Belajar Kemanusiaan dari Papua


rumahnahdliyyin.com - Pada siang yang dihiasi hujan tadi, Komunitas Peduli Papua (KOMPIPA) dan IKKS berkunjung untuk menyalurkan bantuan ke Usili. Seperti pernah saya tuliskan jauh-jauh sebelumnya, Usili merupakan satu dari sekian kompleks di Kabupaten Sorong ini yang dihuni oleh masyarakat suku Kokoda. Berbeda dengan Maibo dan Kurwato yang mana penghuninya muslim seluruhnya, di Usili terdapat dua agama yang dianut oleh para penduduknya. Yakni Islam dan Nasrani.

Kendati demikian, perbedaan itu tak pernah menyulutkan api konflik diantara mereka. Apalagi saling teror dan baku bunuh. Bahkan, mereka sangat guyub-rukun tanpa sedikitpun ada sekat ketika tengah bersosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Pernah suatu sore, tanpa sengaja saya bertemu dengan tokoh Usili di pasar setempat, yaitu pak Nimrod. Beliau yang non-muslim tiba-tiba mengeluhkan nasib pendidikan agama anak-anak muslim di sana setelah sebelumnya kita hanya saling bertukar kabar saja. Kepada saya ia mengungkapkan bahwa ia merasa sangat prihatin lantaran anak-anak di sana tidak pernah lagi mengaji lantaran tidak pernah ada yang mengajar lagi.

Mendengar dan menyaksikan dengan mata dan telinga sendiri, hal yang demikian ini terkadang membuat saya merenung: apakah Papua yang notabene sering dikatakan "terbelakang" itu hanya "mitos"? Apakah Papua yang kerap disebut "bodoh" itu hanya "khayalan"?

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama

Bukan apa-apa. Saya hanya tidak mengerti apakah benar orang "terbelakang" itu mampu punya kesadaran untuk memikirkan nasib generasi mereka ke depan meskipun beda keyakinan? Apakah benar orang "bodoh" bisa mencapai pemikiran hingga mencapai ke tingkat universal kemanusiaan?

Dan terjadinya peledakan bom di Surabaya tadi pagi, pikiran saya jadi ikut bergolak dan bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang "terbelakang" dan "bodoh"? Mereka yang ada di Jawa? Atau mereka yang ada di Papua?

Mari merenung bersama. Salam.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Keras Melawan Terorisme


rumahnahdliyyin.com - Sudah lama NU dan orang-orangnya dituding sebagai kelompok yang “bersikap keras terhadap umat Islam dan berlaku lemah lembut terhadap orang-orang kafir.” Belakangan, tudingannya lebih seram: Anshârut Thâgût, pembela Thagut. Kata mereka: “Banser lebih rajin jaga Gereja, ketimbang pengajian.”

Orang-orang NU tidak perlu berkecil hati. Sebenarnya, NU menjaga Islam dari orang-orang yang merusak, yaitu sekelompok orang yang menggunakan Islam untuk berbuat jahat. Ada yang menyangkal keberadaan mereka. Abu Bakar Al-Baghdadi, konco-konconya dan yang sealiran dengannya, kurang bukti apa!?

Baca Juga: PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya

Mereka syahadat dan takbir, tetapi menggorok orang, bahkan sesama ahlul qiblat. Dan terhadap mereka yang menggunakan Islam untuk berbut jahat, sikap kita kadang harus lebih keras ketimbang terhadap non-Muslim.

Ibnu Hajar Al-'Asqolani, dalam Fathul Bârî syarah Shôhîh Bukhôrî, Juz 12, h. 253, mengutip pendapat Ibnu Hubairah terkait Khowarij, yaitu pendahulu kelompok takfiri yang kerap menggunakan kekerasan dan menghalalkan darah sesama umat Islam:

أن قتال الخوارج أولى من قتال المشركين. والحكمة فيه أن قتالهم حفظ رأس مال الإسلام، وفي قتال أهل الشرك طلب الربح. وحفظ رأس المال أولى

“Sungguh memerangi Khowarij lebih utama ketimbang memerangi orang-orang musyrik. Hikmahnya adalah bahwa dalam memerangi Khowarij, terpelihara modal pokok Islam. Sementara memerangi orang musyrik, dapat laba. Menjaga modal pokok, lebih utama ketimbang mencari laba.”

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Modal pokok Islam, sesuai dengan namanya, adalah agama damai dan mengupayakan perdamaian. Sekarang ada sekelompok orang Islam, karena keyakinan tertentu, bekerja untuk mengubahnya menjadi agama teror dan kekerasan.

