Inflasi Ulama


rumahnahdliyyin.com - Dalam kondisi tercabik perang saudara dan dalam durasi tidak sampai satu bulan, Yaman kehilangan tiga ulamanya. Belum lama ditinggal wafat Al-Habib Salim Asy-Syathiri pada pertengahan Februari, di awal bulan ini, Al-Habib Idrus Bin Sumaith syahid di atas sajadahnya. Beliau dibunuh teroris, 3 Maret silam.

Dua hari berselang, seorang ulama zahid yang dijuluki 'Ainu Tarim (matanya Kota Tarim), Al-Habib Abdullah bin Muhammad bin Alwi Bin Syihab, menyusul dua sahabatnya. Tidak sampai satu bulan, Tarim, Hadramaut kehilangan permata ilmunya. Ketiga ulama ini masyhur ketajaman mata hatinya dan menjadi punjer-nya Yaman.

Baca Juga:
Kriminalisasi Ulama di Masa Khilafah
Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Di awal Maret ini pula, KH. R. Abd Hafidz bin Abdul Qadir Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, berpulang ke hadirat-Nya. Ulama sederhana, yang menjadi penjaga wahyu sebagaimana ayah dan kakeknya.

Satu per satu tiang pancang ilmu dirobohkan oleh Allah SWT. Kita bersedih bukan hanya karena ditinggalkan beliau-beliau. Melainkan karena kita tidak mampu menyerap gelontoran ilmu saat beliau-beliau masih hidup. Kita juga bersedih bukan hanya semakin sedikitnya stok ulama. Melainkan karena kewafatan beliau-beliau, meninggalkan generasi yang rapuh seperti saya, dan mungkin juga anda. Wafatnya beliau-beliau menjadi penanda apabila satu ulama berpulang, ikut pula keilmuan yang dimiliki.

Ibaratnya dalam dunia sepakbola, satu pemain pensiun, tidak akan bisa digantikan oleh pemain dengan kualitas yang setara. Pele, Maradona, Zidane, tidak akan bisa digantikan oleh Messi, Ronaldo, Mohammed Salah dan sebagainya. Kemampuan mereka genuine, tidak bisa dikloning dan tidak bisa di-kopipaste. Semua punya karakter dan kemampuan yang khas.

Demikian pula dalam dunia ulama. Satu orang KH. Hasyim Asy'ari, tidak bisa ditiru oleh KH. Hasyim Muzadi. Keduanya punya karakter, keilmuan dan gaya yang khas.

Di sinilah barangkali alasan mengapa dalam kitabnya, Tanqihul Qaul, Syaikh Nawawi Al-Bantani menukil sabda Rasulullah SAW. yang termuat dalam Lubabul Hadits-nya Imam As-Suyuthi bahwa diantara tanda orang munafik adalah tidak bersedih atas wafatnya seorang ulama (Baginda SAW. mengucapkan "munafik" sebanyak tiga kali).

Kalau kita biasa-biasa saja, merasa wajar atas robohnya tiang rumah kita, berarti ada yang eror dalam pribadi kita. Demikian pula ketika ada tiang pancang dunia bernama ulama yang wafat dan kita santai, tidak menampakkan simpati, mungkin ada sesuatu yang hilang dari kita. Jangan-jangan, kita bagian dari kaum munafik itu? WaLlâhu a'lam.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Madzhab Gantung Kaki

Karena itu, mengingat gentingnya kewafatan para ulama, Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, dalam Al-Manhajus Sawi, membuat penjelasan tersendiri. Dengan mengutip pendapat Imam Baghowi dalam tafsirnya, Habib Zain memuat QS. Ar-Ra'd ayat 41 (dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?) dengan memaknai apabila "pengurangan" dalam ayat ini bermakna kematian para ulama dan hilangnya ahli fiqh.

Begitu berharganya seorang ulama hingga dalam kitab ini pula Habib Zain mengutip kalimat Sayyidina 'Abdullah ibnu Mas'ud radliyaLlâhu 'anhu bahwa kematian seorang ulama adalah lubang dalam Islam dan tidak ada yang bisa menambalnya sepanjang siang dan malam. Oleh karena itu, kata Ibnu Mas'ud, carilah ilmu sebelum dicabut. Dan, ilmu dicabut dengan kematian orang-orangnya.

