KH. Ahmad Rifai dan Batik Rifaiyah


rumahnahdliyyin.com, Batang - Miftakhutin, perempuan berusia 40 tahun yang perajin batik tulis di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bercerita panjang lebar mengenai sejarah batik tulis khas daerah itu yang hingga kini masih bertahan. Sebagaimana ditulis pada laman antaranews.com, hal tersebut disampaikan Miftakhutin saat berdiskusi dengan sejumlah wartawan pada kegiatan kunjungan media yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di galeri, workshop, sekaligus sentra batik Rifaiyah di Jalan Mataram III, RT. 02/RW. 02, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, pada Rabu (02/05/2018).

Selain dikenal dengan batik Rifaiyah dan Multikultur, batik tulis yang digeluti oleh Utin, demikian Miftakhutin lebih akrab disapa, dikenal juga dengan sebutan "Batik Tiga Negeri". Tiga negeri yang dimaksud itu adalah daerah Lasem yang terkenal batiknya dengan warna merah, Pekalongan dengan warna biru dan Solo dengan warna cokelat. Perpaduan tiga warna itulah yang membuat batik khas daerah Batang itu disebut dengan "batik tiga negeri".

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Meski masih bertahan hingga kini, Utin mengutarakan kekhawatirannya yang serius terhadap masa depan batik Rifaiyah yang perajinnya kian berkurang. Ia mengungkap lagi bahwa saat ini perajin batik Rifaiyah itu rata-rata diatas usia 35 tahun. Ada lebih dari 100 perajin, namun yang aktif ada 87 orang.

"Anak-anak muda perempuan tidak lagi tertarik untuk membatik. Ada yang berusia 18 tahun, satu orang saja," kata Utin yang merupakan generasi kelima dari keluarganya yang meneruskan tradisi membatik hingga saat ini.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Secara umum, perajin batik Rifaiyah adalah komunitas yang mengambil spirit dari ajaran KH. Ahmad Rifai atau yang lebih dikenal dengan kiai Rifai. Atau sebuah komunitas yang merupakan santri yang mengikuti ajaran kiai Rifai yang kemudian meneruskan tradisi membatiknya. Karena itu pula, maka nama batik ini dinisbatkan kepada nama kiai tersebut, yakni batik Rifaiyah.

Berdasarkan rujukan sejarah, kiai Ahmad Rifa'i merupakan salah satu ulama besar yang lahir di Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, pada 9 Muharram 1200 H./1786 M. Sikapnya yang kritis membuat Belanda membuangnya ke daerah Ambon dan diasingkan ke Manado hingga akhirnya wafat pada tahun 1876 M. di Sulawesi Utara.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Kiprah dan perjuangan kiai Rifai melawan penjajahan kolonial Belanda itulah yang akhirnya membuat negara ini menganugerahinya gelar sebagai pahlawan nasional sebagaimana berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 086/TK/2004, pada saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai generasi penerus membatik, dengan spirit Rifaiyah, Utin mengingat ajaran-ajaran kiai Rifai. Diantaranya yaitu berupa syair-syair yang ditulis dalam bahasa Arab Pegon yang selalu disenandungkan ketika membatik. Selain untuk mengingat kembali ajaran kiai Rifai, hal itu dilakukan karena untuk "meramaikan" suasana. Sebab sebelumnya, perajin yang serius dan fokus membatik akan membuat suasana menjadi hening.

"Dengan syair-syair yang diajarkan dan mengandung nilai religi, membuat suasana lebih meneduhkan jiwa," tambahnya.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Motif batik Rifaiyah, pada umumnya menggambarkan tumbuhan. Sangat jarang ada motif hewan. Hal itu karena dalam ajaran Islam memang ada sebagian ulama yang melarang menggambar makhluk hidup. Secara keseluruhan, setidaknya ada 24 motif dalam batik Rifaiyah.

Corak tersebut yaitu pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawungndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrio, ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin, romo gendong, jerukno'i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Motif-motif inipun ada yang mengandung makna spiritualitas. Misalnya motif pelo ati (ampela dan hati ayam) yang menggambarkan ajaran sufisme bahwa hati mengandung sifat-sifat terpuji.

