Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah


muslimpribumi.com, Pontianak - Mulai hari ini, Jum’at, tanggal 23-25 Februari 2018, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Kalimantan Barat melaksanakan rangkaian kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) MUI ke-VIII Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2018 di Asrama Haji Pontianak, Jl. Sutoyo, Pontianak, Kalimantan Barat. Tema yang diangkat kali ini yaitu “Meneguhkan Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Merajut Ukhuwwah dan Memperkuat Islam Wasathiyyah di Kalimantan Barat.”

Ketua Panitia Musda ke-VIII MUI Propinsi Kalimantan Barat, Moch. Riza Fahmi, S.E.I, M.S.I. menjelaskan bahwa pengambilan tema tersebut dilatar belakangi oleh bertepatannya dengan diadakannya Pilkada serentak di tahun 2018 ini. Momen Pilkada kabupaten/kota dan propinsi serentak di 171 daerah di tahun 2018 ini dan yang akan dilanjutkan dengan dilaksanakannya pesta demokrasi pada tahun 2019, tentu dapat menimbulkan berbagai potensi konflik yang akan mengancam keutuhan NKRI.

“Berdasarkan hal tersebut, sebagai ikhtiyar meneguhkan peran MUI dalam merajut ukhuwwah dan memperkuat Islam wasathiyyah (moderat) di Propinsi Kalimantan Barat, sangatlah urgen untuk menjaga dinamisasi eksistensi organisasi MUI. Salah satunya ialah dengan melakukan Musda MUI ke-VIII pada tahun 2018,” paparnya.

Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari. Pada hari ini, akan dilaksakan acara pembukaan di Aula Utama Asrama Haji Pontianak, Pleno I (Pembahasan Jadwal dan pengesahan Tatib Musda) dan Pleno II (Pemilihan pimpinan sidang pleno Musda MUI). Pada hari kedua, Pleno III (Diskusi Panel), Pleno IV (Laporan Pertanggungjawaban MUI Masa Khidmad 2013-2018), Pleno V (Pemandangan/Tanggapan Umum Dewan Pimpinan MUI Kab./Kota, Sidang Komisi), Pleno VI (Laporan dan Pengesahan Hasil Sidang Komisi), Pleno VII (Pembahasan Tatib Pemilihan Ketua Umum dan Formatur) dan Pleno VIII (Pemilihan Pengurus Masa Khidmad 2018-2023 melalui sidang formatur). Dan pada hari terakhir, Pleno IX berisi rangkaian acara Pengesahan Ketua Umum dan Formatur MUI Masa Khidmad 2018-2023 dan Penutupan Musda MUI Provinsi Kalimantan Barat.

Dari beberapa rangkaian kegiatan diatas, ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan Musda ke-VIII MUI Propinsi Kalimantan Barat tahun ini. Yaitu pemilihan Ketua dan Pengurus MUI untuk masa khidmat 2018-2023, konsolidasi organisasi MUI, menyusun program kerja dan rekomendasi organisasi MUI.

Adapun para peserta Musda ke-VIII MUI Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2018 ini terdiri dari Pengurus Dewan Pimpinan MUI Propinsi Kalimantan Barat Masa Khidmat 2013-2018, Pengurus MUI dari 14 Kabupaten/Kota, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama' Propinsi Kalimantan Barat, Pengurus Wilayah Muhammadiyah Propinsi Kalimantan Barat dan beberapa Ormas serta para tamu undangan.

“Saya berharap, kegiatan Musda ke-VIII MUI Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2018 ini dapat berjalan dengan lancar dan terpilihnya Ketua dan Pengurus MUI Propinsi Kalimantan Barat untuk masa khidmat 2018-2023 yang amanah dalam menjalankan tugas-tugasnya,” harap Riza yang juga sebagai Dosen IAIN Pontianak ini. []
(Ed. Asb)
Read More

Trans-Gender dalam Pandangan Syari'at Islam


muslimpribumi.com - Sebelum kita membicarakan lebih lanjut tentang trans-gender, alangkah baiknya kita menyimak terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan trans-gender itu. Sebab, dalam alur pembahasan, haruslah terlebih dahulu bisa menggambarkan secara utuh apa yang akan dibahas.

