rumahnahdliyyin.com - Ditinjau dari sisi bahasa Arab, kata khalifah (خليفة) adalah bentuk kata benda tunggal yang berarti orang yang mengatur urusan-urusan kaum muslim. Sedangkan bentuk jama' atau pluralnya adalah kholaif (خلائف).
Adapun kata khulafa' (خلفاء) merupakan bentuk jama' atau plural dari kata kholif (خليف), tanpa huruf ha' (الهاء) karena kata ini bermakna al-fa'il (kata benda yang menunjukkan pelaku suatu perbuatan). Kata kholif ini adalah asal kata dari kholifah (خليفة). Penambahan huruf ha' (الهاء) padanya adalah mubalaghoh (bentuk pernyataan yang dilebihkan/pleonastic) sehingga menjadi sifat spesifik bagi orang tertentu. (Muhammad Ibrahim Al-Khafnawi, Mu'jam Ghorib Al-Fiqh wal-Ushul: Kairo, Darul-Hadits, 1430/2009, hal. 233).
Baca Juga: Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik
Menurut Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi (1283 H./1866 M. - 1332 H./1914 M.), seorang ulama besar dari Syam (Syiria), menuliskan dalam tafsirnya bahwa firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30:
وإذ قال ربّك للملائكة إنّى جاعل فى الأرض خليفة أي قوما يخلف بعضهم بعضا قرنا بعد قرن كماقال تعالى وهو الذى جعلكم خلائف الأرض
"Dan (ingatlah) ketika Tuhan Pemelihara kamu berfirman kepada para malaikat: 'sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah.' Maksudnya (menjadikan) suatu kaum menggantikan sebagian mereka dengan sebagian yang lain, satu generasi sesudah generasi sebelumnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala: 'Dan Dia-lah yang menjadikan kamu para khalifah (di) bumi." (QS. Al-An'am: 165).
Baca Juga: Jubir HTI Bungkam
Menurut Al-Imam Al-Qurthubi, kata kholifah itu bermakna fa'il (pelaku pekerjaan), yaitu:
يخلف من كان قبله من الملائكة فى الأرض أو من كان قبله من غير الملائكة على ما روي
"Yang menggantikan orang yang sebelumnya berupa malaikat yang menetap di bumi atau orang yang sebelumnya (yang tinggal di bumi) dari selain malaikat atas dasar suatu riwayat."
Baca Juga: Khilafah di Indonesia Tidak Mungkin Terwujud
Makna kholifah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 ini, menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas dan seluruh pakar tafsir adalah Nabi Adam AS. Demikian dikeluarkan oleh Al-Imam Ath-Thobari dalam tafsirnya. (Ath-Thobari, Jilid I, hal. 479-480).
Nabi Adam AS. adalah kholifatuLlah dalam melaksanakan hukum-hukumNya dan perintah-perintahNya karena ia adalah awwalu rosulin (orang yang mula-mula diutus oleh Allah SWT.) ke bumi. (Abi 'Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an wal-Mubayyin li Ma Tadlommanahu minas-Sunnah wa Ayyil-Furqon, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1427/2006, Cet. 1, Jil. 1, hal. 394-395).
Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah Ala HTI
الرابعة :هذه الأية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع لتجتمع به الكلمة وتنفذ به أحكام الخليفة ولاخلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ماروي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه و مذهبه قال:إنها غير واجبة في الدين بل يسوغ ذلك وإن الأمة متى أقاموا حجهم وجهادهم وتناصفوا فيما بينهم وبذلوا الحق من أنفسهم وقسموا الغنائم والفيء والصدقات على أهلها وأقاموا الحدود على من وجبت عليه أجزأهم ذلك ولايجب عليهم أن ينصبوا إماما يتولى ذلك! ودليلنا قول الله تعالى: إني جاعل في الأرض خليفة وقوله تعالى: يادوود انا جعلناك خليفة في الأرض(ص: ٢٦) وقال: وعد الله الذين ءامنوا وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض (النور :٥٥) أي: يجعل منهم خلفاء إلى غير ذلك من الأي.
