Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari


rumahnahdliyyin.com - Hadlrotusy Syaikh, demikian KH. Hasyim Asy'ari digelari, lahir pada hari Selasa Kliwon, tanggal 24 Dzulqo'dah tahun 1287 H. Atau yang dalam kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 14 Februari tahun 1871 M.

Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, adalah tempat dimana beliau dilahirkan di dunia ini dari pasangan kiai Asy'ari dan nyai Halimah. Sejak kecil, pendidikan agama Islam sudah diperolehnya dari ayahnya dan juga kakeknya, yaitu kiai Utsman.

Menginjak usia lima belas tahun, kiai Hasyim Asy'ari mulai melanglang buana mencari ilmu agama di luar pesantren ayahnya dan kakeknya. Diantara beberapa pesantren yang pernah beliau pondoki yaitu Pesantren Wonokoyo, Probolinggo; Pesantren Langitan, Tuban; Pesantren
Siwalan, Sidoarjo; Pesantren Kademangan, Madura dan Pesantren Kiai Sholeh Darat, Semarang. Disamping itu, beliau juga mengaji di beberapa pesantren lain dengan para kiai lain. Misalnya, beliau pernah mengaji kepada kiai Syu'aib di Pesantren Sarang, Rembang.

Meskipun sudah banyak mencecap ilmu dari berbagai pesantren dan para kiai, kiai Hasyim tidak lantas merasa cukup diri dengan ilmu yang telah beliau dapatkan. Rasa dahaga terhadap ilmu tetap menggebu dalam diri beliau. Karena itu, ketika beliau berangkat ke Mekah untuk
menunaikan ibadah haji, kesempatan selama di kota suci ini tidak beliau sia-siakan. Selama di Mekah ini, beliau berguru pada para ulama' di sana. Bahkan, akhirnya beliau mukim di sana hingga tujuh tahun lebih.

Diantara para ulama' yang beliau cecap ilmunya sewaktu di Mekah yaitu Syaikh Mahfudh At-Turmusi (ulama' asal Termas, Pacitan, Jawa Timur), Syaikh Khatib Al-Minangkabawi (ulama' asal Minangkabau, Sumatera Barat), Syaikh Amin Al-Aththor, Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Aththor, Sayyid Alawi bin Ahmad As-Saggaf, Sayyid Abbas Al-Maliki, Sayyid Abdullah Az-Zawawi, Sayyid Sultan bin Hasyim, Syaikh Sultan Hasyim Dagastani, Syaikh Sholeh Bafadhol, dan ulama'-ulama' yang lainnya.

Kendati petualangan beliau dalam menuntut ilmu meliputi berbagai macam disiplin dan cabang keilmuan, namun ilmu yang paling menonjol dalam diri beliau adalah ilmu hadits. Karena hal inilah sehingga Pesantren Tebuireng yang kemudian beliau dirikan dan beliau asuh dikenal sebagai tempat untuk mengaji ilmu hadits.

Selain itu, beliau merupakan ulama' yang memperoleh ijazah kitab Shohih Bukhori dari Syaikh Mahfudh At-Turmusi sewaktu menuntut ilmu di Mekah. Syaikh Mahfudh ini merupakan ulama' generasi terakhir dari 23 generasi yang terus sambung menyambung mendapat ijazah langsung hingga Imam Bukhori. [Asb]
Read More

Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU


rumahnahdliyyin.com - Sejak awal berdiri, NU tidak hanya berperan dalam permasalahan tingkat lokal dan nasional. Tapi, juga internasional. NU berperan dalam upaya kebebasan bermazhab di Arab Saudi dengan membentuk Komite Hijaz. Upaya itu berhasil. Upaya-upaya lain, ketika menjadi partai, NU berperan aktif dalam Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Peran-peran internasional masih dilakukan hingga hari ini.

Pada tahun 1931, salah seorang pendiri NU, KH. Wahab Chasbullah, dalam catatannya di Swara Nahdlatoel Oelama mengatakan, keanggotaan NU melintasi batas negara. Asal beragama Islam dan mengikuti salah satu madzhab empat, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Anggota NU juga tunduk kepada hukum-hukum negara dimana ia hidup. Tidak berupaya meruntuhkan ideologi dan menghancurkan negara dimana ia tinggal.

Karena itulah, sejak awal berdiri, NU telah memiliki Cabang di Singapura yang hadir pada muktamar 1937 di Malang. Cabang Singapura berdiri ketika KH. Wahab Chasbullah hendak menyampaikan Komite Hijaz. Beberapa ulama', misalnya dari India, Mesir, Timur Tengah, salah seorang di antaranya yaitu Syekh Ali Thayib pernah hadir di muktamar NU keempat tahun 1929 di Semarang. Ia mengikuti majelis-majelis bahtsul masail kiai NU.

Jika kita buka pemberitaan NU di Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, akan ditemukan rubrik yang berisi pemberitaan dunia internasional. Isinya tidak melulu masalah agama. Tapi juga politik, ekonomi dan kebudayaan. Sejak awal, kiai-kiai NU telah melek dunia. Itu di tingkat pusat. Majalah Al-Mawaidz milik Cabang NU Tasikmalaya (terbit tiap minggu pada 1933-1935) memiliki rubrik Dunia Islam. Sejak awal, mata kiai NU menjangkau dunia.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja lambang NU. Bola dunia, bukan? Itu artinya, sejak awal memang memiliki orientasi internasional. Namun, seperti dinyatakan Kiai Wahab tadi, NU tidak bercita-cita meruntuhkan batas-batas negara.

Nah, untuk mengetahui peran-peran NU di dunia internasional setelah 92 tahun berdiri, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Katib ‘Aam PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang) di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1).

Berikut petikannya:



Bulan ini, berdasarkan penanggalan Masehi, NU akan genap harlah 92 tahun. Bisa cerita bagaimana peran internasional NU?


Dunia internasional, sebetulnya sudah melihat track record NU dalam dekade terakhir. Dan telah berkembang opini di masyarakat dunia bahwa NU punya potensi untuk meyediakan solusi bagi masalah-masalah peradaban yang sedang dihadapi dunia saat ini. Maka sekarang, bagaimana NU berupaya untuk merealisasikan harapan masyarakat dunia itu. Masyarakat dunia sudah berharap bahwa NU memberikan solusi terhadap masalah-masalah peradaban.

Harapan mereka itu ditunjukkan dengan apa?

Coba perhatikan pemberitaan. Googling dengan kata kunci "Nahdlatul Ulama", semua yang keluar adalah statement-statement (pernyataan), ekspresi berharap kepada NU. Googling saja. Apakah media Barat, Timur Tengah. Semuanya isinya ekspresi harapan bahwa NU memberikan jalan keluar masalah dunia hari ini. Yaitu masalah konflik yang berlarut-larut. Bukan hanya yang terkait dengan Islam. Tapi terkait dengan benturan-benturan peradaban pada umumnya. Googling saja. Dan kedua, coba lihat. Semua orang tamu yang datang ke sini (gedung PBNU), dengarkan pendapatnya. Semua orang berharap pada NU.

Bisa disebutkan contohnya?

Kemarin malam di LDNU juga. Dengarkan omongan setiap orang. Semua berharap kepada NU. Kamu dengarkan orang-orang yang datang ke JATMAN itu dari seluruh dunia. Semua berharap kepada NU. Dari mana mereka berharap kepada NU? Karena mereka melihat track record NU selama sekian puluh tahun terakhir, sepanjang sejarah, sekian puluh tahun terakhir, karena semuanya ada. Mulai dari awal berdirinya NU sampai sekarang, track recordnya jelas, bahwa NU ini memang berjuang dengan cita-cita peradaban.