Demikian gawatnya kewafatan seorang ulama hingga Sayyidina 'Ali karramaLlâhu wajhah juga menganalogikannya dengan telapak tangan. Apabila dipotong salah satunya, maka tidak bisa tumbuh kembali.

Demikian beberapa keterangan yang termuat dalam Al-Manhajus Sawi karya Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.

***

Dalam Konferensi Dakwah yang dihelat di Magelang, 1 Oktober 1951, KH. A. Wahid Hasyim melontarkan statemen keras bahwa saat itu sebutan ulama sudah mengalami inflasi. Inflasi tersebut, menurut Kiai Wahid, diakibatkan dari banyaknya ulama "palsu" yang beredar sebagaimana inflasi dalam bidang ekonomi karena banyaknya peredaran uang palsu.

Banyak orang yang disebut ulama hanya untuk menunjukkan bahwa menjadi ulama itu tidak sulit. Meskipun pengetahuan keagamaan mereka dangkal, tetapi mereka dipandang sebagai pemimpin Islam. Mereka justru malah memimpin para ulama yang sesungguhnya. Bahkan, membatasi ruang geraknya.

Statemen kiai Wahid Hasyim diatas, dikemukakan kembali oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya Berangkat dari Pesantren.

Jika di era 1950-an saja kiai Wahid menilai seperti itu, lantas bagaimana dengan kondisi sekarang. Dimana selain banyak yang mendaku diri sebagai ulama, juga ada yang berlagak mujtahid mutlak yang dengan songong dan sombong bilang tidak perlu merujuk pendapat otoritatif para ulama, cukup merujuk pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Benarlah jika demikian, kewafatan para ulama ternyata juga memunculkan generasi yang tidak tahu diri karena terlalu tinggi menilai kualitas dirinya.

WaLlâhu a'lam bishshowâb.


* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Surabaya.
Read More

Madzhab Gantung Kaki


rumahnahdliyyin.com - Ini pengalaman KH. Mansur Adnan, salah satu Syuriah PWNU Jatim pada tahun 1980-an, sewaktu beliau diundang ceramah di daerah Malang Selatan yang terkenal tandus dan langka air.

Ketika itu, kiai Mansur mampir di sebuah musholla untuk sholat isya'. Waktu mengambil air wudlu' di pancuran, air mengalir sangat kecil. Beruntung tidak habis sampai ia sempurna berwudlu'.

Waktu itu, sholat jama'ah sudah masbuq (ketinggalan). Setelah kiai Mansur mendapat satu roka'at, ada seseorang menyusul sholat di samping kanannya. Pada waktu ruku', orang tadi nyaris jatuh. Tapi beruntung, tertahan oleh kiai Mansur.

Waktu kiai Mansur sudah salam, orang di sisi kanan tadi masih melanjutkan sholatnya. Tapi, kiai Mansur heran. Orang itu ternyata hanya berdiri dengan satu kaki, yaitu kaki kanannya.

"Oh, mungkin kaki kirinya sakit. Makanya tadi hampir jatuh," batin kiai Mansur.

Setelah sholatnya selesai, sambil saling memperkenalkan diri, kiai Mansur bertanya basa-basi.

"Tadi waktu sholat, kaki kirinya kok diangkat, apa sedang sakit?"

"Tidak, kiai. Tadi waktu wudlu', saya kehabisan air ketika tinggal membasuh kaki kiri. Jadi, kaki kiri saya tidak bisa ikut sholat," jawab pria itu dengan lugunya.

Oooo… Mendengar jawaban polos tadi, kiai Mansur tidak jadi menegur. Hanya membatin: Ternyata ada madzhab baru. Namanya "Madzhab Gantung Kaki". []


* Oleh: Rijal Mumazziq Z., Ketua Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Surabaya.
Read More

Politiknya Kiai


rumahnahdliyyin.com - Kiai itu bukan cendekiawan yang–seperti ditamsilkan oleh Arief Budiman—berumah di angin. Pergulatan ilmiah memang menempati satu ruang istimewa dalam perihidup kiai. Tapi bukan yang paling banyak menyita energinya.

