Asmat, Saya Belum Teruji

Jew (Rumah Bujang) di Distrik Agats, Asmat, Papua

muslimpribumi.com - Hari-hari ini, hampir di semua media sosial tengah membincangkan persoalan #KartuKuningJokowi. Bejibun komen sanjungan hingga seloroh kata "goblag-goblog" bersahut-sahutan di setiap kolom komentar.

Tapi, izinkanlah saya bicara soal Kejadian Luar Biasa (KLB) di Asmat.

Akhir Januari tahun ini, saya tergabung dalam tim NU Peduli Kemanusiaan untuk Asmat. Tim ini adalah bagian dari PBNU yang kali ini terdiri dari Dokter Makky dari Lembaga Kesehatan (LK PBNU), M. Wahib dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI PBNU), dan saya sendiri mewakili NU Care-LAZISNU.

Tak pernah terbayangkan bahwa saya dapat turut andil mengemban tugas ini. Hal yang tergambar di benak saya adalah bagaimana susahnya menuju Asmat. Lebih-lebih ancaman penyakit malaria maupun campak yang saya dengar sebelumnya membuat bulu kuduk saya berdesir setiap kali membayangkannya.

Kamis, 25 Januari, dengan bermodal nekad dan tawakal serta mengingat bahwa ini adalah tugas mulia dari NU, saya siapkan mental dan segala keperluan.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya dan tim yang akan diberangkatkan ke Asmat harus menjalani vaksin campak dan minum obat antimalaria—obat ini masih harus diminum sampai sekarang—supaya tubuh kita kebal.

Kami berangkat naik pesawat dari Jakarta menuju Surabaya-Makassar-Timika. Dari Timika menuju Asmat kami harus mengendarai pesawat kecil seperti capung. Itu pun dengan jadwal penerbangan yang tak menentu.

Beruntung, Tim NU Lokal Timika dengan segala upaya berhasil membantu kami untuk mendapatkan tiket keberangkatan pada keesokan harinya. Di jadwal awal, kami berangkat jam lima pagi. Namun tiba di bandara subuh-subuh, seperti belum ada tanda-tanda ‘kehidupan’.

Hujan deras menemani waktu fajar kami hingga petugas bandara menyampaikan bahwa keberangkatan pesawat diundur menjadi jam 10 pagi.

Perjalanan Timika-Asmat, kami tempuh dengan durasi 45 menit. Setiba di bandara Ewer, Kabupaten Asmat, kami disambut oleh PCNU Kabupaten Asmat dan beberapa tokoh masyarakat. Untuk menuju lokasi KLB, kami naik speedboat. Itu pun kita tak disediakan pelampung. Ketika ombak datang menghantam kapal, seketika itu pula jantung saya berdentum.

Perasaan saya sedikit lega ketika speedboat tiba di Distrik Agats. Distrik adalah kecamatan bila kita di Jawa. Di sini kami beruntung karena salah satu pengurus NU setempat adalah salah satu tetua adat di kampungnya. Ia bernama Leo Rahamtulloh Piripas. Pak Leo juga merupakan Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam).

Kehadiran beliau membuat kami bisa disambut hangat oleh masyarakat Asmat. Hambatan komunikasi dan memahami kultur warga setempat yang dialami oleh beberapa NGO lain setidaknya tidak terlalu kami pusingkan.

Untuk meninjau bagaimana kondisi anak-anak Asmat, Pak Leo mengajak kami untuk silaturahmi terlebih dahulu dengan tetua adat di Kampung Syuru. Kami diterima oleh para tetua di rumah adat. Mereka menyebut itu Jew. Di tempat inilah kami mengutarakan kedatangan kami.

Pak Leo sudah otomatis jadi penyambung lidah di antara kami. Perbincangan berlangsung semakin gayeng (akrab) dan akhirnya forum tetua adat mempersilahkan kami untuk menjalankan program di Kampung Syuru.

Di sepanjang jalan kami menyusuri rumah-rumah. Banyak sekali anak-anak Asmat yang ingin di foto dengan segala tingkah lucu mereka. Saya mengira tampaknya mereka pun merasa sangat bahagia atas kedatangan kami.

Hanya saja ada sedikit pemandangan yang ganjil menurut saya. Anak-anak balita di sini seringkali makan buah kedondong dengan dicampur micin dan juga penyedap rasa lainnya. Kata ibu-ibu mereka, makanan itu sudah menjadi cemilan anak-anak.

Hal ganjil lainnya yang saya lihat adalah ingus anak-anak seolah tak pernah berhenti keluar dari hidung mereka. Kemudian saya tahu, itu disebabkan karena setiap hari mereka minum air mentah. Ketersedaiaan air bersih di Asmat hanya mengandalkan turunnya air hujan.

Keesokan harinya, kami bersama Tim Lokal mengumpulkan anak-anak untuk diikutkan pada screening. Ada sekitar 300 anak yang menjalani screening dan sekitar 14 anak terindikasi kekurangan gizi. Jumlah ini kemungkinan akan terus bertambah karena ini baru screening yang dilakukan hanya di satu kampung.

Salah satu anak yang masuk dalam daftar kami adalah Susana. Umurnya 1,5 tahun. Namun, Susana hanya memiliki berat badan 4 kilogram. Dalam sehari Susana hanya makan nasi atau sagu dua kali. Di waktu pagi, ia hanya minum teh atau kopi. Waktu kami beri susu dan biscuit, tangan Susana gemetar. Kata dokter ia sangat kekurangan protein.

Untuk memonitor anak-anak ini, NU Peduli Kemanusiaan bersama tim lokal berinisiatif mendirikan rumah gizi. Dalam bahasa lokal mereka sebut Cem Gizi. Cem Gizi ini akan menjadi tempat anak-anak diberikan asupan gizi. Setiap minggu dalam 4 kali mereka akan datang di Cem Gizi untuk diberikan asupan makanan bergizi.

Cem Gizi akan menjadi rumah bagi anak-anak Asmat supaya tetap bisa sehat seperti anak-anak di wilayah Indonesia lainnya. Oleh karena itu, NU Care-LAZISNU juga melakukan penggalangan dana untuk anak-anak Asmat melalui NU Peduli Asmat.

Banyak cerita yang belum bisa saya tuliskan tentang pengalaman berharga di Asmat. Ini adalah kali pertama saya menginjakan kaki di tanah Asmat yang kenangan dan kesannya akan terus tertancap dalam lembaran hidup saya.

Orang bilang Asmat adalah penyingkatan dari Asal Mau Tahan. Sepertinya saya belum teruji sepenuhnya untuk menjadi Asmat.


* Oleh: Agus Fuad, Ketua BEM FIB UI 2016, bergiat di PMII, staf NU Care-LAZISNU, dan anggota Tim NU Peduli Kemanusiaan.
Read More

Nahdliyyin Mimika Peringati Harlah NU Ke-92

muslimpribumi.com - Antusiasme Warga NU Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, dalam memperingati Harlah NU ke-92, dibuktikan dengan diadakannya kegiatan di tiga titik pada waktu yang berurutan dengan melaksanakan Istighotsah Maraton.

Bertempat di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Wanagon, peringatan Harlah NU ke-92, menampilkan remaja masjid dengan sholawat "Assalamu'alaika ya Rasulullah" dan "Qamarun" untuk membuka acara. Antusiasme mereka dalam persiapan sebelum tampil, luar biasa.

