Ngaji Teknologi LTN-Lakpesdam Akan Gelar Olimpiade Teknologi Terapan


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN)  PBNU bersama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU menginisiasi gelaran Olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan bagi kader Nahdlatul Ulama. Wacana itu disampaikan dalam acara Ngaji Teknologi yang digelar di Perpustakaan PBNU, Jl. Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu, 28 Maret 2018. 

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan perkembangan yang cukup besar dalam bidang ekonomi. Pasar teknologi di Indonesia juga cukup pesat perkembangannya. Kader NU yang bergerak dibisnis startup juga tak sedikit. Banyak potensi yang perlu didorong agar lebih berkembang. Agar bisa setara dengan unicorp asing semacam Ali Baba dan sebagainya, “ papar Ketua LTN PBNU, Hari Usmayadi.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ia mencontohkan sejumlah sektor yang saat ini sedang digarap. Diantaranya yaitu sektor industri pariwisata, khususnya wisata religius, pelatihan, kursus dan pendidikan berbasis teknologi komunikasi, hingga industri kreatif yang perlu diarahkan untuk masuk ke ranah bisnis online.

Senada dengan Cak Usma, demikian Ketua LTN PBNU itu akrab disapa, hal ini juga disampaikan oleh Praktisi Teknologi ITS, Elwin Andirianto. Menurut Elwin, agar NU tetap relevan, harus menyiapkan kader tangguh dibidang teknologi.

“Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya mengadakan olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan. Kalau yang menggerakkan NU, saya yakin dampaknya berbeda. Akan terasa bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Elwin.

Baca Juga: Di Papua Barat, LTN PBNU Sosialisasikan Pentingnya Media

Usulan tersebut disambut para pengurus Lembaga NU yang hadir. Yakni Ketua LTN PBNU, Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Daniel Zuchron, dan Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Mahbub Ma'afi.

Menurut Daniel, Olimpiade Matematika dan Teknologi Terapan perlu digelar dengan menggandeng berbagai Lembaga di PBNU.

“Ngaji Teknologi ini merupakan pijakan awal untuk gelaran olimpiade Teknologi Terapan. Setiap bulan, semua Lembaga PBNU dan berbagai stakeholder di Indonesia akan kita undang untuk membahas isu terkini berkaitan dengan kelembagaan NU. Sekaligus mematangkan rencana olimpiade tersebut. Ini perlu, agar semua lembaga di NU berjalan sinergis dalam pengabdian terhadap umat,” tandasnya.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

“Ini selaras dengan semangat yang digelorakan oleh Rais 'Aam kita bahwa hal yang paling penting untuk dilakukan NU adalah terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan. Sebab, permasalahan manusia terus berkembang. Rais 'Aam juga sering menyatakan perlunya sinergi antar Lembaga dan Banom NU. Agar saling mendukung dan tak bergerak sendiri-sendiri. Apalagi bergerak secara personal” ungkap Mahbub Ma'afi yang mengamini rencana tersebut.[]




(Redaksi RN)
Read More

Cegah Radikalisme, Polres Pekalongan Gelar Pengajian Rutin


rumahnahdliyyin.com, Pekalongan - Polres Pekalongan Kota, dalam mencegah radikalisme pada generasi muda, mengadakan pengajian untuk anak-anak setiap malamnya. Pengajian ini dibina langsung oleh anggota Sabhara Bripda Lukman mulai pukul 18.30 WIB. di Masjid Nur Hidayah, Polres Pekalongan Kota, Jl. Diponegoro, Pekalongan, Jawa Tengah.

Pengajian yang diikuti oleh 25 orang anak dari umur 8 hingga 12 tahun ini, diinisiatifi oleh Bripda Lukman.

"Awal-muasal saya 8 bulan lalu, waktu saya masih status bintara remaja. Saat saya bermain bola voli, ada anak-anak yang main di samping masjid. Saya tanya mereka, sholat nggak? ngaji nggak? kata mereka, ngaji, tapi jarang. Kebetulan saat itu masjid ini sepi dan jarang yang ke sini. Mulai dari situ, saya ajak anak-anak ngaji di sini," tutur Lukman sebagaimana dilansir oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Lukman mengatakan, ia tidak hanya mengajar ngaji saja. Melainkan juga mengajarkan bagaimana caranya sholat serta memberikan sedikit ilmu pengetahuan tentang agama.

Jadwal mengaji anak-anak ini setiap hari. Akan tetapi, khusus malam Selasa, Lukman mengajarkan tata cara sholat. Sedangkan khusus malam Jumat, diadakan tahlilan, yaitu mengaji bersama-sama antara anak-anak pengajian dengan para polisi Polsek Pekalongan Kota.

"Alhamdulillah, Polres Pekalongan juga mendukung kalau malam Jumat itu mereka datang dan memberikan snack juga. Jadi anak-anak senang," tutur Lukman.

Baca Juga: Jama'ah Dzikir dan Ta'lim Baitul Akkad Benteng Aswaja di Asmat

Sementara itu, untuk mencegah masuknya paham radikalisme di sekitar Pekalongan, Lukman mengatakan selalu memberi pemahaman kepada anak-anak mengenai persatuan Indonesia yang memiliki suku dan budaya yang beraneka ragam.