Nah, maka sekarang, bagaimana kita berupaya mewujudkan harapan dunia ini. Dunia sudah berharap. Yang tidak berharap, silakan saja. Tapi yang lain berharap. Jerman, Amerika, Belgia, Inggris, semuanya ekspresi harapan. Jepang, berharap kepada NU. Bagaimana kita menjadikan harapan ini nyata, memenuhi harapan dunia ini, kita menyodorkan solusi dunia ini.

Nah, dari mana solusi itu? Dari track record kita sendiri. Jadi, enggak usah ngarang. Tidak usah mencari-cari dalil baru. Sudah ada semua. Cuma kalian sendiri tak mau baca. Kenapa kalian tidak ingat pidato KH. Ahmad Shiddiq di Situbondo tentang ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan sesama umat manusia), ukhuwwah wathoniyyah (persaudaraan sesama warga negara), ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam). Kenapa kalian tidak ingat khittah, kenapa kalian tidak ingat Mukaddimah UUD 1945.

Sekarang mau nyari dalil sendiri, mau dilurus-luruskan supaya gimana caranya sama dengan KH. Hasyim Asy’ari, tidak begitu caranya. Caranya adalah melihat perjalanan NU dari seluruh perjalanan, tidak hanya dari KH Hasyim Asy’ari. Karena ini pergulatan yang tidak terjadi di negara mana pun. Itu sudah ada dalil yang jelas bahwa NU tidak boleh dipakai untuk politik praktis. Tiba-tiba nemu dalil baru, yang ini mau dilupakan; bagaimana ceritanya ini. Ini merusak sejarah NU. Tak boleh begitu. Pulang dari Timur Tengah, terus qaulnya KH. Ahmad Shiddiq tak dipakai, qaulnya kiai Ali Ma’shum tidak dipakai, gimana ceritanya itu. Enak saja, dianggap tidak mu’tabar. Dikiranya dia saja yang ngaji. Orang yang dulu-dulu tidak ngaji apa, atau gimana?

Untuk memenuhi pemintaan masyarakat dunia itu, apa dan bagaimana yang dilakukan NU?


Kita tidak bisa memenuhi harapan itu kalau kita enggak paham track recordnya NU. Kalian tidak paham, mau gimana? Kalau kalian tidak paham, kalian sama dengan orang Pakistan itu.




Jadi, upaya-upayanya NU bagaimana?


Sebetulnya tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa? Rais ‘Aam ke mana-mana ke luar negeri. Ketua Umum diundang ke mana-mana ke luar negeri. Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program) panggung untuk internasional.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. Jangan bolak-balik, ke sana ke mari. Sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak.

Apakah ini artinya NU sedang menyelesaikan internal dulu sebelum memenuhi permintaan dunia?

Sebetulnya sih sekarang posisinya sudah tidak begitu. Kalau orang sekarang mengaku NU, ngomongnya tidak sama dengan track record NU, tidak akan dianggap. Lihat saja. Dunia sudah tahu. Sudah tahu logikanya NU kayak apa. Sudah menjadi persepsi dunia.

Jadi, misalnya, ada orang yang mengaku NU di sana, kemudian bilang, orang kafir itu tidak boleh jadi pemimpin, itu pasti tidak akan dianggap. Orang sudah punya frame NU itu bagaimana.



Peran PCINU untuk memuluskan cita-cita NU memenuhi keinginan dunia itu bagaimana?



PCINU harus sumbangkan sisi NU ini. PCINU di Yaman harus ngomong apa visi NU di PBNU. Kalau PCINU ini yang kita butuhkan adalah PCI berfungsi sebagai kedutaan. Jadi, dia membawakan visi NU kepada orang Yaman. Jangan maksa-maksain pikirannya orang Yaman ke NU, tidak boleh.


Di Mesir, juga harus membawakan visinya orang NU ke Mesir. Di Sudan, visinya NU kepada orang Sudan. Turatsnya begini. Orang NU bukan cuma turats pegangannya. NU itu mendialogkan teks dengan konteks. Bukan cuma teks. Jadi, nggak bisa cuma gaya-gayanan ngafalin teks. Tak ada gunanya.



Faktor apa yang bisa menyebabkan kiai-kiai NU mampu mendialogkan teks dengan realitas?


Karena ada tradisi riayah (memimpin dalam arti ngemong, red.) di sini. Kiai-kiai kita, sejak berabad-abad yang lalu, punya tradisi untuk melakukan fungsi riayah, ngemong kepada umat. Dan ini hanya ada di sini. Di timur Tengah tidak ada ulama' riayah. Yang ada sulthan, ulama'nya tidak mau tahu. Nasibnya bagaimana, tidak mau tahu. Hanya di sini, di Nusantara ini ulama'nya melakukan riayah. Hanya di Nusantara. Tak ada di tempat lain.

Lalu, kenapa hanya ada di Nusantara? Karena memang ulama' yang datang ke sini, berdakwah dengan visi membangun peradaban baru di sini. Kenapa? Karena elemen-elemen yang fundamental di dalam peradaban yang tumbuh di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain sudah dianggap tidak punya energi cukup besar untuk besar.

Maka, itu riwayatnya Kiai As’ad tentang Raden Rahmatullah; Kiai As’ad mengatakan, Raden Rahmatullah ketika bermukim di Mekkah, beliau dirawuhi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi mengatakan, kamu bawalah Islam ke Jawa sana. Tanah Arab ini sudah tidak kuat menyangganya. Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan.

Perintahnya Rasululllah kepada Raden Rahmatullah, bawa Islam ini, bawa ke Tanah Jawa karena Tanah Arab ini tidak kuat menyangganya. Raden Rahmatullah dan lain-lain datang ke sini ingin membangun peradaban.

Membangun peradaban itu apa? Bergulat dengan realitas. Bukan cuma mikir teks; manthiqnya bagaimana, metodologi, enggak. Tapi realitasnya kayak apa. Sampai saat ini tidak ada kiai NU yang meminta hukuman potong tangan. Mereka melihat realitas. Padahal di dalam kitab, isinya potong tangan kabeh (semua). Bergulat dengan realitas. Karena bergulat dengan realitas, akan tumbuh peradaban.



Apakah itu mungkin watak dasar orang Nusantara?


Ya, watak dasar orang Nusantara karena memiliki basis peradaban yang kuat kenapa Kanjeng Nabi nunjuk, bawalah ke Jawa, tidak bawalah ke Amerika, misalnya, saya kira ada sesek-melek dengan Jawa. Karena ada peradaban Jawa yang sangat kuat dan kompatibel (serasi) dengan ruh Islam, dengan ruh Islam, ruhnya. Kompatibel.

Makanya sangat cepat. Masak dalam 40 tahun, Islam semua sak Nusantara. Padahal Islam sudah datang di sini sekian abad sebelumnya. Ada yang bilang, bahkan generasi pertama sahabat itu sudah ada yang sampai ke Nusantara, tapi tidak terjadi islamisasi.

Fitnah terhadap NU dan kiai-kiainya yang belakangan marak di medsos, apakah itu upaya untuk menggerogoti agar NU tak mampu memainkan peranannya, termasuk memenuhi peran dunia?


Jelas, itu orang-orang hasud aja. Dan dimana-mana, gimana, penyakit kita obatnya. Ya sudah wajar penyakit ya musuhnya obat di mana-mana. Apa sekarang modal mereka? Tak ada. Mereka tak ada pikiran alternatif kok. Adanya fitnah tok. Apa pikiran alternatifnya untuk solusi dunia? Tak ada. Mereka teriak Palestina, Palsetina, Palestina. Terus Palestina disuruh apa? Mana ada yang ngerti. Mereka teriak ayo perjuangkan Islam bersatu, terus ngapain?