Acara dilanjutkan dengan lantunan istighotsah dan ceramah oleh Ustadz Hasyim yang dikemudian dilanjut dengan acara kilas balik sejarah berdirinya NU oleh Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso.

Shahibul bait, Ustadz Fadlan, mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya supaya giat mengaji. "Mari kita didik dan dukung anak-anak kita mempelajari agama agar bisa meneruskan perjuangan para muassis dan kiai-kiai NU dalam menyebarkan Islam santun dan damai," urai ustadz Fadlan.

Pada pagi ba’da shubuh, hari Ahad di tanggal 4 Februari, istighotsah juga digelar di masjid Al-Fattah yang terletak di Trans lama SP3 Kampung Karang Senang. Acara diawali dengan syair istighotsah. Siraman rohani oleh Ustadz Hasyim dan kilas balik sejarah berdirinya NU oleh wakil ketua PCNU Mimika, Sugiarso. Acara ditutup dengan sholat Dluha berjama'ah oleh H. Ali Ma'ruf.

Pada malam harinya, ba’da isya' di hari yang sama, di masjid Nurul Hikmah, Kampung Mwuare, KM. 14, harlah NU ini diisi juga dengan istighotsah. Syair istighotsah mengawali acara dan dilanjutkan ceramah oleh Ustadz Hasyim.

Lantunan shalawat An-Nahdliyyah mengawali peringatan Harlah NU ke-92. Ustadz Hasan dan Ustadz Mukhid selaku tuan rumah telah menyiapkan tumpeng yang luar biasa yang ditancapkan bendera NU di tengahnya.

Dalam ceramah di tiga lokasi, Ustadz Hasyim mengajak jama'ah untuk menggapai kesejahteraan; lima di dunia dan lima di akhirat. "Bagaimana cara kita menggapainya?" tanya Ustadz Hasyim kepada jama'ah.

"Caranya kita harus berjama'ah dalam kebaikan. Kita duduk di majelis yang didalamnya kita sebut nama Allah SWT., istighfar, sholawat, tahlil, takbir, maka diampuni dosa kita dan mendapatkan rahmat. Walaupun datang ke acara sudah mau selesai dan ngowoh saja, tetap dapat ampunan dan rahmat," urai Ust. Hasyim

Wakil Ketua PCNU Mimika, Sugiarso, dalam peringatan kilas balik sejarah berdirinya NU menyebutkan bahwa Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar dan Tashwirul Afkar adalah tiga pilar utama cikal bakal berdirinya NU berkat usaha KH. Wahab Chasbullah.

"NU yang andil mendirikan negara. Tidak mungkin NU merobohkannya dengan mengutak-atik PBNU (Pancasila, Bhinneka tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945). Tugas kita sekarang adalah merealisasikan tiga pilar NU ini zaman now dengan penguatan ekonomi, pendidikan dan agama, dan kebangsaan," terangnya.

Acara ditutup dengan kirim doa untuk para muassis dan kiai NU. Bendera NU yang ditancapkan pada tumpeng menjadi simbol pelajaran sejarah dan rasa syukur NU yang tetap menjadi pedoman beragama, berbangsa dan bernegara.


Sumber: nu.or.id
Read More

Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina


rumahnahdliyyin.com - Pada 1982, di tengah gelanggang politik Indonesia yang dicengkeram rezim Orde Baru, Gus Dur—Abdurrahman Wahid—membuat manuver untuk perdamaian internasional. Ketika itu, Gus Dur mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Gus Dur bersama beberapa seniman, merancang beberapa program untuk kesenian dan sastra, untuk menguatkan kebudayaan.

Sebagai Ketua DKJ, Gus Dur mendapat banyak kritik. Terlebih lagi, ketika itu Gus Dur juga menjadi pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Langkah Gus Dur, sebagai pemimpin kaum seniman, ditentang para kiai. Argumentasi kritik yang mengalir, “Ketua Nahdlatul Ulama kok ndalang?”

Kritik ini bukan tanpa sebab. Sebagian besar kiai belum akrab dengan seniman dan sastrawan. Hanya sedikit kiai memahami alur pemikiran Gus Dur. Hanya sedikit pula, kiai-kiai yang srawung dengan seniman.

Di tengah hujan kritik, Gus Dur terus melaju. Ia bersama beberapa sastrawan, mencetuskan ide untuk menyelenggarakan Malam Perdamaian untuk Palestina. Sastrawan-sastrawan Ibu Kota tampil turut berpartisipasi, antara lain Sutardji Calzoum Bahri, Subagyo Sastrowardoyo, dan beberapa penyair lain.

Ketika itu, Gus Dur, mengundang sahabatnya, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) membaca puisi bersanding dengan beberapa penyair. Sontak saja, Gus Mus bingung sekaligus kaget. Ia belum pernah sekalipun tampil sebagai penyair, apalagi bersamaan dengan beberapa sastrawan yang telah dikenal publik.

Oleh Gus Dur, Gus Mus diminta membaca puisi-puisi karya sastrawan Palestina. Inilah momentum yang menjadikan Gus Mus sebagai sastrawan, sebagai budayawan.

Ketika silaturahmi ke ndalem Gus Mus, saya beberapa kali mendapatkan kisah-kisah itu dalam perbicangan di hadapan beberapa tamu. Juga, kisah-kisah menarik tentang persahabatan beliau dengan Gus Dur serta pandangannya terhadap isu Israel-Palestina.

Singkat cerita, peristiwa pada 1982 itu yang mempromosikan Gus Mus menjadi ‘penyair’.

Setelah 35 tahun berlalu, Gus Mus mengulang kembali jejak Gus Dur dengan menggelar malam puisi Doa untuk Palestina, pada akhir Agustus 2017.
Agenda yang diinisiasi Gus Mus ini dihadiri beberapa sastrawan dan cendekiawan Tanah Air, seperti Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Jamal D Rahman, Butet Kertaredjasa, Prof Dr Mahfud MD, dan Ulil Abshar Abdalla. Tampil juga Prof Quraish Shibah dan putrinya, Najwa Shihab.

Pada agenda ini, Gus Mus membacakan puisi "Orang Palestina, Begitulah Namaku", anggitan Harun Hashim al-Rashid. Gus Mus berdampingan dengan Slamet Rahardjo Djarot, yang membacakan puisi itu secara bilingual—Arab dan Indonesia.

Jalan cinta ditempuh Gus Mus untuk menyuarakan diplomasi perdamaian dalam konflik Israel-Palestina. Gus Mus, selama ini dikenal sebagai tokoh Muslim Indonesia yang menyuarakan moderatisme Islam dan perdamaian. Dalam beberapa kesempatan, Gus Mus berkunjung ke negara-negara Eropa dan Amerika untuk mengkampanyekan pentingnya agama yang ramah dan toleran.

Kisah-kisah Islam di Indonesia dan nilai-nilai agama yang diwariskan oleh ulama, menjadi pesan perdamaian yang dibawakan Gus Mus. Diplomasi damai inilah yang selama ini dipraktikkan oleh Gus Mus dan Gus Dur.

Konflik kebencian

Manuver-manuver Gus Dur sering disalahpahami oleh publik di negeri ini. Strategi diplomasi Gus Dur dalam isu perdamaian Israel-Palestina sering dianggap sebagai lelucon.

Langkah Gus Dur yang bersahabat dengan tokoh-tokoh Israel menuai gelombang kritik. Terlebih lagi, Gus Dur juga pernah menjadi anggota The Peres Center for Peace and Innovation, yayasan perdamaian yang didirikan mantan Presiden Israel Simon Peres.

