Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat Dari Pesantren


rumahnahdliyyin.com, Serang - Beragam riak dan gejolak kebangsaan yang terjadi di negeri ini, bermuara pada problem ekonomi umat. Karena itu, Pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), KH. Ma’ruf Amin, menginisiasi Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) yang akan dilaunching bersama sejumlah Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Umat (LPEU) oleh Presiden RI Joko Widodo, di Penata, Rabu, 14 Maret 2018, besok.

KMSN dan LPEU yang digerakkan oleh puluhan pesantren tersebut, telah bergerak disejumlah sektor bisnis dan usaha.

“Gerakan ini tidak "ujug-ujug" (tiba-tiba) ada. Ini sudah digelorakan kiai Ma’ruf sejak lama. Secara konseptual dan kodifikasi hukum, kiai memulainya sejak tahun 90-an. Saat itu, beliau mendorong lahirnya perbankan dan lembaga keuangan Syari'ah. Kemudian, sejak didaulat menjadi Rais 'Aam PBNU, beliau menggelar "halaqoh" keliling daerah se-Indonesia. Para kiai Syuriyyah NU dari tingkat Wilayah, Cabang hingga Ranting NU diajak berdialog untuk memetakan persoalan keummatan, sekaligus mendorong para kiai untuk bangkit menata kembali perekonomian umat dari berbagai sektor,” papar Ketua Panitia Grand Launching Pemberdayaan Ekonomi Umat, Uday Abdurrahman, di Penata, Serang, Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Kaleng Penguat Ekonomi Umat
Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Upaya pemberdayaan ekonomi umat tersebut, kata uday, tak bisa dilakukan sendirian atau hanya sekelompok tokoh. Karena itu, Kiai Ma’ruf mendorong pemerintah, tokoh agama dan para pengusaha untuk bersinergi mengintegrasikan komitmen dalam pemberdayaan ekonomi umat.

“Kiai menyebutnya sebagai Arus Baru Ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Gerakan Kiai Ma’ruf Amin, yang kini menjabat sebagai Rais 'Aam PBNU dan sekaligus juga Ketua Umum MUI itu, menurut Uday, bukan tanpa rintangan. Banyak pihak yang awalnya skeptis. Bahkan mencibir.

“Tapi, beliau selalu bilang, yang penting kita bergerak saja. Nanti kalau sudah terlihat hasilnya, yang lain pun akan ikut bergerak. Sebab, di pesantren, kita diajarkan bahwa "alharakah, barakah". Pergerakan akan berbuah berkah,” imbuhnya.

Baca Juga:
Program Pemerintah 1.5 Triliun Tidak Jalan, Gerakan Koin NU Harus Digalakkan

Saat ini, meski belum genap setahun dibentuk, KMSN dan LPEU yang baru beranggotakan 25 pesantren di seluruh Indonesia itu telah bergerak di sejumlah sektor bisnis, yakni sektor jasa keuangan, ritel, budidaya pertanian, perikanan dan peternakan, serta sektor jasa.

“Jadi, pesantren anggota KMSN ini akan jadi percontohan gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Kita sudah bekerjasama dengan Leumart di sektor ritel, REI di sektor properti, C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu dan Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) untuk produk pertanian dan olahan jagung. Dengan REI kita akan membuat desa wisata dan rest area di Malang. Martha Thilaar juga kemarin mengajak kerjasama untuk pengembangan spa dan hotel Syari'ah,” paparnya.

Ketua Umum KMSN, Sholahuddin, menambahkan bahwa untuk olahan jagung yang dikembangkan di tiga pesantren di Lamongan, produksinya kini telah menembus pasar Malaysia dan di negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga:
Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Sholah berharap, ke depan, KMSN tak hanya melibatkan 25 pesantren di Indonesia yang kini sudah bergerak, tapi juga bisa mengajak ribuan pesantren, pengelola masjid, majelis ta’lim, kampus, hingga organisasi kemasyarakatan di tingkat desa. Pesantren yang memiliki lahan agak luas diajak mengembangkan produk pertanian sehat, perkebunan,  peternakan dan perikanan akan didorong untuk mengembangkan produknya.

“Saat ini, yang sudah berjalan budidaya jagung di pesantren Nurul Huda, Kuningan, di Serang, Lamongan 3 pesantren, di Bangka Belitung dan Kalimantan Timur dengan KTNA Kaltim. Kita juga kerjasama dengan C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu di kepulauan seribu,” paparnya.

Pasca Grand Launching di Penata, pihaknya juga merencanakan untuk membuka outlet atau ritel Leumart di 50 Pesantren di Jawa Timur.

“Ke depan, kita kembangkan Leumart ini di tiap kota 50 outlet atau ritel, bekerja sama dengan pesantren, masjid, kampus, ormas atau majelis ta’lim. Pengembangan pupuk hayati, yang memproduksi banyak pupuk untuk produk pertanian sehat, ada green kopi, olahan jagung dari eskrim, kerupuk, puding, dll. Di Lamongan sudah jalan, bahkan sudah eksport ke malaysia dan Timur Tengah. Ke depan, kita bisa bermitra dengan UMKM, kelompok tani, bahkan personal,” paparnya. []
(Malik)
Read More

Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Masal


rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, pada Selasa, 11 Maret 2018 ini, Syaikh Syarif Adnan As-Sawwaf, rektor Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria), mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta yang hadir. Pertanyaan tersebut yaitu mengenai terjadinya pembunuhan terhadap ulama Suriah. Termasuk ulama Internasional yang kharismatik, yaitu Syaikh Ramadhan Al-Buthy.

“Benar, ia dibunuh bersama 40 santrinya di dalam sebuah masjid ketika sedang mengajarkan kitab tafsir Al-Qur’an,” kenang Syaikh As-Sawwaf.

Selain dibunuh, kitab-kitab Syaikh Ramadhan Al-Buthy juga dibakar. Sebab, Syaikh Al-Buthy dipandang telah murtad dan kafir.

“Inilah tindakan takfir (mengafirkan orang) yang dilakukan oleh sesama muslim yang kemudian merenggut satu per satu ulama. Dan pelakunya, tanpa merasa berdosa sedikitpun,” sesal Syaikh As-Sawwaf.

Baca Juga:
Hentikan Pengajaran Islam Dangkal
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah

Pada awal-awal kerusuhan tahun 2013, cerita Syaikh As-Sawwaf, bom berjatuhan hampir setiap jam. Sudah hampir satu juta orang yang meninggal dunia. Dan semua orang asing keluar Suriah. Termasuk para pelajar dari berbagai negara. Kecuali pelajar Indonesia.

“Kami hanya keluar, jika Syaikh keluar,” kata para pelajar Indonesia untuk meyakinkan kesetiaan mereka kepada rektor sekaligus guru mereka itu.

