Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU


rumahnahdliyyin.com - Sejak awal berdiri, NU tidak hanya berperan dalam permasalahan tingkat lokal dan nasional. Tapi, juga internasional. NU berperan dalam upaya kebebasan bermazhab di Arab Saudi dengan membentuk Komite Hijaz. Upaya itu berhasil. Upaya-upaya lain, ketika menjadi partai, NU berperan aktif dalam Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Peran-peran internasional masih dilakukan hingga hari ini.

Pada tahun 1931, salah seorang pendiri NU, KH. Wahab Chasbullah, dalam catatannya di Swara Nahdlatoel Oelama mengatakan, keanggotaan NU melintasi batas negara. Asal beragama Islam dan mengikuti salah satu madzhab empat, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Anggota NU juga tunduk kepada hukum-hukum negara dimana ia hidup. Tidak berupaya meruntuhkan ideologi dan menghancurkan negara dimana ia tinggal.

Karena itulah, sejak awal berdiri, NU telah memiliki Cabang di Singapura yang hadir pada muktamar 1937 di Malang. Cabang Singapura berdiri ketika KH. Wahab Chasbullah hendak menyampaikan Komite Hijaz. Beberapa ulama', misalnya dari India, Mesir, Timur Tengah, salah seorang di antaranya yaitu Syekh Ali Thayib pernah hadir di muktamar NU keempat tahun 1929 di Semarang. Ia mengikuti majelis-majelis bahtsul masail kiai NU.

Jika kita buka pemberitaan NU di Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, akan ditemukan rubrik yang berisi pemberitaan dunia internasional. Isinya tidak melulu masalah agama. Tapi juga politik, ekonomi dan kebudayaan. Sejak awal, kiai-kiai NU telah melek dunia. Itu di tingkat pusat. Majalah Al-Mawaidz milik Cabang NU Tasikmalaya (terbit tiap minggu pada 1933-1935) memiliki rubrik Dunia Islam. Sejak awal, mata kiai NU menjangkau dunia.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja lambang NU. Bola dunia, bukan? Itu artinya, sejak awal memang memiliki orientasi internasional. Namun, seperti dinyatakan Kiai Wahab tadi, NU tidak bercita-cita meruntuhkan batas-batas negara.

Nah, untuk mengetahui peran-peran NU di dunia internasional setelah 92 tahun berdiri, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Katib ‘Aam PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang) di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1).

Berikut petikannya:



Bulan ini, berdasarkan penanggalan Masehi, NU akan genap harlah 92 tahun. Bisa cerita bagaimana peran internasional NU?


Dunia internasional, sebetulnya sudah melihat track record NU dalam dekade terakhir. Dan telah berkembang opini di masyarakat dunia bahwa NU punya potensi untuk meyediakan solusi bagi masalah-masalah peradaban yang sedang dihadapi dunia saat ini. Maka sekarang, bagaimana NU berupaya untuk merealisasikan harapan masyarakat dunia itu. Masyarakat dunia sudah berharap bahwa NU memberikan solusi terhadap masalah-masalah peradaban.

Harapan mereka itu ditunjukkan dengan apa?

Coba perhatikan pemberitaan. Googling dengan kata kunci "Nahdlatul Ulama", semua yang keluar adalah statement-statement (pernyataan), ekspresi berharap kepada NU. Googling saja. Apakah media Barat, Timur Tengah. Semuanya isinya ekspresi harapan bahwa NU memberikan jalan keluar masalah dunia hari ini. Yaitu masalah konflik yang berlarut-larut. Bukan hanya yang terkait dengan Islam. Tapi terkait dengan benturan-benturan peradaban pada umumnya. Googling saja. Dan kedua, coba lihat. Semua orang tamu yang datang ke sini (gedung PBNU), dengarkan pendapatnya. Semua orang berharap pada NU.

Bisa disebutkan contohnya?

Kemarin malam di LDNU juga. Dengarkan omongan setiap orang. Semua berharap kepada NU. Kamu dengarkan orang-orang yang datang ke JATMAN itu dari seluruh dunia. Semua berharap kepada NU. Dari mana mereka berharap kepada NU? Karena mereka melihat track record NU selama sekian puluh tahun terakhir, sepanjang sejarah, sekian puluh tahun terakhir, karena semuanya ada. Mulai dari awal berdirinya NU sampai sekarang, track recordnya jelas, bahwa NU ini memang berjuang dengan cita-cita peradaban.

Nah, maka sekarang, bagaimana kita berupaya mewujudkan harapan dunia ini. Dunia sudah berharap. Yang tidak berharap, silakan saja. Tapi yang lain berharap. Jerman, Amerika, Belgia, Inggris, semuanya ekspresi harapan. Jepang, berharap kepada NU. Bagaimana kita menjadikan harapan ini nyata, memenuhi harapan dunia ini, kita menyodorkan solusi dunia ini.