Gus Dur juga berkawan dengan tokoh-tokoh politik dan agama di Israel. Ia bersahabat dengan Presiden Yitzak Rabin. Pada 1994, Gus Dur diundang Rabin untuk melihat prosesi penandatanganan nota perdamaian Israel-Yordania. Gus Dur juga melakukan dialog dengan beberapa pemimpin agama di Israel, untuk mengupayakan perdamaian.

Ketika menjadi presiden, pernyataan perdana yang disampaikan Gus Dur dalam konteks politik luar negeri adalah membuka hubungan dagang dengan Israel. Pernyataan Gus Dur ini disampaikan pada agenda ‘Indonesia Next’ di Jimbaran, Bali, pada Oktober 1999.

Langkah tersebut membuat publik terhenyak, apalagi Gus Dur juga melihat bahwa China dan India perlu dijadikan partner ekonomi dan politik Indonesia, sebagai negara Asia yang berkembang pesat.

Lalu, mengapa harus Israel? Strategi politik ini, menurut Gus Dur berdampak signifikan bagi diplomasi politik Indonesia, baik dalam ranah regional maupun internasional.

Gus Dur berupaya membenamkan musuh-musuh imajiner bangsa Indonesia, tentang profil Israel yang selama ini dicitrakan demikian negatif di ruang publik.

“Gus Dur percaya untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner itu dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan dan dialog,” tulis Greg Barton dalam Biografi Gus Dur yang dilansir pada 2003.

Langkah-langkah Gus Dur sering disalahpahami. Gus Dur tidak semata melobi Israel, tetapi juga merangkul Palestina. Ia bersahabat pula dengan pemimpin dan tokoh Palestina.

Ada sebuah kisah tentang Gus Dur yang sangat perhatian dengan Palestina. Pada awal 1990-an, Gus Dur sering menyuruh keponakannya, Muhaimin Iskandar, untuk membayar rekening listrik Kedubes Palestina.

Ketika itu, Gus Dur menjadi Ketua Umum Nahdlatul Ulama serta malang melintang sebagai cendekiawan, aktivis, dan pejuang isu-isu hak asasi manusia (HAM). Muhaimin masih nyantrik kepada Gus Dur, sebagai sekretaris pribadi.

Pada saat itu, Palestina juga belum diakui dunia internasional sebagai negara yang merdeka. Gus Dur memikirkan diplomasi Palestina di tingkat internasional, sekaligus memikirkan hal teknis untuk menopang kedaulatannya. Gus Dur tidak menginginkan perang berlarut-larut antara Israel dan Palestina.

Langkah-langkah Gus Dur sering tidak dipahami oleh orang-orang yang selama ini berteriak kencang terkait isu Israel-Palestina. Gus Dur tidak setuju dengan strategi mengirimkan relawan ke Palestina, karena tidak akan menyelesaikan masalah.

Justru, menurut Gus Dur, diplomasi dan dukungan konkret di bidang politik dan kebudayaan akan lebih berdampak signifikan.

Langkah Gus Dur melakukan manuver-manuver politik untuk diplomasi perdamaian perlu dibaca dalam bingkai yang utuh. Dukungan Gus Dur terhadap Palestina dengan jalan sastra dan politik perlu menjadi pelajaran penting.

Langkah tersebut diteruskan Gus Mus untuk mengupayakan perdamaian Israel-Palestina, melalui media cinta yang berdentum universal, yaitu puisi. Saat ini, kita menunggu diplomasi cinta untuk perdamaian di negeri-negeri Timur Tengah dan dunia internasional.

Indonesia memiliki peluang dalam ruang diplomasi perdamaian ini, melalui jalur cinta, jalan kemanusiaan.


* Oleh: Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, penulis buku "Merawat Kebinekaan."
Read More

Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari


rumahnahdliyyin.com - Hadlrotusy Syaikh, demikian KH. Hasyim Asy'ari digelari, lahir pada hari Selasa Kliwon, tanggal 24 Dzulqo'dah tahun 1287 H. Atau yang dalam kalender Masehi bertepatan dengan tanggal 14 Februari tahun 1871 M.

Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, adalah tempat dimana beliau dilahirkan di dunia ini dari pasangan kiai Asy'ari dan nyai Halimah. Sejak kecil, pendidikan agama Islam sudah diperolehnya dari ayahnya dan juga kakeknya, yaitu kiai Utsman.

Menginjak usia lima belas tahun, kiai Hasyim Asy'ari mulai melanglang buana mencari ilmu agama di luar pesantren ayahnya dan kakeknya. Diantara beberapa pesantren yang pernah beliau pondoki yaitu Pesantren Wonokoyo, Probolinggo; Pesantren Langitan, Tuban; Pesantren
Siwalan, Sidoarjo; Pesantren Kademangan, Madura dan Pesantren Kiai Sholeh Darat, Semarang. Disamping itu, beliau juga mengaji di beberapa pesantren lain dengan para kiai lain. Misalnya, beliau pernah mengaji kepada kiai Syu'aib di Pesantren Sarang, Rembang.

Meskipun sudah banyak mencecap ilmu dari berbagai pesantren dan para kiai, kiai Hasyim tidak lantas merasa cukup diri dengan ilmu yang telah beliau dapatkan. Rasa dahaga terhadap ilmu tetap menggebu dalam diri beliau. Karena itu, ketika beliau berangkat ke Mekah untuk
menunaikan ibadah haji, kesempatan selama di kota suci ini tidak beliau sia-siakan. Selama di Mekah ini, beliau berguru pada para ulama' di sana. Bahkan, akhirnya beliau mukim di sana hingga tujuh tahun lebih.

Diantara para ulama' yang beliau cecap ilmunya sewaktu di Mekah yaitu Syaikh Mahfudh At-Turmusi (ulama' asal Termas, Pacitan, Jawa Timur), Syaikh Khatib Al-Minangkabawi (ulama' asal Minangkabau, Sumatera Barat), Syaikh Amin Al-Aththor, Sayyid Ahmad bin Hasan Al-Aththor, Sayyid Alawi bin Ahmad As-Saggaf, Sayyid Abbas Al-Maliki, Sayyid Abdullah Az-Zawawi, Sayyid Sultan bin Hasyim, Syaikh Sultan Hasyim Dagastani, Syaikh Sholeh Bafadhol, dan ulama'-ulama' yang lainnya.

Kendati petualangan beliau dalam menuntut ilmu meliputi berbagai macam disiplin dan cabang keilmuan, namun ilmu yang paling menonjol dalam diri beliau adalah ilmu hadits. Karena hal inilah sehingga Pesantren Tebuireng yang kemudian beliau dirikan dan beliau asuh dikenal sebagai tempat untuk mengaji ilmu hadits.

Selain itu, beliau merupakan ulama' yang memperoleh ijazah kitab Shohih Bukhori dari Syaikh Mahfudh At-Turmusi sewaktu menuntut ilmu di Mekah. Syaikh Mahfudh ini merupakan ulama' generasi terakhir dari 23 generasi yang terus sambung menyambung mendapat ijazah langsung hingga Imam Bukhori. [Asb]
Read More

Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU


rumahnahdliyyin.com - Sejak awal berdiri, NU tidak hanya berperan dalam permasalahan tingkat lokal dan nasional. Tapi, juga internasional. NU berperan dalam upaya kebebasan bermazhab di Arab Saudi dengan membentuk Komite Hijaz. Upaya itu berhasil. Upaya-upaya lain, ketika menjadi partai, NU berperan aktif dalam Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). Peran-peran internasional masih dilakukan hingga hari ini.