Orang Yaman itu, tanya, mereka bagaimana menyelesaikan konflik mereka? Tak ada yang ngerti. Aku ngerti. Sini tak ajarin kalau mau. Aku ngerti caranya. Sini tak ajari kalau mau. Tanya orang Syiria, bagaimana caranya berhenti? Tak mengerti mereka. Tanya orang Libya, bagaimana caranya menjadi damai? Enggak ngerti. Aku ngerti. Saya tahu dari mana akar konfliknya. Saya tahu siapa saja yang terlibat. Saya tahu kepentingan masing-masing. Saya tahu bagaimana mengakses mereka. Tapi mau enggak. Golekno ayat, tak ketemu. Golekno ayat ketemune suwuk. Geopolitik ini.

Terkait memenuhi keinginan dunia itu, supaya ini tercapai dengan cepat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada Nahdliyyin secara umum, PCINU, terutama kepada anak-anak muda NU?

Pertama, sikap. Sikap kita harus jujur kepada realitas apa adanya tentang kenyataan. Apa yang menjadi masalah harus kita akui sebagai masalah. Tak boleh ditutup-tutupi. Masalah, ya masalah. Karena masalah kalau tidak diakui, tidak ada jalan keluarnya. Harus jujur, itu satu.

Kedua, tidak boleh menggunakan agama sebagai alat. Sebagai senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

Yang ketiga, harus menerima negara sebagai sistem politik yang mengikat semua warga.

Yang keempat, harus menerima dan mentaati hukum negara yang sah yang dihasilkan oleh proses yang sah menurut tatanan negara yang bersangkutan dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk melawan hukum, dan/atau memberontak kepada pemerintah yang sah.



Empat konsensus dari mana atau dari siapa?


Dari kita. Muncul dalam Konferensi Internasional Ansor dalam deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan. Dalilnya mana? Cari! Yang ahli dalil, muter-muter, pokoknya ini. Kalau enggak pakai ini, enggak selamat. Gitu aja. Dalilnya mana, cari! Yang ahli dalill, silakan cari dalilnya.

Tapi realitas membutuhkan konsensus itu untuk keselamatan peradaban. Kalau enggak, enggak selamat, peradaban runtuh. Artinya apa? Ini adalah tradisi riayah ulama' kita yang melihat realitas dan kebutuhan masyarakat yang riil. Makanya kita tidak bicara ayatnya begini, haditsnya begini. Kita tidak hanya bicara itu saja; kebutuhan mereka itu apa? Bagaimana sebaiknya supaya maslahah; kan, peradaban itu realitas. Kita bukan hanya butuh nulis kitab. Kita ini butuh mencari jalan keluar dari masalah nyata yang terjadi.


Sumber: nu.or.id
Read More

Asmat; Kota Terapi Syukur


muslimpribumi.com - Sudah dua tahun yang lalu saya berada di Asmat. Dan saya merasa sangat beruntung sudah pernah menginjakkan papan-papan jalanan di kota rawa itu. Sebab, ada satu hal yang paling membekas pada diri saya dan pasti tidak akan terlupakan hingga akhir hayat. Yaitu mengenai rasa syukur.

Ya, rasa syukur saya melejit membubung sangat tinggi ketika selama berada di sana. Saya sangat bersyukur tidak terlahir di kota rawa itu. Saya sangat bersyukur terlahir di salah satu kota di pulau Jawa kendati hanya kota kecil.

Meski kota kecil, di kota kelahiran saya segalanya sangat mudah bisa diperoleh. Listrik 24 jam. Sumber mata air dari tanah melimpah. Sms tinggal sekali pencet tombol sebagaimana bila ingin bertelepon. Bila ingin bepergian ke kecamatan atau kota lain bisa dengan mudah mencari dan menggunakan moda transportasi.

Kemudahan-kemudahan yang saya dapat selama hidup di Jawa inilah yang melejitkan rasa syukur saya selama berada di Asmat hingga tak terhingga tingginya. Di Asmat, ketika awal-awal saya tiba di sana, nyala listrik tidak full 24 jam, baik malam maupun siang. Tapi 2 atau 3 bulan kemudian sudah bisa full selama 24 jam.

Untuk air, tidak ada sumber mata air yang layak untuk dikonsumsi. Maklum, rawa. Kendati demikian, Allah memang Maha Adil dan Maha Pemurah. Di daerah yang keadaan airnya sedemikian rupa, hujan yang menjadi satu-satunya sumber penyangga kebutuhan air di sana sepertinya diberi kepahaman oleh-Nya akan kebutuhan manusia di sana. Jadi, ia menumpahkan airnya tanpa mengenal musim. Di sini pulalah saya mempertanyakan keshohihan pelajaran IPA saya sewaktu duduk di SD yang menyatakan bahwa di Indonesia ini terdapat 2 musim; penghujan dan kemarau.

Di Asmat, dua tahun yang lalu, bila ingin mengirim sms atau bertelepon, saya pasti mengulang-ulang. Sering pula hingga belasan kali baru kemudian berhasil. Dan saya jarang internetan di sana. Sms dan telepon saja sulitnya seperti itu, apalagi internet. Ada memang orang-orang yang jualan voucher wifi. Sepuluh ribu dapat satu jam. Tapi speednya sungguh melatih kesabaran. Kendati demikian, terakhir saya komunikasi dengan orang sana, sinyal disana sudah 3G kini. Syukur walhamduliLlah kalau memang benar demikian.

Dan selama di Asmat, saya tidak pernah bepergian ke distrik lain. Bukannya tidak ingin jalan-jalan mumpung berada disana, bukan. Melainkan kondisi antar distrik yang satu dengan yang lainnya sudah berbeda pulau. Untuk bisa sampai ke distrik lain, tentu mustahil bila berenang. Sementara ongkos perahu atau speedboad, mungkin bisa untuk membeli beberapa tiket bis dari kota saya menuju Jakarta.

Selama di Asmat, saya berada di distrik Agats. Salah satu distrik yang sekaligus menjadi ibu kota Kabupaten Asmat. Kalau ibukotanya saja kondisi dan keadaannya seperti ini, bagaimana dengan distrik-distrik lain?

Dan insya Allah, minggu depan saya akan kembali menginjakkan kaki saya lagi di kota "berjuta jembatan" ini. Bukan dalam rangka piknik. Bukan dalan rangka menyalurkan bantuan epidemi gizi buruk. Bukan. Melainkan untuk mengantar salah satu aktifis muda NU yang hendak melatih hadroh di sana. Mohon do'anya. Dan tidak akan lama saya berada disana. Mungkin seminggu, kalau ada kapal datang bersandar, saya balik ke Sorong lagi. Kalau berhari-hari disana, nanti siapa yang mengajar anak-anak Kokoda?

Akhirnya, siapa saja yang tidak pernah bersyukur atau merasa tingkat rasa syukurnya masih rendah, datanglah ke Asmat. Meski penduduknya banyak yang non-muslim, kota ini bisa menjadi terapi untuk meningkatkan rasa syukur Anda. Silakan dibuktikan saja. Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Sosialisasi LTN NU di Papua Barat

Ketua LTN PBNU, bapak Hari Usmayadi, saat menyampaikan materi tentang LTN.

muslimpribumi.com, Sorong - Sabtu, 3 Februari 2018, Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' atau LTN PBNU mengadakan Kopdar dengan PCNU Kota Sorong dan PCNU Kab. Sorong, Papua Barat. Acara yang berlangsung di Sekretariat PCNU Kab. Sorong ini, diisi dengan materi Sosialisasi LTN NU dan Tantangan Dakwah NU di Era Digital.