Baca Juga: Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Menurut kitab Tarujumah, susunan kiai Rifai, dalam hati manusia itu terdapat delapan sifat kebaikan, yaitu zuhud (tidak mementingkan keduniawian), qona'at (merasa cukup atas karuniaNya), sabar, tawakal (berserah diri kepadaNya), mujahadah (bersungguh-sungguh), ridlo (rela), syukur dan ikhlas. Semua sifat inipun mengandung makna khouf, mahabbah dan ma'rifat.

Ampela menggambarkan sebagai tempat kotoran. Yaitu sifat-sifat buruk manusia sebagaimana terdapat dalam kitab Tarajumah, yaitu hubbud-dunya (mencintai dunia yang disangka mulia namun di akhirat sia-sia), thoma' (rakus), itba' al-hawa (mengikuti hawa nafsu),'ujub (suka mengagumi diri sendiri), riya' (suka dipuji), takabbur (sombong), hasud (dengki) dan sum'ah (suka membicarakan amal kebajikannya pada orang). Dan semua sifat tercela dan kotor ini harus dibuang jauh-jauh.[]




(Redaksi RN)
Read More

Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Bogor - Islam merupakan agama minoritas di Italia. Umumnya, pemeluk Islam di Italia adalah orang-orang keturunan negara-negara Afrika. Pada 2017, diperkirakan ada sekitar 1.5 juta populasi umat Islam dari total 59 juta jiwa populasi seluruh penduduk Italia.

Kendati merupakan kelompok minoritas, Yahya Sergio Yahe Pallavicini, Ketua Komunitas Islam Italia, mengatakan bahwa Islam telah hadir diberbagai sektor dalam kehidupan masyarakat Italia. Hal ini merupakan hasil upaya dari masyarakat muslim di negara itu sendiri yang menghadirkan Islam di Italia tanpa harus bersikap fanatik.

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila

Sementara itu, terkait tingginya Islamphobia di Eropa, Pallavicini tidak menampiknya. Ia pun menambahkan bahwa harus ada sharing lintas dimensi untuk menguranginya.

“Setiap orang yang menyerang suatu agama, sama dengan menyerang setiap lapisan masyarakat. Untuk mengurangi Islamphobia, harus ada sharing lintas dimensi untuk membantu menemukan identitas dan mengkaitkan dari tradisi ke modernitas,” kata Pallavicini sebagaimana dikutip dari tempo.co, disela-sela forum High Level Consultation of World Muslim Scholars on Wasatyyat Islam, pada Rabu (02/05/2018).

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Bagi Manusia

Hidup sebagai minoritas di Italia, membuat Pallavicini "iri" dengan Indonesia. Ia menilai bahwa pengajaran agama Islam di Indonesia sangat berkembang. Hal ini sangat mengejutkan mengingat 80 persen umat Islam di Indonesia bukanlah berdarah Arab, dimana selama ini Islam selalu identik dengan negara-negar Timur Tengah.

Berkaca pada hal ini, Pallavicini pun ingin menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi masyarakat Italia. Indonesia yang terdiri dari beragam suku-bahasa, ternyata bisa hidup dalam harmoni sehingga menginspirasi negara lain.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam


rumahnahdliyyin.com, Bogor - Pertemuan seluruh Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia dalam Konsultasi Tingkat Tinggi tentang Islam Wasathiyah (Islam Moderat), yang berakhir hari Kamis ini (03/05/2018), menyepakati dan mendukung poin-poin yang ada dalam Bogor Message atau Pesan Bogor.

"Seluruh ulama menyetujuinya. Dan ada beberapa tambahan yang akan disusun dalam Pesan Bogor," kata Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP), Din Syamsudin, sebagaimana dilansir antaranews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Din Syamsudin menyebutkan bahwa Pesan Bogor ini disusun dengan ringkas dan hanya ada tiga butir konsideran (pertimbangan) yang kemudian diletakkan didalam komitmen yang bersifat praktis. Terutama lewat Poros Wasathiyah Islam Dunia yang disepakati untuk didirikan dan berada di Indonesia.