Pelajar Indonesia memang menolak untuk kembali ke Indonesia waktu itu. Meskipun telah disediakan angkutan pulang secara gratis.

Nahnu abnausy-Syam" (kami adalah anak kandung Suriah)", kata mereka.

Wa nahnu abnau Indonesia" (kami juga anak kandung Indonesia),” kata Syaikh As-Sawwaf sambil mengepalkan tangan. Dan gemuruhlah ruangan Seminar itu dengan tepuk tangan hadirin. Termasuk para mahasiswa yang harus duduk di lantai karena kehabisan kursi.

Baca Juga:
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing
Sembilan Rekomendasi Silatnas Ke-VI Alsyami

“Percayalah, percayalah. Orang-orang jahat telah bersekutu menghancurkan negara kami. Tapi Allah telah mengatur dengan caranya sendiri untuk menyelamatkan kami,” katanya sambil mengutip salah satu ayat dalam surat Ali Imron.

"Percayalah, do'a Nabi pasti dikabulkan Allah. Inilah do'a yang pernah beliau panjatkan, Allâhumma bârik lanâ fî Syâminâ (wahai Allah, berkahilah kami melalui negeri Suriah ini)," lanjut Syaikh As-Sawwaf.

Baca Juga:
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Ketika ditanya oleh salah seorang peserta lagi mengenai apa yang bisa dibantu untuk Suriah, Syaikh As-Sawwaf meminta do'a.

“Do'a, do'a dan do'a. Do'akan kami. Karena do'a itulah yang melahirkan keajaiban,” tandasnya.

Jika ada dana, lanjut Syaikh As-Sawwaf lagi, maka supaya disalurkan melalui lembaga yang resmi dan terpercaya. Sebab, jangan sampai dana yang dikirim itu salah penyalurannya yang justru bisa memperparah keadaan bagaikan menyiram bensin pada api yang sudah berkobar.

Baca Juga:
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Negara Islam
Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Menurut Syaikh As-Shawwaf, Suriah adalah negara multikultural. Ada penganut Madzhab Syafi'i, Maliki, Hanbali dan Hanafi. Juga ada Syi'ah dan Kristen.

“Tapi, sejak lama kami bersatu, bahkan anak-anak orang Syi'ah diberi nama Abu Bakar, Aisyah, Umar dan sebagainya. Anak-anak orang Sunni juga diberi nama Ali, Haidar dan sebagainya yang berbau Syi'ah,” jelasnya.

“Nah, sejak takfir menjadi senjata murah itulah, gelombang pembunuhan secara masif terjadi,” sesalnya.

Dalam pandangan Syarif Adnan Al Shawaf, Suriah memiliki sejumlah kesamaan dengan Indonesia, yaitu sama-sama Sunni bermadzhab Syafi’i dan beraqidah Al-Asy’ari. []
(Redaksi RN)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Hentikan Pengajaran Islam Dangkal


rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, pada Selasa, 11 Maret 2018 ini, Syaikh Syarif Adnan As-Sawwaf menyingkapkan hikmah dibalik mengapa Nabi SAW. menganjurkan orang untuk melakukan tiga jenis investasi kebaikan, yang diharapkan bisa mengalirkan pahala bagi pelakunya setelah meninggal dunia nanti.

Tiga jenis investasi kebaikan tersebut, sebagaimana kita ketahui bersama, adalah bersedekah, ilmu yang bermanfa'at dan anak sholih yang mendo'akan orang tuanya.

“Tidak lain adalah untuk kemajuan peradaban, yakni kepedulian sosial, transfer ilmu pengetahuan dan generasi berakhlaq mulia,” jelas rektor Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria) itu.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing

Menurut Syaikh As-Sawwaf, Islam sejati adalah kasih sayang. Bukan kekerasan dan saling menghunus pedang.

“Wajah Islam adalah basmalah yang berisi ajaran kasih itu. Bukan wajah bengis dan haus darah," tandasnya.

Tapi sayang, pikiran masyarakat dunia sudah terlanjut terpateri dengan pandangan negatif tentang wajah Islam yang bengis dan haus darah.

“Dan, itulah hasil yang dilakukan sejumlah orang jahat yang menguasai media-media besar dunia," urainya.

Baca Juga:
Sembilan Rekomemdasi Silatnas Ke-VI Alsyami
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam

Pada sesi kedua, Syaikh As-Sawwaf melanjutkan uraiannya tentang wajah Islam yang terlanjur negatif di mata dunia.

"Ada juga orang-orang bayaran yang diajari bertakbir sambil menyembelih manusia dengan tangan mengibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid,” jelasnya kemudian.

Syaikh As-Sawwaf juga meminta agar pengajaran Islam yang dangkal jangan dilanjutkan.

“Cukup, cukup. Jangan teruskan pengajaran Islam yang tidak "kaffah" (komprehensif), sehingga menghasilkan muslim pengejar kesuksesan akhirat, dengan kemiskinan serta keterbelakangan dunia,” pintanya. []
(Redaksi RN)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Walisongo dan Da'wah Metode Kambing


rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Hari ini, Selasa, 13 Maret 2018, Syaikh Syarif Adnan As-Shawwaf berkesempatan hadir di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya sebagai pembicara dalam Seminar Internasional. Dalam kesempatan ini, Syaikh As-Sawwaf sangat terkesan dengan da'wah bil-hikmah yang telah dilakukan oleh Wali Songo pada abad ke-15 silam.

“Senang sekali mendengarkan nasyid yang berisi pesan-pesan sembilan ulama (Walisongo) yang berda'wah dengan hikmah bijaksana,” ungkapnya ketika memulai pidatonya setelah sebelumnya menyimak angklung religi yang dibawakan oleh para mahasiswa kampus ini.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Sembilan Rekomendasi Silatnas Ke-VI Alsyami

Kiprah da'wah Walisongo, lanjut Syaikh As-Sawwaf, mengingatkannya pada kisah da'wah seorang ulama yang berada ditengah masyarakat penggembala kambing di sebuah pedalaman Arab. Dengan "metode kambing", ulama tersebut mengajari tujuh ayat dari surat Al-Fatihah. Awalnya, para penggembala kambing diminta untuk membawa tujuh kambing yang mana masing-masing kambing tersebut nantinya diberi nama dengan setiap ayat dari surat Al-Fatihah oleh ulama tersebut.

Esok harinya, mereka dites, “Kambing apakah ini?“

“Ini kambing alhamduliLlâhi rabbil-'âlamîn,” jawab mereka serentak.

