa terjebak pada sikap arogansi. Kadang malah bermusuhan terhadap tradisi secara kurang proporsional.

Jujur saja, saya pernah mengalami fase "arogansi" semacam ini, sebagian besar karena pengaruh munculnya tendensi-tendensi pemikiran keagamaan yang radikal dan cenderung fundamentalistik yang membuat saya marah dan jengkel. Fase arogansi yang pernah menjangkiti saya ini mungkin dipengaruhi juga oleh semacam "youth enthusiasm", semangat kemudaan yang menggebu-gebu---fase yang alamiah dalam perkembangan psikologi seseorang.

Di mata saya, melakukan kritik dan penafsiran ulang atas tradisi tidak mesti dipertentangkan dengan spiritualitas. Keduanya bisa jalan bersamaan. Spiritualitas adalah semangat yang seharusnya melandasi seluruh tindakan kita sehari-hari, dalam bidang apapun.

Bagi saya, bukan tindakan yang hikmah dan "spiritual" saat kita melakukan "konfrontasi intelektual" terus-menerus dengan umat, sehingga konfrontasi itu terkesan seolah-olah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Konfrontasi pada satu fase mungkin diperlukan, tetapi dia haruslah melayani tujuan lebih besar, yaitu transformasi kesadaran umat. Bukan mengalienasikan mereka.

Sekali lagi, saya memaknai spiritualitas sebagai "hikmah", kebijaksanaan yang muncul karena kesadaran yang akut dan mendalam pada diri kita bahwa kita adalah makhluk yang dhaif, lemah, "fallible", bisa berbuat salah; dan hanya Tuhan lah tempatnya segala kesempurnaan.

Kesadaran ini tidak langsung memupus usaha kita sebagai manusia. Kita tetap berusaha, mendayagunakan rasio dan intelek kita untuk mengeksplorasi horison kebenaran hingga batas-batas yang terjauh. Tapi usaha ini tetap harus disertai oleh sikap tawadlu', kerendah-hatian.

Salah satu inti spiritualitas adalah kemampuan untuk menggembosi gelembung ego kita yang bisa membesar, tanpa kontrol, hingga akhirnya merusak diri kita sendiri.

Berpikir rasional dan bersikap spiritual bukanlah dua hal yang bertentangan.

Apakah ini pertaubatan? Menurut saya tidak. Ini adalah evolusi pemikiran ke arah yang (semoga saya tak sedang "sombong" ketika mengatakan ini) lebih matang.

Sekian.

Catatan tambahan:

Saya keliru ketika menyebut bahwa Imam Asy'ari, saat meninggalkan posisi Mu'tazilah, tindakan beliau itu tidak digambarkan oleh para penulis klasik sebagai tindakan "taubat".

Banyak para penulis thabaqat (kamus biografi) menggambarkan perubahan pandangan Imam Asy'ari sebagai pertaubatan.Tetapi contoh-contoh saya yang lain tetap relevan.


* Oleh: Ulil Abshar Abdalla, pemikir atau cendekiawan muslim Indonesia.
Read More