Profesor Thailand: Budayakan dan Kembangkan Arab Pegon


rumahnahdliyyin.com, Pattani - Selama satu minggu ini, yaitu 11-17 Maret 2018, mahasiswa program Beasiswa Bidikmisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Lampung melakukan Student Mobility Program (SMP) di Fatoni University (FU), Thailand. Program yang diikuti oleh 72 mahasiswa Bidikmisi angkatan 2014 dan 2015 serta sembilan orang pendamping ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman agar mengetahui sistem pendidikan di Luar Negeri dan sekaligus tradisi keilmuannya.

Kedatangan mahasiswa ini diterima langsung oleh rektor Fatoni University, yaitu Prof. Dr. Ismaillutfi Japakiya, beserta civitas akademika lainnya. Dihadapan mereka, Prof. Ismailluthfi memaparkan makalah yang ditulis dengan Arab Pegon dengan judul 15 Sifat Hayati Jannati.

Baca Juga:
Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

“Antum semua sudah menjadi orang Inggris, sehingga hampir semua menggunakan bahasa Inggris dan melupakan Arab Pegon. Mari, kita budayakan dan kembangkan kembali (Arab pegon, red.) sebagai kekayaan intelektual kita,” pesan Prof. Ismail sebagaimana dilansir di laman resmi Kemenag, Kamis, 16 Maret 2018.

Rektor yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Majlis Kerjasama Antar Agama Thailand ini merasa senang dengan kunjungan mahasiswa Indonesia.

“Saya inginkan ada diantara kalian, 3-4 orang, yang dapat melanjutkan studi program Magister di kampus ini secara cuma-cuma,” pinta Prof. Ismail.

Baca Juga:
Dunia Berharap Kepada NU
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing

Mahasiswa Fatoni University berasal dari 14 negara. Diantaranya yaitu dari Cina, Kamboja, Laos, Myanmar, Papua Nugini, Yordania, Arab Saudi dan juga Indonesia. Sedangkan untuk mahasiswa terbanyak berasal dari China dan Kamboja.

Ada sekitar 4000 mahasiswa di Universitas ini. Semuanya tersebar di empat fakultas yang ada, yaitu Fakultas Pengajian Islam dan Undang-Undang (PAI), Fakultas Sastra dan Sains Kemasyarakatan, Fakultas Sains dan Teknoligi dan Fakultas Pendidikan.

Baca Juga:
Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang
Profesor Jepang Teliti Islam Nusantara
Ketua Jurusan (Kajur) Bahasa dan Sastra Melayu dan Indonesia, Fakultas Sastra dan Sains Kemasyarakatan di Universitas ini, Ku Ari, mengatakan bahwa sudah dua tahun terakhir ini pihaknya membuka konsentrasi Bahasa Indonesia. Bahkan, salah satu dosennya juga berasal dari Indonesia, yaitu dari Bantul, Jogjakarta.

Sedangkan Kepala Seksi Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ruchman Basori, mengatakan bahwa telah banyak juga putera-puteri Pattani yang mengambil studi melalui beasiswa di sejumlah PTKIN di Indonesia.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

Mengenal ISNU


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) merupakan organisasi Badan Otonom (banom) termuda yang berada di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebetulnya, fungsi dan keanggotaan ISNU sudah ada sejak lama. Tapi, ISNU baru berhasil dibentuk dan dilembagakan di tahun 2012 setelah "disahkan" dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar pada tahun 2010 silam.

Baca Juga: Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 PBNU

Tahun ini, ISNU memasuki usianya yang keenam. Usia yang terbilang muda bagi sebuah organisasi, tentu banyak tantangan–sekaligus peluang--yang dihadapi oleh ISNU. Baik yang bersifat internal ataupun eksternal. Seperti urusan keorganisasian, kepengurusan, keanggotaan, hingga bagaimana ISNU bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat umumnya dan warga Nahdliyin pada khususnya.

Tidak bisa dipungkiri, ISNU telah memberikan "warna" tersendiri di lingkungan NU. Anggotanya terdiri dari para intelektual, cendekiawan, profesional dan sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Dengan komposisi anggota yang memiliki kualitas tinggi (high quality), ISNU diharapkan menjadi motor penggerak kesejahteraan umat.

Baca Juga: Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Untuk mengetahui lebih jauh kiprah, arah tujuan dan peran ISNU dalam mewujudkan kesejahteraan umat, inilah kutipan hasil wawancara Jurnalis NU Online, A. Muchlishon Rochmat, dengan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Ali Masykur Musa, pada Kamis, 15 Maret 2018, di Jakarta, yang dimuat di laman NU Online dengan judul Mendedah Kiprah ISNU.

Berikut kutipannya:

Di usianya yang masih sangat muda ini, apa saja yang dilakukan ISNU?

Di usianya yang masih enam tahun, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, konsolidasi struktural. Saat ini, ISNU sudah terbentuk di 34 propinsi. Sementara pengurus cabang ISNU, sudah terbentuk 60 persen dari seluruh kota dan kabupaten yang ada.

