Gema Yalal Wathon di Sekadau Tunjukkan Nahdliyyin di Kalbar Banyak


rumahnahdliyyin.com, Sekadau - Ribuan warga Nahdliyyin se-Kalimantan Barat, siang tadi, Sabtu, 31 Maret 2018, membanjiri Lapangan Parkir Lawang Kuari, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir. Ribuan masa tersebut hadir dalam rangka mengikuti Apel Akbar Kesetiaan Pancasila. Lantunan Lagu Mars Yalal Wathon pun bergema di lapangan tersebut.

Seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama hingga Badan Otonom Nahdlatul Ulama, seperti Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, juga para kiai, Polda dan TNI Kalimantan Barat, bersemangat, lantang dan hidmat dalam menyanyikan Mars Yalal Wathon.

Baca Juga: LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya

“Mars Yalal Wathon ini adalah lagu kebangsaan warga Nahdliyyin. Untuk itu, mari kita nyanyikan lagu ini dengan penuh kebanggaan,” pungkas Bang Nasir, Ketua Panitia Apel Akbar sekaligus pemandu lagu sebelum acara apel dimulai.

Semangat Nahdliyyin muda di Kalimantan Barat tidak diragukan lagi. Pasalnya, sebagian besar massa yang memenuhi lapangan tersebut adalah para Nahdliyyin muda yang merupakan santri dan pelajar yang ada di Kalimantan Barat. Mereka sangat antusias dan menjiwai ketika menyanyikan lagu mars Yalal Wathon.

Baca Juga: Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Tidak kalah dengan Nahdliyyin muda, kaum Hawa yang menjadi Fatayat dan Muslimat pun sangat bersemangat ketika menyayikan lagu karangan KH. Abdul Wahab Chasbullah itu. Mereka bernyanyi, seakan-akan telah mengenalkan lagu kebanggaan NU itu di lingkungan Sekadau.

Bergemanya lagu mars Yalal Wathon ini menunjukkan bahwa Nahdlatul Ulama di Kalimantan Barat, khususnya di Sekadau, telah maju. Antusias dan semangat warga Nahdlatul Ulama se-Kalimantan telah nampak ketika mereka mulai melantunkan lagu mars tersebut. Suara ribuan Nahdliyyin se-Kalimantan Barat tersebut menjadi saksi bahwa suara warga Nahdliyyin di Kalimantan Barat sangat banyak.[]




(Redaksi RN)
Read More

Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim


rumahnahdliyyin.com, Pasuruan - Sebanyak 5000 kartu arwah dalam kegiatan Tahlil Kubro, dibacakan untuk mengawali Pembukaan Musyawarah Idaroh (MUSDA) ke-4 Ahlith-Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wustho, Propinsi Jawa Timur. Kegiatan yang dimulai setelah Sholat Shubuh tadi itu merupakan permintaan langsung dari Ulama Jawa Timur untuk memperkuat tradisi Nahdlatul Ulama.

"Itu merupakan request langsung dari pengurus Jatman jatim untuk memperkuat tradisi kaum Nahdliyyin. Sebab, tahlil dan kirim arwah atau haul merupakan tradisi NU yang perlu dilestarikan," tutur Syukron Fanani selaku Panitia Penanggung Jawab kegiatan Tahlil Kubro dan Pembacaan Kartu Arwah disela-sela acara tersebut.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Ia juga menjelaskan bahwa Pembacaan Kartu Arwah tersebut dibacakan oleh Pengurus Jatman Kecamatan Purwosari, Pengurus MWC. NU Purwosari dan Segenap Ustadzh Pondok Pesantren Ngalah. Adapun Kartu Arwah tersebut berasal dari Jama’ah Thoriqoh se-Jawa Timur yang dikirim melalui pengurus Jatman Idaroh Wustho Propinsi Jawa Timur.

“Kartu arwah itu berasal dari Jama’ah Thoriqoh se-Jawa Timur yang disebar panitia melalui pengurus Jatman dari tingkat Wustho, Syu’biyah, hingga ditingkat ranting," pungkas mahasiswa Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Baca Juga: Pentingnya Ber-NU Menurut Habib Luthfi

Usai Tahlil Kubro, kegiatan dilanjut dengan Manaqib Kubro Sanatiyah, Yudharta Bersholawat Bersama TNI-POLRI, Pembukaan Musda, Ikrar Perdamaian Masyarakat Dunia dan Pertemuan Mursyid Thoriqoh Se-Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung hingga 1 April ini bertempat di Universitas Yudharta, Komplek Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan.[]
(Dianis)
Read More

Strategi Mbah Bisri Memelihara Diri dari Larangan Tamak


rumahnahdliyyin.com - Pada suatu misi pengajian, kiai Bisri Mustofa mengajak serta seorang santri seniornya. Menjelang sampai ke tempat acara, kiai Bisri menyuruh sopir berhenti di sebuah warung makan. Hidangan dipesan. Tapi si santri senior menolak ikut makan.

“Masih kenyang," katanya. Kiai Bisri pun membiarkannya.

Sampai di tempat acara, sebelum pengajian dimulai, tuan rumah terlebih dahulu mempersilakan untuk menikmati hidangan makan (malam). Tentu saja kiai Bisri menolak.

