KH. Sa'id Aqil Tuntun Syahadat Warga Amerika


muslimpribumi.com, Jakarta - KH. Sa'id Aqil Siroj, Senin, 12 Februari kemarin, menuntun langsung Diddens Raymond Dale untuk masuk Islam. Hal seperti ini sudah kesekian kalinya dilakukan oleh kiai yang juga ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (PBNU) ini terhadap banyak orang yang hendak masuk Islam

Bertempat di lantai tiga gedung PBNU, Jakarta Pusat, kiai Sa'id membimbing pemuda berkewarganegaraan Amerika Serikat ini menjadi muallaf. Sebagai saksi dalam prosesi sakrak ini yaitu Ketua PBNU KH. Abdul Mannan Ghani dan H. Eman Suryaman.

Sesaat sebelum menuntun pembacaan dua kalimat syahadat, kiai Sa'id memberi nasihat kepada pria kelahiran 27 Desember 1972 ini. Menurut kiai Sa'id, prinsip agama Islam itu sederhana. Yaitu percaya kepada Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Nabi Allah.

"Sangat sederhana. Tuhan hanya satu. Tidak punya ibu dan tidak punya bapak," demikian tutur KH. Sa'id Aqil Siroj pada pria berambut pirang itu sebagaimana dilansir oleh NU Online.

Selepas menuntun membaca dua kalimat Syahadat, kiai Sa'id pun memberi nama tambahan "Ahmad" pada nama mu'allaf Amerika itu. Jadi, namanya menjadi "Ahmad Diddens Raymond Dale". Selain itu, kiai Sa'id juga memberikan Al-Qur'an yang sebagaimana telah kita ketahui bersama merupakan kitab sucinya umat Islam.

Dalam kesempatan itu, turut hadir menyaksikan pula yaiti Ketua PBNU H. Marsudi Syuhud, H. Hanief Saha Ghofur, Ketua LAZISNU Syamsul Huda, dan Ketua PP. Fatayat NU Anggia Ermarini.


Editor: Agus Sb.
Sumber Foto: nu.or.id
Read More

KH. Saifuddin Amsir Ajak Mencintai NU


muslimpribumi.com - KH. Saifuddin Amsir, mengajak jama'ah Majelis Ta'lim Ahad Pagi Masjid Ni‘matul Ittihad untuk terlibat aktif dalam kegiatan Nahdlatul Ulama'. Beliau mengajak segenap jama'ah majelis ta'lim supaya berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan ke-NU-an.

Demikian disampaikan Kiai Saifuddin Amsir di sela pengajian Ahad pagi di Masjid Ni‘matul Ittihad Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad pagi, 11 Februari kemarin.

“Sebandel apapun kita, harus cinta NU,” kata Kiai Saifuddin Amsir.

Ia menceritakan bagaimana para kiai di Jakarta dahulu melibatkan diri dalam gerakan NU, sebuah gerakan Ahlussunnah wal Jama'ah.

“Guru-guru kita dulu terlibat aktif dalam NU. Ente kudu jadi pengurus NU. Kita harus cinta pada NU,” kata kiai Saifuddin Amsir.

KH. Saifuddin Amsir adalah Rais Syuriyah PBNU 2010-2015. Di Masjid Ni'matul Ittihad Pondok Pinang pada pengajian Ahad pagi, ia mengajar Kitab Mughnil Muhtaj dan Kitab I‘jazul Qur'an.


* Sumber: nu.or.id
Read More

Jihad Dalam Konteks Negara Bangsa di Era Modern


Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur di PP. Sunan Bejagung Tuban, 10-11 Februari 2018

KOMISI MAUDHU'IYYAH
_________________________

JIHAD DALAM KONTEKS NEGARA BANGSA DI ERA MODERN

Mengutip KH. Maimun Zubair:
“Masa sekarang sudah tidak ada khilafah. Tidak ada negara Islam. Semuanya negara nasional … Pada masa sekarang kalau bangsanya tidak dijunjung maka akan runtuh.”

Karenanya, Islam tidak anti terhadap eksistensi negara bangsa sebagaimana yang berkembang dewasa kini. Islam menempatkan negara bangsa sebagai bagian penting sebagai wasilah untuk mencapai kemaslahatan. Berkaitan hal ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menyatakan:

فَإِنَّ الْإِسْلَامَ لَا يَأْبَى الْاِعْتِرَافَ بِالتَّنْظِيمِ الدَّوْلِيِّ الْقَائِمِ عَلَى أَسَاسِ الْحُدُودِ الْجُغْرَافِيَّةِ، لِأَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْوَسَائِلِ التَّنْظِيمِيّ 

“Maka sungguh Islam tidak enggan mengakui sistem kenegaraan yang eksis berdasarkan batas-batas geografis, sebab itu bagian dari sistem yang menjadi wasilah (untuk mencapai kemaslahatan manusia).”