Melanjutkan tradisi yang telah dimapankan sejak era Wali Songo, sosok kiai hadir terutama sebagai missionaris. Dalam perkembangan kiprahnya, kiai beserta para pengikutnya membangun komunitas tersendiri yang independen–oleh Gus Dur digambarkan sebagai subkultur dimana kiai kemudian tegak sebagai pemimpin paripurna.

Ia mengayomi kehidupan rohani pengikut-pengikutnya, sekaligus menggeluti segala tungkus-lumus duniawi mereka. Ia mewakili, memakelari dan seringkali harus mengkonsolidasikan mereka untuk “menghadapi dunia luar”.

Dalam konteks ini, jelaslah bahwa kiai, pada dasarnya, juga pemimpin politik. Sepanjang sejarah, kiai senantiasa menjadi pengimbang (counterfailing-elite) terhadap para penguasa keraton.

Baca Juga: Mengapa Indonesia Tidak Mau Negara Islam

Catatan Sartono Kartodirdjo, bahkan lebih menegaskan lagi fungsi kepemimpinan politik kiai: pada sekitar 600 kali pemberontakan petani melawan VOC selama abad ke-19, hampir seluruhnya diprakarsai oleh gerakan-gerakan tarekat, dimotivasi dengan seruan-seruan agama dan dipimpin oleh… kiai! Ketika komunitas disekitar kiai mengalami tekanan dari luar, fungsi kepemimpinannya menuntutnya untuk tidak tinggal diam.

Semua analisis sosiologi dan ekonomi menyatakan bahwa dibawah rezim kapitalis moderen, komunitas-komunitas lokal semakin tertekan. Politik ekonomi negara justru cenderung mempersempit ruang gerak mereka. Lebih-lebih setelah globalisasi, dimana negara sendiri tertekan oleh kekuatan-kekuatan raksasa global, komunitas-komunitas lokal kian lantak.

Ditengah situasi ini, bukankah peran politik kiai sebagai pemimpin lokal semakin relevan? Bahkan, cukup banyak kiai masa kini yang semangat berpolitiknya tumbuh justru karena masih diliputi “romantisme peran kepemimpinan masa lalu” itu.

Hanya saja, kiprah politik kiai dewasa ini memang menunjukkan tanda-tanda “dekaden”. Pengaruhnya memudar. Langkah-langkahnya rombeng dan tumpul. Pilihan-pilihannya ceroboh. Sasaran-sasarannya "remeh". Tak heran jika sebagian orang menjadi jemu dibuatnya. Kemudian menyerukan agar kai-kiai berhenti saja dari mengurusi politik.

Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU

Dekadensi itu berakar pada sekurang-kurangnya sejumlah faktor berikut:
Pertama, wawasan politik kiai belum juga beranjak dari wacana kitab kuning. Dalam wacana kepustakaan klasik pesantren itu, kekuasaan hanya dikaitkan dengan jabatan (imaamah). Maka, yang dibicarakan hanya seputar kriteria normatif calon pejabat (imaam), tata-cara mendaulat pejabat (nashbul imaam) dan etika kepejabatan atau panduan akhlaq untuk pejabat.

Politik memang soal kekuasaan. Tak ada politik tanpa keterkaitan dengan kekuasaan. Masalahnya, kebanyakan kiai belum menyadari adanya wujud-wujud kekuasaan selain jabatan. Yang tampak dari kiprah politik mereka nyaris seluruhnya berkutat diseputar dukung-mendukung calon pejabat di berbagai cabang dan tingkat pemerintahan.

Kiai belum cukup memahami kekuasaan dalam wujud kekuatan kelompok penekan. Dalam wujud penguasaan sumberdaya-sumberdaya ekonomi, alam dan manusia. Dalam wujud jaringan kepentingan dan sebagainya. Memahami saja belum, apalagi memainkannya secara kreatif.