Kedua, konsolidasi networking. Tidak mungkin sebuah organisasi mampu menyelesaikan urusannya sendiri. Oleh karenanya, ia harus memiliki networking capacity. Dibeberapa kepengurusan ISNU, baik tingkat pusat ataupun daerah, enam diantara pengurusnya adalah pejabat eselon satu. Direksi BUMN juga ada yang menjadi pengurus ISNU. Ini bagian dari networking capacity.

Ketiga, konsolidasi program. Diantaranya adalah membuat branding terkait dengan apa saja yang mendiferensiasi ISNU dengan Banom yang lain. Oleh karenanya, kita bergerak pada empat hal saja.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Butuh Pembina Agama

Apa saja itu?

Pertama, meningkatkan capacity building dibidang sumber daya manusia. Adapun program-programnya adalah pelatihan kewirausahaan, manajerial leadership dan lainnya.

Kedua, konsolidasi program dibidang intelektualitas. ISNU adalah organisasi yang base-nya adalah intelektuality. Sehingga, intelektualitas harus bisa menjadi bagian dari branding. Diantara programnya adalah menghubungkan mereka yang ingin mendapatkan beasiswa ke S2 dan S3.

Ketiga, advokasi Undang-Undang. ISNU juga concern melakukan advokasi perundang-undangan yang ada, seperti UU Minerba, Wakaf dan lainnya.

Keempat, bidang ekonomi. Sebuah organisasi harus memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan diluar.

Baca Juga: Islam Bhineka Tunggal Ika

Apa saja program-program pemberdayaan ekonomi yang sudah dikembangkan ISNU?

Misalnya rintisan-rintisan dibidang micro finance, memperkuat jaringan, mengkonekkan para petani, mencarikan petani benih-benih yang berkualitas dan mencarikan modal dengan bunga rendah.

Ada ribuan Nahdliyin yang menempuh S2 dan S3 diluar negeri sana. Biasanya, mereka–yang kuliah di Barat--enggan kembali dan berkiprah di NU karena alasan "tidak dibutuhkan" dan "tidak ada tempat" bagi mereka. Bagaimana ISNU merangkul mereka?

Para sarjana NU, baik yang menempuh jenjang S1, S2 ataupun S3, yang secara struktural tidak masuk di NU, mereka bisa menjadi member di ISNU. ISNU juga harus memiliki program-program yang bisa merangkul mereka. Karena tidak sedikit dosen di sebuah kampus yang tidak terserap menjadi pengurus NU.

Saat ini, ada 362 Guru Besar dari berbagai disiplin ilmu yang masuk di kepengurusan ISNU dari tingkat pusat hingga daerah. Meskipun, mereka juga terdaftar di Banom yang lain. Selain itu, ada 2.900-an Doktor yang masuk di ISNU. Yang S2 dan S1, lebih banyak lagi.

Baca Juga: NU Care Lazisnu Peduli Maibo

Dulu, Gus Dur mengkritik pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) karena dianggapnya sektarian. Saat ini ada ISNU, pasti ada yang nyerang balik dan menganggap kalau ISNU lebih sektarian daripada ICMI. Tanggapan Anda?

Masyarakat Islam di Indonesia sangat majemuk. Juga memiliki latar belakang ke-Islaman yang berbeda.

Pertama, seiring dengan berkembangnya zaman, maka sudah saatnya NU harus memiliki organisasi cendekiawan sendiri, dalam hal ini ISNU. Jika ICMI menyerap cendekiawan yang bukan NU, ya, silahkan karena memiliki kapasitas dan keunggulan masing-masing.

Kedua, mendirikan organisasi ke-intelektualitas-an adalah sesuatu yang sah-sah saja. Di Katolik, ada ISKA. Di Kristen, ada PIKI, FCHI. Maka dari itu, di NU dibentuk organisasi cendekiawan untuk menampung para sarjana NU.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Pemerintah akan mengizinkan beberapa kampus asing untuk beroperasi di Indonesia. Tanggapan Anda seperti apa?

Sebagai bagian dari masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia tidak boleh menutup diri. Itu tantangan. Tapi, harus diukur momen yang tepat untuk liberalisasi pendidikan di Indonesia. Perguruan-Perguruan Tinggi asing yang hendak membuka cabang di Indonesia harus menunggu waktu. Jangan sekarang.

Perguruan Tinggi Indonesia, umumnya kampus negeri dan juga swasta seperti kampus NU, itu harus memiliki kualitas yang baik terlebih dahulu. Jika Perguruan Tinggi Indonesia baik, maka mahasiswa Indonesia akan membayar jauh lebih murah untuk mendapatkan sebuah ilmu yang sama, yang juga diajarkan di kampus asing itu, misalnya. Dia akan lebih memilih Perguruan Tinggi Indonesia yang akreditasinya sudah baik, minimal B.

Baca Juga: Jamaah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Jadi, kalau saat ini kampus asing diizinkan beroperasi di Indonesia kurang tepat?