"Ini sejalan dengan pesan Presiden Joko Widodo pada pembukaan. Nanti lewat poros ini, semua program akan kita rancang. Termasuk untuk diadakannya pertemuan tahunan," sambung Din Syamsudin.

Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila

Adapun isi pertimbangan Pesan Bogor tersebut, yaitu:
  1. Para Cendekiawan Muslim Dunia yang bersidang di KTT Cendekiawan Muslim Dunia tentang Wasathiyah Islam ini mengakui adanya realitas peradaan modern yang menunjukkan kekacauan global, ketidak pastian dan akumulasi kerusakan global yang diperparah oleh kemiskinan, buta huruf, ketidak adilan, diskriminasi dan berbagai bentuk kekerasan, baik di tingkat nasional maupun global.
  2. Percaya pada Islam sebagai agama damai dan rahmat (din as-salam wal-hadloroh) yang prinsip dan ajaran dasarnya mengajarkan cinta, rahmat, harmoni, persatuan, kesetaraan, perdamaian dan kesopanan.
  3. Mengakui bahwa paradigma Wasathiyah Islam sebagai ajaran utama Islam, telah dipraktekkan dalam perjalanan sejarah sejak era Nabi Muhammad SAW., khalifah yang dibimbing dengan benar (Al-Kholifah Ar-Rosyidah), ke periode modern dan kontemporer, diberbagai negara di seluruh dunia, serta menegaskan kembali peran cendekiawan muslim untuk memastikan dan memeliharan generasi masa depan untuk membangun peradaban Ummatan Wasathon.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Sementara itu, isi Pesan Bogor sendiri ada empat, yaitu:
  1. Mengaktifkan kembali paradigma Wasathiyah Islam sebagai ajaran Islam yang meliputi tujuh nilai utama. Tujuh nilai utama tersebut yakni Tawassuth, I'tidal, Tasamuh, Syuro, Ishlah, Qudwah dan Muwathonah.
  2. Menjunjung tinggi nilai-nilai paradigma Wasathiyah Islam sebagai budaya hidup secara individual dan kolektif dengan melambangkan semangat dan eksemplar dari sejarah peradaban Islam.
  3. Memperkuat tekad untuk membuktikan kepada dunia bahwa umat Islam sedang mengamati paradigma Wasathiyah Islam dalam semua aspek kehidupan.
  4. Mendorong negara-negara muslim dan komunitas untuk mengambil inisiatif untuk mempromosikan paradigma Wasathiyah Islam melalui Fulcrum (poros) of Wasathiyah Islam dalam rangka membangun Ummatan Wasathon, sebuah masyarakat yang adil, makmur, damai, inklusif, harmonis, berdasarkan pada ajaran Islam dan moralitas.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Pimpinan Dewan Masyarakat Muslim Dunia, Prof. Mustafa Cheric, menilai isi Pesan Bogor ini sangat penting dan berharga. Dan tidak hanya dibahas hari ini saja, tetapi ada kelanjutannya di pertemuan lainnya. Ia punya dua usulan tambahan untuk isi Pesan Bogor ini, seperti komitmen bekerja sama seluruh ulama dan cendekiawan muslim dunia untuk menjadikan KTT seperti ini sebagai investasi penting para ulama.

"Karena kita memiliki generasi muda, oleh karena itu, saya rekomendasikan Indonesia mengumumkan kompetisi antar umat muda muslim untuk melakukan penelitian atau kajian atas tujuh nilai utama wasathiyah dalam Pesan Bogor ini," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Bagi Manusia

Charlic juga berpesan bahwa Pesan Bogor ini tidak hanya ditujukan bagi negara-negara Islam. Melainkan juga mengakomodir negara-negara non-muslim, sehingga konsep wasathiyah Islam sebagai agama penengah, bisa dipahami secara luas.[]



(Redaksi RN)

Read More

Sambutan MTQ Ke-27, Bupati Nabire Himbau Umat Islam Untuk Mengamalkan Al-Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Nabire - Rabu (02/05/2018), pukul 20.00 WIT., Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua secara resmi dibuka oleh Plt. gubernur Provinsi Papua, yaitu Jend. Purn. Soedarmo, beserta Ketua LPTQ dan Bupati Nabire, Saias Douw. Pembukaan MTQ yang ke-27 kali ini bertempat di halaman Masjid Agung Al-Falah dan Islamic Center yang berada di jalan Merdeka, Nabire, Papua.