Dalam wikipedia, pengertian trans-gender adalah orang yang memiliki identitas gender atau ekspresi gender yang berbeda dengan seksnya yang ditunjuk sejak lahir. Misalnya, orang yang secara biologis perempuan, ternyata lebih nyaman berpenampilan dan berperilaku seperti laki-laki. Atau, sebaliknya.

Terkadang, trans-gender juga disebut dengan trans-seksual, jika ia menghendaki bantuan medis untuk transisi dari seks satu ke seks yang lain. Dengan kata lain, ia melakukan operasi kelamin. Setelah kita mengetahui apa itu trans-gender, maka marilah kita mengkaji bagaimana pandangan agama terkait dengan hal ini.

Kalau kita tarik lebih jauh, istilah trans-gender di dalam kajian hukum syari'at, lebih dekat dengan istilah al-mukhannits (lelaki yang berperilaku seperti perempuan) wal-mutarajjilat (perempuan yang berperilaku seperti laki-laki).

Di dalam fiqih klasik disebutkan bahwa seorang mukhannits dan mutarajjil statusnya tetap tidak bisa berubah. Disampaikan di dalam Kitab Hasyiyatusy-Syarwani.

ولو تصور الرجل بصورة المرأة أو عكسه فلا نقض في الاولى وينتقض الوضوء في الثانية للقطع بأن العين لم تنقلب وإنما انخلعت من صورة إلى صورة

Artinya, “Seandainya ada seorang lelaki mengubah bentuk dengan bentuk perempuan, atau sebaliknya, maka–jika ada lelaki yang menyentuhnya–tidak batal wudlu'nya dalam permasalahan yang pertama (lelaki yang mengubah bentuk seperti wanita), dan batal wudhu’nya di dalam permasalahan yang kedua (wanita yang mengubah bentuk seperti lelaki). Karena dipastikan bahwa tidak ada perubahan secara hakikatnya. Yang berubah tidak lain hanya bentuk luarnya saja,” (Lihat Abdul Hamid Asy-Syarwani, Hasyiyatus-Syarwani, Beirut, Darul-Kutub Al-Islamiyyah, cet. ke-5, 2006, jil. 1, hal. 137).

Dengan demikian, walaupun seseorang telah mengalami trans-gender atau trans-seksual, maka tetap tidak bisa mengubah statusnya. Dalam artian, yang laki-laki tetap laki-laki dan yang perempuan tetap perempuan.

Selanjutnya, mengenai takhannuts, An-Nawawi berkata:

المخنث ضربان أحدهما من خلق كذلك ولم يتكلف التخلق بأخلاق النساء وزيهن وكلامهن وحركاتهن وهذا لا ذم عليه ولا إثم ولا عيب ولا عقوبة لأنه معذور والثاني من يتكلف أخلاق النساء وحركاتهن وسكناتهن وكلامهن وزيهن فهذا هو المذموم الذي جاء في الحديث لعنه

Artinya, “Mukhannits ada dua. Pertama, orang yang terlahir dalam kondisi demikian (mukhannits) dan ia tidak sengaja berusaha berperilaku seperti perilaku para wanita, pakaian, ucapan dan gerakan-gerakannya. Mukhannits semacam ini tidak tercela, tidak berdosa, tidak memiliki cacat dan tidak dibebani hukuman karena sesungguhnya ia orang yang ma’dzur (dimaafkan sebab bukan karena kesengajaan dan usaha darinya). Yang kedua, orang yang sengaja berusaha berperilaku seperti perilaku para wanita, gerakan-gerakannya, diamnya, ucapan dan pakaiannya. Mukhannits yang keduanya inilah yang dilaknat di dalam hadits,” (Lihat Al-Mubarakhfuri, Tuhfatul-Ahwadzi, Beirut, Darul-Fikr Al-Ilmiyyah, Cet. ke-2, 2003 M, jil. VIII, hal. 57).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَعَنَ الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاتِ مِنَ النِّسَاءِ

Artinya, “Sungguh, baginda Nabi SAW. melaknat para lelaki yang mukhannitsin dan para wanita yang mutarajjilat,” (HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud).

