KH. M. Aniq Muhammadun: Pakar Nahwu Yang Tersembunyi

 

rumahnahdliyyin.com - Putra KH. Muhammadun Pondowan ini adalah sosok yang bersahaja. Beliau menerima tamu dengan tangan terbuka. Para tamu tidak sungkan (malu) menyampaikan unek-unek (isi hati sesuai keinginan atau kebutuhan). Kiai Aniq menjawab sesuai pertanyaan atau keluhan yang disampaikan.

Beliau lebih dikenal sebagai ahli fiqh. Wawasan dan pemikiran fiqhnya mendalam. Banyak orang mengatakan bahwa kiai Aniq itu tabahhur (nyegoro) atau tahqiq (memahami secara mendalam dan di luar kepala) kitab kuning, khususnya fiqh.

Baca Juga: Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab

Penulis, bersama rombongan dari Yayasan Luthful Ulum Wonokerto Pasucen, dulu pernah menyampaikan masalah tentang zakat fitrah yang biasa terjadi di madrasah. Kiai Aniq menjawab bahwa di zaman Mbah Madun praktek zakat di madrasah tersebut ada hilah (mengatur), yaitu guru yang menerima zakat harus benar-benar guru yang masuk ashnaf tsamaniyah (golongan delapan) yang berhak menerima zakat, khususnya fakir-miskin.

Dalam forum Bahtsul Masail di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama, dari level Majlis Wakil Cabang, Cabang, Wilayah dan Pusat (Muktamar, Munas, Kombes), pandangan dan pemikiran beliau sangat dinanti. Posisi kiai Aniq dalam forum tersebut sebagai mushohhih (korektor) yang mengoreksi dan memilih jawaban dan 'ibarot kitab yang tepat dengan konteks masalah yang dikaji.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Kiai Aniq juga sering diundang dalam forum diskusi ilmiah, selain dalam forum pengajian. Di IPMAFA, tepatnya di Prodi Zakat Wakaf, kiai Aniq pernah menyampaikan pemikiran tentang zakat produktif dan wakaf produktif. Dalam konteks zakat profesi dan zakat produktif, Kiai Aniq menjelaskan dengan 'ibarot "ijaratun nafsi", yakni menyewakan potensi diri dengan kompensasi tertentu.

Hal ini diperbolehkan, sehingga profesi yang komersial, seperti dokter, komisaris, manajer, aparatur sipil negara dan lain-lain yang sudah mencapai satu nishob selama satu tahun wajib mengeluarkan zakat.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Dalam konteks zakat produktif, kiai Aniq menjelaskan pandangan fiqh yang menganjurkan pemberian zakat dalam bentuk kail dari pada ikan, seperti modal usaha, alat untuk bekerja dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa zakat produktif sudah dijelaskan dalam kitab fiqh klasik.

Namun dalam konteks wakaf, kiai Aniq konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf uang yang lebih dikenal dengan wakaf produktif. Mengutip kitab Asnal Matholib, kiai Aniq menjelaskan bahwa wakaf adalah harta yang bisa dimanfaatkan dan dipindahkan kepemilikannya kepada Allah secara permanen, bukan temporer, untuk menggapai ridlo Alloh.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Meskipun undang-undang wakaf memperbolehkan wakaf uang dan wakaf temporer, kiai Aniq tetap konsisten dengan madzhab Syafi'i yang tidak memperbolehkan wakaf temporer atau wakaf uang tersebut.

Pandangan-pandangan fiqh kiai Aniq di satu sisi dinamis-kontekstual dan di sisi lain tekstual. Semua ini tidak lepas dari pemahaman beliau yang mendalam terhadap substansi kitab kuning yang beliau kaji selama puluhan tahun, sehingga kebenaran ilahi yang beliau cari, bukan kebenaran yang mengikuti nafsu dan ruang yang nisbi.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Muallif Nahwu

Di samping pakar fiqh yang dibuktikan dalam berbagai forum Bahtsul Masail dan seminar, kiai Aniq Muhammadun ternyata adalah sosok pakar nahwu. Dalam bidang ini, beliau sudah punya karya yang dikaji tidak hanya di Pondoknya (Mambaul Ulum Pakis), tapi juga di tempat lain, seperti di Pasuruan.

Nama kitab nahwu yang ditulis Kiai Aniq adalah Tashil Al-Salik Fi Tarjamati Alfiyyati Ibni Malik yang menjelaskan dengan bahasa Jawa kitab Alfiyyah Ibnu Malik yang sangat populer di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kitab ini ditulis kiai Aniq ketika beliau sudah berdomisili di Pakis, di tengah mengasuh para santri. Kitab ini memang stoknya terbatas. Oleh sebab itu, perlu diperbanyak supaya semakin banyak pelajar dan umat Islam yang bisa menikmati karya ulama Nusantara.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Generasi Kiai Muhammadun Pondowan

Kiai Aniq melanjutkan kepakaran ilmu nahwu dari ayahandanya KH. Muhammadun Pondowan yang menurut Sayyid Muhammad Al Makki diberi gelar "Sibawaih Jawa".

Kiai Aniq memulai studi di Pondowan, kemudian selama 6 tahun di Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) Kajen di pesantren Mathaliul Huda (PMH) Pusat di bawah asuhan KH. Abdullah Zain Salam. Selama di Kajen, kiai Aniq juga ngaji banyak kitab kepada KH. MA. Sahal Mahfudh, khususnya tentang fiqh dan ushul fiqh.

Setelah itu, kiai Aniq kembali ke Pondowan untuk mengaji kepada ayahandanya secara langsung selama kurang lebih 10 tahun. Berbagai Syarah Alfiyyah Ibnu Malik, seperti Ibnu 'Aqil dan Dahlan dilahap dengan renyah langsung dari ayahandanya.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Di tengah mengaji, kiai Aniq juga mengajar para santri dan melatih mereka Bahtsul Masail. Kiai Aniq merintis musyawarah kitab Fathul Qorib dan Fathul Mu'in di Pondowan yang sebelumnya tidak ada.

Setelah menikah dengan Hj. Salamah Zubair Dahlan Sarang, kiai Aniq di Pondowan sebentar, kemudian berdomisili di Sarang. Tidak lama di Sarang, kiai Aniq kembali ke Pati dengan memilih lokasi yang dekat dengan Pondowan, yaitu Pakis. Di Pakis inilah kiai Aniq merintis pesantren yang dikenal dengan nama Mambaul Ulum (tempat berseminya ilmu).

Pesantren ini terus berkembang. Jumlah santri terus meningkat dari tahun ke tahun. Saat ini, jumlah santri putra dan putri sekitar 300-an. Santri berasal dari berbagai wilayah, mulai Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten dan lain-lain.

Baca Juga: Mengaji Tiap Pekan, Tafsir Al-Ibriz Khatam Tujuh Belas Tahun

Tanya Jawab Fiqh

Di samping karya bidang nahwu, kiai Aniq juga mempunyai karya fiqh dalam bentuk tanya jawab yang dipublikasikan oleh Media Harian. Karya ini insya Alloh akan diterbitkan dalam bentuk buku untuk melengkapi karyanya di bidang nahwu.

Semoga KH. M. Aniq Muhammadun diberikan kesehatan, umur panjang dan keberkahan ilmu yang bermanfaat untuk para santri, umat Islam dan bangsa secara keseluruhan. Amiin Yaa Robbal 'Alamiin.[]



* Oleh: Jamal.
Pakis, Sabtu, 16 Nopember 2018.
Read More

Kitab Al-Mifann, Kiai Abdullah Rifa'i dan Mencintai Bahasa Arab


rumahnahdliyyin.com - Sosok yang pertama kali menanamkan kecintaan terhadap bahasa Arab, terutama ilmu nahwu/shorof (Arabic syntax/morphology), pada diri saya adalah ayah saya sendiri, kiai Abdullah Rifa’i (rahimahu ‘l-Lah), seorang kiai kampung yang mengelola pesantren kecil di sebuah desa bernama Cebolek (Ya, desa ini ada kaitannya dengan Serat Cebolek yang terkenal itu, karangan pujangga besar Surakarta, Yasadipura I).