Sebagaimana bisa dilihat dewasa ini, konten-konten dunia maya sungguh membuat hati miris. Berbagai berita hoax, ujaran kebencian, tuduhan fitnah dan hal-hal negatif lainnya membanjir seolah tiada habis. Terlebih, adanya opini-opini yang mencoba menggiring pembaca ke pendirian Khilafah untuk menggantikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, warga NU tidak boleh diam saja. Tidak boleh membiarkan hal-hal yang destruktif itu menjadi wacana tunggal. Mengingat urgentnya hal ini, maka LTN sebagai lembaga yang diamanahi secara resmi oleh PBNU dalam bidang penerbitan, informasi, komunikasi dan publikasi, baik digital maupun cetak, harus melakukan gerakan-gerakan penyeimbang dan penangkalan terhadap konten-konten hoax sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Selain mengenalkan LTN dan menyampaikan tantangan-tantangan dakwah NU di zaman now ini, ketua LTN PBNU bapak Hari Usmayadi, juga mengajak para pengurus NU dan anak-anak muda NU di Papua Barat ini untuk sadar digital. Beliau juga menyebutkan beberapa hal yang sudah dilakukan LTN di berbagai daerah sekaligus strategi pengembangannya.

"Seperti di Bali, LTN NU di sana juga membuat video-video durasi pendek keislaman," ujarnya memberikan salah satu contoh kegiatan LTN Bali.

Syuriah PW. NU Papua Barat, bapak Ahmadi, juga hadir dalam acara ini. Dalam sambutannya, beliau juga menyatakan bahwa LTN memang sangat diperlukan.

"Ghibah, sekarang ini di media sangat luar biasa. Benar saja tidak boleh, apalagi tidak benar atau hoax," alasannya.

Selain PW. NU Papua Barat, hadir pula dalam acara ini Syuriah PCNU Kab. Sorong, bapak KH. Ahmad Sutejo; Ketua Tanfidz PCNU Kota Sorong, bapak kiai Tachuri; dan beberapa anak-anak muda NU dari Kota Sorong maupun dari Kabupaten Sorong. [Asb].
Read More

Mabadi Khaira Ummah


muslimpribumi.com - Muktamar NU 1939 di Magelang adalah sebagai tindak lanjut dari muktamar sebelumnya, ditetapkanlah prinsip-prinsip pengembangan sosial dan ekonomi yang tertuang dalam Mabadi Khaira Ummah yakni pertama ash-shidqu (benar) tidak berdusta ; kedua, al-wafa bil 'ahd (menepati janji) dan ketiga at-ta'awun (tolong menolong). Ketiganya dikenal dengan "Mabadi khaira ummah ats-Tsalasah" atau Trisila Mabadi. Sebagai kelanjutan usaha itu pada tahun 1940, ketua HB NU KH. Machfud Shiddiq penggagas mabadi ini berkunjung ke Jepang untuk melakukan kerjasama ekonomi.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan ekonomi, maka kemudian dalam Munas NU di Lampung 1992 mabadi khaira ummah ats-tsalasah dikembangkan lagi menjadi mabadi khaira ummah al-khomsah (Pancasila Mabadi) dengan menambahkan prinsip 'adalah (keadilan) dan Istiqomah (Konsistensi). Bahkan menurut KH. Machfud Shiddiq dalam negara yang berdasarkan Pancasila maka mabadi ini digunakan sebagai sarana mengembangkan masyarakat Pancasila, yaitu masyarakat sosialis religius yang dicita-citakan oleh NU dan Negara.

Prinsip pengembagan sosial ekonomi yang dirumuskan para ulama ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi memiliki arti yang sangat besar dan impresif. Sesuai dengan prinsip bisnis modern maka as-shidqu (trust) memiliki posisi yang sangat penting dalam mengembagkan bisnis. Apalagi wafa bil 'ahd (menepati janji) merupakan indikasi bonafit tidaknya sebuah lembaga bisnis atau organisasi. Prinsip keadilan dan konsistensi sangat perlu ditegaskan saat ini karena ditengah sistem kapitalis keadilan menjadi sangat langka.

Bagaimanapun seringkali masalah moral ekonomi diabaikan dalam kenyataan semua masyarakat menghendaki adanya moral dalam ekonomi karena hal itu yang akan memungkinkan ekonomi berjalan ketika hukum masih bisa dipercayai, ketika transaksi masih bisa dipegangi, dan ketika kesepakatan masih bisa saling dihormati. Prinsip moral yang melandasi keseluruhan relasi sosial terutama dalam bidang ekonomi itulah yang dikehendaki mabadi khaira ummah untuk menciptakan kehidupan saling percaya sehingga memungkinkan dilakukan kerjasama.

Jika semula mabadi khaira ummah tiga butir, maka dua butir perlu ditambahkan untuk menjawab persoalan kontemporer yaitu 'adalah dan istiqomah yang dapat pula disebut al-Mabadi al-Khamsah dengan rincian sebagai berikut :

* Ash-Shidqu. Butir ini mengandung arti kejujuran atau kebenaran, kesungguhan. Jujur dalam arti satunya kata dengan perbuatan, ucapan dengan pikiran. Tidak memutarbalikkan fakta dan memberikan informasi yang menyesatkan, jujur saat berfikir dan bertransaksi. mau mengakui dan menerima pendapat yang leih baik.

* Al-amanah wal wafa bil 'ahdi yaitu melaksanakan semua beban yang harus dilakukan terutama hal-hal yang sudah dijanjikan. Karena itu kata tersebut dapat diartikan sebagai dapat dipercaya dan setia, tepat janji baik bersifat diniyah maupun ijtimaiyah. Semua ini untuk menghindarkan beberapa sifat buruk seperti manipulasi dan berkhianat.

* Al-'adalah. Bersikap objektif, proporsional dan taat asas yang menuntut setiap orang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, jauh dari pengarus egoisme, emosi pribadi dan kepentingan pribadi. Distorsi semacam itu bisa menjerumuskan orang pada kesalahan dalam bertindak. Dengan sikap adil, proporsional dan objektif relasi sosial dan transaksi ekonomi akan berjalan lancar dan saling menguntungkan.

* At-ta'awun. Tolong menolong merupakan sendi utama dalam tata kehidupan masyarakat, masyarakat tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan pihak lain. Ta'awun berarti bersikap setia kawan,gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Ta'awun memiliki arti timbal balik yaitu memberi dan menerima. Oleh karena itu sikap ta'awun mendorong orang untuk bersikap kreatif agar memiliki sesuatu untuk disumbangkan kepada yang lain untuk kepentingan bersama.

* Istiqomah. Berarti teguh, jejeg ajeg, konsisten. tetap teguh dengan ketentuan Allah, Rasulnya dan tuntutsn para shalafus shalihin dan aturan main serta rencana yang telah disepakati bersama. Ini juga berarti kesinambungan dan keterkaitan antara satu periode dengan periode berikutnya, sehingga kesemuanya merupakan suatu kesatuan yang saling menopang seperti sebuah bangunan. Ini juga berarti bersikap berkelanjutan dalam sebuah proses maju yang tidak kenal henti untuk mencapai tujuan.

Kebangkitan kembali prinsip mabadi khaira ummah ini didorong oleh kebutuhan-kebutuhan dan tantangan nyata yang dihadapi oleh NU khusunya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kemiskinan dan kelangkaan sumber daya manusia, kemerosotan budaya dan mencairnya solidaritas sosial adalah keprihatinan yang dihadapi bangsa Indonesia. Sebagai nilai-nilai universal butir-butir mabadi khaira ummah dapat dijadikan sebagai jawaban langsung bagi problem-problem sosial yang dihadapi masyarakat dan bangsa ini.

Sumber : Disarikan dari Muktamar NU di Magelang 1939 dan Munas NU di Lampung 1992
Read More

Waktu-Waktu Sholat Fardlu


rumahnahdliyyin.com - Adakalanya, dalam melaksanakan ibadah itu kita tidak terikat dengan waktu. Maksudnya, ibadah itu boleh dilaksanakan kapan saja. Misalnya, sedekah.

Namun adakalanya, ibadah itu terikat dengan waktu. Maksudnya, ibadah tersebut harus dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Salah satu contohnya, sholat fardlu.