Kedua, gerusan peradaban global telah meruntuhkan batas-batas komunitas independen yang menjadi keratonnya kiai di masa lalu.

Kini, praktis kerajaan kiai hanya setakat pagar batas pesantrennya saja. Intensitas pergulatannya dengan masyarakat diluar pagar itu berkurang. Kalaupun masih ada ikatan khusus dengan kelompok-kelompok tertentu, posisi-pusat kiai lebih berwatak selebritas ketimbang kepemimpinan langsung.

Dengan sendirinya, penghayatan kiai terhadap kepentingan komunitas lokal pun berkurang. “Kepentingan sempit” dari lembaga pondok-pesantren miliknya sendiri semakin mendominasi motivasi politik kiai. Kalaupun ada agitasi tentang kepentingan yang luas, tema dan argumennya malah bersifat abstrak seperti: membela agama, anti-komunis, anti-liberal, anti-ahmadiyah, anti-porno dan sebagainya. Kepentingan riil dari komunitas lokal terlewati.

Celakanya, gagasan-gagasan abstrak yang akhir-akhir ini digemari sejumlah kiai itu–walaupun mungkin populer di media massa—justru oleh rakyat banyak tak dirasakan relevansinya dengan masalah-masalah nyata kehidupan mereka. Kiprah politik kiai pun kian teralienasi dari lingkungannya.

Ketiga, kemiskinan yang merajalela dan kehidupan ekonomi yang semakin sulit telah merontokkan nilai luhur dan ideologi dari daftar motivasi politik rakyat. Masa depan yang terasa gelap membuat mereka tak acuh pada kepentingan jangka panjang. Barangsiapa memberi sedikit kenyamanan untuk hari ini–bukan janji besok, apalagi masa depan yang jauh—kepadanyalah mereka berpihak. Bahkan agama itu sendiri kian tersingkir dari pusat pergulatan hidup mereka.

Jangan-jangan, merebaknya minat terhadap agama dewasa ini bukan demi agama itu sendiri. Yang terasa justru kesan bahwa masyarakat memburu agama seperti orang sakit mencari pengobatan alternatif: jalan pintas untuk keluar dari kesulitan.

Sambutan antusias terhadap seruan bersedekah tidak didorong oleh rasa keagamaan dan solidaritas sosial yang menguat, tapi oleh motivasi untuk memperoleh ganjaran rizqi yang berlipat dari yang telah dikeluarkan. Kiai dihayati sebagai dukun, politik uang diterima dengan riang-gembira.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU Untuk Kepentingan Politik Praktis

Jelas bahwa yang menjadi masalah bukan keterlibatan kiai dalam politik, tapi kualitasnya. Menyerah dan menarik diri dari politik, justru berarti putus asa.

Tantangan kiai adalah bagaimana memperkaya wawasan, memperdalam intensitas keterlibatan dengan kepentingan-kepentingan kaum lemah dan mengasah kreatifitas dan keterampilan dalam memberdayakan dan memanfaatkan instrumen-instrumen politik yang lebih beragam.


* Oleh: KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), pernah menjadi Juru Bicara Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat ini sebagai Katib ‘Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang.
Read More

Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Siang tadi, 9 Maret 2018, Majelis Ulama Indonesia (MUI), menerima kunjungan Syeikh Syarif Adnan As-Sawwaf, rektor Universitas Negeri Syam. Mewakili MUI, KH. Muhyiddin Junaidi selaku Ketua Bidang Hubungan Internasional MUI, menyambut kunjungan tersebut. Beliau memperkenalkan MUI sebagai lembaga yang menaungi ormas-ormas Islam di Indonesia.

Dalam kunjungannya, Syeikh Syarif As-Sawwaf mengapresiasi keberadaan MUI yang berperan sebagai penyatu umat Islam Indonesia disaat banyak muslim di negara lain yang terpecah belah dan mudah diadu domba.

Dalam penuturannya, Syeikh As-Sawwaf bercerita bahwa di negaranya juga ada lembaga sejenis MUI. Namanya "Ittihad Ulama Bilad As-Syam". Sayang, pembentukannya agak terlambat karena sudah menjelang krisis.