“Baru saja makan! Nanti saja."

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Usai pengajian, kembali makan malam ditawarkan. Tapi kiai Bisri tetap menolak.

“Masih kenyang."

Si santri seniorlah yang kemudian gelisah oleh lapar, karena tadi tidak ikut makan di warung. Kiainya pura-pura tidak tahu.

Melihat diantara suguhan jajanan terdapat lemper, santri itu merasa beruntung.

“Lumayan, buat ganjal perut," pikirnya.

Apa lacur, baru saja tangannya menjulur hendak meraih lemper, kiai Bisri tiba-tiba beranjak berdiri dan langsung pamitan.

Si santri harus menahan perih perut sampai esok hari. Karena besek berkat yang biasanya diberikan untuk dirayah santri-santri pun ternyata tidak diserahkan.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Menurut Imam Ghozali (Asy-Syaikh Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali Ath-Thusi), ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada ijtinaabun-nawaahiy (menghindari larangan), yaitu ihtiroos ‘anin-nawaahiy (memelihara diri dari larangan). Apa beda keduanya?

Dalam perkelahian, kalau orang berkelit dari pukulan, sehingga pukulan itu luput, gerakan berkelit itulah ijtinaab. Kalau orang berlindung didalam benteng, sehingga tak dapat diserang, itulah ihtiroos. Jadi, ijtinaab itu manuver, sedangkan ihtiroos itu security system.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Setiap hendak menghadiri undangan pengajian, kiai Bisri Mustofa mewajibkan diri mampir ke warung makan menjelang sampai ke tempat acara. Jajan, meskipun di tempat pengajian nanti biasanya tuan rumah menyediakan jamuan makan. Itu adalah ihtiroos ‘anith-thoma’, supaya tidak berharap-harap (thoma’) akan suguhan si tuan rumah.

Menjelang Pemilu 1977, setelah NU (terpaksa) berfusi kedalam PPP, sejumlah kiai NU justru menyeberang ke Golkar. Diantaranya lantaran iming-iming bantuan dana dari Pemerintah. Pada hari-hari itu, Kiai Bisri memborong banyak mobil. Ada tujuh buah mobil di rumah. Padahal garasi hanya cukup untuk satu. Mobil-mobil itupun dijajarkan di jalanan di depan rumah.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Meskipun ada tujuh, hanya satu saja yang dipergunakan, yaitu sebuah sedan Datsun keluaran tahun ’60-an. Bagaimana dengan enam lainnya? Tak banyak yang tahu rahasianya. Ternyata, selain sedan Datsun, mobil-mobil itu mustahil bisa hidup mesinnya kecuali didorong. Artinya, cuma body yang mulus, sedangkan mesinnya bodhol.

Apa tujuannya memborong “kereta-kereta tak berguna” macam itu?

“Untuk dipamerkan!” kata kiai Bisri.

Pameran dalam rangka apa?

“Supaya orang mengira aku ini sudah kaya raya."

Apa untungnya dianggap kaya?

“Supaya tak ada yang berani menawariku uang."

Kalau nggak mau uang, ya ditolak saja toh?

“Kalau ada yang nawari, kuatirnya justru aku yang nggak tahan…”



* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf, Pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.

** Tulisan ini pernah dimuat di teronggosong.com dengan judul "Ihtiroos".
Read More

Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI


rumahnahdliyyin.com - Keberadaan Jam’iyyah Ahlut-Thariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dalam rangka ikut serta menjaga keutuhan NKRI menjadi bagian terpenting dari misi keberadaan organisasi para pengamal tarekat tersebut. Sesuai dengan amanah ulama pendahulu, pengamal tarekat ini harus mampu menjadi teladan dalam menjaga moralitas dan keutuhan bangsa ditengah-tengah masyarakat.

Komitmen mengawal keutuhan NKRI menjadi spirit Idarah Wustha JATMAN Jawa Timur dalam menyelenggarakan Musyawarah Idarah (Musda) ke-4, Sabtu–Minggu (31 Maret dan 1 April 2018) di Universitas Yudharta, Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Baca Juga: Pentingnya Ber-NU Menurut Habib Luthfi

Melalui Musda ke-4 JATMAN Jatim itu diharapkan dapat mempererat serta memperkokoh ukhuwwah islamiyyah, basyariyyah dan wathoniyyah demi keutuhan NKRI. Sebagai forum tertinggi di Idarah Wustha (tingkat propinsi), Musda memiliki peran untuk memilih, menyusun dan menetapkan kepengurusan yang baru.

Wakil Katib Idarah Wustha JATMAN Jatim, KH. Kholil Arpapi, menuturkan bahwa Musda juga menjadi forum untuk evaluasi program kerja kepengurusan yang lalu dan merancang kembali program untuk kepengurusan berikutnya.

“Dan melaksanakan bathsul masail tarekat untuk memecahkan problematika yang berkaitan dengan tarekat,” tuturnya kemudian.

Baca Juga: Jihad Dalam Konteks Negara Bangsa di Era Modern

Faidlus Syukri, selaku Ketua panitia Musda, membeberkan peserta yang terlibat aktif dalam forum Musda tersebut. Yakni, sebanyak 55 peserta berasal dari Idarah Wustha dan 240 peserta dari Idarah Sub’iyah (tingkat kota/kabupaten).