Namun demikian, prinsip ini tidak menafikan pembelaan terhadap kaum muslimin yang terzalimi di manapun berada. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa komando perang militer hanya merupakan kewenangan pemimpin pemerintahan dan rakyat harus mentaati kebijakannya. Al-Muwaffiq Ibn Qudamah al-Maqdisi (541-620 H/1146-1223 M) menegaskan:

وَأَمْرُ الْجِهَادِ مَوْكُولٌ إِلَى الْإِمَامِ وَاجْتِهَادِهِ وَيَلْزَمُ الرَّعِيَّةَ طَاعَتُهُ فِيمَا يَرَاهُ مِنْ ذَلِكَ

“Urusan jihad dipasrahkan kepada pemimpin negara dan ijtihadnya, dan rakyat wajib mentaati kebijakannya dalam urusan tersebut.”

Perang militer termasuk bagian dari hukum-hukum kenegaraan. Tidak ada perbedaan pendapat ulama' bahwa siasat perang, deklarasi, gencatan senjata, analisis strategi dan dampaknya, semuanya masuk dalam hukum kenegaraan. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh secara ilegal tanpa izin dan persetujuan pemimpin negara ikut campur atas kebijakannya. Rakyat, siapapun itu, tidak boleh memerangi orang yang berbeda agama hanya berdasarkan menuruti hawa nafsu.

Kewajiban jihad dalam konteks negara bangsa juga sudah terpenuhi dengan kebijakan negara dalam menjaga kedaulatan, menjaga tapal-tapal perbatasan dan memperkuat struktur kekuatan militer dan semisalnya. Bahkan sebenarnya, kewajiban jihad militer adalah kewajiban yang bersifat sebagai perantara (wasilah), bukan sebagai tujuan senyatanya. Karena maksud utamanya adalah menyampaikan hidayah agama.

Dari sini menjadi jelas, pada hakikatnya karakter dasar Islam adalah agama damai dan selalu mengutamakan upaya-upaya kedamaian sebisa mungkin. Perang merupakan solusi terakhir (tindakan darurat) yang dilakukan untuk menjaga perdamaian dan kemaslahatan umat manusia. Perang merupakan strategi taktis dan hanya dilakukan dalam kondisi darurat untuk menjaga kelestarian umat manusia, mencegah kejahatan dan menolak kezaliman di muka bumi.

Demikianlah hakikat jihad sebenarnya dalam Islam yang sesuai dengan nash-nash fuqaha' dan selaras dengan hadits Nabi SAW.:

لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ العَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللهَ العَافِيَةَ، فَإذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Janganlah kalian mengharap bertemu musuh dan mintalah keselamatan kepada Allah SWT. Namun demikian, bila kalian menemuinya maka bersabarlah.” (Muttafaq ‘Alaih).

Perumus:
KH. Arsyad Bushairi
KH. Azizi Hasbullah
KH. Suhaeri Idrus
K. Fauzi Hamzah Syam
Ahmad Muntaha AM
Ma'ruf Khozin
Faris Khoirul Anam Lc., M.H.I.


Tuban, 11 Februari 2018

PW. LBM NU Jawa Timur

Ketua

ttd.

KH. Ahmad Asyhar Shofwan, M.Pd.I



Wakil Sekretaris

ttd.

Ahmad Muntaha AM
Read More

Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran, Tidak Bisa Dibiarkan


muslimpribumi.com , Sumsel - Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, sangat menyayangkan tindakan penyerangan Gereja St. Lidwina Sleman dan penganiayaan terhadap pastor serta jemaat gereja. Pada Minggu pagi tadi, 11 Februari 2018, Gereja St. Lidwina Dk. Jambon, Trihanggo, Kec. Gambing, Kab. Sleman, Yogyakarta, diserang seorang lelaki bersenjata tajam. Penyerang melukai pastor dan beberapa jemaat. Selain itu, penyerang juga melukai seorang polisi yang berusaha mengamankan pelaku.

Menanggapi penyerangan ini, Ketua Umum Pagar Nusa, M. Nabil Haroen, menyeru gerakan intoleran tidak bisa dibiarkan lagi. "Saya sangat menyayangkan penyerangan yang terjadi di Gereja St. Lidwina, Sleman. Beberapa waktu lalu, terjadi penyerangan kiai di Cicalengka, Jawa Barat. Kalau penyerangan ini terus dibiarkan, akan memecah belah dan berdampak buruk bagi bangsa ini," ungkap Nabil dalam Silaturahmi Pagar Nusa se-Sumatera Selatan, di Tuga Jaya, Ogan Komering Ilir, Sumsel, hari ini.