Saat ini, tidak tepat mengizinkan kampus asing ada di Indonesia. Karena akan terjadi perang pasar dibidang pendidikan. Mereka memiliki kekuatan dan modal yang kuat dan besar. Ini pasti akan menggerus Perguruan-Perguruan Tinggi Indonesia. Apalagi Perguruan Tinggi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Tapi pada saatnya, mengapa tidak?

Pemerintah akan membangun Universitas Islam International Indonesia (UIII). Padahal, sudah ada banyak Universitas Islam Negeri yang kualitasnya juga sudah baik. Bagaimana respons Anda?

Kita harus melihatnya dari tiga perspektif. Pertama, perspektif kompetisi. Jika dilihat dari perspektif kompetisi Perguruan Tinggi antar negara, maka pendirian UIII ada signifikansinya. Sehingga, Indonesia memiliki Perguruan Tinggi tingkat Internasional dibidang ilmu-ilmu ke-Islaman. Malaysia juga punya Universitas Islam Internasional Malaysia.

Baca Juga: PCNU Kab. Paniai, Papua, Peringati Harlah NU Ke-92

Core science antara satu negara dengan yang lainnya, pasti bisa. Misalnya, tentang Islam yang rahmatan lil-'alamin atau ramah. Mereka pasti akan memilih Indonesia karena di Indonesia praktik-praktik ke-Islaman memang seperti itu.

Kedua, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, maka sudah sepatutnya Indonesia memiliki Universitas Islam dengan kualitas Internasional.

Ketiga, UIII harus mengembangkan ilmu-ilmu ke-Islaman agar tidak terjadi duplikasi ilmu antara UIII dengan Perguruan Tinggi Islam lainnya. Jangan mengambil ilmu-ilmu yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi Islam yang lainnya.

UIII harus menjadi sisi lain yang mengisi kekosongan ilmu-ilmu ke-Islaman yang ada di Perguruan Tinggi Islam.

Baca Juga: Lomba Cipta dan Baca Puisi di Papua

Mayoritas Nahdliyin adalah petani. Selain mencarikan benih sebagaimana yang disebutkan diatas, apakah ISNU memiliki program khusus dibidang pertanian?

Jumlah angkatan dan penyerapan kerja dibidang pertanian di Indonesia mencapai 40 persen. Oleh karena itu, sektor pertanian harus menjadi perhatian khusus NU. Karena mayoritas Nahdliyin adalah petani.

Mendorong anak-anak NU untuk kuliah di fakultas pertanian adalah salah satu pilihan. ISNU dan Banom lainnya yang memiliki konsen bidang pertanian harus memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas petani kita.

Seluruh Banom dan Lembaga di lingkungan NU, harus memikirkan itu. Harokah NU itu ada di petani. Mimpi kami, pada saatnya nanti, Menteri Pertanian itu harus dari orang NU. Karena, itu langsung menyangkut hajat hidup orang NU. []
Read More

Menteri Agama Tekankan Pentingnya Moderasi Islam


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dalam Rakornas Pendidikan Islam yang digelar oleh Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama di Ancol, Jakarta, pada hari Rabu, 14 Maret 2018 kemarin, mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk mewaspadai ekstrimisme.

Ekstrimisme merupakan salah satu tantangan besar bagi dunia pendidikan. Termasuk dalam pendidikan Islam. Sebab, selain bisa merobek keberagamaan, ekstrimisme juga bisa mengancam nasionalisme. Oleh karena itu, seluruh sumber daya pendidikan Islam di Kementerian Agama harus terus menggerakkan moderasi Islam dan menguatkan kesadaran beragama dan ber-Indonesia.

Baca Juga: 
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia

Menurut Menag, saat ini ada kelompok tertentu yang ekstrim dalam memahami nilai Islam. Kelompok ini memahami dalil-dalil secara tekstual semata dengan mengabaikan konteks. Dengan cara seperti itu, mereka cenderung tidak menerima penafsiran dan kondisi kontekstual. Sementara itu, dikutub yang lain ada lagi kelompok yang begitu liberal. Mereka cenderung “mendewakan” nalar dan mengabaikan teks.

“Dua kutub ini dibenturkan, sehingga terjadilah konflik atas nama agama di negara ini. Untuk itulah, semua pendidik agama Islam harus menjadi agen penjaga moderasi,” tegas Menag dihadapan 700 peserta yang terdiri dari jajaran Ditjen Pendidikan Islam, pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan Kepala Kankemenag Kab./Kota se-Indonesia itu.

Baca Juga:
Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya
Surat Terbuka Dari Papua Untuk Nahdliyyin di Jawa

Mengingat kondisi keberagaan yang demikian itu, maka Menag berpesan supaya hasil Rakornas kali ini diarahkan dalam kerangka memperkuat moderasi Islam dan kesadaran beragama dan ber-Indonesia.

Selain itu, Menag juga meminta agar ke-Indonesia-an dan keberagamaan tidak dipertentangkan. Paham keagamaan yang menghukumi haram menyanyikan lagu Indonesia Raya, hormat bendera atau Pancasila, harus diwaspadai.