“Ditambah dengan undangan dari Idarah Aliyah 180 orang, Idarah Wustha se-Indonesia 120 orang dan sebanyak 187 Mursyid se-Jatim, perwakilan jama'ah thoriqoh dari masing-masing syu'biyah dari Jatim, jama'ah Manaqib dan Dzikrul Ghofilin yang diasuh KH. Sholeh bahruddin” ungkapnya.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa rangkaian acara di pembukaan Musda, akan digelar. Seperti pembacaan sholawat dan Maulid Diba’, Manaqib Kubro, orasi kebangsaan oleh Kapolda Jatim (Irjen Pol. Machfud Arifin) dan Pangdam V Brawijaya (Mayjen TNI Arif Rahman), pembacaan taushiyyah Idarah Aliyah, ikrar perdamaian masyarakat dunia dan penandatanganan prasasti.

Pembukaan Musda akan dilakukan oleh Gubernur Jatim, H. Soekarwo, dan dihadiri ribuan undangan dari berbagai kalangan. Seperti TNI-POLRI, Bupati dan DPRD Kabupaten, Muspika, dunia usaha dan industri, pengurus NU, FKUB Jatim dan beberapa Negara sahabat dari Konsul Amerika, RRT, Australia dan jepang.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Penegasan netralitas dalam berpolitik
Musda ke-4 tahun 2018 ini juga merupakan penegasan peran strategis JATMAN dalam meneguhkan moralitas bangsa dan mengawal keutuhan NKRI. Para pengamal ajaran tarekat dalam JATMAN harus menjadi teladan dengan mewarisi sikap para ulama terdahulu yang turut serta mendirikan bangsa.

Sebagaimana nasihat Rais 'Aam JATMAN, Habib Lutfi bin Ali bin Yahya, pada Muktamar JATMAN Januari lalu bahwa warga tarekat supaya tidak hanyut dalam pusaran politik demi kepentingan kekuasaan oleh kekuatan politik tertentu.

“Politik JATMAN adalah politik kebangsaan. Yang tak lain untuk menjaga dan memelihara keutuhan NKRI,” ujarnya saat itu.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Hal yang sama, berlaku untuk Musda ke-4 JATMAN Jatim. Musda yang digelar bersamaan dengan tahun politik (baca: pilkada serentak) rentan dilirik oleh kekuatan politik. Tidak terkecuali kekuatan politik yang saat ini tengah berkompetisi untuk mendulang dukungan suara dalam kontestasi demokrasi di tahun politik ini.

Namun, sebagaimana ditegaskan Rais JATMAN Jatim, KH. Muh. Martain Karim, bahwa Musda ke-4 JATMAN Jatim bersih dari kepentingan elit politik yang maju sebagai calon Kepala Daerah.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Senada dengan Kiai Martain, Ketua Panitia Musda (Faidlus Syukri) juga menuturkan atas kesepakatan panitia, para kiai dan mursyid tarekat bahwa dengan tegas menolak politik praktis masuk dalam agenda Musda.

“Komitmen kita senantiasa kepada politik kebangsaan sebagaimana termanifestasikan dalam tema Musda. Yakni meneguhkan moralitas bangsa dan mengawal keutuhan NKRI,” tegas pria yang alumni Pesantren Ngalah itu.[]
 ​

Pasuruan, 29 Maret 2018
Tim Media Center Musda JATMAN ke-4 Jatim
Read More

Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, Atau Sebaliknya


rumahnahdliyyin.com, Jayapura - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Papua, Ustadz Saiful Islam Al-Payage, menegaskan bahwa umat Islam di Bumi Cendrawasih sangat mengedepankan sikap toleransi antar umat beragama. Pernyataan ini dikemukakan oleh Ustadz Payage dalam Silaturrahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) yang bertemakan "Merajut Persatuan dan Kesatuan, Memelihara Toleransi antar Umat Beragama di Tanah Papua" yang diprakarsai oleh Polda Papua.

"Perlu saya tegaskan bahwa umat Islam di Papua tidak sekali pun membuat intoleransi. Saya akan terdepan untuk mencegah sikap intoleransi," kata Ustadz asli Papua itu di Kota Jayapura, Papua, pada Selasa, 27 Maret 2018, sebagaimana dilansir oleh antaranews.com.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Menurutnya, umat muslim di Papua dan di Indonesia, pada umumnya telah hidup berdampingan cukup lama dengan pemeluk agama lainnya secara harmonis satu sama lain.

"Jadi, sangat salah sekali jika ada tindakan anarkis atau konflik atas nama agama. Karena, baik Islam dan Kristen, pada dasarnya adalah satu. Asal Islam dan Kristen itu satu. Jika dalam Islam disebut Nabi Ibrahim, maka dalam Kristen disebut Abraham. Dari sini-lah paham ini menyebar hingga ada Islam, Kristen, Yahudi dan agama lainnya" tambah tokoh muslim asli Papua ini yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi'iyyah, Situbondo, Jawa Timur.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Berbicara terkait agama, imbuh Ustadz Payage, pada intinya sama. Semua agama mengajarkan nilai universal. Nilai kebaikan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebersihan hati dan akhlaq, sudah pasti diajarkan. Dan toleransi, juga pasti dikedepankan.