Kegiatan MTQ ini terselenggara berkat kerjasama antara LPTQ, Kanwil Kemenag dan Pemerintah Daerah maupun Provinsi Papua dengan tujuan untuk mengembangkan dakwah sekaligus sebagai sarana untuk memajukan syiar agama Islam di tanah Papua ini. Kendati acaranya bernuansa Islami, namun dari panitia dan masyarakat non-muslim juga turut membantu demi suksesnya acara ini.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi

Adapun cabang perlombaan yang dihelat dalam MTQ ini diantaranya yaitu Tilawah Qur'an, Hifdhil Qur'an, Syahril Qur'an, Fahmil Qur'an, Menulis Makalah Qur'an, Kaligrafi, Cerdas Cermat Al-Qur'an, dengan kategori anak-anak, dewasa dan putra-putri ditiap cabangnya.

Rangkaian acara pembukaan MTQ ini diawali dengan penyerahan Piala Lomba oleh Ketua MTQ sebelumnya yang diselenggarakan di Jayapura kepada Ketua Panitia MTQ yang sekarang, yakni Mote. Dalam penyerahan tersebut, selain mengucapkan rasa terimaksihnya, Ketua Panitia yang sekarang dan sekaligus tuan rumah itu juga menyampaikan akan berusaha semaksimal mungkin demi suksesnya perheletan MTQ kali ini.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia Bentuk HAPPI

Sedangkan bapak Bupati Nabire, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa dengan adanya MTQ ini, umat Islam supaya senantiasa membaca kitab sucinya untuk dijadikan pegangan dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ia sendiri penganut agama Kristen, namun ia juga menambahkan bahwa Islam adalah agama yang damai dan tidak keras.

Lebih lanjut, ia menghimbau dan mengajak semua tokoh adat, agama dan masyarakat supaya senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama, tidak saling fitnah dan mencintai toleransi.

"Mari kita ciptakan kerukunan dan kedamaian di tanah Papua ini," ujarnya yang disambut gemuruh tepuk tangan oleh hadirin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Acara pembukaan MTQ Ke-27 pun secara resmi dinyatakan telah dibuka setelah acara pemukulan bedug yang dilakukan oleh Plt. gubernur Papua.

Setelah hiburan, rebana dan tari-tarian Islami yang dilakukan oleh anak-anak tuan rumah Nabire, acara pembukaan pun ditutup dengan do'a.

Tampak hadir dalam acara ini yaitu Pemkab Nabire, Forkopinda, Kanwil, Ketua MUI Nabire, ormas Islam, tokoh adat dan agama Nabire, bupati Jayapura dan seluruh peserta lomba dan masyarakat Nabire dan sekitarnya.[]



(M. Taha)
Read More

Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Mengenai Pancasila


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak hanya dikagumi oleh ulama-ulama Nusantara, melainkan juga oleh ulama-ulama negara lain. Syaikh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, misalnya. Grand Syaikh Al-Azhar yang baru saja dinobatkan sebagai ulama paling berpengaruh di dunia oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre ini memberikan pujian terhadap Pancasila sekaligus kepada Presiden Soekarno yang notabene sebagai pencetusnya.

“Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, prinsip musyawarah dan keadilan adalah intisari ajaran Islam,” ujar Grand Syaikh Al-Azhar itu sebagaimana dikutip oleh laman arrahmahnews.com.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa rumusan Pancasila bukan hanya sekedar sejalan dengan Islam. Lebih dari itu, dalam tiap butir Pancasila merupakan esensi ajaran Islam itu sendiri yang harus diperjuangkan. Dalam keterangannya ini, Grand Syaikh juga menyatakan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam.