Ayah saya mencintai luar biasa ilmu nahwu dan membaktikan sebagian besar hidupnya kepada bidang pengetahuan klasik ini. Dia menulis sebuah kitab dalam bahasa Arab, berbentuk nadhom (syair), yang secara khusus membahas aspek-aspek yang "aneh" dan unik dalam bahasa Arab--yaitu ghoro'ib al-lughoh. Judulnya: Al-Mifann (secara harafiah artinya: sesuatu/orang yang membawa berita tentang hal-hal yang menakjubkan—alladzi ya’ti bi-‘aja’ib al-umur).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Karya ayah saya ini hanya terbit secara terbatas dalam bentuk foto kopi dan ditulis tangan oleh sepupu saya yang juga seorang kaligrafer, yaitu Mas Amin.

Kitab Al-Mifann ini dibuka dengan sebuah bait (mengikuti pola metrik [bahar] rojaz yang sangat populer) sebagai berikut:
Al-hamdu li 'l-Lahi 'l-ladzi dallat 'alaih # Aja'ibu 'l-kawni wa auma'at 'ilaih.

Bab pertama dalam kitab ini membahas bagaimana cara menulis huruf hamzah (kaifiyyat kitabat al-hamzah). Bagi para pemula yang sedang belajar bahasa Arab, fenomena huruf hamzah ini memang agak membingungkan dari segi rasm atau ortografi (cara penulisan).

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Bab lain membahas tentang apa yang dikalangan Arab grammarian disebut dengan dlomir sya'n (dlomir adalah kata ganti, pronomina). Fenomena dlomir yang unik ini sering saya singgung dalam beberapa sesi Ngaji Ihya'. Dasar pengetahuan saya bersumber sepenuhnya dari keterangan ayah saya waktu ngaji di pondok dulu.

Dalam Al-Mifann, ayah saya menulis tiga untaian bait berikut untuk menjelaskan dlomir sya’n tersebut:
(1) Bi-mudlmar al-sya'ni yusamma mudlmaru # Qad fassarothu jumlatun dza 'l-mudlmaru.
(2) Mulazimu 'l-ifrodi la 'l-tadzkiri # Idz huwa hina 'umdatu 'l-tafsiri.
(3) Untsa muthobiqun laha musamma # Bi-mudlmari 'l-qissati fafham fahma.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama' Kendal

Kira-kira makna bait ini adalah sebagai berikut: Yang disebut dengan dlomir sya'n adalah kata ganti yang dijelaskan oleh kalimat (jumlah) yang terletak sesudahnya. Dlomir ini selalu berbentuk tunggal (mufrod), berbeda dengan dlomir atau kata ganti lain yang bisa berbentuk tunggal (misalnya: huwa/hiya—dia laki-laki/perempuan), ganda (huma) atau jama' (hum/hunna). Jika jumlah/kalimat yang menerangkan dlomir ini dimulai dengan kata yang jenis kelaminnya mu'annats (perempuan), maka dlomir sya'n berubah nama menjadi dlomir qissah.

Pada bagian lain dalam kitab itu, ayah saya menyinggung fenomena yang oleh para linguis Arab klasik dulu sering disebut dengan kasykasyah. Kasykasyah adalah semacam dialek suku Arab tertentu yang mengucapkan pronomina "ki" (kata ganti orang kedua perempuan) dengan menambahkan akhiran "sy" di ujung. Jadi, kalimat Qobbaltuki (aku menciummu), misalnya, menjadi Qobbaltukisy. Dialek kasykasyah ini masih luas dipakai di Mesir dan sekitarnya hingga sekarang.

Baca Juga: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar

Mengenai fenomena kasykasyah ini, ayah saya menulis bait berikut:
Kasykasyatun qul wadl’u syininin ‘aqiba # Kafi ‘l-mukhothobati hina rukkiba.

Salah satu pembahasan lain yang menarik berkenaan dengan cara bagaimana meng-i’rob frasa “laa siyyama” (لا سيما) yang banyak sekali dipakai dalam kitab-kitab klasik. Kata ini maknanya adalah: apalagi, lebih-lebih. Waktu di pesantren dulu, kemampuan meng-i’rob frasa “laa siyyama” ini menjadi semacam litmus test, tolok ukur apakah seorang santri sudah mencapai tingkat tinggi atau masih permulaan dalam ilmu nahwu.

Secara singkat, sesuai dengan ulasan yang ditulis oleh ayah saya dalam kitab ini, cara meng-i’rob (i’rob di sini maksudnya adalah: mendudukkan secara gramatis masing-masing unit kata dalam sebuah kalimat) frasa “laa siyyama” adalah sebagai berikut.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Partikel “laa” dalam “laa siyyama” adalah “laa linafyi al-jinsi”; yakni “laa” (artinya: tidak) yang berfungsi untuk menegasikan. Secara gramatik, partikel “laa” semacam ini memiliki karakter yang sama dengan partikel “inna”—yaitu diikuti dengan “isim” yang berkedudukan “manshub” (accusative noun—kata benda yang menjadi sasaran tindakan), dan “khobar” yang berkedudukan “marfu’” (predicative noun—kata benda yang menjadi predikat atau “menerangkan” suatu subyek).

Dengan demikian, kata “siyya” dalam “laa siyyama” berkedudukan sebagai “accusative noun”, yakni berfungsi sebagai “isim” bagi partikel “laa”, dan berkedudukan “manshub” (diberi tanda fathah)—“laa siyya”.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Sementara, partikel “ma” yang terletak setelah kata “siyya” memiliki tiga kemungkinan gramatik. Pendapat mayoritas para Arab grammarian (al-jumhur): partikel “ma” di sana adalah za’idah, artinya tambahan yang tidak memiliki status gramatik apapun (karena itu, tak memiliki i’rob).

Jika mengikuti pendapat mayoritas ini, maka kata “siyya” harus di-idlofah-kan (digabungkan sehingga membentuk susunan idlofah [idlofa construction]) kepada kata yang terletak sesudahnya.
Dengan demikian, kita akan mengatakan, misalnya: Uhibbu Sayyidatana Fathimata, la siyyama zauji-ha. Artinya: Saya mencintai Siti Fatimah, apalagi suaminya (yaitu Sayyidina Ali). Kata “zauj” dalam kalimat ini dibaca “zauji” (dengan vokal kasroh di ujungnya) karena ia berkedudukan sebagai “mudlof-ilaih” (yaitu unit kedua dalam susunan “idlofah” yang selalu berkedudukan “majrur” [genitive], dan dibaca kasroh). Sementara “mudlof”-nya (unit pertama dalam susunan idlofah) adalah kata “siyya”.

Pendapat kedua mengatakan bahwa partikel “ma” dalam “laa siyyama” berkedudukan sebagai “ma maushulah”, dan dengan demikian berfungsi sama dengan “isim maushul”.

Baca Juga: Bully Zaman Mbah Bisri

Sekedar keterangan selingan: dalam bahasa Inggris, isim maushul bisa disebut sebagai relative pronouns, kata ganti yang menghubungkan nomina/kata benda atau pronomina/kata ganti dengan klausa (jumlah/جملة) yang terletak sesudahnya. Dalam kalimat, misalnya, “I meet John who teaches English” (saya bertemu John yang mengajar bahasa Inggris), kata “who” di sana disebut, dalam ilmu nahwu, sebagai isim maushul, atau kata ganti (pronomina) yang mengubungkan antara kata “John” dengan frasa (jumlah) sesudahnya, yaitu: "teaches English".