Sebaliknya, sebagai muslim juga harus menolak regulasi yang secara esensial menabrak atau bertolak belakang dengan ajaran agama.[]
(Redaksi RN)


* Sumber: Kemenag.go.id
Read More

KH. Muhammad Nur: Perintis Pondok Pesantren Langitan


rumahnahdliyyin.com - Salah satu Pondok Pesantren tertua di Indonesia, yang hingga hari ini masih bisa kita jumpai dan aktif adalah Pondok Pesantren Langitan, Tuban. Bertempat di samping Bengawan Solo, Pondok Pesantren yang awalnya hanya sebuah surau kecil itu kini luasnya mencapai sekitar tujuh hektar-an dengan jumlah santri lebih dari lima ribu-an.

Muhammad Nur. Itulah nama kiai yang menggelar pengajian di surau kecil itu waktu itu. Selain menggelar pengajian, KH. Muhammad Nur juga melakukan penggemblengan supaya yang belajar kepada beliau juga bisa dan mampu untuk meneruskan perjuangan dalam usaha mengusir penjajahan Belanda (Kompeni) dari bumi Nusantara.

Baca Juga: (Selarik Kisah KH. Hasyim Asy'ari)

Dari segi nasab, KH. Muhammad Nur bukanlah orang sembarangan. Beliau masih termasuk keturunan Mbah Abdurrahman atau Pangeran Sambu, Lasem. Sedangkan orang tuanya sendiri adalah seorang kiai dari Desa Tuyuhan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Awalnya, orang-orang yang belajar kepada KH. Muhammad Nur di surau kecil itu hanyalah tetangga-tetangga dekat rumahnya saja dan para sanak keluarganya sendiri. Namun, berkat keikhlasan, keistiqomahan, ketekunan dan komitmen beliau dalam membimbing umat, akhirnya orang-orang dari luar daerah pun terpikat untuk berguru juga kepada beliau.

Karena itu, pada tahun 1852, bangunan surau kecil itu tak lagi dikenal sebagai surau. Melainkan sebagai Pondok Pesantren Langitan.

Baca Juga: (Ijazah Do'a Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari)

Orang-orang yang berguru kepada KH. Muhammad Nur berasal dari berbagai daerah. Baik dari Jawa sendiri, maupun dari luar Jawa. Dan beberapa dari mereka, ternyata dikemudian hari menjadi kiai dan ulama besar.

Diantara mereka adalah yang sekarang kita kenal dengan KH. Kholil bin Abdul Lathif atau yang lebih akrab dengan sebutan Syaikhona Kholil Bangkalan. Ada lagi yaitu KH. Hasyim Asy'ari atau yang sekarang digelari dengan Hadlrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari.

Selama tiga tahun, KH. Hasyim Asy'ari belajar dibawah asuhan KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan ini. Beliau juga sempat menangi dan berteman dengan KH. Kholil Bangkalan selama enam bulan di Pondok Pesantren Langitan ini.

Selain dua kiai kondang diatas, para orang tua tokoh-tokoh NU juga berguru kepada KH. Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan yang awalnya surau itu. Seperti halnya KH. Syamsul Arifin (ayah KH. As’ad Syamsul Arifin), KH. Shiddiq (ayah KH. Ahmad Shidiq) dan KH. Wahab Chasbullah (ayah KH. Abdul Wahab Chasbullah).

Baca Juga: (Syaikhona Kholil Bangkalan)

KH. Muhammad Nur sendiri, mengasuh Pondok Pesantren Langitan ini selama kurang lebih 18 tahun. Yaitu antara tahun 1852 hingga 1870 M. Cita-cita luhur dan semangat beliau dalam membidani berdirinya Pondok Pesantren Langitan ini sungguh sangat dirasakan manfa'atnya masyarakat luas hingga hari ini.

Setelah KH. Muhammad Nur wafat, yaitu pada hari Senin, 30 Jumadil Ula tahun 1297 H. yang dimakamkan di komplek Pesarehan Sunan Bejagung Lor, Tuban, tampuk pimpinan kepengasuhan Pondok Pesantren Langitan pun dilanjutkan oleh putra beliau, yaitu KH. Ahmad Sholeh.

Akhirnya, untuk para kiai yang namanya disebutkan diatas, terkhusus untuk KH. Muhammad Nur dan masyayikh Pondok Pesantren Langitan lainnya, lahum Al-Fatihah... []


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua.
Read More

Gus Mus: Meski Medsos Bikin Orang Gila, Jangan Ikut Gila


rumahnahdliyyin.com, Malang - KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus, meminta negara supaya tegas dalam menindak mereka yang melanggar hukum. Tidak peduli siapapun, pihak yang melakukan perbuatan melawan hukum, harus ditindak.

Permintaan yang disampaikan oleh kiai yang juga budayawan asli Rembang itu, terkait dengan terungkapnya kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang melakukan aktivitas menyebarkan ujaran kebencian, hoaks serta diskriminasi SARA beberapa waktu yang lalu.

"Negara harus tegas. Harus tegas. Ada pelanggaran, harus ditindak. Siapapun yang melakukannya. Ini kan negara hukum," tegas Gus Mus, selepas acara dialog kebangsaan yang bertema "Merajut Kebersamaan dalam Kebhinekaan" di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Berbagi Tugas Menjaga Indonesia
Tak Bisa Zuhud, Kita Hidup Sederhana

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu, juga menambahkan bahwa sekali pelanggaran hukum tidak ditindak tegas, proses hukum akan tidak dihargai lagi.

