Shohih Bukhori No. 2; Cara Turunnya Wahyu kepada Rosululloh

rumahnahdliyyin.com - Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafidh Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrohim bin Al-Mughiroh Al-Bukhori berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ بْنُ يُوْسُفَ قَالَ: أخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ اُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَألَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ يَأْتِيْكَ الْوَحْيُ؟

فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أحْيَانًا يَأْتِيْنِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ، وَهُوَ أشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيَفْصِمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِى الْمَلَكُ رَجُلًا، فَيُكَلِّمُنِى فَأعِى مَا يَقُولُ

ُقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: وَلَقَدْ رَأيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْي
 فِى الْيَوْمِ الشَّدِيْدِ الْبَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإنَّ جَبِيْنَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

'Abdulloh bin Yusuf menceritakan kepadaku, ia berkata: Malik mengabarkan kepadaku dari Hisyam bin 'Urwah, dari ayahnya, dari 'Aisyah ummil mu'minin rodliyaLlhôhu 'anhâ bahwasanya Harits bin Hisyam ra. bertanya kepada Rosululloh sholloLlôhu 'alaihi wasallam dengan berkata: "Ya Rosululloh, bagaimanakah wahyu datang kepada Anda?"

Maka Rosululloh sholloLlôhu 'alaihi wasallam berkata: "Terkadang ia datang kepadaku seperti lonceng yang berdentang, dan itu sangat berat bagiku. Lalu ketika terputus, maka sungguh aku mengerti dan hafal apa yang telah dikatakannya. Dan terkadang malaikat datang padaku menyerupai seseorang, lalu berkata kepadaku, maka aku mengerti dan hafal apa yang ia katakan."

'Aisyah rodliyaLlôhu 'anhâ berkata: "Sungguh aku melihatnya (Rosululloh) ketika wahyu turun kepadanya (Rosululloh) pada hari yang sangat dingin, lalu ketika wahyu itu terputus, sungguh dahinya (Rosululloh) bersimbah keringat."

Hadits ini adalah hadits kedua dari Shohih Bukhori dan termuat dalam Bab Bagaimana permulaan Wahyu Turun kepada Rosululloh sholloLlôhu 'alaihi wasallam.[]

Lihat juga Hadits Pertama.
Read More

Akhlaq Menurut Imam Ghozali


rumahnahdliyyin.com - Minggu-minggu ini, saya amat menikmati Ngaji Ihya' yang saya ampu setiap minggu, baik melalui online atau kopdar dimana saya bertemu dengan audiens secara langsung di sejumlah daerah.

Saya menikmati, karena pembahasan kitab Ihya' yang sedang saya baca saat ini sedang mengulas tema penting--soal akhlak. Saya sangat menikmati ulasan filsafat etika dalam gagasan Imam Ghozali ini.

Pembahasan Imam Ghozali mengenai tema ini sangat mendalam, sistematis, dengan pendekatan yang dengan jelas menampakkan keakraban imam besar ini dengan filsafat etika yang digeluti oleh para filsuf muslim besar seperti Ibn Sina, Al-Farobi, Abu Bakr al-Rozi dan lain-lain.

Baca Juga: Akhlaq Sebagai Inti Islam

Saya mulai dengan definisi Imam Ghozali tentang akhlak. Beliau men-ta'rif-kannya sebagai: kondisi kejiwaan yang permanen (dalam teks Arab-nya: hai'atun li al-nafsi rosikhotun), dan keadaan ini memungkinkan seseorang melakukan suatu tindakan tertentu dengan mudah, alamiah, tanpa dipaksa atau dibuat-buat (artifisial).

Seseorang yang berakhlak dermawan atau pelit, misalnya, kedua sifat itu menetap pada orang tersebut, sehingga tindakan kedermawanan atau kepelitan yang keluar dari dirinya, dengan mudah, tanpa dipaksa-paksa. Akhlak membuat suatu tindakan nampak alamiah, normal, tanpa ada kesan keterpaksaan didalamnya.

Jika seseorang menjadi dermawan mendadak karena kondisi tertentu (misalnya karena menjelang Pilpres atau Pileg), tetapi setelah itu kemudian ia menjadi pelit kembali, maka tindakan kedermawanan pada orang tersebut tidaklah terbit dari kondisi kejiwaan yang permanen. Kedermawanan pada orang itu, dengan demikian, tak bisa disebut sebagai akhlak.

Baca Juga: Dawuh KH. M. Anwar Manshur tentang Santri, Ngaji, Akhlaq dan Birrulwalidain

Dengan kata lain, sesuatu disebut sebagai akhlak manakala ia telah melekat pada struktur kejiwaan seseorang, sehingga menyerupai sebuah tabiat atau kebiasaan. Cak Nur pernah menyebut akhlak sebagai second nature, tabiat kedua yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang lama.

Dalam pandangan Al-Ghozali, akhlak bukanlah sesuatu yang secara alamiah ada pada seseorang. Akhlak adalah sesuatu yang bisa diperoleh seseorang melalui sebuah latihan--atau riyadloh dalam bahasa Imam Ghozali.

Salah satu gagasan penting Imam Ghozali adalah kemungkinan akhlak untuk berubah (taghyir al-akhlaq), melalui sebuah latihan yang sabar dan konsisten. Ia serupa dengan sejumlah kecakapan pada seseorang yang bisa diperoleh melalui sebuah latihan pelan-pelan, misalnya kecakapan bermain bola.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Kecakapan main bola bisa “ditanamkan” pada seseorang yang memang memiliki bakat bermain bola, melalui sebuah training. Latihan ini akan membentuk apa yang oleh para filsuf etika muslim seperti Ibn Miskawayh (w. 1030 M) disebut sebagai malakah.

Malakah adalah kecakapan (skill) yang melekat sehingga menyerupai suatu property, hak milik (ada keserupaan akar kata antara istilah malakah dan milk yang artinya hak milik).

Baca Juga: Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'

Dalam pandangan Al-Ghozali, fondasi akhlak adalah dua daya atau quwwah, force, yang ada pada manusia: yaitu daya syahwah dan daya ghodlob.

Syahwah adalah daya yang secara alamiah ada pada semua manusia. Melalui daya ini seseorang memiliki hasrat akan sesuatu; misalnya hasrat untuk mengonsumsi makanan atau minuman.

Sementara ghodlob (marah) adalah daya yang melahirkan pada diri manusia apa yang oleh Imam Ghozali disebut sebagai hamiyyah, atau semangat, passion, motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Teman saya dari Pati, Habib Anis Sholeh Ba'asyin, mempunyai observasi yang menarik tentang dua daya ini. Menurut dia, karakter syahwah adalah menyerap sesuatu ke dalam diri manusia. Sementara karakter ghodlob (marah) adalah mengeluarkan sesuatu ke luar diri manusia.

Pada dirinya sendiri, syahwat dan marah bukanlah hal yang jelek, negatif. Menurut Al-Ghozali, baik syahwat dan ghodlob adalah daya-daya yang secara niscaya ada pada semua manusia dan diciptakan oleh Tuhan karena tujuan tertentu (khuliqot li fa'idatin).

