Situs dan Tradisi Islam di Ternate Bisa Jadi Tujuan Wisatawan Religi


rumahnahdliyyin.com, Ternate - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), seperti diberitakan oleh antaranews.com, mengajak wisatawan supaya memilih Ternate apabila ingin melakukan kunjungan wisata religi pada bulan Romadlon nanti.

"Ternate adalah daerah kesultanan. Dan pada masa lampau merupakan pusat penyebaran Islam di Indonesia Timur. Jadi, sangat menarik menjadi tujuan wisata religi," kata Kepala Disbudpar Ternate, Samin Marsaoly, Selasa (24/04/2018).

Baca Juga: Peninggalan Islam Aceh Kurang Dipedulikan Selama Ini

Banyak objek wisata yang bisa menjadi tujuan wisata religi di Ternate. Diantaranya yaitu Masjid Kesultanan Ternate yang memiliki banyak kekhasan, baik dari segi arsitektur bangunan masjid maupun tradisi ibadah di masjid itu.

Menurut Samin, salah satu tradisi ibadah di Masjid Kesultanan Ternate yaitu setiap laki-laki yang sholat di masjid yang telah berusia 500 tahun lebih itu harus mengenakan celana panjang dan penutup kepala.

Selain itu, perempuan dilarang sholat di bangunan utama masjid serta digelar ritual tradisi ela-ela atau tradisi menyambut malam lailatul-qodar pada malam 27 Romadlon.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Di kedaton Kesultanan Ternate, imbuh Samin Marsaoly, juga dapat disaksikan berbagai peninggalan sejarah terkait Islam. Seperti Al-Qur'an yang ditulis dilembaran baja atau yang berupa tulisan tangan dan jubah yang konon merupakan hadiah dari raja di Arab kepada Sultan Ternate.

Di Ternate juga terdapat banyak makam bersejarah untuk diziarahi. Seperti makam para Sultan Ternate dan makam para wali yang pada zaman dulu menyebarkan Islam di berbagai lokasi di Ternate. Seperti di Kulaba yang setiap bulan Romadlon dikunjungi oleh ribuan peziarah.

Baca Juga: Walisongo dan Dakwah Metode Kambing

Samin menambahkan lagi bahwa pada bulan Romadlon di Ternate juga banyak kearifan lokal yang notabene warisan peninggalan para leluhur yang hingga kini masih dipertahankan. Seperti tradisi membangunkan warga untuk makan sahur yang dikenal dengan nama gendang sahur. Selain itu, juga banyak dijual menu berbuka puasa yang merupakan menu khas di daerah ini.

Selain situs-situs keislaman, objek wisata lainnya yang bisa dinikmati saat berkunjung di Ternate adalah berbagai peninggalan sejarah kolonial. Seperti benteng, cengkih afo atau cengkih tertua di dunia serta wisata bahari berupa keindahan pantai dan bawah laut.[]





(Redaksi RN)
Read More

KH. Ulin Nuha Arwani: Menjadi Penghafal Al-Qur'an Saja Belum Cukup


rumahnahdliyyin.com,
 Demak - Sebanyak 240 santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-Badriyyah, Suburan, Mranggen, Demak, Jawa Tengah, mengikuti wisuda khotmil Qur’an yang ke-42 pada Ahad (22/4/2018). Para santri yang diwisuda tersebut terdiri dari khotimin dan khotimat bil-ghoib 30 juz sebanyak 9 santri, bin-nadhor 30 juz sebanyak 40 putra dan 64 putri, serta juz 'amma putra sebanyak 37 santri dan 90 putri.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Badriyyah, KH. Muhibbib Muhsin Al-Hafidh dan Nyai Hj. Nadhiroh Ma’shum Al-Hafidhoh, berharap supaya para santri yang telah diwisuda itu semakin bertambah semangat dan istiqomah dalam hal mencari ilmu.

“Semoga khotimin dan khotimat yang telah diwisuda mendapatkan ilmu yang berkah, bermanfaat dan ilmu yang bermashlahat, min ahlil-‘ilmi, min ahlil-khoir wa min ahlil-qur’an,” harap KH. Muhibbin sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

KH. Ulin Nuha Arwani, yang tausiyah dalam acara Haflah tersebut, berpesan kepada para santri supaya jangan cepat puas dengan apa yang telah dicapainya itu.

“Masih banyak tahapan yang harus dilewati. Menjadi penghafal Al-Qur’an saja, belum cukup. Masih banyak ilmu yang harus dipelajari, seperti ilmu fiqih, tauhid, bahasa Arab dan sebagainya,” tuturnya dihadapan para hadirin.

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengingatkan para khotimin dan khotimat supaya berakhlaq sebagaimana ajaran Al-Qur’an, selalu tawadlu' dan mengabdi kepada guru supaya mendapat keberkahan dalam hidup.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Dalam pandangan KH. Ulin Nuha Arwani, ada tiga kategori yang dapat dilakukan dalam menjaga Al-Qur’an, yaitu membaca, mengamalkan, dan berakhlaq sebagaimana perilaku yang ada dalam Al-Qur'an. Karena itu, para santri supaya mengusahakan untuk memenuhi ketiga kategori tersebut.