"Semua yang melanggar hukum, harus ditindak. Jangan dikasih tolerir. Kalau melanggar hukum ditolerir, akhirnya kasus hukum tidak dihargai," tekannya.

Peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2017 itu enggan menduga-duga siapa dalang yang berada dibalik kelompok penyebar hoaks tersebut.

"Nah, silakan menebak-nebak. Ini kan negara teka-teki," katanya sembari tertawa.

Baca Juga:
Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya
Toilet Sebagai Jalan Keluar

Namun, ia meminta semua pihak agar tidak kehilangan akal sehatnya ditengah merebaknya kabar hoaks di media sosial akhir-akhir ini.

"Umat jangan sampai kehilangan akal sehat paringane (pemberiannya) Gusti Allah. Meskipun media sosial itu membikin orang gila, jangan ikut gila," tuturnya.

Ia pun meminta supaya kebhinekaan yang sudah berlangsung di Indonesia selama ini supaya tetap dijaga.

"Ya, harus menyadari lah, kalau Indonesia rumah kita semua. Harus kita jaga bersama-sama," pintanya.[]




(Redaksi RN)


* Sumber: kompas.com
Read More

Pesantren An-Nawawi Tanara Bangkitkan Ekonomi Ummat Dari Pesantren


rumahnahdliyyin.com, Serang - Beragam riak dan gejolak kebangsaan yang terjadi di negeri ini, bermuara pada problem ekonomi umat. Karena itu, Pendiri Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), KH. Ma’ruf Amin, menginisiasi Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) yang akan dilaunching bersama sejumlah Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Umat (LPEU) oleh Presiden RI Joko Widodo, di Penata, Rabu, 14 Maret 2018, besok.

KMSN dan LPEU yang digerakkan oleh puluhan pesantren tersebut, telah bergerak disejumlah sektor bisnis dan usaha.

“Gerakan ini tidak "ujug-ujug" (tiba-tiba) ada. Ini sudah digelorakan kiai Ma’ruf sejak lama. Secara konseptual dan kodifikasi hukum, kiai memulainya sejak tahun 90-an. Saat itu, beliau mendorong lahirnya perbankan dan lembaga keuangan Syari'ah. Kemudian, sejak didaulat menjadi Rais 'Aam PBNU, beliau menggelar "halaqoh" keliling daerah se-Indonesia. Para kiai Syuriyyah NU dari tingkat Wilayah, Cabang hingga Ranting NU diajak berdialog untuk memetakan persoalan keummatan, sekaligus mendorong para kiai untuk bangkit menata kembali perekonomian umat dari berbagai sektor,” papar Ketua Panitia Grand Launching Pemberdayaan Ekonomi Umat, Uday Abdurrahman, di Penata, Serang, Selasa, 13 Maret 2018.

Baca Juga:
Kaleng Penguat Ekonomi Umat
Ansor Rembang Luncurkan Angkringan di Tiap Kecamatan

Upaya pemberdayaan ekonomi umat tersebut, kata uday, tak bisa dilakukan sendirian atau hanya sekelompok tokoh. Karena itu, Kiai Ma’ruf mendorong pemerintah, tokoh agama dan para pengusaha untuk bersinergi mengintegrasikan komitmen dalam pemberdayaan ekonomi umat.

“Kiai menyebutnya sebagai Arus Baru Ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Gerakan Kiai Ma’ruf Amin, yang kini menjabat sebagai Rais 'Aam PBNU dan sekaligus juga Ketua Umum MUI itu, menurut Uday, bukan tanpa rintangan. Banyak pihak yang awalnya skeptis. Bahkan mencibir.

“Tapi, beliau selalu bilang, yang penting kita bergerak saja. Nanti kalau sudah terlihat hasilnya, yang lain pun akan ikut bergerak. Sebab, di pesantren, kita diajarkan bahwa "alharakah, barakah". Pergerakan akan berbuah berkah,” imbuhnya.

Baca Juga:
Program Pemerintah 1.5 Triliun Tidak Jalan, Gerakan Koin NU Harus Digalakkan

Saat ini, meski belum genap setahun dibentuk, KMSN dan LPEU yang baru beranggotakan 25 pesantren di seluruh Indonesia itu telah bergerak di sejumlah sektor bisnis, yakni sektor jasa keuangan, ritel, budidaya pertanian, perikanan dan peternakan, serta sektor jasa.

“Jadi, pesantren anggota KMSN ini akan jadi percontohan gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Kita sudah bekerjasama dengan Leumart di sektor ritel, REI di sektor properti, C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu dan Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) untuk produk pertanian dan olahan jagung. Dengan REI kita akan membuat desa wisata dan rest area di Malang. Martha Thilaar juga kemarin mengajak kerjasama untuk pengembangan spa dan hotel Syari'ah,” paparnya.