"Jadi, disini nggak cuma dari NU, ada juga dari Muhammadiyah. Di Pekalongan kalau ada yang ngajak demo tentang paham radikalisme, saya ajarkan mereka untuk tidak ikut. Saya juga ajarkan arti ngaji dimana mereka jangan melakukan kegiatan yang tidak penting. Setiap hari saya berikan motivasi kepada adik-adik yang menurut saya itu tidak pantas dilakukan. Dari situ saya ajarkan," jelas dia.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Diketahui, Bripda Lukman juga salah satu lulusan dengan nomor registrasi pokok termuda di Sekolah Polisi Negara. Lukman juga pernah masuk nominasi Police Award dengan kategori kerohanian.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

IPNU-IPPNU Klaten Deklarasikan Anti Money Politik


rumahnahdliyyin.com, Klaten - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC. IPNU-IPPNU) Klaten bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Klaten mengadakan Pendidikan Demokrasi Pelajar dan Sosialisasi Pemilih Pemula pada Minggu kemarin, 25 Maret 2018. Kegiatan yang dilaksanakan di Kantor PCNU Klaten itu dihadiri oleh Pengurus PC. IPNU-IPPNU serta pengurus harian Anak Cabang se-Kabupaten Klaten.

Dalam sambutannya, Ketua PC. IPNU Klaten, rekan Muchtar, mengatakan bahwa IPNU hari ini adalah pemimpin masa depan. Pembekalan tentang ilmu sosial seperti demokrasi adalah barang wajib yang harus dilakukan. Jadi segala aspek, baik religius, akademik maupun sosial, IPNU-IPPNU harus memilikinya untuk menjadi modal sebagai pemimpin dikemudian hari kelak.


Ditambahkan pula oleh rekanita Fitroh Nahdliyah yang selaku Ketua PC. IPPNU Klaten dalam sambutannya bahwa hari ini apatisnya masyarakat, terutama pemuda dan pelajar, terhadap demokrasi Indonesia menjadi keprihatinan bersama. Maka dengan kegiatan ini, diharapkan menjadi awal yang baik bahwa pemuda dan pelajar hadir sebagai penggerak untuk kemajuan bangsa dengan ikhtiar pendidikan semacam ini. 

Acara yang dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB. hingga pukul 11.30 WIB. itu diikuti oleh para peserta dengan antusias. Sebab, banyak para peserta yang pada Pilgub Jawa Tengah pada Juni nanti akan menjadi kali pertamanya bagi mereka untuk memilih Gubernurnya secara langsung.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Selanjutnya, H. Mujiburrohman S.IP, ketua PCNU Klaten, menyampaikan dalam sambutan dan penggarahannya, mengajak para kader muda NU ini untuk terus berupaya merawat ke-Indonesia-an dengan baik. Bersama-sama membentengi generasi muda dari paham intoleran guna mempersiapkan pemimpin harapan di masa depan. Penguatan hubbul-wathon minal-iman dan demokrasi untuk pelajar yang berkaitan dengan kaidah agama, juga dibahas.

Sedangkan Komisaris KPU Klaten, Muhammad Ansori S.Pd.I, menekankan dalam materinya tentang arti pentingnya demokrasi dan kenapa harus memilih dalam kontestasi Pemilihan Gubernur nanti. Selain itu, beliau juga mengajak para peserta untuk menolak money politic atau politik uang dengan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan kelompoknya hingga sampai tingkatan teratas. Beliau menggambarkan bagaimana bahayanya dan langkah apa saja jika melihat hal tersebut.


"Anti Money Politic" yang merupakan jargon KPU Klaten, diakhir acara kemudian langsung disikapi oleh IPNU-IPPNU dengan mendeklarasikan diri bersama KPU bahwa IPNU-IPPNU Klaten menolak money politic, Politisasi SARA dan akan berperan aktif menjaga kondusifitas diajang pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun 2018 ini. Selanjutnya, IPNU-IPPNU Klaten juga mendeklarasikan diri bersama Kepolisian bahwa IPNU-IPPNU Klaten menolak hoax dan akan bersinergi untuk melawan hoax tidak hanya dalam suasana Pilgub ini, namun dalam keseharian. []

(Redaksi RN)
Read More

Sekutu Iblis


rumahnahdliyyin.com - Benar kiranya bila ada yang mengatakan bahwa pioner hoax adalah Iblis. Iblis yang karena angkuhnya tak mau memenuhi perintah Tuhan untuk bersujud kepada Nabi Adam AS., ternyata telah membawanya pada obsesi untuk melakukan hoax. Yaitu dengan membisiki suatu kedustaan pada pasangan pertama manusia itu tentang buah Khuldi.

Tak hanya membisiki, makhluk paling banyak strategi dan siasat dalam menggoda manusia inipun memprovokatori pula. Sebagai akibatnya, diusirlah kedua kakek-nenek moyang kita itu dari surga dan tingggal di bumi ini sebagai khalifahNya serta beranak pinak hingga era penuh hoax ini.

Baca Juga:
Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks
Jangan Gunakan Nama Muslim Untuk Sebar Hoax

Hoax, sejatinya bukanlah tujuan dari para pelakunya. Sebagaimana bila kita pernah menyimak kisah Iblis, hoax yang dilakukannya tidaklah lebih dari ekspresi penyaluran sakit hatinya. Lantaran membangkang perintah Dzat Yang Maha Segalanya, ia pun diusir lebih dulu dari surga. Sakit hati inilah yang mendorong Iblis untuk melakukan hoax yang ternyata sudah ditiru dan didaur ulang oleh para manusia.