“Maksud dari shohibul-Qur'an dalam sebuah kitab tafsir, yaitu orang yang mulazim litilawatih, yakni orang yang selalu membacanya, mutakholliq bi akhlaqih, mempunyai adab sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an, wal-amilu bih, mengamalkan pesan Al-Qur'an,” urainya lebih lanjut.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Selain itu, KH. Ulin Nuha Arwani juga mengatakan bahwa Al-Qur'an yang telah dipelajari supaya selalu dibaca sesuai ajaran yang telah diterima dari guru beserta adabnya. Ditambahkan pula bahwa maksud membaca Al-Qur'an dengan haqqa tilawatih adalah kombinasi membaca antara mulut, akal dan hati.

“Koridor penggunaan lisan adalah dengan memakai tajwid yang benar. Lalu meresapinya dengan akal (tadabbur). Serta memahaminya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari supaya selamat dari murka Allah SWT.,” terangnya.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Terakhir, beliau mewanti-wanti kepada para santri yang telah khatam itu supaya jangan sampai membiarkan mushhaf Al-Qur'an begitu saja. Bila mushhafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali, maka Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung orang tersebut seraya berkata: "Ya Tuhan, sungguh hambaMu ini telah mencampakkanku. Maka, berilah keputusan antara aku dan dia," pungkas KH. Ulin Nuha Arwani.

Ribuan santri, wali santri dan para alumni, juga masyarakat luas, turut hadir memadati arena pengajian ini. Selain KH. Ulin Nuha Arwani, hadir pula KH. Ulil Albab Arwani, KH. Abdul Hadi Muthohar, KH. Abdul Kholiq Murod, KH. Ali Mahsun, Nyai Hj. Ishmah Ulin Nuha, Nyai Hj. Zuhairoh Ulil Albab, Nyai Hj. Mutammimah Harir dan para kiai lainnya.[]




(Redaksi RN)
Read More

Meski Diminta Istri Untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya


rumahnahdliyyin.com - Salah satu penyebab seseorang melakukan poligami adalah alasan personal, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim AS. Atas permintaan istri pertamanya, yaitu Siti Sarah, Nabi Ibrahim pun memenuhi permintaan itu dengan menikahi Siti Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS. dari rahim istri kedua tersebut.

Permintaan Siti Sarah itu dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hingga usia mencapai lebih dari 80 tahun, Nabi Ibrahim AS. belum dikaruniai seorang anak pun. Kasus ini, ternyata mirip dengan yang terjadi pada Mbah Kiai Abdul Mannan, Solo. Bedanya, kiai Mannan menolak permintaan istrinya untuk poligami itu.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoax

Mbah Kiai Abdul Mannan adalah salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkyudan, Surakarta, yang didirikan pada tahun 1930-an. Beliau adalah ayah dari Mbah Kiai Ahmad Umar Abdul Mannan, yang mengasuh pesantren tersebut hingga beliau wafat pada tahun 1981.

Penolakan Mbah Kiai Abdul Mannan untuk berpoligami, meski diminta sendiri oleh istri beliau, yaitu Mbah Nyai Mushlihah, adalah karena memang beliau tidak pernah menginginkan untuk berpoligami kendati sudah pernah menikah hingga tiga kali.

Baca Juga: Strategi Syaikh Mahfudz Menghindari Perjodohan

Perkawinan Mbah Kiai Abdul Mannan dengan istri pertamanya, berakhir dengan mufaroqoh yang tak bisa dihindarkan. Perkawinannya dengan istri kedua, berakhir ketika sang istri mendahului wafat. Sedangkan perkawinannya dengan istri yang ketiga, yakni dengan Mbah Nyai Mushlihah, berlangsung langgeng hingga Mbah Kiai Abdul Mannan wafat pada tahun 1964. Sedang Mbah Nyai Mushlihah sendiri, wafat pada tahun 1981 sebelum beberapa minggu kewafatan Mbah Kiai Ahmad Umar.

Pertanyaannya, mengapa Mbah Nyai Mushlihah minta dimadu dan mengapa pula Mbah Kiai Abdul Mannan menolaknya?

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Berdasarkan penuturan dari salah seorang putri Mbah Kiai Abdul Mannan, yakni Mbah Ngismatun Sakdullah, Solo—biasa dipanggil Mbah Ngis (wafat 1994)—dengan terus terang, Mbah Nyai Mushlihah memohon kepada Mbah Kiai Abdul Mannan yang notabene sebagai suaminya supaya menikah lagi. Hal tersebut karena Mbah Nyai Mushlihah merasa sudah tua dan tak sanggup lagi memenuhi kewajibannya untuk melayani hubungan suami-istri setelah menopause.

Memang, wanita yang sudah menopause, pada umumnya mengalami banyak perubahan yang menyebabkan hilangnya gairah seksual. Selain itu, menurunnya kemampuan berhubungan seksual, jika dipaksakan bisa menimbulkan ketidaknyamanan, baik secara fisik maupun psikis.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Untuk itu, Mbah Nyai Mushlihah bersedia melamarkan siapa pun yang dipilih Mbah Kiai Abdul Mannan untuk dijadikan madunya dengan maksud supaya hak-hak Mbah Kiai Abdul Mannan sebagai suami tetap bisa terpenuhi karena libido seksual laki-laki memang bertahan sampai mati.

Meski Mbah Kiai Abdul Mannan sadar bahwa sang istri rela dimadu, tapi beliau menolak permintaan itu. Sebab, pada dasarnya, beliau tidak menginginkan berpoligami. Tentu saja beliau punya beberapa alasan atas penolakannya itu, yang pada intinya demi menghindari madlorot yang lebih besar daripada kemanfaatannya.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Poligami sudah pasti berpotensi menimbulkan kecemburuan dan permusuhan diantara para istri dan anak-anak sebagaimana Siti Sarah yang mencemburui Siti Hajar serta bersikap tidak ramah. Padahal, kehadiran Siti Hajar sebagai istri kedua Nabi Ibrahim AS. merupakan permintaan Siti Sarah sendiri.

Jadi, alasan permintaan Mbah Nyai Mushlihah kepada Mbah KH. Abdul Mannan untuk berpoligami itu bersifat personal sebagaimana permintaan Siti Sarah kepada Nabi Ibrahim AS. Hanya saja, Siti Sarah belum dikaruniai seorang anak pun, sedangkan Mbah Nyai Mushlihah sudah dikaruniai lebih dari enam orang anak, termasuk Mbah Ngis, yang dilahirkannya sendiri.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Memilih Puasa

Dikalangan pesantren dikenal ada tiga tipologi kiai, yakni kiai ‘alim, kiai ‘abid dan kiai ‘arif. Secara sederhana, kiai ‘alim adalah kiai yang ilmu pengetahuan agamanya luas dan banyak berkiprah di pengajaran ilmu-ilmu agama seperti di pesantren atau majelis-majelis ta’lim. Kiai ‘abid adalah kiai yang ahli ibadah dan banyak menghabiskan waktu serta tenaganya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan kiai ‘arif adalah kiai yang ilmu hikmahnya menonjol dan banyak riyadloh sehingga menjadi sosok yang arif-bijaksana. Mbah Kiai Abdul Mannan sendiri, dalam tipologi ini, tergolong dalam kiai tipe yang ketiga, yaitu lebih menonjol sebagai kiai 'arif.

Dalam menyikapi persoalan personalnya dengan Mbah Nyai Mushlihah yang sudah "meminta pensiun" dari tugas melayani urusan kasur, Mbah Kiai Abdul Mannan bukannya menceraikan sang istri lalu menikah lagi dengan dalih menghindari perzinahan.

Baca Juga: Selarik Kisah KH. Hsyim Asy'ari

Nafsu seksual laki-laki memang terus hidup selama hayat masih dikandung badan. Tapi, poligami bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasi persoalan personal yang berupa syahwat itu. Ada cara lain untuk mengatasinya, yakni berpuasa, sebagaimana hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim: Puasa adalah perisai (peredam) syahwat.

Cara berpuasa itulah yang dipilih oleh Mbah Kiai Abdul Mannan ketika mencari solusi terbaik dalam mengatasi persoalan syahwatnya disaat Mbah Nyai Mushlihah Abdul Mannan sudah tidak sanggup lagi memenuhi kewajibannya karena sudah udzur. Mbah Kiai Abdul Mannan mampu menjawab persoalan hukum (fiqh) dengan jawaban moral (akhlaq) yang tentu saja lebih luhur karena puasa merupakan ibadah satu-satunya untuk Allah SWT. dan Dia sendiri yang akan membalasnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Bukhori: Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.[]



Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.


Sumber: NU Online
Read More

Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Siang selepas sholat Dhuhur, pada hari Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak penuh oleh lautan manusia. Umat muslim Kabupaten tersebut dan juga dari Kabupaten terdekat, yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai, berduyun-duyun datang ke halaman masjid itu untuk turut memperingati Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

"Saya senang sekali di pedalaman Papua ada Peringatan hari-hari besar Islam. Kalau di kota-kota besar Papua, itu sudah biasa. Kalau bisa, jangan hanya satu kali saja, ketika peringatan Isro'-Mi'roj saja, namun hari-hari besar lainnya," ungkap KH. Syaiful Islam Payage yang menjadi pembicara dalam acara peringatan tersebut.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana dan Dakwah Umat Islam

Sebagai ketua MUI Papua, kiai Payage menyatakan bahwa dia siap melayani umat Islam yang berada di pelosok-pelosok dan pedalaman Papua. Lebih lanjut, dia pun bercerita bahwa hari ini, sebenarnya dia dipanggil ke Jakarta oleh bapak Kemenag RI.

"Tapi saya menunda dulu dan hadir di pengajian ini. Sebagai orang nomor satu dimata umat Islam di Papua, saya mendahulukan melayani kepentingan umat terlebih dahulu," ujar kiai yang pernah nyantri di Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, itu.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

Selain mengajak dan menekankan supaya umat Islam senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan, kiai Payage menambahkan pula bahwa sebagai "gubernurnya" umat Islam Papua, dia sangat malu apabila ada umat Islam di Papua yang melakukan tindakan intoleransi dan perpecahan antar umat beragama.

Selanjutnya, dia juga memaparkan pentingnya mencintai Nabi Muhammad SAW. dan mempelajari ajaran-ajaran yang dibawanya dari Allah SWT.

"Saya bisa kenal Islam, bisa begini, karena ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Apabila umat Islam ingin anak-anaknya belajar Islam, saya siap menampung di Pesantren Payage saya di Jayapura," ucapnya kepada hadirin.

Baca Juga: Alumnus Pondok Pesantren se-indonesia Bentuk HAPPI

Dia juga menyatakan bahwa kelak, sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, insya Allah Islam di Papua akan berkembang. Tidak hanya masyarakat pendatang saja, namun juga masyarakat asli Papua.[]



(M. Taha)
Read More

Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana Sekaligus Dakwah Umat Islam


rumahnahdliyyin.com, Deiyai - Tidak seperti biasanya yang lenggang, pada Sabtu (21/04/2018), halaman Masjid Ash-Shiddiq, Wagete, Kabupaten Deiyai, Papua, tampak sesak oleh lautan manusia. Umat muslim berduyun-duyun melangkahkan kakinya menuju halaman masjid itu guna menghadiri peringatan Isro’-Mi’roj Nabi Muhammad SAW.

Dalam acara peringatan Isro'-Mi'roj tersebut, Panitia dan Pengurus BKM Ash-Shiddiq, Wagete, Kab. Deiyai, Papua, ini mengundang umat muslim dan ormas Islam NU yang ada di sekitar Kabupaten Deiyai. Yakni Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Paniai. Disamping memperingati Isro'-Mi’roj, kegiatan ini sekaligus juga untuk menjalin dan memperkuat silaturrahmi umat Islam antar Kabupaten.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Adapun yang menjadi pembicara dalam acara ini yaitu KH. Syaiful Islam Payage yang berasal dari Jayapura. Selain menguraikan tentang Isro'-Mi'roj, kiai Payage yang menjabat sebagai Ketua MUI Provinsi Papua ini juga menjelaskan keutamaan sholat lima waktu kepada para hadirin.

Lebih lanjut, dalam mauidhoh hasanahnya, kiai asli Papua itu mengajak umat Islam untuk bersama-sama menjaga persatuan. Khususnya umat Islam yang berada di Papua. Baik persatuan antar sesama umat Islam sendiri maupun kerukunan antar umat beragama.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Jangan Bawa Masuk Papua Isu Diluar, atau Sebaliknya

"Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, itu agamanya bermacam-macam. Kalau kita lihat, agama yang dianut oleh bangsa Indonesia itu ada enam agama. Oleh karena itu, menjaga kerukunan adalah salah satu dakwah bagi umat Islam dan sekaligus salah satu sarana dalam berdakwah," tegasnya.[]



(M. Taha)
Read More

Kroyokan Sedekah Berawal Dari Cemburu


rumahnahdliyyin.com | Bantul - Bermula dari sedekah di kedua masjid yang ada di lingkungan tempat tinggalnya yang berada di Kampung Prancak, kawasan Kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Bantul, Yogyakarta, Joko Taruno sudah mampu bersedekah di 33 masjid se-DIY setiap Jum'atnya saat ini. Niatnya sederhana, hanya ingin mencari sangu untuk bekalnya di akhirat kelak.

Mulai pukul sepuluh pagi, setiap Jum'at, satu per-satu warga dari berbagai lapisan, mulai tukang becak, sopir maupun musafir, sudah mengambil snack dan minuman untuk dibawa. Ada yang mengambilnya untuk dikonsumsi pribadi dan ada juga yang diantarnya ke masjid-masjid yang ada di sekitaran Kampus ISI Yogyakarta, Jalan Parangtritis, Bantul.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

“Kami utamakan dahulu di dua masjid sekitar. Yakni Masjid Abdul Kadir Nur Wahdaniyah dan Masjid Kampus ISI. Kedua masjid ini menjadi cikal bakal saya dan rekan-rekan satu komunitas untuk bisa selalu bersedekah,” papar Koordinator Kroyokan Sedekah, Joko Taruno, Jum'at (20/4/2018), seperti yang dikutip dari suaramerdeka.com.

Sudah tiga tahun terakhir ini Joko Taruno selalu bersedekah dengan menyediakan makanan ringan dan minuman ke masjid-masjid untuk nantinya dikonsumi seusai Sholat Jum'at.

“Awalnya, saya itu cemburu. Karena, kenapa orang lain bisa berbuat baik, sementara saya tidak. Setelah itu, makin dipertegas ketika setiap habis Sholat Jum'at di Masjid Jogokaryan selalu ada kegiatan pemberian makanan dan minuman gratis bagi jamaah. Makanya saya juga ingin melakukan hal itu (membagikan makanan setiap Sholat Jum'at) dengan gratis,” ceritanya.

Baca Juga: NU Care Lazisnu Peduli Papua

Joko pun mencoba menerawang jauh apa yang telah dilakukannya pada tiga tahun silam ketika mengawali "Kroyokan Sedekah" ini. Kala itu, berbekal seringnya menggelar seni pertunjukkan, karena kebetulan pula lulusan ISI, Joko pun kerap sekali mendapatkan kerja sama dengan sebuah perusahaan teh kemasan. Setiap Jum'at, setidaknya ratusan gelas teh dibagikan ke jamaah di dua masjid sekitar rumahnya.

“Iseng apa yang saya lakukan ini saya share lewat medsos, dan alhamduliLlah mendapat respon dari kawan-kawan. Hingga akhirnya mereka pun ikut terlibat dengan menyumbangkan teh,” ungkapnya.

Baca Juga: Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Gayung bersambut, dari aksi itu, akhirnya terkumpul seribu gelas dimana pergelasnya seharga seribu rupiah. Teh-teh ini pun dibagikan ke jamaah Sholat Jum'at masjid di sekitar rumahnya untuk setiap pekannya.

“Terkadang sisa. Sehingga saya sebar ke masjid lainnya. Saya memegang prinsip, ketika mengajak orang lain bersedekah, setidaknya dia mampu melakukan hal kebaikan. Dan uang sumbangan seribu rupiah itu bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk sesuai keinginan para relawan,” jelasnya.