Hadits ini secara tegas menyatakan bahwa baginda Nabi SAW. melaknat terhadap perilaku takhannus dan tarajjul yang memastikan bahwa perbuatan tersebut hukumnya haram. Diantara alasan dan hikmah larangan atas perbuatan seperti ini adalah menyalahi kodrat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Al-Munawi berkata di dalam karyanya, Faidhul-Qadir:

وحكمة لعن من تشبه إخراجه الشئ عن صفته التي وضعها عليه أحكم الحكماء

Artinya, “Hikmah dari laknat terhadap orang yang berusaha menyerupai lawan jenis adalah mengeluarkan sesuatu dari sifat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Bijaksana (Allah SWT.),” (Lihat Zaid Al-Munawi, Faidh Al-Qadir, Beirut, Darul-Fikr Al-Ilmiyah, Cet. ke-2, 2003 M, jil. V, hal. 271).

Di samping itu, kenyataan yang ada, ketika seorang lelaki berperilaku seperti wanita, atau sebaliknya, maka sebenarnya ada alasan tertentu yang kalau dinilai secara syari'at adalah alasan yang tidak baik. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Al-Munawi di dalam Faidhul-Qadir:

والمخنث قد يكون قصده عشرة النساء ومباشرته لهن وقد يكون قصده مباشرة الرجال له وقد يجمع الأمرين

Artinya, “Seorang yang mukhannits terkadang tujuannya agar bisa bergaul dan berkumpul dengan para wanita. Terkadang tujuannya agar disukai oleh para lelaki. Dan terkadang tujuannya adalah kedua-duanya,” (Lihat Zaid Al-Munawi, Faidhul-Qadir, Beirut, Darul-Fikr Al-Ilmiyah, Cet. ke-2, 2003 M, jil. IV, hal. 332).

Jika ada yang menyatakan bahwa dulu baginda Nabi SAW. pernah membiarkan seorang mukhannits masuk ke tengah para wanita sehingga hal ini menunjukkan bahwa takhannuts tidaklah diharamkan, maka sesungguhnya kejadian itu dikarenakan orang tersebut kondisi takhannuts-nya sejak lahir dan diduga ia sama sekali tidak ada hasrat dengan lawan jenis. Namun setelah diketahui bahwa ia bisa menyebutkan kondisi-kondisi para wanita yang ia masuki, maka iapun dilarang berkumpul dengan para wanita. (Lihat Al-Mala Al-Qari, Mirqatul-Mafatih Syarh Misykatil-Mashabih, Beirut, Darul-Fikr Al-Ilmiyyah, Cet. ke-3, 2004 M, jil. X, hal. 64).

Dari semua keterangan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
  1. Trans-gender adalah kata lain dari takhannuts dan tarajjul.
  2. Trans-gender tidak bisa mengubah status kelamin.
  3. Trans-gender hukumnya haram dan mendapat laknat.
Wallahu a’lam.[]
(Mohammad Sibromulisi)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa


Assalamu 'alaikum warahmatulLaahi wabarakatuh

Semoga rahmat Allah SWT. selalui menaungi kita semua dan syafa'at RasululLah menghampiri kita di hari akhir nanti.

Mencermati perkembangan beberapa bulan terakhir ini, isu dan praktek kekerasan kepada siapapun di negeri ini tengah menjadi perbincangan. Tentunya kita harus pandai, bijak dan cerdas dalam mencerna segala informasi yang tengah berkembang.

Mengenai isu bangkitnya PKI (Partai Komunis Indonesia), isu semacam ini akan sering berhembus pada tahun politik. Tahun politik ini menjadi ajang kontestasi gagasan, kekuatan, sekaligus isu-isu yang saling mempengaruhi. Mengapa? Karena sebagaimana kita tahu bahwa isu ini sangat sensitif dan mudah menyulut emosi dan perasaan segenap lapisan bangsa ini. Kita semua sepakat bahwa PKI telah menjadi partai terlarang secara hukum dan sampai sekarang masih berlaku.