"Demi menjaga toleransi di Papua, saya harapkan isu yang terjadi diluar sana jangan dibawa ke Papua, atau sebaliknya. Saya meyakini bahwa daerah bagian barat, (Indonesia Barat, red.) pada suatu kelak akan mencontoh kerukunan dan sikap toleransi di Papua. Apalagi, semua komponen di Papua sudah komitmen untuk hidup rukun dan damai," tegasnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifai

Sedangkan mengenai pembangunan Masjid Al-Aqsha dan menaranya di Sentani, Kabupaten Jayapura, menurut Ustadz Payage sebenarnya sudah ditangani oleh MUI setempat. Hanya saja terlanjur viral kemana-mana.

"Bahkan, saya sendiri akhirnya bertemu dengan Ketua DPRD Kabupaten Jayapura untuk bahas ini. Tapi informasi beredar di media sosial facebook tidak bisa dibendung. Bahkan untuk bertindak cepat, kami gelar pertemuan di LPTQ Kotaraja, Kota Jayapura, dengan para pimpinan muslim yang ada," katanya lagi.

Sekarang, katanya lagi, sudah ada tim kecil yang dibentuk bersama untuk menyelesaikan persoalan menara masjid yang dimaksud. Sehingga, diharapkan semua pihak bersabar dalam menyikapi persolan tersebut.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : antaranews.com
Read More

Gus Mus Terima Penghargaan Dari Unnes


rumahnahdliyyin.com, Semarang - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus, Kamis, 29 Maret 2018, menerima penghargaan dari kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes). Gus Mus diberikan anugerah Upakarti Parama Bhujangga karena dinilai telah memberi kontribusi besar dibidang kesusastraan di Indonesia.

Kehormatan itu diberikan dalam peringatan Dies Natalis ke-53 Unnes, siang tadi, di Auditorium Kampus Sekaran, Gunung Pati, Semarang. Selain Gus Mus, Unnes juga memberikan penghargaan Upakarti Prabaswara Mandala kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.


Rektor Unnes Faturrokhman mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan karena dua sosok itu dinilai telah memberikan kontribusi nyata sesuai visi dan misi Unnes.

"Gus Mus itu seorang ulama, budayawan, sastrawan. Beliau aset nasional yang (berhasil) menembus dunia. Dan itu sekarang mulai jarang," kata Fatur seusai peringatan Dies Natalis, siang tadi, sebagaimana dilansir oleh kompas.com.


Unnes berharap, nilai yang dimiliki Gus Mus dapat diikuti oleh masyakat diberbagai elemen.

"Biar menjadi motivasi agar diikuti sastrawan, budayawan di Indonesia," imbuh Fatur.

Baik Gus Mus maupun Hendrar, menerima penghargaan langsung dari Unnes. Gus Mus bahkan sempat mengangkat penghargaan itu hingga membuat suasana di auditorium menjadi gemuruh.


Selepas acara selesai, Gus Mus mengatakan bahwa penghargaan itu terlalu berlebihan bagi dirinya. Namun, bagi Hendrar Prihadi sangat tepat.

"Untuk Wali Kota itu pas. Kalau untuk saya sendiri, itu lebay," tutur budayawan yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, itu.[]



Editor    : Redaksi RN
Sumber : kompas.com
Read More

Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik


rumahnahdliyyin.com - Hizbut Tahrir berasal dari bahasa Arab yang disusun dalam bentuk idlofah. Hizb sebagai mudlof (kata yang disandari) yang dalam bahasa Indonesia berarti partai dan tahrir sebagai mudlof ilaihi (kata yang bersandar kepada mudlof) yang berarti pembebasan. Sehingga, Hizbut Tahrir dalam bahasa Indonesia berarti Partai (untuk) Pembebasan.

Saya kutipkan definisi Hizbut Tahrir dari sebuah buku sangat tipis berbahasa Arab, karena bahasa resmi Hizbut Tahrir adalah Bahasa Arab, berjudul Hizb At-Tahrir yang
terdiri dari 106 halaman yang terdapat definisi (at-ta’rif) dari Hizbut Tahrir sebagai berikut:

حزب التحرير هو حزب سياسي مبدؤه الإسلام فالسياسة عمله والإسلام مبدؤه وهو يعمل بين الأمة ومعها لتتخذ الإسلام قضية لها وليقودها الإعادة الخلافة والحكم بما أنزل الله إلى الوجود وحزب التحرير هو تكتل سياسي وليس تكتلا روحيا ولا تكتلا علميا ولا تعليميا ولا تكتلا خيريا

"Hizbut Tahrir adalah partai politik. Ideologinya, Islam. Maka, politik adalah aktivitasnya, sedangkan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir selalu beraktivitas diantara umat dan bersamanya untuk menjadikan Islam sebagai petunjuk baginya dan agar menjadi penuntunnya untuk mengembalikan Al-Khilafah dan berhukum dengan apa yang diturunkan Allah kepada wujud. Hizbut Tahrir adalah perhimpunan (organisasi) yang bersifat politik. Bukan organisasi kerohanian. Bukan organisasi ilmiah. Bukan organisasi pendidikan dan bukan pula organisasi sosial.”