Baca Juga: Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Umat Dari Pesantren

Lambat laun, aksi "Kroyokan Sedekah"-nya menjadi besar. Bahkan, pihak perusahaan teh tersebut menyerahkan bantuan teh dengan ukuran apapun asalkan Joko menyediakan tempat air minum ukuran jumbo sepuluh liter. Selain itu, tak hanya minuman teh yang disedekahkan, melainkan juga memberikan makanan-makanan kepada jamaah Sholat Jum'at.

“Lagi-lagi lewat medsos. Saya tawari siapa yang ingin sedekah dengan menyediakan snack, akhirnya malah melimpah ruah. AlhamduliLlah. Karena itu, kami berkembang terus dengan setidaknya ada 33 masjid di DIY yang merasakan dampaknya. Termasuk bantuan bencana alam, longsor Ponorogo, termasuk yang terakhir di Cilacap,” jelas pria asal Jakarta yang lahir tahun 1980 itu

Baca Juga: Gus Mus Tekankan Niat Dalam Launching Santriversitas

Dengan lebih dari 500 member "Kroyokan Sedekah" di Facebook dan Instagram, komunitas ini terus menerus berkembang.

“Lewat "Kroyokan Sedekah" ini, pemberian makanan gratis juga dilakukan di tempat lain. AlhamduliLlah, kami juga membangun rumah di Gunungkidul dan Bantul. Termasuk dari Sulawesi juga memberikan sedekah mereka. Lalu saat Romadlon nanti, ada pembagian 500 nasi dan 500 roti untuk diberikan ke masjid-masjid,” paparnya.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Lebih lanjut, Joko berharap supaya apa yang dirintisnya saat ini terus bisa berkembang. Bahkan, pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual makanan bernama "Songgobuwono" tersebut sudah membuat surat wasiat.

“Dalam wasiat ini saya katakan bahwa meskipun nanti gerakan "Keroyokan Sedekah" mulai meredup, namun gerakan sedekah tetap harus ada di dua masjid di sekitar tempat tinggal saya,” tandasnya.[]



(Redaksi RN)
Read More

Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama


rumahnahdliyyin.com,
 Semarang - Menag Lukman Hakim Saifuddin mengawali kunjungan kerjanya di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) dengan menjadi pembicara di acara "Ngaji Kebangsaan; Mengasah Jati Diri Indonesia" di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang.

Sebagaimana disebutkan dalam laman resmi Kemenag, kemenag.go.id pada Jum'at (20/05/2018), Menag tiba di Kampus UIN Walisongo sekitar pukul 14.00 WIB. dengan didampingi Kepala Kanwil Kemenag Jateng (Farhani), Rektor UIN Walisongo (Muhibbin) dan Kabag TU Pimpinan Khoirul Huda.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Ngaji Kebangsaan yang diselenggarakan di Auditorium II yang terletak di Kampus 3 UIN Walisongo itu dihadiri oleh para mahasiswa. Tampak hadir juga para Kakankemenag Kab./Kota se-Jawa Tengah, perwakilan Pemprov. Jateng dan segenap civitas akademika UIN Walisongo Semarang.

Acara yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, doa dan penampilan pagelaran seni Islami dari mahasiswi UIN Walisongo ini dimoderatori oleh Musahadi, Wakil Rektor 1 UIN Walisongo itu.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Dalam kesempatan itu, Menag Lukman Hakim menyatakan bahwa Indonesia meletakkan agama pada posisi yang strategis dalam peranannya menata kehidupan berbangsa. Sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka, kehidupan semua etnis dan suku di Nusantara, dimanapun wilayah geografisnya, diwarnai dengan nilai-nilai agama.

"Kita bisa sebut, mulai dari Aceh, Batak, Minang, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Papua dan etnis lainnya, tidak bisa terpisahkan dengan nilai-nilai agama. Selain itu, semua kearifan lokal di Nusantara juga memiliki rujukan pada nilai-nilai agama. Tidak ada kearifan lokal yang tidak bisa dirujuk dengan nilai agama, terlepas apapun agamanya di Indonesia," terang Menag.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Mengasah Jati Diri Indonesia (Mengaji) ini merupakan program strategis Kementerian Agama dalam upayanya untuk mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan ditengah-tengah masyarakat.[]



(Redaksi RN)
Read More

Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia


rumahnahdliyyin.com - Dalam daftar Time 100 yang dirilis pada Kamis, 19 April 2018, waktu setempat, ibu Sinta Nuriyah masuk dalam deretan 100 orang paling berpengaruh di dunia versi Time. Istri mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu masuk dalam kategori icons.

Tokoh-tokoh internasional lainnya yang masuk dalam kategori tersebut diantaranya yaitu penyanyi dan aktris Jennifer Lopez, Rihanna dan Christopher Wylie yang menjadi whistleblower dalam skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Maimoen

Mona Eltahawy, dalam time.com menulis bahwa ibu Sinta masuk dalam Time 100 karena dia sangat berperan dalam menjaga keberagaman masyarakat antar agama di Indonesia dan khususnya melindungi perempuan muslim di Tanah Air. Hal ini dinilai penting. Terutama ditengah tingginya tekanan dari kelompok Islam garis keras, termasuk di Indonesia, akhir-akhir ini.

"Perempuan yang mengidentifikasi dirinya sebagai feminis muslim ini memiliki gelar di hukum syari'ah dan kajian perempuan. Dia paham bagaimana agama yang dipolitisasi akan sangat berdampak negatif terhadap perempuan dan kaum minoritas," kata Eltahawy.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Selanjutnya, ibu Sinta juga dinilai turut memberikan penyuluhan kepada perempuan-perempuan transgender, mendukung mantan Gubernur Jakarta yang beragama Kristen karena dituduh melecehkan agama dan lain-lain.

"Para pria seringkali hanya membicarakan perempuan muslim terkait penggunaan jilbab. Tetapi, dia mengingatkan kita bahwa perempuan muslim memiliki hal-hal yang jauh lebih kompleks dan lebih menarik untuk dibicarakan," tambah jurnalis dan penulis itu.

Baca Juga: Tionghoa dan Kran Pembuka Ekslusivitasnya

Ibu Sinta Nuriyah menjadi satu-satunya tokoh Indonesia yang masuk dalam daftar Time 100 pada tahun ini. Tokoh Indonesia lainnya yang pernah masuk dalam Time 100 adalah Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009.[]




(Redaksi RN)
Read More

Kiai Said dan Master Cheng Yen Berbicara Esensi Beragama


rumahnahdliyyin.com - Dua tokoh agama yang berpengaruh di dunia, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dari Nahdlatul Ulama dan Master Cheng Yen dari Buddha Tzu Chi yang berpusat di Xincheng mengadakan pertemuan di kota Hualien Taiwan, Rabu lusa, 18 April 2018.

Setelah dua hari mengunjungi rumah sakit, media televisi, pusat bisnis dan universitas yang dikelola oleh komunitas Buddha Tzu Chi, kiai Said Aqil bertatap muka dengan Master Cheng Yen.

"Selamat datang di tempat kami. Bagaimana kesan Bapak terhadap kami setelah melihat langsung aktifitas kami? Tolong beritahu kekurangan penyambutan kami kepada Bapak," sapa Master Cheng Yen sambil membungkukkan tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang menyatu didepan dada.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Mendapat sapaan hangat, kiai Said Aqil menyampaikan rasa terima kasih karena telah disambut secara terhormat dan merasa senang dapat menjalin persaudaraan dengan komunitas Buddha Tzu Chi.

"Kami mengajak Buddha Tzu Chi untuk bersinergi menegakkan keadilan, memberikan pengayoman terhadap yang lemah dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Kami menjalin persaudaraan dengan semua pihak, kecuali pelanggar hukum," balas kiai Said santun.

Baca Juga: Bahaya Berjihad Demi Syahwat

Master Cheng Yen dan kiai Said Aqil pun berdiskusi tentang berbagai isu kemanusiaan. Keduanya saling bertukar pikiran, menyampaikan pandangan dan solusinya. Terkadang tampak Master Cheng Yen mengangguk dengan sikap hormat. Begitu juga kiai Said menunjukkan sikap yang sama.

Kepada kiai Said Aqil, Master Cheng Yen menyampaikan rasa bahagianya mengamati kehidupan keagamaan masyarakat Indonesia. Manusia, kata Master Cheng Yen, perlu saling menolong secara ikhlas dan kasih sayang. Agama itu yang terpenting adalah aksi. Atas keyakinannya itu, ia pun tak segan minta nasehat kepada kiai Said Aqil tentang peran kemanusiaan yang ideal.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Kiai Said Aqil mengatakan bahwa selama ini Master Cheng Yen bersama Buddha Tzu Chi telah memberikan teladan kepada manusia. Esensi agama adalah kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW. selalu memberikan keteladanan dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Karena itu, percuma beragama jika berperilaku bengis dan radikal.

Masyarakat beragama di belahan lain di dunia telah kehilangan esensi dalam beragama. Barat menjunjung tinggi capaian, sedangkan yang di Asia masih mampu membangun peradaban. Di kawasan ini masyarakat tidak mementingkan legal-formal, tapi mengutamakan pembangunan peradaban. Salah satu faktor kekuatannya adalah para agamawannya yang mengutamakan intuisi sehingga selalu dalam tuntunan Tuhan.[]




(Redaksi RN)
Read More

Mengenal Para Mufassir Indonesia


rumahnahdliyyin.com - Tersebutlah nama Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara. Gadis ini selalu berminat menyimak pengajian tafsir yang disampaikan oleh KH. Muhammad Soleh bin Umar As-Samarani, guru para ulama di penghujung abad XIX. Bahkan, saking antusiasnya, Kartini mengikuti pengajian kiai Soleh hingga ke Demak.

Dalam suatu pengajian yang dihelat di bangsal pendopo Kabupaten Demak, Kartini merasa kurang puas dengan uraian kiai Soleh tentang tafsir Al-Fatihah. Seusai pengajian, Kartini yang terkenal kritis itu memberanikan diri untuk menemui kiai Soleh. Ia pun meminta kepada guru kinasihnya itu agar bersedia menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Kiai Soleh yang rendah hati itu, awalnya keberatan karena diperlukan prasyarat keilmuan yang berat untuk menjadi seorang mufassir alias ahli tafsir Al-Qur’an.

Baca Juga: Terjemah Al-Qur'an Bahasa Aceh Masuk Tahap Validasi

"Tapi, bukankah Romo Guru sudah ahli dan menguasai ilmu-ilmu itu? Maka, sekarang Ananda mohon, sudi kiranya Romo Guru berkenan segera menulis untuk bangsa kita pada umumnya. Berupa kitab terjemahan dan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Jawa. Sebab, hal itu akan menjadikan mereka memahami bisikan kudus dari kitab tuntunan hidup mereka. Dan Romo Guru akan besar sekali jasanya,"

Mendengar permintaan Kartini, raut wajah kiai tua asal Darat, Semarang itu, berseri. Seketika itu pula air mata kiai Soleh tumpah, menangis haru mendengar pinta perawan bangsawan itu.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Bermula dari dialog di pendopo kabupaten itulah, setahun berikutnya, kitab yang diidam-idamkan Kartini terbit. Judulnya Faidh Al-Rohman fi Tafsir Al-Qur'an. Kitab karya kiai Soleh ini berukuran folio dan dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894. Terdiri dari dua jilid, kitab ini menjadi referensi pribumi Jawa yang bermukin di tanah Melayu. Bahkan, kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan, juga memakai kitab ini.

Ditulis dengan aksara Arab Pegon, kitab tersebut dihadiahkan kepada RA. Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM. Joyodiningrat yang menjabat sebagai Bupati Rembang.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Kiai Soleh Darat wafat pada tanggal 28 Romadlon 1321 H. atau bertepatan dengan tanggal 18 Desember 1903 M. Penulis produktif ini dimakamkan di komplek Pemakaman Umum Bergota, Semarang.

Kiai Soleh, yang merupakan guru KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, menandai salah satu fase perkembangan tafsir Al-Qur’an di Nusantara. Hampir sezaman dengan kiai Soleh, terdapat nama Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani (1813-1897), seorang ulama Banten yang menjadi guru besar di Haromain.

Baca Juga: Belajar Dari Sejarah Para Pemberontak Bertopeng Ayat

Syaikh Nawawi menulis sebuah kitab berjudul Tafsir Al-Munir li Ma’alim At-Tanzil yang selesai ditulis pada hari Rabu, 5 Robiul Awwal 1305 H., ketika ia tinggal di Makkah. Sebelumnya, naskah tafsir ini disodorkan kepada ulama Makkah dan Madinah untuk diteliti. Lalu, naskahnya dicetak di negeri itu pula. Atas reputasi keilmuannya yang luar biasa, para ulama pun menggelarinya sebagai Sayyid ulama Hijaz.

Kecemerlangan kiai Soleh Darat dan Syaikh Nawawi sebagai mufassir ini, kemudian dilanjutkan oleh beberapa ulama pada dekade berikutnya. Corak metodologinya pun beragam. Demikian pula dengan bahasa yang digunakan.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Pada era 1930-an, seorang ulama asal Sukabumi, KH. Ahmad Sanusi, menulis kitab tafsir lengkap 30 juz, Roudlotul Irfan fi Ma’rifat Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa Sunda. Ia juga menulis karya lain seputar tafsir Al-Qur’an dengan corak yang berbeda. Total, terdapat 75 karya tulis dengan beragam perspektif keilmuan yang dihasilkan oleh ulama yang sempat aktif di Sarekat Islam dan BPUPKI ini.

Sezaman dengan kiai Ahmad Sanusi ini, terdapat nama Syaikh Mahmud Yunus. Nama terakhir ini, selain terkenal dengan kamus Arab-Melayu yang ia ciptakan, rupanya masih memiliki karya tafsir. Judulnya Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Bahasa Indonesia. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Mahmud Yunus sendiri dalam Kata Pengantar di buku tafsirnya, ia memulai penulisannya pada bulan Nopember 1922 dan selesai pada 1938.

Baca Juga: Ulama Otoriter dan Ulama Otoritatif

Di Indonesia, Syaikh Mahmud Yunus merupakan satu diantara pelopor tafsir runtut 30 juz sesuai urutan mushhaf. Setelah Syaikh Mahmud Yunus, terdapat nama A. Hassan dengan Al-Furqon: Tafsir Al-Qur’an. Pendiri organisasi Persatuan Islam ini, memulai penulisan karyanya pada bulan Muharrom 1347 H. yang bertepatan dengan Juli 1928 M. Karena kesibukannya sebagai seorang aktivis organisasi dan dai, ia baru bisa merampungkan karyanya ini pada tahun 1956 M.

Selain itu, dari rahim tanah Sumatera, lahir pula kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Karim yang ditulis oleh tiga serangkai, yaitu Ustadz A. Halim Hassan, Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Untuk penulisannya, dimulai pada bulan Romadlon 1355 H. di Langkat. Beberapa kali penulisannya pun sempat terhenti akibat Perang Dunia II dan langkanya stok kertas. Istimewanya, juz I dan II kitab tafsir ini diterbitkan dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Arab untuk diajarkan di Sembilan kerajaan di Malaysia saat itu.

Baca Juga: Selarik Kisah Mbah Hasyim Asy'ari

Setelah Indonesia merdeka, bangsa ini seolah tak pernah kekurangan stok mufassir. Diantara yang monumental ialah Tafsir Al-Azhar, karya Buya Hamka yang mulai ia rintis melalui pengajian Shubuh di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, 1958. Ketika Buya Hamka dipenjara di era Orde Lama, justru ia bisa lebih fokus merampungkan karyanya ini. Hingga kemudian, pada 1967, karya ini terbit dengan judul Tafsir Al-Azhar.

Langkah ulama terkemuka dari Muhammadiyah ini juga hampir bebarengan dengan dirilisnya Tafsir Al-Ibriz berbahasa Jawa yang ditulis oleh ulama NU, KH. Bisri Mustofa, ayahanda KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Adiknya, KH. Misbah Mustofa, Tuban, tak mau kalah. Ia menerbitkan pula Tafsir Iklil yang juga berbahasa Jawa.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Di Makassar, ada KH. Abdul Mu’in Yusuf yang menulis tafsir Al-Qur’an berbahasa Bugis dan ditulis menggunakan aksara tradisional Bugis. Selain itu, ada juga Anregurutta Daud Ismail yang menerapkan bahasa daerah Bugis dalam proses penafsiran Al-Qur’an.