Terorisme lahir dari cita-cita politik, bukan agama, yaitu menegakkan pemerintahan Islam yang tidak jelas bentuknya. Orang-orang yang bercita-cita menegakkan pemerintahan Islam, dengan cara-cara tidak Islami, menganggap NKRI sebagai Thogut, bercita-cita memberontak terhadap kekuasaan yang sah yang dihasilkan dari proses syûrâ yang diakui dalam Islam, harus disikapi dengan tegas dan keras karena mereka justru menggerogoti Islam itu sendiri. Kemuliaan Islam dan ajarannya defisit justru ditangan mereka.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Islam bukan agama teror dan kekerasan. NKRI dan negara-negara lain di dunia adalah produk mu’âhadah wathoniyyah, konsensus yang sah. Karena itu, umat Islam di seluruh dunia harus taat dan patuh kepada pemimpinnya selagi tidak dihalangi untuk menjalankan sholat berjama'ah, menggemakan adzan, membangun masjid/tempat ibadah, menyuruh maksiat atau melakukan kedholiman yang nyata.

Nation-state di seluruh dunia, sah. Karena itu, umat Islam dimanapun tidak perlu berpikir membangun imperium Islam dunia dengan cara-cara yang tidak Islami. Orang-orang Islam harus berhenti bercita-cita bughot atau mengadakan konsensus diatas konsensus. NKRI yang pluralistik adalah konsensus yang dibentuk oleh para hakam (juru runding) yang bekerja dalam BPUPKI/PPKI.

Baca Juga: Penyimpangan Kata Khalifah Oleh Hizbut Tahrir

Al-Qur’an (QS. An-Nisâ’/4: 35) membolehkan dan mengakui keberadaan hakam untuk menghindari perpecahan. Jika hakam saja boleh dalam urusan domestik, apalagi dalam urusan publik yang menentukan nasib banyak orang.

Saya meyakini terorisme dalam Islam lahir dari cita-cita politik, bukan agama. Terorisme harus disikapi keras dan tegas. Tidak ada toleransi terhadap terorisme dan teroris. Adapun satu tingkat di bawahnya, yaitu orang Islam eksklusif, yang meyakini kebenaran mutlak Islam sembari menafikan hak orang lain meyakini kebenaran ajaran agamanya, harus diupayakan dialog tanpa letih dan pengajaran Islam yang benar, yaitu Islam yang mempromosikan keadilan, perdamaian dan toleransi: Islam yang berwawasan kebangsaan.

Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam

Setelah insiden Mako Brimob dan teror di Gereja Surabaya hari ini, kita harus sehati dan sepikiran bahwa tidak ada tempat bagi terorisme di sini, di sana dan di mana saja. Tidak perlu menutup-nutupi dan membela aksi terorisme dengan alasan apa pun.

Kalau misalnya tidak puas dengan kinerja pemerintahan, jadilah oposisi loyal. Kritiklah, kalau perlu keras, tetapi jangan asbun. Himpun kekuatan dan rebutlah kekuasaan dengan cara konstitusional, dengan program-program alternatif, tanpa perlu berternak kebencian.

Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama

Setiap negara di dunia pasti punya masalah keadilan dan distribusi kesejahteraan. Hanya negeri surga yang bebas dari kerakusan manusia. Tetapi, kalau pun sekarang kita menghadapi masalah ketimpangan, tidak berarti membenarkan terorisme, pun dengan cara tersamar.

Apa maksud pembenaran tersamar? Menutup-nutupi aksi terorisme, mengembangkan teori konspirasi, menyebutnya rekayasa, menggunakan dalih reaksi atas ketidakadilan. Itu semua adalah bentuk pembenaran tersamar. Selagi kita, umat Islam, tidak mau jujur kepada diri sendiri, kita tidak akan bisa melenyapkan terorisme!
[]



* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal PP. ISNU. Tulisan ini diambil dari NU Online
Read More

PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya


rumahnahdliyyin.com - Menjelang datangnya bulan suci Romadlon 1439 H., kita dikejutkan dengan aksi narapidana Terorisme di Mako Brimob serta yang terbaru, ledakan bom di tiga Gererja di Surabaya, Ahad (13/05/2018). Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa radikalisme, apalagi yang mengatasnamakan agama, sungguh sangat memprihatinkan dan mengiris hati kita semua.

Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos

Oleh sebab itu, menyaksikan dan mencermati dengan seksama rangkaian peristiwa diatas, khususnya peristiwa bom di tiga Gereja di Surabaya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan:

1. Mengecam dan mengutuk keras segala tindakan terorisme, apapun motif dan latar belakangnya. Segala macam tindakan menggunakan kekerasan, apalagi yang mengatasnamakan agama dengan cara menebarkan teror, kebencian dan kekerasan bukanlah ciri ajaran Islam yang rohmatan lil-'alamin. Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam kehidupan.

Baca Juga: Belajar dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

2. Menyampaikam rasa bela sungkawa yang sangat mendalam kepada keluarga korban atas musibah yang sedang dialami. Segala yang terjadi merupakan suratan takdir dan kita harus menerimanya dengan penuh sikap kedewasaan, lapang dada, ketabahan dan kesabaran.

3. Mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut secara cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Gerakan terorisme sudah semakin sedemikian merajalela, maka diperlukan penanganan khusus yang lebih intensif dari pelbagai pihak, utamanya negara melalui keamanan.

Baca Juga: Demokrasi Mengembalikan Politik Islam ke Jalur yang Benar

4. Mengajak seluruh warga Indonesia untuk bersatu padu menahan diri, tidak terprovokasi serta terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan. Jika mendapati peristiwa sekecil apapun yang menjurus pada radikalisme dan terorisme, segera laporkan ke aparat keamanan. Segala hal yang mengandung kekerasan, sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun. Islam mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam berdakwah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
أدع إلي سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي أحسن
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan al-hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).


5. Mengimbau warga NU untuk senantiasa meningkatkan dzikruLlah dan berdoa kepada Allah Swt. untuk keselamatan, keamanan, kemaslahatan dan ketenteraman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama (NU) juga meminta kepada semua pihak untuk menghentikan segala spekulasi yang bisa memperkeruh peristiwa ini. Kita percayakan penanganan sepenuhnya di tangan aparat keamanan. Kita mendukung aparat keamanan, salah satunya dengan cara tidak ikut-ikutan menyebarkan isu, gambar korban dan juga berita yang belum terverifikasi kebenarannya terkait peristiwa ini.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Lakukan Intoleransi dan Perpecahan

6. Nahdlatul Ulama (NU) mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu terorisme dan radikalisme. Langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya. Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme dan terorisme tidak bisa ditolerir, apalagi dibenarkan. Sebab, ia mencederai kemanusiaan.



Jakarta, 13 Mei 2018

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.
Ketua Umum


DR. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini
Sekretaris Jenderal

[]

(Redaksi RN)
Read More

Perbedaan Ulama Tentang Metode Penetapan Awal Romadlon


rumahnahdliyyin.com - Setiap menjelang bulan Romadlon, kita senantiasa disuguhi fenomena perbedaan pendapat terkait penetapan awal puasa. Ironisnya, perbedaan ini tidak jarang menimbulkan konflik ditengah masyarakat, berupa saling ejek dan saling klaim bahwa kelompoknya yang benar, sedangkan kelompok yang lain salah. Bulan yang seharusnya dijadikan sebagai momen peningkatan ibadah dan amal sholih itu, justu dinodai oleh saling cemooh antarkelompok di masyarakat.

Kementerian Agama sebagai lembaga yang punya otoritas dalam penetapan awal puasa, telah berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut dengan menggelar sidang itsbat yang dihadiri oleh para ulama, ilmuwan, pakar hisab-ru'yat dan perwakilan dari berbagai organisasi massa yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Hanya saja, terkadang ada kelompok yang tidak mengikuti hasil sidang itsbat tersebut dengan alasan mereka telah memiliki metode penetapan sendiri. Karenanya, menjadi sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui metode-metode yang digunakan oleh para ulama dalam menetapkan awal bulan Romadlon.

Dalam menetapkan awal bulan Romadlon, ulama berbeda pendapat. Pertama, mayoritas ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa awal bulan Romadlon hanya bisa ditetapkan dengan menggunakan metode ru'yat (observasi/mengamati hilal) atau istikmal (menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Mereka ini berpegangan pada firman Allah SWT. dan Hadits Nabi SAW.

Baca Juga: Fardlu Wudlu'

Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 185:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ 

“Maka barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan, maka hendaklah ia berpuasa (pada) nya.”

RasuluLlah SAW. bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhori, No. 1776).

Baca Juga: Inilah Ahlussunnah wal-Jama'ah atau Aswaja

Pada ayat dan hadits diatas, Allah SWT. dan Rasul-Nya mengaitkan kewajiban berpuasa dengan melihat hilal. Artinya, kewajiban berpuasa hanya bisa ditetapkan dengan melihat hilal atau menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. (Lihat: Muhammad Ali Ash-Shobuni, Rowa’il-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an, Damaskus: Maktabah Al-Ghozali, Juz 1980, hal. 210).

Kedua, sebagian ulama, meliputi Ibnu Suraij, Taqiyyuddin As-Subki, Mutharrif bin Abdullah dan Muhammad bin Muqatil, menyatakan bahwa awal puasa dapat ditetapkan dengan metode hisab (perhitungan untuk menentukan posisi hilal). Mereka ini berpedoman pada firman Allah SWT. dan hadits Nabi SAW.

Baca Juga: Bid'ah

Allah SWT. berfirman dalam surat Yunus ayat 5:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).”

RasuluLlah SAW. bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

“Jika kalian melihat hilal (hilal Romadlon), maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal), maka berbukalah. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka perkirakanlah ia.”

