rumahnahdliyyin.com - Sudah lama NU dan orang-orangnya dituding sebagai kelompok yang “bersikap keras terhadap umat Islam dan berlaku lemah lembut terhadap orang-orang kafir.” Belakangan, tudingannya lebih seram: Anshârut Thâgût, pembela Thagut. Kata mereka: “Banser lebih rajin jaga Gereja, ketimbang pengajian.”
Orang-orang NU tidak perlu berkecil hati. Sebenarnya, NU menjaga Islam dari orang-orang yang merusak, yaitu sekelompok orang yang menggunakan Islam untuk berbuat jahat. Ada yang menyangkal keberadaan mereka. Abu Bakar Al-Baghdadi, konco-konconya dan yang sealiran dengannya, kurang bukti apa!?
Baca Juga: PBNU Mengutuk Keras Peledakan Tiga Bom Gereja di Surabaya
Mereka syahadat dan takbir, tetapi menggorok orang, bahkan sesama ahlul qiblat. Dan terhadap mereka yang menggunakan Islam untuk berbut jahat, sikap kita kadang harus lebih keras ketimbang terhadap non-Muslim.
Ibnu Hajar Al-'Asqolani, dalam Fathul Bârî syarah Shôhîh Bukhôrî, Juz 12, h. 253, mengutip pendapat Ibnu Hubairah terkait Khowarij, yaitu pendahulu kelompok takfiri yang kerap menggunakan kekerasan dan menghalalkan darah sesama umat Islam:
أن قتال الخوارج أولى من قتال المشركين. والحكمة فيه أن قتالهم حفظ رأس مال الإسلام، وفي قتال أهل الشرك طلب الربح. وحفظ رأس المال أولى
“Sungguh memerangi Khowarij lebih utama ketimbang memerangi orang-orang musyrik. Hikmahnya adalah bahwa dalam memerangi Khowarij, terpelihara modal pokok Islam. Sementara memerangi orang musyrik, dapat laba. Menjaga modal pokok, lebih utama ketimbang mencari laba.”
Baca Juga: Ciri Teroris di Medsos
Modal pokok Islam, sesuai dengan namanya, adalah agama damai dan mengupayakan perdamaian. Sekarang ada sekelompok orang Islam, karena keyakinan tertentu, bekerja untuk mengubahnya menjadi agama teror dan kekerasan.
Terorisme lahir dari cita-cita politik, bukan agama, yaitu menegakkan pemerintahan Islam yang tidak jelas bentuknya. Orang-orang yang bercita-cita menegakkan pemerintahan Islam, dengan cara-cara tidak Islami, menganggap NKRI sebagai Thogut, bercita-cita memberontak terhadap kekuasaan yang sah yang dihasilkan dari proses syûrâ yang diakui dalam Islam, harus disikapi dengan tegas dan keras karena mereka justru menggerogoti Islam itu sendiri. Kemuliaan Islam dan ajarannya defisit justru ditangan mereka.
Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia
Islam bukan agama teror dan kekerasan. NKRI dan negara-negara lain di dunia adalah produk mu’âhadah wathoniyyah, konsensus yang sah. Karena itu, umat Islam di seluruh dunia harus taat dan patuh kepada pemimpinnya selagi tidak dihalangi untuk menjalankan sholat berjama'ah, menggemakan adzan, membangun masjid/tempat ibadah, menyuruh maksiat atau melakukan kedholiman yang nyata.
Nation-state di seluruh dunia, sah. Karena itu, umat Islam dimanapun tidak perlu berpikir membangun imperium Islam dunia dengan cara-cara yang tidak Islami. Orang-orang Islam harus berhenti bercita-cita bughot atau mengadakan konsensus diatas konsensus. NKRI yang pluralistik adalah konsensus yang dibentuk oleh para hakam (juru runding) yang bekerja dalam BPUPKI/PPKI.
Baca Juga: Penyimpangan Kata Khalifah Oleh Hizbut Tahrir
Al-Qur’an (QS. An-Nisâ’/4: 35) membolehkan dan mengakui keberadaan hakam untuk menghindari perpecahan. Jika hakam saja boleh dalam urusan domestik, apalagi dalam urusan publik yang menentukan nasib banyak orang.
Saya meyakini terorisme dalam Islam lahir dari cita-cita politik, bukan agama. Terorisme harus disikapi keras dan tegas. Tidak ada toleransi terhadap terorisme dan teroris. Adapun satu tingkat di bawahnya, yaitu orang Islam eksklusif, yang meyakini kebenaran mutlak Islam sembari menafikan hak orang lain meyakini kebenaran ajaran agamanya, harus diupayakan dialog tanpa letih dan pengajaran Islam yang benar, yaitu Islam yang mempromosikan keadilan, perdamaian dan toleransi: Islam yang berwawasan kebangsaan.
Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam
Setelah insiden Mako Brimob dan teror di Gereja Surabaya hari ini, kita harus sehati dan sepikiran bahwa tidak ada tempat bagi terorisme di sini, di sana dan di mana saja. Tidak perlu menutup-nutupi dan membela aksi terorisme dengan alasan apa pun.
Kalau misalnya tidak puas dengan kinerja pemerintahan, jadilah oposisi loyal. Kritiklah, kalau perlu keras, tetapi jangan asbun. Himpun kekuatan dan rebutlah kekuasaan dengan cara konstitusional, dengan program-program alternatif, tanpa perlu berternak kebencian.
Baca Juga: Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Agama
Setiap negara di dunia pasti punya masalah keadilan dan distribusi kesejahteraan. Hanya negeri surga yang bebas dari kerakusan manusia. Tetapi, kalau pun sekarang kita menghadapi masalah ketimpangan, tidak berarti membenarkan terorisme, pun dengan cara tersamar.
Apa maksud pembenaran tersamar? Menutup-nutupi aksi terorisme, mengembangkan teori konspirasi, menyebutnya rekayasa, menggunakan dalih reaksi atas ketidakadilan. Itu semua adalah bentuk pembenaran tersamar. Selagi kita, umat Islam, tidak mau jujur kepada diri sendiri, kita tidak akan bisa melenyapkan terorisme!
[]
* Oleh: M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Jenderal PP. ISNU. Tulisan ini diambil dari NU Online