Celakanya, para manusia yang telah meniru dan meneladani Iblis dalam berhoax ria itu tidak menggunakannya untuk melawan balik terhadap Iblis. Seolah bersekutu dengan para Iblis, para manusia pelaku hoax itu justru melakukannya terhadap saudaranya sesama manusia. Sungguh ironis. Bahkan ada yang mengaku bahwa semua itu dilakukannya demi agama dan Tuhannya.

Baca Juga:
Syeikh As-Sawwaf: Bendung Berita Hoax Tentang Suriah
Kiai Said: MCA Memalukan

Harus diakui bahwa fakta sejarah hoax yang sudah ada sejak era Mbah Adam AS. itu, alih-alih kita sudah mampu untuk memberangusnya, justru kita manusia-lah yang sudah dan tengah nguri-nguri untuk menghidupkan dan merawat perilaku Iblis tersebut. Dari era ke era, dari masa ke masa, dengan demikian, benarkah manusia itu lebih suka bersekutu dengan Iblis?

Dan untuk kita sekarang ini yang hidup di era thuthul, apabila kita memang betul-betul enggan, tersinggung, atau bahkan marah bila dikatakan suka bersekutu dengan Iblis, caranya sangat mudah; jangan rumat perilaku Iblis yang diantaranya adalah pembuat, pembisik, penggoda dan provokator hoax.

Selain itu, ada satu lagi perilaku Iblis yang wajib kita hindari dan jauhi, yaitu sikap dan laku rasis. Bukankah pembangkangan Iblis kepada Tuhannya karena rasisnya? WAllahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Akhlaqul Karimah Tingkat Tinggi Dalam Ijazahan Pagar Nusa


rumahnahdliyyin.com - Hari Ahad kemarin (25 Maret 2018), saya diundang oleh PC. Pagar Nusa Pamekasan dalam agenda “Ijazahan Pendekar”. Efek dari Ijazah Kubro yang diselenggarakan oleh PP. Pagar Nusa tempo hari di Cirebon, ternyata telah merambah ke berbagai daerah yang juga ingin menggelar acara serupa.

PC. Pagar Nusa Pamekasan mengundang dua kiai besar sebagai mujiznya, yaitu KH. R. Mudatsir Badruddin (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur) dan KH. Badrul Huda Zainal Abidin atau yang akrab disapa dengan Gus Bidin (Dewan Khos PP. Pagar Nusa/Pengasuh PP. Lirboyo, Kediri).

Baca Juga: Renungan Ketua Umum PP. Pagar Nusa

Acara ijazahan kali ini, luar biasa. Banyak sekali hal-hal yang membuat saya sendiri maupun hadirin berdecak kagum. Antusias para peserta juga tidak kalah dahsyatnya. Dari ijazah kit yang disiapkan oleh panitia sejumlah 700 paket, ludes. Bahkan, pendaftar tercatat mencapai 1500 orang. Dan panitia harus menyusulkan 800 paket sisanya bagi mereka yang belum mendapatkan.

Ketua Pagar Nusa, baik tingkat Cabang dan Wilayah, menunjukkan etika yang luar biasa. Keduanya tidak menyampaikan sambutan diatas podium, tapi dibawah, menyatu dengan para pendekar. Keduanya merasa tidak pantas tampil diatas podium karena itu adalah tempat bagi para kiai, maqom bagi ulama. Ini sungguh membuat saya berbangga bahwa pimpinan Pagar Nusa tahu diri dan tahu posisi. Kami hanyalah pesuruh para kiai, yang harus siap setiap saat untuk diperintah dan menjalankan amanat.

Baca Juga: Ketum Pagar Nusa: Gerakan Intoleran Tidak Bisa Dibiarkan

Kekaguman berikutnya membuat kami semakin yakin bahwa kedua mujiz (kiai yang memberikan ijazah) memang layak menjadi panutan kami. Dalam susunan acara, kiai Mudatsir tertulis sebagai mujiz pertama, baru kemudian Gus Bidin. Namun karena sikap tawadlu’, kiai Mudatsir meminta kepada pembawa acara untuk meminta kepada Gus Bidin yang terlebih dahulu menyampaikan ijazah.

Setelah pembawa acara mengundang Gus Bidin untuk naik ke panggung, Gus Bidin lantas memegang mikrofon dan berkata, “Saya memohon dengan hormat kepada kiai Mudatsir untuk lebih dahulu menyampaikan ijazah, baru kemudian saya. Karena beliau jauh lebih ‘alim.”

Baca Juga: Lawan Kebencian, Mari Bangun Algoritme Kebersamaan

Lantas, mikrofon diserahkan kepada kiai Mudatsir. Beliau berkata, “Mohon maaf, saya tidak berani menyampaikan ijazah terlebih dahulu. Karena materi ijazah Gus Bidin ada materi yang berasal dari almarhum kiai Mahrus Aly (Lirboyo). Terlebih, Gus Bidin ini adalah penerus almarhum Gus Maksum yang bisa terbang itu. Oleh karenanya, saya memohon, Gus Bidin yang sudah selayaknya menyampaikan ijazah, baru nanti saya sisanya saja.”

Setelah itu, Gus Bidin tetap tidak berkenan menyampaikan ijazah terlebih dahulu. “Sekali lagi, mohon maaf kiai Mudatsir. Kami yang muda ini sangat berharap ijazah panjenengan terlebih dahulu. Kami mohon dengan sangat,” pinta Gus Bidin.

Baca Juga: Panglima TNI Dorong Kader Muda Pagar Nusa Masuk Akmil dan Akpol

Sejurus kemudian, mikrofon kembali berpindah kepada kiai Mudatsir. “Baiklah, saya akan memberi pengantar saja. Saya minta semuanya dalam keadaan suci. Yang belum atau sudah batal wudlu'nya, silakan mengambil air wudlu,” perintah kiai Mudatsir kepada hadirin.