Baca Juga: Inilah yang Membatalkan Wudlu'

Ayat diatas menerangkan bahwa tujuan penciptaan sinar matahari dan cahaya bulan serta penetapan tempat orbit keduanya adalah agar manusia mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Artinya, Allah SWT. mensyariatkan kepada manusia agar menggunakan hisab dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriyyah. Sedangkan poin utama dari hadits diatas adalah kata Faqduruu lah. Menurut mereka, arti kata tersebut adalah perkirakanlah dengan menggunakan hitungan (hisab).

Dari kedua pendapat diatas, tampaknya pendapat kelompok pertama yang menyatakan bahwa awal Romadlon hanya bisa ditetapkan dengan ru'yat dan istikmal merupakan pendapat yang sangat kuat karena dalil-dalil yang mereka kemukakan sangat jelas dan tegas menyatakan hal tersebut. (Lihat: Mahmud Ahmad Abu Samrah, dkk., Al-Ahillah Baina Al-Falaq wa Al-Fiqh, Jurnal Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, Volume 12, Nomor 2, Halaman 241).

Baca Juga: Menjernihkan Hukum Tahun Baru Masehi

Akan tetapi, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang ilmu astronomi, peran hisab sangatlah urgent dalam mendukung hasil ru'yat. Apalagi, hisab yang didukung dengan alat modern memiliki akurasi yang sangat tinggi.

Dalam konteks negara Indonesia, terdapat beberapa kriteria penetapan awal Romadlon. Diantaranya, Pertama, imkanur ru'yat (visibilitas hilal). Imkanur Ru'yat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Kriteria ini mengharuskan hilal berada minimal 2 derajat diatas ufuk, sehingga memungkinkan untuk dilihat. Akan tetapi, adanya hilal belum teranggap, sampai hilal tersebut dapat dilihat dengan mata. Kriteria ini digunakan oleh NU sebagai pendukung proses pelaksanaan ru'yat yang berkualitas.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Kedua, wujudul hilal. Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan Romadlon dengan menggunakan dua prinsip: Ijtima' (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam, dan bulan terbenam setelah matahari terbenam. Jika kedua kriteria tersebut terpenuhi, maka pada petang hari tersebut dapat dinyatakan sebagai awal bulan. Kriteria ini digunakan oleh Muhammadiyah.

Ketiga, imkanur ru'yat MABIMS. Yaitu penentuan awal bulan Romadlon yang ditetapkan berdasarkan musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS). Menurut kriteria ini, awal bulan Hijriyyah terjadi jika saat matahari terbenam, ketinggian bulan diatas horison tidak kurang dari 2 derajat dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat. Dan ketika terbenam, usia bulan tidak kurang dari 8 jam setelah ijtima'/konjungsi.

Baca Juga: Hari Akhir

Keempat, Ru'yat Global. Yaitu kriteria penentuan awal bulan Romadlon yang menganut prinsip bahwa jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa. Kriteria ini digunakan sebagian muslim Indonesia dengan merujuk langsung pada negara Arab Saudi atau menggunakan hasil terlihatnya hilal dari negara lain.

Dengan adanya metode dan kriteria penetapan awal Romadlon yang sangat variatif ini, tidak mengherankan jika kemudian terjadi perbedaan dalam memulai puasa Romadlon. Hanya saja, penting kiranya untuk berusaha menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut mengingat bahwa amaliyah di bulan Romadlon dan lebaran di bulan Syawal merupakan syi’ar Islam dan momen kebahagiaan yang layaknya dilaksanakan dan dinikmati bersama-sama.

Baca Juga: Trans Gender Dalam Pandangan Syari'at Islam

Pemerintah melalui Kementerian Agama memiliki peran sentral dalam menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut, yaitu dengan menyelenggarakan sidang itsbat awal Romadlon yang didasarkan pada ru'yat, dan hisab sebagai pendukung. Keputusan itsbat bersifat mengikat dan berlaku bagi umat Islam secara nasional, sebagaimana kaidah fiqih:

حُكْمُ الحَاكِمِ يَرْفَعُ الخِلَافَ

“Keputusan hakim (Pemerintah) dapat menghilangkan perselisihan.”

Hanya saja, jika perbedaan penetapan awal Romadlon masih saja terjadi, maka prinsip toleransi sepatutnya tetap dikedepankan. Sebab, menjaga persatuan dan kerukunan umat merupakan perintah Allah SWT. yang wajib dilaksanakan. WaLlahu a’lam.[]




* Oleh: Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang. Tulisan ini berasal dari NU Online.
Read More

Pengajian Tiap Pekan, Tafsir Al-Ibriz Khatam Tujuh Belas Tahun


rumahnahdliyyin.com, Rembang - Setiap hari Jum'at, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, ada pengajian tafsir Al-Qur'an. Pengajian yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri itu membawakan salah satu kitab tafsir yang notabene merupakan karangan dari pendiri pondok pesantren tersebut, yaitu KH. Bisri Mustofa, yang berjudul Tafsir Al-Ibriz.

