rumahnahdliyyin.com, Rembang - Setiap hari Jum'at, di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, ada pengajian tafsir Al-Qur'an. Pengajian yang diampu oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri itu membawakan salah satu kitab tafsir yang notabene merupakan karangan dari pendiri pondok pesantren tersebut, yaitu KH. Bisri Mustofa, yang berjudul Tafsir Al-Ibriz.
Pada Jum'at kemarin (11/05/2018), pengajian itu khatam setelah rutin digelar sepekan sekali selama 17 tahun berjalan. Khataman itu pun merupakan untuk yang kali keduanya selepas kewafatan sang penulisnya pada tahun 1977. Kiai Mustofa Bisri atau yang akrab disapa dengan Gus Mus yang notabene merupakan salah satu putra kiai Bisri Mustofa itupun mengampu pengajian kitab Tafsir Al-Ibriz ini sejak tahun 1978.
Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia
Selain pengampu pengajian, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), hadir pula dalam kesempatan ini para masyayikh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan para kiai lainnya. Terlihat di bagian depan ada KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Syarofuddin Ismail Qoimas, KH. Makin Shoimuri, KH. Chazim Mabrur, KH. Chatib Mabrur, kiai Najib, serta para kiai lainnya.
Dalam khataman ini, ribuan orang dari berbagai daerah yang biasa turut mengaji setiap hari Jum'at itu tampak memadati area pondok pesantren. Selain itu, tampak hadir juga beberapa pejabat daerah seperti Kapolres Rembang, AKBP. Pungky Bhuana Santoso.
Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Ketua Panitia Khataman Kitab Al-Ibriz ini, Suyoto Zuhdi, mengatakan bahwa jama'ah yang mengikuti khataman ini diluar perkiraan.
“Membludak ini. Kita estimasikan tiga ribu hadirin, ternyata lebih,” katanya sebagaimana ditulis dilaman mataairradio.com.
Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak
Menurut Suyoto, selama 17 tahun mengaji kitab Al-Ibriz ini, terkadang sang pengampu, yaitu KH. Ahmad Mustofa Bisri, berhalangan juga.
“Kalau berhalangan, biasanya badal (wakil) ke kiai Syarof (KH. Syarofuddin Ismail Qoimas),” terangnya.
Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri
Untuk membaca do'a, para kiai pun silih berganti yang kemudian ditutup oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri. Dalam khataman ini, setiap jama'ah mendapat kenang-kenangan berupa buku yang berisi keutamaan dan adab membaca Al-Qur'an serta sejumlah amalan.
Setelah khataman ini, Suyoto mengaku belum mengetahui kapan kitab ini mulai dikaji kembali.
“Bila ngajinya sudah khatam, biasanya diulang dari awal,” ujarnya.[]
(Redaksi RN)