Baca Juga: Fardlu Wudlu'

Sebagaimana diketahui bersama, kita selaku umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat sebanyak lima kali dalam sehari. Dan dalam tempo 24 jam itu, ada waktu-waktu tersendiri dan tertentu bagi pelaksanaan masing-masing sholat tersebut sebagaimana berikut ini:
  1. Sholat Shubuh. Waktu sholat Shubuh dimulai sejak terbitnya fajar Shodiq hingga terbitnya matahari.
  2. Sholat Dhuhur. Waktu sholat Dhuhur dimulai sejak tergelincir atau bergesernya matahari ke arah barat hingga bayang-bayang benda yang terkena sinar matahari memiliki panjang yang sama dengan benda yang sebenarnya
  3. Sholat 'Ashar. Waktu sholat 'Ashar dimulai ketika waktu sholat Dhuhur sudah habis hingga terbenamnya matahari.
  4. Sholat Maghrib. Waktu sholat Maghrib dimulai ketika waktu sholat 'Ashar sudah habis hingga hilangnya mega merah dilangit.
  5. Sholat 'Isya'. Waktu sholat 'Isya' dimulai ketika waktu sholat Maghrib sudah habis hingga terbitnya fajar shodiq.


Demikianlah masing-masing waktu bagi lima sholat yang diwajibkan kepada kita selaku umat Islam dalam sehari-semalam.

Akhirnya, semoga dapat dimengerti, dipahami sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Allaahumma taqobbal sholaatanaa . Amin.

WaLlaahu alam.[]


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Nahdlatul Ulama' (NU) dan Pesantren di Era Milenial


muslimpribumi.com - Nahdlatul Ulama dapat diibaratkan layaknya sebuah pesantren besar. Ada beratus ulama dan berjuta santri di dalamnya yang saling terhubung satu sama lain. Dawuh kiai menjadi kekuatan organisasi terbesar di dunia ini. Karenanya, dalam pemaknaan lebih luas, semua Nahdliyyin disebut juga sebagai santri. Santri KH. Hasyim Asy'ari, santri KH. Wahab Hasbulloh, santri KH. Bisri Sansuri dan santri para pendiri serta masyayikh Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama sendiri pada awalnya didirikan oleh para ulama dan segera diikuti oleh masyarakat pesantren (kiai, santri, alumni, walisantri dsb.) yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan hingga di berbagai negara. Karena itulah, pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah dua hal yang tak dipisahkan. Melalui pesantren dan jaringan yang dimilikinya, Nahdlatul Ulama sebagai sebuah jam'iyyah, terus memperjuangkan cita-citanya. Menjadi pendulum bagi terciptanya Islam yang membawa rahmat bagi semesta. Tentu saja hal ini tak mudah. Apalagi menghadapi tantangan era milenial dengan tipe masyarakat muda yang sangat berbeda dengan saat ketika NU didirikan.

Dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama semenjak berdiri hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa orang-orang pesantrenlah yang senyatanya menjadi penggerak lembaga ini. Karenanya, sangat wajar jika kemudian, Nahdlatul Ulama memandang penting adanya sebuah lembaga yang diberi amanah dalam mengkoordinasi dan komunikasi dengan pesantren. Di sinilah kemudian Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) atau dikenal dengan asosiasi pesantren-pesantren NU memiliki peranan penting untuk ikut menyangga setiap gerakan yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama.

Beberapa tugas penting RMI-NU yaitu terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan dalam melakukan tata kelola pesantren yang maju, berkeadilan dan demi kemaslahatan semua. Kemudian terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan sebagai agen transformasi dan perubahan sosial berdasarkan nilai-nilai luhur kepesantrenan. Serta terciptanya jaringan dan kerjasama antar pesantren. Untuk melaksanakan tugas tersebut, RMI-NU perlu melakukan pembacaan mendalam demi menemukan strategi baru menjawab tantangan era generasi milenial ini.

Era generasi milenial harus diakui memiliki potensi sekaligus tantangan. Pergeseran cara pandang masyarakat dalam melihat pesantren merupakan salah satu tantangan yang mesti dijawab. Salah satu contohnya misalnya dengan banyak orang tua zaman sekarang yang memondokkan anaknya yang berorientasi kepada kenyamanan pesantrennya. Mereka bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh para walisantri era sebelumnya. Pertanyaan seperti, bagaimana dengan gizi makanannya, bagaimana dengan kamarnya; apakah ada AC-nya, ada kasurnya, ada laundry-nya, dst. Ini berbeda dengan pertanyaan orang tua zaman dulu ketika mau memondokkan anaknya yang ditanyakan adalah kitab-kitab apa yang dikaji di pesantren, sanad keilmuan kiainya dan seterusnya.

Untuk menghadapi hal tersebut, RMI-NU menyiapkan beberapa langkah-langkah strategis yang dimulai dengan Gerakan AyoMondok. Launching gerakan nasional AyoMondok sendiri sesungguhnya sesuai dengan visi ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siradj, yaitu “back to pesantren”.

Gerakan AyoMondok awalnya lahir karena keprihatinan terhadap kondisi beberapa pesantren yang mengalami kesulitan menghadapi persoalan-persoalan kekinian. Karenanya, gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mengembalikan kebanggaan orang untuk kembali ke pesantren. Agar para alumni tak segan memondokkan anak-anaknya ke Pesentren. Agar orang tua yang bukan alumni pesantren tak ragu untuk memilih pesantren sebagai tempat belajar bagi anak-anaknya. Gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mendorong masyarakat pesantren bangga menjadi santri. Dan bagi yang belum nyantri, tak ragu untuk belajar ke pesantren.

Gerakan AyoMondok didesain sedemikian rupa untuk mengajak orang kembali ke pesantren. Bahwa pesantren bukanlah lembaga tempat "pembuangan anak". Tapi pesantren adalah lembaga pendidikan utama. Pilihan pertama dalam membangun karakter generasi muda yang membuat meraka lebih siap dalam menghadapi tantangan pada era milenial ini. Karakter yang membuat anak-anak kita dapat dengan sigap menghindari hal-hal yang bisa merusak masa depan mereka.

Salah satu langkah penting untuk mendorong para alumni pesantren dan orang tua yang belum pernah nyantri tak ragu memilih pesantren untuk anak-anaknya adalah dengan memberikan informasi yang benar tentang pesantren. Untuk itu, RMI-NU memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengetahui segala hal tentang pesantren dengan aplikasi berbasis android “Ayo Mondok”.

Aplikasi ini terintegrasi dengan website ayomondok.net yang menyediakan database pesantren di seluruh Indonesia. Dengan aplikasi tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi tentang pesantren. Misalnya, mengenai spesialisasi keilmuannya, kitab-kitab yang dikaji, foto-foto pesantren serta kegiatan-kegiatannya.

Selain itu, RMI-NU juga mengoptimalkan media sosial, baik melalui twitter @ayomondok, FanPage @Ayo Mondok dan Instagram @gerakannasionalayomondok sebagai upaya untuk hadir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat mengenai pesantren.

Tantangan pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi generasi milenial tentu tidak cukup hanya memberikan informasi tentang pesantren melalui web-web yang tersedia. Baik yang dikelola oleh RMI-NU maupun oleh kaum muda NU secara umumnya. Kesiapan masing-masing pesantren untuk menerjemahkan setiap tantangan zaman tetaplah menjadi kata kunci. Dalam hal ini, saling support dan mempererat kerjasama serta memperluas jaringan pesantren adalah keharusan. Karena hanya dengan demikianlah, pesantren sebagai kekuatan inti Nahdlatul Ulama dapat terus saling menguatkan dan menjawab tantangan era milenial.

Banyak hal yang harus dikerjakan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Tinggal pilihan kita apakah pesantren akan mengikuti tren yang ada atau pesantren mampu membuat tren baru sembari tetap menjaga tradisi lama yang baik seperti kaidah kita “al-muhafadhoh 'alal-qodimis-sholih wal-akhdzu biljadidil-ashlah”. Wallahu a’lam bishawab.