Baca Juga:
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

"Nah, pada hari berikutnya, mereka hanya menghafal enam ayat karena kambing yang bernama mâliki yaumiddîn dimakan srigala,” kisahnya sambil sedikit menahan senyum dan disambut tawa oleh para dosen dan mahasiswa yang saat itu memadati ruangan terindah dan tercanggih yang berada di lantai tiga gedung Twin Towers yang dibangun oleh Islamic Develompemnt Bank empat tahun silam itu.

“Itulah da'wah bil-hikmah. Da'wah perangsang peradaban,” simpul Syaikh Syarif Adnan As-Shawwaf yang menjabat sebagai rektor di Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria) ini. []
(Redaksi RN)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Yenny Wahid Bicara Tentang Perempuan Kampung di Forum PBB


rumahnahdliyyin.com, New York - Pelibatan perempuan ditingkat desa menjadi salah satu fokus PBB dalam upaya global menanggulangi bahaya radikalisme dan terorisme.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Wahid Foundation, Yeni Wahid, dalam pertemuan tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh UN Women yang bekerjasama dengan United Nations Office of Counter Terrorism (UNOCT) Badan PBB yang bertugas menangkal terorisme di Markas PBB, New York, Amerika Serikat.

Baca Juga:
Dapat Yap Thiam Hien Award, Gus Mus: Saya Tidak Mengerti HAM
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh pimpinan tinggi beberapa lembaga PBB tersebut, Yenny menjelaskan dampak dari programnya yang banyak menyasar masyarakat ditingkat akar rumput.

“Mereka tertarik dengan program "Kampung Damai" yang kami inisiasi di berbagai desa di pulau Jawa,” jelas Yenny dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Menurut Yenny, dengan penguatan masyarakat desa, terutama perempuan, maka dampaknya bisa langsung terasa secara masif. Berdasarkan data yang ada, terlihat hubungan langsung antara perempuan yang berdaya dan tingkat radikalisme.

“Makin berdaya seorang perempuan, makin kecil kemungkinan ia terpapar aksi radikalisme,” tutur putri mantan Presiden KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu.

Baca Juga:
Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina
Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

“Melalui program "Desa Damai", kami memberikan pelatihan dan penguatan ekonomi untuk para ibu ditingkat akar rumput, ditambah dengan pelatihan tentang upaya perdamaian yang bisa mereka praktekkan di komunitasnya masing-masing,” tuturnya lagi.

Yenny merasa senang karena telah diundang dalam forum ini. Sebab, dengan demikian, Indonesia bisa menyuarakan usahanya dalam pencegahan dan pemberantasan terorisme.

“Saya senang bahwa kami mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan program ini karena ini berarti promosi untuk Indonesia,” imbuhnya.

Baca Juga:
Jubir HTI Bungkam
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Dalam forum yang dimoderatori oleh Dubes tetap Uni Emirat Arab untuk PBB, Lana Zaki Nusseibeh, Yenny diminta untuk memberikan pendapatnya atas rencana UN untuk membuat sebuah Rencana Aksi Penanggulangan Terorisme yang melibatkan lebih banyak peran perempuan dan anak muda didunia. Utamanya, dalam area pencegahan tindak pidana berbasis kekerasan.

“Pelibatan perempuan dalam upaya pencegahan radikalisme, mutlak dilakukan mengingat perempuan adalah salah satu korban utama ketika terjadi kekerasan dimasyarakat,” pungkas Yenny.

Baca Juga:
Ciri Teroris di Medsos
Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Selain menghadiri pertemuan tingkat itu, Yenny sekaligus juga hadir di Forum CSW (Comission on the Status of Women) di PBB, sebuah acara tahunan yang menghadirkan delegasi dari berbagai negara di dunia.

“Tahun ini memang fokusnya adalah penguatan perempuan ditingkat akar rumput, seperti yang dijelaskan Sekjen PBB, Antonio Guteres dalam pidato beliau,” jelas Yenny.

Selain Yenny, perempuan dari berbagai daerah rural di seluruh dunia juga dihadirkan dalam forum tersebut.

“Beberapa perempuan dari berbagai daerah rural di dunia dihadirkan dan didengar ceritanya oleh seluruh delegasi dunia yang hadir,” terang Yenny.

Baca Juga:
Sembilan Rekomemdasi Silatnas Ke-VI Alsyami
Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 PBNU

Selain menghadiri acara CSW, Yenny juga akan bicara dalam dua side event yang diselenggarakan pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia.

“Dunia memperhatikan upaya Indonesia dalam menangkal radikalisme. Mari, kita bekerja lebih keras lagi sehingga Indonesia menjadi contoh bagi banyak negara,” tandas Yenny. []




(Redaksi RN)
Read More

Syaikhona Kholil Bangkalan


rumahnahdliyyin.com - Bila berbicara tentang Ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, yaitu Nahdlatul Ulama, maka nama KH. Kholil bin Abdul Lathif tidak bisa tidak harus disebutkan. Sebab, lantaran beliaulah organisasinya para ulama itu akhirnya dibentuk dan didirikan.

KH. Mohammad Kholil bin Abdul Lathif, atau yang lebih akrab ditelinga dengan nama Syaikhona Kholil Bangkalan, lahir pada hari Selasa, 11 Jumadil Akhir, tahun 1235 Hijriyah atau yang dalam penanggalan Masehi bertepatan dengan tahun 1820 Masehi.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dari ayahnya, yaitu kiai Abdul Lathif, nasab Syaikhona Kholil bersambung hingga Sunan Gunung Jati. Secara berurutan, nasab tersebut yaitu Syaikhona Kholil bin Abdul Lathif bin Hamim bin Abdul Karim bin Muharram bin Asra Al-Karomah bin Abdullah bin Sayyid Sulaiman Mojo Agung bin Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Semenjak kecil, Syaikhona Kholil mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya sebelum kemudian melakukan pengembaraan mencari ilmu ke pulau Jawa. Pesantren Langitan yang diasuh oleh kiai Muhammad Nur, pernah beliau cecap ilmunya pada sekitar tahun 1850-an.

Selepas dari Pesantren Langitan, Tuban, Syaikhona Kholil kemudian belajar ke Pesantren Cangaan, Bangil, yang diasuh oleh kiai Asyik Seguta. Dari sini, Syaikhona Kholil kemudian menuju ke Pesantren Koboncandi.

Ketika di Pesantren terakhir ini, Syaikhona Kholil juga sembari belajar di Pesantren Sidogiri yang diasuh oleh kiai Noer Hasan. Jarak antara Keboncandi dan Sidogiri yang lumayan jauh, yakni tujuh meter, ditempuh oleh Syaikhona Kholil dengan berjalan kaki sembari wiridan surat Yasin.