Pada tahun 1931, salah seorang pendiri NU, KH. Wahab Chasbullah, dalam catatannya di Swara Nahdlatoel Oelama mengatakan, keanggotaan NU melintasi batas negara. Asal beragama Islam dan mengikuti salah satu madzhab empat, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Anggota NU juga tunduk kepada hukum-hukum negara dimana ia hidup. Tidak berupaya meruntuhkan ideologi dan menghancurkan negara dimana ia tinggal.

Karena itulah, sejak awal berdiri, NU telah memiliki Cabang di Singapura yang hadir pada muktamar 1937 di Malang. Cabang Singapura berdiri ketika KH. Wahab Chasbullah hendak menyampaikan Komite Hijaz. Beberapa ulama', misalnya dari India, Mesir, Timur Tengah, salah seorang di antaranya yaitu Syekh Ali Thayib pernah hadir di muktamar NU keempat tahun 1929 di Semarang. Ia mengikuti majelis-majelis bahtsul masail kiai NU.

Jika kita buka pemberitaan NU di Swara Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama dan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, akan ditemukan rubrik yang berisi pemberitaan dunia internasional. Isinya tidak melulu masalah agama. Tapi juga politik, ekonomi dan kebudayaan. Sejak awal, kiai-kiai NU telah melek dunia. Itu di tingkat pusat. Majalah Al-Mawaidz milik Cabang NU Tasikmalaya (terbit tiap minggu pada 1933-1935) memiliki rubrik Dunia Islam. Sejak awal, mata kiai NU menjangkau dunia.

Tak usah jauh-jauh, lihat saja lambang NU. Bola dunia, bukan? Itu artinya, sejak awal memang memiliki orientasi internasional. Namun, seperti dinyatakan Kiai Wahab tadi, NU tidak bercita-cita meruntuhkan batas-batas negara.

Nah, untuk mengetahui peran-peran NU di dunia internasional setelah 92 tahun berdiri, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarai Katib ‘Aam PBNU KH. Yahya Cholil Staquf (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang) di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (25/1).

Berikut petikannya:



Bulan ini, berdasarkan penanggalan Masehi, NU akan genap harlah 92 tahun. Bisa cerita bagaimana peran internasional NU?


Dunia internasional, sebetulnya sudah melihat track record NU dalam dekade terakhir. Dan telah berkembang opini di masyarakat dunia bahwa NU punya potensi untuk meyediakan solusi bagi masalah-masalah peradaban yang sedang dihadapi dunia saat ini. Maka sekarang, bagaimana NU berupaya untuk merealisasikan harapan masyarakat dunia itu. Masyarakat dunia sudah berharap bahwa NU memberikan solusi terhadap masalah-masalah peradaban.

Harapan mereka itu ditunjukkan dengan apa?

Coba perhatikan pemberitaan. Googling dengan kata kunci "Nahdlatul Ulama", semua yang keluar adalah statement-statement (pernyataan), ekspresi berharap kepada NU. Googling saja. Apakah media Barat, Timur Tengah. Semuanya isinya ekspresi harapan bahwa NU memberikan jalan keluar masalah dunia hari ini. Yaitu masalah konflik yang berlarut-larut. Bukan hanya yang terkait dengan Islam. Tapi terkait dengan benturan-benturan peradaban pada umumnya. Googling saja. Dan kedua, coba lihat. Semua orang tamu yang datang ke sini (gedung PBNU), dengarkan pendapatnya. Semua orang berharap pada NU.

Bisa disebutkan contohnya?

Kemarin malam di LDNU juga. Dengarkan omongan setiap orang. Semua berharap kepada NU. Kamu dengarkan orang-orang yang datang ke JATMAN itu dari seluruh dunia. Semua berharap kepada NU. Dari mana mereka berharap kepada NU? Karena mereka melihat track record NU selama sekian puluh tahun terakhir, sepanjang sejarah, sekian puluh tahun terakhir, karena semuanya ada. Mulai dari awal berdirinya NU sampai sekarang, track recordnya jelas, bahwa NU ini memang berjuang dengan cita-cita peradaban.

Nah, maka sekarang, bagaimana kita berupaya mewujudkan harapan dunia ini. Dunia sudah berharap. Yang tidak berharap, silakan saja. Tapi yang lain berharap. Jerman, Amerika, Belgia, Inggris, semuanya ekspresi harapan. Jepang, berharap kepada NU. Bagaimana kita menjadikan harapan ini nyata, memenuhi harapan dunia ini, kita menyodorkan solusi dunia ini.

Nah, dari mana solusi itu? Dari track record kita sendiri. Jadi, enggak usah ngarang. Tidak usah mencari-cari dalil baru. Sudah ada semua. Cuma kalian sendiri tak mau baca. Kenapa kalian tidak ingat pidato KH. Ahmad Shiddiq di Situbondo tentang ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan sesama umat manusia), ukhuwwah wathoniyyah (persaudaraan sesama warga negara), ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam). Kenapa kalian tidak ingat khittah, kenapa kalian tidak ingat Mukaddimah UUD 1945.

Sekarang mau nyari dalil sendiri, mau dilurus-luruskan supaya gimana caranya sama dengan KH. Hasyim Asy’ari, tidak begitu caranya. Caranya adalah melihat perjalanan NU dari seluruh perjalanan, tidak hanya dari KH Hasyim Asy’ari. Karena ini pergulatan yang tidak terjadi di negara mana pun. Itu sudah ada dalil yang jelas bahwa NU tidak boleh dipakai untuk politik praktis. Tiba-tiba nemu dalil baru, yang ini mau dilupakan; bagaimana ceritanya ini. Ini merusak sejarah NU. Tak boleh begitu. Pulang dari Timur Tengah, terus qaulnya KH. Ahmad Shiddiq tak dipakai, qaulnya kiai Ali Ma’shum tidak dipakai, gimana ceritanya itu. Enak saja, dianggap tidak mu’tabar. Dikiranya dia saja yang ngaji. Orang yang dulu-dulu tidak ngaji apa, atau gimana?

Untuk memenuhi pemintaan masyarakat dunia itu, apa dan bagaimana yang dilakukan NU?


Kita tidak bisa memenuhi harapan itu kalau kita enggak paham track recordnya NU. Kalian tidak paham, mau gimana? Kalau kalian tidak paham, kalian sama dengan orang Pakistan itu.




Jadi, upaya-upayanya NU bagaimana?


Sebetulnya tidak perlu ngos-ngosan mencari peluang internasional. Undangan itu sudah tidak karu-karuan. Orang-orang itu ingin mendengar apa yang dikatakan NU. Semakin lama, kantor ini semakin sepi. Apa tidak terasa? Rais ‘Aam ke mana-mana ke luar negeri. Ketua Umum diundang ke mana-mana ke luar negeri. Semua ingin mendengar tentang NU. Bukan cuma itu, ada Pak Marsudi ke mana-mana, Savic Ali ini sekarang ke London. Sekarang ini kita tidak perlu ngos-ngosan mencari platform (rencana kerja; program) panggung untuk internasional.

Nah, sekarang tinggal bagaimana kita konsisten dengan artikulasi tentang NU. Jangan bolak-balik, ke sana ke mari. Sudah, NU adalah Khittah Nahdliyah, Pembukaan UUD 45, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, itu sudah. Jangan ngomong yang enggak-enggak.