Sambil menunggu peserta berwudlu', kiai Mudatsir mengisahkan soal wirid, amalan dan lain sebagainya, dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Beliau juga menceritakan bahwa sejak dahulu sudah ada pendekar wanita yang juga sahabat Rasulullah SAW., namanua Khaulah binti Ja’far. Setelah semuanya berwudlu', ijazahan pun dimulai oleh Gus Bidin.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Saat selesai memberikan penjelasan tentang materi ijazah, tibalah saatnya “akad ijazah” yang ditandai dengan memegang ujung sorban oleh Gus Bidin dan ujung sorban oleh para peserta. Nampak kiai Mudatsir juga ikut menerima ijazah.

“Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya,” ucap Gus Bidin.

Ribuan peserta menjawab dengan lantang, “Qabiltu!” Selesailah proses ijazah bagian pertama.

Baca Juga: Gus Mus: Akhlaq Sebagai Inti Islam

Berikutnya, giliran kiai Mudatsir yang memberikan penjelasan materi ijazah dengan lengkap. Beliau juga menceritakan kisah-kisah kiai terdahulu yang sholih.

Setelah penjelasan paripurna, kiai Mudatsir pun berkata, “Saya ijazahkan amalan dan wirid ini sebagaimana guru saya mengijazahkan kepada saya.”

Serentak, semua peserta menjawab, “Qabiltu!”

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Dan saya juga menyaksikan bahwa Gus Bidin juga turut serta menerima ijazah dengan memegang ujung sorban, tepat disamping saya. Saat kiai Mudatsir menyampaikan penjelasan, Gus Bidin juga dengan seksama mengikuti dan mendengarkan perintah mujiz.

Sungguh, malam ini kami ditunjukkan, dipertontonkan pertunjukan etika. akhlaqul karimah tingkat tinggi oleh dua kiai kami. Belum lagi, melihat sosok Gus Bidin yang sangat tawadlu’. Tidak hanya kepada kiai, tapi kepada semuanya. Dengan sabar beliau meladeni permintaan hadirin satu persatu.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Tulisan ini hanyalah menceritakan kepingan kecil peristiwa besar ijazahan di Pamekasan. Masih banyak kisah luar biasa yang disaksikan langsung oleh ribuan peserta ijazahan.

Sebagai bagian dari saksi hidup saat itu, saya merasa berkewajiban menceritakan ini sebagai bagian dari tahadduts binni’mah (cerita atas nikmat yang Allah berikan) kepada kami. Semoga ini menjadi jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhir nanti.

Jakarta, 26 Maret 2018


* Oleh: M. Nabil Haroen, Ketum PP. Pencak Silat NU Pagar Nusa
Read More

KH. Cholil Bisri; Catatan Seorang Santri


rumahnahdliyyin.com - 24 Agustus 2004 silam, Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien, Leteh, Rembang, hujan air mata. Berduyun-duyun tangis serta sesenggukan terus kian menumpah sejak selepas waktu Isya' di hari Senin malam Selasa itu.

Syaikhina KH. Cholil Bisri, nama inilah yang telah membuat air mata para santri yang diikuti oleh masyarakat Rembang terkuras. Kepergiannya ke haribaan Yang Maha Pencipta waktu itu, sungguh membuat para santri terpukul. Juga menggodamkan kesedihan yang sangat mendalam bagi masyarakat Rembang.

Baca Juga: Kontribusi HTI Untuk NKRI

Abah, begitu para santri memanggil kiai Cholil, merupakan sosok kiai yang sangat mencintai santrinya. Beliau tidak pernah ridlo bila ada santri yang diperlakukan dengan kekerasan. Tidak boleh ada santri yang karena suatu kesalahan, kemudian dihukum dengan cara dipukul atau sejenisnya. Dengan demikian, beliau menekankan kepada para pengurus pondok untuk senantiasa memupuk kesabaran.

Kiai Cholil juga sosok kiai yang sangat menghormati kemerdekaan. Hal itu terbukti dalam sistem yang diberlakukan di pondok yang diasuhnya. Karena pondok tidak memiliki sekolah formal, para santri yang ingin sekolah formal pun diberi keleluasaan untuk memilih sekolah yang diinginkan di luar pondok. Baik sekolah ke-Islam-an sepeti MTs/MA ataupun sekolah umum seperti SMP/SMA/SMK. Tentu saja dengan catatan tidak boleh sampai mengganggu peraturan dan kegiatan yang telah ditetapkan dan berlaku di pondok.

Baca Juga: Keluarbiasaan Karya Arab Pegon Mbah Bisri

"Kamu boleh melakukan apa saja, yang penting ngaji," begitu dawuh yang sering disampaikan kiai yang diakhir hayatnya masih mengemban amanat sebagai Wakil Ketua MPR RI kepada para santrinya itu.

Sepintas, dawuh beliau di atas memang terbaca sangat sederhana. Namun, apabila kita angen-angen, dawuh itu mengandung makna yang sangat dalam.

Pertama, beliau ingin santrinya supaya tidak berhenti ngaji atau belajar. Walaupun dalam keadaan apapun. Kedua, beliau menginginkan santrinya jangan takut untuk melakukan apa saja. Walaupun kemudian ternyata salah. Dan kesalahan itu adalah bagian dari proses belajar. Ketiga, beliau menginginkan santrinya supaya ketika melakukan apa saja jangan sampai tidak didasari dengan ilmu. Karena itu, harus belajar atau ngaji.