Di Minangkabau, tercatat sekitar lima ulama yang menyumbangkan karya tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Minangkabau. Pemilihan tafsir dalam bahasa lokal, urai Islah Gusmian dalam Khazanah Tafsir Indonesia: dari Hermeneutika Hingga Ideologi (2013), justru menunjukkan orientasi pragmatis, yaitu agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat lokal tertentu sesuai dengan bahasa yang digunakan. Luar biasa, bukan?

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

Di sisi lain, karya tafsir ulama Indonesia semakin beragam dan ditulis dengan beragam corak dan varian metodologi yang berbeda satu sama lain. Hasbi Asshiddieqy, bahkan menulis dua karya, yaitu Tafsir Al-Bayan dan Tafsir An-Nur. Karya pertama selesai ditulis pada tahun 1971. Karena kurang puas dengan terbitan pertama, ia lalu menulis karya kedua.

Pihak Departemen Agama RI juga tidak mau kalah. Lembaga "plat merah" ini meluncurkan Al-Qur’an dan Tafsirnya yang setelah mengalami beberapa kali perbaikan bisa diterbitkan oleh Badan Wakaf UII Yogyakarta pada tahun 1995. Pakar tafsir Al-Qur’an, Prof. Dr. Quraish Shihab, kemudian menerbitkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al-Lubaab. Ada pula Prof. KH. Didin Hafiduddin dengan Tafsir Al-Hijri-nya.

Baca Juga: Mbah Abdul Djalil Hamid

Yang pasti, jumlah tafsir Al-Qur’an di Indonesia sendiri, semenjak dakwah Walisongo, bisa dipastikan berjumlah ratusan manakala kita juga memasukkan beberapa obyek tafsir seperti Tafsir Al-Fatihah, Tafsir Al-Kahfi, Tafsir An-Nisa’, Tafsir Surat Ya-Sin, Tafsir Juz 'Amma dan lain sebagainya, maupun beberapa tafsir tematik (pendidikan, feminis, sufistik, hukum dan sebagainya).

Meski tulisan kali ini terlalu singkat membedah khazanah tafsir Nusantara (Indonesia), namun mengutip periodesasi tafsir Indonesia yang dilakukan oleh Howard M. Federspiel, ada beberapa fase perkembangan tafsir Indonesia yang menarik dicermati. Generasi pertama, kira-kira permulaan abad ke-20 hingga awal 1960-an, ditandai dengan adanya penerjemahan dan penafsiran yang masih didominasi oleh model tafsir terpisah-pisah dan cenderung pada surat tertentu sebagai obyek tafsir. Generasi kedua merupakan penyempurnaan atas generasi pertama, yang muncul pada pertengahan tahun 1960-an.

Baca Juga: Syaikhona Kholil Bangkalan

Cirinya, biasanya memiliki catatan, catatan kaki, terjemahan per-kata dan kadang-kadang disertai indeks yang sederhana. Adapun tafsir generasi ketiga, mulai muncul pada 1970-an yang telah berwujud penafsiran yang lengkap dengan komentar-komentar yang luas terhadap teks yang disertai terjemahannya. Ini merupakan periodesasi tafsir di Indonesia yang dibuat oleh Howard M. Federspiel dalam Kajian Al-Qur’an di Indonesia (1996).

Pelopor Tafsir di Nusantara

Siapakah yang mula-mula merintis tafsir di kawasan Nusantara? Tersebutkan seorang ulama besar asal Aceh, Syaikh Abdurrauf As-Sinkili (1615-1693). Azyumardi Azra, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (2004), menilai bahwa As-Sinkili adalah ulama terkemuka dengan reputasi internasional. Sebab, mata rantai intelektual dan tarekat yang membentang antara Hijaz dan Nusantara di kawasan Asia Tenggara melalui bertaut pada dirinya. Dengan reputasinya yang jempolan ini, As-Sinkili bahkan mengkader beberapa ulama dari Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Malaysia, hingga Thailand Selatan.

Baca Juga: KH. Muhammad Nur; Perintis Pondok Pesantren Langitan

Sebagai pelopor tafsir Al-Qur’an di kawasan Nusantara, ia menulis Tarjuman Al-Mustafid, sebuah kitab tafsir yang diulas menggunakan bahasa dan aksara Melayu-Jawi (Arab-Pegon). Bahasa yang dipilih ini merupakan lingua franca di zamannya karena menjadi bahasa pengantar dalam birokrasi pemerintahan, intelektual, hubungan diplomatik antar negara, hingga bahasa perniagaan.

Tarjuman Al-Mustafid karya As-Sinkili ini, sebenarnya telah didahului oleh Faroid Al-Qur’an dan Tafsir Surah Al-Kahfi. Namun sampai sekarang, dua karya ini tiada diketahui siapa penulisnya. Dua karya ini ditengarai ditulis di era pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), atau bahkan di era sebelumnya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah (1537-1604). Dan As-Sinkili yang telah menulis Tarjuman Al-Mustafid 30 juz lengkap itu, sampai sekarang dianggap sebagai pelopor tafsir di Nusantara.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Melalui pemaparan singkat ini, pembaca bisa menilai kualitas dan kapabilitas keilmuan para ulama Nusantara, bukan?

WAllahu a’lam bishshowab.
[]


* Oleh: Rijal Mumaziq Z
Read More