Apakah ini artinya NU sedang menyelesaikan internal dulu sebelum memenuhi permintaan dunia?

Sebetulnya sih sekarang posisinya sudah tidak begitu. Kalau orang sekarang mengaku NU, ngomongnya tidak sama dengan track record NU, tidak akan dianggap. Lihat saja. Dunia sudah tahu. Sudah tahu logikanya NU kayak apa. Sudah menjadi persepsi dunia.

Jadi, misalnya, ada orang yang mengaku NU di sana, kemudian bilang, orang kafir itu tidak boleh jadi pemimpin, itu pasti tidak akan dianggap. Orang sudah punya frame NU itu bagaimana.



Peran PCINU untuk memuluskan cita-cita NU memenuhi keinginan dunia itu bagaimana?



PCINU harus sumbangkan sisi NU ini. PCINU di Yaman harus ngomong apa visi NU di PBNU. Kalau PCINU ini yang kita butuhkan adalah PCI berfungsi sebagai kedutaan. Jadi, dia membawakan visi NU kepada orang Yaman. Jangan maksa-maksain pikirannya orang Yaman ke NU, tidak boleh.


Di Mesir, juga harus membawakan visinya orang NU ke Mesir. Di Sudan, visinya NU kepada orang Sudan. Turatsnya begini. Orang NU bukan cuma turats pegangannya. NU itu mendialogkan teks dengan konteks. Bukan cuma teks. Jadi, nggak bisa cuma gaya-gayanan ngafalin teks. Tak ada gunanya.



Faktor apa yang bisa menyebabkan kiai-kiai NU mampu mendialogkan teks dengan realitas?


Karena ada tradisi riayah (memimpin dalam arti ngemong, red.) di sini. Kiai-kiai kita, sejak berabad-abad yang lalu, punya tradisi untuk melakukan fungsi riayah, ngemong kepada umat. Dan ini hanya ada di sini. Di timur Tengah tidak ada ulama' riayah. Yang ada sulthan, ulama'nya tidak mau tahu. Nasibnya bagaimana, tidak mau tahu. Hanya di sini, di Nusantara ini ulama'nya melakukan riayah. Hanya di Nusantara. Tak ada di tempat lain.

Lalu, kenapa hanya ada di Nusantara? Karena memang ulama' yang datang ke sini, berdakwah dengan visi membangun peradaban baru di sini. Kenapa? Karena elemen-elemen yang fundamental di dalam peradaban yang tumbuh di Timur Tengah dan di tempat-tempat lain sudah dianggap tidak punya energi cukup besar untuk besar.

Maka, itu riwayatnya Kiai As’ad tentang Raden Rahmatullah; Kiai As’ad mengatakan, Raden Rahmatullah ketika bermukim di Mekkah, beliau dirawuhi Kanjeng Nabi. Kanjeng Nabi mengatakan, kamu bawalah Islam ke Jawa sana. Tanah Arab ini sudah tidak kuat menyangganya. Kiai As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan.

Perintahnya Rasululllah kepada Raden Rahmatullah, bawa Islam ini, bawa ke Tanah Jawa karena Tanah Arab ini tidak kuat menyangganya. Raden Rahmatullah dan lain-lain datang ke sini ingin membangun peradaban.

Membangun peradaban itu apa? Bergulat dengan realitas. Bukan cuma mikir teks; manthiqnya bagaimana, metodologi, enggak. Tapi realitasnya kayak apa. Sampai saat ini tidak ada kiai NU yang meminta hukuman potong tangan. Mereka melihat realitas. Padahal di dalam kitab, isinya potong tangan kabeh (semua). Bergulat dengan realitas. Karena bergulat dengan realitas, akan tumbuh peradaban.



Apakah itu mungkin watak dasar orang Nusantara?


Ya, watak dasar orang Nusantara karena memiliki basis peradaban yang kuat kenapa Kanjeng Nabi nunjuk, bawalah ke Jawa, tidak bawalah ke Amerika, misalnya, saya kira ada sesek-melek dengan Jawa. Karena ada peradaban Jawa yang sangat kuat dan kompatibel (serasi) dengan ruh Islam, dengan ruh Islam, ruhnya. Kompatibel.

Makanya sangat cepat. Masak dalam 40 tahun, Islam semua sak Nusantara. Padahal Islam sudah datang di sini sekian abad sebelumnya. Ada yang bilang, bahkan generasi pertama sahabat itu sudah ada yang sampai ke Nusantara, tapi tidak terjadi islamisasi.

Fitnah terhadap NU dan kiai-kiainya yang belakangan marak di medsos, apakah itu upaya untuk menggerogoti agar NU tak mampu memainkan peranannya, termasuk memenuhi peran dunia?


Jelas, itu orang-orang hasud aja. Dan dimana-mana, gimana, penyakit kita obatnya. Ya sudah wajar penyakit ya musuhnya obat di mana-mana. Apa sekarang modal mereka? Tak ada. Mereka tak ada pikiran alternatif kok. Adanya fitnah tok. Apa pikiran alternatifnya untuk solusi dunia? Tak ada. Mereka teriak Palestina, Palsetina, Palestina. Terus Palestina disuruh apa? Mana ada yang ngerti. Mereka teriak ayo perjuangkan Islam bersatu, terus ngapain?


Orang Yaman itu, tanya, mereka bagaimana menyelesaikan konflik mereka? Tak ada yang ngerti. Aku ngerti. Sini tak ajarin kalau mau. Aku ngerti caranya. Sini tak ajari kalau mau. Tanya orang Syiria, bagaimana caranya berhenti? Tak mengerti mereka. Tanya orang Libya, bagaimana caranya menjadi damai? Enggak ngerti. Aku ngerti. Saya tahu dari mana akar konfliknya. Saya tahu siapa saja yang terlibat. Saya tahu kepentingan masing-masing. Saya tahu bagaimana mengakses mereka. Tapi mau enggak. Golekno ayat, tak ketemu. Golekno ayat ketemune suwuk. Geopolitik ini.

Terkait memenuhi keinginan dunia itu, supaya ini tercapai dengan cepat, apa yang ingin Anda sampaikan kepada Nahdliyyin secara umum, PCINU, terutama kepada anak-anak muda NU?

Pertama, sikap. Sikap kita harus jujur kepada realitas apa adanya tentang kenyataan. Apa yang menjadi masalah harus kita akui sebagai masalah. Tak boleh ditutup-tutupi. Masalah, ya masalah. Karena masalah kalau tidak diakui, tidak ada jalan keluarnya. Harus jujur, itu satu.

Kedua, tidak boleh menggunakan agama sebagai alat. Sebagai senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

Yang ketiga, harus menerima negara sebagai sistem politik yang mengikat semua warga.

Yang keempat, harus menerima dan mentaati hukum negara yang sah yang dihasilkan oleh proses yang sah menurut tatanan negara yang bersangkutan dan tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk melawan hukum, dan/atau memberontak kepada pemerintah yang sah.



Empat konsensus dari mana atau dari siapa?


Dari kita. Muncul dalam Konferensi Internasional Ansor dalam deklarasi Ansor tentang Islam untuk kemanusiaan. Dalilnya mana? Cari! Yang ahli dalil, muter-muter, pokoknya ini. Kalau enggak pakai ini, enggak selamat. Gitu aja. Dalilnya mana, cari! Yang ahli dalill, silakan cari dalilnya.