Nabil Haroen mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 dan 2019, yang dianggap sebagai tahun politik, konsolidasi dan silaturahmi antar elemen warga harus ditingkatkan. "Kemarin kiai yang dibacok, sekarang pastor yang diserang. Ini semacam rangkaian kekerasan yang harus diputus. Tidak sekedar mencari dan menemukan pelaku, tapi memutus jaringan kekerasan ini. Jangan sampai Indonesia kita dibuat keruh oleh kelompok yang tidak bertanggungjawab," terang Nabil.

Nabil Haroen mengajak warga Nahdliyyin, santri dan bersama warga lintas agama, serta Polri dan TNI, untuk saling menjaga situasi agar tetap kondusif. "Kita jangan sampai kalah dengan kekerasan. Harus ada gerakan bersama untuk memutus mata rantai kekerasan ini. Pagar Nusa sudah menginstruksikan jaringan pendekar untuk merapatkan barisan, konsolidasi dengan warga lintas agama serta simpul-simpulnya untuk saling bekerjasama. Kami juga terus berkomunikasi intensif dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk bersama-sama menciptakan situasi kondusif," jelas Nabil Haroen yang didampingi Emi Sumirta, Ketua PW. Pagar Nusa Sumatera Selatan, Ki Cokro, M. Aziz, Muamarullah dan jajaran Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

"Jangan sampai, situasi politik pada masa menjelang Pilkada, Pilleg, dan Pemilihan Presiden, pada tahun 2018 dan 2019 ini, menjadi turbulensi sehingga dimanfaatkan kelompok yang tidak bertanggungjawab," ungkap Nabil dihadapan ratusan pendekar Pagar Nusa dan antar Perguruan Silat di Ogan Kemiring Ilir.

Nabil Haroen mengajak pada tokoh-tokoh lintas agama untuk saling silaturahmi, untuk menyamakan persepsi menjaga bangsa. "Silaturahmi lintas agama harus diintensifkan antara tokoh maupun antar warganya. Ini penting agar umat antar agama saling bersilaturrahmi. Mari kita tingkatkan ukhuwwah basyariyyah, persaudaraan kemanusiaan kita, untuk menjaga situasi tetap damai. Kalau ukhuwwah ini terjaga, tujuan pelaku kekerasan untuk mencipta situasi chaos, tidak akan tercapai," harap Nabil Haroen.

Dalam waktu dekat, Pagar Nusa akan  menyelenggarakan Silaturrahmi antara ulama, santri dan pemuka lintas agama di beberapa kawasan, untuk keamanan dan persaudaraan kebangsaan. Agenda ini merupakan satu rangkaian dengan Ijazah Kubro Pagar Nusa pada Januari 2018 lalu di Cirebon, Jawa Barat (*).
Read More

Tentang Salah Kaprah Penggunaan Istilah "Taubat"


Istilah "taubat", akhir-akhir ini sering digunakan secara salah kaprah dan kurang tepat. Seseorang yang sedang mengalami evolusi pikiran dari satu tahap ke tahap lain, disebut bertaubat. Ini jelas tidak tepat.

Istilah "taubat", bagi saya, jelas tak tepat dipakai dalam konteks evolusi gagasan. Taubat hanya tepat dalam konteks tindakan maksiat. Gagasan bukanlah tindakan maksiat. Gagasan bisa mengalami evolusi dan perkembangan. Itu menandakan bahwa gagasan tersebut dinamis. Gagasan yang tak berkembang adalah gagasan yang jumud. Apakah saat Imam Syafi'i berkembang idenya dari qaul qadim ke qaul jadid, beliau sedang bertaubat?

Apakah ketika Imam Asy'ari berubah pikiran, meninggalkan kubu Mu'tazilah dan bergabung dengan kubu Sunni, beliau bertaubat? Imam Asy'ari menggambarkan perubahan sikapnya itu bukan sebagai taubat. Para ulama' Asy'ariyyah juga tak ada satupun yang menggambarkan perubahan posisi teologis Imam Asy'ari sebagai taubat.

Saya tambahkan lagi: ketika diujung hidupnya Imam Ghazali menempuh jalan sufi, dan meninggalkan jalan-jalan pencarian kebenaran yang lain (yaitu jalan para teolog dan filosof) yang pernah beliau cobai; apakah Imam Ghazali melakukan pertaubatan? Tidak sama sekali. Tak ada yang menggambarkan fase mistik Imam Ghazali diujung hidupnya sebagai fase taubat.