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam di Pengadilan

Dalam buku berbahasa Arab yang berjudul Hizbut Tahrir tersebut, dijelaskan tentang aktivitas atau kegiatan Hizbut Tahrir yang keseluruhannya adalah aktivitas politik dengan penjelasan sebagai berikut:

فعمل الحزب كله عمل سياسي سواء أكان خارج الحكم أم كان في الحكم وليس عمله تعليميا فهو ليس مدرسة كما أن عمله ليس وعظاوإرشادا بل عمله سياسي تعطى فيه أفكار الإسلام وأحكامه ليعمل بها ولتحمل لإيجادها في واقع الحياة والدولة

"Maka, aktivitas Hizbut Tahrir semuanya adalah aktivitas politik, baik aktivitas itu diluar hukum atau didalam hukum. Aktivitasnya bukan bersifat pendidikan. Sehingga ia bukanlah madrasah sebagaimana bahwa aktivitasnya bukanlah memberikan petuah dan bimbingan. Namun, aktivitasnya bersifat politik yang didalamnya diberikan gagasan-gagasan Islam dan hukum-hukumnya agar diamalkan dan diwujudkan dalam kehidupan nyata dan negara (daulah islamiyyah).”

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

Website resmi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)--yang merupakan bagian Hizbut Tahrir (HT)--juga menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang beridiologi Islam. Bukan organisasi kerohanian, bukan lembaga ilmiah, bukan lembaga pendidikan dan bukan pula lembaga sosial. Hizbut Tahrir bermaksud membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi.

Dalam buku berbahasa Inggris, The Method to Re-Estasblish the Khilafah and Resume the Islamic Way of Life, yang dirilis oleh Hizbut Britain dinyatakan bahwa Hizbut Tahrir sebagai partai dimaksudkan untuk bekerja ke arah pembentukan pemerintahan, menerapkan Islam secara komprehensif dan membawa pesannya ke seluruh dunia.

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Dari berbagai kutipan diatas cukup jelas bahwa HTI adalah partai politik yang merupakan bagian dari Hizbut Tahrir yang juga partai politik. Bahkan, satu-satunya partai politik Islam di dunia Internasional.


* Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU. Tulisan ini diambil dari tulisan beliau (bagian Definisi Hizbut Tahrir) yang dipresentasikan pada tanggal 15 Maret 2018 dihadapan Majelis Hakim PTUN dalam perkara gugatan TUN yang diajukan oleh ex-HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) terhadap Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM, Nomor: AHU-0028.60.10 Tahun 2014 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum HTI.
Read More

Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus


rumahnahdliyyin.com - Kitab berjudul Al-Muna fi Tarjamah Nadhm Al-Asma’ Al-Husna, karya KH. Ahmad Mustofa Bisri, Rembang, merupakan kitab terjemah Jawa Pegon atas nadhom Asmaul Husna, yang terkenal dengan sebutan Nailul Muna.

Nadhom Nailul Muna, yang dijadikan obyek terjemah dan syarah di dalam kitab Al-Muna, merupakan salah satu wirid (bacaan dzikir yang dilanggengkan) yang disukai oleh KH. Ali Ma’shum, Krapyak, Yogyakarta.

Dahulu, KH. Ahmad Mustofa Bisri pernah mendapatkan ijazah wirid Nailul Muna tersebut langsung dari KH. Ali Ma’shum, sebagaimana yang diceritakan dalam muqoddimah kitab Al-Muna.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Berikut adalah cuplikan nadhom Nailul Muna:

بِسْمِ الْإِلَهِ وَبِهِ بَدَأْنَا :: وَلَوْ عَبَدْنَا غَيْرَهُ لَشَقَيْنَا
يَا حَبَّذَا رَبًّا وَحَبَّ دِيْنَا :: وَحَبَّذَا مُحَمَّدًا هَادِيْنَا
لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا :: لَوْلَاهُ مَا كُنَّا وَلَا بَقَيْنَا
اَللهُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا :: وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا :: وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لَقَيْنَا
نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ :: نَحْنُ الْأُوْلَى جَاؤُكَ مُسْلِمِيْنَ 

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Biasanya, pada waktu dulu, santri-santri Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, me-wirid-kan nadhom berbahasa Arab Asmaul Husna Nailul Muna tersebut pada setiap ba'da Shubuh ketika hendak mengaji kepada KH. Ali Ma’shum. Bukan hanya di Pesantren Krapyak saja, di pesantren-pesantren lain di Indonesia, Nailul Muna acapkali dijadikan wirid harian para santri dibeberapa pesantren yang ada di bumi Nusantara ini.

Seperti halnya di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an yang didirikan oleh KH. Muhammad Arwani Amin, Kudus, yang juga pernah mondok di Pesantren Krapyak dibawah asuhan KH. Muhammad Munawwir, Nailul Muna juga dijadikan wirid harian para santrinya. Biasanya dibaca secara rutin setelah mendirikan sholat Tahajjud.