Nah, dari mana solusi itu? Dari track record kita sendiri. Jadi, enggak usah ngarang. Tidak usah mencari-cari dalil baru. Sudah ada semua. Cuma kalian sendiri tak mau baca. Kenapa kalian tidak ingat pidato KH. Ahmad Shiddiq di Situbondo tentang ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan sesama umat manusia), ukhuwwah wathoniyyah (persaudaraan sesama warga negara), ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam). Kenapa kalian tidak ingat khittah, kenapa kalian tidak ingat Mukaddimah UUD 1945.

Sekarang mau nyari dalil sendiri, mau dilurus-luruskan supaya gimana caranya sama dengan KH. Hasyim Asy’ari, tidak begitu caranya. Caranya adalah melihat perjalanan NU dari seluruh perjalanan, tidak hanya dari KH Hasyim Asy’ari. Karena ini pergulatan yang tidak terjadi di negara mana pun. Itu sudah ada dalil yang jelas bahwa NU tidak boleh dipakai untuk politik praktis. Tiba-tiba nemu dalil baru, yang ini mau dilupakan; bagaimana ceritanya ini. Ini merusak sejarah NU. Tak boleh begitu. Pulang dari Timur Tengah, terus qaulnya KH. Ahmad Shiddiq tak dipakai, qaulnya kiai Ali Ma’shum tidak dipakai, gimana ceritanya itu. Enak saja, dianggap tidak mu’tabar. Dikiranya dia saja yang ngaji. Orang yang dulu-dulu tidak ngaji apa, atau gimana?

Untuk memenuhi pemintaan masyarakat dunia itu, apa dan bagaimana yang dilakukan NU?


Kita tidak bisa memenuhi harapan itu kalau kita enggak paham track recordnya NU. Kalian tidak paham, mau gimana? Kalau kalian tidak paham, kalian sama dengan orang Pakistan itu.




Jadi, upaya-upayanya NU bagaimana?


Sebetulnya tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa? Rais ‘Aam ke mana-mana ke luar negeri. Ketua Umum diundang ke mana-mana ke luar negeri. Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program) panggung untuk internasional.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. Jangan bolak-balik, ke sana ke mari. Sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak.

Apakah ini artinya NU sedang menyelesaikan internal dulu sebelum memenuhi permintaan dunia?

Sebetulnya sih sekarang posisinya sudah tidak begitu. Kalau orang sekarang mengaku NU, ngomongnya tidak sama dengan track record NU, tidak akan dianggap. Lihat saja. Dunia sudah tahu. Sudah tahu logikanya NU kayak apa. Sudah menjadi persepsi dunia.

Jadi, misalnya, ada orang yang mengaku NU di sana, kemudian bilang, orang kafir itu tidak boleh jadi pemimpin, itu pasti tidak akan dianggap. Orang sudah punya frame NU itu bagaimana.



Peran PCINU untuk memuluskan cita-cita NU memenuhi keinginan dunia itu bagaimana?



PCINU harus sumbangkan sisi NU ini. PCINU di Yaman harus ngomong apa visi NU di PBNU. Kalau PCINU ini yang kita butuhkan adalah PCI berfungsi sebagai kedutaan. Jadi, dia membawakan visi NU kepada orang Yaman. Jangan maksa-maksain pikirannya orang Yaman ke NU, tidak boleh.


Di Mesir, juga harus membawakan visinya orang NU ke Mesir. Di Sudan, visinya NU kepada orang Sudan. Turatsnya begini. Orang NU bukan cuma turats pegangannya. NU itu mendialogkan teks dengan konteks. Bukan cuma teks. Jadi, nggak bisa cuma gaya-gayanan ngafalin teks. Tak ada gunanya.



Faktor apa yang bisa menyebabkan kiai-kiai NU mampu mendialogkan teks dengan realitas?


Karena ada tradisi riayah (memimpin dalam arti ngemong, red.) di sini. Kiai-kiai kita, sejak berabad-abad yang lalu, punya tradisi untuk melakukan fungsi riayah, ngemong kepada umat. Dan ini hanya ada di sini. Di timur Tengah tidak ada ulama' riayah. Yang ada sulthan, ulama'nya tidak mau tahu. Nasibnya bagaimana, tidak mau tahu. Hanya di sini, di Nusantara ini ulama'nya melakukan riayah. Hanya di Nusantara. Tak ada di tempat lain.

Lalu, kenapa hanya ada di Nusantara? Karena memang ulama' yang datang ke sini, berdakwah dengan visi membangun peradaban baru di sini. Kenapa? Karena elemen-elemen yang fundamental di dalam peradaban yang tumbuh di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain sudah dianggap tidak punya energi cukup besar untuk besar.

Maka, itu riwayatnya Kiai As’ad tentang Raden Rahmatullah; Kiai As’ad mengatakan, Raden Rahmatullah ketika bermukim di Mekkah, beliau dirawuhi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi mengatakan, kamu bawalah Islam ke Jawa sana. Tanah Arab ini sudah tidak kuat menyangganya. Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan.