Kalau saya ditanya, bagaimana jika PKI hidup kembali? Saya tentu akan dengan tegas menjawabnya, tidak. Namun, akan lain soal jika pertanyaannya adalah bagaimana mengenai wacana atau polemik bangkitnya PKI? Tentu jawabannya akan sangat panjang dan tidak mungkin saya tuangkan dalam renungan pendek ini. Sebuah jawaban yang paling sederhana adalah dulu tentara yang membasmi PKI, kalau sekarang PKI akan bangkit lagi, tentu tentara tidak akan tinggal diam. Kecuali jika tentara sudah tiada semuanya, bolehlah kita sedikit gusar atas isu bangkitnya PKI.

Saya sangat mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman teror kepada para pemuka agama. Terlebih pada para panutan kita, kiai.

Seringkali saya menjumpai bahwa antara fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama. Sebaran informasi yang tidak bertanggungjawab itu sudah dibumbui. Ditambahi penyedap supaya menjadi gorengan murahan.

Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast. Kita terima dan langsung kita share tanpa terlebih dahulu melakukan ricek. Sehingga kita akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. Atas berita yang kita terima, jika kita tidak mampu melakukan ricek, akan lebih baik jika kita diamkan dan menunggu informasi valid dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai satu contoh, saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, tempo hari. Begitu mendapati sesuatu yang mencurigakan, langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses. Inilah karakter pesantren yang menjadi jati diri kita. Kejadian di Al-Falah, Ploso, hampir saja menjadi isu besar yang tidak bertanggungjawab jika tidak segera diambil langkah antisipatif.

Kalau bicara soal pembelaan kita terhadap kiai, tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi. Semboyan kita adalah Bela Kiai Sampai Mati! Artinya apa? Kita tidak akan pernah mundur sejengkalpun ketika para kiai kita diteror, diancam dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. Dalam membela kiai, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri.

Disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga para kiai kita. Apakah kita menjaga kiai karena kiai tidak mampu menjaga dirinya? Tidak! Beliau sudah tidak ambil pusing soal keamanan dirinya. Karena bagi beliau, yang terpenting adalah bagaimana mengayomi dan menemani umat dan masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Dan soal menjaga kiai adalah bagian dari kewajiban kita sebagai Pagar NU dan Bangsa.

Oleh karenanya, kenapa saya serukan untuk selalu sowan kiai? karena banyak hal yang akan kita terima dari beliau. Tidak hanya menjaga energi. Tetapi juga sekaligus menjaga beliau sepanjang waktu.

Kiai kita adalah para kiai yang selalu teduh dalam bersikap, ramah dalam ber-mu'asyarah dan bijak dalam bertindak. Kiai mengajari kita bagaimana beretika dan bersopan santun. Kita juga belajar, apa dan bagaimana arti penting tabayyun dari beliau. Pelajaran banyak dan dahsyat ini akan selalu kita temui dalam keseharian kiai, bukan hanya teori. Dan teror atau ancaman yang kini tengah terjadi adalah bagian kecil dari perjuangan kiai.

Akhirnya, saya mengajak semua pendekar untuk bergandeng tangan menjaga kiai kita dan merapatkan barisan kita. Secara berkala, kita harus berkoordinasi dengan pengurus NU dan aparat yang berwenang. Untuk menjaga keamanan, juga perlu peran serta masyarakat dalam mewujudkan dan menciptakan rasa aman. Dan untuk menciptakan rasa aman, tidak perlu terlebih dahulu diciptakan rasa tidak aman.

Semoga Allah SWT. senantiasa meridlai segala langkah kita.

Wassalamu 'alaikum warahmatulLaahi wabarakatuh

Muchamad Nabil Haroen, Ketua Umum PP. Pagar Nusa. []
Read More

Pentingnya Kreatifitas Bagi Pesantren


muslimpribumi.com - Pengelola lembaga pendidikan Pondok Pesantren tidak cukup hanya bermodalkan kecerdasan. Tetapi juga harus kreatif. Kreatifitas dalam mengelola pesantren sangat diperlukan supaya pesantren-pesantren bisa terus berinovasi untuk menyesuaikan diri dengan jaman yang sudah Milenial ini .

Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr. H. A. Helmy Faishal Zaini (HFZ) pada saat meresmikan Rumah Aspirasi dan Berugak Baca Helmy Faishal Zaini di Pondok Pesantren Sirajul Huda Paok Dandak, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Rabu kemarin.

HFZ mengungkapkan bahwa ada banyak pesantren kreatif di Indonesia yang bisa ditiru. Ada yang kreatif dibidang ekonomi, sosial kemasyarakatan, kesehatan dan juga kreatif di bidang dakwah.

Helmy menyebutkan salah satu contoh pesantren yang patut ditiru adalah Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur. Menurutnya, Pesantren ini telah berhasil mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro Syari'ah melalui pendirian Baitul Maal Wat Tamwil (BMT).

Melalui BMT, Pesantren Sidogiri berhasil memerankan diri tidak hanya sebagai Pesantren tempat belajar agama ribuan santri, tetapi juga sukses memberdayakan dan mendorong kemandirian pesantrennya, kemandirian santri, alumni dan masyarakat luas di Jawa Timur.

"Sidogiri ini luar biasa. Mengawali BMT dengan modal hanya 50 juta, tapi sekarang sudah memiliki ratusan cabang dan omsetnya mencapai 3.5 Triliun," tuturnya.

Menurutnya, hal ini bisa dilakukan oleh Pesantren Sidogiri karena pesantren ini menggunakan daya kreatifitasnya. Sehingga inovasi-inovasi bisa terus dilakukan.

Selain Pesantren Sidogiri, HFZ juga mencontohkan pesantren di Cicalengka, Jawa Barat yang melakukan pemberdayaan dengan cara mengajak masyarakat untuk menanam satu jenis tanaman khusus di halaman rumahnya.

"Kalau disini, pesantren mengambil peran pemodal sekaligus pengepul. Masyarakat diajak bertanam, lalu hasilnya dijual ke pesantren," jelasnya.

HFZ bersyukur, di Lombok, Nusa Tenggara Barat ini, ada pesantren seperti Sirajul Huda yang memulai hal-hal kreatif seperti itu. Di Pesantren ini ia juga menyaksikan kreatifitas-kreatifitas yang serupa. Mengembangkan Agribisnis dan Multimedia yang kemudian diajarkan pada santri-santrinya.

"Kita bersyukur, Sirajul Huda menambah daftar pesantren-pesantren kreatif di Indonesia. Maka, saya berharap supaya pesantren ini bisa lebih banyak lagi memberdayakan masyarakat. Terutama disektor ekonomi dimasa-masa mendatang," tandasnya lagi. [] (Ed. Asb).
Read More

900 Ulama Komisi Fatwa MUI Akan Ijtima' Nasional


muslimpribumi.com, Lombok - Majelis Ulama' Indonesia (MUI) dalam waktu dekat akan menyelenggarakan Ijtima' Nasional Komisi Fatwa MUI yang akan dihadiri oleh tidak kurang 900 orang ulama' se-Indonesia yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Tengah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Plt. Bupati Lombok Tengah, H. L. Fathul Bahri, SP., saat memberikan sambutan pada acara Rapat Pleno PCNU Lombok Tengah di Pendopo Wakil Bupati Lombok Tengah pada Selasa kemarin.

Fathul Bahri menjelaskan bahwa ia telah diundang rapat oleh pengurus MUI Pusat dan diputuskan bahwa Ijtima' Nasional MUI itu akan dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah.

Pada acara tersebut, Pemkab Lombok Tengah diminta untuk memfasilitasi semua akomodasi dan transportasi peserta. Mulai dari pembukaan sampai penutupan acara.

"Kalau untuk melayani ulama', Lombok Tengah selalu siap. Kita akan melayani dengan maksimal," ungkap Fathul.

Sementara itu, Ketua Rais Syuriyah PCNU Loteng menyatakan bahwa Lombok Tengah patut bersyukur, terlebih PCNU Lombok Tengah. Karena kedatangan para ulama' ini pasti akan membawa keberkahan untuk Lombok Tengah dan juga Nahdlatul Ulama'.

Dijelaskannya juga bahwa Acara Ijtima' Majelis Fatwa MUI ini adalah acara Nasional yang sangat penting. Sebab pembahasannya mengenai isu-isu aktual dan problematik yang dihadapi oleh Umat Islam Indonesia.