Baca Juga: Dapat Yap Thiam Hien Award, Gus Mus: Saya Tidak Mengerti HAM

Ada beberapa pendapat mengenai siapakah yang menyusun syair-syair indah Asmaul Husna Nailul Muna tersebut. KH. Nu’man Thohir, Kajen, Pengasuh Pondok Pesantren Kulon Banon, Kajen, pernah mendapatkan cerita langsung dari KH. Ali Ma’shum bahwa kumpulan nadhom Asmaul Husna Nailul Muna ini digubah oleh Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, ulama besar abad ke-19 dan alumnus Al-Azhar yang juga menulis kitab Sa’adat Ad-Darain fi Ash-Shalawat ‘ala Sayyid Al-Kaunain. Ada pula yang mengatakan bahwa yang menciptakan mandhumat Nailul Muna ini adalah kiai-kiai Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur.

Mengenai siapa yang menggubah mandhumat Nailul Muna, di dalam kitab Al-Muna karya KH. Ahmad Mustofa Bisri ini tidak disebutkan secara jelas. Pun, di dalam mandhumat Nailul Muna yang tersebar dan dipergunakan di pondok-pondok juga tidak dijelaskan siapakah penulisnya.

Agaknya, penyusun Nailul Muna mungkin lebih suka menyembunyikan identitasnya untuk menjaga rasa ikhlas dihadapan Allah Sang Maha Welas. Sebab, untuk menjaga keikhlasan, sebagian ulama ada yang berprinsip, “Yang penting kitabnya bermanfaat, meskipun pengarangnya tidak diingat-ingat.”

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Masyarakat pesantren percaya bahwa Asmaul Husna, sama halnya dengan wirid-wirid yang lain, memiliki beragam khasiat dan keistimewaan. Apalagi, dalam Al-Qur'an, surat Al-A’raf ayat 180, Allah SWT. menyatakan bahwa Dia memiliki Asmaul Husna atau nama-nama yang Maha Baik. Dan Dia memerintahkan para hamba-Nya agar berdoa memohon kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang Baha Baik itu. Perintah Allah SWT. untuk berdoa dengan menggunakan Asmaul Husna itulah yang menjadi landasan munculnya beragam bacaan dzikir Asmaul Husna yang dibalut dengan doa-doa semacam Nailul Muna.

Secara garis besar, kumpulan nadhom Nailul Muna berisi tentang macam-macam tawassul dengan Asmaul Husna yang memuat berbagai macam pujian, doa-doa dan permohonan seorang hamba. Mulai dari keselamatan agama, perlindungan dari musuh, hingga kebahagiaan dunia dan akhirat.

Baca Juga: Gus Mus: Smangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Nailul Muna yang digubah dalam bentuk mandhumat (kumpulan nadhom) indah berbahasa Arab ini, bagi masyarakat muslim Nusantara yang masih awam, tentu akan sulit dipahami maknanya. Pada umumnya, syair-syair berbahasa Arab yang digubah menjadi nadhom atau qoshidah, adalah bentuk-bentuk ungkapan yang dalam bahasa Ilmu Balaghoh disebut dengan ijaz, yakni sebuah kalimat yang kata-katanya sedikit, namun mengandung makna banyak.

Untuk memahami bentuk kalimat ijaz, tentu dibutuhkan perangkat ilmu ke-bahasa-Arab-an yang beragam, yang pada umumnya tidak dimiliki oleh kalangan awam. Oleh karena itu, KH. Ahmad Mustofa Bisri tergerak untuk menulis kitab Al-Muna yang merupakan terjemahan Jawa Pegon dari kumpulan nadhom Nailul Muna karya Syaikh Yusuf bin Isma’il An-Nabhani, dengan tujuan supaya umat Islam Indonesia yang tidak memahami bahasa Arab bisa mengetahui maknanya.

Baca Juga: Toilet Sebagai Jalan Keluar

Ketika seorang hamba membaca wirid atau doa, dan ia paham betul tentang makna yang terkandung didalamnya, maka akan sangat mudah baginya untuk menghayati, meresapi dan merasakan kandungannya. Dawuh beliau, KH. Ahmad Mustofa Bisri:

كُوْلَا تَطَفُّلْ، نٓرْجٓمَاهَاكٓنْ دَاتٓڠْ بَهَاسَا جَاوِيْ كَانْطِيْ ڤٓڠَاجٓڠْ-ڠَاجٓڠْ سَاڮٓدَا ڤَارَا سٓدَيْرَيْكْ قَوْمْ مُسْلِمِيْنْ إِڠْكَڠْ كِيْرَاڠْ مٓڠُوَاسَاهِيْ لُغَةْ عَرَبِيَّةْ، سَاڮٓدْ فَهَمْ أَرْطَاسِيْڤُوْنْ. سٓلَاجٓڠِيْڤُوْنْ، كَانْطِيْ مٓمَاهَامِيْ أَرْطَوْسِيْڤُوْنْ، دُعَاءْ إِڠْكَڠْ دِيْڤُوْنْ وَاهَوْسْ سَاڮٓدْ دِيْڤُوْنْ رَاهَوْسَاكٓنْ وَوْنْتٓنْ إِڠْ مَانَاهْ

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Kitab Al-Muna karya KH. Ahmad Mustofa Bisri ini menggunakan teknik penerjemahan "makna gandul" atau terjemah "jenggotan" (bearded translation) yang dilengkapi dengan syarah atau penjelasan serta catatan-catatan pada setiap nadhom yang diterjemahkan. Dengan begitu, sehingga memudahkan orang-orang awam untuk memahami secara mendalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang diterjemahkan.