Jika Anda dulu menjadi begal, maling, atau koruptor, lalu menyesali tindakan itu semua dan menempuh hidup baru yang lebih bermoral dan meninggalkan kebiasaan sebelumnya, itu bisa disebut taubat.

Tetapi jika Anda adalah seorang pemikir, lalu pemikiran Anda mengalami evolusi dari satu bentuk ke bentuk yang lain, itu bukanlah pertaubatan. Pikiran, dimanapun, berkembang. Evolusi pemikiran menandakan bahwa yang bersangkutan berproses, tidak jumud. Tetapi evolusi pemikiran bukanlah pertaubatan.

Ketika seorang saintis mengubah teorinya karena data-data yang baru menyanggah hipotesa dia yang awal, dia tak bisa disebut bertaubat. Dia mengoreksi teorinya, tetapi dia tidak sedang bertaubat.

Ketika Prof. Harun Nasution, diujung karir intelektualnya, menggeluti kajian tasawuf, kita tak bisa menyebut beliau bertaubat. Paling jauh kita hanya mengatakan, Prof. Harun memperluas cakrawala intelektualnya dengan memasuki bidang yang baru. Ketika beliau masuk ke kajian tasawwuf, bukan berarti gagasan-gagasan beliau sebelumnya ditinggalkan. Sama sekali tidak.

Oleh karena itu, saya heran ketika ada yang menyebut bahwa saya sedang bertaubat ketika saya membaca kitab Ihya'. Istilah ini mengandaikan bahwa dengan membaca Ihya', saya meninggalkan gagasan-gagasan saya sebelumnya. Istilah "taubat" secara implisit menyarankan bahwa fikiran-fikiran saya sebelum mengaji kitab Ihya' keliru semua, dan telah saya tinggalkan.

Anggapan ini jelas keliru sama sekali. Saya tak meninggalkan sedikitpun gagasan-gagasan saya selama ini. Saya masih berpegang pada gagasan pokok yang saya "perjuangkan" selama ini: bahwa teks-teks Islam harus terus direkontekstualisasi dan dibaca secara baru sesuai dengan semangat zaman yang terus berubah.

Jika ada hal yang "berubah" pada diri saya, maka hanya dalam perkara berikut ini:

Kaum "pembaharu" yang melakukan kritik atas tradisi dalam Islam harus memiliki dimensi spiritualitas, atau "hikmah" dalam bahasa Qur'an. Inti hikmah adalah "humility" atau sikap rendah hati, "andap asor". Dalam membaca ulang tradisi, sebaiknya kita memiliki sikap "humility" ini. Sikap kritis terhadap tradisi tetap penting. Tetapi kritik itu perlu dilakukan dengan sikap yang "andap asor", tawadlu'. Inilah makna spiritualitas bagi saya. Tanpa sikap semacam ini, kita bisa terjebak pada sikap arogansi. Kadang malah bermusuhan terhadap tradisi secara kurang proporsional.

Jujur saja, saya pernah mengalami fase "arogansi" semacam ini, sebagian besar karena pengaruh munculnya tendensi-tendensi pemikiran keagamaan yang radikal dan cenderung fundamentalistik yang membuat saya marah dan jengkel. Fase arogansi yang pernah menjangkiti saya ini mungkin dipengaruhi juga oleh semacam "youth enthusiasm", semangat kemudaan yang menggebu-gebu---fase yang alamiah dalam perkembangan psikologi seseorang.

Di mata saya, melakukan kritik dan penafsiran ulang atas tradisi tidak mesti dipertentangkan dengan spiritualitas. Keduanya bisa jalan bersamaan. Spiritualitas adalah semangat yang seharusnya melandasi seluruh tindakan kita sehari-hari, dalam bidang apapun.

Bagi saya, bukan tindakan yang hikmah dan "spiritual" saat kita melakukan "konfrontasi intelektual" terus-menerus dengan umat, sehingga konfrontasi itu terkesan seolah-olah menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Konfrontasi pada satu fase mungkin diperlukan, tetapi dia haruslah melayani tujuan lebih besar, yaitu transformasi kesadaran umat. Bukan mengalienasikan mereka.

Sekali lagi, saya memaknai spiritualitas sebagai "hikmah", kebijaksanaan yang muncul karena kesadaran yang akut dan mendalam pada diri kita bahwa kita adalah makhluk yang dhaif, lemah, "fallible", bisa berbuat salah; dan hanya Tuhan lah tempatnya segala kesempurnaan.