Baca Juga:
Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari
Imam Sibawaih-nya Papua

Selama menjadi santri, Syaikhona Kholil dikenal sebagai ahli tirakat. Kendati ayahnya tergolong mapan dari segi ekonomi, namun Syaikhona Kholil tidak mengandalkan orang tuanya. Untuk menyokong keperluan di Pesantren, beliau pernah menjadi buruh batik. Bahkan, beliau juga tak segan menjadi buruh pemetik kelapa demi untuk mewujudkan niatnya yang ingin belajar ke Haromain.

Walhasil, ketika berusia 24 tahun dan sudah menikah dengan Nyai Asyik (puteri dari Londro Putih), Syaikhona Kholil pun berangkat ke Haromain. Mengingat bekalnya yang tidak seberapa, Syaikhona Kholil pun menggunakan waktu luangnya selama belajar untuk bekerja menjadi tukang khoth. Kerap juga beliau memakan kulit semangka.

Diantara para guru Syaikhona Kholil selama di Haromain yaitu Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Ahmad Khatib Sambas, Syaikh Abdul Adzim Al-Maduri dan Syaikh Nawawi Al-Bantani.

Baca Juga:
Kisah Masa Kecil Rasulullah Bersama Ibunya
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Dengan penuh kesungguhan yang disertai dengan tirakat selama belajar, maka tak heran bila kemudian Syaikhona Kholil dikenal sebagai seorang yang 'alim dan sufi. Karena itu, beliau bak magnet bagi masyarakat untuk mempercayakan anak-anak mereka supaya dididik oleh beliau.

Di Cengkubuan, Bangkalan, Madura, akhirnya beliau membuat Pesantren. Namun, ketika puteri beliau, Fathimah, telah beliau nikahkan dengan kiai Muntaha, Pesantren itu diserahkan kepada menantunya tersebut. Sedangkan beliau pindah menuju ke Kademangan yang juga masih di Bangkalan dan mendirikan Pesantren lagi.

Baca Juga:
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits
Ahlussunnah wal-Jama'ah

Hampir seluruh murid-murid Syaikhona Kholil berhasil menjadi ulama dan kiai besar. Diantaranya yaitu Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Ma’shoem Lasem, KH. Cholil Harun Rembang, KH. Faqih Maskumambang, KH. Ridlwan Abdullah, KH. Sholeh Lateng, KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz, KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Hasan Genggong, KH. Achmad Shiddiq, KH. Zaini Mun’im Paiton, KH. Abdul Karim Lirboyo, KH. Munawir Krapyak, KH. Romli Tamim, dll.

Usia Syaikhona Kholil tergolong sangat panjang. Beliau wafat ketika usia beliau menginjak 105 tahun. Tepatnya yaitu pada tanggal 29 Romadlon 1343 H. atau 1925 M. Setahun sebelum Nahdlatul Ulama yang beliau restui didirikan. Dan pasti dunia benar-benar merasa kehilangan salah satu ulamanya ketika itu. Lahu Al-Fatihah... []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Geber Musholla IPNU-IPPNU Klaten


rumahnahdliyyin.com, Klaten - Dalam rangka memperingati Harlah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ke 64 dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ke 63, Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Kabupaten Klaten mengagendakan beberapa rangkaian kegiatan peringatan.

Setelah minggu lalu mengawali kegiatan dengan GAMIS (Go Ziarah Muassis IPNU-IPPNU) serta Silaturahim dengan PC. Sleman dan PC. Bantul, hari Minggu kemarin, 11 Maret 2018, PC. IPNU-IPPNU Klaten bersama Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Klaten mengadakan GEBER Musholla.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Kampung Peer Butuh Pembina Agama
GEBER Musholla adalah Gerakan Bersih Musholla. Gerakan ini diinisiatori oleh rekan Muchtar yang kebetulan juga tengah mengemban tugas organisasi sebagai Ketua PC. IPNU Klaten. Hal ini kemudian dilaksanakan oleh seluruh pengurus maupun anggota IPNU-IPPNU di kabupaten Klaten secara serentak di banyak lokasi dalam waktu yang sama.

Bila di banyak daerah sudah sering dijumpai kegiatan Bersih Masjid bersama, PC. IPNU-IPPNU Klaten sedikit berbeda cara dalam mendedikasikan diri terjun di masyarakat, yaitu dengan GEBER Musholla ini. Pasalnya, sangat banyak dijumpai musholla di kampung-kampung yang keadaannya memprihatinkan. Padahal selalu dipakai untuk ibadah. Berbeda dengan masjid yang kondisinya lebih terawat.

Baca Juga:
Berhukum Dengan Selain Hukum Allah
Jubir HTI Bungkam
Selain itu, GEBER Musholla ini adalah yang pertama yang dilaksanakan di Kabupaten Klaten. Bahkan di Jawa Tengah.

Kegiatan GEBER Musholla ini diikuti oleh kuranglebih 400 anggota IPNU-IPPNU. Mereka tersebar di 30 titik di seluruh kabupaten klaten. Tidak hanya membersihkan musholla, beberapa titik juga menambahkan kegiatan sumbangan alat kebersihan dan keperluan ibadah.

Masyarakat sangat mengapresiasi kegiatan ini. Bahkan, ada yang meminta supaya kegiatan seperti ini dilakukan secara rutin dan jangkauannya pun agar diperluas lagi.

Baca Juga:
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia
Hari Akhir

Masyarakat juga memberi masukan supaya GEBER Musholla yang perdana ini, bisa dijadikan sebagai acuan bila betul mau diteruskan menjadi kegiatan rutin. Sebab, sejatinya kebangkitan muslim adalah dari rumah ibadahnya. Dan siapa lagi pelopornya kalau tidak para pemuda dan pelajar seperti IPNU-IPPNU. Maju Spiritual, Maju Intelektual dan Peka Keadaan Sosial. []
(Redaksi RN)
Read More

Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia


rumahnahdliyyin.com, Bantul - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Nasaruddin Umar, pada Minggu, 11 Maret 2018 ini, mengisi Dialog Nasional di UMY. Dalam kesempatan tersebut, ia mengatakan bahwa Indonesia, saat ini, merupakan pusat kepemimpinan Islam yang sebelum-sebelumnya selalu dipegang oleh negara-negara di Timur Tengah atau di tanah Arab.

"Dunia hampir sepakat bahwa sekarang ini kepemimpinan Islam itu ada di Asia Tenggara. Dalam hal ini adalah Indonesia," kata kiai Nasaruddin.

Baca Juga:
Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam
Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

Pendapat kiai Nasaruddin ini dirujukkan pada sebuah indeks yang menyebutkan bahwa negara paling merdeka menjalankan syari'at Islam adalah Indonesia. Bukan di negara-negara Timur Tengah atau di negara-negara Arab.

Selain itu, sekarang ini Indonesia juga tengah dicontoh oleh negara-negara Islam lain. Terutama dalam hal toleransi antar anak bangsa yang terdiri dari banyak suku, bangsa, ras, bahasa, budaya dan lainnya, namun bisa tetap hidup rukun, tentram dan nyaman.