Dengan mengikuti pendapat kedua ini, contoh kalimat di atas menjadi berbunyi seperti ini: “Uhibbu Sayyidatana Fathimata, la siyyama zauju-ha.” Kata “zauj” dibaca "zauju” (dengan akhiran vokal “u”—marfu’) karena berkedudukan sebagai “khobar” atau “predicative noun”. Kata “zauju” dalam kalimat terakhir berkedudukan “marfu’” karena ia menjadi “khobar” untuk “mubtada’” (nominative noun) yang bersifat “virtual”, artinya tidak nampak; hanya saja, ia dibayangkan nampak, walau di balik layar. Dalam istilah para ahli tata bahasa Arab, ini disebut sebagai “mubtada’ muqoddar”—mubtada’ yang dibayangkan di dalam pikiran saja, tetapi tidak tampak secara lahiriah dalam kalimat.

Masih ada pendapat ketiga dan keempat, tetapi tak akan saya ulas di sini, karena pasti akan menambah bingung mereka yang tak akrab dengan kajian nahwu. Bagi yang menggemari bidang ini, tentu saja ulasan semacam ini sangat menyenangkan dan menarik—mirip dengan jimnastik pikiran.

Baca Juga: Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"

Ayah saya wafat pada 2003. Beliau hidup pada zaman ketika literatur tentang nahwu/shorof belum melimpah dan bisa didapatkan dengan cara yang amat mudah melalui ebooks yang tersebar-membanjir di internet seperti saat ini.

Beliau juga hidup pada saat ketika Maktabah Syamilah (perpustakaan virtual yang memuat ribuan kitab dari pelbagai disiplin ilmu dan sangat populer di kalangan para santri “millenial” sekarang) belum dikenal sekarang.

Ayah saya juga tak memiliki ma’ajim nahwiyyah (ensiklopedi nahwu) yang sekarang banyak tersedia di pasaran. Melalui ma’ajim seperti itu, biasanya kita bisa mencari sejumlah topik apapun dalam ilmu nahwu/shorof secara mudah.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Karena tak memiliki sumber-sumber seperti ini, ayah saya harus membaca banyak literatur yang memuat serpihan-serpihan informasi tentang pelbagai topik ilmu nahwu. Melalui bacaan bertahun-tahun dan mencatat sedikit demi sedikit itulah, ayah saya kemudian menyusun kitab Al-Mifann ini.

Saya sendiri tak memiliki kesabaran mencatat info secara teliti seperti itu. Ayah saya melakukan hal ini bertahun-tahun karena kecintaannya pada ilmu nahwu (selain kecintaannya pada bidang yang lain, yaitu ilmu fiqh).

Bertahun-tahun diajar oleh ayah saya dengan “ngaji” pelbagai kitab nahwu, terutama Alfiyyah, akhirnya saya mewarisi “gen” kecintaan pada ilmu ini. Sejak di pesantren, dan berlanjut hingga sekarang, saya selalu menggemari literatur nahwu/shorof, baik yang klasik maupun modern.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Pada saat kuliah di universitas Saudi Arabia yang berkedudukan di Jakarta (yaitu: LIPIA: Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), saya mengembangkan lebih jauh kegemaran pada ilmu nahwu ini, melalui bacaan atas sejumlah literatur mutakhir yang ditulis oleh para linguis Arab modern.

Di sana saya bertemu dan menjadi murid dari seorang dosen asal Saudi, Dr. Ahmad al-Nahari (jika saya tak salah ingat), yang memperkenalkan saya kepada salah seorang sarjana nahwu besar abad ke-20 dari Mesir, Dr. Abdul Khaliq ‘Udhaima (w. 1984). Dr. Udhaima menulis disertasi di Universitas al-Azhar tentang Abul ‘Abbas al-Mubarrid, seorang linguis dan ahli nahwu besar dari abad ketiga Hijriyah. Ia tinggal di kota Baghdad dan hidup di era Dinasti Abbasiyah.

Baca Juga: KH. Ahmad Rifa'i dan Batik Rifa'iyah

Dosen lain yang “mengubah” cara berpikir saya mengenai ilmu nahwu adalah Dr. Kamal Ibrahim Badri, seorang linguis dari Sudan. Saya pernah diajar oleh sarjana yang keren ini selama setahun di LIPIA. Dialah yang mengenalkan kepada saya teori-teori linguistik modern, terutama teori linguistik strukturalnya Leonard Bloomfield, di samping teori generatif-transformatif (al-nadzariyyah al-taulidiyyah wa al-tahwiliyyah)—nya Noam Chomsky.

Melalui Dr. Badri, saya berkenalan dengan seorang sarjana nahwu Arab klasik yang berasal dari Cordoba, Spanyol, yaitu Ibn Madla’ al-Andalusi (w. 1196 M). Ketika membaca untuk pertama kali karyanya yang berjudul Al-Rodd ‘Ala al-Nuhah (Sanggahan atas Para Sarjana Nahwu), saya benar-benar seperti terserang sengatan arus listrik. Kritik Ibn Madla’ atas teori ‘amil (faktor yang menyebabkan suatu kata memiliki case/i'rob tertentu; misalnya kenapa mubtada’ berkedudukan marfu’ dan berakhiran dengan vokal “u”), misalnya, sangat menarik. Kritiknya agak mirip dengan metode linguistik Bloomfield yang cenderung deskriptif dan “behavioristik”.

Baca Juga: KH. Raden Asnawi; Ulama' yang Keras Terhadap Penjajah

Ibn Madla’, di mata saya, adalah sosok Ibn Hazm (w. 1064 M) untuk ilmu nahwu. Dalam bidang fiqh, Ibn Madla’ memang mengikuti Madzhab Zahiri yang salah satu tokoh pentingnya adalah Ibn Hazm. Dengan kata lain, dia menerapkan Madzhab Zahiri yang bermula dari fiqh ke dalam wilayah kebahasaan.

Dr. Badri pula yang mengenalkan kepada saya seorang linguis besar Mesir yang melakukan sejumlah pembaharuan ilmu nahwu, yaitu Dr. Tammam Hassan (1918-2011). Karya Dr. Hassan yang berjudul Al-Lughoh al-‘Arobiyyah: Ma’naha wa Mabnaha benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap ilmu nahwu ini.

Saat belajar di Amerika, kegemaran saya pada ilmu nahwu terus berlanjut dan berkembang. Di sana, saya pernah “nyantri” kepada seorang sarjana Jerman yang mengajar di Harvard University, yaitu Prof. Wolfharts Heinrich. Dari sarjana ini, saya belajar banyak hal, antara lain mengenai Sibawayh (w. sekitar 796 M). Imam Sibawayh, sarjana raksasa kelahiran Persia ini, dianggap sebagai peletak dasar yang sesungguhnya dari ilmu nahwu.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Sejak “ngaji” nahwu kepada ayah saya di pondok dulu, saya sering mendengar dari mulut beliau nama Sibawayh ini dan kitabnya yang hanya berjudul pendek: Al-Kitab. Begitu masyhurnya karya Sibawayh ini, kata ayah saya, jika ada nama “Kitab” disebut dalam sebuah pembahasan ilmu nahwu, tanpa embel-embel apapun, maka semua sudah mafhum bahwa yang dimaksud adalah kitab karangan Sibawayh.

Saya baru melihat dan berkesempatan mempelajari kitab karya Sibawayh ini untuk pertama kali, ketika saya belajar di Amerika, di bawah bimbingan Prof. Heinrich. Membaca kitab ini untuk pertama kali, saya sungguh kaget luar biasa. Nahwu sebagaimana ditulis oleh Sibawayh dalam karyanya ini berbeda sekali corak dan “rasa”-nya dari ilmu nahwu yang saya pelajari dalam kitab-kitab standar di pesantren selama ini.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Membaca nahwu dalam karya Sibawayh ini seperti membaca “traktat filsafat bahasa”. Di sana kita menjumpai ulasan yang menarik sekali tentang sejumlah fenomena kebahasaan dengan analisa yang tak beda dengan sebuah spekulasi filsafat.

Harap diingat: Imam Sibawayh menulis ilmu yang belum ada presedennya saat itu. Dia harus menciptakan istilah dan alat ungkap baru, serta membuat kategori-kategori serta alasan-alasannya sendiri, dari nol sama sekali. Membaca Al-Kitab-nya Sibawayh ini kira-kira sama rasanya dengan membaca karya Adam Smith, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (terbit pertama kali pada 1776 M.) yang menjadi salah satu fondasi ilmu ekonomi modern.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Saya sungguh berterima kasih kepada guru-guru (terutama ayah saya, Kiai Abdullah Rifa’i) yang telah menanamkan pada diri saya kecintaan terhadap bahasa dan bagaimana sebuah bahasa bekerja melalui sebuah “tata” dan regulasi sehingga menjadi sistem yang stabil.

Semoga Tuhan merahmati mereka.[]

NB: Keterangan gambar: Kitab Al-Mifann (gambar kanan) karya kiai Abdullah Rifai (gambar kiri) dari desa Cebolek, Pati, Jawa Tengah. Ia lahir di desa Bugel, Jepara, dan "nyantri" kepada kiai Muhammadun dari desa Pondohan, Pati, dan kemudian menikah dengan salah satu puterinya yang bernama Siti Salamah (semoga mereka bertiga dicurahi rahmat Allah SWT.).




* Oleh: KH. Ulil Abshar Abdalla
Read More

Kemiripan Gus Baha' dan Pak AR. Fachruddin


rumahnahdliyyin.com - Menjadi muslim biasa saja. Kalau diringkas, kira-kira begitulah salah satu inti mengaji dari Gus Baha’. “Kalau kuat naik haji, ya naik haji. Itu bagus, karena masuk dalam rukun Islam. Tapi, ya harus tahu ilmunya. Kamu naik haji, pulang ke rumah dikunjungi orang-orang kampung, terus kamu bilang, ‘Pokoknya rugi jadi muslim kalau tidak naik haji, tidak sowan ke Kanjeng Nabi’. Omongan seperti itu menyakiti banyak orang yang tidak kuat berhaji..."

“Ibadah hajimu belum tentu diterima, mulutmu sudah pasti menyakiti tetangga-tetanggamu. Makanya, jadi muslim itu yang biasa saja. Karena saya orang alim, ya ibadah saya mengajar. Kalian yang awam, tugasnya belajar. Orang kaya, ibadahnya sedekah. Orang miskin, ibadahnya bersabar."

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

“Manusia itu diciptakan tujuannya supaya beribadah kepada Tuhan. Masalahnya, definisi ibadah kita itu sering cupet. Ibadah, itu kan tidak hanya salat, puasa, haji, sedekah dan lain-lain. Momong anak ya ibadah, mencari rezeki ya ibadah, kumpul silaturahmi dengan kawan ya ibadah, makan ya ibadah, tidur ya ibadah. Makanya, kalau tidur ya diniati ibadah, daripada kalau tidak tidur nanti malah ghibah, mabuk-mabukan, pergi ke tempat prostitusi...."

“Jadi orang jangan terlalu khusyuk. Orang khowarij itu khusyu'-khusyu'...”

Pendek kata, mengikuti ngaji bersama Gus Baha’ membuat otak kita siap berjumpalitan.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

“Kamu punya uang banyak. Terus ada orang menjual tanah strategis di pinggir jalan. Kamu kuat membeli tapi tidak kamu beli, kalau tanah itu kemudian dibeli orang lalu dipakai menjadi tempat maksiat, kamu ikut berdosa. Makanya, kalau ada orang baik yang kaya, kalian harus suka. Setidaknya dengan uang di tangannya, dunia tidak bertambah buruk.”

Saya kemudian ingat Pak AR. Fachruddin. Beliau pernah memantik kontroversi ketika ditanya apakah uang hasil menang SDSB boleh dipakai membangun masjid? Beliau menjawab: boleh. Jawaban tersebut menimbulkan polemik. Karena dalil yang sering dipakai adalah uang untuk kebaikan harus dari uang yang baik.

Baca Juga: Akhlaq Menurut Imam Ghozali

Jawaban beliau sangat masuk akal: Lha kalau duit hasil keburukan hanya boleh untuk keburukan, makin buruk dunia ini. Uang satu miliar hasil menang SDSB kalau tidak boleh dipakai untuk kebaikan, berarti boleh dipakai untuk berbuat kejahatan. Padahal, uang itu sangat besar pada zaman tersebut.

Gus Baha’ punya kemiripan pendapat dengan Pak AR. Fachruddin. Banyak sekali pemikiran Gus Baha’ yang menarik dan kontekstual dengan persoalan muslim zaman sekarang.

Baca Juga: Soal Islam Nusantara, Gus Yahya: Orang Eropa Saja Tidak Bingung

Coba kalau Anda sempat, cari di Youtube yang dia dipanel dengan salah satu putra Mbah Maimun. Sama-sama orang alim. Gus Baha’ membantah asumsi salah satu petinggi TV9, yang menyatakan sinetron itu mengajarkan ibu-ibu hal yang gak bener.

“Ya, belum tentu. Wong buat ibu-ibu, sinetron itu hanya hiburan kok. Seharian capek dan sumpek ngurus rumah. Daripada ngrasani tetangga, nukari bojo, aluwung nonton teve...”

Tepak, Gus... Masuuuuk!

Gak perlu pakai teori resepsi atau bahasa yang akademik, jawaban Gus Baha’ cespleng!



* Oleh: Puthut EA.
Read More

Tubuh Menurut Gus Dur


rumahnahdliyyin.com - Sering, ketika tamu-tamu sudah pulang, malam telah sepi, penghuni rumah tak lagi terdengar bisik-bisiknya, dan bulan di langit tertatih-tatih berjalan ke barat untuk beberapa jam kemudian tenggelam, Gus Dur tak langsung masuk kamar untuk istirahat, tidur. Beliau lebih suka tidur di ruang depan, di ruang tamu atau di ruang terbuka di mana saja yang dirasanya nyaman.

Jika pun sudah di dalam kamar, ia acap keluar kamar sendirian, sambil meraba-raba tembok lalu mencari kursi. Ia duduk-duduk di situ sambil tangannya tetap seperti mengetuk-ngetuk. Atau, ia mengambil tempat dilantai dan merebahkan tubuhnya begitu saja, atau melingkar sambil memeluk bantal.

Ia tak pernah memilih tempat untuk tubuhnya. Kebiasaan ini tidak hanya ketika ia di rumahnya, melainkan juga di tempat atau di rumah orang lain.

Baca Juga: Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Uang

Pada saat ia ke pesantren saya di Cirebon dalam rangka “diadili” para ulama, ia makan sambil duduk di lantai yang hanya dilapisi tikar tipis. Lalu ketika ia singgah dan menginap di rumah Kiyai Fuad Hasyim (alm), Buntet Pesantren, Cirebon, ia juga melakukan kebiasaan itu.

“Gus Dur sering mampir ke sini untuk sekedar cari teman ngobrol ngalor-ngidul. Kadang sampai dini hari yang dingin, sambil lesehan, leyeh-leyeh. Jika sudah ngantuk beliau langsung merebahkan tubuhnya di lantai, begitu saja. Kadang melepaskan bajunya dan tidur dalam keadaan tubuh bagian atas tetap terbuka," ini cerita alm. Kiyai Fuad kepada saya suatu hari di rumahnya.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Bagi Gus Dur, tempat di mana pun sama saja. Sebab, tubuh sangat tergantung pada jiwa. Tanpa jiwa, bentuk adalah benda padat yang tak berguna.

Seorang sufi berkata: "Khudz al-lubb in kunta min uli al-albab" (ambillah saripati jika engkau seorang cendekia).

“Memanjakan tubuh sering melalaikan Tuhan”, kata para sufi.