Ketua Umum KMSN, Sholahuddin, menambahkan bahwa untuk olahan jagung yang dikembangkan di tiga pesantren di Lamongan, produksinya kini telah menembus pasar Malaysia dan di negara-negara Timur Tengah.

Baca Juga:
Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Sholah berharap, ke depan, KMSN tak hanya melibatkan 25 pesantren di Indonesia yang kini sudah bergerak, tapi juga bisa mengajak ribuan pesantren, pengelola masjid, majelis ta’lim, kampus, hingga organisasi kemasyarakatan di tingkat desa. Pesantren yang memiliki lahan agak luas diajak mengembangkan produk pertanian sehat, perkebunan,  peternakan dan perikanan akan didorong untuk mengembangkan produknya.

“Saat ini, yang sudah berjalan budidaya jagung di pesantren Nurul Huda, Kuningan, di Serang, Lamongan 3 pesantren, di Bangka Belitung dan Kalimantan Timur dengan KTNA Kaltim. Kita juga kerjasama dengan C-Farming IPB untuk pengembangan udang windu di kepulauan seribu,” paparnya.

Pasca Grand Launching di Penata, pihaknya juga merencanakan untuk membuka outlet atau ritel Leumart di 50 Pesantren di Jawa Timur.

“Ke depan, kita kembangkan Leumart ini di tiap kota 50 outlet atau ritel, bekerja sama dengan pesantren, masjid, kampus, ormas atau majelis ta’lim. Pengembangan pupuk hayati, yang memproduksi banyak pupuk untuk produk pertanian sehat, ada green kopi, olahan jagung dari eskrim, kerupuk, puding, dll. Di Lamongan sudah jalan, bahkan sudah eksport ke malaysia dan Timur Tengah. Ke depan, kita bisa bermitra dengan UMKM, kelompok tani, bahkan personal,” paparnya. []
(Malik)
Read More

Paham Takfiri Adalah Senjata Pembunuh Masal


rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, pada Selasa, 11 Maret 2018 ini, Syaikh Syarif Adnan As-Sawwaf, rektor Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria), mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta yang hadir. Pertanyaan tersebut yaitu mengenai terjadinya pembunuhan terhadap ulama Suriah. Termasuk ulama Internasional yang kharismatik, yaitu Syaikh Ramadhan Al-Buthy.

“Benar, ia dibunuh bersama 40 santrinya di dalam sebuah masjid ketika sedang mengajarkan kitab tafsir Al-Qur’an,” kenang Syaikh As-Sawwaf.

Selain dibunuh, kitab-kitab Syaikh Ramadhan Al-Buthy juga dibakar. Sebab, Syaikh Al-Buthy dipandang telah murtad dan kafir.

“Inilah tindakan takfir (mengafirkan orang) yang dilakukan oleh sesama muslim yang kemudian merenggut satu per satu ulama. Dan pelakunya, tanpa merasa berdosa sedikitpun,” sesal Syaikh As-Sawwaf.

Baca Juga:
Hentikan Pengajaran Islam Dangkal
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah

Pada awal-awal kerusuhan tahun 2013, cerita Syaikh As-Sawwaf, bom berjatuhan hampir setiap jam. Sudah hampir satu juta orang yang meninggal dunia. Dan semua orang asing keluar Suriah. Termasuk para pelajar dari berbagai negara. Kecuali pelajar Indonesia.

“Kami hanya keluar, jika Syaikh keluar,” kata para pelajar Indonesia untuk meyakinkan kesetiaan mereka kepada rektor sekaligus guru mereka itu.

Pelajar Indonesia memang menolak untuk kembali ke Indonesia waktu itu. Meskipun telah disediakan angkutan pulang secara gratis.

Nahnu abnausy-Syam" (kami adalah anak kandung Suriah)", kata mereka.

Wa nahnu abnau Indonesia" (kami juga anak kandung Indonesia),” kata Syaikh As-Sawwaf sambil mengepalkan tangan. Dan gemuruhlah ruangan Seminar itu dengan tepuk tangan hadirin. Termasuk para mahasiswa yang harus duduk di lantai karena kehabisan kursi.

Baca Juga:
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing
Sembilan Rekomendasi Silatnas Ke-VI Alsyami

“Percayalah, percayalah. Orang-orang jahat telah bersekutu menghancurkan negara kami. Tapi Allah telah mengatur dengan caranya sendiri untuk menyelamatkan kami,” katanya sambil mengutip salah satu ayat dalam surat Ali Imron.

"Percayalah, do'a Nabi pasti dikabulkan Allah. Inilah do'a yang pernah beliau panjatkan, Allâhumma bârik lanâ fî Syâminâ (wahai Allah, berkahilah kami melalui negeri Suriah ini)," lanjut Syaikh As-Sawwaf.

Baca Juga:
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Ketika ditanya oleh salah seorang peserta lagi mengenai apa yang bisa dibantu untuk Suriah, Syaikh As-Sawwaf meminta do'a.

“Do'a, do'a dan do'a. Do'akan kami. Karena do'a itulah yang melahirkan keajaiban,” tandasnya.