Ulama yang juga tokoh terdepan dalam menyuarakan moderasi Islam itu menambahkan lagi bahwa pemikiran Bung Karno telah berhasil membangun hubungan diplomasi antara Indonesia dengan Mesir dan memberikan inspirasi kepada dunia Internasional, terutama semangat Bung Karno yang anti kolonialismenya.

“Konferesi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung yang diinisiasi oleh Presiden Soekarno berhasil menggelorakan semangat kepada negara-negara di Asia dan Afrika yang mayoritas masih terjajah untuk merdeka dan berdaulat,” terang Syaikh Ahmad Ath-Thayyeb.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Secara eksplisit, pernyataan ulama nomor wahid di dunia tersebut menunjukkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang ideal untuk Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat yang beragam.

Selain itu, pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar itu juga menunjukkan bahwa Pancasila dan Islam itu sama sekali tidak bertentangan sebagaimana yang akhir-akhir ini mulai dihembuskan oleh kelompok-kelompok tertentu. Sebab, jelas sekali bahwa didalam butir-butir Pancasila itu terdapat esensi ajaran Islam itu sendiri.[]



(Redaksi RN)
Read More

Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Grand Syaikh Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb, mengimbau kepada umat Islam untuk tidak mengklaim diri sebagai pihak yang paling benar sembari menganggap pasti salah kelompok-kelompok diluar dirinya.

Menurutnya, monopoli kebenaran bukanlah tindakan yang tepat. Islam melarang penganutnya untuk memvonis kafir sesama kelompok ahli qiblat (sesama umat Islam).

"Tidak boleh mengatakan 'hanya saya yang paling benar, sementara yang lain tidak'," tuturnya saat berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu malam (2/5/2018).

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Kedatangan Grand Syaikh Al-Azhar di Kantor PBNU ini disambut hangat oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj. Di hadapan ratusan hadirin, keduanya berdiskusi dengan tema "Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia."

Syaikh Ath-Thayyeb menekankan kaum muslimin supaya fokus pada titik persamaan daripada mencari-cari titik perbedaan dikalangan umat Islam, baik kelompok Sufi, Wahabi, Ahlussunnah, Syi'ah dan lainnya.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini juga menyampaikan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW. itu sebagai rahmat untuk semua, bukan terbatas untuk umat Islam semata.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sebelumnya, KH. Said Aqil Siroj menjelaskan profil singkat Nahdlatul Ulama dan mengenalkan pula kepada Syaikh Ath-Thayyeb tentang Islam Nusantara sebagai Islam yang menjunjung tinggi moderatisme (wasathiyah).

"Islam Nusantara bukan mazhab baru. Melainkan karakter khas keberislaman di bumi Nusantara yang ramah terhadap budaya, harmoni dengan kebhinekaan," jelasnya.

Grand Syaikh Al-Azhar mengakui bahwa kedatangannya di Indonesia adalah bagian dari agenda untuk memperkuat Islam moderat. Ia optimis bahwa hal ini merupakan langkah awal bagi perdamaian dunia secara umum.[]




(Redaksi RN)
Read More

Khasanah Intelektual Ulama


rumahnahdliyyin.com - Islam di Indonesia (baca: Islam Nusantara), memiliki kekhasan tersendiri, santun, ramah, mencintai tanah airnya, dan bijak terhadap hal-hal baru dengan tetap mempertahankan nilai-nilai agama yang luhur serta mewariskan segudang kekayaan khasanah intelektual. Nahdlatul Ulama (NU) menjadi satu dari beberapa organisasi Kemasyarakatan dan Keagamaan di Indonesia yang memiliki peran penting dalam meneruskan, menjaga, dan mengembangkan tipologi Islam yang berkembang tersebut. 