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Akhlak yang baik muncul pada diri seseorang manakala ia berhasil mengendalikan dua daya itu agar tak terjatuh pada dua titik ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah apa yang oleh Al-Ghozali disebut dengan ifroth, atau ekstrim kanan, berlebihan—esktrim surplus.

Ekstrim yang kedua adalah tafrith, yaitu ekstrim kiri, berlebihan karena defisit, kekurangan. Seseorang menjadi berakhlak jika ia bisa mengendalikan dengan akalnya kedua daya tadi--syahwat dan marah.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Inti teori akhlak ala Imam Ghozali adalah ide tentang tengah-tengah ini (al-wasath, al-i'tidal, al-tawazun). Akhlak menjadi hilang manakala terjadi ketiadaan keseimbangan. Dengan kata lain, setiap kecenderungan ekstrim jelas berlawanan dengan, sebut saja, “ke-etika-an”, "ke-akhlak-an".

Syahwat yang njomplang ke kanan (ifroth), akan melahirkan sikap-sikap destruktif seperti isrof, berlebihan dalam mengonsumsi sesuatu. Sementara syahwat yang terlalu condong ke kiri (tafrith) akan melahirkan sikap taqtir, thrift/frugality, medhit (bahasa Jawa: pelit), dan sebagainya.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seseorang disebut berakhlak jika ia berhasil menyeimbangkan diri diantara dua titik ekstrim tersebut. Sikap yang muncul dari keseimbangan itu adalah apa yang oleh Imam Ghozali disebut dengan sakho' atau kedermawanan.

Begitu juga dalam hubungannya dengan daya ghodlob atau marah. Daya ini akan melahirkan akhlak yang baik jika bisa diseimbangkan, tidak ndoyong terlalu berlebihan ke kanan atau ke kiri.

Daya ghodlob yang terlalu ndoyong ke kanan (marah yang berlebihan) akan melahirkan tindakan-tindakan agresif, menyerang, yang destruktif, merusak--apa yang oleh Al-Ghozali disebut dengan tahawwur.

Baca Juga: Asmat; Kota Terapi Syukur

Sebaliknya, jika daya ghodlob ini ndoyong berlebihan ke kiri (mengalami kondisi kekurangan, defisit, yang berlebihan), yang muncul dari sana adalah sikap jubnun, ketakutan, kepengecutan, kekhawatiran yang eksesif terhadap sesuatu.

Sebagaimana sikap agresif bisa destruktif, sikap takut yang berlebihan juga bisa merusak mental seseorang. Kondisi akhlak yang sehat tercipta manakala ada titik keseimbangan antara dua sikap ekstrem itu.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Inti teori akhlak dalam pandangan Al-Ghozali, dengan demikian, adalah kemampun melakukan pengendalian diri, self-restrain; tidak membiarkan diri terserap ke dalam luapan jiwa yang berkobar-kobar pada suatu saat. Syahwat dan ghodlob bisa meluap seperti banjir bandang yang susah dikontrol. Saat “banjir” ini terjadi, biasanya akhlak menjauh dari seseorang.

Pandangan Al-Ghozali tentang akhlak ini memang berseberangan dengan karakter zaman kita dimana semangat yang menonjol adalah “menenggak semaksimal mungkin kenikmatan sesaat”. Kapitalisme modern menciptakan “kelimpahan material” karena mesin-mesin modern yang mampu memproduksi barang secara massal.

Baca Juga: Sekutu Iblis

Dalam situasi yang serba berkelimpahan seperti ini, godaan untuk “meluapkan syahwat konsumsi”, juga godaan untuk menikmati the joy of consumption, kelezatan mengonsumsi segala hal secara kebablasan, sangatlah besar.

Teori akhlak Al-Ghozali bisa kita pandang sebagai kritik atas kecenderungan-kecenderungan yang berlebihan (ekstrimisme dalam pengertian yang luas) yang menjadi karakter zaman kita sekarang.***

Keterangan gambar: Salah satu ajaran akhlak Plato, filsuf besar Yunani, adalah moderation yang dalam bahasa Imam Ghozali adalah i'tidal.[]



* Oleh: Ulil Abshar Abdalla
Read More

Shohih Bukhori No. 1; Niat


rumahnahdliyyin.com - Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafidh Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrohim bin Al-Mughiroh Al-Bukhori berkata:

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُاللهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيىَ بْنُ سَعِيْدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ: أخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إبْرَاهِيْمَ التَّيْمِيُّ: أنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُوْلُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى دُنْيا يُصِيْبُهَا، أوْ إلَى امْرَأةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

Humaidi Abdulloh bin Az-Zubair menceritakan pada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan pada kami, ia berkata: Yahya bin Sa'id Al-Anshori menceritakan pada kami, ia berkata: Muhammad bin Ibrohim At-Taymi mengabarkan padaku bahwasanya ia mendengar 'Alqomah bin Waqqosh Al-Laitsi berkata: Aku mendengar 'Umar bin Al-Khoththob rodliyaLlohu 'anhu di atas mimbar berkata: Aku mendengar RosuluLloh sholloLlohu 'alaihi wasallama berkata: Sungguh perbuatan-perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sungguh bagi tiap orang akan mendapatkan (balasan sesuai) apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrohnya untuk memperoleh dunia atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka (balasan) hijrohnya itu sesuai dengan niat berhijrohnya itu.

Hadits ini adalah hadits pertama dari kitab Shohih Bukhori dan termuat dalam Bab Bagaimana Permulaan Wahyu Turun kepada RosuluLloh sholloLlohu 'alaihi wasallam.[]

Baca Juga: Hadits No. 1
Read More

Inilah Tausiyah Habib Umar tentang Kehidupan Bernegara


rumahnahdliyyin.com - Inilah petikan Tausiyah Al-'Allamah Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidz di Hotel Aryaduta, Bandung, Jawa Barat, bersama PWNU. Jawa Barat, yang juga dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, pada Selasa, 9 Oktober 2018.

Dijelaskan dalam sebuah riwayat bahwa sahabat Abdulloh bin Mas'ud rodliyallohu'anhu, seorang khodim (pembantu) Rosululloh shollollohu 'alaihi wasallam (Rosululloh senang akan bacaan Al-Qur'an dari sahabat Abdullah bin Mas'ud), ketika sedang berjalan di tengah jalan bertemu dengan sekelompok umat Islam yang sedang menyuruh seorang kafir dzimmi (orang kafir yang tinggal di negeri Islam dan dibawah perlindungan kaum muslimin).

Baca Juga: Berhukum dengan Selain Hukum Allah

Orang kafir tersebut disuruh oleh sekelompok kaum muslimin untuk membawa tentengan. Lalu sahabat Abdullah bin Mas'ud turun dari tunggangan beliau, lalu bertanya kepada orang kafir tersebut, "Apakah engkau senang dengan perintah orang-orang itu kepadamu?" Orang Kafir itu menjawab, "Tidak".

Kemudian sahabat Abdullah bin Mas'ud menemui sekelompok kaum muslimin tadi dan berkata, "Sejak kapan kalian telah melanggar janji Rosululloh Shollolohu 'alaihi wasallam untuk menjaga dan memelihara hak-hak non-muslim di tengah kaum muslimin?"