"Kita, Lombok Tengah, tentu akan menjadi bagian dari sejarah besar umat Islam. Sejarah besar warga Nahdlatul Ulama' juga. Karena di Lombok Tengah ini adalah Lumbungnya NU di NTB," tandasnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh Syuriah, mulai dari PCNU hingga MWC. NU se-Kabupaten Lombok Tengah, untuk turut membantu Pemerintah Kabupaten dalam mensukseskan kegiatan tersebut. [] (Asb).
Read More

Piala Presiden Festival Sholawat Nusantara


muslimpribumi.com, Jakarta - Sejumlah Organisasi Kemasyarakatan (ormas) Keagamaan dan Kepemudaan akan menggelar Festival Sholawat Nusantara.

Festival ini merupakan perlombaan berjenjang yang memperebutkan piala Presiden Joko Widodo. Lomba ini akan diikuti oleh beragam kelompok dan kalangan. Mulai kalangan pesantren, mahasiswa dan pelajar, hingga kelompok-kelompok atau majelis-majelis pengajian kantor, BUMN serta berbagai majelis keagamaan di masyarakat.


Lomba akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Mulai dari lomba antar kecamatan, lalu antar kabupaten yang kemudian diteruskan ke antar provinsi, hingga ke tingkat nasional.

“Dengan tema acara "Cinta Sang Nabi", kami ingin menabur kembali nilai Islam yang penuh bahasa cinta, bukan bahasa perbedaan dan kebencian. Ini adalah upaya merawat tradisi dan kearifan lokal, sekaligus mengangkat kembali kekayaan Islam Nusantara,” kata inisiator  Festival Sholawat Nusantara, Nusron Wahid, saat konferensi pers di Jakarta.

Nusron yang menjadi Ketua Panitia Pengarah mengungkapkan bahwa kekayaan tradisi sholawat di Indonesia merupakan bukti bahwa kehadiran Islam tidak menggerus budaya lokal. Tapi justru membaur dan saling menguatkan.

Menurut Ketua Panitia Acara, Habib Sholeh, digelarnya acara ini sekaligus sebagai inisiatif untuk lebih mengedepankan ajaran Islam yang damai dan menumbuhkan kecintaan pada Nabi Muhammad SAW.

“Kita perlu mengingatkan kembali ruh ajaran Islam yang meneladani akhlaq Rasulullah SAW. Sholawat sebagai ekspresi cinta umat kepada Nabinya merupakan salah satu cara untuk memberikan nuansa Islam yang sejuk,” katanya.

Sekretaris PP. RMI ini meyakini bahwa ketika kita kembali terbiasa mengekspresikan bahasa cinta dalam tradisi keagamaan, maka akan tercipta suasana yang lebih adem.

“Agama jadi perekat yang menguatkan. Bukan menjadi faktor yang bisa memecah belah,” tukasnya.

Untuk pembukaan acara ini, akan digelar sebuah perhelatan yang menggambarkan kekayaan tradisi sholawat. Pada acara pembukaan yang dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2018 ini akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Sementara acara lombanya sendiri akan dimulai di seluruh Indonbesia pada awal Maret 2018. Dan puncak acara sekaligus finalnya akan dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2018 yang bertepatan dengan Peringatan Hari Santri.

“Harus diakui, tradisi sholawat tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren,” ungkap habib Sholeh.

Acara ini terlaksana atas kerjasama beberapa lembaga seperti Lazisma, PP. RMNU, Jama'ah Dzikir Yaqowiyy, Ikhwanul Muballighin, PP. IPNU dan FKDT.

“Kesemua lembaga ini memang yang selama ini menjadikan tradisi sholawat sebagai bagian dari nafas perjuangannya. Jadi ini adalah kerja besar dan kerja bersama untuk tujuan manggaungkan kecintaan kita kepada Sang Nabi,” tutup Habib Sholeh.
Read More

Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri


muslimpribumi.com | Semarang - Kitab yang dikarang oleh KH. Bisri Mustofa, Rembang, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) disebutkan memiliki pesan sejarah dan nasionalisme. Mbah Bisri memang ulama' Jawa yang sangat luar biasa. Karyanya sangat banyak sekali.