Dalam memperingati Harlah NU ke-95, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) menggelar "Road Show Khasanah Intelektual Ulama & Pesantren Pasuruan" dengan melibatkan beberapa Pondok Pesantren yakni Pondok Pesantren Nagalah Sengonagung Purwosari, Pondok Pesantren Kramat, dan Pondok Pesantren Darul Ulum Krangpandan Rejoso, Pondok Pesantren Sladi Kejayan dan Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan.

Adapun bentuk kegiatan dengan Ngaji Kitab Karya Ulama & Pesantren Pasuruan yang meliputi Kitab Nazdom Sullamut Taufiq karya Al-Arif Billah K.H. Abdul Hamid bin Abdulloh Umar (Mbah Hamid Pasuruan), Kitab Manakibul Karamat karya K.H. As'ad Abdul Karim Kramat, Kitab Muntaha Nataiju Aqwal karya Kiai Asy;ari Ranggeh, Kitab Sabilussalikin karya Podnok Pesantren Ngalah, dan beberapa Kitab-Kitab karya alm. K.H. Jakfar Shodiq Sladi, serta Soft Launcing dan Bedah Buku "Sejarah dan Keutamaan Istighosah" karya K.H. Drs. Ishomuddin Maksum, M.Pd.I selaku Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan Rejoso. Dalam kegiatan tersebut juga digelar Bazar Buku Islami oleh PWNU LTN Jawa Timur.

"Road Show akan dimulai pada Malam Nisyfu Sya'ban, Senin 30 April 2018 kemudian Selasa,1 Mei. Keduanya bertempat di Pondok Pesantren Ngalah Purwosari. Selanjutnya pada Hari Sabtu, 5 Mei di Pondok Pesantren Kramat Kraton, dan Senin, 7 Mei di Pondok Pesantren Darul Ulum Karangpandan Rejoso", ujar Makhfud Syawaludin selaku Sekretaris PC Lakpesdam NU Kabupaten Pasuruan.

"Itu hanya segelintir dari kekayaan Khasanah Intelektual Ulama & Pesantren di pasuruan. Kami berharap kedepan dapat menampilkan semuanya', imbuh mahasiswa Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan tersebut.

Terkait tujuan kegiatan tersebut adalah untuk mengelakan Kekayaan Khasanah Intelektual Ulama dan Pesantren serta dalam upaya Menjaga dan Meneruskan Tradisi Literasi di pondik Pesantren sehingga kepesertaan selain dibuka untuk umum juga secara khusus mengundang santri dari utusan Pondok Pesantren se-Pasuruan.

Tim Media Center
PC LAKPESDAM NU Kab. Pasuruan
Read More

Buya Syafi'i Ma'arif: Lawan Orang yang Mau Memperalat Agama


rumahnahdliyyin.com, Magelang - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif, mengingatkan semua kalangan bahwa agama bukanlah untuk kepentingan pragmatisme. Termasuk bukan alat untuk meraih kekuasaan.

"Situasi akan rusak dan runyam kalau agama dijadikan kendaraan politik. Itu ndak bener," katanya seperti dikutip oleh antara.comusai menjadi nara sumber dalam sarasehan kebangsaan yang diselenggarakan oleh komunitas Gereja Kevikepan Kedu, Jawa Tengah, di Magelang, pada Rabu (25/04/2018).

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Politik Praktis

Ia mengemukakan bahwa agama itu sebagai acuan moral dimana para politikus bisa tampil secara beradab dan saling menghargai.

Karena itu, menurut pria yang sering dipanggil dengan Buya Syafi'i itu juga mengemukakan akan pentingnya terus menerus menggaungkan suara-suara yang mencerahkan terkait dengan peranan agama.

"Suara yang mencerahkan itu harus disuarakan terus. Jangan diam. Sebab, kalau diam, seakan-akan mereka yang benar. Orang yang mau memperalat agama itu dilawan," ujarnya.

Baca Juga: Khilafah itu Institusi Politik, Bukan Agama

Selain itu, dia juga mengemukakan kaitan antar agama dan peradaban umat manusia, tentang moral serta semangat bersaudara.

