rumahnahdliyyin.com -
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُواْ لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكاً نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلاَّ تُقَاتِلُواْ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْاْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء سَنَكْتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتْلَهُمُ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Lima ayat diatas tak punya hubungan dengan wacana Islam Nusantara. Kelima ayat diatas juga bukan
hujjah untuk Islam Nusantara. Konon, Islam Nusantara hanya merupakan
tipologi. Bukan
madzhab, bukan pula aliran. Maka, ia tak butuh dalil. Pertanyaanya, kenapa Islam harus ditambahkan
embel-embel Nusantara? Kenapa tidak mandiri saja: Islam!
Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Mari kita kembali mandiri dalam menyebut Islam. Untuk itu, kita lupakan saja "Islam" + "Nusantara". Dengan begitu, kita pun harus lupakan deretan
embel-embel lain yang selama ini sering melekat dan mengiringi
diksi Islam.
Selain
Islam Nusantara, kita mendengar juga
Islam Berkemajuan, Islam Modern, Islam Tradisional, Islam Moderat, Islam Kaffah, Islam Rohmatan lil-'alamin, Islam Militan, Islam Garis Keras, Islam Pluralis, Islam Progresif, Islam Transformatif, Islam Inklusif, Islam Aktual, hingga
Islam Liberal dan masih banyak deretan
embel-embel lain yang menyertai.
Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu
Pertanyaanya, kenapa
diksi "Islam" perlu menggunakan
embel-embel?
Mungkin, upaya menyertakan
adjective atau predikat lain terhadap
diksi "Islam" lantaran makna Islam itu begitu
general dan
universal. Maka, Islam "seperti butuh" predikat tertentu demi menjelaskan daya jangkaunya yang mampu menyusup di semua aspek kehidupan. Karena tak bisa disangkal, betapa daya jangkau Islam itu mampu menembus berbagai ranah, seperti geografis, sosiologis, antropologis, sains, psikologis, hingga filosofis. Seakan,
embel-embel yang menyertai
diksi "Islam" itu hanya bagian-bagian kecil dalam upaya memotret kemenyeluruhan Islam.
Tapi, rupanya menyertakan
embel-embel apapun punya resiko besar. Lantaran upaya itu dapat memberi kesan "menodai" kemurnian Islam. Maka sekali lagi, seharusnya Islam adalah Islam. Islam! Itu saja. Islam. Titik!
Baca Juga: Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan
Islam adalah Islam. Benar, Islam adalah Islam. Tapi kenapa ketika Islam ditulis dengan
Al-Islam sekalipun, meski sama-sama memiliki akar pemaknaan yang sama, yakni pasrah atau berserah, sebagaimana yang terjadi di jaman para sahabat Nabi SAW., secara
aplikatif makna Islam tetap akan menuai pemahaman, pengalaman dan cita rasa yang beragam? Kenapa Imam Hanafi yang sangat memahami Islam, punya sejumlah pandangan yang berbeda dengan Imam Syafi'i yang juga jelas-jelas memahami Islam? Begitu juga Imam-imam yang lain.
Padahal, mereka bukan hanya muslim, tapi juga pribadi yang sangat
otoritatif dalam memahami Islam. Tapi, Imam Hanafi hingga Imam Hambali, bahkan Imam Ja'far yang menjadi
dedengkot sebelum mereka semua, tak pernah menyebut
Islam Kuffah, Islam Irak, Islam Iran, Islam Basrah, Islam Madinah, apalagi
Islam Nusantara! Maka, kembalilah kepada Islam tanpa
embel-embel apapun. Titik!
Baca Juga: Memahami Islam Nusantara
Kita maklum, manusia sebagai
homo simbolicum terbiasa menggunakan simbol-simbol dalam mengartikulasikan gagasan dan pemikiran. Salah satu simbol itu bernama bahasa. Dari sini, kiranya wajar jika kita juga menyusur "cara" keberagamaan kita lewat bahasa. Apalagi, Al-Qur'an yang Allah SWT. singkapkan kepada Sang Nabi SAW. adalah peristiwa dimana Allah Yang Maha Tak Terbatas berkenan menggunakan bahasa manusia yang terbatas; yakni Bahasa Arab.
Jika saya katakan Bahasa Arab terbatas, tentu membuat pekak telinga orang yang menganggap Bahasa Arab sebagai segalanya. Padahal, selagi masih menggunakan huruf dan kata-kata, ekspresi apapun selalu terbatas.
Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU
Saya yakin betapa Al-Qur'an untuk setiap ayatnya mengandung 70 ribu makna. Bahkan untuk setiap huruf dalam setiap kata, menyimpan makna-makna tertentu yang tak terbayangkan. Tapi, itu bukan berangkat dari bahasa Arab. Ada Bahasa "lain" yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. "Bahasa" yang demikian itu hanya "dirasa" sebagaimana yang pernah disingkapkan kepada Nabi SAW.
Kita bertanya, peristiwa pewahyuan yang jelas-jelas berlangsung secara k
asyfi (penyingkapan) yang jauh diluar nalar-
aqliyah, kenapa kemudian kita berupaya sekeras-kerasnya hendak menyingkap kedalaman Al-Qur'an, atau berusaha keras menemukan
maqoshidul-ayat dengan perangkat-perangkat nalar kita yang terbatas?