Baca Juga:
Jangan Gunakan Nama "Muslim" Untuk Sebar Hoaks
MCS Memalukan
Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Sementara itu, kepada Syeikh As-Sawwaf, KH. Muhyiddin sempat menanyakan tentang apa yang bisa dibantu oleh Indonesia untuk Suriah. Menjawab pertanyaan tersebut, Syeikh As-Sawwaf mengatakan agar berusaha membendung berita hoax tentang Suriah dan meneliti lembaga donasi yang mengaku akan menyalurkan ke Suriah.

“Donasi kepada lembaga yang tidak kredibel dan tidak bereputasi baik hanya akan membahayakan rakyat Suriah”, ujar Syeikh As-Sawwaf.

Sebelum kunjungan berakhir, KH. Muhyiddin menyampaikan rencananya untuk mengundang Syeikh As-Sawwaf dalam Konferensi Internasional di Bogor, pada bulan Mei mendatang. Dalam konferensi tersebut, akan dihadiri oleh presiden dan 50 ulama dunia tentang Islam moderat. Dan Syeikh As-Sawwaf bisa bercerita tentang kondisi di Suriah yang sebenarnya.

Mendengar tawaran tersebut, Syeikh As-Sawwaf malah balik mengundang MUI supaya datang ke Suriah.

“Anda harus melihat Suriah secara langsung sebelum menyelenggarakan acara yang akan membahas Suriah”, tawar Syeikh As-Sawwaf balik.

Pertemuan ini berlangsung selama satu jam. Dan diakhir pertemuan, keduanya saling bertukar hadiah. Syeikh As-Sawwaf memberi jubah khas Suriah kepada KH. Muhyiddin dan KH. Muhyiddin memberikan cinderamata MUI kepada Syeikh As-Sawwaf.

“Kunjungan Anda ke Indonesia menunjukkan keseriusan untuk bekerja sama. Dan kunjungan Anda kesini juga menunjukkan bahwa Suriah semakin membaik," kata KH. Muhyiddin sesaat sebelum melepas Syeikh As-Sawwaf. []




(Redaksi RN)
Read More

Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Indonesia


rumahnahdliyyin.com, Lampung - KH. Ma'ruf Amin mengungkapkan bahwa saat ini banyak berkembang aqidah yang menyimpang dan memiliki cara berfikir yang menyimpang, radikal dan intoleran. Kelompok-kelompok ini bersifat eksklusif dan gampang menilai kelompok lain salah. Bahkan, gampang menuduh orang yang tidak sepaham dengannya sebagai kafir.

"Kelompok ini dapat merusak tatanan dalam bermasyarakat dan bernegara," kata kiai Ma'ruf dalam sambutannya pada acara Pelantikan Pengurus Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) di Graha Bintang Universitas Malahayati Lampung, Kamis, 8 Maret 2018.

Baca Juga:
Mengapa Indonesia Tidak Mau Negara Islam

Untunglah bangsa Indonesia memiliki pemersatu bangsa yang diwariskan oleh para ulama dan pejuang NKRI, yaitu Pancasila.

"Kenapa Indonesia bisa bersatu sampai dengan sekarang ini? Adanya Pancasila dan Piagam Jakarta merupakan dua pilar yang menyebabkan bangsa kita satu dalam bingkai ke-Indonesia-an," jelas kiai yang kini mengemban tugas sebagai Rais 'Aam PBNU dan Ketua MUI itu.

Selain itu, kiai Ma'ruf yang juga Ketua Umum Ganas Annar Pusat ini menjelaskan bahwa Pancasila merupakan "kalimatun sawa" (pernyataan kebersamaan). Sila-sila dalam Pancasila, jelasnya, tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan, justru menambah kesejukan kehidupan ditengah keberagaman Indonesia.

"Kehidupan seperti di Indonesia ini, harus disebarkan ke seluruh dunia agar kehidupan di dunia bisa seperti kehidupan di Indonesia," tegasnya. []


* Sumber: nu.or.id
Read More

Ciri Teroris di Medsos


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Hasanuddin Ali, Founder dan CEO Alvara Research Center, mengatakan sejumlah ciri-ciri kelompok radikal dan teroris yang bisa dikenali melalui media sosial.