Baca Juga: Menolak Ide Khilafah

Sebuah kisah lain di masa Kholifah 'Umar bin Khothob rodliyallohu'anhu, pada waktu itu ada seorang non-muslim yang membayar pajak kepada Pemerintahan Umat Islam sebagai imbalan perlindungan umat Islam kepadanya.

Di masa mudanya, non-muslim tersebut selalu membayar pajak kepada Pemerintahan Umat Islam. Hingga suatu ketika di masa tuanya, Kholifah 'Umar bin Khoththob mendapati non-muslim tersebut sedang mengemis meminta-minta sehingga ia tidak lagi membayar pajak kepada pemerintah.

Baca Juga: Menjernihkan Makna "An-Nas" dalam Hadits Memerangi Musyrikin

Lalu Kholifah 'Umar bertanya, "Apa yang terjadi denganmu?" Non-muslim itu menjawab, "Dulu waktu saya muda, saya masih kuat bekerja dan saya masih mampu untuk membayar pajak kepada pemerintah. Akan tetapi sekarang, saya sudah tidak mampu sehingga saya sekarang mengemis".

Kholifah 'Umar kemudian berkata, "Tidak boleh ketika di masa mudamu engkau memberikan kepada kami pajak atas perlindungan yang kami berikan kepada engkau, lantas ketika dimasa tuamu kami telantarkan engkau begitu saja. Tidak, engkau duduk saja di rumahmu. Engkau tidak lagi perlu membayar pajak. Dan nafkahmu sehari-hari kami yang tanggung dari Baitul Mal kaum Muslimin".[]
Read More

Inilah Karakter Gus Dur yang Ditempa oleh Ibundanya


rumahnahdliyyin.com - Karakter Gus Dur banyak dipengaruhi oleh ibundanya, yaitu Nyai Hj. Sholihah Wahid Hasyim. Perempuan tangguh ini mempengaruhi Gus Dur dalam keteguhan memegang prinsip dan kepedulian kepada mereka yang terpinggirkan.

Nyai Hj. Sholihah binti KH. Bisri Sjansuri ini sedang mengandung anak keenamnya, Hasyim Wahid, saat sang suami, KH. Abdul Wahid Hasyim, ulama' cum negarawan muda paling moncer dalam sejarah Indonesia, berpulang akibat kecelakaan di Bandung.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Nyai Sholihah, yang belum genap berusia 30 tahun menjanda dengan tanggungan 6 buah hati: Abdurrahman Ad-Dakhil, Aisyah, Shalahuddin, Lily Khadijah, Umar dan Hasyim Wahid. Tak tega melihatnya sendirian di Jakarta, KH. Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali tinggal ke Jombang. Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di ibukota. Di era 1950-an, di mana kondisi sosial-politik dan ekonomi tidak stabil, tentu pilihan ini sangat beresiko.

Instingnya sebagai seorang perempuan tangguh mulai terasah saat dia mulai berbisnis beras. Bahkan menjadi makelar mobil dan pemasok material ke kontraktor pun pernah dia jalani. Nyai Sholihah juga merintis panti asuhan, rumah bersalin, beberapa majelis ta'lim dan kegiatan sosial lainnya. Karakter Gus Dur yang peduli wong cilik, mendahulukan kepentingan orang lain, dan tempat bersandar bagi mereka yang terpinggirkan dan terdholimi, saya kira menurun secara genetik dari ibundanya ini.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Tak hanya itu, rumahnya dia jadikan sebagai salah satu basis politik NU. Keputusan penting seputar kiprah NU di perpolitikan digodog di sini oleh dua tokoh sentralnya: KH. Bisri Sjansuri (ayahnya) dan KH. A. Wahab Chasbullah (pakdenya). Sikap NU terkait dengan Dekrit Presiden, Kabinet Gotong Royong, hingga keputusan cepat Muslimat dan NU beberapa waktu usai G-30-S/PKI digodog di sini.

Dengan kerja keras dan tirakatnya, kelak para buah hatinya menjadi orang berhasil dibidangnya: Abdurrahman Ad-Dakhil alias Gus Dur menjadi Presiden Ke-4, Aisyah Hamid Baidlawi menjadi ketua Muslimat NU dan politisi Golkar, Lili Khadijah menjadi politisi PKB, Sholahuddin Wahid menjadi pengasuh pesantren, dan Umar Wahid menjadi direktur rumah sakit di Jakarta.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Bahkan, dalam beberapa keputusan penting di PBNU, ketika para kiai "gagal" melunakkan Gus Dur, mereka memilih jalan menghadap Nyai Sholihah agar bisa melunakkan putranya. Berhasil. Gus Dur taat pada ibundanya. Karakter Gus Dur yang dipahat ibundanya, juga sama dengan yang dialami oleh seorang yatim lainnya, BJ. Habibie. Keduanya ditinggal wafat sang ayah dalam usia belia, ditempa sang ibu dan kemudian menjadi presiden RI.

Ketika Gus Dur di Universitas Al-Azhar, Nyai Sholihah kerap menitipkan (melalui para sahabatnya) beberapa botol kecap dan puluhan sarung agar Gus Dur mau menjualnya. Maksudnya, biar menjadi tambahan uang saku. Apa daya, Gus Dur memang nggak berbakat sebagai pedagang. Kecap dan sarung memang ludes, bukan dibeli. Tapi diminta para sahabat-sahabatnya.[]



* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More

Fatwa Mufti Makkah untuk Zakat Sagu di Nusantara Timur


rumahnahdliyyin.com - Ini adalah secarik manuskrip berisi fatwa dari Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî (w. 1343 H./1924 M.), seorang ulama' besar dunia Islam yang juga menjabat mufti madzhab Syafi’i di Makkah, terkait hukum mengeluarkan zakat fitrah untuk wilayah Nusantara Timur.

Fatwa ini kemungkinan besar ditulis pada akhir abad ke-19 M. atau awal abad ke-20 M. Manuskrip ini sendiri tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Universitaire Bibliotheken Leiden), Belanda, dalam kumpulan arsip Christian Snouck Hurgronje (w. 1936), seorang orientalis besar Belanda yang juga penasihat pemerintahan colonial Hindia-Belanda (menjabat sepanjang tahun 1889-1906).

Baca Juga: Alumni Santri di Sorong, Papua, Bahas Soal Zakat

Sebagaimana dimaklumi bahwa mengeluarkan zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang ditunaikan satu tahun satu kali, yaitu pada bulan Romadlon. Zakat yang dikeluarkan berupa bahan makanan pokok suatu negeri di mana seorang muslim itu tinggal dan dengan ukuran tertentu.

Bagi muslim Timur Tengah, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian berbahan pokok gandum, maka zakat fitrah yang ditunaikan juga berupa gandum. Sementara bagi muslim di India, yang mana makanan pokok mereka adalah roti-rotian sekaligus nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun berupa gandum atau beras. Sementara bagi muslim Nusantara, yang mana makanan pokok mereka adalah nasi, maka zakat fitrah yang ditunaikan pun adalah beras.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Lalu bagaimana dengan muslim Nusantara yang berasal dari kawasan Timur, yang mana makanan pokok mereka adalah sagu, bukan gandum dan bukan juga nasi? Apakah mereka menunaikan zakat fitrahnya dengan beras, dengan pertimbangan diqiyaskan dengan muslim Nusantara wilayah Barat dan Tengah yang memang makanan pokoknya adalah nasi? Ataukah mereka tetap menunaikan zakat fitrah dengan sagu?