Bukankah dalam Surat Al-Waqi'ah disebutkan, "
Tidak ada yang dapat menyentuh atau memahami Al-Qur'an kecuali orang yang disucikan (muthohharun)?" Diksi yang digunakan dalam ayat tersebut adalah orang yang disucikan (
muthohharun), bukan orang yang bersuci (
muthohhirun), apalagi sok suci. Maka, disucikan di sini bermakna kita ini pasif, tak berdaya, tak mampu apa-apa. Dalam pandangan
basyariyyah, mustahil kita yang najis dapat menyucikan diri kita sendiri. Hanya yang Maha Suci yang dapat menyucikan kita.
Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama
Bagi santri yang belajar Bahasa Arab secara tuntas, membaca lima ayat diatas tentu tak butuh terjemahan. Sementara pihak lain yang tak paham Bahasa Arab, harus tunduk pada makna yang diperoleh dari hasil terjemahan. Padahal, terjemahan apapun itu sudah merupakan tafsir karena telah berupaya mengalihkan dalam Bahasa lain. Kita lupa, bahwa kita hidup dalam rumah besar yang bernama rumah tafsir. Apapun yang menghampiri kita, pasti akan berhadapan dengan tafsir kita sendiri.
Dengan demikian, ayat per ayat yang menghampiri kita, maknanya akan dirasakan oleh kita tergantung pada kapasitas tafsir yang kita punya. Sehingga, baik yang mampu menerjemahkan sendiri atau yang berangkat dari terjemahan orang lain, respon pertama adalah kesan.
Kesan ini dalam perkembangannya mungkin saja akan dipertanyakan oleh diri sendiri. Apakah kesan dirinya adalah
wahm yang berdasarkan nafsu dan pengerahan akal, atau kesan berupa kesadaran menyerah bahwa Pemilik Otoritas makna hanyalah Tuhan, sehingga dirinya menyerah tak tahu apa yang dimaksud.
Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika
Untuk kasus lima ayat diatas, saya sendiri tak mampu menerjemahkan, apalagi menafsir. Saat membaca lima ayat diatas, saya hanya menemukan kesan bahwa lima ayat tersebut bukan dari surat yang sama dalam Al-Qur'an, melainkan dari surat-surat yang berbeda, yakni: (1) Surat Al-Baqoroh ayat 246; (2) Surat Ali Imran ayat 181; (3) Surat An-Nisa' ayat 77; (4) surat Al-Maidah ayat 27; dan (5) Surat Ar-Ra’d ayat 16.
Kesan berikut saat membaca kelima ayat diatas, saya cuma menemukan bahwa tiap-tiap ayat tersebut sama-sama memiliki 10 huruf
Qof. Karena masing-masing memiliki 10
Qof, jika semua ayat itu dibaca, maka dipastikan saya melafalkan 50 huruf
Qof. Memang ada apa dengan huruf
Qof? Saya tidak bisa jawab. Karena hal ini sudah masuk urusan tafsir.
Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara
Kasus lain adalah doa. Seorang santri asal Rembang, misalnya, yang lama berjibaku di pesantren, kemudian berkesempatan kuliah di negeri Arab yang berbahasa Arab, ketika ia pulang kampung dan berdoa, kira-kira doa apa yang akan ia baca? Tentu saja doa-doa yang ada dalam Al-Qur'an atau doa-doa yang pernah diajarkan Nabi SAW. yang ia ketahui dari guru-guru dan kitab-kitab yang ia baca.
Apakah si santri itu akan menggunakan Bahasa Arab? Tentu saja, iya. Ia bukan hanya mahir Bahasa Arab, tapi ia pun tahu dalam riwayat bahwa Nabi SAW. berdoa dengan Bahasa Arab.
Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama
Tapi, bagaimana dengan makna dari doa-doa yang ia baca? Meskipun santri Rembang itu sudah menguasai 1000-an
nadhom dalam kitab
Al-Fiyah, bahkan
khatam Mantiq, Juman hingga
Bayan, ketika Bahasa Arab ia lafalkan dalam doa-doanya, hati si santri Rembang itu tetap akan mencari bahasa lokalnya atawa Bahasa Ibunya.
Kenapa si santri yang fasih berdoa dalam Bahasa Arab-nya masih harus menggunakan cita rasa Bahasa Ibunya dan tidak menggunakan cita rasa dari
epistemic-nya Bahasa Arab saja? Ketika santri melangsungkan itu, sebenarnya atas mau siapa? Dorongan apa yang membuat si santri harus menggunakan bahasa
primordialnya?
Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali
Saya tidak bisa jawab pertanyaan diatas. Tapi ayat 4 dalam surat Ibrahim ini bisa menjelaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"
Tidaklah Kami utus dari seorang rasulpun, kecuali dengan lisan kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah SWT. menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."