Pada Jum'at kemarin (11/05/2018), pengajian itu khatam setelah rutin digelar sepekan sekali selama 17 tahun berjalan. Khataman itu pun merupakan untuk yang kali keduanya selepas kewafatan sang penulisnya pada tahun 1977. Kiai Mustofa Bisri atau yang akrab disapa dengan Gus Mus yang notabene merupakan salah satu putra kiai Bisri Mustofa itupun mengampu pengajian kitab Tafsir Al-Ibriz ini sejak tahun 1978.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Selain pengampu pengajian, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hadir pula dalam kesempatan ini para masyayikh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan para kiai lainnya. Terlihat di bagian depan ada KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Syarofuddin Ismail Qoimas, KH. Makin Shoimuri, KH. Chazim Mabrur, KH. Chatib Mabrur, kiai Najib, serta para kiai lainnya.

Dalam khataman ini, ribuan orang dari berbagai daerah yang biasa turut mengaji setiap hari Jum'at itu tampak memadati area pondok pesantren. Selain itu, tampak hadir juga beberapa pejabat daerah seperti Kapolres Rembang, AKBP. Pungky Bhuana Santoso.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Ketua Panitia Khataman Kitab Al-Ibriz ini, Suyoto Zuhdi, mengatakan bahwa jama'ah yang mengikuti khataman ini diluar perkiraan.

“Membludak ini. Kita estimasikan tiga ribu hadirin, ternyata lebih,” katanya sebagaimana ditulis dilaman mataairradio.com.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Menurut Suyoto, selama 17 tahun mengaji kitab Al-Ibriz ini, terkadang sang pengampu, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, berhalangan juga.

“Kalau berhalangan, biasanya badal (wakil) ke kiai Syarof (KH. Syarofuddin Ismail Qoimas),” terangnya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Untuk membaca do'a, para kiai pun silih berganti yang kemudian ditutup oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri. Dalam khataman ini, setiap jama'ah mendapat kenang-kenangan berupa buku yang berisi keutamaan dan adab membaca Al-Qur'an serta sejumlah amalan.

Setelah khataman ini, Suyoto mengaku belum mengetahui kapan kitab ini mulai dikaji kembali.

“Bila ngajinya sudah khatam, biasanya diulang dari awal,” ujarnya.[]


(Redaksi RN)
Read More

Masjid Jawa di Thailand


rumahnahdliyyin.com, Bangkok - Ketua Delegasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Nafis, dalam lawatannya ke negara-negara ASEAN mengatakan bahwa di Bangkok, Thailand, terdapat Masjid Jawa (Jawa Mosque) yang menjadi sarana syiar Islam bagi umat muslim setempat.

Seperti dikutip dari laman nu.or.id, pada Jum'at (11/05/2018), kawasan di sekitar Masjid Jawa itu dikenal dengan nama Soi Charoen Rat. Sedangkan letak persisnya berada di Jalan Soi Charoen Rat 1 Yaek 9, Sathorn, Bangkok, Thailand. Daerah ini merupakan kawasan yang banyak dihuni oleh masyarakat Melayu dan keturunan orang Jawa yang merantau di sana.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Masjid Jawa didirikan diatas tanah Muhammad Saleh, seorang perantauan asal Rembang, Jawa Tengah, pada 1906. Mulanya, tanah tersebut merupakan tempat pengajian dan Yasinan yang kemudian diwaqofkan menjadi masjid dan tempat pendidikan.

Lebih lanjut, kiai Cholil menerangkan bahwa Masjid Jawa itu memiliki madrasah dengan jumlah siswa mencapai 200-an orang. Di masjid itu pula, pengajian Al-Qur’an digelar selama seminggu dengan jadwal untuk anak-anak pada hari Senin-Jum'at dan untuk dewasa tiap hari Minggu.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dalam kesempatan itu, kiai Cholil Nafis juga sempat bertemu dan berbincang dengan Zuhrah (putri H. Muhammad Saleh, pendiri Masjid Jawa) dan Ma’rifah (cucu KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah) yang merupakan keturunan Jawa yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

Dengan mengutip hasil perbincangannya dengan Ma’rifah, kiai Cholil menceritakan bahwa bahasa Indonesia ternyata diajarkan secara rutin di Madrasah Masjid Jawa itu. Tujuannya yaitu untuk terus memelihara rasa cinta terhadap Indonesia. Kendati demikian, untuk pengantar pembelajarannya, bahasa yang digunakan acap kali campur antara bahasa Thailand, Indonesia dan Jawa.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, lanjut kiai Cholil, pengajian-pengajian yang diselenggarakan di Masjid Jawa itu juga banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Disamping, tentu saja tetap memakai bahasa Thailand pula.