“Mereka melakukan indoktrinasi dengan menanamkan nilai-nilai (tafsir) agama yang radikal, ekstrim dan tertutup tentang jihad dan khilafah,” katanya pada acara Diskusi Memperkuat Media Mainstream dalam Melakukan Kontranarasi, Rabu, 7 Maret 2018, di Hotel JS. Luwansa, Jakarta.

Ia juga menyebutkan bahwa melalui media sosial, kelompok-kelompok tersebut menggunakan ayat-ayat atau dalil, misalnya, untuk membenarkan pembunuhan.

“Ciri berikutnya adalah provokasi. Mereka membangkitkan kebencian, kemarahan, permusuhan atau anti terhadap NKRI serta seruan untuk jihad, i’dad (latihan) dan hijrah,” lanjutnya pada kegiatan yang diinisiasi oleh Wahid Foundation itu.

Selain itu, kelompok-kelompok tersebut juga melakukan pelecehan terhadap negara.

“Penghinaan terhadap simbol-simbol atau lembaga negara, seperti presiden/wakil presiden, konstitusi, Pancasila, UUD '45, TNI/Polri, Densus 88 dan BNPT,” ujarnya lagi.

Melalui media sosial, kelompok-kelompok radikal juga membagikan materi pelatihan (‘idad). Seperti cara merakit bom, senjata api, rompi peledak ranjau jalan, sangkur beracun, membobol ATM, taktik perang dan strategi kemiliteran.

Tidak hanya itu, mereka juga melakukan jual beli senjata.

“Memperjual belikan berbagai macam jenis senjata api (senpi). Senapan angin (sengin), samurai (katana), pisau, golok, panah,” kata penulis buku Millenial Nusantara itu.

Secara terbuka, mereka pun melakukan aksi penggalangan dana yang bisa jadi untuk mendukung aksi teror yang mereka sebut dengan amaliyah.

Yang terakhir, mereka juga menyebarkan ancaman pembunuhan terhadap anggota TNI/Polri atau orang lain yang dicap kafir.

Ali meminta masyarakat untuk waspada. Sebab, pengguna internet di Indonesia sangat tinggi.

"Dari 262 juta penduduk Indonesia, 146, 26 juta atau 54,68 persen penduduk mengakses internet," jelasnya Ali.

Dari angka tersebut, 87,13 persen menggunakannya untuk media sosial yang mana 83,4 persen dari keseluruhan pengguna itu adalah generasi milenial. []


* Sumber: nu.or.id
Read More

Tebuireng dan Gus Dur di Mata Profesor Jepang


rumahnahdliyyin.com, Jombang - Pesantren Tebuireng kedatangan seorang tamu warga negara Jepang. Namanya Yasuko Kobayashi. Ia seorang profesor dari NanZan University Jepang dan juga seorang peneliti sosial budaya Asia.

Di NanZan University Jepang, Prof. Yasuko merupakan dosen pengampu mata kuliah Sejarah Indonesia. Karena itu, ia sangat tertarik dengan Islam dan dunia pesantren. Sebab, tidak bisa dipungkiri bahwa Islam dan pesantren merupakan ornamen penting dalam narasi besar sejarah Indonesia.

Ia ingat betul pada tahun 1984 ketika ia untuk pertama kalinya berkunjung ke Pesantren Tebuireng. Ketika itu, santri puteri masih dilokasikan di Pesantren Al-Masruriyyah yang diasuh oleh Nyai Hj. Khodijah, puteri dari KH. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Masruroh.

Pada tahun 2009, ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng. Tepatnya yaitu ketika wafatnya Presiden RI ke-4, yakni KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kemudian ia berkunjung lagi pada tahun 2015 dengan keperluan untuk melakukan observasi Muktamar NU ke-33 yang diselenggarakan di Jombang.