Baca Juga: Menyikapi Fatwa yang Kontroversial
Tentu saja santri yang mengalami hal seperti itu bukan hanya santri dari Rembang, Jawa Tengah. Mungkin saja berasal dari Papua, Aceh, Medan, Bandung, Banten, Tegal, Madura, Amerika, Prancis, hingga Cape Town. Masing-masing dari mereka, punya
epistemic sendiri berdasarkan udara, air, pepohonan, pantai atau pegunungan yang menjadi kediaman tubuh mereka.
Maka, santri yang berasal dari Sumedang tetap akan berdoa dengan Bahasa Arabnya yang fasih, tapi batinnya tetap bergelayut dalam lokalitas kesundaannya. Begitu juga santri Minahasa. Ia tak akan main-main untuk berdoa dengan bahasa lain selain Bahasa Al-Qur'an dengan segala pertimbangan tauhidnya, namun sejarah Bahasa Ibu dalam jiwanya tak bisa ia tanggalkan. Bila demikian yang berlangsung, apakah sikap santri-santri itu keliru?
Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam
Dalam perkembangannya, Bahasa Ibunya kemudian menyublim dalam keseharian, seiring kesadaran Islam yang menyusup dalam keyakinannya. Sehingga santri dari Klaten, misalnya, memohon ampun kepada Allah SWT. dengan bergumam, "
Ya Allah Gusti, dalem nyuwun agunging pangapunten, duh Gusti. Mugi Gusti kerso dalem dados umatipun Kanjeng Nabi."
Salahkah santri Klaten itu karena tidak menggunakan Bahasa Arab sebagaimana yang pernah digunakan Sang Nabi SAW.? Apakah Allah SWT. begitu bodoh karena hanya bisa memahami Bahasa Arab, bukan bahasa-bahasa manusia yang lain? Bagaimana dengan ayat 4 dalam surat Ibrahim diatas?
Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now
Berangkat dari
ekspresi berdoa, mungkin kita dapat mempertimbangkan pula dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita bisa lihat sejumlah istilah tata negara kita yang banyak menggunakan
idiom Bahasa Arab.
Majlis Permusyawaratan Rakyat, itu semua berasal dari Bahasa Arab "
Majlis", "Musyawaroh", "Ro'iyyah". "Dewan" juga dari Bahasa Arab.
Sepintas yang terlihat adalah, disatu sisi, Nusantara begitu banyak dipengaruhi Bahasa Arab, dan disisi lain, Islam yang sumber-sumbernya menggunakan Bahasa Arab, dalam praktiknya kadang menggunakan bahasa lokal. Sebut saja kata "Puasa". Selama ini, kita begitu akrab menggunakan
diksi "puasa" ketimbang "
shiyam". Padahal, "puasa" yang berasal dari
uphawasa adalah bukan Bahasa Arab.
Begitu juga saat usai seluruh ibadah
shiyam di Bulan Romadlon, umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri, kita menyebutnya
lebaran. Kemudian kita Mudik ke kampung, bersalam-salaman,
sungkeman dan bermaaf-maafan, kemudian saling berbagi, bahkan mengadakan
halal bihalal. Apakah semua tradisi itu salah sebagai
ekspresi lokalitas yang menyublim bersama spirit Islam? Apakah Islam kemudian ternoda?
Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal
Jika benar semua tradisi yang sebenarnya menjadi perwujudan nilai-nilai Islam itu dianggap merusak dan menodai kemurnian Islam, maka lepaskan semua atribut lokalitas kita saat ini juga. Lupakan tanah air ini yang pernah menjadi tumpah darah kita. Lupakan bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Aceh, Minang, Papua dan bahasa mana pun yang bukan bahasa Al-Qur'an. Ratakan semua makam para wali yang sering diziarahi di bumi ini karena tidak sesuai dengan Islam sebagaimana di negeri Arab. Ratakan pula seluruh pesantren di negeri ini karena Nabi SAW. tidak pernah mendirikan pesantren sepanjang hayatnya.
Lepaskan juga semua jeans atau sarung dan baju surjanmu karena semua itu tak pernah dipakai oleh Nabi SAW. sama sekali. Hapus juga semua sistem ekonomi, politik, budaya yang bukan Islam. Karena semua praktik itu sama sekali bukanlah Islam alias kafir. Hapus tradisi
lebaran dan bermaaf-maafan di negeri ini. Bila perlu, bunuh saja siapa saja yang masih berkunjung dan
sungkeman saat
lebaran. Karena perilaku itu tidak ada dasar dalil sama sekali.
Baca Juga: Kriminalisasi ulama Dimasa Khilafah
Akhirnya, jika sungguh untuk menjadi Islam adalah harus sama persis sebagaimana yang terjadi di jaman Nabi SAW., maka gurunkan negeri ini segera. Semoga perang besar di negeri ini segera terjadi. Perang antara pihak manapun yang meyakini bahwa Islam harus sama persis sebagaimana Nabi SAW. melawan pihak yang meyakini bahwa keislaman Nabi SAW. dapat melebur dimana saja ia berada, termasuk di Nusantara ini. Semoga kita sama-sama hancur atas nama keyakinan diri sendiri. Semoga Allah Mengabulkan.[]
* Oleh:
Abdullah Wong