"Yang paling penting lagi bahwa dunia Islam sekarang ini mencontoh banyak sekali apa yang ada di Indonesia. Kita memang bukan negara Islam, negara Pancasila. Tapi, sekarang menjadi contoh negara-negara Islam. Jadi, ini suatu pertanda bahwa kiblat peradaban Islam ini memang sudah bergeser," tandasnya.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Selanjutnya, kiai asal Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini, juga menerangkan tentang sebuah Hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW. rindu terhadap kekasihnya. Kekasihnya itu bukanlah para sahabat, melainkan umat muslim yang hidup jauh setelah masa beliau.

"Kekasihku (Rasulullah SAW.) ialah mereka yang akan hidup jauh dari tempat kelahiranku di sini. Dan mereka akan hidup jauh dari waktu aku sekarang (hidup)," tutur kiai Nasaruddin.

"Nah, yang paling jauh dari tanah Arab, itu Indonesia. Jangan-jangan yang dirindukan Nabi adalah kita. Bangsa yang paling mencintai Rasulullah, insya Allah, Indonesia," lanjutnya.

Baca Juga:
Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang
Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Di tanah Nusantara ini, sambungnya lagi, hampir 24 jam sholawatan atau puji-pujian terhadap Rasulullah SAW. tak pernah berhenti didengungkan. Di tanah ini pulalah semua muslim dan muslimah diberikan kemerdekaan untuk beribadah.

"Ada pakar yang mengatakan bahwa Saudi Arabia atau tanah Arab itu tugasnya memang melahirkan Islam. Tetapi estafet kepemimpinan berikutnya, sejarah membuktikan bergeser. Islam lahir di Mekah, terus pindah ke Madinah," terangnya.

Baca Juga:
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa
Muslim Di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Dalam fakta sejarah, daerah yang menjadi pusat peradaban Islam memang berpindah-pindah.

"Selesai Khulafa'ur Rasyidin, pindah lagi ke Syiria, yaitu Bani Umayyah. Setelah itu, pindah lagi ke Baghdad setelah kekuasaan diambil alih oleh Abbasiyyah. Setelah itu, ke Turki Utsmani. Nah, saat ini Indonesia," pungkas Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah itu. []
(Redaksi RN)


* Sumber: detik.com
Read More

Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam


rumahnahdliyyin.com, Bantul - Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH. Nasaruddin Umar, mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara penyelamat wajah Islam di dunia. Keramahan umat Islam Indonesia selama ini, menjadi penepis anggapan bahwa Islam itu mengerikan dan penuh kekerasan sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah.

"Untung ada Indonesia. Seandainya tidak ada Indonesia, maka muka Islam ini mau dibawa ke mana. Pasti akan ada kesimpulan, agama Islam adalah agama teroris, agama kekerasan," tuturnya dalam Dialog Nasional di UMY, Minggu, 11 Maret 2018 ini.

Baca Juga:
Islam Bhinneka Tunggal Ika
Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang

Kiai Nasaruddin juga menerangkan bahwa saat ini, Indonesia dianggap sebagai kebanggaan bagi negara-negara Islam. Sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi yang memberikan kemerdekaan penuh kepada warganya dalam beribadah.

"Dunia tidak bisa mengatakan Islam itu agama teroris. Buktinya, ada sebuah negara yang namanya Indonesia, yang peringkat demokrasinya tidak kalah dengan yang lain. Jadi, ini suatu bukti bahwa Islam itu bisa paralel dengan prinsip demokrasi, paralel dengan sistem keuangan modern," paparnya lagi.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Agama Tanpa Budaya

Kemudian, lanjutnya, Indonesia juga pararel dengan kesetaraan gender. Kaum perempuan juga bisa aktif berkegiatan dalam kehidupan sehari-hari.

"Jadi, beruntunglah para perempuan di Indonesia. Kalau kita bandingkan dengan Timur Tengah, yang mengisi pasar tradisional itu adalah laki-laki. Tapi sebaliknya di Indonesia, pasar tradisional itu didominasi perempuan," lanjutnya.

Merujuk dari kenyataan ini, menurut Imam Besar Masjid Istiqlal itu, dapat disimpulkan bahwa meski bukan negara Islam, tetapi umat muslim di Indonesia diberikan kebebasan, keamanan, kenyamanan dan ketenteraman dalam beribadah. Terutama bagi kalangan muslimah yang diberikan kebebasan lebih di ruang-ruang publik.

Baca Juga:
Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah

Sebagaimana kita ketahui bersama, sejak ISIS melakukan aksinya di Irak dan Suriah, Islam sebagai agama yang dikoar-koarkan oleh mereka pun mendapat sorotan negatif di mata dunia. Ditambah lagi dengan konflik-konflik antar negara di Timur Tengah yang tak kunjung usai, yang notabene para aktornya juga pemeluk Islam. []
(Redaksi RN)


* Sumber: detik.com
Read More

Jubir HTI Bungkam


rumahnahdliyyin.com - Kamis, 8 Maret 2018, adalah hari bersejarah bagi saya. Sebab, saya berhasil membungkam Juru Bicara (Jubir) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Sdr. Ismail Yusanto, di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jakarta Timur, terkait gugatan HTI terhadap keputusan Pemerintah yang membubarkan HTI.

Saya dihadirkan sebagai "saksi fakta". Dan saya sebut kesaksian saya ini sebagai palu godam bagi Hizbut Tahrir. Sebuah Partai Politik Internasional yang tujuannya ingin mendirikan Negara Khilafah, menghapus NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

Hizbut Tahrir adalah partai politik yang mengkafirkan semua negara di dunia ini meskipun penduduknya mayoritas muslim. Atau, meskipun negara itu sudah mengklaim mempraktekkan hukum Islam. Bagi Hizbut Tahrir, tidak ada satu "Negara Islam" pun di dunia saat ini. Semuanya masuk "Negara Kafir" (biladul-kufr).

Baca Juga:
Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama
UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Kesaksian saya yang menohok mereka dan menelanjangi mereka, berasal dari buku-buku utama mereka yang disebut al-kutub al-mutabannniyyah (buku-buku yang diadopsi) yang dijadikan sebagai sumber utama doktrin Negara Khilafah ala Hizbut Tahrir.

Kesaksian saya menjadi hadiah yang buruk bagi Partai Politik Internasional Hizbut Tahrir yang akan merayakan ulang tahunnya pada tanggal 14 Maret ini.

Hizbut Tahrir berdiri pada 14 Maret 1953. Tapi tepat enam hari sebelum Ultah Hizbut Tahrir, saya sudah memberikan kado yang membuat mereka marah dan panik. Sehingga, setelah kesaksian saya, mereka menyebarkan sebuah tulisan yang menuduh saya berbohong.