* Oleh: H. Abdul Ghoffar Rozin, Ketua RMI-PBNU
Read More

Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU


muslimpribumi.com - Siklus seratus tahun merupakan pembuktian Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keislaman terbesar di dunia. Klaim Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia bukan pepesan kosong, tapi merujuk pada data beberapa lembaga-lembaga survey terpercaya. Bukan sebagai penghargaan yang dirayakan, tapi menjadi refleksi kritis untuk melihat sejauh mana kontribusi NU dalam konteks keislaman, keindonesiaan dan dinamika internasional.

Survey IndoBarometer pada tahun 2000 menyebut bahwa warga Nahdliyyin berjumlah 143 juta jiwa. Sementara Lembaga Survey Indonesia (LSI) pada 2013 mengungkap data bahwa sejumlah 36 persen pemegang hak pilih nasional merupakan warga NU. Singkatnya, 91,2 juta pemilih nasional merupakan warga Nahdliyyin.

Sementara itu, Alvara Strategic Research, melansir hasil survei tentang organisasi Islam yang paling dikenal publik. Survei ini melibatkan 1.626 responden di 34 provinsi dengan wawancara tatap muka. Hasilnya, NU menempati peringkat pertama sebagai organisasi keislaman yang paling dikenal dengan prosentase sebesar 97,0.

Dilanjutkan Muhammadiyah sebesar 93,4 persen dan beberapa organisasi lain. Survei Alvara (2017) mengajukan data sejumlah 50,3 persen penduduk muslim mengaku NU serta 14,9 persen berafiliasi dengan Muhammadiyah. Dari laporan riset ini, terungkap data jumlah warga Nahdliyyin sekitar 79,04 juta jiwa. Sementara warga Muhammadiyah sejumlah 22,46 juta jiwa.

Dari catatan ini, penulis ingin melihat dinamika anak muda Nahdliyyin atau lapisan santri milenial. Lapisan ini penting ditelisik aspirasi sekaligus perannya dalam proses menuju seratus tahun Nahdlatul Ulama.

Milenial santri

Bagi lingkaran peneliti sosial, milenial disebut lapisan penduduk yang lahir pada 1980-2000. Atau, mereka yang saat ini berusia 18-38 tahun. Dalam skala ini, santri milenial saat ini berada pada lapisan santri yang masih mengaji di pesantren, sedang belajar di kampus, sampai pada tahapan menjadi profesional di beberapa perusahaan atau instansi.

Lapisan santri milenial ini, sebagian besar juga mewarnai muslim kelas menengah. Ada transformasi sosial, dari keluarga santri yang dulunya berlatar belakang agraris, kemudian kuliah dan bekerja secara profesional di beberapa kota. Terbukanya kompetisi di kampus-kampus nasional dan internasional dan afirmasi atas sekolah berbasis pesantren, membuka peluang bagi santri untuk menggeluti sains dan ilmu-ilmu yang melengkapi basis pesantren. Pergeseran ini berdampak pada identitas santri milenial yang mempengaruhi pola baru warga Nahdliyin.

Dari sisi komunikasi, santri-santri milenial juga mewarnai interaksi digital. Sindikasi media yang dibangun oleh santri-santi milenial berpengaruh pada pembentukan wacana di kalangan muslim kelas menengah. Sejauh ini, puluhan media digital yang mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara atau gagasan keislaman ala Nahdlatul Ulama. Interaksi digital dengan lintas platform media sosial berpengaruh pada wajah baru warga Nahdliyin. Ini menjadi penting dalam proses menuju satu abad Nahdlatul Ulama.

Dari sejarah panjangnya, Nahdlatul Ulama memiliki tanggung jawab besar: keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini merujuk pada prinsip Nahdlatul Ulama dalam menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan).

Tanggung jawab ini memiliki spektrum luas: politik kebangsaan, ekonomi, hukum, pendidikan hingga diplomasi internasional. Dari peta ini, tergambar jelas bagaimana sumbangsih sekaligus tantangan Nahdlatul Ulama dalam siklus seratus tahun (satu abad).

Tanggung jawab keislaman memberi tantangan bagi Nahdlatul Ulama untuk menebar dakwah Islam Nusatara yang rahmatan lil-alamin. Dakwah Islam yang rumah, bukan Islam yang menyebar amarah. Tanggung jawab ini menjadikan Nahdlatul Ulama memiliki spektrum gerak yang luas untuk menjawab problem keislaman di dunia internasional.

Wajah muslim di ranah internasional sedang murung. Peperangan dan konflik di beberapa negara Timur Tengah meremukkan persaudaraan. Konflik di Yaman, Syiria, serta kontestasi antara Israel dan Palestina, serta dinamika negara di sekitar Saudi, merupakan tantangan besar untuk mencipta perdamaian.

Di Asia Tenggara, kekerasan terhadap muslim Rohingya di Myanmar menjadi problem serius. Dalam lanskap internasional, inisiasi perdamaian di Afghanistan mencatat peran NU dalam diplomasi perdamaian. Inisiasi perdamaian di ranah internasional ini menjadi bagian dari dakwah Islam Nusantara.

Arus baru milenial

Seratus tahun Nahdlatul Ulama bagi generasi santri milenial memiliki arti penting untuk memandang wajah organisasi ini pada masa kini dan mendatang. Dengan munculnya lapisan santri milenial, penyebutan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi tradisional, tidak lagi relevan.

Tradisionalisme dalam menjaga sub-kultur pesantren, merupakan khazanah penting yang menjadi ciri khas. Maka, bisa kita saksikan bagaimana santri-santri milenial yang kuliah di beberapa kampus internasional maupun yang sudah berkarir profesional merasa perlu dengan sholawatan, pengajian maupun rangkaian tradisi lain.

Pada ranah tantangan ekonomi kerakyatan, pola santri milenial untuk membangun arus baru ekonomi berlangsung dengan cara yang berbeda. Beberapa santri menginisiasi start-up pada pelayanan publik, media dan social bussines dengan dukungan perusahan finansial internasional.

Munculnya beragam ventura yang berani mendanai eksekusi ide-ide bisnis berbasis digital menjadi peluang berharga. Meski belum berkembang massif, gerakan santri-santri milenial sudah terasa. Perlu ada dorongan intensif agar lapisan santri milenial ini melangsungkan penetrasi pada wilayah profesional baru.

Saya, sebagai bagian santri milenial merasa betapa inovasi teknologi digital dan media sosial berpengaruh pada transformasi harokah (gerakan) santri zaman now. Santri milenial memiliki strategi yang berbeda dalam merespons tanggung jawab keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Seratus tahun Nahdlatul Ulama membuka ruang bagi santri milenial untuk membuktikan kontribusi strategisnya.

* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Penulis buku "Merawat Kebinekaan" (2018).
Read More

Rakornas NU Care-Lazisnu Ketiga di Sragen


muslimpribumi.com - Sragen, NU Care-LAZISNU menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ketiga di Sragen, 29-31 Januari 2018, di Pondok Pesantren Walisongo, Sragen, Jawa Tengah. Rakornas diikut 300 orang pengurus NU Care-LAZISNU tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan dari seluruh Indonesia dan NU Care-LAZISNU Taiwan.

Direktur NU Care-LAZISNU, H. Syamsul Huda mengatakan bahwa Rakornas tahun ini akan menguatkan metode pengumpulan dana yang paling tepat dilakukan Nahdliyin. Pengumpulan dana melalui Koin NU seperti yang digalakkan PCNU dan NU Care-LAZISNU Sragen, perlu terus digerakkan.

"Gerakan Koin NU Sragen juga sangat tepat menjadi keteledanan bagi Nahdliyin di seluruh Indonesia,” katanya.


Arus Baru Kemandirian Ekonomi NU dipilih menjadi tema Rakornas yang juga digelar untuk menyongsong 100 tahun NU.