Selain arsitekturnya khas Jawa dengan warna bangunan hijau muda dan atap limasan berundak tiga, jika dilihat sepintas, Masjid Jawa itu seperti Masjid Agung Kauman di Yogyakarta dalam ukuran mini.

“Tradisi khas Nusantara seperti beduk, pengajian dan sholawatan, bahkan juga tahlilan, juga ada di Masjid Jawa ini. Terlihat suasana masyarakat sekitar masjid seperti budaya Jawa,” jelas kiai Cholil.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Bangunan utama Masjid Jawa itu berbentuk segi empat dengan ukuran 12 x 12 meter dan dilengkapi dengan empat pilar ditengah yang menjadi penyangga. Selain sisi arah kiblat, pada tiga sisi lainnya terdapat masing-masing tiga pintu kayu.

“Interior masjid sungguh membuat saya merasa sedang berada di sebuah masjid tua di Jawa,” cerita kiai Cholil.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Diluar bangunan utama, terdapat serambi dengan empat pintu yang terbuat dari jeruji besi. Di bagian depan (mihrob), terdapat sebuah mimbar kayu yang dilengkapi dengan tangga serta dua buah jam lonceng yang terbuat dari kayu di kanan dan kirinya.

Ada dua bangunan utama, yaitu masjid dan madrasah yang berbentuk rumah panggung dengan aneka deretan kursi dan meja dikolong rumah. Di seberang masjid, ada pemakaman Islam. Sedangkan di samping kiri masjid, terdapat prasasti peresmian masjid yang menggunakan bahasa Thailand.[]




(Redaksi RN)
Read More

KH. Sholih Qosim Dipanggil Kehadirat Allah SWT


rumahnahdliyyin.com - Innaa liLlaahi wainnaa ilaihi rooji'uun. Telah dipanggil kehadirat Allah SWT., KH. Sholih Qosim, pengasuh Pondok Pesantren Bahauddin Al-Islami, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur. Kiai kharismatik berusia 88 tahun ini dipanggil sekitar pukul 19.00 WIB. (10/05/2018) tadi dan insya Allah akan dikebumikan esok hari, yaitu Jum'at (11/05/2018) ba’da Sholat Jum'at.

Baca Juga: Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazah Pagar Nusa

Semua orang merasa terkejut atas kepergian kiai kelahiran Sidoarjo, tahun 1930 ini. Selain kegiatan sehari-hari beliau berjalan lancar, tidak ada keluhan dari beliau, bahkan beberapa hari lalu beliau masih kelihatan sehat dan energik ketika menghadiri acara Haul Sunan Ampel.

“Tidak ada keluhan sama sekali. Beliau tampak sehat, tidak gerah (sakit). Kegiatan beliau juga berjalan normal. Seperti yang kita saksikan, saat haul Mbah Sunan Ampel, beliau tampak energik bersama Mbah Maimun Zubair,” jelas Muhammad Bagus, santri kiai Sholih yang juga pegawai Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari, Surabaya, sebagaimana dikutip dari duta.co, Kamis (10/5/2018).

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Ketua PCNU Batu, H. Achmad Budiono, juga hampir tak percaya mendengar kabar wafatnya kiai yang dikenal konsisten terhadap Khittah NU dan keteguhannya dalam membela dan menegakkan NKRI ini.

Innaa liLlaah! SubhaanaLlaah! Selesai acara Haul Mbah Sunan Ampel, beliau masih mendatangi pengajian di Malang bersama saya. Bahkan, ketika saya mohon perkenannya untuk menginap di Batu bersama Cak Anam (Drs. Choirul Anam, red.) beliau memilih pulang karena ada acara esoknya,” jelasnya.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kiai yang juga veteran perang ini sempat viral di media sosial. Penyebabnya yaitu ketika Presiden RI, Joko Widodo, mencium tangan beliau pada HUT ke-72 TNI. Kendati demikian, kiai Sholih dikenal "angker" dalam menerima bantuan pemerintah. Itulah yang membuat pejabat segan dengannya.

Diantara petuah beliau yang tampaknya perlu diketahui oleh umat Islam terkait hubungan antar agama dengan negara yang akhir-akhir menyedihkan yaitu “Kekuatan tentara adalah cermin dari kekuatan rakyat. Karena itu, umat Islam dengan TNI adalah satu napas, satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.”