Jika ada dana, lanjut Syaikh As-Sawwaf lagi, maka supaya disalurkan melalui lembaga yang resmi dan terpercaya. Sebab, jangan sampai dana yang dikirim itu salah penyalurannya yang justru bisa memperparah keadaan bagaikan menyiram bensin pada api yang sudah berkobar.

Baca Juga:
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Negara Islam
Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Menurut Syaikh As-Shawwaf, Suriah adalah negara multikultural. Ada penganut Madzhab Syafi'i, Maliki, Hanbali dan Hanafi. Juga ada Syi'ah dan Kristen.

“Tapi, sejak lama kami bersatu, bahkan anak-anak orang Syi'ah diberi nama Abu Bakar, Aisyah, Umar dan sebagainya. Anak-anak orang Sunni juga diberi nama Ali, Haidar dan sebagainya yang berbau Syi'ah,” jelasnya.

“Nah, sejak takfir menjadi senjata murah itulah, gelombang pembunuhan secara masif terjadi,” sesalnya.

Dalam pandangan Syarif Adnan Al Shawaf, Suriah memiliki sejumlah kesamaan dengan Indonesia, yaitu sama-sama Sunni bermadzhab Syafi’i dan beraqidah Al-Asy’ari. []
(Redaksi RN)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Hentikan Pengajaran Islam Dangkal


rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya, pada Selasa, 11 Maret 2018 ini, Syaikh Syarif Adnan As-Sawwaf menyingkapkan hikmah dibalik mengapa Nabi SAW. menganjurkan orang untuk melakukan tiga jenis investasi kebaikan, yang diharapkan bisa mengalirkan pahala bagi pelakunya setelah meninggal dunia nanti.

Tiga jenis investasi kebaikan tersebut, sebagaimana kita ketahui bersama, adalah bersedekah, ilmu yang bermanfa'at dan anak sholih yang mendo'akan orang tuanya.

“Tidak lain adalah untuk kemajuan peradaban, yakni kepedulian sosial, transfer ilmu pengetahuan dan generasi berakhlaq mulia,” jelas rektor Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria) itu.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Walisongo dan Da'wah Metode Kambing

Menurut Syaikh As-Sawwaf, Islam sejati adalah kasih sayang. Bukan kekerasan dan saling menghunus pedang.

“Wajah Islam adalah basmalah yang berisi ajaran kasih itu. Bukan wajah bengis dan haus darah," tandasnya.

Tapi sayang, pikiran masyarakat dunia sudah terlanjut terpateri dengan pandangan negatif tentang wajah Islam yang bengis dan haus darah.

“Dan, itulah hasil yang dilakukan sejumlah orang jahat yang menguasai media-media besar dunia," urainya.

Baca Juga:
Sembilan Rekomemdasi Silatnas Ke-VI Alsyami
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam

Pada sesi kedua, Syaikh As-Sawwaf melanjutkan uraiannya tentang wajah Islam yang terlanjur negatif di mata dunia.

"Ada juga orang-orang bayaran yang diajari bertakbir sambil menyembelih manusia dengan tangan mengibarkan bendera bertuliskan kalimat tauhid,” jelasnya kemudian.

Syaikh As-Sawwaf juga meminta agar pengajaran Islam yang dangkal jangan dilanjutkan.

“Cukup, cukup. Jangan teruskan pengajaran Islam yang tidak "kaffah" (komprehensif), sehingga menghasilkan muslim pengejar kesuksesan akhirat, dengan kemiskinan serta keterbelakangan dunia,” pintanya. []
(Redaksi RN)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Walisongo dan Da'wah Metode Kambing


rumahnahdliyyin.com, Surabaya - Hari ini, Selasa, 13 Maret 2018, Syaikh Syarif Adnan As-Shawwaf berkesempatan hadir di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya sebagai pembicara dalam Seminar Internasional. Dalam kesempatan ini, Syaikh As-Sawwaf sangat terkesan dengan da'wah bil-hikmah yang telah dilakukan oleh Wali Songo pada abad ke-15 silam.

“Senang sekali mendengarkan nasyid yang berisi pesan-pesan sembilan ulama (Walisongo) yang berda'wah dengan hikmah bijaksana,” ungkapnya ketika memulai pidatonya setelah sebelumnya menyimak angklung religi yang dibawakan oleh para mahasiswa kampus ini.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Sembilan Rekomendasi Silatnas Ke-VI Alsyami

Kiprah da'wah Walisongo, lanjut Syaikh As-Sawwaf, mengingatkannya pada kisah da'wah seorang ulama yang berada ditengah masyarakat penggembala kambing di sebuah pedalaman Arab. Dengan "metode kambing", ulama tersebut mengajari tujuh ayat dari surat Al-Fatihah. Awalnya, para penggembala kambing diminta untuk membawa tujuh kambing yang mana masing-masing kambing tersebut nantinya diberi nama dengan setiap ayat dari surat Al-Fatihah oleh ulama tersebut.

Esok harinya, mereka dites, “Kambing apakah ini?“

“Ini kambing alhamduliLlâhi rabbil-'âlamîn,” jawab mereka serentak.