Sejumlah agenda melengkapi Rakornas, yaitu seminar fundraising; ZIS Trip atau kunjungan ke lokasi usaha ekonomi, peletakan batu pertama pembangunan rumah sakit NU (dari pemanfaatan Koin NU Sragen) oleh Rais 'Aam PBNU KH. Ma’ruf Amin, Selasa (30/1), santunan anak yatim, janda dan dhu'afa' (29/1); serta bazar berbagai produk gagasan Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Sragen.

Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, menanggapi bahwa tema yang diangkat dalam Rakornas tersebut sungguh tepat. Karena, pada saat ini Nahdlatul Ulama' berada di akhir 100 tahun pertama.

“Kita akan memasuki 100 tahun kedua. Karena itu, sisa waktu yang ada menjelang 100 tahun kedua itu kita jadikan untuk membuat landasan-landasan yang kuat. Kita kuatkan runaway-nya supaya bisa tinggal landas. Karena menurut hadits, setiap awal 100 tahun itu akan ada pembaharu; ada gerakan baru,” jelas KH. Ma’ruf Amin saat ditemui di ruangannya di Gedung PBNU Lantai 4, Kamis (18/01).

Menurutnya, NU Care-LAZISNU telah melahirkan gerakan ekonomi mandiri Nahdliyin yang dahsyat. Di Sukabumi telah terbangun Klinik ZIS, di Sragen dengan pembangunan Rumah Sakit NU, di Lampung Timur dengan BMT (Baitul Maal wa Tamwil), dan juga di tempat-tempat yang lain.

Sebagai suatu organisasi, Nahdlatul Ulama' memiliki berbagai bagian. NU itu adalah fikroh (cara berpikir), 'amaliyah dan harokah (gerakan). Diantara gerakan NU, kata KH. Ma’ruf Amin, adalah gerakan perbaikan, yaitu harokah ishlahiyah di dalam bidang ekonomi supaya NU bisa mandiri. NU juga gerakkan khidmatun ummah atau pelayanan kepada umat.

“LAZISNU punya peran ganda. Pertama, ia (LAZISNU, red.) harus berperan dalam rangka meningkatkan kemandirian ekonomi umat dengan dana yang bisa dikelola dengan baik. Yang kedua, dengan memberikan pelayanan seperti melalui klinik, melalui rumah sakit, melalui pendidikan dan lain-lain yang bisa dilakukan,” tutur Kiai yang juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI Pusat ini.

Karena itu, menurut beliau, tema Rakornas NU Care-LAZISNU 2018 dalam menyambut 100 tahun Nahdlatul Ulama' adalah suatu tema yang tepat. Rakornas akan menghasilkan gerakan yang massif, yang lebih baik lagi. Sehingga, pelayanan NU dan perbaikan untuk umat bisa dilaksanakan dengan baik.


Petikan pidato Direktur NU Care-LAZISNU, Senin (29/1).

Tidak terasa, kita sudah masuk di akhir Januari 2018, yang artinya Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU periode 2015-2020 telah masuk tahun ke-3. Pada tahun pertama, NU CARE-LAZISNU berkomitmen untuk melakukan konsolidasi organisasi yang diwujudkan dengan Rakornas di Jakarta pada tahun 2016.

Kemudian, di tahun kedua, NU CARE-LAZISNU kemudian mencoba menggali sumber-sumber kearifan lokal dari para kiai-kiai NU yang secara istiqomah menggerakkan umat melalui zakat, infaq dan sedekah. Alhasil, bertemulah kita kepada sosok yang luar biasa, yang mengabdikan dirinya kepada umat dengan model pengumpulan ZIS seperti yang dilakukan oleh para ulama terdahulu NU.

Di Tahun kedua itu, tepatnya Februari 2017, kita menggelar acara di Ponpes Al- Amin, Cicurug, Sukabumi dengan motivasi terbesarnya adalah untuk belajar langsung dari Almarhum Buya Basit yang tidak lain adalah Ketua Pengurus Cabang NU Kab. Sukabumi. Dalam forum tersebut, disepakatilah bahwa NU
CARE-LAZISNU menggunakan “Kotak Infaq Nusantara” atau yang disebut dengan KOIN NU untuk strategi pengumpulan infaq dan shadaqah.

Alhamdulillah, berkat pembelajaran langsung di Sukabumi, beberapa Cabang dan Wilayah di Indonesia kemudian bisa meniru dengan apa yang dilakukan oleh Sukabumi. Bahkan tidak bisa dipungkiri ada yang perkembangannya lebih cepat dan hasilnya lebih besar. Ini membuktikan bahwa spirit yang kita bangun melalui kegiatan di Sukabumi berdampak positif pada aktifitas NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri.

Di tahun ketiga ini, Rakornas NU CARE-LAZISNU digelar di Ponpes Walisongo, Sragen. Motivasi kami, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengambil semangat PCNU Sragen dan NU CARE-LAZISNU Kab. Sragen yang telah menjalankan program KOIN hingga terkumpul dana lebih dari 6 Milyar dalam waktu satu tahun.

Sebenarnya, bukan nominal yang menjadi acuan kami, namun sistem dan manajemen yang telah terkonsep di Sragen inilah yang menurut kami
menjadikan Sragen patut untuk dijadikan percontohan. Selain itu, tentunya semangat gotong royong warga nahdliyin yang terkonsolidasi dengan baik di Sragen ini, juga sangat sulit untuk ditemukan di daerah-daerah lain di Indonesia.

Harus diakui bahwa gerakan KOIN di Sragen sangat luar biasa. Apa yang telah dilakukan oleh Sragen saat ini seperti membuka ingatan kita ke masa lalu di awal-awal embrio berdirinya Nahdlatul Ulama', yang salah satunya adalah semangat pembangunan ekonomi umat melalui Nahdatut Tujjar.

Semangat terhadap pembangunan ekonomi umat adalah hal yang mutlak harus dilakukan jika ingin menjadikan NU sebagai organisasi yang mandiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat miskin di Indonesia didominasi oleh warga nahdliyin. Oleh karena itu, NU CARE-LAZISNU memiliki tugas yang berat untuk bersama-sama memberdayakan umat dan mengentaskannya dari kemiskinan.

Keberpihakan NU kepada penguatan ekonomi umat sudah tidak perlu
ditanyakan lagi. Sejak awal berdirinya, NU sudah sangat konsen dengan nasib ekonomi umatnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya Maklumat No. 7 tahun 1936 yang dikeluarkan oleh Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Maklumat itu,
kemudian memantik semangat pengurus NU di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera maupun Kalimantan untuk bergerak melakukan pemberdayaan ekonomi umat dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah jimpitan dan pendirian badan khusus yang menangani masalah sosial ekonomi umat. Tak sampai disitu, di era selanjutnya KH. Mahfudz Shiddiq kemudian mendirikan Syirkah Mu'awwanah (koperasi) disetiap PCNU yang ada di Indonesia. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberdayakan ekonomi warga nahdliyin.

Dengan melihat pada kenyataan NU di masa lalu yang begitu massifnya menggerakkan semua elemen untuk pemberdayaan ekonomi, maka bukan tidak mungkin saat ini kita bisa melakukan yang lebih lagi. Jika dahulu saja para pendiri NU dengan segala keterbatasannya bisa melakukan hal itu, maka seharusnya sekarang sudah saatnya NU menjadi sebuah organisasi yang mandiri, yang berdaulat secara ekonomi dan kuat secara ideologi.

Oleh karena itu, kami ingin agar semangat yang telah dilakukan oleh PCNU Kab. Sragen dan NU CARE-LAZISNU Kab. Sragen dapat ditularkan kepada semua yang hadir di sini agar seluruh Wilayah, UPZIS Kabupaten/Kota/Luar Negeri dan
UPZIS Kecamatan bisa meniru strategi yang telah diterapkan di Sragen dengan lebih baik, atau minimal sama dengan yang telah dilakukan di Sragen.