* Oleh: KH. Husein Muhammad.
Read More

Maulid, Maulud, Milad dan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.


rumahnahdliyyin.com - Tulisan ini mengulas istilah-istilah maulid, maulud, milad, apakah berarti sama atau beda? Kemudian lahirnya genre Sastra Maulid, yang berisi prosa dan puisi terhadap kelahiran dan pujian pada Nabi Muhammad SAW., yang ternyata sudah lahir dari zaman Nabi hingga mencapai puncaknya pada karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Maulid artinya Kelahiran. Selain maulid, ada istilah lain, milad. Namun, dalam penggunaan masyarakat Arab, istilah milad sudah identik dengan Hari Kelahiran Isa Al-Masih atau Yesus Kristus. Masyarakat Kristen Arab menyebut Hari Natal untuk Yesus Kristus dengan idul milad al-majid (Hari Kelahiran yang Agung).

Masyarakat muslim Arab menggunakan istilah lain untuk Hari Lahir Nabi Muhammad SAW. yang lahir pada hari Senin, 12 Robiul Awwal, dengan sebutan maulid.

Baca Juga: Maulid

Tapi, baik maulid dan milad, artinya sama. Hanya penggunaannya yang berbeda. Istilah milad juga digunakan sebagai perayaan Hari Ulang Tahun di zaman modern. Orang Arab modern merayakan ulang tahunnya dengan istilah milad, tapi tidak dengan istilah maulid yang sudah identik dengan Perayaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selain istilah maulid yang acap kali digunakan dalam masyarakat kita, ada penamaan lain: maulud. Dari istilah ini kemudian muncul mauludan, yang artinya merayakan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW.

Maulud, arti harfiyahnya adalah “ia yang dilahirkan”. Dan “ia” yang dimaksud adalah manusia mulia dan agung sepanjang zaman, Muhammad bin Abdulloh, shollollohu alaihi wa sallama (SAW).

Baca Juga: Benarkah Nabi Muhammad SAW. Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Sastra Maulid

Dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. biasanya dibacakan kesusastraan yang disebut sebagai “Sastra Maulid”, yang dalam istilah Arabnya dikenal sebagai Adabul Maulidi.

Sastra Maulid adalah karya sastra, baik dalam bentuk genre prosa atau puisi, yang memuji dan merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, jenis sastra ini dalam kajian sastra Arab juga disebut sebagai “Sastra Pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.” atau Adabul Mada’ih An-Nabawiyah. Kisah Sastra Maulid atau Sastra Pujian ini mengakar kuat dalam tradisi Islam, yang berawal dari tradisi keluarga Nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan bahwa orang pertama yang menuliskan puisi-puisi sebagai pujian bagi kelahiran Nabi SAW. berasal dari paman tercintanya: Abu Thalib, yang mengasuhnya setelah Ibundanya wafat (ayahandanya meninggal saat beliau dalam kandungan) yang kemudian diasuh kakeknya, setelah kakeknya wafat, Muhammad SAW. dari umur 8 tahun diasuh pamannya: Abu Thalib, yang dikenal sebagai salah seorang penyair dan sastrawan Arab.

Inna ibna Aminah annabiyy Muhammadan – Indi bimitsli manazilil awladi (Sungguh, putra Aminah, Muhammad, yang diangkat menjadi nabi, bagiku sudah seperti anaku sendiri).

Baca Juga: Inilah Jawaban terhadap Ustadz Hijrah yang Menyatakan Nabi Pernah Sesat

Dalam perjalanan selanjutnya, setelah Islam diterima oleh masyarakat kota Yatsrib (yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah) dan Nabi Muhammad SAW. hijrah ke pangkuannya, Nabi Muhammad SAW. memiliki penyair-penyair yang menuliskan secara sukarela dengan penuh kekaguman dan kecintaan pada Nabi SAW. melalui karya sajak-sajak mereka.

Tersebutlah nama seperti Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Abdullah bin Rawahah.

Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i

Dalam perayaan Maulid, sering dibacakan karya-karya Burdah Al-Bushiri, Al-Barzanji dan Ad-Diba’i.

Burdah artinya "selendang", yang berawal dari mimpi Syaikh Al-Bushiri yang sembuh dari sakitnya setelah bertemu dengan Rosulullah SAW. dan diberi hadiah selendang. Sebagai bentuk syukur dan pujian, Syaikh Al-Bushiri mengarang rasa cinta, kekaguman dan kerinduannya dalam Burdah.

Baca Juga: Bu Susi, Bismillah dan Sholawat

Syaikh Al-Bushiri murid dari Syaikh Abul Hasan As-Syadzili (pendiri Tarekat Syadziliyah). Saya pernah ziaroh ke makamnya yang berdampingan dengan makam Syaikh Abul Abbas Al-Mursi (pengganti pemimpin Tarekat Syadziliyah setelah Syaikh Abul Hasan As-Syadzili). Kini, kedua makam tersebut, yang menjadi tujuan ziaroh, dibangun dua masjid megah.

Kutipan kasidah Burdah yang sering dibacakan dan dilagukan seperti dibawah ini:

مولاي صلّ وسلّم دائما أبدا
علي حبيبك خير الخلق كلّهم
محمّد سيّد الكونين والثّقلين
والفريقين من عرب ومن عجم
ثم الرّضا عن أبى بكر وعن عمر
وعن على وعن عثمان ذى الكرم
يا ربّ بالمصطفى بلّغ مقاصدنا
واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم

Baca Juga: Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut Hingga Beliau Wafat

Kasidah Burdah juga dibacakan saat ada yang sakit. Saya masih ingat, kalau saya waktu kecil panas, bapak saya membacakan Kasidah Burdah, tabarrukan, karena Syaikh Al-Bushiri mengarang pujian ini setelah sembuh dari sakit.

Namun, yang paling banyak dibacakan dalam acara perayaan maulid adalah Al-Barzanji, yang hadir dalam dua genre, prosa dan puisi. Yang puisi dibacakan saat berdiri (kelanjutan dari prosa yang menceritakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.)  tepat di kalimat Asyroqol badru... (telah terbit purnama...). Makanya, Al-Barzanji sering disebut Srakalan (ada juga Asyrokolan) dari kata Asyraqol.

Baca Juga: Sholawat

يا نبي سلام عليكَ***يارسول سلام عليكَ
ياحبيب سلام عليك***صلوات الله عليك
أشرق البدرُ علينا*** فاختفت منه البدورُ
مثلَ حسنكْ مارأينا*** قط يا بدرَ السرورِ
انتَ شمسٌ انت بدرٌ*** انت نورٌ فوق نورِ
انت اكسيرٌ و غالي***انت مصباحُ الصدورِ
ياحبيبي يا محمد***ياعروسَ الخافقين
يامؤيّد يا ممجّد***يا إمامَ القبلتين
من رأى وجهكَ يسعد***يا كريمَ الوالدين
حوضك الصافي المبرّد***وردنا يوم النشورِ
ما رأينا العيس حنت***بالسرى الا اليكَ
و الغمامة قد أظلت***والملا صلوا عليكَ
و اتاك عود يبكي***و تذلّل بين يديك
و استجارت يا حبيبي***عندك الظبي النفورُ
عندما شدوا المحامل***و تنادوا للرحيلِ
جئتهم و الدمع سائل***قلت قف لي يا دليل
و تحمل لي رسائل*** ايها الشوق الجزيلُ
نحو هاتيك المنازل***في العشي و البكورِ
كل من في الكونِ هاموا***فيك يا باهيَ الجبي 
و لهم فيكَ غرامُ***و اشتياق وحنينُ
في معانيك الأنامُ***قد تبدت حائرينَ
انتَ للرسل ختامُ***انتَ للمولى شكورُ
فيك قد احسنت ظني***يا بشير يا نذير
فيكَ يا بدر تجلّى***فلكَ الوصفِ الحَسينَ
ليسَ ازكى منكَ أصلاً*** قط يا جدّ الحُسيْنِ
فعليكَ الله صلّى***دائماً طولَ الدهور

Al-Barzanji juga dibacakan saat merayakan kelahiran seorang anak. Saat berdiri yang disebut dengan sholawat qiyam atau mahallul qiyam, bayi yang lahir dibawa keluar, diperkenalkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Sementara karya Ad-Diba’i dalam bentuk puisi, berikut syairnya:

 * ياربّ صلّ علي محمّد
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
* ياربّ بلّغه الوسيله
* ياربّ خصّه بالفضيله
* ياربّ وارض عن الصحابه
* ياربّ وارض عن السلاله
* ياربّ وارض عن المشايخ
* ياربّ فارحم والدينا
* ياربّ وارحمناجميعا
* ياربّ وارحم كلّ مسلم
* ياربّ واغفرلكلّ مذنب
* ياربّ لا تقطع رجانا
* ياربّ ياسامع دعانا
* ياربّ بلّغنانزوره
* ياربّ تغشانابنوره
* ياربّ حفظانك وامانك
* ياربّ واسكنّاجنانك
* ياربّ اجرنامن عذابك
* ياربّ وارزقناالشهاده
* ياربّ حطنابالسعاده
* ياربّ واصلخ كلّ مصلح
* ياربّ وكف كلّ موءذي
* ياربّ نحتم بالمشفّع
* ياربّ صلّي عليه وسلّم
(اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه)





* Oleh: Mohamad Guntur Romli
Read More

Gus Mus: Jangan Seret Agama ke Politik Praktis dan Perebutan Kekuasaan


rumahnahdliyyin.com | Jombang - KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam acara Haul ke-3 KH. Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin kemarin (6/11), meminta supaya politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan perebutan kekuasaan saja. Sebab, hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan sebagai pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Alloh dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Baca Juga: Gus Mus: Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al-Maidah ditarik ke politik. Perkara lima tahun sekali, kok dibelain sampai kayak mau kiamat. Padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politiknya, sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

Baca Juga: Gus Mus: Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang yang tidak paham agama secara mendalam, akan berfatwa terus.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus.[]



Source: NU Online
Read More

Hubungan, Kesamaan dan Perbedaan FPI dan HTI


rumahnahdliyyin.com - FPI dan HTI dua organisasi Islam yang muncul setelah jatuhnya Soeharto. Kedua organisasi ini memiliki semangat yang sama dalam hal formalisasi syari'ah. Daya kritis keduanya terhadap penguasa sama kerasnya. Dan mereka bersih dari pengaruh KKN di masa Orde Baru. Tiga kesamaan ini membuat FPI dan HTI bisa berdekatan.

Momentum Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) keempat pada 17-21 April 2005 di Jakarta yang diselenggarakan Majlis Ulama Indonesia (MUI), HTI intensif mendekati ormas dan tokoh Islam. HTI kemudian membentuk lajnah khusus untuk menggarap tokoh dari ormas-ormas Islam. Lajnah ini disebut Lajnah Fa'aliyah. Ustadz Al-Khaththath ditunjuk sebagai ketua dibantu beberapa orang anggota lajnah. Agenda terdekat Lajnah Fa'aliyah pasca KUII keempat adalah menjaga hubungan dengan tokoh-tokoh ormas peserta KUII yang kemudian melahirkan Forum Umat Islam (FUI) yang digagas oleh HTI.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Saat itu, sebenarnya FUI kepanjangan tangan dari DPP HTI. Ustadz Al-Khaththath dan anggota Lajnah Fa'aliyah di-BKO-kan di FUI. Mereka selalu konsultasi dengan DPP HTI soal isu dan aksi apa yang bisa diangkat melalui FUI. Setiap bulan, perkembangan aktivitas Lajnah Fa'aliyah, khususnya di FUI, dilaporkan pada rapat bulanan DPP HTI. Dari sini lahir aksi-aksi FUI. Di daerah-daerah, HTI melakukan hal yang sama dengan di pusat. Membentuk Lajnah Fa'aliyah tingkat propinsi. Mengontak para tokoh ormas. Menjalin hubungan dengan mereka. Bila memungkinkan, membentuk wadah bersama seperti FUI di Jakarta.

Di balik kesamaan emosi dalam memperjuangkan syari'ah, FPI dan HTI menyimpan perbedaan yang dalam dan mendasar. Secara 'aqidah, FPI menganut paham Asy'ariyah yang oleh HTI dianggap sesat. FPI mengambil Syafi'iyah sebagai madzhab fiqih, sedangkan HTI bermadzhab Nabhaniyah. FPI ingin mewujudkan NKRI Bersyari'ah, adapun HTI berjuang ingin membentuk Khilafah Tahririyah. FPI langsung dibawah komando ketua umumnya HRS, sedangkan ketua DPP HTI hanya pelaksana tugas Amir Hizbut Tahrir. Tapi HTI perlu FPI sebagai sekutu sementara untuk melawan penguasa mengingat FPI memiliki massa, kader yang banyak dan militan, serta jaringan yang kuat di Jakarta.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Persekutuan sementara ini tidak berumur panjang. Hanya berjalan 3 tahun. Persekutuan ini berakhir ketika Insiden Monas 2008 pecah ketika FPI dan HTI melalui wadah FUI mengadakan aksi bersama. Pada saat aksi terjadi bentrokan antara massa AKKBB dengan oknum massa FPI. Atas kejadian itu, DPP HTI cuci tangan. Lalu keluar dari FUI. DPP HTI yang culas blas. Hal ini membuat marah HRS. Sejak itu, hubungan FPI dan HTI jadi memanas. Saling menjelekkan satu sama lain di forum-forum. Adapun posisi Ustadz Al-Khaththath memilih keluar dari HTI. Dia tetap di FUI dan berhubungan terus dengan HRS sampai sekarang.

Dua tahun setelah Insiden Monas, FPI dan HTI masih tegang. Di Bangka Belitung, sebagai ketua HTI, saya mengundang HRS dalam acara Safari Dakwah. Mengundang tokoh-tokoh Islam nasional dan kontroversial cara paling efektif untuk mensosialisasikan HTI di Babel. Tokoh-tokoh yang selama ini wajah dan suaranya mereka tonton di TV, kini hadir di tengah-tengah mereka. Sebelum HRS, awal 2008 saya mengundang ustadz Abu Bakar Ba'asyir dan ustadz Al-Khaththath dalam acara Sarasehan Umat Islam Bangka Belitung.

Baca Juga: FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia

Safari Dakwah HRS di Bangka memicu kontroversi di internal HTI. Di safari dakwah ini HRS jadi penceramah tunggal. Iklan acara dimuat di buletin Al-Islam cetakan HTI Babel. Tentu saja acara safari dakwah HRS di Bangka sepengetahuan dan seizin DPP HTI. Pada saat yang sama, kebetulan ada kunjungan rutin supervisi dari DPP HTI. Hikmahnya, HRS dan DPP HTI bisa ketemu kembali. Pertemuan itu terjadi di ruang VIP Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Sekalian mengantar kepulangan HRS ke Jakarta.

FPI dan HTI sudah saling kenal. Persekutuan FPI dan HTI terjalin kembali. Pada kasus pembakaran bendera di Garut, sepintas lalu publik melihat FPI membela HTI. Tetapi di sisi lain, FPI Malang dan Jombang setuju HTI dilarang eksis kembali. FPI sama sekali tidak bersikap ambigu terhadap HTI karena pada insiden pembakaran di Garut persepsi FPI bendera itu bendera tauhid bukan bendera HTI.

Emangnya tauhid itu semacam ormas baru yang punya bendera?!


* Oleh: Ayik Heriansyah, Mantan HTI.
Bandung, 29 Oktober 2018.
Read More

Yaqut Cholil Qoumas, Tak Kemplang Kowe!


rumahnahdliyyin.com - Ini cerita tentang masa bujangan antara saya dan Yaqut Cholil Qoumas di masa mahasiswa, di penghujung era 90-an. Di kampus, saya semeja dengannya. Dalam demo '98, saya sering satu barisan dengannya. Di rumah kontrakan di gang sempit di kawasan Pasar Minggu, saya sering tidur satu kasur bersamanya. Dia pacaran, saya mengawal dia. Saya pacaran, dia mengawal saya. Ke mana-mana dia naik bis kota atau angkutan umum, kecuali sedang bersama saya, ia pasti saya bonceng di sepeda motor rombeng saya.