Baca Juga: Semangat Beragama Tanpa Mengaji, Bahaya

Selain itu, kiai yang juga kakak dari Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri dan juga ayah dari KH. Yahya Cholil Tsaquf (Katib 'Aam PBNU) juga Gus Yaqut Cholil Qoumas (Ketum GP. Ansor) ini, tawadlu'nya sangat luar biasa. Contohnya, pernah beliau tidak sepakat dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam suatu hal, namun beliau tidak menyampaikannya secara langsung. Bukan pula kemudian diumumkan dipublik. Melainkan beliau menyampaikan kepada kiai lain yang menurut beliau "setaraf" atau punya "maqom" lebih tinggi dari Gus Dur. Pendek kata, meski kealiman beliau tidak ada yang meragukan, namun beliau masih merasa ada kiai lain yang lebih alim, termasuk Gus Dur.

Akhirnya, semoga para santri beliau bisa meneladani dan mengamalkan apa yang telah didawuhkan dan diajarkan oleh beliau. Dan berhubung hari ini tepat 7 Rojab dimana beliau telah dipanggil oleh Allah SWT. sebagaimana menurut penanggalan tahun Hijriyyah, marilah kita langitkan doa untuk beliau. Lahul-Fatihah... []



* Oleh: Agus Setyabudi, Alumni PP. Raudlatut Thalibin Rembang, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Kontribusi HTI Untuk NKRI?


rumahnahdliyyin.com - Pertama telinga saya mendengar nama ustadz Fadlan Garamatan (UFG) berasal dari mulut seorang tokoh Islam di salah satu kampung yang seratus persen penduduknya muslim asli Papua. Waktu itu saya bersama beberapa teman silaturrahmi ke rumahnya. Meskipun saya tidak paham apa yang dimaksudkan dari ucapannya terkait UFG ketika itu, namun karena teman saya kelihatan manggut-manggut, maka saya pun tidak menanyakan apa maksud dari pria paruh baya itu kok mewanti-wanti kita agar jangan sampai seperti UFG.

Karena penasaran, selepas pertemuan dengan tokoh Islam asli Papua itu, saya pun bertanya pada teman saya, siapakah sebenarnya UFG itu? Berawal dari sinilah saya jadi sedikit tahu tentang UFG yang beberapa bulan kemudian saya ketahui juga ternyata punya julukan sebagai "Ustadz Sabun".

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Beberapa hari ini ada sebaran video UFG di grup-grup WA. Yaitu video ceramahnya yang menceritakan tentang strategi dakwahnya di pedalaman Papua dengan menggunakan sabun. Itulah mengapa ia dijuluki sebagai "Ustadz Sabun".

Kendati ada tokoh Islam Papua yang menyatakan bahwa apa yang dikatakan UFG dalam video tersebut adalah omong kosong belaka, namun ditulisan kali ini saya tidak akan mengupas tentang apa yang dikatakan UFG dalam video itu. Selain karena saat ini pengetahuan saya untuk menguak hal itu kurang memadai, juga karena saat membuka video UFG tersebut saya sangat kaget dengan adanya label bendera HTI dipojok kanan atasnya. Di sudut itulah justru fokus saya terarah selain tentu saja menyimak apa yang dikatakan oleh ustadz yang konon sudah mengislamkan ribuan orang asli Papua ini.

Baca Juga: Jubir HTI Bungkam

Sebagaimana kita ketahui bersama, pengadilan HTI beberapa waktu lalu sempat ramai di medsos. Gus Guntur Romli dan kiai Ishomuddin menjadi target lontaran miring dan fitnahan selepas beliau berdua menjadi saksi di PTUN. Dan setelah kesaksian yang membungkam itu, kini ada sebaran video ceramah seorang ustadz yang ada label bendera HTI yang diakhir videonya terkesan nasionalisme banget.

Terlepas apakah UFG juga seorang HTI atau tidak, saya tidak tahu. Setahu saya, UFG selalu memakai bendera AFKN dalam kegiatannya. Yaitu nama sebuah yayasan yang dibentuknya. Dan apakah ini hanya siasat HTI supaya banyak orang tahu bahwa HTI sangat cinta Indonesia dengan bukti adanya video itu, mungkin saja iya.

Kendati andai benar keinginan HTI dalam membuat video itu semata untuk menunjukkan kecintaannya pada NKRI demi kebaikan salah satu daerah di Indonesia, maka apa yang telah dilakukannya adalah salah besar. Justru video itu ternyata telah membuat "gerah" masyarakat daerah yang berkaitan. Dengan konten seorang ustadz yang menuduh para missionaris sebagai biang kerok kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan Papua selama ini, tentu saja dapat berbenih hal yang sangat tidak baik bagi hubungan antar warga negara yang beda agama. Inikah kontribusi ormas yang cinta negaranya?

Baca Juga: UAS, Gus Nadir dan Kritik Nalar Atas Hadits Khilafah ala HTI

Itu kesalahan yang pertama. Yang kedua, HTI telah keliru menjadikan UFG sebagai ikon nasionalismenya---kalau memang video itu dengan tujuan seperti itu. Sebab, integritas dan kiprah UFG dalam berdakwah di Papua selama ini ternyata tidak sedikit yang meragukan dan mempertanyakannya. Saya sendiri mendengar nama UFG untuk yang pertama kalinya saja adalah nama dengan konotasi yang buruk. Terlebih beberapa penemuan saya yang lain setelahnya yang sepertinya selaras dengan konotasi tersebut.