Baca Juga: Politiknya Kiai

Akhirnya, semoga kita semua yang ditinggalkan pergi oleh kiai yang memiliki suara khas, intonasi dan aksentuasi suara yang begitu indah itu, mampu meneruskan perjuangan beliau. Untuk beliau, Al-Fatihah... []



(Redaksi RN)
Read More

Penutupan MTQ Papua Tekankan Pengamalan Islam Ramah Sesuai Al-Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Nabire - Senin malam (07/05/2018), pukul 20.00 WIT., halaman Masjid Al-Falah di Nabire sudah penuh oleh manusia. Mereka adalah para peserta Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Tingkat Provinsi Papua dan masyarakat sekitar, baik muslim maupun non-muslim, yang memang berkunjung untuk melihat.

Kali ini, MTQ memasuki acara puncak atau terakhir dari rangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan oleh panitia. Sebagai pembukaan, acara diisi dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba serta hasil Raker dan penetapan tuan rumah untuk penyelenggaraan MTQ tahun 2020 mendatang.

Dalam pengumuman lomba, tersebutlah tuan rumah, yakni Kabupaten Nabire, sebagai juara umum MTQ 2018 kali ini.


Baca Juga: Sambutan MTQ ke-27, Bupati Nabire Himbau Umat Islam Untuk Amalkan Al-Qur'an

Dalam sambutanya, ketua LPTQ Papua, M. Musa'ad, menyampaikan bahwa hakikat perlombaan LPTQ ini bukanlah soal juara saja. Namun, bagaimana setiap peserta lomba dan LPTQ daerah mengamalkan nilai-nilai yg terkandung dalam Al-Qur'an dan meyebarkan Islam yang rohmatan lil-'alamin, Islam yang moderat, ramah dan santun, serta senantiasa menjaga toleransi beragama di daerahnya masing masing.

"Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadi penyejuk ditengah-tengah lingkungan masyarakat," ujarnya.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi

Sekda Provinsi Papua, Hery Dosinaen, yang juga memberikan sambutan, mengajak masyarakat muslim, non-muslim, tokoh adat, ormas dan tokoh agama di tanah Papua untuk saling bergandengan tangan demi kemajuan, perdamaian dan persatuan di tanah Papua.

"Kalo kita melihat di Papua, berbagai suku, ras dan agama, ada semua. Dan ini adalah kekuatan kita untuk terus kita jaga," ucapnya.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Lebih lanjut, Hery Dosinaen juga menyatakan bahwa contoh konkret hidup penuh toleransi adalah kehidupan di Papua. Maraknya aksi intoleransi akhir-akhir ini, kehidupan di Papua patut dicontoh oleh daerah lain.

"Disaat daerah lain lagi maraknya isu intoleransi yang berbau SARA, kita di Papua kalau mau melihat toleransi yg sebenarnya, lihatlah Papua. Dan dari tanah Papua, untuk Indonesia," tambahnya lagi.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


Dalam kesempatan ini, Pemerintah Provinsi Papua juga memberikan penganugerahan kepada Bupati Nabire, yaitu Isaias Douw, sebagai tokoh pluralisme di Papua. Penganugerahan ini diberikan karena Bupati Nabire dinilai telah berhasil mengayomi semua lapisan masyarakat yang majemuk dan beraneka ragam suku, ras dan agama yang berada di Kabupaten Nabire. Sekda pun mengajak seluruh kepala daerah untuk mengikuti torehan Isaias Douw ini.

MTQ yang telah berlangsung dari tanggal 2 hingga 7 April ini, dalam acara penutupannya ini dihadiri oleh Pemkab Nabire, Forkopinda, Ketua Ormas, Ketua Adat, pejabat Pemprov dan jajaran aparat keamanan dari Polri dan TNI.[]



(M. Taha)
Read More

NU-Muhammadiyah Memanggil di Universitas Brawijaya Malang


rumahnahdliyyin.com | Malang – Badan Intelejen Negara (BIN) mencatat bahwa ada sekitar 39 persen mahasiswa dari sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia yang terserang virus radikalisme. Dari hasil penelitian ini, BIN pun memberikan perhatian khusus terhadap tiga kampus yang dianggap menjadi basis penyebaran paham radikal itu.

Selain penemuan itu, penelitian BIN juga mengungkapkan bahwa ada 24 persen mahasiswa yang sepakat dengan wajibnya berjihad demi tegaknya negara Islam. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, jelas mengancam keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ber-Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga: Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

Dari data inilah, akhirnnya intelektual muda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Universitas Brawijaya tergugah untuk membuat sebuah kolaborasi gerakan. Wajah Islam moderat yang dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah harus tampil di Perguruan Tinggi.

Bersamaan dengan momen Daftar Ulang SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Mahasiswa Baru Universitas Brawijaya tahun 2018, para mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di lingkungan Universitas Brawijaya itu bersatu padu membuat sebuah gerakan “Nahdlatul Ulama & Muhammadiyah Memanggil”.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Dengan tema “Milenial Berkarya, Milenial Berbudaya, Milenial Berkemajuan”, mahasiswa Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Universitas Brawijaya itu membuat stand dan acara pembukaan pun dilakukan bersama di depan Gedung Samantha Krida untuk menyambut mahasiswa baru hasil penjaringan SNMPTN.