Kesadaran ini tidak langsung memupus usaha kita sebagai manusia. Kita tetap berusaha, mendayagunakan rasio dan intelek kita untuk mengeksplorasi horison kebenaran hingga batas-batas yang terjauh. Tapi usaha ini tetap harus disertai oleh sikap tawadlu', kerendah-hatian.

Salah satu inti spiritualitas adalah kemampuan untuk menggembosi gelembung ego kita yang bisa membesar, tanpa kontrol, hingga akhirnya merusak diri kita sendiri.

Berpikir rasional dan bersikap spiritual bukanlah dua hal yang bertentangan.

Apakah ini pertaubatan? Menurut saya tidak. Ini adalah evolusi pemikiran ke arah yang (semoga saya tak sedang "sombong" ketika mengatakan ini) lebih matang.

Sekian.

Catatan tambahan:

Saya keliru ketika menyebut bahwa Imam Asy'ari, saat meninggalkan posisi Mu'tazilah, tindakan beliau itu tidak digambarkan oleh para penulis klasik sebagai tindakan "taubat".

Banyak para penulis thabaqat (kamus biografi) menggambarkan perubahan pandangan Imam Asy'ari sebagai pertaubatan.Tetapi contoh-contoh saya yang lain tetap relevan.


* Oleh: Ulil Abshar Abdalla, pemikir atau cendekiawan muslim Indonesia.
Read More

Menulis Sejarah Secara Cermat


muslimpribumi.com - Belum lama ini, KH. Hairuman Nadjib (Gus Heru), cucu KH. Wahab Chasbullah, menghubungi saya untuk mengonfirmasi kebenaran tulisan anonim yang menjelaskan tentang lahirnya lambang NU.

Beliau mengonfirmasi kepada saya karena tulisan itu berbeda dengan tulisan sejarah lambang NU yang saya tulis dalam buku Fragmen Sejarah NU. Dalam buku saya tersebut, penggagas lambang NU adalah KH. Hasyim Asy'ari. Dari sumber KH. Sholahuddin Azmi, dari KH. Mujib Ridwan, dari KH. Ridwan Abdullah.

Sementara dalam tulisan ini, penggagasnya adalah KH. Wahab Chasbullah. Dengan sumber KH. Ridwan dan KH. Mujib. Ini yang saya sarankan agar Gus Heru menyelidiki kesahihannya.

Di situ juga ada kekeliruan, bahwa pidato Bung Karno tentang kecintaan kepada NU itu bukan disampaikan dalam Muktamar NU di Purwokerto pada tahun 1946. Melainkan disampaikan Bung Karno pada saat Muktamar NU di Solo pada tahun 1962.

Ketika masih dalam pengecekan, tulisan itu ternyata sudah menyebar di berbagai grup Whatsapp (WA) dan media sosial lainnya. Hal ini bisa menimbulkan khilaf berkepanjangan.

Sejarah adalah sumber informasi dalam mengambil sikap dan tindakan. Karena itu, para pimpinan NU dan penulis sejarah NU harus cermat dalam menulis. Sebab, kita telah beberapa kali melakukan ketidakcermatan, diantaranya:

Pertama, saat NU menggunakan foto Haji Hasan Gipo yang kemudian diprotes oleh keluarga karena foto tersebut ternyata foto Kiai Mas Manshur.

Kedua, NU memasang foto KH. Cholil Bangkalan yang ternyata itu bukan foto pendiri NU. Karena saat ini keluarga sedang mencari foto yang sesungguhnya.

Ketiga, gambar KH. Hasyim Asy'ari yang muncul belakangan dengan serban hijau serta berjenggot. Ternyata belum ada di antara sembilan kiai sepuh santri Mbah Hasyim yang menerima kebenaran gambar tersebut. Mereka semua menegaskan bahwa wajah Mbah Hasyim Asy'ari persis seperti gambar yang lama.

Mengingat terjadinya penyimpangan sejarah seperti itu, maka kembali kita dituntut untuk lebih cermat dalam menulis sejarah NU dan pesantren untuk menjaga integritas dan martabat organisasi.


* Oleh: Abdul Mun'im DZ, Peminat Sejarah NU.
Read More

Toilet Sebagai Jalan Keluar


Gus Mus diundang mengisi ceramah pengajian yang istimewa. Judul acaranya: "Nada dan Dakwah bersama Gus Mus dan --sebut saja:-- Sri". Sri, bukan nama sebenarnya, adalah seorang penyanyi ndangndut perempuan yang sedang naik daun waktu itu.