Diantara penemuan saya itu yaitu penyebutan terhadap salah satu kampung yang sudah muslim secara turun-temurun sejak era Kerajaan Tidore sebagai "kampung muallaf". Hal ini kayaknya sepele, tapi bagi penduduk yang disebut seperti itu, tentu tersinggung.

Diluar konten ceramahnya dalam video yang saya lihat ada benderanya HTI tersebut, saya juga menemukan video UFG lain yang mempertontonkan orang-orang asli Papua masuk Islam sembari ramai-ramai berwudlu di sungai. Dari pengakuan seorang teman saya di Sorong sini, dalam video itu ternyata adalah orang-orang asli Papua yang sudah memeluk Islam sejak lahir semua. Bukan non-muslim yang di-Islamkan oleh UFG sebagaimana narasi yang telah disebutkan dalam video itu. Bahkan, teman saya bilang bahwa dalam video tersebut ada saudaranya.

Baca Juga: Didepan Negara Uni Eropa, Menag Tegaskan Posisi Agama di Indonesia

Jadi, kalau video itu adalah usaha dan upaya HTI untuk menunjukkan kepada publik bahwa HTI dengan ustadznya telah berkontribusi terhadap NKRI, sangat salah besar. Dengan gen serta karakter diluar sadarnya yang orientasinya ingin mendirikan Khilafah, sudah sewajarnya kalau pemerintah melarang keberadaan ormas tersebut. Kalau kemudian ada anggota HTI yang berdalih bahwa HTI tak pernah punya tujuan untuk mendirikan Khilafah, maka tak perlu dihiraukan orang tersebut. Sebab, dengan bertanya seperti itu, berarti dia belum/tidak paham HTI dan dengan demikian tidak layak menjadi anggota HTI. Kalau jadi anggota saja tidak layak, berarti tidak patut juga menjadi pengurus. Tidak ada pengurus, tidak akan ada organisasi.

Sebagai penutup, mari dengarkan wejangan Kanjeng Sunan Bonang yang disampaikan kepada Kanjeng Sunan Kalijogo muda, "Kalau nyuci pakaian jangan pakai air kotor." Mungkin wejangan inilah yang sepertinya tepat diarahkan pada HTI. Kalau ingin berbuat baik, pakailah cara yang baik. Kalau ingin melakukan kebajikan, gunakanlah cara yang penuh kebijakan.

Akhirnya, lantaran video yang dibuat (entah diedit) oleh HTI itu, saya dengar-dengar kini UFG menghadapi ancaman akan dihadapkan ke depan hukum besok Senin. Semoga kita bisa memetik hikmah dan pelajaran. Juga, semoga kerukunan di Bumi Papua ini tetap terjaga kendati di pulau Cendrawasih ini perbedaannya sangat kaya.

WAllaahu a'lam.

Salam.


* Oleh: Agus Setyabudi, Aktivis Muda NU di Papua dan Penyuka Kopi.
Read More

Bersatunya NU dan Muhammadiyah Menunjukkan Utopisnya Khilafah


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Jum'at ini, 23 Maret 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bertemu dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP. Muhammadiyah) di Jakarta. Selain bersilaturrahmi, tentu saja ada banyak hal yang dibahas oleh kedua ormas terbesar di Indonesia ini.

Dikutip dari akun sosial medianya, Sekjen PBNU, Dr. Ir. Helmy Faishal Zaini mengungkapkan bahwa Ukhuwwah adalah modal besar bagi bangsa Indonesia untuk maju. NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk terus mengembangkan dakwah Islam yang sejuk, toleran dan damai. Menghargai dan menghormati keaneka ragaman suku, etnis, ras, agama dan golongan.

Baca Juga: Muslim Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Bersatunya dua ormas terbesar di Indonesia ini sebenarnya cukup bisa menunjukkan bahwa tidak ada hal yang mengkhawatirkan terkait isu keagamaan dan terpecahnya NKRI sebagaimana isu yang berkembang di sosial media akhir-akhir ini. Sebab, jumlah kedua ormas ini bisa dibilang hampir seluruh muslim di Indonesia ini.

Kalaupun ada yang menebar isu Khilafah dan sentimen keagamaan yang lainnya, tentu saja pelakunya adalah golongan muslim minoritas di negeri ini. Atau bisa jadi golongan yang baru lahir di Bumi Pertiwi tercinta ini.

Baca Juga: Mengapa NU Tak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Pertemuan yang menandakan betapa harmonisnya hubungan antar organisasi Islam (ukhuwwah Islamiyyah) ini menegaskan beberapa hal sebagaimana dibawah ini:


PERNYATAAN BERSAMA PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA DAN PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Rasa syukur selalu kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah senantiasa menjaga sekaligus melindungi bangsa Indonesia. Atas berkah kasih sayang dan rahmat-Nya semata, kita semua, seluruh komponen bangsa Indonesia, masih bisa saling merasakan kedamaian hidup di Bumi Pertiwi tercinta kita: Indonesia.

Sholawat serta salam selalu kita haturkan ke hadirat Rasulullah Muhammad SAW. yang senantiasa membimbing dan memberikan teladan bagi kita semua.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Kami, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP. Muhammadiyah), sebagai bagian dari organisasi umat beragama, hari ini berkumpul tidak lain memiliki maksud dan tujuan untuk melakukan tiga hal: Pertama, terus menerus menyerukan saling tolong menolong melalui sedekah dan derma. Kedua, menegakkan kebaikan. Ketiga, mengupayakan rekonsiliasi atau perdamaian kemanusiaan.