Andai saya benar berbohong, maka Majelis Hakim pasti akan mengatakan hal itu. Karena saya berhasil membungkam Jubir Hizbut Tahrir di Pengadilan dan mereka tak kuasa membela diri dari kesaksian saya di Pengadilan, maka mereka pun menyebarkan fitnah terhadap diri saya setelah Persidangan.

Mengapa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) marah dan menyebarkan fitnah? Karena saya berhasil membungkam Jubirnya di Persidangan.

Berikut catatan saya:

Saya dihadirkan di Pengadilan ini sebagai "saksi fakta" karena saat awal-awal saya studi di Al-Azhar, Cairo, Mesir, pada tahun 1998-1999, saya pernah ikut halaqoh/liqo'/pertemuan Hizbut Tahrir yang diselenggarakan di rumah kontrakan orang Indonesia di Cairo yang berinisial A selama 5 bulan.

Saya bersama kawan yang satu almamater Pesantren dengan saya, inisialnya N. Saat itu, kami diajak oleh "mentor" A mengkaji buku karya Taqiyudin An-Nabhani yang pertama, Nidhomul Islam. Mentor "A" seperti halnya saya, baru juga sampai di Mesir. Saya masuk Fakultas Ushuluddin, Al-Azhar, sedangkan "A" tidak bisa masuk kuliah karena tidak bisa bahasa Arab. Dia terdaftar di Ma'had untuk kursus Bahasa Arab.

Saat kajian buku Hizbut Tahrir, "A" menggunakan terjemahan bahasa Indonesia. Sementara saya bersama kawan saya, langsung membaca dari buku aslinya yang berbahasa Arab.

Baca Juga:
Demokrasi Mengembalikan Politik Islam Ke Jalur yang Benar
Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Selain buku Nidhomul Islam, karya utama Pendiri Hizbut Tahrir, Taqiyuddin An-Nabhani, yang didalamnya sudah dimuat UUD Negara Khilafah versi Hizbut Tahrir yang berisi 191 Pasal, kami juga membaca buku-buku mutabanni Hizbut Tahrir. Seperti Nidhomul Hukmi fil-Islam (syarah/penjelasan atas buku Nidhomul Islam oleh Abd. Qadim Zallum, Amir Hizbut Tahrir kedua, pengganti Taqiyuddin). Buku-buku Hizbut Tahrir yang lain juga, seperti Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Mafahim Siyasiyyah, dll. Buku-buku yang tergolong mudah dibaca karena tipis-tipis sekali (Nidhomul Islam, karya utama Taqiyuddin, hanya 142 halaman).

Tapi, ada Penulis yang memfitnah saya. Dia membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk memahaminya. Saya yakin, dia membaca buku ini (dia tidak bisa bahasa Arab) sambil kursus bahasa Arab. Makanya butuh waktu 1,5 tahun. Atau dia sampai sekarang tidak paham juga. Makanya dia masih ikut HTI seperti halnya tokoh-tokoh HTI yang rata-rata tidak bisa bahasa Arab dan lemah bahasa Arabnya, misalnya Jubirnya: Ismail Yusanto.

Selain pernah mengikuti liqo' Hizbut Tahrir dan membaca buku-buku mereka, saya juga mengikuti Hizbut Tahrir di milis-milis dan website mereka. Pernah bertemu beberapa kali juga dengan tokoh-tokoh mereka dalam diskusi di beberapa kota di Indonesia. Juga mengamati di televisi, media online dan media sosial mereka.

Penasehat Hukum dari Pemerintah, Ahmad Budi Yoga, yang saya tahu juga aktif di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP. Ansor, bertanya kepada saya, "Mengapa hanya 5 bulan ikut Hizbut Tahrir?"

Saya menjawab: Karena saya ikut Opaba (Orientasi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diadakan oleh NU Mesir--saat itu masih bernama Keluarga Mahasiswa Nadlatul Ulama (KMNU) Mesir di paroh pertama tahun 1999.

Meskipun saya lahir dari keluarga NU, ayah saya punya pesantren NU di Situbondo, tapi inilah pengkaderan NU yang pernah saya ikuti. Dari pengkaderan itu, saya pun sadar bahwa ide Negara Khilafah Hizbut Tahrir bertentangan dengan sikap kebangsaan dan kenegaraan yang diputuskan oleh para alim-ulama dan Muktamar NU. Bahwa NU setia pada Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Tidak pernah terlibat dalam pemberontakan, karena ulama-ulama NU ikut mendirikan Negara ini. 'Indonesia adalah warisan ulama NU'.

Dalam konteks saat itu juga, saya juga seorang "pengembara intelekual" yang membaca semua buku-buku kelompok Islam. Dari Hizbut Tahrir, Ikhwan Muslimin (dengan tokohnya Muhammad Al-Ghazali dan Yusuf Al-Qardlawi), reformis modernis (Muhammad Abduh), karya-karya Hasan Hanafi, Abid Al-Jabiri, Ahmad Khalafullah, Bint Syathi', Qasim Amin, Thaha Husain, dll.

Tapi yang pasti, saya mulai tidak tertarik ide Khilafah Hizbut Tahrir karena isinya hanya dogma, bukan diskusi. Isinya propaganda, bukan kajian kritis. Untuk semua persoalan yang dibahas, jawabannya cuma satu: Khilafah. Apapun masalahnya, jawabannya: Khilafah.

Saya masih ingat buletin-buletin HTI di era SBY yang membahas kenaikan listrik dan BBM. Proyek yang mangkrak dan investasi asing, semua solusinya: Khilafah.

Baca Juga:
Berhukum Dengan Selain Hukum Allah
Islam Bhinneka Tunggal Ika

Dalam pertemuan Hizbut Tahrir, tidak boleh membaca kitab-kitab lain. Semuanya harus membaca buku-buku mutabanni/adopsi/standar yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir. Jadi, yang ikut Hizbut Tahrir tidak akan dapat perbandingan. Padahal di NU Mesir, saat itu sedang maraknya pembahasan kebangkitan pemikiran Islam dan Arab di Timur Tengah.

Kembali ke Pengadilan:
Kemudian saya ditanya, "Menurut Anda, apa itu Hizbut Tahrir?"