Banyak tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan ikut hadir. Mereka ditempatkan di deretan tempat duduk terdepan, tepat didepan panggung, sebelah-menyebelah dengan Gus Mus sendiri.

Usai ceramah pengajian, Gus Mus kembali ke kursinya dan acara dilanjutkan dengan hiburan lagu-lagu Islami oleh Si Sri.

"Saya sangat bangga dan berdebar-debar mendapatkan kesempatan menyanyi di sini", Sri membuka penampilan dengan sepatah-dua patah kata, "Apalagi dihadapan seorang ulama' yang sangat saya kagumi dan menjadi idola saya... Guus Muuus! Mana tepuk tangannyaaa? Tepuk tangan buat Guuus Muuuusss...!"

Dan musik pun mulai mengedut. Namanya ndangndut, walaupun Islami tetap saja menyondol-nyondol pinggang untuk bergoyang. Buat Sri sendiri, itu sudah naluri. Ditahan-tahan juga percuma. Ketika sudah masyuk dalam irama, ia pun melangkah turun panggung. Mendekati seorang pejabat di deretan depan, menggamit lengannya, dan membuat pejabat itu tak punya pilihan--atau tak ingin memilih--selain gabung berjoget bersama Sri.

Sementara itu, Gus Mus berkutat menahan gelisah. Entah seperti apa raut mukanya selama memaksa-maksakan diri untuk tersenyum-senyum waktu itu. Belakangan, jelas sekali ia tampak lega ketika seorang panitia mendekat menyuguhkan minuman. Gus Mus menggamit si panitia, "Dik, toilet dimana?"

"Oh, mari saya antarkan, Pak Kyai".

"Nggak usah. Tunjukkan saja tempatnya, biar saya kesana sendiri".

Panitia menunjuk pintu keluar gedung, "Dari situ terus kearah kiri, Pak Kyai".

Sambil mengangguk kanan-kiri, Gus Mus bergegas kearah pintu itu. Dari situ, ia langsung menuju tempat parkir mencari mobilnya, lalu menyuruh sopir cepat membawanya kabur.

Sopirnya pun heran, "Kok tergesa-gesa, 'Yai?"

"Aku takut diajak njoget".


* Oleh: KH. Yahya Cholil Tsquf
Read More

Hari Akhir


muslimpribumi.com - Hari akhir adalah hari dimana manusia dibangkitkan dari alam qubur dan dikumpulkan pada sebuah tanah lapang untuk dihisab. Pada hari akhir inilah nasib seluruh manusia ditentukan antara memperoleh keni'matan surga atau adzab neraka.

Selaku umat Islam, kita wajib mengimani hari akhir dan segala sesuatu yang ada dan akan terjadi di dalamnya. Firman Allah SWT. dalam surat An-Nisaa', ayat 136,

ومن يكفر بالله وملئكته وكتبه ورسله واليوم الأخر فقد ضلّ  ضللا بعيدا (النّساء : ١٣٦

“Dan barang siapa ingkar terhadap Allah SWT., malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya dan hari akhir, maka sungguh ia telah sesat sangat jauh.

Hari dimana manusia menerima catatan perbuatannya dengan tangan kiri atau dengan tangan kanan ini disebut dengan “hari akhir”, karena tidak akan ada hari lagi setelah hari ini. Dan hari akhir inilah yang biasa kita kenal dengan hari qiyamat.

Kendati hari qiyamat pasti akan tiba, namun mengenai kapan waktu datangnya tidaklah ada seorangpun yang bisa mengetahuinya. Termasuk para malaikat maupun para nabi dan para rasul.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW. pernah bersabda mengenai perjumpaan beliau dengan Nabi Ibrahim AS., Nabi Musa AS. dan Nabi Isa AS. sewaktu menjalani peristiwa Isro'-Miroj. Dalam perjumpaan itu, para nabi itu tengah berbincang-bincang tentang hari qiyamat.

“Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang hari qiyamat,” kata Nabi Ibrohim AS. ketika perbincangan itu dilemparkan kepada beliau.

“Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang hari qiyamat,” kata Nabi Musa AS. ketika perbincangan dilemparkan kepada beliau setelah sebelumnya kepada Nabi Ibrohim AS.

Dan ketika perbincangan dilemparkan kepada Nabi Isa AS., beliau berkata, “mengenai waktu terjadinya hari qiyamat, tidaklah ada seorang pun yang mengetahuinya. Hanya Allah SWT. sajalah yang mengetahuinya.”

