rumahnahdliyyin.com, Batang - Miftakhutin, perempuan berusia 40 tahun yang perajin batik tulis di Desa Kalipucang Wetan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bercerita panjang lebar mengenai sejarah batik tulis khas daerah itu yang hingga kini masih bertahan. Sebagaimana ditulis pada laman antaranews.com, hal tersebut disampaikan Miftakhutin saat berdiskusi dengan sejumlah wartawan pada kegiatan kunjungan media yang difasilitasi oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di galeri, workshop, sekaligus sentra batik Rifaiyah di Jalan Mataram III, RT. 02/RW. 02, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, pada Rabu (02/05/2018).
Selain dikenal dengan batik Rifaiyah dan Multikultur, batik tulis yang digeluti oleh Utin, demikian Miftakhutin lebih akrab disapa, dikenal juga dengan sebutan "Batik Tiga Negeri". Tiga negeri yang dimaksud itu adalah daerah Lasem yang terkenal batiknya dengan warna merah, Pekalongan dengan warna biru dan Solo dengan warna cokelat. Perpaduan tiga warna itulah yang membuat batik khas daerah Batang itu disebut dengan "batik tiga negeri".
Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh
Meski masih bertahan hingga kini, Utin mengutarakan kekhawatirannya yang serius terhadap masa depan batik Rifaiyah yang perajinnya kian berkurang. Ia mengungkap lagi bahwa saat ini perajin batik Rifaiyah itu rata-rata diatas usia 35 tahun. Ada lebih dari 100 perajin, namun yang aktif ada 87 orang.
"Anak-anak muda perempuan tidak lagi tertarik untuk membatik. Ada yang berusia 18 tahun, satu orang saja," kata Utin yang merupakan generasi kelima dari keluarganya yang meneruskan tradisi membatik hingga saat ini.
Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia
Secara umum, perajin batik Rifaiyah adalah komunitas yang mengambil spirit dari ajaran KH. Ahmad Rifai atau yang lebih dikenal dengan kiai Rifai. Atau sebuah komunitas yang merupakan santri yang mengikuti ajaran kiai Rifai yang kemudian meneruskan tradisi membatiknya. Karena itu pula, maka nama batik ini dinisbatkan kepada nama kiai tersebut, yakni batik Rifaiyah.
Berdasarkan rujukan sejarah, kiai Ahmad Rifa'i merupakan salah satu ulama besar yang lahir di Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah, pada 9 Muharram 1200 H./1786 M. Sikapnya yang kritis membuat Belanda membuangnya ke daerah Ambon dan diasingkan ke Manado hingga akhirnya wafat pada tahun 1876 M. di Sulawesi Utara.
Baca Juga: Politiknya Kiai
Kiprah dan perjuangan kiai Rifai melawan penjajahan kolonial Belanda itulah yang akhirnya membuat negara ini menganugerahinya gelar sebagai pahlawan nasional sebagaimana berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) nomor 086/TK/2004, pada saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebagai generasi penerus membatik, dengan spirit Rifaiyah, Utin mengingat ajaran-ajaran kiai Rifai. Diantaranya yaitu berupa syair-syair yang ditulis dalam bahasa Arab Pegon yang selalu disenandungkan ketika membatik. Selain untuk mengingat kembali ajaran kiai Rifai, hal itu dilakukan karena untuk "meramaikan" suasana. Sebab sebelumnya, perajin yang serius dan fokus membatik akan membuat suasana menjadi hening.
"Dengan syair-syair yang diajarkan dan mengandung nilai religi, membuat suasana lebih meneduhkan jiwa," tambahnya.
Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak
Motif batik Rifaiyah, pada umumnya menggambarkan tumbuhan. Sangat jarang ada motif hewan. Hal itu karena dalam ajaran Islam memang ada sebagian ulama yang melarang menggambar makhluk hidup. Secara keseluruhan, setidaknya ada 24 motif dalam batik Rifaiyah.
Corak tersebut yaitu pelo ati, kotak kitir, banji, sigar kupat, lancur, tambal, kawungndog, kawung jenggot, dlorong, materos satrio, ila ili, gemblong sairis, dapel, nyah pratin, romo gendong, jerukno'i, keongan, krokotan, liris, klasem, kluwungan, jamblang, gendaghan dan wagean. Motif-motif inipun ada yang mengandung makna spiritualitas. Misalnya motif pelo ati (ampela dan hati ayam) yang menggambarkan ajaran sufisme bahwa hati mengandung sifat-sifat terpuji.
Baca Juga: Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya
Menurut kitab Tarujumah, susunan kiai Rifai, dalam hati manusia itu terdapat delapan sifat kebaikan, yaitu zuhud (tidak mementingkan keduniawian), qona'at (merasa cukup atas karuniaNya), sabar, tawakal (berserah diri kepadaNya), mujahadah (bersungguh-sungguh), ridlo (rela), syukur dan ikhlas. Semua sifat inipun mengandung makna khouf, mahabbah dan ma'rifat.
Ampela menggambarkan sebagai tempat kotoran. Yaitu sifat-sifat buruk manusia sebagaimana terdapat dalam kitab Tarajumah, yaitu hubbud-dunya (mencintai dunia yang disangka mulia namun di akhirat sia-sia), thoma' (rakus), itba' al-hawa (mengikuti hawa nafsu),'ujub (suka mengagumi diri sendiri), riya' (suka dipuji), takabbur (sombong), hasud (dengki) dan sum'ah (suka membicarakan amal kebajikannya pada orang). Dan semua sifat tercela dan kotor ini harus dibuang jauh-jauh.[]
(Redaksi RN)