Pertanyaan inilah yang diajukan kepada Syaikh ‘Abdullâh b. Muhammad Shâlih al-Zawâwî al-Makkî dalam kapasitasnya yang bukan hanya sebagai mufti Syafi’iyyah di Makkah, tetapi juga sebagai guru para ulama' besar asal Nusantara pada abad ke-20 M.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus

Tertulis pertanyaan dalam secarik kertas fatwa tersebut:

ما قولكم في أهل قطر يقتاتون شيئا يسمى بالساقو ولا تزرع بلدهم غيره ولا يميلون الى قوت غيره. فهل والحال ما ذكر يخرجون زكاة فطرتهم منه لكونهم اعتادوه قوتا غالبا اختيارا أم يكلفون بتحصيل غيره من قوت غير بلدهم. لازلتم هداة مرشدين الى الصراط السوي

"Apa pendapat Tuan tentang penduduk sebuah negeri (daerah) yang mana mereka menggunakan makanan pokok mereka dengan sesuatu yang disebut “Sagu”. Di daerah itu tidak ditanam (tanaman yang dijadikan makanan pokok) selain sagu tersebut. Mereka juga tidak memakan makanan pokok selain sagu. Dalam kondisi demikian, apakah mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut karena mereka memang menjadikan sagu sebagai makanan pokok mereka sebagai pilhan, atau mereka diharuskan mendapatkan makanan pokok dari luar daerah mereka (sepeti beras)? Semoga engkau selalu menjadi petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang lempang."

Baca Juga: Kontroversi Bacaan Do'a diantara Dua Sujud

Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî kemudian menjawab pertanyaan di atas dengan menegaskan bahwa muslim Nusantara kawasan Timur yang menjadikan sagu sebagai bahan pokok makanan utama mereka, maka zakat fitrah yang dikeluarkannya pun harus berupa sagu. Beliau menulis:

تقدم نظير هذا السؤال قبل سنين وأجبنا عنه نظير ما يتحرر هنا وهو أن أهل القطر الذين يقتادون الاقتيات بالساقو يخرجون زكاة فطرتهم منه، ولا يطلب منهم تحصيل غيره من قوت غير بلدهم. فان الواجب المقرر في كتب المذهب هو اخراج الفطرة من أغلب قوت البلد حتى لو كان في البلد نوعان أو أكثر يقتاد أهل البلد منها جميعا. فالواجب اخراج زكاة الفطر من أغلب ما يقتادون منه. وإن كان الجميع على السواء فيخرج الفطرة من أيها شاء. ولا يكلف أحد جلب البرا وغيره من أخرى والله أعلم. أمر برقمه مفتى الشافعية بمكة المحمية والأقطار الحجازية الراجي غفران المساوي عبد الله بن السيد محمد صالح الزواوي. كان الله لهما آمين آمين.

"Pertanyaan semacam ini telah datang kepada kami sejak beberapa tahun yang lalu. Dan kami pun menjawab pertanyaan seperti itu di sini: bahwasannya para penduduk suatu negeri (daerah) yang terbiasa menjadikan makanan pokok mereka dengan sagu, maka mereka mengeluarkan zakat fitrah dari sagu tersebut. Tidak diharuskan bagi mereka untuk mendatangkan makanan pokok selain sagu (seperti beras, gandum, dll) dari luar wilayah mereka, yang memang bukan menjadi makanan pokok negeri mereka. Hal yang wajib dan ditetapkan dalam kitab-kitab rujukan madzhab kita (madzhab Syafi’i) adalah mengeluarkan zakat firah dari makanan pokok mayoritas penduduk sebuah negeri, meski di negeri tersebut terdapat dua buah makanan pokok atau lebih. (dalam kasus seperti itu, maka) yang wajib untuk dikeluarkan zakat fitrahnya adalah makanan pokok yang banyak dikonsumsi oleh para penduduk negeri. Jika antara dua makanan pokok atau lebih itu taraf konsumsinya sama, maka para penduduk negeri boleh memilih mana saja untuk menunaikan zakat fitrahnya. Tidak diharuskan seseorang untuk mendatangkan sebuah makanan pokok lain dari luar wilayah negeri mereka. WAllôhu a’lam. Telah memerintah untuk menuliskan (fatwa) ini, seorang mufti madzhab Syafi’i di Makkah dan kota-kota Hijaz lainnya, seorang yang mengharapkan ampunan Tuhannya, ‘Abdullâh b. Sayyid Muhammad Shâlih al-Zawâwî. Semoga Allah senantiasa bersama keduanya. Amin."

Baca Juga: Menyikapi Fatwa yang Kontroversial

Pendapat Syaikh ‘Abdullâh al-Zawâwî di atas merupakan pendapat konvensional-klasik hukum zakat fitrah dalam madzhab Syafi’i, yang mana seorang muslim harus membayar zakat fitrahnya dengan bahan makanan pokok mereka, seperti beras, gandum atau sagu. Saat ini, berkembang pendapat para ulama' yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang, senilai harga takaran zakat fitrah yang semestinya ditunaikan.

WAllôhu A’lam.[]



* Oleh: Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban, Bandung, Muharrom 1440 H./Oktober 2018 M.
Read More

Soal Islam Nusantara, Gus Yahya: Orang Eropa Saja Tidak Bingung


rumahnahdliyyin.com | Surabaya - Memperingati datangnya bulan Muharrom, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, menggelar acara Gebyar Muharrom. Kegiatan yang ditutup dengan pengajian umum ini menghadirkan KH. Yahya Cholil Staquf, Katib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akhir pekan lalu, di Karang Menjangan, Gubeng, Surabaya.

Dengan mengambil tema "Islam Nusantara di Era milenial", panitia berharap bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang istilah "Islam Nusantara" yang saat ini kembali menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh ketua panitia acara, Ustadz Zainul Muttaqin.

"Harapannya, masyarakat bisa lebih paham dengan apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara," katanya.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Sementara itu, Gus Yahya, sapaan akrab KH. Yahya Cholil Staquf, menjelaskan maksud dari Islam Nusantara yang menjadi tema Muktamar ke-33 NU di Jombang pada 2015. Menurutnya, jika ada orang Indonesia yang bingung dengan Islam Nusantara, orang itu mungkin hanya pura-pura bingung saja.

"Jadi, kalau ada orang Indonesia yang katanya bingung tentang Islam Nusantara, itu pura-pura aja, saya kira. Sebetulnya tidak bingung. Kalau bingung, biar dipikir-pikir sendiri. Lah wong orang Eropa saja tidak bingung, kok. Masa orang Karang Menjangan bingung, kan aneh toh? Saya kira begitu," jelas pengasuh Pondok Pesantren Leteh, Rembang, ini.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Seluruh dunia, imbuh beliau, menyambut Islam Nusantara dengan gegap gempita sewaktu penetapan Islam Nusantara sebagai tema muktamar. Sudah lebih dari 48 negara datang ke PBNU untuk belajar tentang Islam Nusantara. Dan puluhan negara mengundang PBNU untuk datang, untuk datang dan berbagi tentang Islam Nusantara di negara itu. Bahkan ada harapan, dengan Islam Nusantara ini, Nahdlatul Ulama bisa memberikan sumbangan untuk perdamaian dunia.