Selain itu, dalam penulisan kitab Al-Muna yang menggunakan aksara Arab Pegon tersebut, KH. Ahmad Mustofa Bisri juga mengenalkan beberapa kosakata Arab yang dimasukkan (baca: diserap) ke dalam tulisan Pegon, seperti tathafful (تَطَفُّلْ) yang memiliki arti: merenungkan, atau memikirkan. Pengenalan beberapa istilah Arab dalam tulisan Pegon oleh para ulama Nusantara yang dilakukan “secara halus” kepada para pembaca ini, mengandung unsur pengajaran yang gradual untuk memahami kosakata-kosakata Arab secara bertahap.

Baca Juga: Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila

Kenyataan bahwa ada banyak istilah Arab yang dimasukkan ke dalam tulisan Pegon, semakin menguatkan bahwa aksara Arab Pegon menjadi gerbang besar bagi masuknya kosakata Arab ke dalam Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang pernah ditulis dengan menggunakan aksara Arab Pegon. Diantara kosakata Arab yang sudah masuk dan diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa melalui gerbang aksara Arab Pegon adalah: Sholat (صلاة), Zakat (زكاة), Haji (حجّ), Iman (إيمان), Islam (إسلام), Masjid (مسجد), Musholla (مصلّى) dan lain-lain.

Istilah-istilah Arab yang diserap ke dalam bahasa Jawa, bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa lain yang hidup di Nusantara, ketika ditulis dalam aksara Pegon tetap ditulis seperti aslinya. Tidak ada perubahan sama sekali. Oleh karenanya, keberadaan aksara Pegon ini tidak pernah merusak tatanan bahasa Arab dengan adanya penulisan istilah Arab yang tidak sesuai pakemnya itu. Juatru, Aksara Pegon menjadi pelengkap bahasa Arab yang sistem tulisannya tidak mampu menampung sistem bunyi atau fonologi bahasa-bahasa non-Arab. Dengan adanya aksara Pegon, bahasa Arab akan mudah membumi dan menyatu dengan bunyi-bunyian bahasa non-Arab serta berdialektika langsung dengan masyarakat ‘ajam tempat dimana ia menyebar.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Kitab Al-Muna fi Tarjamah Nadhm Al-Asma’ Al-Husna ini selesai ditulis oleh Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin, Leteh, Rembang, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, di Rembang. Tepatnya yaitu pada hari Senin, tanggal 22 Juli 1996 M./06 Rabi’ul Awwal 1417 H. dan diterbitkan oleh Penerbit Al-Miftah Surabaya dengan ketebalan 31 halaman.


* Oleh: Sahal Japara, Kepala SMPQT Yanbu’ul Qur’an 1 Pati dan Pemerhati Aksara Pegon.
Read More

Kemenag: Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri


rumahnahdliyyin.com, Yogyakarta - Mengawali penyampaiannya pada Halaqoh Santri Nusantara yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu, 28 Maret 2018, Menag Lukman Hakim Saifuddin bertanya kepada para santri dan mahasiswa yang hadir tentang siapa tokoh idolanya selain Nabi Muhammad SAW.

Seketika, berhamburan nama-nama tokoh idola yang mereka sampaikan. Ada sosok mantan Presiden RI Gus Dur, kiai dan juga budayawan KH. Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, Pahlawan Nasional Agus Salim, hingga KH. Imam Zarkasyi yang merupakan salah satu pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Kemudian, Lukman Hakim pun bercerita bahwa pagi tadi dirinya sempat memposting di twitternya sebuah ungkapan, "Hidup itu dijalani dengan 2 cara, bersyukur dan/atau bersabar. Kalau tak bisa bersyukur, bersabarlah. Kalau tak bisa bersabar bersyukurlah. Kalau tak bisa keduanya, terus mau hidup dengan cara apa?"

Unggahan atau postingan tersebut, kata Menag, mengajak kita semua untuk bersyukur dengan apa yang kita alami yang jauh lebih baik dibanding era generasi dahulu kita.

Baca Juga: Nahdlatul Ulama (NU) dan Pesantren di Era Milenial

Menag mengajak untuk mengedepankan rasa syukur terhadap eksistensi kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

"Kita menjadi Indonesia bukan kemauan kita. Mengapa bukan bagian dari negara lain, kok Indonesia, ini bukan pilihan kita. Tapi takdir Tuhan. Jadi, kita ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi bagian bangsa Indonesia," jelas Menag pada kesempatan itu yang dihadiri oleh civitas akademika UIN Sunan Kalijaga.

"Saya ingin katakan, betapa bangsa ini begitu religius. Inilah kita. Dan ini sejak ratusan tahun lalu. Dan Tuhan mentakdirkan kita menjadi bagian dari bangsa religius ini," lanjutnya.