Tapi realitas membutuhkan konsensus itu untuk keselamatan peradaban. Kalau enggak, enggak selamat, peradaban runtuh. Artinya apa? Ini adalah tradisi riayah ulama' kita yang melihat realitas dan kebutuhan masyarakat yang riil. Makanya kita tidak bicara ayatnya begini, haditsnya begini. Kita tidak hanya bicara itu saja; kebutuhan mereka itu apa? Bagaimana sebaiknya supaya maslahah; kan, peradaban itu realitas. Kita bukan hanya butuh nulis kitab. Kita ini butuh mencari jalan keluar dari masalah nyata yang terjadi.


Sumber: nu.or.id
Read More

Asmat; Kota Terapi Syukur


muslimpribumi.com - Sudah dua tahun yang lalu saya berada di Asmat. Dan saya merasa sangat beruntung sudah pernah menginjakkan papan-papan jalanan di kota rawa itu. Sebab, ada satu hal yang paling membekas pada diri saya dan pasti tidak akan terlupakan hingga akhir hayat. Yaitu mengenai rasa syukur.

Ya, rasa syukur saya melejit membubung sangat tinggi ketika selama berada di sana. Saya sangat bersyukur tidak terlahir di kota rawa itu. Saya sangat bersyukur terlahir di salah satu kota di pulau Jawa kendati hanya kota kecil.

Meski kota kecil, di kota kelahiran saya segalanya sangat mudah bisa diperoleh. Listrik 24 jam. Sumber mata air dari tanah melimpah. Sms tinggal sekali pencet tombol sebagaimana bila ingin bertelepon. Bila ingin bepergian ke kecamatan atau kota lain bisa dengan mudah mencari dan menggunakan moda transportasi.

Kemudahan-kemudahan yang saya dapat selama hidup di Jawa inilah yang melejitkan rasa syukur saya selama berada di Asmat hingga tak terhingga tingginya. Di Asmat, ketika awal-awal saya tiba di sana, nyala listrik tidak full 24 jam, baik malam maupun siang. Tapi 2 atau 3 bulan kemudian sudah bisa full selama 24 jam.

Untuk air, tidak ada sumber mata air yang layak untuk dikonsumsi. Maklum, rawa. Kendati demikian, Allah memang Maha Adil dan Maha Pemurah. Di daerah yang keadaan airnya sedemikian rupa, hujan yang menjadi satu-satunya sumber penyangga kebutuhan air di sana sepertinya diberi kepahaman oleh-Nya akan kebutuhan manusia di sana. Jadi, ia menumpahkan airnya tanpa mengenal musim. Di sini pulalah saya mempertanyakan keshohihan pelajaran IPA saya sewaktu duduk di SD yang menyatakan bahwa di Indonesia ini terdapat 2 musim; penghujan dan kemarau.

Di Asmat, dua tahun yang lalu, bila ingin mengirim sms atau bertelepon, saya pasti mengulang-ulang. Sering pula hingga belasan kali baru kemudian berhasil. Dan saya jarang internetan di sana. Sms dan telepon saja sulitnya seperti itu, apalagi internet. Ada memang orang-orang yang jualan voucher wifi. Sepuluh ribu dapat satu jam. Tapi speednya sungguh melatih kesabaran. Kendati demikian, terakhir saya komunikasi dengan orang sana, sinyal disana sudah 3G kini. Syukur walhamduliLlah kalau memang benar demikian.

Dan selama di Asmat, saya tidak pernah bepergian ke distrik lain. Bukannya tidak ingin jalan-jalan mumpung berada disana, bukan. Melainkan kondisi antar distrik yang satu dengan yang lainnya sudah berbeda pulau. Untuk bisa sampai ke distrik lain, tentu mustahil bila berenang. Sementara ongkos perahu atau speedboad, mungkin bisa untuk membeli beberapa tiket bis dari kota saya menuju Jakarta.

Selama di Asmat, saya berada di distrik Agats. Salah satu distrik yang sekaligus menjadi ibu kota Kabupaten Asmat. Kalau ibukotanya saja kondisi dan keadaannya seperti ini, bagaimana dengan distrik-distrik lain?

Dan insya Allah, minggu depan saya akan kembali menginjakkan kaki saya lagi di kota "berjuta jembatan" ini. Bukan dalam rangka piknik. Bukan dalan rangka menyalurkan bantuan epidemi gizi buruk. Bukan. Melainkan untuk mengantar salah satu aktifis muda NU yang hendak melatih hadroh di sana. Mohon do'anya. Dan tidak akan lama saya berada disana. Mungkin seminggu, kalau ada kapal datang bersandar, saya balik ke Sorong lagi. Kalau berhari-hari disana, nanti siapa yang mengajar anak-anak Kokoda?

Akhirnya, siapa saja yang tidak pernah bersyukur atau merasa tingkat rasa syukurnya masih rendah, datanglah ke Asmat. Meski penduduknya banyak yang non-muslim, kota ini bisa menjadi terapi untuk meningkatkan rasa syukur Anda. Silakan dibuktikan saja. Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Sosialisasi LTN NU di Papua Barat

Ketua LTN PBNU, bapak Hari Usmayadi, saat menyampaikan materi tentang LTN.

muslimpribumi.com, Sorong - Sabtu, 3 Februari 2018, Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' atau LTN PBNU mengadakan Kopdar dengan PCNU Kota Sorong dan PCNU Kab. Sorong, Papua Barat. Acara yang berlangsung di Sekretariat PCNU Kab. Sorong ini, diisi dengan materi Sosialisasi LTN NU dan Tantangan Dakwah NU di Era Digital.

Sebagaimana bisa dilihat dewasa ini, konten-konten dunia maya sungguh membuat hati miris. Berbagai berita hoax, ujaran kebencian, tuduhan fitnah dan hal-hal negatif lainnya membanjir seolah tiada habis. Terlebih, adanya opini-opini yang mencoba menggiring pembaca ke pendirian Khilafah untuk menggantikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, warga NU tidak boleh diam saja. Tidak boleh membiarkan hal-hal yang destruktif itu menjadi wacana tunggal. Mengingat urgentnya hal ini, maka LTN sebagai lembaga yang diamanahi secara resmi oleh PBNU dalam bidang penerbitan, informasi, komunikasi dan publikasi, baik digital maupun cetak, harus melakukan gerakan-gerakan penyeimbang dan penangkalan terhadap konten-konten hoax sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Selain mengenalkan LTN dan menyampaikan tantangan-tantangan dakwah NU di zaman now ini, ketua LTN PBNU bapak Hari Usmayadi, juga mengajak para pengurus NU dan anak-anak muda NU di Papua Barat ini untuk sadar digital. Beliau juga menyebutkan beberapa hal yang sudah dilakukan LTN di berbagai daerah sekaligus strategi pengembangannya.

"Seperti di Bali, LTN NU di sana juga membuat video-video durasi pendek keislaman," ujarnya memberikan salah satu contoh kegiatan LTN Bali.

Syuriah PW. NU Papua Barat, bapak Ahmadi, juga hadir dalam acara ini. Dalam sambutannya, beliau juga menyatakan bahwa LTN memang sangat diperlukan.

"Ghibah, sekarang ini di media sangat luar biasa. Benar saja tidak boleh, apalagi tidak benar atau hoax," alasannya.