Dalam Al-Qur'an surat Al-A'roof, ayat 187, Allah SWT. berfirman,

يسئلونك عن السّاعة أيّان مرسها، قل إنّما علمهاعند ربّى، لايجلّيها لوقتها إلّاهو (ألأعراف: ١٨٧

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad SAW.) tentang hari qiyamat, kapan terjadinya? Katakanlah (Muhammad SAW.): sungguh, pengetahuan tentang itu berada di sisi Tuhanku, yang tiada seorangpun mampu menjelaskan waktu terjadinya kecuali hanya Dia (Allah SWT.).”

Dalam kitab Tafsir Jalaalain yang dikarang oleh Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi diterangkan bahwa mereka yang bertanya perihal waktu datangnya hari qiyamat dalam ayat ini yaitu para penduduk Makkah. Pendapat ini juga diamini oleh Ibnu Katsir yang mengatakan bahwa Kafir Quraisy yang sering bertanya tentang waktu datangnya hari qiyamat ini, mengiringi pertanyaan yang diajukan kepada Nabi Muhammad SAW. ini dengan nada tidak mempercayai dan mendustakan akan datangnya hari akhir ini.

Dari ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang telah disebutkan diatas, kiranya kita selaku umat Islam jangan sampai ikut-ikutan mempercayai ramalan-ramalan maupun prediksi-prediksi mengenai kapan waktu pastinya terjadi hari qiyamat. Contohnya, ramalan suku Maya di Amerika yang telah terbukti salah dan memang pasti salah yang telah meramalkan bahwa qiyamat akan terjadi pada tanggal 12, bulan 12 dan tahun 2012 yang sudah lewat .

Untuk tidak mempercayai ramalan-ramalan semacam itu, kita dengan mudah bisa menggunakan logika berpikir sederhana seperti ini: kalau sekelas para nabi yang notabene orang yang dekat dengan Allah SWT. saja tidak mengetahui kapan datangnya hari qiyamat dan menyatakan bahwa hanya Allah SWT. sajalah yang mengetahui soal itu, bagaimana mungkin seorang tukang ramal mampu mengetahui kapan datangnya qiyamat?

Kendati waktu datangnya hari qiyamat yang mengetahui secara pasti hanyalah Allah SWT., namun tanda-tanda akan kedatangannya telah diberitahukan Allah SWT. kepada Rasulullah SAW. Diantaranya yaitu:
  1. Dicabutnya ilmu dengan cara diwafatkan para ulama.
  2. Tampaknya kebodohan.
  3. Sedikitnya jumlah lelaki.
  4. Banyaknya perempuan hingga bila dibandingkan dengan jumlah lelaki mencapai 50 banding 1.
  5. Merajalelanya perzinaan.
  6. Merebaknya minuman keras.
  7. Tidak ada nya seorang pun yang mau menerima sedekah karena semua manusia kaya.
  8. Tidak mengucapkan salam kecuali hanya kepada orang yang dikenal saja.
  9. Saling berbangga-bangganya manusia dalam membangun masjid.
  10. Islam hanya tinggal namanya.
  11. Al-Quran hanya tinggal tulisannya.
  12. Tidak ada lagi orang yang menyebut nama Allah SWT., dan yang lainnya.

Seorang badui (orang Arab pedesaan) pernah datang kepada Rasulullah SAW. dan bertanya: “kapankah hari akhir itu terjadi?”

Mendengar pertanyaan ini, Nabi Muhammad SAW. tidak menjawabnya. Beliau justru bertanya balik kepadanya: “bekal apakah yang sudah kau siapkan untuk menghadapi kedatangannya?”

“Tidak ada,” jawab lelaki badui itu. “Kecuali aku mencintai Allah SWT. dan rasul-Nya,” sambungnya.

“Kalau begitu, kau akan berkumpul dengan orang yang kau cintai,” jawab Rasulullah SAW.

Menurut para ahli Hadits, dialog antara Nabi Muhammad SAW. dan seorang Badui di atas ini mengandung pengertian bahwa ketika Rasulullah SAW. ditanya tentang suatu hal yang tidak perlu untuk diketahui, maka beliau mengarahkan sekaligus memberikan petunjuk kepada hal lainnya yang lebih penting. Dan hal yang tidak perlu kita ketahui karena memang tidak mungkin untuk kita ketahui adalah waktu pastinya datangnya hari qiyamat. Karena itu, alangkah lebih baik dan lebih penting bagi kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kedatangannya.