Di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, dia ngontrak satu rumah kecil di gang kecil. Di rumah itu ada dua kamar tidur, satu musholla, satu dapur dan satu kamar mandi. Di kamar depan, Yaqut tidur seorang diri. Di kamar belakang, ada 2 temannya, Fuad dan Marno. Kalau saya sedang di sana, saya tidur di kamar Yaqut atau Yaqut yang tidur bersama saya di ruang tamu yang kecil tanpa bangku apapun dan dialas karpet plastik warna cokelat, sambil nonton televisi butut karena untuk pindah channel kami biasa melakukannya pakai kaki.

Baca Juga: Jasa Pak Harto Atas NU

Di masa kuliah itu, banyak kawan saya tahu bahwa saya seperti kalong, alias tidak punya tempat yang tetap. Apalagi saat itu belum ada handphone, makin susah melacak posisi saya berada. Saya biasa tidur di bilangan Rawasari atau Pasar Minggu atau Ciputat atau Rangkasbitung atau Cibinong atau Joe atau Lenteng Agung. Namun sebagai orang yang sok ganteng dan banyak berkenalan dengan cewek, saya seringkali memberi nomor telpon rumah saya dengan rumah kontrakan Yaqut kepada pacar baru. Jadi Yaqut tahu benar kalau saya punya banyak pacar, sementara dia cuma bisa berteori tentang bagaimana merayu cewek.

Di kampus Driyarkara, Jakarta, saat itu saya dan Yaqut, biasanya ditemani oleh Fikri, kami bertiga sering berdiskusi soal politik, terutama tentang kekuasaan Orde Baru yang saat itu tengah goyang. Ia bahkan meminta saya agar tidak belajar filsafat mulu untuk memotret kenyataan bangsa saat itu. Lalu ia setengah memaksa saya membaca buku karangan L. Laeyendecker yaitu: Tata, Perubahan, dan Ketimpangan: Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Saya pun membacanya sampai tuntas.

Baca Juga: Radikalisme antara Suriah dan Indonesia

Namun sayang, di kampus itu ia cuma sebentar saja dan memilih menuntaskan studinya di jurusan Sosiologi, FISIP, Universitas Indonesia. Meski ia sudah tidak aktif di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, persahabatan kami terus berlanjut. Di rumah kontrakannya itulah saya banyak membaca tuntas buku-bukunya, mulai dari Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno hingga Catatan Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie.

Fuad dan Marno biasa manggil “Gus” ke Yaqut. Kalau saya biasa manggilnya “Yaqut” saja, kecuali kalau lagi iseng ngecengin dia, saya panggil dia “Gus”. Dia pun begitu, memanggil saya nama saja, kecuali lagi ngecengin saya, ia memanggil saya “Pak Haji”.

Baca Juga: Gus Dur, Islam dan Bhinneka Tunggal Ika

Dia yang Lucu
Di mata saya, Yaqut adalah tipe orang yang lucu. Ia suka humor, apalagi humor tingkat tinggi. Namun, orangnya senang jail sama orang. Ia selalu bersikap baik pada kawan dan perhatian betul sama perut kawan. Ia tahu saya lebih sering bokek ketimbang pegang uang, maka ia selalu mengajak saya ke warung nasi langganannya, yang dari gang kecil rumah kontrakannya masuk lagi ke gang yang super kecil menuju warung nasi itu.

Hidupnya sederhana dan tidak pernah menyombongkan diri, kecuali dalam konteks becanda. Padahal saat itu bapaknya yang terkenal sebagai tokoh NU dan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. Muhammad Cholil Bisri, adalah anggota DPR/MPR. Saya beberapa kali diajak Yaqut menemui bapaknya, biasanya di Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan). Sebagai anak pejabat negara, ia benar-benar tidak menunjukkan kebanggaan. Biasa saja.

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama

Ia tipe muka preman berhati santri. Lagu kesukaannya saat itu ialah lagu-lagu Paquita Wijaya. Ia menikmati pop jazz, meski sesekali ia dengarkan musik klasik agar di depan saya ia bisa membuktikan diri bahwa ia pengikut sejati Gus Dur. Ia juga cukup rajin membaca buku. Terbukti dari buku-bukunya yang saya baca, banyak yang ia tandai garis bawah dengan pena atau diblok dengan stabilo. Ia, seperti Fikri, pun rajin membaca koran dan majalah.

Bibit Kepemimpinan
Dalam kesehariannya, jika terdapat masalah, ia terlihat menyimak betul pengaduan yang sampai padanya. Ia seperti orang yang berhati-hati dalam mengambil keputusan. Di sisi lain, ia tipe orang yang secara intuitif tajam. Ia merasakan bahwa si anu sedang bicara bohong padanya, maka ia mendengar dengan khusyu’ kebohongan orang itu, meski secara intuitif dia yakin orang di hadapannya atau di ujung telepon sana sedang berbohong padanya. Maka di lain waktu, ia katakan kepada saya sambil menunjukan kebenaran-kebenaran intuisinya.

Baca Juga: KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri

Dalam aksi-aksi di Universitas Indonesia, saya juga sering dikasih tahu sama dia, si orang itu kalau ngomong isinya pasti A, si anu pasti ngomong B. Giliran orang itu bicara di podium, apa yang dikatakan Yaqut tak jauh berbeda.

“Orang oportunis kalau ngomong ya gak jauh dari tema-tema itu,” katanya dengan kesal kepada salah satu utusan ILUNI UI yang saat itu tampil berorasi.

Kemampuannya dulu dalam melakukan analisis persoalan dan kepekaan intuisinya dalam memotret fenomena merupakan modal yang kuat baginya untuk menjadi pemimpin. Sikapnya yang dulu saya kenal bijak, sederhana dan tidak sombong, apalagi senang humor, merupakan kekayaan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan bangsa ini.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Sekarang, konon Yaqut telah berada di lingkaran kekuasaan. Selain ia duduk sebagai anggota DPR RI, kini ia sedang menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini karena ia sebagai Ketua Umum GP. Ansor.

Sejak ia memutuskan pulang ke Rembang, Jawa Tengah, saya tidak lagi pernah bertemu dengannya. Saya hanya mendengar dari kejauhan bahwa ia telah menikah dan menjadi politisi. Dari menjadi anggota DPRD dan Wakil Bupati Rembang, hingga menjadi anggota DPR RI dan Ketua Umum GP. Ansor.

Kini, fotonya dan pernyataan-pernyataannya tentang situasi negeri ini telah menghiasi media sosial dan media online yang sampai pada saya. Ia terlihat lebih gemuk dari yang saya kenal dulu saat masih bujangan.

Baca Juga: Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab

Dulu ketika pacarnya di wisuda di IPB, Bogor, Jawa Barat, dia berharap saya bisa mengantarnya ke sana. Sebagai sahabat, saya pun mengantar Yaqut menemui pacarnya yang sedang bersuka cita karena diwisuda. Pada kesempatan itu, kami berfoto bertiga. Seingat saya, Yaqut tidak segemuk ini. Foto kami bertiga itu sempat lama tersimpan, namun sekarang entah di mana. Apakah istrinya adalah pacarnya yang saya kenal itu, saya pun tidak tahu. Saya dan Yaqut putus komunikasi sejak lama.

Yaqut, dia tetap sahabat saya. Saya merasakan bahwa ia adalah orang yang berpotensi menjadi pemimpin besar di negara ini. Karena itu, saya berharap dia bisa menunjukkan sikap-sikapnya yang bijaksana dan tenang. Bersikap rasional dan selalu mengasah ketajaman intuisinya seperti dulu. Saat ini Yaqut bukan hanya perlu bersikap tenang, namun lebih dari itu ia harus bisa tampil menenangkan negeri ini.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Ketika dilaporkan ke pihak kepolisian oleh sejumlah pengacara terkait pembakaran bendera yang diduga milik HTI di mana ada kalimat tauhid pada bendera itu (23/10/2018), Yaqut terlihat tenang bahkan ia bilang “saya tinggal ngopilah.”