Setelah melakukan observasi Muktamar NU ke-33 empat tahun yang lalu, kini ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng dengan tujuan untuk melihat perkembangan Pesantren Tebuireng. Khususnya, perkembangan santri puterinya.

“Kunjungan saya ke Indonesia kali ini dalam rangka mengantar mahasiswa ke Jogjakarta untuk mengikuti kursus Bahasa Indonesia. Saya memanfaatkan waktu ini untuk berkunjung ke Jombang. Selama saya di Jombang ini, rekan saya yang menemani,” jelas Prof. Yasuko Kobayashi pada Rabu, 7 Maret 2018 kemarin lusa, sebagaimana dilansir oleh Tebuireng Online.

Prof. Yasuko menjelaskan bahwa NanZan University Jepang mempunyai fokus studi sosial dan budaya di negara-negara Asia yang mana memiliki aneka ragam budaya dan bahasa. Dan salah satu negara Asia tersebut adalah Indonesia.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Tiap tahun, dalam proses pembelajaran mengenai kebudayaan Indonesia, NanZan University Jepang mengadakan lomba pidato Bahasa Indonesia yang dibantu oleh KBRI dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Terkadang, beberapa mahasiswa juga memainkan gamelan.

Selain meninjau perkembangan Pesantren Tebuireng, Prof. Yasuko juga ingin membuktikan bahwa para santri saling berinteraksi antar lawan jenis dalam hal positif dan juga dengan orang lain di luar pesantren.

“Jepang mengenal muslim itu sangat menakutkan. Terutama ISIS. Maka dari itu, saya sangat senang membawa mahasiswa saya ke sini untuk melihat kenyataan bahwa anak pesantren juga berani bergaul dengan teman-teman dari luar. Dan supaya saling memahami,” jelas pimpinan Departemen Studi Asia Fakultas Studi Luar Negeri Nanzan University Nagoya Jepang itu.

Akhir-akhir ini, tambah Prof Yasuko, berita dari Indonesia yang beredar di Jepang menuai pertanyaan; apakah sikap toleran mulai berkurang atau wajah moderat Islam Indonesia itu berubah? Maka dari itu, ia berinisiatif mengajak beberapa mahasiswanya untuk menjawab kekhawatiran itu.

“Jasa Gus Dur sangat besar untuk memperkenalkan wajah Islam di seluruh dunia. Saya membaca banyak karya Gus Dur dari kecil hingga besar. Lebih dari 300 buku yang saya baca. Dan saya sangat kagum. Orang-orang yang mempelajari Indonesia, cukup memahami jasa Gus Dur. Saya pun menjadi semacam GusDurian Jepang,” papar Yasuko ketika berbicara mengenai wajah Islam yang sebenarnya yang ternyata ia dapati dari Gus Dur.

Prof. Yasuko juga menyampaikan kesannya mengenai perkembangan pesantren di Indonesia selama 30 tahun terakhir ini. Ia menemukan fakta bahwa pesantren di Indonesia terus mengalami perkembangan dan memiliki banyak variasi dan tipologi.

“Dalam perkembangan itu, saya kira Tebuireng tetap menjadi satu panutan. Perkembangn pesantren merupakan salah satu bukti bahwa Islam mengikuti zaman. Dan pesantren menjadi suatu agen transformasi bagi masyarakat,” ungkap Prof. Yasuko yang juga bisa lancar dalam bahasa Indonesia. []
(Redaksi RN).


* Sumber: tebuireng.online
Read More

Gus Mus - Adil


rumahnahdliyyin.com - Adil merupakan hal yang penting. Karena itu, ia sering disebut dalam Al-Qur'an. Silakan diputar dan disimak video selengkapnya mengenai adil dibawah ini yang dijelaskan singkat oleh KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Semoga tercerahkan dan bermanfaat.

Inilah videonya:


Simak juga video lainnya:


* Sumber: GusMus Channel

Read More

Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Seorang profesor dari Jepang, Hisanori Kato, tengah melakukan penelitiannya tentang Islam Nusantara. Karena yang mengusung Islam Nusantara sebagai sebuah tipologi Islam adalah NU, maka ia pun mewawancarai kiai-kiai NU. Tidak hanya itu, ia juga akan mengikuti kuliah-kuliah di Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA).