Akhirnya, demikianlah sekelumit uraian mengenai hari akhir atau hari qiyamat yang wajib kita imani itu. Semoga bisa dimengerti, dipahami dan bermanfaat untuk kita semua. Amin.
WaLlaahu a'lam. []


Oleh: Agus Setyabudi, Khodim di Madrasah Diniyyah Al-Ibriz Iru Nigeiyah, Sorong, Papua Barat.
Read More

Majalah Risalah Terima Anugerah


muslimpribumi.com - Presiden Joko Widodo, Jum'at hari ini menghadiri Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2018 yang dihelat di Danau Cimpago, Kota Padang, Sumatera Barat. Presiden mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh insan media atas dedikasi dan torehan tinta emasnya selama ini dalam ikut serta membangun bangsa dan negara Indonesia tercinta.

"Selamat dan sukses kepada pers di manapun berada," ujar Presiden Jokowi.

Presiden juga memberikan apresiasinya terhadap semua unsur media, termasuk kepada Majalah Risalah NU.

Sebagaimana diketahui bersama, Majalah Risalah NU adalah media yang bergerak dibawah Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama' (LTN PBNU). Dalam kesempatan ini, Majalah ini memperoleh penghargaan dalam kategori Media Kepeloporan di Bidang Media Dakwah yang konsisten dalam perjuangan NKRI.

Penghargaan yang berupa trofi dan sertifikat ini diberikan oleh Menteri Kominfo Rudiantara dan diterima langsung oleh Pimpinan Redaksi Majalah Risalah NU, H. Musthafa Helmy.

Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU), Hari Usmayadi, bersyukur atas penghargaan untuk Majalah Risalah NU ini. Ia mengapresiasi Dewan Pers atas penghargaan yang diberikan kepada Majalah Risalah NU ini serta berterima kasih kepada para kiai dan tokoh NU atas bimbingannya.

“Kami atas nama LTN bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada para kiai, pini sepuh yang mendukung keberadaan Majalah Risalah NU ini untuk terbit secara istiqamah sehingga mendapat penghargaan dari Dewan Pers yang disampaikan oleh Presiden RI, bapak Jokowi,” ujar pria yang lebih akrab disapa dengan Cak Usma ini.

Menurutnya, penghargaan ini merupakan anugerah sekaligus momentum penting bagi Majalah Risalah NU yang keberadaannya sebagai majalah NU telah diakui secara nasional, dan bahkan internasional.

Yang terpenting lagi, penghargaan ini bukan saja berkah untuk Majalah Risalah NU, melainkan keberkahan untuk warga NU karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-92. “Jadi, bukan hanya internal pengurus NU yang bangga, akan tetapi seluruh warga NU,” ungkapnya.

Atas penghargaan tersebut, Cak Usma berharap semoga Majalah Risalah NU tetap istiqamah dan semakin berkembang lebih baik serta menjadi majalah kebanggaan Muslim dunia.


Sumber: nu.or.id
Read More

Tak Perlu Menanggapi Berita Provokatif


muslimpribumi.com - Mungkin diantara kita ada yang bertanya, kenapa kita tidak pernah menjumpai bait-bait syair yang mencaci maki Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya?

Apakah memang penyair-penyair Quraisy itu tidak pernah menghina dan mencaci Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya?

Jawabnya, Tentu saja mereka sering membuat syair-syair cacian untuk Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya.
Tapi kenapa syair-syair cacian dan celaan tersebut tidak ada yang kita ketahui sekarang?

Jawabnya adalah karena para sahabat tidak ada yang mempedulikannya. Tidak ada yang membicarakannya. Apalagi menyebarluaskannya. Sehingga seiring waktu, hilanglah syair-syair celaan dan hinaan tersebut ditelan masa.

Perilaku para sahabat ini sangat baik sekali jika kita tiru di medsos, yaitu dengan tidak menanggapi berita yang provokatif, tidak membicarakannya, apalagi menyebarluaskannya. Pasti berita tersebut akan segera hilang. Biarkan saja lewat di beranda kita tanpa tanggapan.

Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar RA. pernah berkata:

أميتوا الباطل بالسكوت عنه، ولا تثرثروا فيه، فينتبه الشامتون

"Matikanlah kebatilan dengan mendiamkannya. Janganlah kalian meributkannya sehingga didengar oleh orang yang (senang dengan bencana orang lain)."

Semoga kita termasuk golongan yang ada dalam pernyataan Sayyidina Umar RA. yang tertulis dalam kitab Hilyah Auliya':

إنَّ لله عبادًا يُميتون الباطل بهجره، ويحيون الحقَّ بذكره

"Sesungguhnya Allah SWT. memiliki hamba yang mematikan kebatilan dengan cara meninggalkannya. Dan menghidupkan kebenaran dengan cara menyebutkannya".


* Oleh : M.Afifuddin Dimyati, Jombang, 8 Februari 2018.
Read More