Saya jawab: Ta'rif (definisi/tentang) Hizbut Tahrir yang mereka tulis sendiri di buku Ta'rif yang masuk dalam list buku-buku utama mereka, saya kutipkan teks aslinya dalam bahasa Arab (karena bahasa resmi dan buku asli Hizbut Tahrir adalah Arab). Kutipan Arab ini, saya hafal dan saya lafalkan di Pengadilan di depan Majelis Hakim:

"Hizbut Tahrir hizbun siyasiun, mabda'uhu al-Islam, as-siyasah 'amaluhu wal-Islamu mabda'uhu, wa huwa ya'malu baynal-ummah wa ma'aha li tattakhidal-Islam qadliyatan laha, wa liyuquduha li i'adatil-khilafah wal-hukmi bima anzalallahu ilal-wujud. Hizbut Tahrir takattulun siyasiyun, wa laysa takattulan ruhiyan, wa laya takattulan ilmiyah, wa laysa takattulan ta'limiyah wa laysa takattulan khairiyah...."

Hizbut Tahrir adalah partai politik yang ideologinya adalah Islam. Politik aktivitasnya, Islam ideologinya dan ia beraktivitas diantara umat dan bersamanya untuk menjadikan Islam sebagai topik utama serta memimpin ummat untuk mengembalikan Khilafah dan hukum yang diturunkan oleh Allah. Hizbut Tahrir adalah organisasi politik, bukan organisasi spiritual (seperti tarekat), bukan organisasi ilmiah/akademik (seperti lembaga riset), bukan organisasi pengajaran (seperti madrasah, universitas, sekolah), bukan organisasi sosial kemasyarakatan (yang melayani sosial, ekonomi, pendidikan dan kemaslahatan masyarakat).

Ta'rif diatas terdapat pada halaman empat dari buku Ta'rif (Definisi Hizbut Tahrir) yang dikeluarkan resmi oleh Hizbut Tahrir Internasional, 29 Naisan (April) 2010.

Hizbut Tahrir juga mempolitisir ayat 104 dalam Surat Ali Imron (Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung) yang maknanya dimutlakkan "pendirian partai politik" (hizbun siyasiyun), yakni: Hizbut Tahrir. Ini terdapat pada halaman tujuh dari buku Ta'rif Hizbut Tahrir.

Padahal, selama saya membaca buku-buku tafsir, baik yang klasik hingga kontemporer, tidak ada penafsir yang memaknai ayat 104 Ali Imron ini untuk mendirikan partai politik. Ayat ini malah menginspirasi komunitas-komunitas muslim untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran melalu pendirian lembaga-lembaga sosial dan pelayanan masyarakat (seperti pendidikan, santunan, ekonomi, kesejahteraan, dll).

Tapi, Hizbut Tahrir dalam buku Ta'rif halaman 13, malah meremehkan organisasi layanan masyarakat dengan mengatakan: "mereka memandang untuk mengembalikan Islam dengan membangun masjid-masjid, menerbitkan karya-karya, mendirikan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, dengan pendidikan akhlaq, mereformasi individu..."

Dari apa yang ditulis oleh Hizbut Tahrir, jelas-jelas sekali bahwa Hizbut Tahrir Bukan Ormas, Tapi Partai Politik. Bukan ormas yang melayani kemaslahatan masyarakat karena Hizbut Tahrir nyinyir pada ormas-ormas yang melayani masyarakat (seperti NU, Muhammadiyah, dll).

Karena aktivitas Hizbut Tahrir adalah politik, oleh karena itu, Hizbut Tahrir (HTI) di Indonesia tidak pernah membangun masjid, madrasah, pesantren, universitas, rumah sakit, layanan sosial, dll. Sebab, bagi Hizbut Tahrir, hal ini tidak penting.

Baca Juga:
Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Saya juga ditanya, "Bagaimana dengan Hizbut Tahrir di Mesir?"

Saya jawab: Saya tidak tahu, tidak pernah bertemu dengan orang Mesir yang anggota Hizbut Tahrir. Karena saya tahu Hizbut Tahrir dilarang di Mesir. Kalau saya ketahuan ikut Hizbut Tahrir, saya bisa ditangkap Amn Daulah/State Security dan di-tarhil/dideportasi.

Dan saya lihat di Mesir, Hizbut Tahrir juga tidak laku. Tidak seperti di Indonesia. Yang saya lihat di Mesir, yang banyak adalah Ikhwan Muslimin. Tapi waktu itu, mereka masih Ormas yang punya lembaga sosial kemasyarakatan, santunan, dll.

Saya juga ditanya, "Apa selama ikut pengajian Hizbut Tahrir ada pengajian Al-Quran atau Hadits-Hadits?"

Saya jawab: Tidak, karena yang dikaji hanyalah buku-buku mutabanni (buku adopsian) Hizbut Tahrir.

Saya juga ditanya, "Dalam pengamatan anda, adakah ormas-ormas yang menolak Hizbut Tahrir?"

Saya jawab: Ada, seperti Banser-Ansor NU, Pemuda Pancasila dan ormas-ormas yang lain."

Hizbut Tahrir dan Pengkafiran

Hizbut Tahrir, dalam buku Ta'rif, mengkafirkan semua negara saat ini yang ada di dunia, meskipun mayoritas penduduknya muslim. Bagi Hizbut Tahrir, jenis negara cuma dua: Negara Islam (Darul-Islam) dan Darul-Kufr (Negara Kafir).

Dihalaman 14 ditulis: "Negara dimana kita hidup saat ini, meskipun mayoritas penduduknya muslim, tapi tetap disebut "Negara Kafir" menurut istilah syari'at. Karena, negara ini menjalankan "Hukum Kafir"."

Istilah "Negara Kafir" (Darul-Kufr) ini mendominasi di buku-buku Hizbut Tahrir.
Di halaman 95 buku Ta'rif, Hizbut Tahrir menegaskan: "Dan di negeri muslim saat ini, tidak ada negeri atau negara yang menjalankan hukum Islam dalam pemerintahan dan urusan kehidupan lainnya. Oleh karena itu disebut sebagai "Negara Kafir" meskipun penduduknya kebanyakan muslim."

Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, Iran, Brunei, Arab Saudi, Emirat, Qatar, Kuwait, Oman, Tunisia, Maroko, semuanya "Negara Kafir" bagi Hizbut Tahrir. Sampai Makkah dan Madinah pun tetap masuk "Negeri Kafir" bagi Hizbut Tahrir. Karena, tidak ada satu pun negeri dan negara yang menjalankan hukum Islam menurut Hizbut Tahrir.

Baca Juga:
Bahaya Berjihad Demi Syahwat
Tidak Perlu Menanggapi Berita Provokatif

Membungkam Jubir HTI

Setelah mengutip buku-buku Hizbut Tahrir, saya mau menceritakan bagaimana saya membungkam Jubir HTI. Jubir HTI bertanya kepada saya, "Kata anda, dalam pertemuan di Hizbut Tahrir tidak dibahas Al-Quran?"