Perintahnya Rasululllah kepada Raden Rahmatullah, bawa Islam ini, bawa ke Tanah Jawa karena Tanah Arab ini tidak kuat menyangganya. Raden Rahmatullah dan lain-lain datang ke sini ingin membangun peradaban.

Membangun peradaban itu apa? Bergulat dengan realitas. Bukan cuma mikir teks; manthiqnya bagaimana, metodologi, enggak. Tapi realitasnya kayak apa. Sampai saat ini tidak ada kiai NU yang meminta hukuman potong tangan. Mereka melihat realitas. Padahal di dalam kitab, isinya potong tangan kabeh (semua). Bergulat dengan realitas. Karena bergulat dengan realitas, akan tumbuh peradaban.



Apakah itu mungkin watak dasar orang Nusantara?


Ya, watak dasar orang Nusantara karena memiliki basis peradaban yang kuat kenapa Kanjeng Nabi nunjuk, bawalah ke Jawa, tidak bawalah ke Amerika, misalnya, saya kira ada sesek-melek dengan Jawa. Karena ada peradaban Jawa yang sangat kuat dan kompatibel (serasi) dengan ruh Islam, dengan ruh Islam, ruhnya. Kompatibel.

Makanya sangat cepat. Masak dalam 40 tahun, Islam semua sak Nusantara. Padahal Islam sudah datang di sini sekian abad sebelumnya. Ada yang bilang, bahkan generasi pertama sahabat itu sudah ada yang sampai ke Nusantara, tapi tidak terjadi islamisasi.

Fitnah terhadap NU dan kiai-kiainya yang belakangan marak di medsos, apakah itu upaya untuk menggerogoti agar NU tak mampu memainkan peranannya, termasuk memenuhi peran dunia?


Jelas, itu orang-orang hasud aja. Dan dimana-mana, gimana, penyakit kita obatnya. Ya sudah wajar penyakit ya musuhnya obat di mana-mana. Apa sekarang modal mereka? Tak ada. Mereka tak ada pikiran alternatif kok. Adanya fitnah tok. Apa pikiran alternatifnya untuk solusi dunia? Tak ada. Mereka teriak Palestina, Palsetina, Palestina. Terus Palestina disuruh apa? Mana ada yang ngerti. Mereka teriak ayo perjuangkan Islam bersatu, terus ngapain?


Orang Yaman itu, tanya, mereka bagaimana menyelesaikan konflik mereka? Tak ada yang ngerti. Aku ngerti. Sini tak ajarin kalau mau. Aku ngerti caranya. Sini tak ajari kalau mau. Tanya orang Syiria, bagaimana caranya berhenti? Tak mengerti mereka. Tanya orang Libya, bagaimana caranya menjadi damai? Enggak ngerti. Aku ngerti. Saya tahu dari mana akar konfliknya. Saya tahu siapa saja yang terlibat. Saya tahu kepentingan masing-masing. Saya tahu bagaimana mengakses mereka. Tapi mau enggak. Golekno ayat, tak ketemu. Golekno ayat ketemune suwuk. Geopolitik ini.

Terkait memenuhi keinginan dunia itu, supaya ini tercapai dengan cepat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada Nahdliyyin secara umum, PCINU, terutama kepada anak-anak muda NU?

Pertama, sikap. Sikap kita harus jujur kepada realitas apa adanya tentang kenyataan. Apa yang menjadi masalah harus kita akui sebagai masalah. Tak boleh ditutup-tutupi. Masalah, ya masalah. Karena masalah kalau tidak diakui, tidak ada jalan keluarnya. Harus jujur, itu satu.

Kedua, tidak boleh menggunakan agama sebagai alat. Sebagai senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

Yang ketiga, harus menerima negara sebagai sistem politik yang mengikat semua warga.

Yang keempat, harus menerima dan mentaati hukum negara yang sah yang dihasilkan oleh proses yang sah menurut tatanan negara yang bersangkutan dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk melawan hukum, dan/atau memberontak kepada pemerintah yang sah.



Empat konsensus dari mana atau dari siapa?


Dari kita. Muncul dalam Konferensi Internasional Ansor dalam deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan. Dalilnya mana? Cari! Yang ahli dalil, muter-muter, pokoknya ini. Kalau enggak pakai ini, enggak selamat. Gitu aja. Dalilnya mana, cari! Yang ahli dalill, silakan cari dalilnya.

Tapi realitas membutuhkan konsensus itu untuk keselamatan peradaban. Kalau enggak, enggak selamat, peradaban runtuh. Artinya apa? Ini adalah tradisi riayah ulama' kita yang melihat realitas dan kebutuhan masyarakat yang riil. Makanya kita tidak bicara ayatnya begini, haditsnya begini. Kita tidak hanya bicara itu saja; kebutuhan mereka itu apa? Bagaimana sebaiknya supaya maslahah; kan, peradaban itu realitas. Kita bukan hanya butuh nulis kitab. Kita ini butuh mencari jalan keluar dari masalah nyata yang terjadi.


Sumber: nu.or.id

 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *