Khitah Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Akhir-akhir ini, Islam Nusantara jadi wacana publik. Tak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin), tetapi seluruh masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya, seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru.

Hal ini wajar, karena Nahdlatul Ulama (NU) adalah ormas terbesar bangsa ini. Jika terjadi perubahan didalam organisasi ini, pengaruhnya segera dirasakan oleh seluruh negeri. Karena itu, bentuk apresiasi publik seperti ini sangatlah positif, baik bagi NU maupun bagi negeri ini.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Sebagai tema Muktamar NU 2015 di Jombang, Islam Nusantara memang baru dideklarasikan. Namun sebagai pemikiran, gerakan dan tindakan, Islam Nusantara bukanlah hal baru bagi kita. Islam Nusantara adalah Islam Ahlussunnah wal-Jama'ah An-Nahdliyyah.

Mengapa di sini perlu penyifatan An-Nahdliyyah? Jawabnya adalah karena banyak kalangan lain diluar NU yang juga mengklaim sebagai pengikut Ahlussunnah wal-Jama'ah (disingkat Aswaja), tetapi memiliki cara pikir, gerakan dan amalan yang berbeda dengan NU.

Baca Juga: Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan

Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) pun mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah wal-Jama'ah, tetapi sepak terjang mereka selama ini sangat ditentang NU. Karena itu, Islam Nusantara adalah cara dan sekaligus identitas Aswaja yang dipahami dan dipraktikkan para muassis (pendiri) dan ulama' NU.

Islam Nusantara adalah cara proaktif warga NU dalam mengidentifikasi kekhususan-kekhususan yang ada pada diri mereka guna mengiktibarkan karakteristik-karakteristik ke-NU-an. Karakteristik-karakteristik ini bersifat peneguhan identitas yang distingtif, tetapi demokratis, toleran dan moderat.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Pada dasarnya ada tiga pilar atau rukun penting didalam Islam Nusantara. Pertama, pemikiran (fikroh); kedua, gerakan (harokah); dan ketiga, tindakan nyata ('amaliyyah).

Pilar pertama, pemikiran, meliputi cara berpikir yang moderat (tawassuth). Artinya, Islam Nusantara berada dalam posisi yang tidak tekstualis, tetapi juga tidak liberal. Tekstualis yang dimaksud adalah berpikir secara kaku pada nash (al-jumûd al-manqûlãt) sebagaimana yang terjadi pada kaum Wahabi didalam memahami teks-teks Al-Qur'an.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Salah satu pernyataan Imam Al-Qarafi, ulama ahli ushul fiqih, menyatakan jika al-jumûd 'alã al-manqûlãt abadan dalãl fid-din wa jahl bi maqosidihi, pembacaan yang statis (tanpa tafsir) penafsiran pada hal-hal yang dalil-dalil yang selamanya adalah kesesatan didalam agama dan kebodohan tentang maksud-maksud agama. Liberal dimaksud adalah cara berpikir yang bebas tanpa mengindahkan metodologi yang disepakati dikalangan ulama yang dijadikan pegangan berpikir dikalangan NU.

Pilar kedua adalah gerakan. Artinya, semangat yang mengendalikan Islam Nusantara itu ditujukan pada perbaikan-perbaikan. Tugas Islam Nusantara adalah melakukan perbaikan-perbaikan (reformasi) untuk jam'iyyah (perkumpulan) dan jama'ah (warga) yang tak hanya didasarkan pada tradisi, tetapi juga inovasi.

Baca Juga: Lupakan Islam Nusantara

Reformasi Islam Nusantara adalah reformasi menuju tahapan yang lebih baik dan secara terus-menerus. Jadi, posisi Islam Nusantara bukan hanya mengambil hal yang baik saja (al-akhdzu bil-jadid al-aslah), karena istilah mengambil itu pasif, tetapi juga melakukan inovasi, mencipta yang terbaik dan terbaik. Prosesnya terus-menerus. Inovasi pun tak cukup, juga harus dibarengi dengan sikap aktif dan kritis.

Pilar ketiga adalah 'amaliyah. Islam Nusantara sebagai identitas Aswaja NU menekankan bahwa segala hal yang dilakukan nahdliyyin harus lahir dari dasar pemikiran yang berlandaskan pada fiqih dan ushul fiqih; disiplin yang menjadi dasar kita untuk menyambungkan amaliyah yang diperintah Al-Qur'an dan Sunah Nabi SAW.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Dengan cara demikian, amaliyah Islam Nusantara itu sangat menghormati pada tradisi-tradisi serta budaya yang telah berlangsung sejak lama ditengah masyarakat. Tradisi atau budaya yang didalam ushul fiqih disebut dengan 'urf atau 'ãdat tidak begitu saja diberangus, tetapi dirawat sepanjang tidak menyimpang dari nilai-nilai ajaran Islam. Praktik keagamaan yang demikian inilah yang pada dasarnya dilakukan Wali Songo dan kemudian diwariskan pada pendiri NU dan kepada kita semua.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Beragama

Ada lima penanda Islam Nusantara. Pertama, reformasi (islahiyyah). Artinya, pemikiran, gerakan dan amalan yang dilakukan para nahdliyyin selalu berorientasi pada perbaikan. Pada aspek pemikiran, misalnya, selalu ada perkembangan disana (tatwir al-fikroh), dan karena itu, pemikiran Islam Nusantara adalah pemikiran yang ditujukan untuk perbaikan terus. Cara berpikirnya adalah tidak statis dan juga tidak kelewat batas.

Kedua, tawazunniyyah, yang berarti seimbang di segala bidang. Jika sebuah gerakan diimplementasikan, maka aspek keseimbangan juga harus dijadikan pertimbangan. Tawazunniyyah ini menimbang dengan keadilan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Ketiga, ta-awuniyyah, yang berarti sukarela (volunterisme). Satu hal yang harus dipegang dalam kesukarelaan ini adalah dalam menjalankan pemikiran, gerakan dan amalan, nahdliyyin tidak boleh memaksakan pada pihak lain (lã ijbãriyyah). Artinya, orang NU harus memperhatikan hak-hak orang diluar NU. Secara internal, warga NU juga tak boleh bersikap fatalistik (jabbãriyyah), harus senantiasa berusaha dan berinovasi menegakkan tiga pilar Islam Nusantara diatas. Dengan kata lain, tidak ada pemaksaan, tetapi bukan tidak berbuat apa-apa.

Keempat, santun (akhlaqiyyah), yaitu segala bentuk pemikiran, gerakan dan amalan warga Islam Nusantara dilaksanakan dengan santun. Santun disini berlaku sesuai dengan etika kemasyarakatan dan kenegaraan serta keagamaan.

Baca Juga: Ulama' Otoriter dan Ulama' Otoritatif

Kelima, tasamuh, yang berarti bersikap toleran, respek kepada pihak lain. Sikap toleran ini tidak pasif, tetapi kritis dan inovatif. Dalam bahasa keseharian warga NU adalah sepakat untuk tidak sepakat.

Secara konseptual, kelima penanda Islam Nusantara tersebut mudah diucapkan, tetapi sulit direalisasikan. Sulit disini berbeda dengan tidak bisa melaksanakan. Misalnya, sikap Islam Nusantara dalam menyikapi dua arus formalisme keagamaan dan substansialisasi keagamaan berada ditengah. Kedua arus boleh diperjuangkan selama tidak menimbulkan konflik. Prinsip yang harus dipegang dalam hal ini adalah kesepakatan (konsensus), demokratis dan konstitusional.

Baca Juga: Islam Bhinneka Tunggal Ika

Hal penting lain yang ingin penulis sampaikan adalah persoalan ijtihad. Apakah model ijtihad Islam Nusantara? Ijtihad Islam Nusantara adalah ijtihad yang selama ini dipraktikkan oleh NU. Prinsipnya, Islam tak hanya terdiri pada aspek yang bersifat tekstual, tetapi juga aspek yang bersifat ijtihadiyyah. Ketika kita menghadapi masalah yang tak ada didalam teks, maka kita menganggap masalah selesai, artinya tidak dicarikan jawaban.

Islam Nusantara tidak berhenti disini, tetapi melihat dan mengkajinya lebih dulu lewat mekanisme-mekanisme pengambilan hukum yang disepakati dikalangan nahdliyyin. Hasil dari mekanisme metodologi hukum ini (proses istinbãt al-hukm) harus dibaca lagi dari perspektif Al-Qur'an dan Sunnah. Mekanisme metodologi hukum yang biasa dipakai nahdliyyin disini, misalnya, adalah mashlahah (kebaikan).

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Ilustrasinya, jika sebuah amalan tak ada di rujukan tekstualnya, tetapi ia membawa kebaikan ditengah masyarakat, hal itu justru harus dilestarikan: idhã wujida nash fathamma mashlahah, idhã wujida al-maslahah fathamma shar' al-Lãh—jika ditemukan teks, maka disana ada kebaikan, dan jika ditemukan kebaikan, maka disana adalah hukum Allah. Ini uraian singkat dan pokoknya saja. Pembahasan lebih lanjut akan dilakukan diruang yang lebih luas.

Pada akhir tulisan pendek ini saya ingin mengatakan bahwa Islam Nusantara harus lebih digali lagi sebagai perilaku bangsa agar tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan justru terjadi.[]




* Oleh: KH. Ma'ruf Amin, Rais 'Aam PBNU dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Read More

Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar


rumahnahdliyyin.com - Diantara banyak kitab kuning di Indonesia, yang menjadi rujukan di pondok pesantren maupun madrasah, yang menurut Antropolog Martin van Bruinessen (2015) jumlahnya ada sekitar 900-an teks, rata-rata ditulis oleh pengarang laki-laki. Mungkin belum banyak orang tahu bahwa ada satu kitab yang dikarang oleh ulama perempuan. Ia adalah Fatimah binti Abdul Wahab Bugis bin Syaikh Arsyad Al-Banjari.

Alkisah, sekembalinya Syaikh Arsyad dari mengaji di Makkah selama puluhan tahun (1772), konon ia disambut dengan antusias oleh pihak sultan, pembesar kerajaan dan para warga ibu kota. Sultan yang memerintah pada waktu itu, Sultan Tahmidillah I (1745-1778), sangat menghormatinya dan menikahkannya dengan salah seorang kerabat dekatnya, yaitu Ratu Aminah, anak pertama Pangeran Thaha, saudara sepupu sultan.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Sultan juga menghadiahkan sebidang tanah, sekitar lima kilometer dari Martapura, tempat kedudukan keraton pada waktu itu. Diatas tanah inilah kemudian Syaikh Arsyad membangun tempat pemukiman baginya dan keluarganya serta sekaligus sebagai tempat pengajian guna mencurahkan ilmu-ilmu keislaman yang telah dipelajarinya selama ia di tanah haram.

Pengajian tersebut menghasilkan banyak tokoh-tokoh ulama' yang kemudian tersebar ke seluruh pelosok Banjar dan tempat-tempat lain di Kalimantan, bahkan ke Sumatera. Murid-murid ini, pada gilirannya, membuka pula pengajian sendiri di tempat tinggalnya masing-masing. Diantara murid-muridnya ini terdapat keturunannya sendiri pula yang kemudian menjadi ulama terkemuka juga.

Baca Juga: Fathul Mannan; Kitab Pegon Tajwid Karya Kiai Maftuh

Konon, Syaikh Arsyad, disamping membuka pengajian agama yang diikuti oleh kaum pria, juga membuka pengajian untuk kaum perempuan. Diantara murid perempuannya yang paling cerdas adalah cucunya sendiri, yaitu Fatimah, yang dengan rapi mencatat pelajaran-pelajaran yang ia terima. Catatan itu, seperti yang dituturkan oleh Alfani Daud dalam Islam dan Masyarakat Banjar (1997), kemudian disalin secara turun-temurun dan belakangan dicetak dengan nama Kitab Parukunan.

Jangan-jangan, tidak banyak para pembaca Kitab Parukunan ini yang menyadari bahwa penulisnya adalah seorang perempuan. Sebab, kitab itu belakangan diatasnamakan seorang lelaki, yakni paman Fatimah yang bernama Jamaluddin, anak Syaikh Arsyad dari istrinya yang bernama Ratu Aminah. Karena itulah kitab ini lebih dikenal dengan nama Kitab Parukunan Jamaluddin.

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal

Kurang jelas mengapa kitab itu diatasnamakan Jamaluddin. Dalam dunia kitab kuning, menurut Martin van Bruinessen (2015), memang tidak ada hak cipta dan menyalin tulisan orang lain tanpa kreditasi pun sudah menjadi kebiasaan. Mungkin saja, identitas pengarangnya dengan sengaja disembunyikan–sesuai dengan anggapan yang sudah mapan bahwa mengarang kitab merupakan pekerjaan laki-laki.

Kalau kita menggali sejarah lebih dalam, tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan perempuan-perempuan lain yang menguasai ilmu-ilmu agama dan telah menulis kitab.

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asma'ul Husna Karya Gus Mus

Menurut Ahmad Juhaidi (2009) dalam tulisannya yang berjudul Untuk Kartini di Tanah Banjar, paling tidak ada dua kemungkinan mengapa karya itu diatasnamakan Mufti Jamaluddin. Pertama, pihak kerajaan hanya mengakui otoritas ilmu agama Islam hanya dipegang oleh mufti kerajaan yang dijabat oleh Jamaluddin. Fatwa keagamaan yang tidak dikeluarkan mufti tidak diakui dalam struktur Kerajaan Banjar ketika itu. Bisa jadi, jika Parukunan itu diklaim sebagai tulisan Fatimah, bukan mufti kerajaan, beragam hukum fiqih dalam Parukunan tidak diakui kebenarannya.

Kedua, Fatimah melihat kepentingan yang lebih besar dengan tidak ditulisnya namanya sebagai pengarang Parukunan tersebut. Dengan mencantumkan nama Jamaluddin, kitab itu akan cepat diakui kerajaan dan masyarakat luas, serta Fatimah, barangkali sebagai keponakan merasa berkewajiban menghormati pamannya yang notabene pemegang otoritas Islam tertinggi di Kerajaan Banjar.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

Kitab ini sederhana saja. Sesuai dengan namanya, Parukunan, kitab ini berarti uraian dasar mengenai rukun Islam dan iman. Atau dalam istilah Banjar disebut dengan rukun-marukun. Walaupun sederhana, kitab ini merupakan salah satu yang paling popular diantara kitab-kitab yang sejenis dan sering dicetak kembali.

Belakangan, beredar kitab sejenis yang diberi nama Kitab Parukunan Besar yang disusun oleh Haji Abdurrasyid Banjar. Menurut Alfani Daud (1997), mungkin dari kitab yang dikarang Fatimah inilah yang kemudian ditambah dan diadakan perubahan sekedarnya.

Baca Juga: Ats-Tsauri; Samudera Ilmu dari Kufah

Salah satu dari kedua Kitab Parukunan ini, sudah sejak sangat lama senantiasa terdapat di hampir setiap rumah tangga muslim di Kalimantan Selatan, dijejerkan dengan Al-Qur'an. Kitab Parukunan yang lain, yang bernama Rasam Parukunan, dikarang oleh Haji Abdurrahman dari Sungai Banar, Amuntai (wafat pafa 1965). Kitab yang usai ditulis pada 1938 itu kurang popular dibanding kedua kitab diatas.

Kalau dilihat dari segi isi, Kitab Parukunan Jamaluddin tak jauh berbeda dengan kitab sejenis yang lainnya. Namun yang menarik, kitab ini tidak menyinggung sisi-sisi Fiqih Klasik yang kini dianggap diskriminatif terhadap perempuan. Penulisnya tidak menyebut mandi usai haid sebagai "bersuci" (yang secara implisit menganggap haid adalah kotor), tetapi hanya menyebutnya sebagai "mandi wajib". (Mujiburrahman, 2013: 30).

Pengarang tidak meletakkan perempuan pada posisi lebih rendah atau kurang suci daripada laki-laki. Ia menghindari dari perkara yang sangat membedakan antara kedua jenis kelamin, seperti aqiqah, warisan dan kesaksian.

Baca Juga: Al-Biruni; Antropolog Pertama?

Akan tetapi, sayangnya, kita tidak mengetahui secara rinci peran apa yang dilakukan Fatimah sebagai ahli agama di masyarakat, lantaran ketiadaan sumber-sumber historis.

Keberadaan Fatimah sebagai penulis Kitab Parukunan menunjukkan bahwa sejak abad ke-19, penguasaan ilmu-ilmu agama tidak hanya terbatas dikalangan laki-laki saja, tetapi juga perempuan, khususnya di masyarakat Banjar. Sekarang ini, Kitab Parukunan masih beredar luas dan tetap dipergunakan oleh masyarakat, terutama di kalangan muslim tradisional.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai "Rahmah" dengan "Ramah"

Fatimah binti Abdul Wahab Bugis diperkirakan wafat pada tahun 1828 M. dalam usia 53 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman Desa Karang Tengah, Kecamatan Martapura, satu kompleks dengan makam ayah dan ibunya.[]



* Oleh: Muhammad Ramli, Ustadz di Pesantren Al-Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Tulisan ini diambil dari alif.id.
Read More

Lupakan Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com -
أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإِ مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُواْ لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكاً نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلاَّ تُقَاتِلُواْ قَالُواْ وَمَا لَنَا أَلاَّ نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَارِنَا وَأَبْنَآئِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْاْ إِلاَّ قَلِيلاً مِّنْهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ 

لَّقَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاء سَنَكْتُبُ مَا قَالُواْ وَقَتْلَهُمُ الأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّواْ أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدَّنْيَا قَلِيلٌ وَالآخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَاناً فَتُقُبِّلَ مِن أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ 

قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاء لاَ يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعاً وَلاَ ضَرّاً قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُواْ لِلّهِ شُرَكَاء خَلَقُواْ كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Lima ayat diatas tak punya hubungan dengan wacana Islam Nusantara. Kelima ayat diatas juga bukan hujjah untuk Islam Nusantara. Konon, Islam Nusantara hanya merupakan tipologi. Bukan madzhab, bukan pula aliran. Maka, ia tak butuh dalil. Pertanyaanya, kenapa Islam harus ditambahkan embel-embel Nusantara? Kenapa tidak mandiri saja: Islam!

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Mari kita kembali mandiri dalam menyebut Islam. Untuk itu, kita lupakan saja "Islam" + "Nusantara". Dengan begitu, kita pun harus lupakan deretan embel-embel lain yang selama ini sering melekat dan mengiringi diksi Islam.

Selain Islam Nusantara, kita mendengar juga Islam Berkemajuan, Islam Modern, Islam Tradisional, Islam Moderat, Islam Kaffah, Islam Rohmatan lil-'alamin, Islam Militan, Islam Garis Keras, Islam Pluralis, Islam Progresif, Islam Transformatif, Islam Inklusif, Islam Aktual, hingga Islam Liberal dan masih banyak deretan embel-embel lain yang menyertai.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Pertanyaanya, kenapa diksi "Islam" perlu menggunakan embel-embel?

Mungkin, upaya menyertakan adjective atau predikat lain terhadap diksi "Islam" lantaran makna Islam itu begitu general dan universal. Maka, Islam "seperti butuh" predikat tertentu demi menjelaskan daya jangkaunya yang mampu menyusup di semua aspek kehidupan. Karena tak bisa disangkal, betapa daya jangkau Islam itu mampu menembus berbagai ranah, seperti geografis, sosiologis, antropologis, sains, psikologis, hingga filosofis. Seakan, embel-embel yang menyertai diksi "Islam" itu hanya bagian-bagian kecil dalam upaya memotret kemenyeluruhan Islam.

Tapi, rupanya menyertakan embel-embel apapun punya resiko besar. Lantaran upaya itu dapat memberi kesan "menodai" kemurnian Islam. Maka sekali lagi, seharusnya Islam adalah Islam. Islam! Itu saja. Islam. Titik!

Baca Juga: Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan

Islam adalah Islam. Benar, Islam adalah Islam. Tapi kenapa ketika Islam ditulis dengan Al-Islam sekalipun, meski sama-sama memiliki akar pemaknaan yang sama, yakni pasrah atau berserah, sebagaimana yang terjadi di jaman para sahabat Nabi SAW., secara aplikatif makna Islam tetap akan menuai pemahaman, pengalaman dan cita rasa yang beragam? Kenapa Imam Hanafi yang sangat memahami Islam, punya sejumlah pandangan yang berbeda dengan Imam Syafi'i yang juga jelas-jelas memahami Islam? Begitu juga Imam-imam yang lain.

Padahal, mereka bukan hanya muslim, tapi juga pribadi yang sangat otoritatif dalam memahami Islam. Tapi, Imam Hanafi hingga Imam Hambali, bahkan Imam Ja'far yang menjadi dedengkot sebelum mereka semua, tak pernah menyebut Islam Kuffah, Islam Irak, Islam Iran, Islam Basrah, Islam Madinah, apalagi Islam Nusantara! Maka, kembalilah kepada Islam tanpa embel-embel apapun. Titik!

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Kita maklum, manusia sebagai homo simbolicum terbiasa menggunakan simbol-simbol dalam mengartikulasikan gagasan dan pemikiran. Salah satu simbol itu bernama bahasa. Dari sini, kiranya wajar jika kita juga menyusur "cara" keberagamaan kita lewat bahasa. Apalagi, Al-Qur'an yang Allah SWT. singkapkan kepada Sang Nabi SAW. adalah peristiwa dimana Allah Yang Maha Tak Terbatas berkenan menggunakan bahasa manusia yang terbatas; yakni Bahasa Arab.

Jika saya katakan Bahasa Arab terbatas, tentu membuat pekak telinga orang yang menganggap Bahasa Arab sebagai segalanya. Padahal, selagi masih menggunakan huruf dan kata-kata, ekspresi apapun selalu terbatas.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Saya yakin betapa Al-Qur'an untuk setiap ayatnya mengandung 70 ribu makna. Bahkan untuk setiap huruf dalam setiap kata, menyimpan makna-makna tertentu yang tak terbayangkan. Tapi, itu bukan berangkat dari bahasa Arab. Ada Bahasa "lain" yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. "Bahasa" yang demikian itu hanya "dirasa" sebagaimana yang pernah disingkapkan kepada Nabi SAW.

Kita bertanya, peristiwa pewahyuan yang jelas-jelas berlangsung secara kasyfi (penyingkapan) yang jauh diluar nalar-aqliyah, kenapa kemudian kita berupaya sekeras-kerasnya hendak menyingkap kedalaman Al-Qur'an, atau berusaha keras menemukan maqoshidul-ayat dengan perangkat-perangkat nalar kita yang terbatas?

Bukankah dalam Surat Al-Waqi'ah disebutkan, "Tidak ada yang dapat menyentuh atau memahami Al-Qur'an kecuali orang yang disucikan (muthohharun)?" Diksi yang digunakan dalam ayat tersebut adalah orang yang disucikan (muthohharun), bukan orang yang bersuci (muthohhirun), apalagi sok suci. Maka, disucikan di sini bermakna kita ini pasif, tak berdaya, tak mampu apa-apa. Dalam pandangan basyariyyah, mustahil kita yang najis dapat menyucikan diri kita sendiri. Hanya yang Maha Suci yang dapat menyucikan kita.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas Nilai Agama

Bagi santri yang belajar Bahasa Arab secara tuntas, membaca lima ayat diatas tentu tak butuh terjemahan. Sementara pihak lain yang tak paham Bahasa Arab, harus tunduk pada makna yang diperoleh dari hasil terjemahan. Padahal, terjemahan apapun itu sudah merupakan tafsir karena telah berupaya mengalihkan dalam Bahasa lain. Kita lupa, bahwa kita hidup dalam rumah besar yang bernama rumah tafsir. Apapun yang menghampiri kita, pasti akan berhadapan dengan tafsir kita sendiri.

Dengan demikian, ayat per ayat yang menghampiri kita, maknanya akan dirasakan oleh kita tergantung pada kapasitas tafsir yang kita punya. Sehingga, baik yang mampu menerjemahkan sendiri atau yang berangkat dari terjemahan orang lain, respon pertama adalah kesan.

Kesan ini dalam perkembangannya mungkin saja akan dipertanyakan oleh diri sendiri. Apakah kesan dirinya adalah wahm yang berdasarkan nafsu dan pengerahan akal, atau kesan berupa kesadaran menyerah bahwa Pemilik Otoritas makna hanyalah Tuhan, sehingga dirinya menyerah tak tahu apa yang dimaksud.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Untuk kasus lima ayat diatas, saya sendiri tak mampu menerjemahkan, apalagi menafsir. Saat membaca lima ayat diatas, saya hanya menemukan kesan bahwa lima ayat tersebut bukan dari surat yang sama dalam Al-Qur'an, melainkan dari surat-surat yang berbeda, yakni: (1) Surat Al-Baqoroh ayat 246; (2) Surat Ali Imran ayat 181; (3) Surat An-Nisa' ayat 77; (4) surat Al-Maidah ayat 27; dan (5) Surat Ar-Ra’d ayat 16.

Kesan berikut saat membaca kelima ayat diatas, saya cuma menemukan bahwa tiap-tiap ayat tersebut sama-sama memiliki 10 huruf Qof. Karena masing-masing memiliki 10 Qof, jika semua ayat itu dibaca, maka dipastikan saya melafalkan 50 huruf Qof. Memang ada apa dengan huruf Qof? Saya tidak bisa jawab. Karena hal ini sudah masuk urusan tafsir.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Kasus lain adalah doa. Seorang santri asal Rembang, misalnya, yang lama berjibaku di pesantren, kemudian berkesempatan kuliah di negeri Arab yang berbahasa Arab, ketika ia pulang kampung dan berdoa, kira-kira doa apa yang akan ia baca? Tentu saja doa-doa yang ada dalam Al-Qur'an atau doa-doa yang pernah diajarkan Nabi SAW. yang ia ketahui dari guru-guru dan kitab-kitab yang ia baca.

Apakah si santri itu akan menggunakan Bahasa Arab? Tentu saja, iya. Ia bukan hanya mahir Bahasa Arab, tapi ia pun tahu dalam riwayat bahwa Nabi SAW. berdoa dengan Bahasa Arab.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Tapi, bagaimana dengan makna dari doa-doa yang ia baca? Meskipun santri Rembang itu sudah menguasai 1000-an nadhom dalam kitab Al-Fiyah, bahkan khatam Mantiq, Juman hingga Bayan, ketika Bahasa Arab ia lafalkan dalam doa-doanya, hati si santri Rembang itu tetap akan mencari bahasa lokalnya atawa Bahasa Ibunya.

Kenapa si santri yang fasih berdoa dalam Bahasa Arab-nya masih harus menggunakan cita rasa Bahasa Ibunya dan tidak menggunakan cita rasa dari epistemic-nya Bahasa Arab saja? Ketika santri melangsungkan itu, sebenarnya atas mau siapa? Dorongan apa yang membuat si santri harus menggunakan bahasa primordialnya?

Baca Juga: Gereja Islam dan Sejarah Masjid Al-Mubarok Enarotali

Saya tidak bisa jawab pertanyaan diatas. Tapi ayat 4 dalam surat Ibrahim ini bisa menjelaskan:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Tidaklah Kami utus dari seorang rasulpun, kecuali dengan lisan kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah SWT. menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana."

Baca Juga: Menyikapi Fatwa yang Kontroversial

Tentu saja santri yang mengalami hal seperti itu bukan hanya santri dari Rembang, Jawa Tengah. Mungkin saja berasal dari Papua, Aceh, Medan, Bandung, Banten, Tegal, Madura, Amerika, Prancis, hingga Cape Town. Masing-masing dari mereka, punya epistemic sendiri berdasarkan udara, air, pepohonan, pantai atau pegunungan yang menjadi kediaman tubuh mereka.

Maka, santri yang berasal dari Sumedang tetap akan berdoa dengan Bahasa Arabnya yang fasih, tapi batinnya tetap bergelayut dalam lokalitas kesundaannya. Begitu juga santri Minahasa. Ia tak akan main-main untuk berdoa dengan bahasa lain selain Bahasa Al-Qur'an dengan segala pertimbangan tauhidnya, namun sejarah Bahasa Ibu dalam jiwanya tak bisa ia tanggalkan. Bila demikian yang berlangsung, apakah sikap santri-santri itu keliru?

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Dalam perkembangannya, Bahasa Ibunya kemudian menyublim dalam keseharian, seiring kesadaran Islam yang menyusup dalam keyakinannya. Sehingga santri dari Klaten, misalnya, memohon ampun kepada Allah SWT. dengan bergumam, "Ya Allah Gusti, dalem nyuwun agunging pangapunten, duh Gusti. Mugi Gusti kerso dalem dados umatipun Kanjeng Nabi."

Salahkah santri Klaten itu karena tidak menggunakan Bahasa Arab sebagaimana yang pernah digunakan Sang Nabi SAW.? Apakah Allah SWT. begitu bodoh karena hanya bisa memahami Bahasa Arab, bukan bahasa-bahasa manusia yang lain? Bagaimana dengan ayat 4 dalam surat Ibrahim diatas?

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Berangkat dari ekspresi berdoa, mungkin kita dapat mempertimbangkan pula dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita bisa lihat sejumlah istilah tata negara kita yang banyak menggunakan idiom Bahasa Arab. Majlis Permusyawaratan Rakyat, itu semua berasal dari Bahasa Arab "Majlis", "Musyawaroh", "Ro'iyyah". "Dewan" juga dari Bahasa Arab.

Sepintas yang terlihat adalah, disatu sisi, Nusantara begitu banyak dipengaruhi Bahasa Arab, dan disisi lain, Islam yang sumber-sumbernya menggunakan Bahasa Arab, dalam praktiknya kadang menggunakan bahasa lokal. Sebut saja kata "Puasa". Selama ini, kita begitu akrab menggunakan diksi "puasa" ketimbang "shiyam". Padahal, "puasa" yang berasal dari uphawasa adalah bukan Bahasa Arab.

Begitu juga saat usai seluruh ibadah shiyam di Bulan Romadlon, umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri, kita menyebutnya lebaran. Kemudian kita Mudik ke kampung, bersalam-salaman, sungkeman dan bermaaf-maafan, kemudian saling berbagi, bahkan mengadakan halal bihalal. Apakah semua tradisi itu salah sebagai ekspresi lokalitas yang menyublim bersama spirit Islam? Apakah Islam kemudian ternoda?

Baca Juga: Risalah Ash-Shiyam; Kitab Pegon Pedoman Puasa Karya Ulama Kendal

Jika benar semua tradisi yang sebenarnya menjadi perwujudan nilai-nilai Islam itu dianggap merusak dan menodai kemurnian Islam, maka lepaskan semua atribut lokalitas kita saat ini juga. Lupakan tanah air ini yang pernah menjadi tumpah darah kita. Lupakan bahasa Sunda, Jawa, Bugis, Aceh, Minang, Papua dan bahasa mana pun yang bukan bahasa Al-Qur'an. Ratakan semua makam para wali yang sering diziarahi di bumi ini karena tidak sesuai dengan Islam sebagaimana di negeri Arab. Ratakan pula seluruh pesantren di negeri ini karena Nabi SAW. tidak pernah mendirikan pesantren sepanjang hayatnya.

Lepaskan juga semua jeans atau sarung dan baju surjanmu karena semua itu tak pernah dipakai oleh Nabi SAW. sama sekali. Hapus juga semua sistem ekonomi, politik, budaya yang bukan Islam. Karena semua praktik itu sama sekali bukanlah Islam alias kafir. Hapus tradisi lebaran dan bermaaf-maafan di negeri ini. Bila perlu, bunuh saja siapa saja yang masih berkunjung dan sungkeman saat lebaran. Karena perilaku itu tidak ada dasar dalil sama sekali.

Baca Juga: Kriminalisasi ulama Dimasa Khilafah

Akhirnya, jika sungguh untuk menjadi Islam adalah harus sama persis sebagaimana yang terjadi di jaman Nabi SAW., maka gurunkan negeri ini segera. Semoga perang besar di negeri ini segera terjadi. Perang antara pihak manapun yang meyakini bahwa Islam harus sama persis sebagaimana Nabi SAW. melawan pihak yang meyakini bahwa keislaman Nabi SAW. dapat melebur dimana saja ia berada, termasuk di Nusantara ini. Semoga kita sama-sama hancur atas nama keyakinan diri sendiri. Semoga Allah Mengabulkan.[]



* Oleh: Abdullah Wong
Read More

Islam Nusantara dalam Perspektif Perempuan


rumahnahdliyyin.com - Barusan saya berargumentasi dengan salah seorang kerabat di WAG keluarga tentang Islam Nusantara yang dimatanya Islam yang campur aduk, tak jelas batas mana yang Islam mana yang budaya.

Saya menyanggahnya. Tapi, ya sudah lah. Otak salaf memang beku. Baginya, Islam tak pernah bergerak melintasi ruang dan waktu berakulturasi dengan wilayah yang dilaluinya. Bahkan, dengan era penjajahan, dan membentuk "Agama Islam".

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Islam itu, baginya, beku di era Rasulullah SAW. Meskipun herannya, dia hidup di Nusantara yang Islamnya jelas Islam Nusantara. Wong makannya juga masih nasi, berzakatnya juga dengan beras.

Belakangan, salah satu pemicu penolakan pada gagasan Islam Nusantara dikemukakan oleh penceramah perempuan, Mamah Dedeh. Meskipun dia telah meminta maaf, utamanya kepada kalangan Nahdliyin, saya merasa perlu untuk memberi argumentasi lain sebagai perempuan dengan perspektif perempuan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Mamah Dedeh bisa menjadi muballighot, ceramah didepan umum yang jamaahnya perempuan dan laki-laki, bisa bicara di TV dan suaranya tak dianggap aurot, itu karena ia berada dan menganut islam Nusantara.

Islam Nusantara adalah Islam yang memberi ruang kepada perempuan dan keragaman. Bayangkan, (mengutip Gus Dur yang mengemukakannya pertama kali) hanya di Indonesia perempuan bisa menjadi hakim agama. Itu karena awal mulanya, IAIN membuka pintu kepada santri-santri putri lulusan pesantren untuk lanjut kuliah di Fakultas Syari'ah. Ketika itu, Menteri Agamanya ayahanda beliau, KH. Wahid Hasyim, perempuan menjadi hakim itu barang terlarang di negara-negara Islam lain atau di sumbernya.

Baca Juga: Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu

Islam Nusantara adalah Islam yang memberi ruang kepada keragaman budaya yang kemudian diserap oleh nilai-nilai Islam. Islam Nusantaran adalah Islam yang beradaptasi dengan budaya agraris, budaya sungai, budaya urban, budaya pesisir dan budaya pedalaman.

Budaya Islam adalah budaya yang menghargai alam yang subur. Karenanya, kita menabur kembang di kuburan, membuat ketupat saat Idul Fitri, membuat opor dan rendang dari kelapa, bukan dari kurma, dan menyelenggarakan sholat di tanah lapang. Pelaku-pelaku budaya itu, adalah orang seperti Mamah Dedeh juga, umumnya perempuan.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Budaya (Islam) Nusantara adalah budaya yang memberi ruang kepada perempuan mendirikan organisasi khusus perempuan membahas kebutuhannya sendiri. Karenanya, lahir Aisyiyah dan Muslimat/Fatayat.

Islam Nusantara juga adalah Islam yang mendendangkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. dengan penuh rindu dalam ragam sholawat, mendaras Al-Qur'an dan menghafal hadits. Berulang kali khataman Al-Qur'an sebagai pencapaian pribadi yang dirayakan dengan selamatan dan syukuran, ngaji kitab kuning dari tingkat pemula di madrasah hingga luhur (Ma'had Aly) dan mendalami Ushul Fiqh sebagai metode yang teruji untuk memahami teks klasik Islam.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Dalam keseluruhan proses mengaji itu, perempuan merupakan jiwa yang menghidupkannya. Karena Islam Nusantara, maka ada Majelis Ta'lim, kaum Ibu berbondong-bondong pakai baju warna-warni, pakai bedak dan lisptik, minyak wangi dan pakai aneka jilbab dan hijab dengan pernak-penik aksesorisnya.

Budaya Nusantara adalah budaya yang membolehkan orang kayak Mamah Dedeh cewawakan, ketawa, bahkan terbahak-bahak didepan kaum lelaki, didepan publik.

Masih mau Islam Salafi Islam Arab? saya sih, ogah!
[]



* Oleh: Lies Marcoes, Tulisan diambil dari Akun Facebook.
Read More

Menyikapi Fatwa yang Kontroversial


rumahnahdliyyin.com - Sebagian dari kita cenderung reaktif jikalau mendengar ada fatwa yang terkesan aneh dan kontroversial. Bahkan tanpa ilmu yang memadai, mereka langsung mencerca dan mencemooh ulama yang mengeluarkan fatwa kontroversial. Mereka tidak bisa menerima perbedaan fatwa, apalagi fatwa yang terdengar aneh.

Sebenarnya, selama fatwa tersebut berdasarkan kaidah keilmuan, maka tidak ada yang aneh. Kontroversi itu hal biasa. Pendapat jumhur atau mayoritas ulama itu belum tentu benar. Dan pendapat yang berbeda, belum tentu salah.

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar atas Hadits Khilafah ala Hizbut Tahrir

Sepanjang sejarah pemikiran Islam, para ulama biasa berbeda pendapat. Pada satu kasus, ulama A berbeda dengan jumhur ulama. Pada kasus lain, justru ulama A yang membela pendapat jumhur. Inilah indahnya keragaman pendapat sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya Mausu'ah Al-Fiqh Al-Islami wal-Qodloya Al-Mu'ashirah.

Perbedaan pendapat, jikalau dipahami dengan proporsional, akan membawa rahmat. Umat tinggal memilih satu pendapat yang lebih cocok, lebih sesuai dan lebih mashlahat serta lebih mudah dijalankan diantara sekian banyak pendapat. Rasulullah SAW. pun jikalau dihadapkan pada dua perkara, beliau akan memilih perkara yang lebih mudah.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Karena semua pendapat madzhab itu memiliki dasar dan dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka pertanyaannya bukan lagi pendapat mana yang benar. Tapi, pendapat mana yang lebih cocok kita terapkan untuk kondisi yang kita hadapi.

Kalau soal kontroversi, ulama mana yang tidak dianggap kontroversial? Semua ulama, pada masanya, pernah dianggap fatwanya aneh dan kontroversial. Misalnya, Imam Syafi'i berbeda pandangan dengan mayoritas ulama ketika mengatakan anak hasil zina boleh dikawini oleh bapaknya. Ini pendapat yang bikin heboh. Atau, bagaimana Imam Malik berpandangan bahwa anjing itu suci dan tidak najis. Ini berbeda dengan pandangan jumhur ulama.

Baca Juga: Perbedaan Ulama Tentang Niat Puasa

Atau, ada pendapat lain yang terkesan sepele, tapi terdengar aneh. Kalau Anda berbohong saat berpuasa, apakah puasa Anda batal? Menurut Imam Dawud Adh-Dhahiri, puasa Anda batal. Menurut jumhur ulama, tidak batal. Apakah saat Anda tersenyum ketika sedang sholat, sholat Anda batal? Iya, batal, menurut Imam Abu Hanifah. Namun tidak batal menurut jumhur ulama.

Apakah kalau Anda makan daging unta, wudlu Anda batal? Iya, batal, menurut Imam Ahmad bin Hanbal. Tapi tidak batal menurut jumhur ulama. Apakah kalau Anda minum nabidz (selain dari perasan anggur) dan tidak mabuk itu hukumnya halal? Iya, nabidz itu halal pada kadar tidak memabukkan menurut Imam Abu Hanifah. Tapi dinyatakan haram oleh jumhur ulama, baik mabuk atau tidak.

Baca Juga: Ulama Otoriter dan Ulama Otoritatif

Apakah yang haram itu hanya daging babi saja atau semuanya, termasuk lemak dan tulangnya? Jumhur ulama bilang semuanya dari babi itu haram. Tapi Imam Dawud Adh-Dhahiri bilang hanya daging (lahm) nya saja yang haram.

Contoh-contoh diatas bisa terus berlanjut dan semua ulama madzhab pernah berbeda dengan jumhur ulama. Dengan kata lain, pendapat mereka dalam kasus-kasus tertentu dianggap aneh dan kontroversial. Namun bukan berarti mereka pantas untuk kita cerca atau cemooh.

Baca Juga: Ats-Tsauri; Samudera Ilmu dari Kufah

Sesuai hadits Nabi SAW., jikalau mereka salah dalam berijtihad, mereka mendapat pahala satu. Dan jikalau ijtihad mereka benar, maka mereka mendapat pahala dua. Apapun hasil ijtihad mereka, mereka tetap mendapat pahala. Dan kita yang tidak pernah berijtihad dan hobinya cuma mencerca ulama, bukannya dapat pahala, jangan-jangan malah dapat dosa.

Tabik.[]



* Oleh: Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.
Read More

Islam Nusantara dan Copas Muslim Masa Lalu


rumahnahdliyyin.com - Beberapa bulan sebelum puasa tahun ini, saya menyaksikan sendiri peneliti Jepang mewawancarai Rais Syuriyah PBNU, KH. Ahmad Ishomuddin, di Pojok Gus Dur, lantai dasar PBNU, Jakarta. Dia bertanya tentang tawassul sebagai salah satu praktik warga NU atau Islam Nusantara.

Masya Allah, peneliti yang profesor itu kebingungan bukan main memahaminya. Kalau tidak banyak orang di situ, mungkin dia akan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Namun, karena sikap semacam itu tak elok dilakukan oleh seorang profesor jenis apa pun, apalagi dari negara maju, dia hanya meringis dan mengernyitkan kening seperti orang yang menahan buang hajat berbulan-bulan.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Berkali-kali dia bertanya sambil mencatat. Bertanya, mencatat. Bekali-kali pula kiai Ishom menjelaskan dengan berbagai tamtsil dan dalil.

Entahlah, waktu itu dia pada akhirnya memahami atau tidak, saya tidak bertanya dan dia tidak memberitahukan pemahaman yang diserapnya. Mudah-mudahan saja dia paham. Kalupun tidak, mudah-mudahan tidak seperti orang Indonesia yang menafsirkan sendiri, menyimpulkan sendiri, lalu menyalahkannya.

Wajar mungkin sang profesor sempoyongan dalam memahami tawassul, karena terbentur dengan cara berpikir yang berlainan. Butuh beberapa waktu untuk memahaminya seperti yang dimaksud dalam pemahaman orang NU sendiri.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Hal itu merupakan Islam Nusantara dalam salah satu praktiknya. Lalu, bagaimana dengan organisasinya, Nahdlatul Ulama?

Sekitar tahun 1971, KH. Saifuddin Zuhri menceritakan dalam salah satu tulisannya tentang KH. Wahab Hasbullah, ada peneliti Amerika Serikat bernama Allan Samson yang meneliti NU selama 6 bulan. Ia mengeluh, ternyata kesimpulannya salah. Ia juga mengeluh ternyata banyak peneliti lain yang salah baca. Namanya salah baca, tentu saja salah juga dalam mengambil kesimpulan, bukan?

Menurut kiai Saifuddin, 6 bulan itu tak seberapa. Ada pemimpin-pemimpin besar Indonesia sendiri yang selama 40 tahun bergaul dengan NU, tapi tetap saja mengambil kesimpulan salah. Mereka sukar memahaminya atau memang tak mau paham.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Nusantara

Jadi, biasa saja orang mengambil kesimpulan salah terhadap NU. Karena memang dari sananya sudah begitu jejaknya. Jika hari ini banyak orang yang mempertanyakan tentang Islam Nusantara dengan cibiran dan menyalahkan, memang gen mereka sudah ada sejak masa lalu. Bibitnya selalu diternak.

Tariklah ke masa yang lebih jauh, pada masa awal NU berdiri, yakni tahun 1926. Sekelompok kiai pesantren dari desa tiba-tiba membikin organisasi. Tidak bergemuruh. Lalu, dalam statutennya (AD/ART), mereka mencantumkan sebagai kelompok bermadzhab kepada salah satu imam mazhab empat.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Waktu itu, statuten demikian yang lain dari yang lain, tentunya lantaran sedang bergemuruh semangatnya Islam pembaruan, kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits. Buat apa madzhab-madzhab-an. Umat Islam harusnya mengambil hukum dari sumbernya langsung. Sikap bermadzhab (mereka menyebutnya taqlid buta, padahal istilah itu tidak ada di NU) adalah lambang kejumudan yang mengakibatkan berlangsungnya penjajahan.

Mereka mungkin lupa Pangeran Diponegoro yang berusaha mengusir penjajah pada 1825-1830, pemberontakan rakyat Banten dan lain-lain, yang dilakukan oleh kelompok bermadzhab. Atau, mungkin pura-pura lupa dan tak membaca sejarah.

Baca Juga: Kemenag: Seluruh Etnis dan Suku di Nusantara Tak Bisa Lepas dari Agama

Menurut kiai Saifuddin pada Secercah Dakwah (1984), kelompok yang demikian tidak kritis terhadap Muhammad Abduh yang membelokkan pisau analisisnya terhadap kesewenang-wenangan kolonialisme Barat, lalu berbalik menggunakan pisaunya untuk menguliti dunia Islam sendiri, terutama terhadap para ulama.

Pada saat yang sama, mereka lupa ada yang lebih penting dari itu, yaitu menggalang persatuan umat Islam. Menyalahkan umat Islam sendiri dalam hal furu’iyyah, justru akan melanggengkan penjajahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Kelompok tersebut, di Indonesia (dulu Hindia Belanda) mengarahkan pisaunya ke kiai-kiai pesantren yang kemudian mendirikan NU. Sebagai kiai pesantren, kiai Wahab tampil membela sembari “merayu” Hadlrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan sebuah organisasi kelompok bermadzhab. Namun tak direstui hingga 10 tahun.

Menurut kiai Wahab, seandainya Hadlrotusy Syaikh tidak merestui, ada dua pilihan baginya. Pertama, masuk menjadi anggota organisasi mereka dan bertempur tiap hari dengan mereka untuk membela kalangan pesantren. Kedua, kembali ke pesantren, menutup rapat-rapat informasi dari dunia luar. Ia hanya mengajar santri. Beruntunglah, Hadlrotusy Syaikh kemudian merestui.

Baca Juga: Agama Tanpa Budaya

Sekali lagi, jika hari ini ada kelompok yang menyalahkan NU yang tidak bersifat prinsipil, mereka adalah copy paste dari kelompok masa lalu yang salah baca. Namanya salah baca, sekali lagi, akan salah mengambil kesimpulan.

Dalam Secercah Dakwah, kiai Saifuddin mengutip pendapat Dr. Alfian dari Universitas Indonesia. Kesalahan baca tersebut bersumber dari sikap arogansi, angkuh, karena tidak puas dengan kesangsian menghadapi kebenaran.

Namun, NU membuktikan dari waktu ke waktu tetap berjalan, lolos melewati berbagai tantangan situasi. Yakinlah, copy paste masa lalu itu akan bisa dihadapi pula oleh NU hari ini.[]



* Oleh: Abdullah Alawi, Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Fenomena Nissa Sabyan dan Bahasa Arab


rumahnahdliyyin.com - Beberapa minggu yang lalu, ketika saya mudik lebaran Idul Fitri, saya menemukan fenomena luar biasa. Suara Nissa Sabyan menggema di berbagai tempat; di rumah, warung, perkantoran, pasar, kendaraan umum dan pribadi, walimah, pesta pernikahan, gedung-gedung pemerintah dan swasta. Dan setiap bertemu sejawat, mereka bercerita bahwa cafe-cafe yang biasanya “ngerock” dan dangdutan, berubah menjadi alunan lagu-lagu berbahasa Arab dari Nissa Sabyan.

Fenomena itu pernah saya temukan di era 2000-an; suara Sulistyawati dan Haddad Alwy, dengan judul lagunya Ummi dan Ya Thoyyibah, juga menggema di berbagai sudut kampung dan kota, televisi dan radio, pusat-pusat perbelanjaan dan lainnya. Semua orang menghafal lagunya (berbahasa Arab) dan banyak pula yang memahami kalimat-kalimatnya dengan diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Dua juta keping terjual, sungguh sangat luar biasa, lagu-lagunya yang berbahasa Arab itu laris manis.

Baca Juga: Sholawat

Ada kebanggaan ketika itu bahwa bahasa Arab tidak hanya menjadi bacaan dalam sholat, tadarrus Al-Qur’an, adzan, iqomah, khutbah Jum'at, kajian-kajian kitab dan ijab qobul, tetapi menjadi bacaan dan dendang lagu setiap hari di beberapa rumah dan tempat keramaian. Semua orang bersholawat. Saya lihat kala itu, dari anak kecil sampai dewasa berusaha untuk memahami dari setiap lirik lagu Ummi dan Ya Thoyyibah yang berbahasa Arab itu.

Fenomena itu muncul kembali, bahkan lebih dahsyat lagi, Deen As-Salam ditonton lebih dari 100 juta kali hanya dalam satu bulan, Ya Rohman 71 juta kali, Ya Habibal Qolbi 172 Juta kali, Ya Asyiqo 82 Juta kali, Ya Maulana 52 juta kali, Law Kana Bainanal Habib 11 juta kali. Itu baru dari akun Youtube Sabyan, belum lagi yang diunduh. Sungguh ini sangat mengejutkan.

Baca Juga: Sholawat Pancasila

Fenomena ini, menurut pengamatan saya, karena lagu yang dibawakan oleh Khairunnisa (Nissa) berserta personel lainnya sesuai dengan:
  1. Kecintaan atau kegemaran orang Indonesia bersholawat, membaca puji-pujian dan doa, dan mayoritas penduduknya adalah muslim. Seperti Rohman Ya Rohman (doa), Ya Habibal Qolbi (sholawat), Ahmad Ya Habibi (sholawat), Ya Asyiqo (sholawat), Ya Maulana (doa) dan rata-rata lagu yang dibawakan adalah sholawat Nabi SAW. dan doa.
  2. Suara merdu Nissa dengan musiknya mengalun lembut.
  3. Kegilaan pengguna internet dan penikmat Youtube yang mengunduhnya ke berbagai media lain, dari WA, FB dan lainnya.
  4. Bertema religi dan bersamaan dengan bulan Romadlon, seperti; Deen As-Salam, yang penikmatnya sangat luar biasa.
  5. Dibawakan dengan gaya kekinian dengan berbagai keunikannya. Gambus, yang sudah mulai remang, bahkan menghilang, menjadi terang dengan Gambus Sabyan.
  6. Memperkenalkan full team lagu-lagu Gambus Sabyan.
  7. Tidak berhenti pada satu lagu yang sudah populer, tetapi dilanjutkan dengan kemampuan mereka dalam memilih tema-tema yang menarik lainnya sesuai dengan kondisi masyarakat.
  8. Dan yang luput dari pantauan banyak orang adalah karakter bahasa Arab yang unik, sehingga antara suara Nissa-musik-keunikan bahasa Arab, benar-benar membawa ritme menarik. Dan hal ini yang menjadi fokus saya.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Menurut saya, ada karakter khusus Bahasa Arab yang menjadi keunikannya, sehingga dibawakan oleh siapapun saja akan merindu. Kalau di Timur Tengah ada Ummi Kultsum (Penyanyi Arab Legendaris), Amr Diab, Harris J. Sami Yusuf, Maher Zain, Zain Bhikha, Asmahan, Sherine Ahmed dan lainnya. Dan dengarlah suara penyanyi yang melantunkan dengan bahasa Arab, nanti akan mampu dibedakan. Atau dengarlah seorang qori’ Al-Qur’an, maka akan menemukan musik-musik kata yang luar biasa dan tentunya jika dibaca sesuai dengan ilmu Tajwid.

Karakter unik bahasa Arab itu diantaranya terkait dengan bunyi; ada bunyi tebal tipis (tebal/mufakhamah, semi tebal, tipis), tekanan bunyi dalam kata atau stress, vokal panjang (mad), vokal pendek (harokat), bunyi tenggorokan, bunyi bilabial dental. Sedangkan karakter dan keunikan bahasa Arab secara umum tidak mungkin dikaji di sini. Walau setiap bahasa memiliki keunikan (khoshoish), namun karakter bahasa Arab itu lebih unik dibandingkan dengan bahasa-bahasa di dunia.

Baca Juga: Mengenal Para Mufassir Indonesia

Nissa Sabyan dengan lagunya yang berbahasa Arab dapat memberikan nuansa sendiri pada gerak bahasa Arab di Indonesia dan dapat menjadi motivasi bagi pembelajar bahasa Arab untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam berbahasa. Terutama bagi seorang guru bahasa Arab yang mengajar di Sekolah Dasar dan Menengah.

Menurut seorang peneliti, Nabil Katatni, Dekan Fakulats Tarbiyah An-Nauiyyah, bahwa para peneliti psikologi musik menemukan bahwa ritme musik berhubungan erat dengan kehidupan anak pada tahap awal (embrio) sampai dewasa. Menurutnya, dalam rahim ibu sudah mengenal irama, sehingga mudah sekali untuk mengembangkannya dengan lagu-lagu. Demikian ketika anak ingin ditidurkan, irama-irama itu menjadi paling disuka. Maka sangat penting bagi seorang ibu dalam tahap pengembangan bicara anak untuk mendengarkan irama lagu.

Baca Juga: Memahami Islam Nusantara

Menurut Hanna Athar, musik memberikan motivasi kuat dalam pembelajaran bahasa Arab. Demikian juga menurut para peneliti dan akademisi dalam Konferensi Internasional Kelima Bahasa Arab di Dubai bahwa musik dan lagu-lagu bahasa Arab khusus untuk anak-anak; dapat memotivasi dan memperkuat bahasa Arab. Terutama lagu-lagu yang menggunakan bahasa Arab fushah (baku), misalnya judul lagu Deen As-Salam yang dipopulerkan Nissa Sabyan di Indonesia, yang sebelumnya dinyanyikan oleh Sulaiman Al-Mughni dengan pesan faltuqobil Isa’ah bi ihsan yang disponsori Bank Boubyan Kuwait pada tahun 2015.

Lagu Deen As-Salam, walau beberapa kalimatnya diucapkan dengan lahjah ammiyah (tak baku), namun secara umum bahasanya fushah. Kalimat dengan lahajat ammiyah dalam lagu tersebut seperti; abmahabbat, abtahiyyah, ansyuru, dinya, naskan, kalla, killa.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Sedangkan beberapa tulisan yang tersebar dibeberapa media, banyak yang keliru. Karena hanya dituliskan sesuai dengan yang didengarkan. Bila lagu tersebut ingin dijadikan media pembelajaran, maka harus dijelaskan kata-kata yang fushah dan ammiyah-nya agar siswa tidak keliru membacanya.

Berikut lagu dengan tulisan fushah, yang dipopulerkan oleh Sulaiman Mughni, dengan penciptanya Saif Fadhil.

كُلّ هَذِهِ الأَرْضِ مَا تَكْفِي مَسَاحَة
لَوْ نَعِيْشُ بِلاَ سَمَاحَة
وَإِنْ تَعَايَشْنَا بِحُبٍّ
لَوْ تَضِيْقُ الأَرْضُ نَسْكُنُ كُلَّ قَلْبٍ
بِتَّحِيَّة وبِسَّلاَمِ
اُنْشُرُوا أَحْلَى الكَلاَم
زَيِّنُوا الدُنْيَا اِحْتِرَام
بِمَحَبَّةٍ وَابْتِسَامٍ
اُنْشُرُوا بَيْنَ الأَنَام
هذا هُوَ دِيْنُ السَّلاَم

Lagu-lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh Nissa Sabyan ini, jika dimanfaatkan dengan baik oleh pengajar bahasa Arab, maka dapat memberikan ruh baru bagi pembelajaran bahasa Arab di Indonesia dan sebagai syiar bahwa bahasa Arab itu mudah dipelajari. Buktinya, semua orang bisa mendendangkan, mengucapkan, dan melafalkannya. Tahya al-lughah al-arabiyah.



* Oleh: Halimi Zuhdy, Dosen Bahasa dan Sastra (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang. Tulisan ini diambil dari NU Online.
Read More

Memahami Islam Nusantara


rumahnahdliyyin.com - Saya bertumbuh dalam warna Muhammadiyah. Setidaknya, masjid di kampung saya, dulu, sholat Tarawih 11 roka'at meski dalam berbagai urusan masih tercampur dengan "fikih NU".

Pada masa remaja, saya ikut Ibu pulang kampung ke Kauman, Jogjakarta, tempat lahirnya Muhammadiyah. Hanya ada satu warna dalam memahami dan mempraktikkan agama ini. Sudah pasti saya pun hanya tahu sedikit-sedikit. Bangga saja terhadap kisah-kisah masa lalu dari ibu saya tentang bapak beliau, KH. Abdul Hamid, yang adalah imam Masjid Agung Kauman, yang ditunjuk langsung oleh Sri Sultan dan ikut mendirikan Muhammadiyah.

Baca Juga: Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara

Diluar itu, berbagai pengajian, terutama ceramah idola saya dulu, pak Amien Rais, mengkristalkan sudut pandang saya perihal agama ini. Saya remaja putih abu-abu yang mendeklarasikan partai Matahari Terbit di Lapangan Kridosono. Begitu menggebu-gebu.

Ketika menjadi wartawan pada awal 20-an, saya jadi punya kesempatan untuk memahami macam-macam aliran pemikiran dari rumah ibadah mereka, dari imam-imam mereka: Ahmadiyah, LDII, Syi'ah dan lainnya.

Babak yang cukup berat, karena pada saat yang sama, justru saya ada dalam disiplin pembelajaran Tarbiyah. Pengajian mingguan yang menggebukan ghiroh perjuangan, gerakan turun ke jalan yang menggemakan takbir, persaudaraan para anak muda pendakwah yang hangat dan membuat masa muda begitu ngangenin. Saya bahkan menjadi penyanyi nasyid.

Pula, pada waktu ini saya berkuliah di kampus dengan sentuhan Wahhabi yang sangat kuat. Ketika Pancasila menjadi gurauan di kelas perkuliahan.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Namun, jurnalistik benar-benar membantu saya untuk menemukan formula toleransi pada masa-masa sulit ini. Bahwa, toleransi kemudian saya artikan bukan kecenderungan untuk berdiam di kotak masing-masing. Toleransi mesti diawali dengan memahami. Diskusi tanpa tendensi. Memahami keyakinan suatu kelompok, berpikir dengan alam pikiran mereka pada prosesnya, lalu kembali kepada keyakinan sendiri.

Itulah mengapa saya kian tak terganggu dengan perbedaan. Bahkan, pada gilirannya, saya bisa memahami Trinitas Kristiani. Memahami, bukan mengimani.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Lalu, pada usia yang kian jauh dari titik remaja ini, saya merasa sangat....sangat nyaman dengan berbagai pemikiran NU. Terutama perihal ke-Indonesia-an.

Menyimak berbagai ceramah kiai-kiai NU, membuka sumbatan yang telah lama menyumpal kebebalan otak saya. Tentang Indonesia, misalnya, saya memahami baru-baru ini. Para kiai melihat Indonesia dengan kacamata yang sangat khas. Tidak terbaca dari sudut pandang yang ahistoris. Maka, menyimak ceramah Gus Wafiq, contohya, saya tidak hanya belajar Tauhid, tapi juga sejarah.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Mengapa tidak perlu menbenturkan Islam dengan ke-Indonesia-an? Sebab, Indonesia itu lahir dari rahim ijtihad para ulama. Mereka yang kearifannya tidak terjangkau keawaman umat. Hidup pada masa lalu, namun bervisi ratusan tahun ke depan.

Muslim Indonesia adalah "warisan" ulama. Para ulama adalah ahli waris para wali. Mereka yang menanam Islam dalam peradaban Nusantara yang sudah amat tinggi. Peradaban yang sanggup menolak segala bentuk penetrasi. Nusantara bukan sebuah peradaban kosong nilai, bahkan sebelum masa Hindu-Buddha.

Maka, formula Muslim Indonesia telah disiapkan begitu baik, teliti, bijaksana. Praktik Islam dalam keberagaman. Suatu kesadaran yang melahirkan sebuah entitas bernama Indonesia.

Baca Juga: Grand Syaikh Al-Azhar Melarang Monopoli Kebenaran dalam Berislam

Jadi, saya memahami bahwa Pancasila itu nama yang telah ada sejak zaman Majapahit. Namun, isinya menjadi amat bertauhid Islam ketika dilahirkan kembali pada masa kemerdekaan.

Saya baru paham, saya benar-benar baru paham, oh, inikah maksudnya mengapa para ulama NU begitu kukuh dengan konsep Indonesia dan Pancasila. Sebab, keduanya adalah bagian tak terpisahkan dari ijtihad melahirkan identitas Islam Indonesia atau Islam Nusantara. Label yang memicu kesalahpahaman ketika tidak dimengerti dengan proses memahami.

Maka, saya bahagia karena menjadi tahu betapa terberkahi Tanah Air ini. Mewarisi kearifan hati, kecerdasan pikiran, ketinggian ilmu para ulama yang menjaga Indonesia.

Saya belajar memahami, lalu berusaha bertoleransi.[]



* Oleh: Tasaro GK.
Read More

Halal Bihalal PBNU Serukan Ukhuwwah Wathoniyyah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk menguatkan persaudaraan dan persatuan. Segala bentuk perbedaan agama, suku atau pilihan politik tidak boleh digunakan untuk memecah belah kita sebagai satu bangsa yang utuh.

Dalam acara yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla itu, Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin, mengingatkan tentang realitas bangsa Indonesia yang sudah menjalin kesepakatan dalam bernegara. Meskipun bukan negara Islam, Indonesia adalah konsensus bersama dari berbagai elemen negeri yang berpenduduk mayoritas muslim.

“Kita sudah berjanji untuk membangun negara ini secara bersama. Karena kita bersaudara, maka kita punya kesepakatan. Kesepakatan itu saya menamakannya ittifaqot akhowiyyah (kesepakatan atas dasar persaudaraan)," katanya.

Baca Juga: Pengurus NU Tidak Boleh Menggunakan Atribut NU untuk Kepentingan Politik Praktis

Ia juga mengimbau supaya kaum muslim Indonesia tak hanya berpaku pada persaudaraan atas dasar agama Islam (ukhuwwah islamiyyah), tapi juga kebangsaan (ukhuwwah wathoniyyah). Hal inilah, sambung kiai Ma’ruf, yang selama ini menjaga Indonesia bisa tetap utuh meski penghuninya sangat majemuk.

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, di panggung yang sama, menegaskan bahwa persoalan dikotomi antara agama dan nasionalisme di Indonesia sudah selesai. Sejak Indonesia belum merdeka, pendiri NU Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Chasbullah mengenalkan semangat cinta tanah air melalui jargon “hubbul wathon minal iman”.

Baca Juga: Pesan Moral PBNU Terkait Pilkada Serentak 27 Juli

Kiai Said mengajak masyarakat untuk bangga menjadi bangsa Indonesia yang mampu menyelesaikan dikotomi tersebut ditengah bangsa-bangsa Timur Tengah yang dirundung konflik oleh persoalan ini. Secara budaya, menurutnya, Indonesia juga tak kalah dari negara-negara Barat ataupun Arab.

Sedangkan Ketua PBNU, H. Marsudi Syuhud, selaku ketua panitia, dalam kesempatan ini menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi yang digagas oleh salah satu pendiri NU, yakni KH. Wahab Chasbullah dari Jombang, untuk menyatukan para elit politik dan para elit organisasi yang saat itu sedang berseteru.

“Tradisi kumpal-kumpul yang sering dilakukan oleh warga NU tersebut pada akhirnya diterapkan oleh seluruh elemen bangsa, dari mulai masyarakat, organisasi dan instansi pemerintah,” ujar Marsudi.

Baca Juga: Gus Yahya: Dunia Berharap Kepada NU

Hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Menteri Sosial (Idrus Marham), Menteri Komunikasi dan Informatika (Rudiantara) dan Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) serta Menteri Luar Negeri (Retno Marsudi). Selain itu, tampak pula Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, para Duta Besar negara-negara sahabat serta utusan majelis-majelis agama.[]

(Redaksi RN)
Read More

Gus Yahya: Saya ke Israel Bukan untuk Pengajian


rumahnahdliyyin.com - Kepergiannya ke Israel mengundang kontroversi di dalam negeri. Ia dianggap tidak berempati kepada perjuangan rakyat Palestina, bahkan ada yang memintanya mundur dari posisinya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Ia merasa tetap harus berangkat meski sadar akan risiko yang akan dihadapi.

Yahya Cholil Staquf mengatakan kehadirannya di American Jews Committee (AJC) Forum Global dua pekan lalu merupakan bagian dari pekerjaan panjang yang dirintis Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid. Sejak lengser dari posisi presiden pada 2001, Gus Dur menawarkan pendekatan moralitas agama dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel. Yahya, di forum itu, mengusulkan konsep rahmah sebagai jalan menuju damai.

Baca Juga: Inilah Misi Sesungguhnya Gus Yahya Memenuhi Undangan ke Israel

Gus Yahya--sapaan akrabnya--juga diundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia juga banyak bercerita mengenai suasana Idul Fitri di Yerusalem. "Malam Idul Fitri di sana ramai sekali. Semua orang tumpah ke jalan," ujarnya saat ditemui wartawan Tempo Sunudyantoro, Reza Maulana, Diko Oktara dan Dini Pramita serta fotografer Fakhri Hermansyah pada Sabtu pekan lalu. Berikut ini cuplikan wawancara dengannya:

Sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, bagaimana Anda menjelaskan kepergian Anda kepada pemerintah?

Pertama, saya sudah menginformasikan rencana kepergian ke Israel jauh-jauh hari. American Jews Committe (AJC) sudah bikin rilis internasional pada 14 Mei. Saya dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada 31 Mei. Waktu itu saya belum tahu mau diangkat jadi anggota Wantimpres. Saya bilang saat itu, saya ada pekerjaan yang membuat saya sering pergi. Saya katakan 1-2 hari lagi mau ke Amerika Serikat, pulang sebentar, pergi ke Israel. Saya sudah jelaskan itu.

Baca Juga: Inilah Wawancara KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) di Forum AJC

Anda tidak membicarakannya dengan Menteri Luar Negeri dan Presiden Jokowi?

Saya tidak punya akses ke Presiden. Tapi pesan saya, kan, sudah viral ke ibu Menteri Luar Negeri. Sudah saya jelaskan bahwa saya tetap akan berangkat karena menyangkut kredibilitas pekerjaan saya bertahun-tahun. Saya paham betul ini berisiko sejak awal, makanya saya tak segera menyanggupi.

Setelah kembali dari Yerusalem, ada keinginan bertemu dengan Presiden Jokowi?

Saya menunggu. Katanya Presiden mau memanggil. Kalau Presiden tanya, ya, saya jelaskan semua omongan saya apa, saya bertemu dengan siapa saja dan berbicara apa saja.

Kapan tawaran dari AJC datang?

Kira-kira Maret, jauh sebelum menjadi anggota Wantimpres. Saya tak berani langsung menjawab. Sebagai orang NU, saya berkonsultasi dengan kiai-kiai saya. Antara lain, Gus Mus (KH. Mustofa Bisri). Kiai-kiai saya membolehkan.

Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna untuk Manusia

Apa pesan Gus Mus?

Beliau bilang, saya boleh ke sana, tapi tidak boleh sekadar seperti orang-orang diundang pengajian, ha-ha-ha... Kan, sering muballigh kita diundang pengajian ke luar negeri, tapi cuma datang dan terus pulang. Maksud Gus Mus, ini merupakan pekerjaan yang akan punya dampak berkelanjutan yang membawa manfaat banyak, jangan cuma datang terus pulang.

Selain Gus Mus?

Ada sejumlah kiai dan tak ada yang menolak. Kiai-kiai ini tahu betul saya dan pekerjaan saya selama ini. Saya juga menghubungi teman-teman, termasuk yang di Israel. Mereka katakan itu kesempatan bagus karena akan mendapat perhatian global. Mereka bilang, apa pun yang saya katakan di sana pasti mendapatkan perhatian luas.

Adakah yang menemui dan menentang rencana keberangkatan Anda?

Dua hari sebelum berangkat, Duta Besar Palestina datang ke sini (kantor PBNU). Dia marah-marah. Saya bilang, ini ikhtiar saya. Dia bilang, enggak mungkin berhasil, percuma. Saya bilang, niat saya baik, saya pegang nasihat Umar bin Khoththob kepada putranya: kalau orang memurnikan niat, mengikhlaskan niatnya kepada Allah, urusannya dengan sesama manusia akan dibereskan oleh Allah.

Baca Juga: Gus Yahya Memaknai Rahmah dengan Ramah

Apalagi yang disampaikan Duta Besar Palestina?

Dia bilang akan berbicara kepada Presiden. Silakan. Saya bilang, ini atas nama pribadi, bukan atas nama NU dan pemerintah. Saya bilang tak bisa dibatalkan.

Anda menyebut ini pekerjaan panjang yang dimulai oleh Gus Dur? Pekerjaan panjang apa?

Sejak Gus Dur lengser, ia menghabiskan sebagian besar energinya mencari solusi dari konflik antar agama. Karena, realitanya, dimana-mana ada konflik atas nama agama. Gus Dur sudah tiga kali ke Israel berbicara dengan berbagai pihak dari Israel dan Palestina.

Setelah Gus Dur wafat, bagaimana?

Ketika Gus Dur wafat, paman saya, kiai Mustofa Bisri, mencoba meneruskan sebisanya sejak 2009. Pada 2011, saya diajak Gus Mus ke pertemuan dengan sejumlah pihak di markas Uni Eropa di Brussels, Belgia, kemudian ke Washington, Amerika Serikat. Habis itu, saya diminta Gus Mus meneruskan.

Baca Juga: Gus Yahya; Sosok KH. Wahab Chasbullah Zaman Now

Di Israel bertemu dengan siapa saja?

Banyak, termasuk tokoh Palestina walau bukan dari Hamas atau otoritas Palestina. Antara lain, Dr. Mohammed Dujani Daoudi. Ia pemikir Palestina yang mengembangkan kerangka kerja keagamaan dan politik untuk perdamaian. Ada juga gerakan Mothers of Peace, gabungan ibu-ibu Yahudi dan Arab. Tidak hanya dari Israel, tapi juga dari Ramallah, Gaza.

Ada yang paling membuat berkesan?

Mothers of Peace. Mereka memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya yang Islam dan Kristen jika tak ada perdamaian. Ini yang paling menyentuh saya. Lalu ada juga Khululam, paduan suara anak-anak muda milenial, yang memodifikasi lagu One Love, milik Bob Marley, ke dalam bahasa Arab dan Ibrani. Sebelum mereka bernyanyi, saya bersama pendeta Kristen dan rabi Yahudi diminta menyampaikan ungkapan keagamaan dari masing-masing kepercayaan. Saya baca hadits Qudsi: Orang-orang yang punya rahmah akan dirahmati oleh Yang Maha Rahmah. Maka, rahmatilah penduduk bumi, maka engkau akan dirahmati oleh Yang di Atas. Kegiatan ini membuat seribu tiket ludes.

Melihat situasi Israel-Palestina, apa tawaran Anda menyelesaikan konflik?

Saat berpidato di AJC Global Forum di Washington pada 2002, Gus Dur melontarkan gagasan tentang pentingnya menambahkan elemen moralitas agama dalam penyelesaian konflik. Bagaimana mengubah persepsi tentang kepentingan menjadi kesejahteraan, lalu masuk ke kemaslahatan umum. Saya bawa gagasan itu, menambahkan sedikit saja. Saya berpikir harus ada satu konsep yang diterima semua, maka saya ajukan rahmah.

Baca Juga: Mengurai Diplomasi Rahmah ala Gus Yahya Staquf di Israel

Apa ide dari konsep rahmah?

Firman Allah mengatakan; "Aku tidak mengutusmu selain sebagai rahmah bagi semesta alam." Rahmah itu sikap yang membuat kita bersedia memaafkan, berbagi dan memberi. Makanya saya bilang, orang tak bisa mewujudkan keadilan diantara pihak-pihak bersengketa kecuali keduanya bersikap rahmah.

Semacam sikap welas asih?

Rahmah itu welas asih dengan kemauan memberi dan menolong. Rahmah tidak butuh prakondisi. Ini soal perasaan, sikap yang kita pilih kalau kita mau. Saya sampai ke pemikiran itu karena ada sabda Rasulullah SAW; "Allah memilih rahmah, memilih bertindak rahmah."

Bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan Netanyahu?

Itu saya tidak mengerti. Ahad malam saya tampil di AJC, Senin siang dapat pesan bahwa Perdana Menteri Israel mau bertemu pada Kamis. Saya bisa apa? Masak, tidak diiyakan? Selasa pagi dapat pesan, Presiden Israel (Reuven Rivlin) juga mau bertemu pada Rabu. Saya tidak tahu apa ada orang-orang mengusulkan ke mereka, yang jelas datang saja.

Apa yang dibicarakan?

Dengan Netanyahu, dia berusaha membawa pembicaraan ke normalisasi hubungan Indonesia-Israel.

Baca Juga: Tafsir Tunggal Bela Palestina dan Undangan Gus Yahya Staquf dari Israel

Apa yang Anda katakan kepada Netanyahu?

Saya bilang tak bisa bicara soal itu. Masa
lah Indonesia-Israel tak bisa lepas dari soal Palestina. Sulit mengharapkan normalisasi kalau tak ada jalan keluar soal Palestina. Lama pertemuan 30 menit. Yang lama itu dia presentasi macam-macam. Netanyahu bawa full team, sepuluh orang. Saya seperti mau diajak pertemuan bilateral.

Kepergian Anda dikritik banyak orang, tapi Anda menghadapinya dengan santai...

Kritikan itu tertulis semua, kan? Termasuk di media sosial. Kalau saya tidak membacanya, kan, tidak masalah? Kecuali yang datang ke sini marah-marah. Kalau disuruh mundur (dari anggota Wantimpres), harus jelas dulu kesalahannya apa. Kalau diberhentikan, walaupun tidak salah, kan, boleh saja. Seandainya waktu itu Presiden meminta tak berangkat, saya tetap berangkat.

Anda sampai berlebaran di Israel, bisa diceritakan suasana di sana?

Di Masjid Al-Aqsho ramai. Sekitar ada 400 ribu orang. Tapi saya di emperannya yang jauh. Di malam Idul Fitri, seluruh kota ramai. Hiasannya macam-macam. Takbirannya hanya di sekitar Al-Aqsho. Tapi dirayakan di seluruh kota. Orang-orang tumpah ke jalan. Saya tidak sempat mencicipi makanan lebaran di sana. Hanya sempat diajak makan malam Sabbath di rumah rabi David Rosen. Celakanya, dia vegetarian. Tapi dia pengertian. Dan seharusnya minum anggur, tapi karena ada kami, akhirnya diganti jus.

Baca Juga: Pesan Langit dari Rembang

Seperti apa suasana kehidupan antar agama di Yerusalem?

Kalau di jalan-jalan Yerusalem, orang Arab dan Yahudi asyik-asyik saja. Kecuali yang garis keras. Kalau ada orang merokok di malam Sabtu, mereka mengamuk, karena Sabbath. Saya pernah dibegitukan. Saya ditanya, kenapa merokok. Saya jawab, saya bukan Yahudi. Mereka terima.

Selama di sana, Anda juga mengunjungi tembok Yerusalem?

Iya, saya masuk ke tunnel yang katanya mau merobohkan Masjid Al-Aqsho. Saya diajak masuk melihat kenyataan. Bayangkan, itu warisan peradaban 2.500 tahun. Panjang tembok itu sekitar satu kilo meter dan ditanam 30 meter di dalam tanah. Zaman Turki Utsmani, kota ditinggikan. Jadi, ada 30 meter dari kota yang tertanam. Itu yang mereka gali kembali. Nah, orang bilang bagian yang tertanam itu mengancam Masjid Al-Aqsho.

Kesan Anda setelah melihatnya?

Masjid yang sekarang itu hanya pananda. Menurut interpretasi saya, Masjid Al-Aqsho tempat Nabi Muhammad sholat, ya, di seluruh bangunan besar itu. Saya tanya ke teman, dulu bangunannya seperti apa, karena masjid ini diakui oleh Nabi sebagai tempat ibadah oada zaman sebelum Islam. Dia malah tanya, masjid yang mana, karena dulu dihancurkan oleh kerajaan Romawi.

Jadi, entah di mana tepatnya lokasi sholat (Nabi Muhammad pada saat Isro'-Mi'roj). Belum tentu di tempat yang sekarang jadi Masjid Al-Aqsho. Kalau ini digali, justru memperlihatkan bagaimana dulu bentuk Masjid Al-Aqsho, bagaimana bentuknya di zaman Rasulullah SAW.

Baca Juga: Dari Khotbah 'Ied hingga "Khotbahnya" Yahya

Apa respon Anda menghadapi protes santri Anda yang katanya ada yang mengamuk?

Tak cuma mengamuk, ada yang mengatakan akan menggugat. Saya buktikan posisi saya tak bisa digugat karena saya meminta supaya agama difungsikan dalam mewujudkan perdamaian. Saya malah sempat mengamuk ketika ada yang bertanya, apa untungnya bagi Indonesia? Kok tega memikirkan untung. Pernah dengar tidak, berapa jumlah yang meninggal akibat konflik ini, bagaimana menderitanya mereka di sana. Saya tak melakukan ini untuk NU, saya tak memikirkan Indonesia. Indonesia mau rugi atau untung, terserah. Saya memikirkan nasib orang Palestina dan dampaknya bagi kemanusiaan. Kalaupun NU rugi, biar. Kalau rugi, apa ruginya?■



Disadur dari Koran Tempo, 30 Juni-1 Juli 2018.
Read More