"Salah satu media di Arab, yaitu Al-Arab, sampai membuat tulisan editorial. Bahwa Islam Nusantara merupakan jalan masuk menuju masa depan dunia Islam. Masa depan yang diwarnai dengan kedamaian dan harmoni," terang Gus Yahya.

Menurut beliau lagi, Islam Nusantara itu adalah yang seperti dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada kesehariannya.

Baca Juga: Khitah Islam Nusantara

"Sebab, Islam Nusantara itu mudah. Islam Nusantara, ya, kalian itu. Sampeyan Islam mboten? Islam nggeh? Karang Menjangan itu bagian Nusantara mboten? Ya, itulah Islam Nusantara," jelasnya.

Lebih lanjut, Gus Yahya membeberkan alasan pemberian nama khusus, Islam Nusantara. Alasannya adalah karena ada perbedaan.

"Kenapa diberikan nama yang khusus, Islam Nusantara? Kok tidak Islam saja? Kok pakai Islam Nusantara? Sebab memang ada perbedaan. Bedanya gimana? Acara seperti ini contohnya. Coba kalian cari model pengajian umum seperti ini di tempat lain," imbuhnya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

"Apakah Islam Nusantara membuat madzhab baru? Tidak. Wudlunya, ya, sama dengan wudlunya Imam Syafi'i, rukunnya enam. Apa ada kiai mencontohkan dengan sebelas? Tidak ada," tambahnya lagi.

Pengajian seperti ini, menurut salah seorang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini, merupakan bentuk konsolidasi sosial untuk memperkuat kohesi, keguyuban dan kerukunan masyarakat. Di samping itu , juga sebagai media penanda arah, sehingga masyarakat bisa mendapat inspirasi ke mana arah yang bisa diperjuangkan bersama.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

"Sebetulnya pengajian umum seperti ini lebih ke arah media untuk konsolidasi sosial. Kalau pendidikan, itu yang dilakukan oleh kiai-kiai ini sehari-hari. Kiai-kiai ini yang melakukan pendidikan ke generasi muda untuk memperbaiki akhlaknya, untuk mempersiapkan kekuatan lahir batinnya untuk menghadapi masa depan," tandas Gus Yahya.[]



nu.or.id
Read More

Sembilan Kalam Hikmah Abuya KH. Ma'ruf Amin


rumahnahdliyyin.com - Pada momentum Tasyakuran yang dihadiri oleh Relawan Lintas Iman dan Barisan Milenial, Abuya KH. Ma'ruf Amin berpidato cukup panjang. Berikut ini adalah butir-butir hikmah yang sempat saya catat dikala dengan khidmat menyimak tausiyah dan irsyadat dari beliau, yang secara umum berisi tentang peran ulama', kebangsaan, arus baru ekonomi Indonesia dan pesan-pesan terhadap generasi milenial:

1. Ulama itu harus faqih, munadhdhom dan muharriq. Faqih artinya 'alim secara keilmuan, juga secara amaliyah. Munadhdhom adalah organisatoris, yang artinya ulama' juga harus bisa menjalankan roda organisasi. Dan yang terpenting adalah muharriq yang artinya penggerak. Sebab, kalau bukan penggerak, maka ulama' akan digerakkan.

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

2. Pada pundak mereka, ulama' mengemban dua tanggung jawab. Pertama mas'ûliyyah ummatiyyah, tanggung jawab keummatan. Dan yang kedua mas'ûliyyah wathoniyyah, tanggung jawab kebangsaan. Maka, mengurus umat sama halnya dengan mengurus bangsa.

3. Indonesia adalah dârul mîtsâq, rumah kesepakatan. Orang sering menyebutnya dârul 'ahdi. Namun, didalam Al-Qur'an ada istilah mîtsâqon Gholîdhon, yang artinya ikatan yang kuat.

4. Pancasila adalah kalimatun sawâ/common platform. Dan UUD 1945 adalah 'ittifâqôt akhowiyyah dan ittifâqôt wathoniyyah, perjanjian dua saudara dan perjanjian antar anak bangsa. Yang dimaksud perjanjian dua saudara adalah saudara muslim dengan saudara non-muslim untuk hidup rukun dan berdampingan.

(NB: Istilah dârul mîtsâq dan ittifâqôt akhowiyyah adalah istilah yang geniune yang datang dari Abuya KH. Ma'ruf Amin sendiri).

Baca Juga: Jangan Gunakan Nama Muslim untuk Sebar Hoax

5. Kalau ada yang bilang, kenapa ulama' bicara politik, maka jawabannya, dari dulu memang ulama' bicara politik. Dan terlibat dalam proses-proses politik. Politik ulama' adalah politik kebangsaan dan politik keummatan. Bukan politik dalam pengertian sempit untuk kepentingan pribadi dan segelintir golongan saja.

6. Konflik ideologi harus kita benahi. Supaya anak bangsa bisa fokus belajar, bekerja dan berkarya. Kita tidak menutup pintu kritik, tapi kritik yang beretika. Bukan dalam rangka mengganggu dan menggoyang-goyang kepemimpinan yang sah.

7. Arus baru ekonomi Indonesia adalah sebuah paradigma ekonomi yang berarti menguatkan yang lemah, dengan tidak melemahkan yang kuat. Artinya, semua sama sama saling menguatkan.

Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat dari Pesantren

8. Generasi milenial harus berakhlak, berkarakter dan punya fighting spirit yang kuat. Perolehan medali kita di ASIAN GAMES kemarin adalah bukti bahwa kita bangsa yang kuat dan petarung.

9. Generasi milenial kalau dilempar ke laut, jadilah pulau. Kalau dilempar ke darat, jadilah gunung. Artinya, dimanapun kalian berada, kalian harus muncul dan menonjol diantara yang lain.

Demikianlah sembilan butir-butir hikmah yang saya rangkum dari tausiyah Abuya KH. Ma'ruf Amin. Semoga bisa menjadi semacam oase di tengah kerontangnya sahara politik dan situasi kebangsaan kita.[]



* Oleh: Khairi Fuady, Konsolidator Relawan Lintas Iman Kiai Ma'ruf.

Sumber: libertynesia.id.
Read More

Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia


rumahnahdliyyin.com - Krisis politik dan kemanusiaan yang bermula sejak 2011 telah meluluhlantakkan banyak negara Timur Tengah, seperti Libya, Tunisia, Yaman dan Suriah. Gerakan propaganda kelompok radikal yang mengatasnamakan revolusi (thaurah) ini sudah berkepanjangan dan gagal memenuhi janji-janji manisnya berupa keadilan dan kesejahteraan.