Parameter dan ukuran sehatnya sebuah bangsa dan negara, salah satunya bisa dilihat dari tegak dan kokohnya tali persaudaraan kebangsaan, ekonomi yang tumbuh merata, akses pendidikan yang mudah, terbukanya ruang-ruang dalam menyampaikan pendapat, serta tegaknya hukum sebagai instrumen untuk meraih keadilan. Bangsa yang kuat dan sehat juga tercermin dari semakin berkualitas dan berdayanya masyarakat sipil. Berkaitan dengan hal tersebut, PBNU dan PP. Muhammadiyah menegaskan:

Pertama, NU dan Muhammadiyah akan senantiasa mengawal dan mengokohkan konsensus para pendiri bangsa bahwa Pancasila dan NKRI adalah bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah Negara yang memiliki keanekaragaman etnis, suku, golongan dan agama yang tetap harus dijaga dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia

Kedua, NU dan Muhammadiyah secara pro-aktif terus melakukan ikhtiar-ikhtiar bagi peningkatan taraf hidup dan kualitas hidup warga. Terutama mengembangkan pendidikan karakter yang mengedepankan akhlaqul-karimah di semua tingkatan atau jenjang pendidikan serta penguatan basis-basis ekonomi keumatan dan juga peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Ketiga, NU dan Muhammadiyah menyeru kepada pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam upaya mengurangi angka kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran serta melakukan upaya-upaya yang terukur agar kesenjangan ekonomi dan sosial segera teratasi dengan baik.

Keempat, mengimbau kepada seluruh warga NU dan Muhammadiyah agar bersama-sama membangun iklim yang kondusif, suasana yang kondusif dalam kehidupan kemasyarakatan dan keberagamaan ditengah era sosial media yang membutuhkan kehatian-hatian yang lebih. Mengingat bertebarannya pelbagai macam informasi hoaks, ujaran kebencian dan fitnah yang berpotensi mengganggu keutuhan bangsa, NU dan Muhammadiyah berkomitmen untuk menghadirkan narasi yang mencerahkan melalui ikhtiar-ikhtiar dalam bentuk penguatan dan peningkatan literasi digital sehingga terwujud masyarakat informatif yang ber-akhlaqul-karimah.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Kelima, memasuki tahun 2018, dimana kita akan menghadapi apa yang diistilahkan sebagai "tahun politik", maka marilah kita bersama-sama menjadikan ajang demokrasi sebagai bagian dari cara kita sebagai bangsa untuk melakukan perubahan-perubahan yang berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hendaknya dalam demokrasi, perbedaan jangan sampai menjadi sumber perpecahan. Perbedaan harus dijadikan sebagai rahmat yang menopang harmoni kehidupan yang beraneka ragam. Karena demokrasi tidak sekedar membutuhkan kerelaan hati menerima adanya perbedaan pendapat dan perbedaan pikiran, namun demokrasi juga membutuhkan kesabaran, ketelitian dan cinta kasih antar sesama.


Jakarta, 23 Maret 2018/ 5 Rajab 1439 H.


والسّــــــــــــلام عليكم ورحمة الله وبركاته




Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. ​​
Ketua Umum PBNU


Dr. H. Haedar Nashir
Ketua Umum PP. Muhammadiyah

[]
(Redaksi RN)
Read More

Wakili Indonesia, Abdul Faqih Alhafidz Juara I Musabaqoh Qur'an


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Penyelenggaraan Musabaqoh Hafalan Al-Qur'an dan Hadits (MHQH) Tingkat Asean-Pasifik ke-10 tahun 2018 ini, sudah selesai. Kegiatan tahunan yang kali ini diikuti oleh 84 orang dari negara-negara yang berada di kawasan Asean dan Pasifik ini telah menempatkan Indonesia, yaitu Muhammad Abdul Faqih sebagai juara I pada kategori hafalan 30 juz. Pemuda asal Desa Lopait, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang ini mengaku tidak menyangka dirinya akan meraih juara I.

“Alhamdulillah, saya tidak menyangka dapat juara I pada perlombaan MHQH ini,” kata Faqih usai menerima piagam penghargaan yang diserahkan oleh Pangeran Khalid bin Sultan bin Abdul Aziz bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, di Jakarta, Kamis malam, 22 Maret 2018.

Baca Juga: Menag: Islam Damai, Tanggung Jawab Indonesia

Anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Muhamad Rifai dan Sri Purwanti ini bercerita bahwa dirinya sudah menghafal Al-Qur'an sejak berusia delapan tahun. Dan pada umur sebelas tahun, ia sudah menghafal 30 Juz.

Selain itu, Abdul Faqih juga berkisah bahwa sejak tamat Sekolah Dasar (SD), ia langsung melanjutkan studi ke Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah di Ponpes Al-Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur. Dan sejak 2014 hingga sekarang, ia sedang belajar di Ma’had Aly Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Jogjakarta dengan mengambil jurusan Tafsir Hadits.

Baca Juga: Kiai Said Jelaskan Kelebihan Al-Qur'an Kepada Mu'allaf

Torehan prestasi Alhafidz Muhammad Abdul Faqih ini, sudah mulai diukirnya sejak tahun 2015. Saat itu, Faqih mewakili Kabupaten Semarang dalam mengikuti seleksi di tingkat Propinsi Jawa Tengah dan berhasil menjadi juara I. Keberhasilan ini akhirnya membawanya mewakili Jawa Tengah pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXVI Tingkat Nasional di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juli 2016 dan berhasil merebut juara II.