“Oleh karenanya, diawal pertemuan ini, saya ingin mengajak dan mengawali dengan syukur menjadi bangsa Indonesia. Bangsa yang agamis dan majemuk. Dua hal, religiusitas dan keberagamannya. Dan sebenarnya (religiusitas dan keberagaman), miniaturnya ada di Pondok Pesantren,” ucap Menag.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Menag menyampaikan, ciri lain santri adalah memiliki kecintaan luar biasa kepada Tahah Air. Menurutnya, ini adalah hasil tempaan para pendahulu kita.

“Santri bagian inti dari bagaimana menjaga ke-Indonesia-an kita. Bangsa yang tidak bisa dipisahkan dari nilai agama dalam menjalani kehidupannya,” tuturnya.

Baca Juga: Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren

Disampaikannya juga, santri diharapkan mampu mengusung moderasi agama, yaitu Islam yang moderat. Bukan yang ekstrim. Dan ini semakin relevan dengan kondisi saat ini.

Santri-lah yang punya tradisi hidup dalam kemajemukan. Kemajemukan adalah cara Tuhan menurunkan keberkahan untuk saling melengkapi, bukan saling menegasikan. Ini harus dipahami para santri dan mahawasiswa tentang Islam moderat.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

“Inilah menurut hemat saya yang harus jadi pegangan kita. Dan bersyukur pemerintah berkomitmen menempatkan santri pada posisinya untuk bagaimana menjaga eksistensi bangsa. Hari Santri ditetapkan dengan harapan santri mampu berkontribusi bagi masa depan bangsa,” ucapnya.

Penetapan Hari Santri merupakan wujud pemberian tanggung jawab bagi kalangan santri untuk menentukan nasib bangsa ini ke depan. Jadi, bukan sekedar pengakuan. Tapi harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam kesempatan ini, Menag juga menyerahkan secara simbolis Bantuan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Tahun 2018 dan dilanjutkan dengan Deklarasi Ngayogyakarta Dari Santri Untuk NKRI.

Hadir dalam acara ini yaitu Dirjen Pendidikan Islam (Kamaruddin Amin), Rektor UIN Yogyakarta (Yudian Wahyudi), Staf Khusus Menag (Hadirrahman), Direktur PD. Pontren (Ahmad Zayadi), Kepala Biro Humas, Data dan Informasi (Mastuki), Kakanwil Kemenag Yogyakarta (M. Lutfi Ahmad) serta civitas akademika UIN Yogyakarta.


Editor    : Redaksi RN
Sumber : kemenag.go.id
Read More

Ketua LTN PBNU: Konsolidasi Potensi NU Untuk Membangun Peradaban Teknologi


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (Infokom dan Publikasi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Hari Usmayadi, pada kesempatan Ngaji Teknologi yang digelar pada Rabu, 28 Maret 2018, di ruang Perpustakaan PBNU, di gedung PBNU lantai 2, Jakarta, menyebutkan bahwa Indonesia sedang banjir startup.

Banyaknya aplikasi yang memenuhi dunia digital Indonesia, membuat masyarakat terkena dampak dari teknologi tersebut. Sekitar 50 persen dari 250 juta lebih bangsa Indonesia ini adalah pengakses internet. Namun masih sangat sedikit yang berperan sebagai produsen, penyedia ataupun pengembang dari teknologi itu.

“Tapi sekali lagi, kita lebih banyak sebagai konsumennya,” tegasnya.

Baca Juga: Ngaji Teknologi LTN-Lakpesdam Akan Gelar Olimpiade Teknologi Terapan

Menurut Cak Usma, demikian sapaan akrab ketua LTN PBNU itu, NU sebagai ormas terbesar di negeri ini, pasti juga terkena imbas dari teknologi itu juga. Karena itu, NU harus terlibat dalam kemajuan teknologi itu. Tidak saja sebagai pengguna atau konsumen saja, tetapi juga harus aktif sebagai pencipta.

“NU secara kultural jangan hanya sebagai konsumen, dan bagaimana struktural itu mengarahkan,” ujarnya.

Baca Juga: Sosialisasi LTN NU di Papua Barat

Secara teknis, harus dibuat tim khusus untuk meneliti supaya ditemukan langkah-langkah konkret dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi ini. Meskipun demikian, NU tidak boleh terjebak dalam prosesnya, sehingga tidak meninggalkan masalah lainnya.

Artinya, selain NU harus menindaklanjuti ketertinggalan yang sudah sedemikian jauh itu, NU juga harus tetap mengawal anak-anak bangsa yang masih kerap kali mengambil sisi-sisi negatif dari perkembangan teknologi.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

NU harus memberikan informasi ketertinggalan melalui media-media secara periodi, yang disebut Cak Usma sebagai "warning". Lalu, membuat gerakan baru supaya ditindaklanjuti.

“Perlu dibuat bola salju berikutnya yang nantinya kita tindaklanjuti,” ungkapnya.

Melihat hal tersebut, dengan demikian, salah satu tantangan NU ke depan adalah mengonsolidasi potensi NU untuk membangun peradaban teknologi sebagai energi untuk peradaban berikutnya.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain Cak Usma, hadir pula dalam acara ini yaitu Wakil Sekretaris Lembaga4 Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Mahbub Ma’afi, Sejarahwan Yul Amrozy dan Praktisi Teknologi Elwin Andririanto.[]


Editor    : Redaksi RN
Sumber : nu.or.id
Read More