Gerakan yang dimotori kelompok-kelompok pro-kekerasan ini memang awalnya memikat, karena dibungkus dan disembunyikan di balik kedok-kedok retorik. Media Barat sampai menyebut gerakan mereka sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring/al-Rabi' al-'Arabi), digambarkan sebagai proses demokratisasi, berlawanan dengan kenyataan yang kemudian tampak, yaitu Islamisasi versi Khilafah atau Khilafatisasi. Berdirilah kemudian khilafah di Suriah, Irak dan Libya. Ikhwanul Muslimin saat itu memenangkan pemilu di Mesir dan Tunisia.

Baca Juga: Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah

Demi kepentingan sesaat dan ketika sudah terdesak, mereka memang gemar menggunakan slogan-slogan demokrasi. Semisal, mereka akan mengerek tinggi-tinggi panji kebebasan, ketika perbuatan melanggar hukum mereka ditindak, karena yang sedang dilakukan oleh mereka sejatinya adalah membajak demokrasi. Sejak awal mereka meyakini bahwa demokrasi adalah produk kafir. Maka kapan saja ada waktu, mereka akan menggerusnya.

Keberhasilan kelompok radikal dalam membabakbelurkan Timur Tengah menginspirasi kelompok radikal di berbagai belahan dunia lain. Jejaring mereka semakin aktif di Asia, Eropa, Afrika, Amerika sampai Australia, berusaha memperluas kekacauan ke berbagai wilayah, dengan harapan bisa mewujudkan cita-cita utopis mereka; mendirikan khilafah di seluruh muka bumi.

Baca Juga: Sembilan Rekomendasi Silatnas ke-VI Alsyami

Wacana Syrianisasi kemudian sampai ke Indonesia, semakin ramai disuarakan pada tahun-tahun belakangan, paling tidak mulai 2016. Banyak pihak mensinyalir ada gerakan-gerakan yang berusaha menjadikan Indonesia jatuh ke dalam krisis sebagaimana menimpa Suriah.

Fakta-fakta kemudian bermunculan; banyak pola krisis Suriah yang disalin oleh kelompok radikal menjadi sebuah gerakan-gerakan di Indonesia. Jaringan-jaringan kelompok radikal di Indonesia juga semakin terang terkoneksi dengan aktor-aktor krisis Suriah. Sebagai contoh, Indonesian Humanitarian Relief (IHR), lembaga kemanusiaan yang dipimpin seorang ustadz berinisial BN, yang logistiknya digunakan untuk mendukung Jaysh al-Islam, salah satu kelompok teroris di Suriah.

Baca Juga: Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Massal

Pola men-Suriah-kan Indonesia setidaknya tampak dalam beberapa pergerakan berikut; Pertama, politisasi agama. Indikasi menguatnya penggunaan kedok agama demi kepentingan kekuasaan, sebagaimana pernah dilakukan di Suriah, terlihat dalam banyak hal. Diantaranya adalah penggunaan masjid sebagai markas keberangkatan demonstran. Jika di Damaskus masjid besarnya Jami' Umawi, maka di Jakarta Masjid Istiqlal.

Adakah yang pernah menghitung, berapa kali Masjid Istiqlal diduduki pelaku berangkat demonstrasi? Pelaksanaannya pun kebanyakan di hari Jum'at seusai waktu Sholat Jum'at, didahului dengan hujatan politik di mimbar khotbah, sehingga mengelabuhi pandangan masyarakat terhadap agama yang sakral dan politik yang profan. Persis dengan apa yang pernah terjadi di Suriah menjelang krisis. Masjid pun berubah menjadi tempat yang tidak nyaman, gerah dan tidak lagi menjadi tempat 'berteduh'.

Baca Juga: Hentikan Pengajaran Islam Dangkal

Hari Jum'at, yang semestinya menjadi hari ibadah mulia, berubah menjadi hari-hari politik dan kecemasan atas kekhawatiran akan terjadinya chaos. Muncul kemudian istilah "Jum'at Kemarahan" sebagai ajakan meluapkan kemarahan di hari Jum'at--bukankah itu hanya terjemahan dari "Jum'at al-Ghodlob" yang pernah menjadi slogan politik pemberontak Suriah, diserukan oleh Yusuf Al-Qardhawi, tokoh Ikhwanul Muslimin?

Kedua, menghilangkan kepercayaan kepada pemerintah. Dilakukan dengan terus-menerus menebar fitnah murahan terhadap pemerintah. Sesekali presiden Suriah, Basyar al-Assad, dituduh Syiah, sesekali dituduh kafir dan pembantai Sunni. Kelompok makar bahkan menghembuskan isu bahwa al-Assad mengaku Tuhan dan disebarkanlah foto bergambar poster al-Assad dengan beberapa orang sujud di atasnya.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Dalam konteks Indonesia, Anda bisa mengingat-ingat sendiri, presiden Indonesia pernah difitnah apa saja, mulai dari Kristen, Cina, Komunis, anti-Islam, mengkriminalisasi ulama dan sederet fitnah lainnya. Tidak usah heran dengan fitnah-fitnah tersebut, yang muncul dari kelompok yang merasa paling 'Islam'. Karena bagi mereka barangkali fitnah adalah bagian dari jihad yang misinya mulia. Dan ciri universal pengikut Khawarij adalah mengkafirkan pemerintah.

Ketiga, pembunuhan karakter ulama'. Dalam proses menghadapi krisis, ulama' yang benar-benar ulama' tidak lepas dari panah fitnah, bahkan yang sekaliber Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi--yang pengajiannya bertebaran di berbagai saluran televisi Timur Tengah, kitabnya mengisi rak-rak perpustakaan kampus-kampus dunia Islam dan fatwa-fatwanya menjadi rujukan.

Baca Juga: Sekutu Iblis

Begitu berseberangan pandangan politik dengan mereka, seketika Syeikh al-Buthi dituduh sebagai penjilat istana dan Syi'ah (padahal beliau adalah pejuang Aswaja yang getol), hingga berujung pada syahidnya beliau bersama sekitar 45 muridnya di masjid al-Iman Damaskus, saat pengajian tafsir. Beliau dibom karena pandangan politik kebangsaannya yang tidak sama dengan kelompok pembom bunuh diri.

Jika demikian yang terjadi di Suriah, kira-kira Anda paham, kan, dengan apa yang terjadi di Indonesia, kenapa Buya Syafi'i Ma'arif dianggap liberal, KH. Mustofa Bisri juga dianggap liberal, Prof. Quraish Syihab dituduh Syi'ah, Prof. Said Aqil Siraj juga dituduh Syi'ah, bahkan KH. Ma'ruf Amin atau TGB. Zainul Majdi yang pernah dijunjung-junjung oleh mereka, kini harus menanggung hujaman-hujaman fitnah dari kelompok yang sama, ketika propaganda politiknya tidak dituruti?

Baca Juga: Ulama' Otoriter dan Ulama' Otoritatif

Setelah ulama' yang hakiki yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup mereka bunuh karakternya, maka mereka memunculkan ustadz-ustadzah dadakan yang punya kapasitas entertainer yang hanya mampu berakting layaknya ulama'.

Keempat, meruntuhkan sistem dan pelaksana sistem negara. Misi utama kelompok radikal adalah meruntuhkan sistem yang ada dan menggantinya dengan sistem yang ideal menurut mereka, yaitu khilafah atau negara yang secara formalitas syari'ah, meski substansinya tidak menyentuh syari'ah sama sekali.

Baca Juga: Menolak Ide Khilafah

Khilafah bagi mereka layaknya 'lampu ajaib' yang bisa memberi apa saja dan menyelesaikan masalah apa saja. Tidak sadar bahwa berbagai kelompok saling membunuh dan berperang di Timur Tengah karena sedang berebut mendirikan khilafah dan ujungnya adalah kebinasaan.

Saat kelompok makar di Suriah berusaha meruntuhkan sistem dan pelaksana negara, mereka mengkampanyekan slogan al-sha'b yurid isqat al-nizam (rakyat menghendaki rezim turun) dan irhal ya Basyar (turunlah Presiden Basyar). Slogan dengan fungsi yang sama di copy-paste oleh jaringan mereka di Indonesia, jadilah gerakan dan tagar "2019 Ganti Presiden!"

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Syrianisasi sedang digulirkan di negara kita. Pola-pola yang sama ketika kelompok radikal menghancurkan Suriah sedang disalin untuk menghancurkan negara kita. Bedanya, Suriah sudah merasakan penyesalan dan ingin rekonsiliasi, merambah jalan panjang membangun kembali negara mereka. Sedangkan kita, baru saja memulai. Jika kita tidak berusaha keras menghadang upaya mereka, maka arah jalan Indonesia menjadi Suriah kedua hanya persoalan waktu. Semoga itu tidak pernah terjadi.[]



* Oleh: M. Najih Arromadoni, Alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus dan Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami). Diambil dari detik.com.
Read More

Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika


rumahnahdliyyin.com - Alkisah, suatu malam yang hening di sebuah sanggar Hindu, di sisi utara Pulau Bali yang indah, tiga orang sahabat lintas-iman, dengan balutan rasa hormat dan ikatan persahabatan yang erat, berdiskusi tentang konsep wali atau santo atau orang suci.

Diskusi itu mengantarkan ketiganya pada sebuah titik pertemuan spiritualitas tertinggi, rasa keagamaan yang mendalam. Ketiga orang itu adalah Gus Dur, Ibu Gedong Bagus Oka dan Romo Mangun Wijaya.

Peristiwa ini diceritakan sendiri oleh Gus Dur dalam salah satu tulisannya. Kedalaman peristiwa itu terekam jelas dalam tulisan Gus Dur yang mengisahkan peristiwa tersebut.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

“Baik agama Hindu, Katolik maupun Islam, memandang orang suci memiliki beberapa sifat yang membedakan dari orang lain, ciri-ciri istimewa yang diberikan Tuhan, ataupun pengorbanan mereka pada kepentingan manusia. Persamaan pandangan inilah yang membuat kami saling menghormati dengan sepenuh hati. Saya tidak pernah memikirkan perbedaan, melainkan justru persamaan yang selalu kami jadikan sebagai titik pandang untuk melakukan pengabdian kemanusiaan.” (Abdurrahman Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, 83-84).

Kisah di atas bisa menjadi jendela penting dalam memahami pandangan Gus Dur tentang kebhinnekaan (pluralisme) dan persahabatan serta kerja sama lintas-agama. Bagi Gus Dur, kemajemukan harus diterima tanpa syarat. Karena kemajemukan adalah sebuah keniscayaan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.

Akan tetapi, mengakui fakta kemajemukan saja tidak cukup. Mengakui adanya keragaman tanpa memiliki komitmen atasnya, tidak memiliki arti apa-apa. Pluralisme adalah sebuah sikap positif terhadap keragaman. Termasuk didalamnya adalah menjaga secara aktif hak-hak keyakinan orang lain, saling memahami dan saling peduli.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya

Dalam seluruh sejarah hidupnya, Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang terus-menerus membela kelompok-kelompok lemah yang disingkirkan hanya karena alasan perbedaan.

Bagi Gus Dur, harga kemanusiaan mengatasi segalanya. Nilai-nilai kemanusiaan-lah yang sanggup mengatasi seluruh perbedaan. Bahkan, salah satu wasiat Gus Dur kepada keluarganya adalah kelak ketika meninggal dunia, hendaknya di nisan makamnya ditulis “here lies a humanist”.

Beranjak dari penghormatannya yang kuat terhadap martabat manusia, Gus Dur terus-menerus mendorong terciptanya kerja sama lintas-agama. Sebegitu kuatnya keyakinannya pada kerja sama ini, hingga dia memandang bahwa dialog lintas-agama adalah sebuah keniscayaan.

Baginya, dialog lintas-agama adalah sebuah kewajiban sosial yang harus dijalani oleh para pemeluk agama. Jika dialog adalah prasyarat bagi terciptanya toleransi, kerja sama dan perdamaian, maka dialog antar-agama adalah keniscayaan yang harus dilalui.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

“Perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerja sama antara Islam dan agama-agama lain, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Penerimaan Islam akan kerja sama itu tentunya akan dapat diwujudkan dalam praktek kehidupan, apabila ada dialog antar agama…. Kerja sama tidak akan terlaksana tanpa dialog. Oleh karena itu, dialog antar agama juga menjadi kewajiban.” (Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda dan Islam Kita, 2006: 133-134).

Pandangan Gus Dur ini, bisa dikatakan sama dengan pendapat Hans Kung yang menyatakan bahwa, “There will be no peace among the people of this world without peace among the world religions.”

Gus Dur memandang bahwa inti dari setiap agama adalah cinta kasih kepada sesama. Salah satu statemen Gus Dur yang sangat terkenal adalah “Tuhan Yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha Berkuasa tidak perlu dibela; Yang memerlukan pembelaan adalah manusia yang ditindas dan dianiaya.”

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Muara dari seluruh ajaran agama adalah cinta kasih kepada sesama manusia. Di sini, seakan Gus Dur hendak mengatakan bahwa untuk apa beragama (membela Tuhan mati-matian), jika dengan itu, martabat kemanusiaan diinjak-injak dan dinistakan.

Diatas cara pandang inilah Gus Dur menolak ekstremisme dalam agama. Baginya, agama mengajarkan perdamaian. Sedang ekstremisme mengajarkan permusuhan dan kekerasan. Ekstremisme dalam agama tidak memiliki hasil apapun kecuali menebar teror dengan memanipulasi ajaran suci agama yang penuh damai. Gus Dur pernah menyatakan, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai. Dan ekstremis memutarbalikkannya”.

Baca Juga: Tionghoa dan Kran Pembuka Eksklusivitasnya

Suatu ketika, Gus Dur pernah berkata kepada salah seorang kepercayaannya yang non-Muslim. “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” Sebagai seorang non-Muslim, si orang tersebut tidak pernah menyangka jika seorang Gus Dur, tokoh Nahdlatul Ulama, membuka lebar pintu bagi dirinya.

Gus Dur menunjukkan bahwa tempat asal kita bukanlah sebuah masalah. Bahkan, bukan sebuah masalah pula siapa orang tua atau leluhur kita. Dia berkata bahwa hanya amal baiklah yang akan membawa kita pada kebaikan.