Selain PW. NU Papua Barat, hadir pula dalam acara ini Syuriah PCNU Kab. Sorong, bapak KH. Ahmad Sutejo; Ketua Tanfidz PCNU Kota Sorong, bapak kiai Tachuri; dan beberapa anak-anak muda NU dari Kota Sorong maupun dari Kabupaten Sorong. [Asb].
Read More

Mabadi Khaira Ummah


muslimpribumi.com - Muktamar NU 1939 di Magelang adalah sebagai tindak lanjut dari muktamar sebelumnya, ditetapkanlah prinsip-prinsip pengembangan sosial dan ekonomi yang tertuang dalam Mabadi Khaira Ummah yakni pertama ash-shidqu (benar) tidak berdusta ; kedua, al-wafa bil 'ahd (menepati janji) dan ketiga at-ta'awun (tolong menolong). Ketiganya dikenal dengan "Mabadi khaira ummah ats-Tsalasah" atau Trisila Mabadi. Sebagai kelanjutan usaha itu pada tahun 1940, ketua HB NU KH. Machfud Shiddiq penggagas mabadi ini berkunjung ke Jepang untuk melakukan kerjasama ekonomi.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan kemajuan ekonomi, maka kemudian dalam Munas NU di Lampung 1992 mabadi khaira ummah ats-tsalasah dikembangkan lagi menjadi mabadi khaira ummah al-khomsah (Pancasila Mabadi) dengan menambahkan prinsip 'adalah (keadilan) dan Istiqomah (Konsistensi). Bahkan menurut KH. Machfud Shiddiq dalam negara yang berdasarkan Pancasila maka mabadi ini digunakan sebagai sarana mengembangkan masyarakat Pancasila, yaitu masyarakat sosialis religius yang dicita-citakan oleh NU dan Negara.

Prinsip pengembagan sosial ekonomi yang dirumuskan para ulama ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi memiliki arti yang sangat besar dan impresif. Sesuai dengan prinsip bisnis modern maka as-shidqu (trust) memiliki posisi yang sangat penting dalam mengembagkan bisnis. Apalagi wafa bil 'ahd (menepati janji) merupakan indikasi bonafit tidaknya sebuah lembaga bisnis atau organisasi. Prinsip keadilan dan konsistensi sangat perlu ditegaskan saat ini karena ditengah sistem kapitalis keadilan menjadi sangat langka.

Bagaimanapun seringkali masalah moral ekonomi diabaikan dalam kenyataan semua masyarakat menghendaki adanya moral dalam ekonomi karena hal itu yang akan memungkinkan ekonomi berjalan ketika hukum masih bisa dipercayai, ketika transaksi masih bisa dipegangi, dan ketika kesepakatan masih bisa saling dihormati. Prinsip moral yang melandasi keseluruhan relasi sosial terutama dalam bidang ekonomi itulah yang dikehendaki mabadi khaira ummah untuk menciptakan kehidupan saling percaya sehingga memungkinkan dilakukan kerjasama.

Jika semula mabadi khaira ummah tiga butir, maka dua butir perlu ditambahkan untuk menjawab persoalan kontemporer yaitu 'adalah dan istiqomah yang dapat pula disebut al-Mabadi al-Khamsah dengan rincian sebagai berikut :

* Ash-Shidqu. Butir ini mengandung arti kejujuran atau kebenaran, kesungguhan. Jujur dalam arti satunya kata dengan perbuatan, ucapan dengan pikiran. Tidak memutarbalikkan fakta dan memberikan informasi yang menyesatkan, jujur saat berfikir dan bertransaksi. mau mengakui dan menerima pendapat yang leih baik.

* Al-amanah wal wafa bil 'ahdi yaitu melaksanakan semua beban yang harus dilakukan terutama hal-hal yang sudah dijanjikan. Karena itu kata tersebut dapat diartikan sebagai dapat dipercaya dan setia, tepat janji baik bersifat diniyah maupun ijtimaiyah. Semua ini untuk menghindarkan beberapa sifat buruk seperti manipulasi dan berkhianat.

* Al-'adalah. Bersikap objektif, proporsional dan taat asas yang menuntut setiap orang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, jauh dari pengarus egoisme, emosi pribadi dan kepentingan pribadi. Distorsi semacam itu bisa menjerumuskan orang pada kesalahan dalam bertindak. Dengan sikap adil, proporsional dan objektif relasi sosial dan transaksi ekonomi akan berjalan lancar dan saling menguntungkan.

* At-ta'awun. Tolong menolong merupakan sendi utama dalam tata kehidupan masyarakat, masyarakat tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan pihak lain. Ta'awun berarti bersikap setia kawan,gotong royong dalam kebaikan dan taqwa. Ta'awun memiliki arti timbal balik yaitu memberi dan menerima. Oleh karena itu sikap ta'awun mendorong orang untuk bersikap kreatif agar memiliki sesuatu untuk disumbangkan kepada yang lain untuk kepentingan bersama.

* Istiqomah. Berarti teguh, jejeg ajeg, konsisten. tetap teguh dengan ketentuan Allah, Rasulnya dan tuntutsn para shalafus shalihin dan aturan main serta rencana yang telah disepakati bersama. Ini juga berarti kesinambungan dan keterkaitan antara satu periode dengan periode berikutnya, sehingga kesemuanya merupakan suatu kesatuan yang saling menopang seperti sebuah bangunan. Ini juga berarti bersikap berkelanjutan dalam sebuah proses maju yang tidak kenal henti untuk mencapai tujuan.

Kebangkitan kembali prinsip mabadi khaira ummah ini didorong oleh kebutuhan-kebutuhan dan tantangan nyata yang dihadapi oleh NU khusunya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Kemiskinan dan kelangkaan sumber daya manusia, kemerosotan budaya dan mencairnya solidaritas sosial adalah keprihatinan yang dihadapi bangsa Indonesia. Sebagai nilai-nilai universal butir-butir mabadi khaira ummah dapat dijadikan sebagai jawaban langsung bagi problem-problem sosial yang dihadapi masyarakat dan bangsa ini.

Sumber : Disarikan dari Muktamar NU di Magelang 1939 dan Munas NU di Lampung 1992
Read More

Waktu-Waktu Sholat Fardlu


rumahnahdliyyin.com - Adakalanya, dalam melaksanakan ibadah itu kita tidak terikat dengan waktu. Maksudnya, ibadah itu boleh dilaksanakan kapan saja. Misalnya, sedekah.

Namun adakalanya, ibadah itu terikat dengan waktu. Maksudnya, ibadah tersebut harus dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Salah satu contohnya, sholat fardlu.

Baca Juga: Fardlu Wudlu'

Sebagaimana diketahui bersama, kita selaku umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat sebanyak lima kali dalam sehari. Dan dalam tempo 24 jam itu, ada waktu-waktu tersendiri dan tertentu bagi pelaksanaan masing-masing sholat tersebut sebagaimana berikut ini:
  1. Sholat Shubuh. Waktu sholat Shubuh dimulai sejak terbitnya fajar Shodiq hingga terbitnya matahari.
  2. Sholat Dhuhur. Waktu sholat Dhuhur dimulai sejak tergelincir atau bergesernya matahari ke arah barat hingga bayang-bayang benda yang terkena sinar matahari memiliki panjang yang sama dengan benda yang sebenarnya
  3. Sholat 'Ashar. Waktu sholat 'Ashar dimulai ketika waktu sholat Dhuhur sudah habis hingga terbenamnya matahari.
  4. Sholat Maghrib. Waktu sholat Maghrib dimulai ketika waktu sholat 'Ashar sudah habis hingga hilangnya mega merah dilangit.
  5. Sholat 'Isya'. Waktu sholat 'Isya' dimulai ketika waktu sholat Maghrib sudah habis hingga terbitnya fajar shodiq.