"Kita harus banyak berguru dari karya beliau yang berjumlah 176 kitab dan buku," kata Drs. Anasom M. Hum., Ketua Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PPIBJ) UIN Walisongo.

Melihat banyaknya kitab karya Mbah Bisri, maka PPIBJ menggelar diskusi yang membedah tiga Kitab Jawa Pegon, yaitu: Tafsir Al-Ibriz, Tarikhul-Auliya' dan Ngudi Susilo, di metting room LP2M UIN Walisongo.

"Tiga kitab yang dikupas ini jelas memberikan warna karya ulama' Jawa yang sangat peduli terhadap sejarah dan nasionalisme," kata M. Rikza Chamami, dosen FITK UIN Walisongo yang membedah Kitab Ngudi Susilo.

Pesan nilai sejarah Walisongo hingga kemerdekaan Indonesia ditulis secara rapi oleh Mbah Bisri dalam Kitab Tarikhul-Auliya'. Sedangkan pesan-pesan mencintai agama dan negara ditulis dalam Kitab Ngudi Susilo.

Dr. Abu Rokhmad M. Ag., dosen FISIP yang membedah Tafsir Al-Ibriz, juga menyampaikan kehebatan karya Mbah Bisri.

"Dulu tidak ada yang bisa menerjemah 30 juz tafsir yang dikarang Mbah Bisri karena saking sempurnanya," kata dosen FISIP tersebut. "Setiap ada yang mau menerjemah selalu gagal ditengah jalan," imbuhnya.

Tujuan menulis tafsir Al-Ibriz ini jelas agar masyarakat Jawa yang tidak paham bahasa Arab bisa mengetahui artinya dengan bahasa Jawa.

"Ada pola makna gandul khas pesantren dan terjemah bebas dalam tafsir Al-Ibriz ini," jelasnya lebih lanjut.

Bahkan, tafsir ini sudah dipakai untuk mengajar para kiai di semua pesantren di Indonesia, bahkan di Malaysia, Brunei dan Thailand.

Pelajaran yang bisa diambil dari ketokohan Mbah Bisri yaitu untuk menjadi orang luar biasa, bisa dimulai dari orang biasa. Generasi muda saat ini juga perlu meniru produktifitas para ulama' dalam menerbitkan kitab dan buku yang dijadikan bekal referensi di masa mendatang. [] (Asb)
Read More

Ketua PWNU Jatim Minta Umat Tidak Terprovokasi


muslimpribumi.com, Surabaya - Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, KH. Hasan Mutawakkil Alallah, meminta kepada umat Islam agar tidak terprovokasi dengan serangkaian peristiwa terkait keagamaan yang terjadi di sejumlah daerah beberapa akhir ini.

"Semua harus tetap tenang. Tak terprovokasi. Tapi, tetap waspada dan tidak perlu mengambil tindakan sendiri," ujarnya ketika dikonfirmasi di Surabaya, Selasa.

Menurutnya, kehidupan masyarakat antar agama di Jatim telah berjalan baik dan harmonis. Sehingga diharapkan tidak ada yang terpancing provokasi dalam bentuk apapun.

Serangkaian peristiwa tentang keagamaan di Jatim telah terjadi beruntun. Mulai penyerangan Masjid Baitur Rohim di Tuban pada Selasa, 13 Februari 2018. Kemudian penyerangan terhadap Kiai Hakam selaku pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah, Karangasem, Paciran, pada Minggu, 18 Februari.

Peristiwa lainnya yaitu dugaan adanya teror oleh orang tak dikenal kepada pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri, Senin malam, 19 Februari.

Pihaknya berharap supaya aparat kepolisian bersungguh-sungguh untuk mengusut tuntas seluruh kasus yang terjadi di Jatim akhir-akhir ini sekaligus mengungkap motifnya.

"Semua kami serahkan ke kepolisian selaku aparat paling berwenang untuk mengungkapnya. Termasuk menyelidiki, apakah kriminal murni, atau ada gerakan terencana dari pihak tak bertanggung jawab," ucapnya.