Pandangan-pandangan inilah yang selalu disuarakan Gus Dur sebagai Guru Bangsa. Dia mencintai NKRI sebagaimana adanya. Dia membela bangsa Indonesia yang berbhinneka. Dia membela Pancasila, karena baginya, Pancasila-lah yang bisa menyatukan kita sebagai sebuah bangsa. Saat hampir semua organisasi keislaman gamang dan ragu menerima Pancasila sebagai azaz tunggal, dia dengan lantang menyatakan bahwa Indonesia tanpa Pancasila akan bubar.

Baca Juga: Islam Bhinneka Tunggal Ika

Ketika beberapa kalangan dalam Islam meributkan hubungan antara keislaman dan keindonesiaan, sambil terus-menerus memperjuangkan Indonesia yang Islam (baik menjadi negara Islam atau dominasi Islam atas agama-agama lain di Indonesia), Gus Dur dengan tegas menyatakan, “Keindonesiaan adalah ketika agama-agama atau keyakinan yang hidup di Indonesia berdiri sejajar dan memiliki kontribusi yang sama terhadap negeri.”

Baginya, esensi kesejarahan kita sebagai bangsa Indonesia adalah memastikan bahwa kita bisa hidup bersama dalam damai. “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi kesejarahan kita yang tidak boleh kita lupakan sama sekali!,” tegasnya.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Dari mana mata air pandangan-pandangan Gus Dur sehingga mengarus pikiran-pikiran bening itu?

Pertanyaan ini perlu dilontarkan, karena banyak yang mengira bahwa pandangan Gus Dur sepenuhnya adalah sekuler. Bahkan, di kalangan umat Islam, banyak yang menuduh bahwa pikiran-pikiran Gus Dur tidak sesuai dengan Islam. Bahkan, bertendensi menghancurkan Islam.

Yang perlu diingat, Gus Dur adalah cucu KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Sejak kecil mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya, KH. A. Wahid Hasyim, yang kemudian dibimbing oleh kiai-kiai ternama hingga akhirnya dia melanjutkan studinya ke Mesir dan Irak.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Saat ini, jasadnya terbaring berdekatan dengan jasad kakek dan ayahnya di lokasi pemakaman Pesantren Tebuireng, Jombang. Adalah tidak masuk akal memisahkan pandangan Gus Dur dari keyakinan agamanya, sekalipun caranya memahami agama pasti diperkaya oleh berbagai ilmu dan pengalaman yang dimilikinya.

Dalam hal kebhinnekaan, Allah SWT. telah berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa Dia sendirilah yang menciptakan manusia yang beraneka ragam. Surah Al-Hujurat, ayat 13, barangkali adalah salah satu ayat yang paling banyak dihafal. Disini, Allah SWT. secara tegas berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai, manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah SWT. ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia

Allah SWT. sendirilah yang menciptakan kebhinnekaan ini. Dia sendirilah yang menghendakinya. Fakta keragaman manusia bukan karena Allah SWT. tak mampu membuatnya menjadi satu. Namun begitulah yang dikehendaki-Nya. Apakah Allah SWT. tidak sanggup membuat seluruh hamba-Nya beriman kepada-Nya? Allah SWT. tegas menjawabnya dalam surah Yunus, ayat 99:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama

Senada dengan ayat diatas, dibagian lain, Allah SWT. juga menyatakan bahwa setiap kaum memiliki jalan dan caranya sendiri-sendiri. Seluruh perbedaan yang ada ini diciptakan bukan tanpa tujuan. Tapi justru menjadi sarana untuk mencapai kebaikan. Sebagaimana firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah SWT. menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja). Tetapi Allah SWT. hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Ma’idah: 48).

Baca Juga: Antara Agama, Manusia dan Tuhan

Jelaslah bahwa Allah SWT. menjadikan keragaman ini sebagai washilah bagi umat manusia untuk meraih kebaikan. Kebaikan tidak bisa diraih dengan cara mengolok dan merendahkan orang lain. Kebaikan hanya mungkin dicapai jika kita mengakui keberadaan orang lain dengan capaian-capaiannya.

Inilah yang dikehendaki Allah SWT. dengan mencipta keragaman. Tapi, betapa seringnya capaian atau prestasi orang lain tidak membuat kita tertantang untuk fastabiqûl-khoirôt (berlomba-lomba berbuat kebajikan), namun justru melahirkan kedengkian yang kemudian mendorong kita melakukan perendahan, penghinaan, bahkan penghancuran kelompok lain.

Baca Juga: Tasawuf Pancasila

Ironisnya, tindakan-tindakan rendah ini tidak jarang justru dibalut dengan simbol-simbol agama, seakan Allah-lah yang menyuruh seluruh tindakan kekerasan dan penghancuran ini. Padahal, dalam surat Al-Hujurat, Allah SWT. telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ -

“Wahai, orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain. (Karena) boleh jadi, mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain. (Karena) boleh jadi, perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurat: 11).

Baca Juga: Islam Melarang Umatnya Merusak Rumah Ibadah Umat Lain

Bahkan, ketika Allah SWT. menggaransi bahwa hanya Islam-lah agama yang diakui oleh-Nya, Dia tetap mewanti-wanti agar keyakinan mutlak kita terhadap Islam ini tidak menggelincirkan kita untuk melakukan tindakan pemaksaan keyakinan terhadap orang lain. Kredo kebebasan beragama telah dinyatakan secara jelas oleh Allah SWT. dalam surah Al-Baqoroh, ayat 256:

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.” (Al-Baqoroh, 256).

Jadi, jelaslah bahwa yang diinginkan Allah SWT. terhadap umat Islam adalah menciptakan sebuah kehidupan yang penuh kedamaian di muka bumi. Kebhinnekaan yang ada di dunia, termasuk kebhinnekaan dalam keyakinan, adalah sunnatuLlah yang tidak bisa diingkari.

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Agama, seyakin apapun kita dan sekuat apapun kita memeluknya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghinakan dan berbaku hantam. Sebaliknya, agama seharusnya menjadi energi positif dalam membangun peradaban bumi, dimana setiap orang atau kelompok hidup bersama dalam damai (peacefull coexistence).

Adalah mustahil bagi orang seperti Gus Dur tidak memahami ayat-ayat ini. Sebagai seorang muslim, Gus Dur percaya bahwa Islam adalah agama perdamaian sebagaimana makna generik dari kata al-Islam itu sendiri. Dengan makna seperti ini, Islam kaffah (Islam paripurna) berarti sebuah perdamaian total. Prinsip nir-kekerasan menjadi fondasi Gus dur dalam membangun hubungan dengan orang atau kelompok lain.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Dari sinilah lahir berbagai tindakan Gus Dur yang mendamaikan. Misalnya, dialog antar-pemeluk agama, rekonsiliasi dan toleransi. Dimata Gus Dur, tindakan-tindakan ini tidak hanya merupakan kewajiban sosial. Tapi juga misi keagamaan terdalam yang wajib ditunaikan.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan sebuah quote dari Gus Dur yang sangat menginspirasi: “Dalam hidup nyata dan dalam perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang punya anak, istri dan keluarga, mengenal rasa takut. Meskipun takut, kita jalan terus. Berani melompati pagar batas ketakutan tadi. Mungkin, disitu harga kita ditetapkan.”[]



* Oleh: Ahmad Zainul Hamdi, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Sumber: santrinews.com
Read More