"Agama harus beradab. Kalau kita berbudaya, agama tidak dipakai untuk rendahan. Itu, agama tujuan mulia. Jangan dikotori perbuatan-perbuatan yang merusak, yang kotor, yang kumuh," kata Syafi'i Ma'arif yang juga Anggota Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila itu.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Ia juga mengemukakan tentang pentingnya menghindari kampanye politik dalam forum keagamaan.

"Saya kira, kalau sudah menyangkut politik kekuasaan itu, orang emosi lebih meraja dari akal sehat. Jadi, orang menjadi tidak stabil," lanjutnya.

Saat berbicara pada sarasehan kebangsaan yang bertema "Merangkul Kerukunan, Membingkai Pancasila" itu, Buya Syafi'i antara lain mengatakan akan pentingnya setiap orang yang beragama supaya memegang teguh autentisitas agama guna mewujudkan perdamaian.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Jika setiap pemeluk agama berpegang pada autentisitas agama, ujarnya, akan berkembang semangat saling tolong-menolong serta persaudaraan.

"Orang boleh yakin agama masing-masing. Tetapi, orang lihat orang lain. Pendapat yang berbeda, saling menghormati," katanya dalam acara yang juga dihadiri oleh Kepala Gereja Kevikepan Kedu, Romo F.X. Krisno Handoyo itu.[]




(Redaksi RN)
Read More

Situs dan Tradisi Islam di Ternate Bisa Jadi Tujuan Wisatawan Religi


rumahnahdliyyin.com, Ternate - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), seperti diberitakan oleh antaranews.com, mengajak wisatawan supaya memilih Ternate apabila ingin melakukan kunjungan wisata religi pada bulan Romadlon nanti.

"Ternate adalah daerah kesultanan. Dan pada masa lampau merupakan pusat penyebaran Islam di Indonesia Timur. Jadi, sangat menarik menjadi tujuan wisata religi," kata Kepala Disbudpar Ternate, Samin Marsaoly, Selasa (24/04/2018).

Baca Juga: Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama Ini

Banyak objek wisata yang bisa menjadi tujuan wisata religi di Ternate. Diantaranya yaitu Masjid Kesultanan Ternate yang memiliki banyak kekhasan, baik dari segi arsitektur bangunan masjid maupun tradisi ibadah di masjid itu.

Menurut Samin, salah satu tradisi ibadah di Masjid Kesultanan Ternate yaitu setiap laki-laki yang sholat di masjid yang telah berusia 500 tahun lebih itu harus mengenakan celana panjang dan penutup kepala.

Selain itu, perempuan dilarang sholat di bangunan utama masjid serta digelar ritual tradisi ela-ela atau tradisi menyambut malam lailatul-qodar pada malam 27 Romadlon.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Di kedaton Kesultanan Ternate, imbuh Samin Marsaoly, juga dapat disaksikan berbagai peninggalan sejarah terkait Islam. Seperti Al-Qur'an yang ditulis dilembaran baja atau yang berupa tulisan tangan dan jubah yang konon merupakan hadiah dari raja di Arab kepada Sultan Ternate.

Di Ternate juga terdapat banyak makam bersejarah untuk diziarahi. Seperti makam para Sultan Ternate dan makam para wali yang pada zaman dulu menyebarkan Islam di berbagai lokasi di Ternate. Seperti di Kulaba yang setiap bulan Romadlon dikunjungi oleh ribuan peziarah.

Baca Juga: Walisongo dan Dakwah Metode Kambing

Samin menambahkan lagi bahwa pada bulan Romadlon di Ternate juga banyak kearifan lokal yang notabene warisan peninggalan para leluhur yang hingga kini masih dipertahankan. Seperti tradisi membangunkan warga untuk makan sahur yang dikenal dengan nama gendang sahur. Selain itu, juga banyak dijual menu berbuka puasa yang merupakan menu khas di daerah ini.