Polisi dan NU, katanya, mempunyai visi dan tujuan yang sama, yakni menciptakan rasa aman dan tertib ditengah masyarakat dalam mewujudkan NKRI berdasarkan Pancasila.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo tersebut menyampaikan, sebagai umat beragama ditengah banyaknya informasi dan opini, diharapkan umat kembali pada tuntunan agama.

“Mari, jaga bersama lingkungan disekitar kita. Hindari saling menebar kebencian, adu domba dan fitnah antar golongan atau antar umat beragama yang justru merusak sendi kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Terutama di tahun politik 2018 dan 2019,” pungkas kiai Mutawakkil.
Read More

Buletin Jum'at Risalah NU Edisi 06


Buletin Jum’at Risalah NU edisi 06 dengan judul: Keteladanan Rasulullah SAW. dalam Upaya Pemberantasan Korupsi.

Buletin ini dikelola oleh Divisi Penerbitan dan Percetakan Lembaga Ta’lif wan Nasyr (Lembaga Infokom dan Publikasi) PBNU dan bisa didownload di: https://drive.google.com/file/d/1zd3e8aNLzrXoQw-cBQ7GaKwQAMqRA7Yv/view
Read More

Agama Tanpa Budaya


muslimpribumi.com, Cirebon - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama', KH. Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa agama dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Agama tanpa budaya menjadi keras. Sementara budaya tanpa agama menjadi sekuler.

“Agama tanpa budaya, ibarat robot. Kaku. Tidak toleran,” tegasnya pada Seminar Nasional yang digelar Forum Kajian Kitab Kuning (FK-3) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Ahad (18/2). Kegiatan yang diselenggarakan tahunan dalam rangka Gebyar Maulid Nabi (GMN) Muhammad SAW. itu bertema "Islam dan Budaya".

Kiai Said mengatakan bahwa Allah SWT. menurunkan wahyu pertama kepada Rasulullah SAW. dimulai dengan kata iqra' yang dapat didefinisikan sebagai bacalah, cerdaslah, pandanglah dengan luas. Cerdas, tapi tetap beriman.

“Peradaban Islam tidak pernah lepas dari dasar qul huwallaahu ahad," katanya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa saat di Yatsrib (sekarang Madinah), Rasulullah berhasil membangun umat yang tidak berdiri diatas agama. Tapi diatas tamaddun (saling menyokong).

Di Madinah, kata kiai kelahiran Cirebon itu, Nabi Muhammad membangun umat yang beradab, berbudaya, bermartabat, punya cita-cita hidup dan cerdas.

Oleh karena itu, menurutnya, sejarah peradaban Islam, sejarah budaya Islam itu lebih penting untuk dikaji daripada sejarah perang Islam ataupun sejarah politik Islam.

“Peradaban Islam diperkuat oleh banyak faktor. Salah satunya adalah sektor ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, dahulu Imam Sibawaih mengarang ilmu nahwu, kemudian dibukukan, dinadzomkan, lalu ada yang mensyarahi. Namun setelah itu, kekreativitasan berhenti dan yang ada hanyalah melanjutkan karya-karya yang telah ada,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, ia mengajak hadirin untuk mengkaji Islam dan kebudayaan, atau Islam Nusantara sebagai konsepsi Islam di Indonesia.

“Pasang surutnya peradaban Islam ini yang harus menjadi peringatan untuk kita bahwa prinsip Islam Nusantara harus dipahami dengan betul-betul,” katanya.

Contoh ulama' yang sangat memegang teguh Islam Nusantara adalah KH. Hasyim Asy'ari. Buktinya, dialah yang mencetuskan prinsip "hubbul-wathon minal-iman."

Seminar yang dimoderatori Romzi Ahmad itu juga menghadirkan dua pembicara lain, yaitu KH. Ng. Agus Sunyoto yang menyampaikan seputar sejarah proses Islamisasi budaya dari sudut pandang sejarah. Ada juga Ngatawi Al-Zastrouw yang mengantarkan pada gagasan-gagasan konsep Islamisasi dan konsep kebudayaan.


*Sumber: nu.or.id
Read More