Baca Juga: Dunia Berharap Kepada NU
"Keempat: ayat ini (yakni penggalan firman Allah QS. Al-Baqoroh ayat 30) adalah landasan (dalil) dalam pengangkatan imam dan khalifah yang karenanya ia didengar dan ditaati, yang dengannya supaya sepakat dalam satu kata dan dengannya hukum-hukum dari khalifah dilaksanakan. Tidak ada perbedaan terkait kewajiban itu (mengangkat pemimpin) diantara umat dan para imam, kecuali apa yang diriwayatkan oleh Al-Asham (yaitu ‘Abdurrahman bin Kaisan, Syaikh Al-Mu’tazilah, wafat tahun 201 H.) dimana ia tuli dari syari’ah, demikian juga setiap orang yang menyatakan mengikuti pendapatnya dan madzhabnya. Ia (Al-Asham) berkata: 'Sesungguhnya (mengangkat) khalifah itu bukan kewajiban dalam agama, yang demikian itu hanyalah merupakan kebolehan. Sesungguhnya apabila umat telah menunaikan haji, jihad dan saling bersikap adil diantara mereka, memberikan hak dari diri mereka, mereka membagikan ghonimah (harta rampasan perang), fay’ dan sedekah kepada yang pantas menerimanya, mereka menegakkan al-hudud (sanksi pidana yang ditentukan oleh teks Al-Qur’an) kepada orang yang wajib menanggungnya, maka yang demikian itu sudah cukup dan tidak wajib bagi mereka untuk mengangkat imam (pemimpin) untuk menangani semua itu.' Adapun dalil kami adalah firman Allah: 'Sesungguhnya Aku hendak menciptakan satu khalifah di bumi.' Firman Allah: 'Wahai Daud! Sesungguhnya Kami telah
menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi,' (QS. Shod: 26). Dan firman Allah: 'Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka penguasa di bumi…' (Qs. al-Nur: 55), maknanya: Allah akan menjadikan diantara mereka khulafa’ (para khalifah)."
Baca Juga: Gus Yahya: Kita Buktikan Islam Berguna Untuk Manusia
Mencermati penafsiran diatas, sangat jelas bahwa firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh ayat 30 menyebut kata kholifah bukan dalam pengertian dan tidak pula berkonotasi atau memberikan petunjuk yang jelas untuk menciptakan pemimpin politik (khalifah), sistem pemerintahan atau bentuk Negara dalam Islam.
QS. Al-Baqoroh ayat 30 diatas dan QS. Shod ayat 26, yakni firman Allah yang artinya, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu sebagai khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” adalah dua ayat yang paling sering dipakai untuk melegitimasi sistem politik dalam Islam sebagaimana dilakukan HTI dan para pegiat khilafah lainnya.
Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam
Padahal, QS. Al-Baqoroh ayat 30 yang menyebut kata kholifah bermakna sebagai kholifatullah (pengganti Allah) dalam memakmurkan bumi melalui peran manusia dengan berbagai kesempurnaan yang melekat padanya. Sedangkan QS. Shod ayat 26 bermakna lebih menunjukkan kepada tugas untuk memberikan keputusan hukum diantara manusia secara benar dan adil dimana hal ini ditujukan kepada Nabi Daud AS. Jadi, kedua ayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan makna kholifah sebagai entitas kepemimpinan politik untuk menegakkan sistem khilafah islam yang bersifat internasional (al-khilafah al-islamiyyah al-‘alamiyyah) sebagaimana ditafsirkan oleh HTI.
Hanya HTI saja yang mewajibkan penegakan sistem khilafah dengan kewajiban mengangkat satu orang khalifah (‘Abd al-Qadim Zallum, Nidhomul-Hukmi fil-Islam, Beirut-Lebanon: Dar al-Ummat, 2002/1422, halaman 43. Menurut ‘Abd al-Qadim Zallum, ia seorang pimpinan tertinggi Hizbut Tahrir saat ini, bahwa hanya wajib mengangkat satu orang khalifah saja berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abi Sa’id al-Khudlri dari Rasulullah SAW., beliau bersabda: 'Apabila dua khalifah dibaiat, maka bunuhlah yang lain (salah satu) dari keduanya') dan di dunia ini hanya boleh ada satu kekhilafahan saja.
Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia
Dalam hal ini, sebuah buku berbahasa Arab berjudul Ajhizat Daulah Al-Khilafah fil-Hukmi wal-Idaroh, Beirut-Lebanon: Dar Al-Ummat, 2005/1426), halaman 37, menjelaskan sebagai berikut:
يجب أن يكون المسلمون جميعا في دولة واحدة وأن يكون لهم خليفة واحد لا غير ويحرم شرعا أن يكون للمسلمين في العالم أكثر من دولة واحدة وأكثر من خليفة واحد
“Semua orang muslim wajib berada didalam satu negara dan (wajib) hanya memiliki satu khalifah, tidak ada yang selainnya. Menurut syara’, haram bagi orang-orang muslim memiliki lebih banyak dari satu negara di dunia ini dan (haram) memiliki lebih dari satu khalifah.”
Baca Juga: Jihad dalam Konteks Negara-Bangsa di Era Modern
Padahal, tidak ada seorang pun dari ulama madzhab Sunni dalam kitab-kitab mereka yang mewajibkan hanya ada satu negara yang sah di dunia yang sangat luas ini yang wajib berada dalam genggaman kekuasaan satu orang khalifah.
Kitab-kitab fikih empat madzhab hanyalah mewajibkan pengangkatan pemimpin (nashb al-imam) sebagaimana kewajiban tersebut berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan Al-Ijma’ (konsensus ulama).
Baca Juga: Ini Pandangan Grand Syaikh Al-Azhar Tentang Pancasila
Tidak ada satupun teks-teks fikih klasik itu menyebut kata khilafah sebagaimana yang dimaksudkan oleh HTI. Bahkan, tidak ada satu pun dalil nash (teks Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang secara shorih (jelas dan nyata) menyatakan wajib mendirikan khilafah sebagaimana yang dimaksudkan oleh HTI.
Dalam hal ini, HTI telah melakukan pengalihan makna kata kholifah yang disebut dalam Al-Qur’an dan yang tercantum dalam kitab-kitab fikih klasik kepada makna khilafah sebagai sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara Islami yang bersifat internasional (al-khilafah al-islamiyyah al-‘alamiyyah), suatu makna yang sedikitpun tidak dimaksudkan oleh para ulama pada masa lalu itu, lebih-lebih untuk konteks saat ini dimana seluruh dunia telah terbagi-bagi menjadi negara bangsa (nation state).
Baca Juga: Inilah Bogor Message; Hasil KTT Wasathiyah Islam
Dengan demikian, cukup jelas bahwa HTI sengaja mengutip teks-teks, baik berupa ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata kholifah dan derivasinya, mengutip penjelasan para mufassir terkait ayat tersebut dan juga mengutip pendapat para ahli fikih tentang hukum nasb al-imam (pengangkatan pemimpin), adalah sekedar klaim pembenar sepihak dan (seluruh kutipan itu) pada hakikatnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan upaya penegakan kembali khilafah sebagaimana yang dimaksudkan dan diperjuangkan oleh HTI, yakni dalam makna sistem politik dan pemerintahan atau bentuk negara.
* Oleh: KH. Ahmad Ishomuddin, Tulisan ini diambil dari tulisan KH. Ahmad Ishomuddin yang berjudul Gerakan Politik HTI Berbalut Dakwah Menuju Khilafah Islamiyyah yang dipresentasikan beliau ketika menjadi Saksi Ahli pada tanggal 15 Maret 2018 dihadapan Majelis Hakim PTUN dalam perkara gugatan TUN yang diajukan oleh ex-HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) terhadap Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-0028.60.10 Tahun 2014 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum HTI.
