Pesan Langit dari Rembang


rumahnahdliyyin.com - Memahami Pesan rahmah KH. Yahya Cholil Staquf dari sisi lain. Dari sudut pandang yang berbeda.

Begitulah peranan Pak Kiai Yahya Cholil Staquf. Datang sebagai pribadi, tapi mendadak sorot mata, baik yg memuji maupun mencela, tertuju padanya, pada NU ormas terbesar di dunia, pada Indonesia negeri terbesar di dunia. Bergema kemana-mana!

Tiba-tiba dunia mafhum peranan apa yang bisa dimainkan oleh Kiai, NU dan Indonesia. Konsisten membawa pesan yang melampaui keadilan yang diperebutkan dan perdamaian yang dipertarungkan, yaitu pesan rahmah.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Penuhi Undangan ke Israel

Rahmah tidak hanya menuntut, tapi memberi keadilan. Pesan untuk pihak yang bertikai.

Betapa sering kita menuntut atas nama keadilan, tapi tanpa rahmah, kita hanya akan menuntut, dan lupa untuk juga memberi keadilan. Ini pesan yang menohok.

Anda menuntut hak atas tanah, tapi sudahkah Anda juga memberi keadilan pada pihak lain.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini

Pahamkah Anda apa yang dituju Kiai Yahya?

Pesan rahmah disampaikan dangan cara yang rahmah. Tak ada caci-maki; tak ada penghakiman pada pihak yang bertikai, tapi semua yang paham bisa merasakan pembelaan yang jelas pada perdamaian dan rekonsiliasi.

Yang berharap akan keluar cacian pada pihak tertentu, pasti kecewa. Inilah rahmah!

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya dari Israel

I stand with palestine dimaknai lewat pesan rahmah. Bukan dipahami secara literal “saya berdiri”, karena pesan rahmah disampaikan dengan kalem dan duduk santai. Mendukung Palestina bukan karena membenci Israel, tapi karena perwujudan rahmah. Itupun disampaikan tanpa nada heroik. Kalem!

Dunia telah melihat seorang Kiai dari Rembang, datang atas nama pribadi ke Yerusalem, bicara dengan datar dan kalem, mencari titik temu (kalimatun sawa) lewat konsep rahmah yang merangkul, bukan memukul.

Aku menyebutnya suara adem dan kalem dari Rembang menyampaikan pesan langit.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Peradaban dunia saat ini terancam oleh konflik global. Tiga jantung persoalan harus ditembus untuk menyampaikan pesan rahmah. Sebelumnya Kiai Yahya sudah ke Gedung Putih ketemu Wapres Amerika, lantas ke Yerussalem, tinggal satu lagi: ketemu putra mahkota MBS di Saudi Arabia.

Anda boleh tidak setuju dengan apa yang dilakukan Kiai Yahya. Tapi jangan meremehkan pesan rahmah yang dibawanya untuk perdamaian dunia. Ini adalah pesan langit. Anda mungkin tidak menyadarinya, tapi Kanjeng Nabi SAW. ada di sana saat pesan rahmah itu diucapkan Kiai Yahya.

“Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”

Setiap umat Muhammad yang menggaungkan kembali pesan rahmah yang telah diajarkan Nabi SAW., sejatinya akan didampingi dan dibela oleh Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Ini bukan lagi masalah Kiai Yahya, NU dan Indonesia.

Pesan langit sudah disampaikan Kiai Yahya. Caci-maki sudah beliau terima. Banyak pihak berlepas diri. Banyak pihak meninggalkannya. Namun mereka yang paham bahwa ini pesan langit, akan menyebut asma-Nya dan bersholawat pada Kanjeng Nabi SAW.

Mari kita terus sampaikan pesan rahmah ini 🙏

Tabik,



* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand.
Read More

Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Masa Kini


rumahnahdliyyin.com - Media elektronik dan media sosial di hari-hari terakhir ini dipenuhi dengan pemberitaan mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Kiai yang mengemban amanat sebagai Katib 'Aam PBNU dan baru saja dilantik sebagai Wantimpres ini tidak sedikit yang meresponnya negatif, bahkan cenderung nyinyir, terkait kunjungannya ke Israel.

Sebagaimana diketahui bersama, Ahad waktu setempat kemarin (10/06/2018), Gus Yahya hadir sebagai pembicara dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dalam kesempatan ini, Gus Yahya menyampaikan bahwa perlunya rahmah (kasih sayang) untuk dimiliki oleh semua manusia. Sebab, dengan rahmah inilah ketidakadilan yang selama ini diduga sebagai pemicu konflik di seluruh dunia bisa diatasi.

Dengan menggarisbawahi inti dari apa yang disampaikan oleh Gus Yahya ini, menurut penulis, Gus Yahya sebenarnya sudah berhasil menyuarakan solusi dari kegelisahannya selama ini. Kegelisahannya pada penjajahan. Kegelisahannya terhadap dehumanisasi. Kegelisahannya pada konflik yang terjadi dimana-mana yang seakan belum akan surut juga. Terlebih, konflik-konflik yang mengatasnamakan agama dan Tuhan masing-masing.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Kendati demikian, sangat disayangkan ternyata apa yang berusaha untuk disuarakan oleh Gus Yahya sebagai solusi untuk seluruh dunia ini ditanggapi negatif, bahkan cenderung nyinyir, oleh sebagian kalangan. Termasuk oleh Fadli Zon dan Hidayat Nur Wahid.

Fadli Zon, dalam cuitan di akun twitternya menulis bahwa apa yang dilakukan Gus Yahya dinilai tak berarti apa-apa dan memalukan bangsa Indonesia serta dikira Gus Yahya tidak peka terhadap perjuangan Palestina.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Cuitan Fadli Zon ini sebenarnya tidak begitu penting. Kita semua sudah tahu dan paham siapa Fadli Zon. Kendati seorang politisi dan juga anggota dewan, namun ia kerap menulis hal-hal yang secara akal sehat sangat dangkal. Bahkan, tidak jarang pula cuitannya saling bertentangan bila ditelisik dari waktu ke waktu.

Sedangkan Hidayat Nur Wahid, juga dalam akun twitternya, mengatakan kalau apa yang telah dilakukan Gus Yahya telah membuat kecewa Palestina dan umat Islam serta dinilai tidak sesuai dengan sikap pemerintah yang mendukung Palestina merdeka.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Tanpa bermaksud mengerdilkan HNW, kita semua juga sudah tahu dan paham siapa HNW. Sebagai politisi PKS yang menyuburkan IM (Ikhwanul Muslimin) di Indonesia, tidak mengherankan bila responnya demikian. Sebab, bagaimanapun juga, kalau di Indonesia IM menjadi PKS, di Palestina IM berubah menjadi Hamas, yaitu salah satu faksi perlawanan terhadap Israel yang ada di Palestina.

Sebagai faksi perlawanan, Hamas merupakan salah satu faksi yang dalam perjuangannya membela Palestina dengan menggunakan aksi-aksi konfrontasi langsung terhadap Israel. Beda dengan Fatah, faksi perlawanan yang ada lainnya di Palestina, yang lebih menerapkan dialog-dialog dan diplomasi dalam perjuangannya. Makanya, tak mengherankan pula apabila Hamas kemudian juga menyayangkan kehadiran Gus Yahya tersebut.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Dari sedikit deskripsi ini, kiranya cukup jelas mengapa ada orang-orang yang merespon negatif, bahkan nyinyir, terhadap upaya Gus Yahya. Adalah latar belakang afiliasi merekalah yang mendorong mereka berkomentar demikian. Padahal, pada dasarnya sama-sama ingin berjuang untuk menghapuskan penjajahan di muka bumi ini.

Dengan tidak sepakat dengan metode dan cara-cara perjuangan Hamas terkait kemerdekaan Palestina, tidak bisa seseorang yang punya metode dan cara-cara perjuangan tersendiri untuk kemerdekaan Palestina diklaim sebagai tidak mendukung Palestina, bahkan dikatakan sebagai antek Israel.

Baca Juga: Antara Ibadah di Indonesia dan di Negara Lain

Gus Yahya; Sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah Masa Kini

Apa yang telah dilakukan oleh Gus Yahya ini, sungguh mengingatkan penulis pada sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah. Sebagaimana kita ketahui bersama, kiai Wahab pernah melakukan hal yang hampir serupa pada awal abad ke-20.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Konteks antara kiai Wahab dan Gus Yahya memang berbeda. Kiai Wahab melakukannya di Saudi Arabia soal pembongkaran situs-situs bersejarah Islam, sedangkan Gus Yahya melakukannya di Israel dengan persoalan perdamaian. Juga, kiai Wahab berangkat atas nama NU (waktu itu masih Komite Hijaz) dan Gus Yahya berkunjung karena adanya undangan dan atas nama pribadi.

Kendati konteks antara dua kiai NU ini berbeda, namun ada titik persamaan antar keduanya. Pertama, kiai Wahab dan Gus Yahya sama-sama berjuang dengan metode dan strategi damai, yakni dialog dan diplomasi. Kiai Wahab melakukan dialog dan diplomasi dengan pimpinan Arab Saudi, Gus Yahya berdialog dan berdiplomasi dengan orang-orang Yahudi.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kedua, kiai Wahab dan Gus Yahya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Keduanya sadar bahwa untuk mewujudkan kemanusiaan dan perdamaian haruslah menggunakan cara-cara yang manusiawi secara damai.

Ketiga, keduanya sama-sama melakukannya demi kepentingan yang lebih besar. Bukan kepentingan kelompok, apalagi pribadi.

Dari kesamaan-kesamaan inilah kiranya tidak berlebihan apabila Gus Yahya adalah sosok kiai Wahab masa kini. Dengan kemampuannya yang sangat mumpuni, Gus Yahya sedikit pun tidak bergeming kendati berbagai orang dan kalangan menyayangkan ataupun mencibir upaya-upaya yang diusahakannya. Bukankah dalam setiap tindakan pasti ada yang suka dan tidak suka??

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Akhirnya, kalau kiai Wahab diakhir diplomasinya berbuahkan hasil sebagaimana bisa kita nikmati hingga hari ini, demikian pula semoga berhasil juga apa yang menjadi maksud dan tujuan Gus Yahya ke Israel kali ini, yakni terwujudnya perdamaian antara Israel dan Palestina serta berakhirnya segala konflik yang ada di muka bumi ini. Amin.



* Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC


rumahnahdliyyin.com - Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC. Untuk lebih mudahnya, digunakan A dan B. A adalah Rabbi David Rosen dan B adalah Gus Yahya. Silakan disimak.

A: Selamat datang. Anda adalah salah satu murid terbaik dari salah satu guru terbaik yang pernah ada, presiden Abdurrahman Wahid. Dan AJC sudah berhubungan dengan Gus Dur sejak 20 tahun lalu. Gus Dur juga bicara di acara seperti ini, 16 tahun lalu. Beliau juga pernah mengunjungi Israel sebanyak tiga kali. Lalu, Anda sekarang mengikuti jejaknya. Bagaimana perasaan Anda?

B: Terima kasih atas kesempatan ini. Adalah sebuah keberuntungan bagi NU bahwa Gus Dur meninggal dunia dengan meninggalkan murid-murid yang kemudian tumbuh dan mengikuti jejaknya. Apa yang selama ini saya dan rekan-rekan saya lakukan hanyalah sebatas melanjutkan pekerjaan dari Gus Dur.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya ke Israel

A: Tapi ini bukan sekedar ketersambungan. Kehadiran Anda di sini memiliki signifikansi tersendiri di mata dunia. Bagaimana Anda memaknai hal ini?

B: Idealisme dan visi yang dimiliki oleh Gus Dur adalah keberlangsungan umat manusia dalam jangka waktu yang sangat panjang. Dan oleh karenanya, tidak bisa dicapai secara instan. Gus Dur telah menjalankan perannya dalam mewujudkan visi tersebut. Dan kini adalah giliran murid-murid beliau di generasi ini untuk melanjutkan pekerjaan tersebut. Kami merasa beruntung, sebab berkat Gus Dur, kami telah mencapai titik tertentu dimana kami bisa melihat arah yang lebih jelas di depan kami.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

A: Dalam pidatonya di forum AJC di Washington, Gus Dur bicara tentang hubungan yang istimewa antara Yahudi dan Islam yang telah berjalan ratusan tahun. Bagaimana Anda memandang hubungan ini?

B: Hubungan antar Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif. Terkadang baik, terkadang konflik. Hal ini tergantung pada dinamika sejarah yang terjadi. Tapi secara umum, kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini. Dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri.

Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama, baik Islam maupun Yahudi, perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata. Dan kedua, menemukan interpretasi moral baru yang mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan agama-agama lain.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

A: Jadi, Anda mengatakan bahwa melakukan intrepretasi ulang terhadap teks Qur'an dan Hadits—sebagai upaya untuk menghilangkan penghalang bagi terciptanya hubungan baik antara Islam dan Yahudi—adalah sesuatu yang mungkin dilakukan?

B: Bukan hanya mungkin, tapi ini sesuatu yang “harus” dilakukan. Karena setiap ayat dari Qur'an diturunkan dalam konteks realitas tertentu, dalam masa tertentu. Nabi Muhammad SAW. dalam mengatakan sesuatu juga selalu disesuaikan dengan situasi yang ada pada saat itu. Sehingga Qur'an dan Hadits adalah pada dasarnya dokumen sejarah yang berisi panduan moral dalam menghadapi situasi tertentu. Ketika situasi dan realitasnya berubah, maka manifestasi dari moralitas tersebut sudah seharusnya berubah pula.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

A: Lalu, Anda dan Gus Dur selalu menekankan pentingnya memerangi ekstremisme dan mempromosikan pendekatan yang lebih humanis. Apakah menurut Anda Indonesia memiliki sesuatu yang bisa diberikan pada dunia dalam kaitannya dengan hal ini?

B: Ini bukan tentang menawarkan sesuatu dari Indonesia. Karena Indonesia sendiri bukannya sudah terbebas dari masalah. Kami memiliki masalah kami sendiri. Kami memang memiliki semacam kearifan lokal yang membantu masyarakat untuk hidup secara harmonis dalam lingkungan yang heterogan. Tapi kami masih punya banyak masalah terkait agama, termasuk Islam.

Apa yang kita hadapi saat ini, apa yang seluruh dunia hadapi saat ini adalah sebuah situasi dimana konflik terjadi di seluruh dunia. Dan didalam konflik-konflik ini, agama hampir selalu digunakan sebagai senjata untuk menjustifikasi konflik.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Sekarang saatnya kita bertanya, “Apakah kita ingin hal ini berlanjut? Atau, kita ingin memiliki masa depan yang berbeda?”

Jika kita ingin hal ini berlanjut, konsekuensinya jelas: Tidak ada yang bisa bertahan hidup didalam kondisi seperti ini. Jika kita ingin masa depan yang berbeda, kita harus merubah cara kita mengatasi persoalan.

Saat ini, agama digunakan sebagai justifikasi dan senjata untuk berkonflik. Kita, kaum beragama, mesti bertanya pada diri kita sendiri, apakah ini benar-benar fungsi yang sebenarnya dari agama? Atau, apakah ada cara lain yang memungkinkan agama berfungsi sebagai sumber inspirasi untuk menemukan solusi dari semua konflik ini?

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta untuk Diplomasi Israel-Palestina

Dalam pandangan saya, juga pandangan NU, dunia perlu berubah. Semua pihak perlu berubah. Saya akan menggunakan metafora, “obat macam apa pun tidak akan bisa menyembuhkan pasien diabetes atau jantung, selama si pasien tidak mau merubah gaya hidupnya”.

Salah satu ayat dalam Qur'an juga menyebutkan:

إنّ الله لايغيّر مابقوم حتّى يغيّروا مابأنفسهم

“Sesungguhnya Allah SWT. tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Selama ini kita selalu terlibat dalam konflik untuk memperebutkan barang, sumber daya, kekuasaan, apapun itu, dengan tujuan untuk mengalahkan pihak lain. Dan pada akhirnya, kita bahkan tidak mampu lagi membedakan bagaimana konflik ini bermula dan bagaimana seharusnya konflik ini diselesaikan.

Bagi saya, yang tersisa saat ini adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan mendasar yang bisa memberi kita solusi nyata. Pilihan itu adalah apa yang kita sebut dalam Islam sebagai rahmah. Rahmah berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Kita harus memilih rahmah karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan. Karena keadilan bukan hanya merupakan sesuatu yang kita inginkan, tapi juga tentang kemauan untuk memberikan keadilan bagi orang lain. Jika seseorang tidak memiliki rahmah, tidak memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap orang lain, orang ini tidak akan pernah mau memberi keadilan untuk orang lain.

Jadi, jika saya harus berseru pada dunia, aku ingin menyerukan pada dunia: “Mari memilih rahmah”.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

A: Konsep rahman dan rahim memiliki kemiripan dalam Yahudi. Hal ini mengindikasikan bahwa Islam dan Yahudi sejatinya memiliki kedekatan dalam spirit dan tradisi keagamaan. Pak Yahya, kami berterimakasih banyak atas seruan Anda untuk memilih rahmah. Dan kami harap, Anda mampu menjadi inspirasi bagi muslim di seluruh dunia. Dan kami harap, kami bisa mencapai rekonsiliasi dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat. Dan AJC akan selalu berusaha menjalani peran untuk memfasilitasi rekonsiliasi dan perdamaian sejati.[]

(Redaksi MP)
Read More

Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel


rumahnahdliyyin.com – Rencana kuliah umum di Israel oleh KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) terpaksa dibatalkan setelah beragam kritik mengalir deras. Memangnya mendukung kemerdekaan Palestina itu caranya cuma harus gontok-gontokan dengan Israel saja?

Musim panas (sekali) 2008 di Tripoli, saya punya kesempatan ikut dengar uneg-uneg dari mahasiswa senior asal Suriah. Sebut saja namanya Abdullah. Ia cerita panjang lebar soal Palestina. Dengan amat menggebu-gebu, mirip Moammar Qadafi kalau lagi bahas revolusi. Memang ia cukup lama mengikuti konflik Israel-Palestina, ya maklum, waktu itu Suriah belum babak belur, hingga fokusnya ke Palestina masih bisa total.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Dari ceritanya, saya bisa simpulkan kalau doi sebenarnya cuma fans garis kerasnya Hamas, bukan fans Palestina. Pasalnya, doi tak hanya serang Israel dalam argumennya, tapi juga “pemilik” Palestina lainnya, yaitu Fatah. Setiap langkah yang diambil Fatah untuk Palestina, ia kritisi. Sebaliknya, segala hal yang dilakukan Hamas, ia dukung. Fatah ia anggap sebagai musuh dalam selimut; bantuan-bantuan luar negeri mereka dapat banyak, tapi cuma berani pakai cara-cara pengecut, beraninya kok di meja perundingan diplomasi.

Untuk diketahui pembaca yang budiman, Fatah dan Hamas adalah dua faksi di Palestina dengan corak perjuangan yang berbeda. Fatah memang identik dengan meja-meja perundingan. Tokoh-tokohnya sibuk keliling dunia cari dukungan diplomatis. Sekilas, mereka kelihatan cuma jalan-jalan saja ke mana-mana, enggak mau ikut berdarah-darah ikut angkat senjata.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Pada NU

Sedangkan faksi Hamas lebih identik dengan intifada, AK-47, dan perjuangan yang berdarah-darah. Singkatnya kalau Hamas adalah Hulk, maka Fatah adalah Black Widow-nya. Tentu saja di Palestina tidak cuma ada dua faksi itu, masih ada faksi lain, termasuk faksi komunis Palestina, tapi harus diakui pengaruhnya tak sebesar Hamas dan Fatah.

Waktu mendengar penjelasan kawan saya, saya cuma membatin—bukan karena tidak berani bersuara, tapi karena kemampuan bahasa Arab saya baru sampai level bisa survive di pasar, belum sampai level debat. “Ealah, mosok ya wajah faksi Palestina harus Hamas thok?”

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Saya yakin yang punya pandangan seperti Abdullah, teman saya ini, sangat banyak di bumi Indonesia tercinta. Orang-orang yang alam pikirannya dalam soal Palestina amat hitam-putih. Kalau enggak berani melawan Israel dengan face to face, ya mending ke laut aja.

Nah itulah yang bikin kabar mengenai Kiai Yahya Cholil Staquf (Katib ‘Am PBNU) diundang untuk menghadiri kuliah umum dari The Israel Council on Foreign Relations, sebuah lembaga independen Israel, begitu ramai di media sosial.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Gus Yahya, biasa disapa begitu, didaulat untuk mengisi kuliah umum dengan tema besar “Pergeseran dari Konflik ke Kerja Sama”. Kabar itu pertama kali diterima publik dari jurnalis Israel, Simon Arann, melalui akun Twiternya dan sontak jadi pergunjingan umat muslim di Indonesia.

Sekilas dari tema tersebut, kita tahu bahwa gagasan yang diusung cukup bagus. “Apa iya enggak capek konflik terus? Ayo guyub rukun disengkuyung bareng!” Kira-kira begitu gagasan panitia yang Yahudi itu. Hm, baik juga bukan?

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Tapi ya begitulah, sangat disayangkan Gus Yahya memilih untuk membatalkan kuliah umum tersebut, meski tetap akan berangkat ke Israel untuk menemui beberapa tokoh di sana. Namun yang jelas, riuh-rendah suara menentang sudah mulai terdeteksi. Rata-rata tekanan yang ada adalah upaya agar Gus Yahya membatalkan kuliah umum ini.

Gus Yahya sendiri jelas merupakan sosok yang sangat dihormati bagi kalangan Nahdliyyin. Beliau menduduki posisi Syuriah, tepatnya Katib ‘Aam. Seseorang di posisi itu bukan main-main karena sudah di-“kiai”-i kan secara kultural jauh sebelum menjadi NU struktural. Tapi pembatalan kuliah umum, jujur, sedikit mengejutkan saya. Meski disisi lain tetap harus disyukuri bahwa Gus Yahya tidak membatalkan kedatangannya ke Israel untuk silaturahmi. Berbicara di forum internasional dibidang perdamaian juga bukan yang pertama bagi beliau, jadi saya yakin Gus Yahya ya enggak gagap-gagap amat-lah di depan tokoh-tokoh Israel.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Hal semacam ini sebenarnya jadi sinyal mengkhawatirkan karena segala upaya untuk mendukung Palestina harus sesuai dengan tafsiran tunggal. Upaya-upaya di luar tafsir tunggal itu pun harus siap dicap menyakiti rakyat Palestina—versi perspektif masyarakat muslim Indonesia.

Memangnya apa sih bentuk monopoli tafsir tunggal tersebut? Antara lain Palestina harus merdeka, Israel harus diusir. Dukung Palestina harus yang berani seperti Hamas, bukan dengan cara pengecut seperti Fatah. Maka tidak cukup ada kedubes Palestina di Indonesia. Kalau bisa bikin juga “kedubes” Hamas yang berani itu. Waw, semangat yang luwar biyasa.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Padahal kalau diperhatikan lebih jauh, Hamas sendiri kadang menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Terowongan yang menghubungkan perbatasan Mesir dan Jalur Gaza, dikomersilkan oleh salah satu elite Hamas, Abu Ibrahim. Anda bisa membaca sendiri laporan dari Spiegel Online, sebuah media di Jerman. Belum lagi laporan Forbes yang menyebut Hamas sebagai salah satu organisasi (Forbes menyebutnya cukup keras; teroris) terkaya dengan pendapatan 13 triliun tiap tahun. Gile!

Meski begitu, bukan berarti faksi Fatah lalu otomatis jadi benar-benar bersih lho ya? Tapi singkatnya begini, Akhi. Dukungan hanya pada Hamas, termasuk melalui donasi, telah lahirkan kekuatan bersenjata yang powerfull di negara konflik. Apa itu baik-baik saja? Dari kacamata upaya perdamaian, ya jelas ini ramashook! Parahnya, di saat bersamaan, upaya-upaya diplomasi yang dilakukan faksi lain masih saja dipandang sebagai solusi lemah yang tak membawa perubahan.

Baca Juga: Tiga Tokoh Indonesia Masuk Top 50 dalam The Muslim 500

Padahal kita sebagai bangsa, pernah punya pengalaman yang sama dengan Palestina sebagai negeri yang terjajah. Ada yang mati-matian di medan tempur seperti Diponegoro—iya betul, ada yang seperti Pattimura di garis depan—iya betul, serta banyak lagi nama-nama lain yang mengorbankan nyawa di medan tempur. Tapi jangan lupa, kita juga punya Sutan Syahrir, Oerip Soemarmo, Mohamad Roem, hingga Bung Karno yang tidak pernah angkat senjata. Mereka ini adalah sosok yang piawai berjuang lewat jalur dialog dan diplomasi. Dan kita bisa melihat sendiri juga kan hasilnya sekarang?

Persoalan dari ketidaksepakatan terhadap undangan kuliah umum Gus Yahya di Israel adalah munculnya nuansa monopoli mengenai “cara” membela Palestina yang benar. Bentuk monopoli tafsir bela Palestina ini semacam menarasikan bahwa mendukung Palestina itu berarti tak boleh dekat-dekat dengan Israel. Apapun yang berdekatan dengan Negara Yahudi itu berarti indikasi bahwa yang bersangkutan tidak benar-benar membela Palestina.

Baca Juga: Islam Italia Iri Terhadap Islam Indonesia

Lha kalau berdekat-dekatan ini niatnya diskusi aja gimana? Ya, enggak boleh. Kalau dengan warga Yahudi non-Pemerintah Israel? Ya pokoknya enggak boleh. Kalau di dialog itu justru lahir solusi untuk mempertegas posisi pro-Palestina? Ya, pokoknya jangan.

Maka tak heran jika Gus Yahya (saya masih khusnudhon) “terpaksa” membatalkan kuliah umum tersebut. Tekanan yang diterima beliau mengingatkan saya dengan tekanan yang diterima Gus Dur ketika masih jadi Presiden, yang saat itu tanpa tedeng aling-aling membuka hubungan bilateral pertama antara Indonesia dengan Israel.

Baca Juga: Yenny Wahid Bicara Tentang Perempuan Kampung di Forum PBB

Padahal kalau kita mau sedikit melihat di luar sana, banyak kok pihak-pihak yang mengupayakan penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan tidak melulu melihat situasinya serba hitam-putih semacam ini. Almarhum Qadafi misalnya, mengusulkan negara “Isratine” (gabungan Israel dan Palestine). Sedangkan negara-negara lain umumnya usulkan solusi dua negara.

Banyak juga negara Islam pro-Palestina merdeka yang juga tetap jalin hubungan dengan Israel dengan pelbagai dinamikanya. Turki dan Saudi, contohnya. Lalu apakah kedua negara tersebut bisa dianggap menyakiti hati umat muslim sedunia karena dekat juga dengan Israel? Enggak juga tuh.

Baca Juga: Ibu Sinta Masuk 100 Tokoh Berpengaruh di Dunia

Dari hal tersebut kita bisa berkaca, ada ragam cara untuk tuntaskan konflik panjang itu. Gus Yahya Cholil Staquf memang membatalkan kuliah umumnya, tapi tetap berniat untuk menyambung dialog dengan Israel. Apakah hasilnya nanti signifikan atau tidak, itu lain soal. Toh, ada banyak cara menuju Roma. Ada banyak cara selesaikan konflik Israel-Palestina.

Sebagai penutup, saya ingin memberi pesan sederhana. Akhi, studi perdamaian itu bukan eksakta. Ia bisa dikaji dengan ragam pendekatan. Langkah-langkah menuju damai juga beragam. Satu pendekatan yang tak antum setujui, tak berarti juga bakalan menyakiti warga Palestina. Lagian, sejak kapan antum berhak mewakili Palestina?
[]



* Oleh: Miftakhur Risal, Alumni Islamic Call College Tripoli, Libya. Tulisan ini diambil dari mojok.co.
Read More

1 Syawal, Tradisi Lomba Takbir Keliling di Biak, Papua, Digelar


rumahnahdliyyin.com, Biak - Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Kamis, 14 Juni 2018 mendatang, akan menggelar lomba kendaraan hias pada saat pawai takbir keliling dalam rangka menyambut malam Idul Fitri 1 Syawal 1439 H.

Koordinator lomba pawai takbir PHBI Biak Numfor, Mulyadi, pada Sabtu (09/06/2018), mengungkapkan bahwa para peserta lomba ini hanya boleh menggunakan kendaraan roda empat (mobil) dan tidak diperbolehkan memakai sepeda motor.

Baca Juga: Belajar Kemanusiaan dari Papua

Selain mewajibkan para peserta untuk menghias kendaraan dengan ornamen yang bernuansa religius, dalam lomba ini para peserta juga dituntut untuk mengedepankan tema perdamaian serta kerukunan antar umat beragama.

Lebih lanjut, Mulyadi mengatakan bahwa diantara syarat lomba lainnya yaitu lafadz takbir hanya boleh dilantunkan dengan suara yang diiringi dengan rebana, beduk atau sejenisnya.

Baca Juga: Jalan Hidayah Rafael atau Rifa'i

Sedangkan untuk pendaftarannya, para peserta tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Karena itu, bagi para pengurus takmir masjid dan musholla, lembaga Ormas Islam serta remaja masjid yang ingin mengikuti pawai lomba takbir keliling tersebut dapat segera mendaftar di panitia.

"Untuk pendaftaran peserta pawai kendaraan hias takbir keliling Biak tidak dipungut biaya alias gratis. Ya, ini menjadi program tahunan PHBI dalam upaya memperkuat hubungan tali silaturahmi dan kerukunan antarumat beragama," terang Mulyadi.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Kendati pendaftaran lomba ini gratis, bukan berarti lomba ini hanya berhadiahkan sertifat, piagam atau semacamnya saja. Lebih dari itu, selain memperoleh piagam, pemenang lomba ini juga akan memperoleh hadiah berupa uang pembinaan dan piala.

Sedangkan untuk rute kelilingnya, imbuh Mulyadi, para peserta akan dilepas dari Lapangan Hanggar Cenderawasih Lanud Manuhua dan berakhir di Jalan Pramuka atau depan Mapolsek Biak Kota.[]

(Redaksi RN)
Read More

Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel


rumahnahdliyyin.com | Jakarta - Katib 'Aam PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, tengah ramai dibicarakan di Sosial Media. Kiai yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Yahya ini ramai dibicarakan lantaran adanya undangan dari Israel. Undangan yang datang dari The Israel Council on Foreign Relations ini mendaulat Gus Yahya untuk menjadi pembicara di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem.

Dalam acara yang akan digelar pada 13 Juni mendatang ini, Gus Yahya akan membawakan materi Shitfing the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation. Kendati demikian, tidak sedikit pihak-pihak yang menuduh bahwa adanya undangan tersebut menunjukkan bahwa PBNU telah menjalin kerjasama dengan Israel.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia

Menanggapi isu yang tak berdasar tersebut, Ketua PBNU, Robikin Emhas, dalam keterangan persnya pada Sabtu (09/06/2018) menjelaskan hal yang sebenarnya.

Inilah keterangan Robikin Emhas tersebut:
  1. Tidak ada kerja sama NU dengan Israel. Sekali lagi ditegaskan, tidak ada jalinan kerja sama program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel.
  2. Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib 'Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU.
  3. Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel, bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya.
  4. Setiap insan yang mencintai perdamaian mendambakan penyelesaian menyeluruh dan tuntas atas konflik Israel-Palestina.
  5. Konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Diperlukan semacam gagasan out of the book yang memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil. Boleh jadi Gus Yahya Staquf memenuhi undangan dimaksud untuk menawarkan gagasan yang memberi harapan bagi terwujudkan perdamaian di Palestina dan dunia pada umumnya.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hal senada juga dikatakan dan dijelaskan oleh Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, bahwa kehadiran Gus Yahya dalam acara tersebut adalah untuk menyampaikan posisi Palestina sebagai negara yang merdeka. Selain itu, Gus Yahya akan mengatakan kepada Israel tentang persoalan konflik dengan Palestina.

"Di sana memang beliau berjuang menegaskan posisi Palestina sebagai negara berdaulat. Jadi, justru ingin mengatakan kepada Israel bahwa Palestina harus dilihat bukan semata-mata masalah agama, tapi masalah kemanusiaan. Masalah hak berdaulat atas suatu negara. Itu diplomasi yang akan disampaikan oleh Gus Yahya," ungkap Helmy sebagaimana dikutip dari detik.com.

Baca Juga: Minta Bertemu Katib 'Aam PBNU, Wapres AS Berharap Kepada NU

Dari keterangan pers yang disampaikan oleh Ketua PBNU (Robikin Emhas) dan Sekjen PBNU (Helmy Faishal Zaini) inilah maka jelas sudah bahwa apa yang dibicarakan di Sosial Media yang terkesan negatif mengenai KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya yang memang saat ini mengemban amanah sebagai Katib 'Aam PBNU dalam memenuhi undangan ke Israel itu tidaklah benar.[]

(Redaksi RN).
Read More

Alumni Santri di Sorong Bahas Soal Zakat


rumahnahdliyyin.com, Sorong - HAPPI atau Himpunan Alumni Pondok Pesantren Indonesia mengadakan bahtsul masail sore ini (08/06/2018) di Masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Bermula dari permasalahan yang diajukan oleh salah seorang muslim di Sorong, Papua Barat, maka kumpulan para alumni santri yang tinggal di Sorong, Papua Barat, ini melaksanakan bahtsul masail untuk menjawab permasalahan tersebut.

Bahtsul masail ini sebenarnya sudah dimulai sejak pekan lalu, yakni tanggal 31 Mei 2018 di Masjid Adz-Dzakirin, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Untuk yang pertama ini, masalah yang dibahas adalah soal zakat fitrah. Mulai dari waktu pelaksanaan zakat fitrah, jumlah kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan, siapa yang wajib mengeluarkan dan yang berhak menerima, siapa yang bisa menyalurkannya dan lain sebagainya.

"Pembahasan zakat fitrah sudah selesai yang didasarkan pada kitab-kitab para fuqoha' yang mu'tabar dan menghasilkan dua versi. Diantara tiga imam madzhab sependapat, termasuk Imam Syafi'i, berzakat fitrah dengan beras dengan ukuran 2.5 kg. atau 2.7 kg. dan yang boleh menggunakan uang adalah madzhab Hanafi dengan takaran beras 3.8 kg.," ungkap M. Munawir Ghozali, ketua HAPPI.

Baca juga: Alumnus Pondok Pesantren se-Indonesia di Sorong Bentuk HAPPI

Untuk yang kedua, permasalahan yang dibahas yaitu tentang zakat mal. Pembahasan ini dilaksanakan pada malam hari setelah sholat Tarawih sebagaimana pelaksanaan bahtsul masail yang pertama. Pembahasan ini pun sudah rampung.

"Yang berhak mengeluarkan zakat mal diantaranya adalah harta kepunyaan sendiri dengan kadar mengikuti atau berpedoman pada nishob mas 85 karat murni," tambah alumni Pondok Pesantren Lirboyo itu.

Baca juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk sore tadi, bertempat di masjid Al-Ikhtiyar, Kabupaten Sorong, Papua Barat, bahtsul masail yang diselenggarakan oleh HAPPI ini membahasa tentang zakat profesi. Hasil yang didapat yaitu bahwa zakat profesi sama dengan zakat mal. Hanya saja, untuk zakat profesi ada dua cara yang bisa dilakukan.

"Zakat profesi bisa dilakukan dengan cara mencicil tiap bulan dan bisa langsung setahun," imbuhnya lagi.

Baca juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Kendati beberapa permasalahan sudah didapatkan hasilnya, namun bahtsul masail yang berjalan secara paralel ini belum selesai sampai di sini.

"Besok malam Ahad insya Allah akan diadakan pembahasan soal fidyah di Masjid Adz-Dzakirin," pungkas M. Munawir Ghozali yang biasa dipanggil dengan ustadz Ali itu.

Untuk peserta yang turut hadir dalam bahtsul masail ini biasanya mencapai belasan orang.[]

(Redaksi RN)
Read More

Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali


rumahnahdliyyin.com - Masjid merupakan suatu tempat sentral bagi umat Islam. Semua kegiatan kaum muslim yang berkaitan dan bersifat keagamaan, seperti menjalankan ibadah sekaligus syiar Islam, di masjid-lah tempatnya.

Di Papua, sebagaimana kita ketahui bersama, Islam bukanlah agama yang mayoritas. Sebagai agama yang minoritas, keberadaan masjid di tanah Cenderawasih ini bisa menjadi indikator bahwa di mana ada masjid, maka di situ pasti ada pemeluk Islam yang jumlahnya cukup lumayan. Karena itu, kuantitas masjid di tanah Papua merupakan salah satu tolok ukur mengenai jumlah populasi umat muslim yang berada di daerah Papua.

Baca Juga: Sejarah Awal Berdirinya PCNU Paniai, Papua

Istilah Masjid, di Papua, bagi kalangan umat Nasrani, mempunyai istilah sebutan nama yang unik dan beragam. Misalnya saja di daerah Enarotali, Kab. Paniai, Papua. Masyarakat asli Papua di daerah ini, yang notabene mayoritas pemeluk agama Nasrani, menyebut "masjid" dengan istilah “Gereja Islam”.

Entah mengapa istilah tersebut melekat diingatan umat Nasrani. Sampai saat ini, pun kebanyakan masyarakat asli yang sudah tua masih menyebut tempat ibadah umat Islam dengan sebutan “Gereja Islam”, bukan masjid.

Baca Juga: Sejarah Awal Perkembangan PCNU Paniai, Papua

Penyebutan Istilah tersebut, bagi kalangan umat Islam sendiri, tidak menjadi masalah. Hal ini menandakan bahwa antara umat Nasrani dan Islam saling menjaga kerukunan dan penguatan tali persaudaraan antar agama yang ada di Kabupaten Paniai.

Pada zaman dahulu, konon ceritanya, istilah sebutan itu merupakan bentuk penghormatan umat Nasrani kepada umat Islam yang belum mempunyai tempat ibadah sebagaimana tempat ibadah yang dimiliki oleh umat Nasrani pada waktu itu.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU ke-92 dengan Santuni Anak Yatim

Begitu juga nama Masjid Al-Mubarok Enarotali, sejak mulai berdirinya sampai saat ini, pun tidak ada, bahkan sengaja tidak dikasih papan nama seperti kebanyakan Masjid pada umumnya. Namun belakangan, akhir-akhir ini diatas pintu gerbang masuk masjid terdapat tulisan “Masjid Al-Mubarok Enarotali“. Itupun hanya kecil dan sekedar sebagai identitas rumah ibadah bagi umat Islam saja. Itulah indahnya orang terdahulu mensikapi keberagaman pada masanya.

Sejarah awal berdirinya Masjid Al-Mubarok Enarotali di Kabupaten Paniai, Papua, yang terletak di jalan Enaro-Madi, tepatnya di kompleks pasar (kompas) lama ini, diperkirakan dibangun pada tahun 1980-an yang diprakasai oleh Bapak Munaf, seorang anggota polisi yang kebetulan bertugas di Enarotali. Bersama dengan umat muslim lainnya, beliau mendirikan sebuah bangunan kecil yang penting bisa dijadikan untuk menjalakan kewajiban agama sebagai seorang muslim.

Baca Juga: Surat Terbuka dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Kemudian pada tahun 1986, bapak Munaf Yusuf berinisiatif menguatkannya dengan mensertifikatkan tanah diatas "hitam putih" dengan mengurus surat tanah dan pelepasan tanah yang disaksikan oleh kepala suku, tokoh adat dan para pendeta, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kelak dikemudian hari nanti.


Baca Juga: Ketua MUI Papua: Saya Sangat Malu Bila Ada Umat Islam Papua Melakukan Intoleransi dan Perpecahan

Salah satu masyarakat muslim asli Paniai, yakni bapak H. Arif Pigome, mengatakan bahwa pada tahun 1986, pada waktu itu ia masih kecil, ia melihat sudah ada bangunan rumah kecil seperti musholla dan surau. Kemudian setelah berjalannya waktu, tahun demi tahun, dengan bertambahnya umat muslim yang datang, serta kondisi bangunan lama yang tidak bisa menampung para jama’ah, maka dengan pertimbangan tersebut, bapak Munaf Yusuf dan umat muslim bersepakat untuk memperluas bangunan tersebut. Walhasil, bangunan yang dulunya hanya sebuah bangunan rumah kecil berupa musolla, berubah menjadi sebuah bangunan Masjid.

Dalam perkembangannya, bangunan Masjid Al-Mubarok ini pun mengalami banyak perubahan. Adapun perkembangan selanjutnya, menurut ketua MUI setempat, yaitu dititik beratkan pembangunan pagar dan batas tanah milik Masjid.

Baca Juga: Ketua MUI Papua: Menjaga Kerukunan Adalah Sarana sekaligus Dakwah Umat Islam

Adapun dalam perkembangannya, bangunan Masjid ini diantaranya sebagai berikut:

Pada tahun 1990, perbaikan atap masjid. Dilanjutkan pada tahun 1995, yaitu pembuatan tempat wudlu' dan kamar mandi. Kemudian di tahun 1997, diteruskan dengan pembangunan tempat kamar imam serta kamar muadzin serta merbot. Di tahun 2000, pembangunan dilanjut dengan pembangunan serambi Masjid dan pagar gerbang Masjid, serta yang terakhir yaitu pada tahun 2017, yakni merenovasi tempat wudlu'.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Demikianlah sejarah singkat Masjid Al-Mubarok Enarotali yang berada di Kabupaten Paniai, Papua. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Salam.[]




* Oleh: M. Taha, Aktivis Muda NU di Kabupaten Paniai, Papua.
Read More

Nabi Muhammad SAW. Mengerjakan Qunut Hingga Beliau Wafat


rumahnahdliyyin.com - Dalam kitab Kasyifatus Saja disebutkan bahwa qunut merupakan dzikir khusus yang memuat do'a-do'a dan pujian. Oleh karena itu, qunut dikatakan berhasil apabila memuat lafadz-lafadz yang mengandung dua hal tersebut.

Adapun qunut sendiri ada dua:
1. Qunut Nazilah, yaitu qunut yang dikerjakan pada saat sholat Fardlu/Maktubah ketika umat Islam tengah didera bahaya, bencana, wabah penyakit, ataupun serangan dari kaum kafir.
2. Qunut Shubuh atau Witir, yaitu qunut yang dikerjakan pada saat sholat Shubuh atau sholat Witir.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Hukum mengerjakan qunut adalah sunnah. Dalam sholat Shubuh sendiri, mengerjakan qunut termasuk sunnah ab'adl, yaitu suatu kesunnahan yang apabila tidak dikerjakan ditambal atau diganti dengan sujud Sahwi.

Banyak para sahabat Nabi Muhammad SAW. yang mensunnahkan qunut. Diantaranya yaitu Abu Bakar, Umar bin Khothob, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas dan lain sebagainya.

Baca Juga: Empat Kata Penyempurna Iman

Kesunnahan ini didasarkan pada hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. yang diantaranya yaitu yang diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berbunyi:

مازال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقنت فى الفجر حتّى فارق الدّنيا
RasuluLlah SAW. senantiasa berqunut pada waktu sholat Shubuh hingga (beliau) berpisah dengan dunia (wafat). [HR. Ahmad].

Baca Juga: Maulid

Ada memang hadits yang menyatakan bahwa RasuluLlah SAW. hanya mengerjakan qunut sebulan saja, kemudian tidak lagi. Hadits tersebut yaitu:

أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قنت شهرا يدعوا على أحياء من أحياءالعرب ثمّ تركه

Sungguh, RasuluLlah SAW. berqunut selama sebulan, mendo'akan jelek kepada suatu kelompok, kemudian meninggalkannya. [HR. Bukhari].

Baca Juga: Bid'ah

Dalam kitab Shohih Shifatu Sholatin-Nabiy, Habib Hasan bin Ali As-Saqqof memberikan catatan terhadap hadits terakhir ini dengan menukil dari kitab Sunan Kubro bahwa Imam Baihaqi telah meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi yang mengomentari hadits tersebut.

Menurut Abdurrahman bin Mahdi, qunut yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW. dalam hadits terakhir diatas maksudnya hanyalah bacaan qunut, bukan qunutnya. Yaitu bacaan qunut Nabi Muhammad SAW. yang berupa melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok. 


Karena itu, mengenai dua hadits tentang qunut yang secara dhohir tampak tidak sinkron sebagaimana diatas, bukan berarti bahwa hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. itu saling bertentangan. Sebab, hadits yang terakhir hanyalah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW. hanya berhenti melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok ketika berqunut selama sebulan saja. Adapun diluar sebulan itu, Nabi Muhammad SAW. dalam qunutnya tidak lagi melaknat atau mendo'akan kejelekan kepada suatu kelompok.

Dengan kata lain, Nabi Muhammad SAW. senantiasa berqunut hingga beliau wafat. Hanya saja, pernah dalam satu bulan penuh Nabi Muhammad SAW. berdo'a dalam qunutnya untuk kejelekan suatu kelompok. WAllâhu a'lam.[]



Oleh: Agus Setyabudi, Khodim Madin Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Kurwato, Sorong, Papua Barat.
Read More

Belajar Tawadlu' dari Kiai Tawadlu'


rumahnahdliyyin.com - Mbah Kiai Umar Abdul Mannan (wafat 1980), pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, dikenal luas sebagai seorang kiai yang sangat tawadlu’ (rendah hati). Hal ini tidak lepas dari cara Mbah Umar memperhatikan kitab Ta’limul Muta’allim secara kritis, yakni bukan tentang hak-haknya sebagai guru, melainkan tentang kewajiban-kewajibannya. Selain Ta'limul Muta'allim, kitab lain yang juga menjadi rujukan Mbah Umar dalam bertawadlu' adalah kitab Al-Barzanji.

Sebagai contoh, Mbah Umar sebagai guru tidak pernah berpikir bagaimana dibayari santri. Sebab, itu sama saja dengan tamak dalam hal duniawi. Bahwa seorang tholibul ‘ilmi atau santri diibaratkan seperti budak dalam hubungannya dengan guru seperti yang diungkapkan oleh Sayyidina Ali kw., Mbah Umar sebagai guru tidak menggunakan hal itu untuk memperlancar tercapainya kepentingan duniawi beliau.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Hal itu juga merupakan refleksi dari sikap tawadlu’ dan keikhlasan beliau dalam mendidik para santri. Mbah Umar adalah orang yang jujur dan tulus karena beliau memang seorang sufi yang secara istiqomah memilih hidup zuhud. Beliau tidak silau terhadap gemerlapnya dunia. Maka bisa dimengerti, apa yang disebut ndalem Mbah Umar hanyalah sebuah rumah yang sangat sederhana.

Oleh karena Mbah Umar memelihara sikap tawadlu’, maka santri-santri tetap beliau hargai dengan tidak merendahkan, apalagi menghina mereka. Mbah Umar tetap menjunjung kesantunan kepada para santri. Mbah Umar tidak pernah memberikan sesuatu kepada santri dengan menggunakan tangan kiri atau dengan cara melemparkannya.

Baca Juga: Meski Diminta Istri untuk Poligami, Kiai Abdul Mannan Menolaknya

Sikap tawadlu’ Mbah Umar tersebut sebenarnya tidak hanya merupakan cerminan dari praktik tawadlu’ seperti yang dimaksudkan dalam kitab Ta’limul Muta’allim, tetapi juga dalam kitab Al-Barzanji yang ditulis oleh Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim.

Dalam kitab Al-Barzanji dijelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang pribadi yang sangat tawadlu’. Wakâna shallaLlâhu ‘alaihi wa sallama syadîdal hayâ’ wat-tawâdlu’i. Wujud nyata dari tawadlu’ beliau ﷺ antara lain yaitu mencintai fakir miskin dan mau bergaul bersama mereka.

Baca Juga: Strategi Mbah Bisri Memelihari Diri dari Larangan Tamak

Bentuk tawadlu’ seperti yang dicontohkan RasuluLlah SAW. tersebut diikuti oleh Mbah Umar dengan baik. Buktinya, Mbah Umar banyak berhubungan dengan wong-wong cilik yang kalau dilihat dari segi nasab biasa-biasa saja. Kepada mereka, Mbah Umar seringkali berbicara dalam bahasa Jawa Krama Hinggil, seperti kepada tukang becak, tukang bangunan, tukang pos, para santri yang belum cukup beliau kenal dan sebagainya. Semua itu merupakan bukti bahwa Mbah Umar memang orang yang sangat tawadlu’.

Terhadap orang-orang yang Mbah Umar meyakininya lebih tinggi karena lebih sepuh, misalnya, beliau senantiasa memberikan penghormatan yang disebut ta'dhim. Hal ini antara lain dapat dilihat contohnya ketika Mbah Kiai Umar menerima tamu yang notabene sahabat beliau, yakni Mbah Kiai Ali Maksum dari Krapyak, Bantul, Yogyakarta. Mbah Umar mencium tangan Mbah Kiai Ali Maksum (Rais 'Aam PBNU 1980-1984) seperti dapat dilihat pada gambar.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dengan mengacu pada apa yang dipraktikkan Mbah Kiai Umar, kita dapat menyimpulkan antara lain bahwa orang tawadlu' adalah orang yang senantiasa menahan diri untuk tidak merasa lebih tinggi dari pada orang lain yang secara sosiologis sebenarnya berada dibawahnya. Sedangkan terhadap orang lain yang diyakininya lebih tinggi, orang tersebut senantiasa melakukan ta’dhim, yakni bersikap memuliakan dengan memberikan penghormatan yang tulus.[]



* Oleh: Muhammad Ishom, Dosen Fakultas Agama Islam, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More