Pada Rabu kemarin, 7 Maret 2018, Kato mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, yaitu KH. Ahmad Ishomuddin. Bertempat di Pojok Gus Dur, lantai dasar Gedung PBNU, Jakarta, beberapa pertanyaan yang diajukan Kato adalah mengenai pengertian, ajaran, watak dan amaliyah Islam Nusantara.

Tentang pengertian Islam Nusantara, kiai Ishom menjelaskan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang sebenarnya. Ibadah, kiblat, kitab suci dan yang lainnya, semua sesuai dengan ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sedangkan penggunaan kata "Nusantara", karena mengacu terhadap letak geografis Islam di Asia Tenggara. Dan Lebih dari itu, istilah "Nusantara" itu untuk memudahkan pemahaman bagi orang yang di luar Nusantara.

Watak Islam Nusantara, lanjut kiai Ishom, adalah "tawassuth" (moderat), "ta’adul" (adil), "tawazun" (seimbang) dan "tasyawur" (bermusyawarah untuk mufakat). Sedangkan diantara amaliyahnya adalah ziarah.

Profesor dari "Faculty of Policy Studies Chuo University" itu, sebenarnya bukan untuk kali pertamanya datang di Indonesia. Sudah sejak 1991 ia menginjakkan kaki di bumi Nusantara ini. Bahkan, beberapa bukunya bertemakan tentang Indonesia. Diantaranya yaitu "Kangen Indonesia, Indonesia di Mata Orang Jepang" dan "Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur Sampai Ba'asyir."

Mengenai Islam Nusantara ini, profesor Hisanori Kato mengatakan bahwa penelitiannya ini akan disampaikan pada Konferensi Internasional di China tahun ini. Selain itu, juga akan dibukukan dalam bahasa Jepang. []




(Redaksi RN)
Read More

Berita Duka Kewafatan Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Innaa liLlaahi wainnaa ilaiHi rooji'uun. Kabar duka menyelimuti bangsa Indonesia siang ini. Salah satu perempuan terbaik negeri ini telah dipanggil ke haribaan-Nya.

Perempuan tersebut adalah Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi, puteri KH. Abdul Wahid Hasyim atau cucu dari Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

InnaaliLlaahi wainnaa ilaiHi rooji'uun, Ibu Aisyah Hamid Baidlowi meninggal dunia. Semoga, beliau husnul khotimah. Al-Fatihah... Meninggal hari ini, pukul 12.50,” terang Nely Wahid, menantu almarhumah.

Sebelumnya, kepada para pengurus Muslimat NU, Nely Wahid mengutarakan bahwa jika ada kesalahan dari almarhumah, baik yang disengaja maupun tidak, agar dimaafkan secara ikhlas.

“Bunda-bunda muslimat NU, saya mewakili mama Aisyah, mohon keikhlasan maaf apabila mama ada membuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Semoga, mama Aisyah Hamid Baidlowi binti KH. Abdul Wahid Hasyim husnul khotimah,” tutur Nely Wahid.

Sementara ini, jenazah disemayamkan di Rumah Duka, jalan Bukit Pratama Raya A.9, Pasar Jum'at, Lebak Bulus, sebelum nantinya akan dimakamkan di Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Nyai Hj. Aisyah Hamid Baidlowi merupakan adik kandung dari mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga kakak kandung dari KH. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid dan Hasyim Wahid.

Selain pernah mengemban tugas sebagai Ketua Umum PP. Muslimat NU pada periode 1995-2000, Nyai Aisyah juga pernah menjadi Ketua Kongres Wanita Indonesia (1990-1995), Anggota DPR RI selama tiga periode (1997-2009), Pengurus Dewan Pimpinan MUI (1995-2000), Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah (2000-2010) dan Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional (1999-2013).

Dan hari ini, Kamis siang, 8 Maret 2018, sekitar pukul 12.50 tadi di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, kita kehilangan salah satu perempuan terbaik negeri ini. Akhirnya, lahal-Fatihah... []
Read More