Selain situs-situs keislaman, objek wisata lainnya yang bisa dinikmati saat berkunjung di Ternate adalah berbagai peninggalan sejarah kolonial. Seperti benteng, cengkih afo atau cengkih tertua di dunia serta wisata bahari berupa keindahan pantai dan bawah laut.[]





(Redaksi RN)
Read More

KH. Ulin Nuha Arwani: Menjadi Penghafal Al-Qur'an Saja Belum Cukup


rumahnahdliyyin.com,
 Demak - Sebanyak 240 santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Badriyyah, Suburan, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, mengikuti wisuda khotmil Qur’an yang ke-42 pada Ahad (22/4/2018). Para santri yang diwisuda tersebut terdiri dari khotimin dan khotimat bil-ghoib 30 juz sebanyak 9 santri, bin-nadhor 30 juz sebanyak 40 putra dan 64 putri, serta juz 'amma putra sebanyak 37 santri dan 90 putri.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyyah, KH. Muhibbib Muhsin Al-Hafidh dan Nyai Hj. Nadhiroh Ma’shum Al-Hafidhoh, berharap supaya para santri yang telah diwisuda itu semakin bertambah semangat dan istiqomah dalam hal mencari ilmu.

“Semoga khotimin dan khotimat yang telah diwisuda mendapatkan ilmu yang berkah, bermanfaat dan ilmu yang bermashlahat, min ahlil-‘ilmi, min ahlil-khoir wa min ahlil-qur’an,” harap KH. Muhibbin sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

KH. Ulin Nuha Arwani, yang tausiyah dalam acara Haflah tersebut, berpesan kepada para santri supaya jangan cepat puas dengan apa yang telah dicapainya itu.

“Masih banyak tahapan yang harus dilewati. Menjadi penghafal Al-Qur’an saja, belum cukup. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari, seperti ilmu fiqih, tauhid, bahasa Arab dan sebagainya,” tuturnya dihadapan para hadirin.

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengingatkan para khotimin dan khotimat supaya berakhlaq sebagaimana ajaran Al-Qur’an, selalu tawadlu' dan mengabdi kepada guru supaya mendapat keberkahan dalam hidup.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Dalam pandangan KH. Ulin Nuha Arwani, ada tiga kategori yang dapat dilakukan dalam menjaga Al-Qur’an, yaitu membaca, mengamalkan, dan berakhlaq sebagaimana perilaku yang ada dalam Al-Qur'an. Karena itu, para santri supaya mengusahakan untuk memenuhi ketiga kategori tersebut.

“Maksud dari shohibul-Qur'an dalam sebuah kitab tafsir, yaitu orang yang mulazim litilawatih, yakni orang yang selalu membacanya, mutakholliq bi akhlaqih, mempunyai adab sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an, wal-amilu bih, mengamalkan pesan Al-Qur'an,” urainya lebih lanjut.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang telah dipelajari supaya selalu dibaca sesuai ajaran yang telah diterima dari guru beserta adabnya. Ditambahkan pula bahwa maksud membaca Al-Qur'an dengan haqqa tilawatih adalah kombinasi membaca antara mulut, akal dan hati.

“Koridor penggunaan lisan adalah dengan memakai tajwid yang benar. Lalu meresapinya dengan akal (tadabbur). Serta memahaminya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya selamat dari murka Allah SWT.,” terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Terakhir, beliau mewanti-wanti kepada para santri yang telah khatam itu supaya jangan sampai membiarkan mushhaf Al-Qur'an begitu saja. Bila mushhafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali, maka Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung orang tersebut seraya berkata: "Ya Tuhan, sungguh hambaMu ini telah mencampakkanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan dia," pungkas KH. Ulin Nuha Arwani.

Ribuan santri, wali santri dan para alumni, juga masyarakat luas, turut hadir memadati arena pengajian ini. Selain KH. Ulin Nuha Arwani, hadir pula KH. Ulil Albab Arwani, KH. Abdul Hadi Muthohar, KH. Abdul Kholiq Murod, KH. Ali Mahsun, Nyai Hj. Ishmah Ulin Nuha, Nyai Hj. Zuhairoh Ulil Albab, Nyai Hj. Mutammimah Harir dan para kiai lainnya.[]




(Redaksi RN)
Read More