Selanjutnya, pada tahun 2017 lalu, Faqih juga mewakili Kota Semarang pada ajang Musabaqah Hifdzil Qur'an (MHQ) ditingkat Internasional di Masjidil Haram yang digelar di kompleks Baitullah, Arab Saudi. Dia pun berhasil meraih juara kendati hanya juara III.

Baca Juga: Kembali Kepada Al-Qur'an dan Hadits

Berikut ini daftar selengkapnya nama-nama pemenang MHQH 2018 ini:

Hafalan Alquran 30 Juz
  • Juara I: Muhammad Abdul Faqih (Indonesia).
  • Juara II: Amir Sina Nuqsi (Bosnia).
  • Juara III: Ahid Abdussomad Ismail (Filipina).

Hafalan Alquran 20 Juz
  • Juara I: Muhammad Zulfikar Mahmud Zani (Malaysia).
  • Juara II: Faisal Ismail Malaku ((Filipina).
  • Juara III: Muhammad Syuqur (Filipina).

Hafalan Alquran 15 Juz
  • Juara I: Muhammad Syahid Ahmad Ismail (Filipina).
  • Juara II: Mudroni (Indonesia).
  • Juara III: Ali Mamalina Sandiqon (Filipina).

Hafalan Alquran 10 Juz
  • Juara I: Ahmad Luqman Amidzaini (Malaysia).
  • Juara II: Husaini Muhtadi (Indonesia).
  • Juara III: Muhammad Husein Efendi (Indonesia).

Hafalan Hadits
  • Juara I: Muhammad Idzhar (Indonesia)
  • Juara II: Mubarok Ibnu Ali Akbar (Indonesia).
  • Juara III: Muhammad Kamil Hakimin (Indonesia).[]



(Redaksi RN)


* Sumber: kemenag.go.id
Read More

Presiden Jokowi: Tularkan Islam di Indonesia ke Seluruh Dunia


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Kamis, 22 Maret 2018, bertempat di Istana Negara, Jakarta, Presiden Joko Widodo bersilaturrahmi dengan para peserta Musabaqoh Hafalan Al-Qur'an dan Hadits (MHQH) Pangeran Sulthan bin Abdul Aziz Alu Su'ud Tingkat Asean dan Pasifik ke-10. Lomba ini sendiri sudah berlangsung sejak tanggal 20 lusa kemarin di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Selain peserta dan dewan hakim, hadir pula dalam kesempatan ini yaitu Pangeran Khaled bin Sulthan bin Abdul Aziz Alu Su’ud, Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia (Syeikh Osama bin Mohammed Abdullah Al-Shuaibi), dan para Duta Besar serta perwakilan para negara sahabat.

Baca Juga: Indonesia Kiblat Peradaban Islam Dunia

Pelaksanaan musabaqoh, menurut Presiden, hendaknya tidak hanya dipandang sebagai pelaksanaan acara biasa. Sebab, musabaqoh adalah wahana untuk memacu pengembangan tilawah, hafalan serta pendalaman isi Al-Qur'an.

"Sebagai umat muslim, kita harus selalu mengingat bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada kita untuk menjadi pedoman. Pedoman yang harus kita baca, kita pahami, kita hayati dan kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menempuh jalan yang diridloi Allah. Jalan yang penuh cinta damai, saling tolong menolong dan penuh persatuan," kata Presiden Jokowi.

Baca Juga: Indonesia Selamatkan Wajah Dunia Islam

Karena itu, Presiden juga mengingatkan kepada seluruh qori'/qori'ah, hafidz/hafidzoh, mufassir/mufassiroh supaya terus mensyiarkan dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an ketika berada diluar acara ini.

"Kita semua harus membangun kemanusiaan yang adil yang beradab, tidak membentak anak yatim, peduli pada fakir miskin, cinta saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, serta menyayangi seluruh kehidupan di bumi Allah ini. Supaya seluruh Indonesia, seluruh Asia, dan seluruh dunia benar-benar melihat dan merasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil-'alamin," lanjutnya.

Baca Juga: Mengapa NU Tidak Mau Indonesia Menjadi Negara Islam

Menurut Presiden, Indonesia sekarang ini terus menjadi panutan banyak negara dalam mengelola kemajemukan. Indonesia memiliki 714 suku dan lebih dari 1.100 bahasa daerah. Kendati demikian, rakyat Indonesia tetap bisa rukun dan bersatu. Oleh karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk menularkan kerukunan yang ada di Indonesia ini ke berbagai negara di seluruh dunia.

"Kita harus menularkan pengalaman berharga umat Islam Indonesia kepada dunia dalam menjaga kerukunan, dalam menjaga persatuan, dalam menjaga perdamaian di bumi Allah SWT," demikian pesan Presiden yang dalam kesempatan ini didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara (Pratikno), Menteri Agama (Lukman Hakim Saifuddin) dan Kepala Staf Kepresidenan (Moeldoko).

Dalam penutup sambutannya, Presiden mengatakan agar setiap acara musabaqoh Al-Qur'an dan Hadits ini ada jejak dan manfaatnya dalam kehidupan kebangsaan Indonesia. Selain itu, Presiden juga berpesan agar umat Islam tidak mudah terjebak fitnah dan hasutan kebencian.[]
(Redaksi RN)

* Sumber: kemenag.go.id
Read More