Kemudian Jubir HTI tergopoh-gopoh mencari buku Nidhomul Islam yang ternyata terjemahan bahasa Indonesia ke Majelis Hakim ingin menunjukkan permulaan pembahasan buku itu dari ayat 11 Surat Ar-Ra'd:

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah dengan diri mereka sendiri."

Jubir HTI tampak gusar. Sampai mengingatkan soal ancaman kesaksian palsu kepada saya.

Saya hanya tersenyum. Jubir HTI ini gagal paham. Saya sampaikan klarifikasi ke Majelis Hakim, "Yang saya maksud pengkajian Al-Qur'an adalah membaca Al-Qur'an dengan tafsirnya. Apa itu Tafsir Jalalayn, Tafsir Thobari, Ibnu Katsir, dll. Kalau Hadits, ya, mengkaji Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Turmudzi, Buluqhul Marom, dan lain-lain kajian kitab-kitab Fiqih seperti di Pesantren. Ini yang tidak ada di Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir hanya mengkaji buku-buku mereka sendiri."

Jubir HTI pun bungkam.

Mau membela diri soal pembagian "Negara Kafir" dan "Negara Muslim", Jubir HTI mengutip pendapat Abdul Wahhab Khallaf dalam bukunya As-Siyasah Asy-Syar'iyyah (saya yakin, itu buku terjemahannya. Saya sendiri sudah khatam versi Arabnya saat di Mesir).

Kata Jubir HTI, "Ini Abdul Wahhab Khallaf menulis juga pembagian "Negara Islam" dan "Negara Kafir".

Saya tanggapi, "Mohon izin, Yang Mulia Majelis Hakim. Boleh saya tanggapi?"

Hakim mengangguk.

"Syaikh Abdul Wahhab Khallaf adalah ulama Mesir. Saya membaca kitab-kitab beliau. Dalam kitab As-Siyasah Asy-Syar'iyyah, perbedaan "Negara Kafir" dan "Negara Islam" itu penjelasan teoritis dan akademis dalam perdebatan ilmu politik Islam, ushul fiqih dan syari'at Islam. Tapi Syaikh Abdul Wahhab Khallaf sebagai orang Mesir, sangat mencintai negaranya, Mesir. Tidak pernah mengkafirkan negaranya. Tidak seperti Hizbut Tahrir yang mengkafirkan negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim saat ini."

Jubir HTI bungkam. Tidak bisa melanjutkan debat.

Kemudian Jubir HTI ngeles, "Apakah Anda pernah mendengar orang HTI mengkafirkan muslim yang lain?"

Saya jawab, "Yang dikafirkan oleh Hizbut Tahrir itu negara-negara dimana jutaan dan milyaran muslim hidup. Apa ini tidak lebih parah?"

Lagi-lagi, Jubir HTI bungkam.

Jubir HTI, "Anda tadi bilang, selain Banser, ada Pemuda Pancasila yang menolak HTI. Apa punya bukti? Saya ketemu Pak Yapto gak ada masalah."

Saya jawab, "Saya punya bukti yang saya baca di media online dan penolakan Pemuda Pancasila terhadap HTI."

Karena dalam Pengadilan saya tidak membawa capture berita-berita selain Banser, Ansor dan Pemuda Pancasila yang menolak HTI, saya buktikan disini:
Pemuda Pancasila Mendukung Pemerintah Membubarkan HTI: http://www.seputarbanten.com/2017/05/pemuda-pancasila-mendukung-pemerintah.html?m=1

MUI dan 21 Organisasi menolak Ideologi HTI. Ormas-ormas itu diantaranya yaitu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Malut, Muhammadiyah Kota Ternate, KBPP Polri, GP. Ansor Kota Ternate, FKPPI, Pemuda Pancasila, KNPI, GMNI, HMI, KAMMI, IMM Ternate dan Ormas, OKP serta LSM lainnya: https://m.jpnn.com/news/mui-dan-21-organisasi-tolak-ideologi-hti

Pemuda Pancasila Banten Tolak HTI: https://m.youtube.com/watch?v=NVuHmv_d478 (video)

Dan silakan cari sendiri jejak-jejak digital penolakan Pemuda Pancasila terhadap HTI.

Kemudian, Jubir HTI tanya lagi, "Apa Saudara tahu, Pengurus Pusat NU...."

Saya potong, "Pengurus Besar, bukan Pusat, PBNU..."

Jubir HTI, "Iya, Pengurus Besar NU, KH. Said Aqil, Bendara Umum, dalam pertemuan dengan saya mendukung HTI?"

Pertanyaan Jubir HTI ini diprotes oleh Penasehat Hukum dari LBH Ansor, "Anda kalau berbicara harus berdasarkan bukti. Jangan klaim sudah bertemu dengan KH. Said Aqil, Ketua Umum PBNU. Mengklaim-klaim gitu."

Jubir HTI bungkam.

Saya malah komentar, "Tidak ada dukungan KH. Said Aqil atau PBNU, atau NU kepada HTI. Kiai Said mendukung pembubaran HTI karena NU setia pada Republik ini. PBNU itu: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945."

Dan Jubir HTI pun tetap bungkam.

Demikian catatan dan kesaksian dari saya. Semoga Allah SWT. mencatatnya sebagai amal jariyah untuk pembelaan negeri ini yang kemerdekaannya dibela dengan perjuangan rakyat Indonesia: khususnya kaum muslimin, para santri, alim-ulama, yang mengorbankan nyawa mereka untuk Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah sidang, telinga saya berdengung lagu Ya Lal Wathon yang dikarang oleh KH. Wahab Chasbullah sebagai bentuk cinta negeri dan patriotisme yang bersumber dari iman Islami:

ياَ لَلْوَطَنْ ياَ لَلْوَطَن ياَ لَلْوَطَنْ
Ya lalwathon, ya lalwathon, ya lalwathon

حُبُّ الْوَطَنْ مِنَ اْلإِيمَانْ
Hubbul-wathon minal-iman

وَلاَتَكُنْ مِنَ الْحِرْماَنْ
Wala takun minal-hirman

اِنْهَضوُا أَهْلَ الْوَطَنْ
Inhadlu ahlal-wathon

اِندُونيْسِياَ بِلاَدى
Indonesia biladi

أَنْتَ عُنْواَنُ الْفَخَاماَ
Anta ‘unwanul-fakhoma

كُلُّ مَنْ يَأْتِيْكَ يَوْماَ
Kullu mayya’tika yauma

طَامِحاً يَلْقَ حِماَمًا
Thomihayyalqo himama

Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah hai bangsaku

Pusaka hati wahai tanah airku
Cintamu dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah hai bangsaku

Indonesia negeriku
Engkau panji martabatku
Siapa datang mengancammu
Kan binasa dibawah durimu

Wallahul-muwaffiq Ila aqwamith-thoriq


* Oleh: Mohamad Guntur Romli
Read More