Perlu kami sampaikan, bahwa pada forum ini kita juga kehadiran UPZIS NU CARE-LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur yang juga luar biasa dalam kiprahnya memberdayakan ekonomi umat sejak tahun 2007. Melalui inisiasi Pengurus MWC. NU Kecamatan Pasir Sakti dengan membentuk BMT. Mitra Dana Sakti pada saat itu, kini NU di Pasir Sakti menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di wilayah itu. Bahkan, BMT. yang dikelola dengan modal awal
39 juta, kini telah memiliki aset senilai 60 Milyar dan menjadi 3 besar BMT dengan aset terbanyak di Provinsi Lampung.

Maka dari itu, kami juga meminta kepada Ketua UPZIS NU CARE-LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti, untuk juga dapat menularkan pengalamannya selama 9 tahun mengelola dana untuk kepentingan umat. Hal ini sangat penting agar di
tahun ini, seluruh Wilayah dan Cabang NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia minimal memiliki satu BMT yang mengelola dana Zakat, Infaq dan Shodaqoh dan juga pemenuhan modal usaha untuk pengusaha kecil dan menengah. Tujuannya agar NU benar-benar hadir sebagai solusi konkret untuk menyelesaikan problematika ekonomi umat.

Jika dua strategi ini digabung dalam satu kesatuan utuh, maka NU benar-benar akan menjadi sebuah kekuatan ekonomi yang luar biasa. Strategi penghimpunan dengan model Sragen dan strategi pengelolaan dengan model Pasir Sakti. Dua model inilah yang akan kita sajikan pada forum yang mulia ini untuk menciptakan sebuah gagasan baru sesuai dengan tema Rakornas kali ini, yaitu “Arus Kemandirian Ekonomi Nahdlatul Ulama; Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama.”

Penentuan tema ini tidak lain karena kami menyadari bahwa dari perekonomian yang kuatlah akan tercipta pendidikan yang unggul dan kesehatan yang berkualitas. Itulah yang dicita-citakan oleh NU sebagaimana yang tercantum
dalam Amanat Muktamar NU ke-33 di Jombang, 2015 lalu. Sekali lagi, tugas kita adalah mewujudkan cita-cita besar para Ulama' NU untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang warganya kuat secara ekonomi, berpendidikan tinggi dan
memiliki lembaga kesehatan yang berkualitas untuk melayani umat.

Perlu kami sampaikan, bahwa pada tahun 2017, Pengurus Pusat NU CARELAZISNU telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 16.771.119.650,- (Enam Belas Miliar Tujuh Ratus Tujuh Puluh Satu Juta Seratus Sembilan Belas Ribu Enam Ratus Lima Puluh Rupiah). Dengan perolehan sebesar itu, Pengurus Pusat NU CARE-LAZISNU menyalurkan sebanyak Rp. 11.866.310.765 (Sebelas Miliar Delapan Ratus Enam Puluh Enam Juta Tiga Ratus Sepuluh Ribu Tujuh Ratus Enam Puluh Lima Rupiah).

Dengan rincian:

1. Pendidikan sebesar Rp. 4.301.905.000,- (Empat Milyar Tiga Ratus Satu Juta Sembilan Ratus Lima Rupiah).

2. Kesehatan sebesar Rp. 680. 264.053,- (Enam Ratus Delapan Puluh Juta Dua Ratus Enam Puluh Empat Ribu Lima Puluh Tiga Rupiah).

3. Pemberdayaan Ekonomi Rp. 2.709.302.872,- (Dua Milyar Tujuh Ratus Sembilan Juta Tiga Ratus Dua Ribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Dua Rupiah).

4. Siaga Bencana Rp. 1.008.429.840,- (Satu Milyar Delapan Juta Empat Ratus Dua Puluh Sembilan Ribu Delapan Ratus Empat Puluh Rupiah).

Jumlah ini akan terus bertambah karena ini kami masih menunggu laporan Kinerja Akhir Tahun dari sahabat-sahabat PW. dan PC. NU CARE-LAZISNU di seluruh Indonesia yang jumlah totalnya insya Allah akan kami sampaikan pada penutupan Rakornas NU CARE-LAZISNU 2018 besok.

Hadirin yang kami muliakan; Semoga majunya NU tidak hanya di Sragen, tapi juga diseluruh Indonesia agar NU benar-benar menjadi organisasi yang mandiri, berdaulat secara ekonomi dan kuat secara ideologi.



* (Kang Sururi)
Read More

NU Care Lazisnu Peduli Papua


muslimpribumi.com - AlhamduliLlaah, rampung sudah menyalurkan amanat dari NU Care Lazisnu ke SD Al-Ma'arif di Kampung Maibo, Sorong, Papua Barat. Dengan ditemani beberapa teman, termasuk dari Lazisnu setempat, kira-kira jam sembilan-an kami sampai di Kampung Maibo. Ya, tentu saja setelah melewati hamburan debu jalanan yang masya Allah gaduhnya.

Ada tiga orang guru ketika saya tiba di SD ini. Pak Kaida, salah seorang guru yang memang sudah kenal baik dengan saya, langsung ke arah saya begitu melihat saya datang. Kita saling tanya kabar dan saya pun melanjutkannya dengan memberitahukan padanya maksud kedatangan saya kali ini ke sekolah yang letaknya di depan rumahnya itu.

Ia pun kemudian menyiapkan segalanya. Diantaranya menyuruh anak murid (istilah siswa-siswi di papua) berkumpul di satu ruangan dan mengambil beberapa kursi dari ruangan sebelah.

Begitu semuanya terkumpul di salah satu ruang kelas dari tiga ruang kelas yang ada, dalam hati saya ada kekhawatiran kalau-kalau paketan yang berisi tas dan peralatan sekolah ini tidak cukup. Sebab, dalam penglihatan saya tampak anak-anak begitu banyak sekali. Mendengar kabar-kabar kalau di Kampung ini terkadang ada keributan kecil soal pembagian seperti ini kalau-kalau ada yang tidak kebagian, maka saya sampaikan pada calon-calon generasi bangsa ini bahwa nanti yang dapat hadiah ini adalah anak-anak yang rajin masuk sekolah.

"Jadi, kalau diantara kalian nanti ada yang tidak kebagian, ah..berarti ketahuan kalau kamu malas-malas masuk sekolahnya. Mengerti, ya?" kata saya.

"Mengerti..." jawab mereka koor.

Dan untuk melakukan penyerahan bantuan ini, saya memohon kesediaan Bapak Kiai Ahmad Misri, salah satu tokoh NU di Sorong ini. Dan mewakili SD Ma'arif Maibo ini, saya mengucapkan terimakasih banyak pada NU Care Lazisnu. Semoga mampu kian menembus ke pelosok-pedalaman Papua.

Akhirnya, ketika Anda membaca postingan ini dan kebetulan sedang punya waktu lebih, coba amati kondisi gedung SD ini dan coba bandingkan dengan SD di tempat Anda tinggal. Saya yakin, SD di tempat tinggal Anda jauh lebih baik. Selanjutnya, biarkan nalar sehat Anda menjawab pertanyaan ini; layakkah sarana pendidikan seperti ini?

Silakan dijawab sendiri-sendiri. Saya tidak mengharuskan Anda untuk menuliskan jawaban tersebut dikolom komentar. Tapi menurut saya pribadi, bangunan SD ini lebih buruk dari kandang babi. Setuju dengan saya, boleh. Dan tak apa pula kalau tak sepakat, tapi jangan mengumpat.

Oh, iya. Ketika kami mendatangi lahan yang hendak dibangun sekolahan secara permanen, kebetulan ada pak Polisi yang datang. Kok gak enak rasanya kalau saya tidak mengajaknya poto sekalian 😊😁

Salam.


Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More