Pada satu sisi, sikap seperti ini perlu ditunjukkan pada publik bahwa ia sedang tidak gaduh atau galau. Namun, publik lebih butuh bagaimana Yaqut bisa membawa GP. Ansor dan Bansernya melayani umat setenang dan sekhidmat mungkin agar bangsa yang dikenal beradab ini bisa sukses menjaga NKRI dengan bandrol harga mati.

Yaqut harus bisa menunjukan perbedaan dari pemimpin-pemimpin GP. Ansor yang terkesan frontal di masa lalu. Dia pasti bisa. Sebab, saya tahu ia punya potensi besar dari perjalanan yang tidak instan. Dari kejauhan, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.

“Yaqut, lu harus jadi pemimpin yang keren. Kalo gak, tak kemplang kowe, GUS!"

Salam rindu!



* Oleh: Chavchay Syaifullah.
Read More

FPI Kabupaten Malang: HTI Tak Boleh Ada di Indonesia


rumahnahdliyyin.com | Malang - Front Pembela Islam (FPI) Kabupaten Malang sepakat bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tak boleh ada di Indonesia. Hal itu ditegaskan FPI Kabupaten Malang dalam acara Cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang, yang digelar oleh Polres Malang, pada Jum'at (26/10/2018).

Menurut Sekretaris FPI Kabupaten Malang, Muhammad Khosim, pihaknya memohon maaf karena pimpinan FPI Kabupaten Malang tak bisa hadir atas undangan cangkruan Kamtibmas Kapolres Malang itu.

"Pimpinan kami sedang ada acara, tidak bisa hadir. Karena kita (FPI Kabupaten Malang) masih baru, pimpinan kami menyampaikan agar kita tidak banyak menyampaikan statemen, soal pembakaran bendera HTI di Garut itu," jelasnya.

Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik

Namun, DPW. FPI Kabupaten Malang, tegas Khosim, telah sepakat bahwa insiden di Garut itu bukan unsur kesengajaan dari teman-teman Banser.

"Selain itu, kita (FPI Kabupaten Malang), sepakat bahwa HTI di Indonesia tidak boleh ada," tegas Khosim, di depan ratusan undangan dan para tokoh organisasi keagamaan dan kepemudaan yang hadir saat itu.

Menyikapi kejadian pembakaran bendera HTI di Garut itu, karena terjadi multi tafsir antara bendera HTI atau Al-Liwa'-Ar-Royah, Khosim mengatakan: "FPI sampai dengan saat ini tidak ada agenda menggelar aksi apapun di Kabupaten Malang," tegasnya yang disambut aplaus oleh para hadirin.

Baca Juga: Penyimpangan Kata "Khalifah" oleh Hizbut Tahrir

Selain itu, Khosim juga menambahkan bahwa FPI Kabupaten Malang dengan teman-teman Banser di Kabupaten Malang sudah clear.

"Namun, seperti yang disampaikan MUI Kabupaten Garut, adalah permintaan maaf Banser kepada teman-teman yang menafsirkan berbeda, harus dilakukan," katanya.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sementara itu, menurut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang, Drs. H. Mursidi, MM., warga Muhamadiyah Kabupaten Malang sepakat tidak boleh ada aksi massa tandingan dan kemarahan yang berlebihan yang berpotensi pada perpecahan dan rusaknya persatuan bangsa.

"Kejadian Garut itu, agar menjadi bahan muhasabah, agar tidak terulang kejadian yang sama dengan alasan apapun. Tidak boleh terjadi lagi di Indonesia, terutama di Kabupaten Malang," katanya.[]
Read More

Jasa Pak Harto Atas NU


rumahnahdliyyin.com - Sejauh ini, kalau saya perhatikan di linimasa, teman-teman yang mengucapkan selamat Hari Santri Nasional kok hanya teman-teman yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Selebihnya, mungkin mereka yang punya hubungan batin dengan pesantren. Kalaupun tidak, mungkin punya hubungan dengan NU. Untuk benar tidaknya hal ini, silakan diamati sendiri.

Bicara tentang santri, niscaya harus menyinggung soal pesantren. Sedangkan bicara tentang pesantren, tentu tak bisa menghindar dari membicarakan NU. Ketiganya adalah unsur yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua untuk Nahdliyyin di Jawa

Kendati berbagai lembaga survei telah menunjukkan bahwa NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia, ada saja pihak-pihak yang mempertanyakannya. Katanya, NU hanya besar di Jawa saja. Di lain daerah tidak. Dan memang harus diakui demikianlah adanya.

Sayangnya, NU kurang memperhatikan kekurangannya itu. Walhasil, pihak-pihak yang komplain tadi buru-buru berlari kencang ke daerah-daerah luar Jawa untuk menyebar benih ormas/Islam versinya yang kemudian mengakar kuat di sana. Dan dewasa ini cengkeraman ini agak terasa sepertinya.

Baca Juga: NU Dimata Romo Benny

Di luar Jawa memang ada NU. Dan sebagian besar adalah NU kultural. Dalam artian, dalam keseharian ibadahnya ala NU. Kendati ala NU, bahkan tidak sedikit yang tidak tahu apa itu NU. Bahkan mendengarnya pun pelum pernah. Jangan heran pula bila mereka memang tak tahu. Karena faktanya memang tak tahu. Tahunya Islam. Titik. Kendati Islam yang dijalankannya selama ini adalah Islam ahlissunnah wal-jama'ah annahdliyyah. Dan muslim "thok" seperti inilah yang sangat mudah "digeret" oleh agen Islam "yang aneh-aneh."

Harus diakui memang kalau NU itu Jawa Centris. Di mana ada orang Jawa, di situlah ada kepengurusan NU. Bisa dikatakan hampir di seluruh propinsi dan daerah di Indonesia ini pasti pengurus NU-nya mayoritas orang Jawa. Di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, hingga di Papua.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Tahukah kita siapa yang paling berjasa atas adanya kepengurusan NU di luar Jawa? Tahukah kita siapa yang telah berjasa besar menyebar benih-benih Islam rahmah ke seluruh penjuru Nusantara? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah pak Harto.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak diantara penduduk menengah ke bawah pada masa Orde Baru di Indonesia adalah warga Nahdliyyin. Dan tidak sedikit diantara mereka yang santri. Dan pak Harto-lah yang menyebar kelas sosial ini ke seluruh penjuru Nusantara lewat programnya transmigrasi. Kendati transmigrasi, mereka tetap berusaha ngurip-urip NU di daerah di mana mereka berada. Inilah hebatnya para transmigran dulu. Saya menduga, mereka melakukan ini mungkin terngiang-ngiang dawuhnya Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari yang kurang lebih berbunyi: "Siapa yang mau mengurusi NU, maka akan ku anggap sebagai santriku. Dan siapa yang jadi santriku, maka aku do'akan husnul khotimah beserta anak-cucunya."

Baca Juga: Kekecualian Nahdlatul Ulama'

Dan mumpung sekarang adalah hari di mana kita semua tengah memperingati Hari Santri Nasional, saya ingin mengajak berpikir siapa saja (tentu saja bagi yang mau), terutama buat sedulur-sedulur santri semuanya: "Sekarang sudah tak ada pak Harto. Tak ada program transmigrasi. Terlebih, kebanyakan dari kita pun sudah berada di titik nyaman di Jawa. Lalu, bagaimanakah supaya kita bisa menambal kekurangan NU di luar Jawa yang saat ini masih minim dan 'terancam' oleh adanya Islam 'aneh-aneh' itu? Bagaimanakah caranya supaya cara berislamnya santri yang rahmah ini bisa mengakar di seluruh penjuru negeri?"

Akhirnya, selamat berpikir dan jangan lupa sambil ngopi.

Salam.



* Oleh: Agus SB, Khodim Madrasah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More