Selain itu, mereka juga hadir untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi, kebhinekaan, budaya yang baik dan semangat nasionalisme. Gerakan yang diselenggarakan pada Selasa (08/05/2018) ini, juga diikuti oleh para mahasiswa Universitas Brawijaya pada umumnya.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Nilai Agama

Pembukaan stand bersama ini dilakukan mulai pagi hari hingga selesainya kegiatan daftar ulang SNMPTN bagi mahasiswa baru. Stand dari kedua ormas yang digelar berdampingan, sangat menunjukkan adanya sinergitas gerakan dalam setiap ranah dakwah di lingkungan Universitas Brawijaya.

Mahasiswa Nahdlatul Ulama kelihatan aktif membagikan brosur-brosur informasi mengenai organisasi Nahdlatul Ulama kepada khalayak. Tampak pula mahasiswa lain yang notabene juga santri, membagikan informasi Pondok Pesantren area Kota Malang kepada mahasiswa baru. Selain itu, stand yang digelar itu juga melayani pendampingan untuk mahasiswa baru, baik itu informasi akademik, jurusan/fakultas, maupun informasi lain yang dibutuhkan oleh mahasiswa baru Universitas Brawijaya.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Komunitas mahasiswa yang terafiliasi kedalam Nahdlatul Ulama dari unsur KMNU, PKPT, IPNU-IPPNU, PMII, MATAN dan mahasiswa NU pada umumnya, turut hadir dalam memeriahkan gerakan bersama yang disebut dengan Gerakan Sambut Maba NU-Muhammadiyah itu.

Koordinator pelaksana dari Nahdlatul Ulama, M. Syafiq Afif Adani, menyebutkan bahwa gerakan ini adalah tindak lanjut dari sinergitas yang telah lebih dahulu dibangun oleh NU-Muhammadiyah di tingkat pusat.

“Beberapa waktu lalu, para orangtua kita di PBNU dan PP. Muhammdiyah melakukan silaturrahmi untuk membahas persoalan kebangsaan. Mengapa tidak, kita di wilayah mahasiswa melakukan kegiatan yang sama?" ungkap Syafiq, begitu sapaan akrabnya.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Sementara itu, koordinator pelaksana dari Muhammadiyah, Azhar Syahida, menyampaikan pernyataan yang senada pula. Menurutnya, gerakan ini sangat baik, sehingga ke depannya harus terus dijalankan secara berkelanjutan.

Perlu diketahui bersama bahwa Mahasiswa Nahdlatul Ulama di Universitas Brawijaya adalah forum silaturrahmi antarmahasiswa di lingkungan Universitas Brawijaya, baik yang ada di organisasi struktural NU maupun kultural. Sangat banyak aktivitas ke-NU-an yang telah dilakukan di kampus. Diantaranya yaitu mengaji kitab kuning, diskusi Aswaja, sharing keilmuan dan prestasi mahasiswa, Majelis Ta’lim dan Sholawat, pembacaan Yasin dan Tahlil, serta program pendampingan intensif dibidang akademik maupun non-akademik.

Baca Juga: Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon

Gerakan bersama antara Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ini tidak lain adalah untuk membentengi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri agar terhindar dari virus radikalisme dan terorisme, menyerukan wajah Islam yang ramah dan moderat, menyebarkan nilai-nilai toleransi dan semangat Hubbul-Wathon minal-Iman, serta lebih jauh lagi adalah membentuk generasi muda bangsa Indonesia menjadi milenial yang berkarya, berbudaya dan berkemajuan.[]
(Mohammad Ainurrofiqin)
Read More

PBNU Luncurkan BBM Serentak


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengadakan aksi Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah pada Minggu, 13 Mei 2018, secara serentak di seluruh musholla dan masjid se-Indonesia. Aksi serentak ini akan diluncurkan pada besok hari Rabu, 9 Mei 2018, di Gedung PBNU, Jakarta.

“Tujuan BBM Berkah ini adalah untuk mendorong masjid ikut berperan mewujudkan situasi nasional yang bersih dari kotoran lahir-batin menyongsong bulan suci Romadlon sekaligus untuk berpartisipasi mewujudkan situasi bangsa yang aman dan tentram,” jelas Ali Sobirin, Koordinator Nasional acara ini.

Baca Juga: Politik Jangan Dibawa ke Masjid

Peluncuran yang akan diisi dengan acara Deklarasi ini akan dihadiri oleh para Penggerak Masjid Seluruh Indonesia, para Koord. BBM Kabupaten/Kota, para Ta'mir Masjid dan Marbot se-Jabodetabek dan pengurus PBNU.[]




(Redaksi RN)
Read More