Baca Juga:
Indonesia Penyelamat Wajah Dunia Islam
Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

"Nah, pada hari berikutnya, mereka hanya menghafal enam ayat karena kambing yang bernama mâliki yaumiddîn dimakan srigala,” kisahnya sambil sedikit menahan senyum dan disambut tawa oleh para dosen dan mahasiswa yang saat itu memadati ruangan terindah dan tercanggih yang berada di lantai tiga gedung Twin Towers yang dibangun oleh Islamic Develompemnt Bank empat tahun silam itu.

“Itulah da'wah bil-hikmah. Da'wah perangsang peradaban,” simpul Syaikh Syarif Adnan As-Shawwaf yang menjabat sebagai rektor di Universitas Kaftaru Damaskus Suriah (Syiria) ini. []
(Redaksi RN)


* Sumber: nu.or.id
Read More

Yenny Wahid Bicara Tentang Perempuan Kampung di Forum PBB


rumahnahdliyyin.com, New York - Pelibatan perempuan ditingkat desa menjadi salah satu fokus PBB dalam upaya global menanggulangi bahaya radikalisme dan terorisme.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Wahid Foundation, Yeni Wahid, dalam pertemuan tingkat tinggi yang diselenggarakan oleh UN Women yang bekerjasama dengan United Nations Office of Counter Terrorism (UNOCT) Badan PBB yang bertugas menangkal terorisme di Markas PBB, New York, Amerika Serikat.

Baca Juga:
Dapat Yap Thiam Hien Award, Gus Mus: Saya Tidak Mengerti HAM
Memperkokoh Islam Kebangsaan, Memperkuat Ekonomi Umat

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh pimpinan tinggi beberapa lembaga PBB tersebut, Yenny menjelaskan dampak dari programnya yang banyak menyasar masyarakat ditingkat akar rumput.

“Mereka tertarik dengan program "Kampung Damai" yang kami inisiasi di berbagai desa di pulau Jawa,” jelas Yenny dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Menurut Yenny, dengan penguatan masyarakat desa, terutama perempuan, maka dampaknya bisa langsung terasa secara masif. Berdasarkan data yang ada, terlihat hubungan langsung antara perempuan yang berdaya dan tingkat radikalisme.

“Makin berdaya seorang perempuan, makin kecil kemungkinan ia terpapar aksi radikalisme,” tutur putri mantan Presiden KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) itu.

Baca Juga:
Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina
Fenomena Hibridasi Identitas Kaum Muda Muslim

“Melalui program "Desa Damai", kami memberikan pelatihan dan penguatan ekonomi untuk para ibu ditingkat akar rumput, ditambah dengan pelatihan tentang upaya perdamaian yang bisa mereka praktekkan di komunitasnya masing-masing,” tuturnya lagi.

Yenny merasa senang karena telah diundang dalam forum ini. Sebab, dengan demikian, Indonesia bisa menyuarakan usahanya dalam pencegahan dan pemberantasan terorisme.

“Saya senang bahwa kami mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan program ini karena ini berarti promosi untuk Indonesia,” imbuhnya.

Baca Juga:
Jubir HTI Bungkam
Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Dalam forum yang dimoderatori oleh Dubes tetap Uni Emirat Arab untuk PBB, Lana Zaki Nusseibeh, Yenny diminta untuk memberikan pendapatnya atas rencana UN untuk membuat sebuah Rencana Aksi Penanggulangan Terorisme yang melibatkan lebih banyak peran perempuan dan anak muda didunia. Utamanya, dalam area pencegahan tindak pidana berbasis kekerasan.

“Pelibatan perempuan dalam upaya pencegahan radikalisme, mutlak dilakukan mengingat perempuan adalah salah satu korban utama ketika terjadi kekerasan dimasyarakat,” pungkas Yenny.

Baca Juga:
Ciri Teroris di Medsos
Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Selain menghadiri pertemuan tingkat itu, Yenny sekaligus juga hadir di Forum CSW (Comission on the Status of Women) di PBB, sebuah acara tahunan yang menghadirkan delegasi dari berbagai negara di dunia.

“Tahun ini memang fokusnya adalah penguatan perempuan ditingkat akar rumput, seperti yang dijelaskan Sekjen PBB, Antonio Guteres dalam pidato beliau,” jelas Yenny.

Selain Yenny, perempuan dari berbagai daerah rural di seluruh dunia juga dihadirkan dalam forum tersebut.

“Beberapa perempuan dari berbagai daerah rural di dunia dihadirkan dan didengar ceritanya oleh seluruh delegasi dunia yang hadir,” terang Yenny.

Baca Juga:
Sembilan Rekomemdasi Silatnas Ke-VI Alsyami
Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 PBNU

Selain menghadiri acara CSW, Yenny juga akan bicara dalam dua side event yang diselenggarakan pemerintah Jepang dan pemerintah Indonesia.

“Dunia memperhatikan upaya Indonesia dalam menangkal radikalisme. Mari, kita bekerja lebih keras lagi sehingga Indonesia menjadi contoh bagi banyak negara,” tandas Yenny. []




(Redaksi RN)
Read More