Demikianlah masing-masing waktu bagi lima sholat yang diwajibkan kepada kita selaku umat Islam dalam sehari-semalam.

Akhirnya, semoga dapat dimengerti, dipahami sekaligus bermanfaat bagi kita semua. Allaahumma taqobbal sholaatanaa . Amin.

WaLlaahu alam.[]


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Nahdlatul Ulama' (NU) dan Pesantren di Era Milenial


muslimpribumi.com - Nahdlatul Ulama dapat diibaratkan layaknya sebuah pesantren besar. Ada beratus ulama dan berjuta santri di dalamnya yang saling terhubung satu sama lain. Dawuh kiai menjadi kekuatan organisasi terbesar di dunia ini. Karenanya, dalam pemaknaan lebih luas, semua Nahdliyyin disebut juga sebagai santri. Santri KH. Hasyim Asy'ari, santri KH. Wahab Hasbulloh, santri KH. Bisri Sansuri dan santri para pendiri serta masyayikh Nahdlatul Ulama.

Nahdlatul Ulama sendiri pada awalnya didirikan oleh para ulama dan segera diikuti oleh masyarakat pesantren (kiai, santri, alumni, walisantri dsb.) yang tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan hingga di berbagai negara. Karena itulah, pesantren dan Nahdlatul Ulama adalah dua hal yang tak dipisahkan. Melalui pesantren dan jaringan yang dimilikinya, Nahdlatul Ulama sebagai sebuah jam'iyyah, terus memperjuangkan cita-citanya. Menjadi pendulum bagi terciptanya Islam yang membawa rahmat bagi semesta. Tentu saja hal ini tak mudah. Apalagi menghadapi tantangan era milenial dengan tipe masyarakat muda yang sangat berbeda dengan saat ketika NU didirikan.

Dalam perjalanan panjang Nahdlatul Ulama semenjak berdiri hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa orang-orang pesantrenlah yang senyatanya menjadi penggerak lembaga ini. Karenanya, sangat wajar jika kemudian, Nahdlatul Ulama memandang penting adanya sebuah lembaga yang diberi amanah dalam mengkoordinasi dan komunikasi dengan pesantren. Di sinilah kemudian Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) atau dikenal dengan asosiasi pesantren-pesantren NU memiliki peranan penting untuk ikut menyangga setiap gerakan yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama.

Beberapa tugas penting RMI-NU yaitu terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan dalam melakukan tata kelola pesantren yang maju, berkeadilan dan demi kemaslahatan semua. Kemudian terciptanya masyarakat pesantren yang mempunyai kemampuan sebagai agen transformasi dan perubahan sosial berdasarkan nilai-nilai luhur kepesantrenan. Serta terciptanya jaringan dan kerjasama antar pesantren. Untuk melaksanakan tugas tersebut, RMI-NU perlu melakukan pembacaan mendalam demi menemukan strategi baru menjawab tantangan era generasi milenial ini.

Era generasi milenial harus diakui memiliki potensi sekaligus tantangan. Pergeseran cara pandang masyarakat dalam melihat pesantren merupakan salah satu tantangan yang mesti dijawab. Salah satu contohnya misalnya dengan banyak orang tua zaman sekarang yang memondokkan anaknya yang berorientasi kepada kenyamanan pesantrennya. Mereka bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak terpikirkan oleh para walisantri era sebelumnya. Pertanyaan seperti, bagaimana dengan gizi makanannya, bagaimana dengan kamarnya; apakah ada AC-nya, ada kasurnya, ada laundry-nya, dst. Ini berbeda dengan pertanyaan orang tua zaman dulu ketika mau memondokkan anaknya yang ditanyakan adalah kitab-kitab apa yang dikaji di pesantren, sanad keilmuan kiainya dan seterusnya.

Untuk menghadapi hal tersebut, RMI-NU menyiapkan beberapa langkah-langkah strategis yang dimulai dengan Gerakan AyoMondok. Launching gerakan nasional AyoMondok sendiri sesungguhnya sesuai dengan visi ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siradj, yaitu “back to pesantren”.

Gerakan AyoMondok awalnya lahir karena keprihatinan terhadap kondisi beberapa pesantren yang mengalami kesulitan menghadapi persoalan-persoalan kekinian. Karenanya, gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mengembalikan kebanggaan orang untuk kembali ke pesantren. Agar para alumni tak segan memondokkan anak-anaknya ke Pesentren. Agar orang tua yang bukan alumni pesantren tak ragu untuk memilih pesantren sebagai tempat belajar bagi anak-anaknya. Gerakan AyoMondok merupakan sebuah aksi nyata untuk mendorong masyarakat pesantren bangga menjadi santri. Dan bagi yang belum nyantri, tak ragu untuk belajar ke pesantren.

Gerakan AyoMondok didesain sedemikian rupa untuk mengajak orang kembali ke pesantren. Bahwa pesantren bukanlah lembaga tempat "pembuangan anak". Tapi pesantren adalah lembaga pendidikan utama. Pilihan pertama dalam membangun karakter generasi muda yang membuat meraka lebih siap dalam menghadapi tantangan pada era milenial ini. Karakter yang membuat anak-anak kita dapat dengan sigap menghindari hal-hal yang bisa merusak masa depan mereka.

Salah satu langkah penting untuk mendorong para alumni pesantren dan orang tua yang belum pernah nyantri tak ragu memilih pesantren untuk anak-anaknya adalah dengan memberikan informasi yang benar tentang pesantren. Untuk itu, RMI-NU memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin mengetahui segala hal tentang pesantren dengan aplikasi berbasis android “Ayo Mondok”.

Aplikasi ini terintegrasi dengan website ayomondok.net yang menyediakan database pesantren di seluruh Indonesia. Dengan aplikasi tersebut, masyarakat dapat lebih mudah mengakses informasi tentang pesantren. Misalnya, mengenai spesialisasi keilmuannya, kitab-kitab yang dikaji, foto-foto pesantren serta kegiatan-kegiatannya.

Selain itu, RMI-NU juga mengoptimalkan media sosial, baik melalui twitter @ayomondok, FanPage @Ayo Mondok dan Instagram @gerakannasionalayomondok sebagai upaya untuk hadir dan menjawab pertanyaan-pertanyaan masyarakat mengenai pesantren.

Tantangan pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam menghadapi generasi milenial tentu tidak cukup hanya memberikan informasi tentang pesantren melalui web-web yang tersedia. Baik yang dikelola oleh RMI-NU maupun oleh kaum muda NU secara umumnya. Kesiapan masing-masing pesantren untuk menerjemahkan setiap tantangan zaman tetaplah menjadi kata kunci. Dalam hal ini, saling support dan mempererat kerjasama serta memperluas jaringan pesantren adalah keharusan. Karena hanya dengan demikianlah, pesantren sebagai kekuatan inti Nahdlatul Ulama dapat terus saling menguatkan dan menjawab tantangan era milenial.

Banyak hal yang harus dikerjakan dan banyak hal yang bisa dilakukan. Tinggal pilihan kita apakah pesantren akan mengikuti tren yang ada atau pesantren mampu membuat tren baru sembari tetap menjaga tradisi lama yang baik seperti kaidah kita “al-muhafadhoh 'alal-qodimis-sholih wal-akhdzu biljadidil-ashlah”. Wallahu a’lam bishawab.


* Oleh: H. Abdul Ghoffar Rozin, Ketua RMI-PBNU
Read More