Taat Pada Hukum Jadi Titik Cerah Nasib Menara Masjid Al-Aqsha di Sentani


rumahnahdliyyin.com, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua, ustadz Saiful Islam Payage, mengatakan telah bertemu dengan sejumlah tokoh adat hingga tokoh agama guna membicarakan tuntutan dari Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura (PGGJ) yang terjadi pada pertengahan bulan lalu mengenai pembongkaran masjid Al-Aqsha di Sentani.

Kendati hasil yang disepakati belum final, ia menyebutkan ada tiga poin besar yang bisa disampaikan.

"Setelah dilakukan pertemuan, terbentuklah Tim Kecil. Ada utusan dari tokoh masyarakat, FKUB dan MUI. Dari tim kecil itu, kemarin saya sudah dapatkan, tapi masih belum final. Ada tiga poin besar yang mungkin saya bocorkan," jelas ustadz Payage di Rumah Makan Abu Nawas, Matraman, Jakarta Timur, Senin 2 April 2018, sebagaimana diberitakan oleh detik.com.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ustadz Payage mengatakan, poin pertama yaitu menara Masjid Al-Aqsha di Sentani tidak akan diubah tingginya dan tetap pada kondisi semula. Sebab, keberadaan menara Masjid Al-Aqsha tersebut tidak melanggar hukum positif, hukum adat atau hukum agama.

Poin kedua yaitu yang terkait dengan larangan Adzan dengan keras, tidak boleh dakwah dan tidak boleh membangun masjid di instansi maupun perumahan, pihak MUI tegas menolaknya. Menurut ustadz Payage, hal itu tidak mungkin bisa dilakukan. Karena semua itu merupakan kebutuhan primer umat Islam.

"Itu sudah diterima. Artinya teman-teman Persekutuan Gereja-Gereja Jayapura juga sudah terima. Karena itu jelas impossible (tidak mungkin). Saya bilang, karena itu kebutuhan primer umat Islam untuk sholat lima waktu. Tidak bisa dihindarkan," jelasnya.

Baca Juga: Isi Kepala Pemeluk Agama

Sedangkan untuk poin ketiga yaitu umat Islam mendukung penuh umat Kristiani jika ingin membangun gereja yang lebih besar dari Masjid Al-Aqsha. Dan untuk pendanaan, akan dibantu oleh Pemerintah Daerah.

"Jika masjid Al-Aqsha ini dianggap yang paling wah begitu, kenapa teman-teman gereja ini nggak membangun gereja yang lebih wah lagi. Dan kita sepakati dalam Tim Kecil itu, nanti dana itu akan didukung oleh Pemda Kabupaten Jayapura," tutur Payage.

Kendati ketiga poin itu belum final, ustadz yang pernah nyantri di Pondok Salafiyyah Syafi'iyyah Situbondo itu menegaskan bahwa umat Islam di Papua siap membantu apapun nanti yang disepakati.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya PCNU Paniai Papua

Sementara itu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ), Pendeta Robbi Depondoye, sebagaimana dilansir oleh viva.co.id pada Senin, 2 April 2018, mengatakan bahwa semua pihak masih menantikan tuntasnya kerja Tim Kecil yang beranggotakan enam orang itu. Sejauh ini, Tim yang dibentuk oleh Pemkab Jayapura pada 19 Maret 2018 lalu itu masih berupaya merumuskan penyelesaian masalah.

Menurut Robbi, sebenarnya pihak-pihak yang terlibat sudah sepakat untuk tidak memperuncing masalah itu. Momen perayaan Paskah yang baru saja berlalu juga senantiasa dijaga kekhidmatannya dengan tidak adanya upaya membesar-besarkan masalah itu di sana.

Baca Juga: Imam Sibawaih-nya Papua

Selain itu, Robbi juga menyampaikan bahwa komposisi Tim Kecil yang menangani soal itu juga diyakini akan mampu meredam ego dari masing-masing pihak dan menghasilkan solusi yang menjaga perdamaian di Sentani.

"Segala bentuk egoisme ditundukkan pada hukum dan aturan yang berlaku sebagai warga negara Indonesia," ujar Robbi.[]
(Redaksi RN)
Read More

Gus Dur: Berpolitik Tidak Usah Pakai Biaya


rumahnahdliyyin.com - Perjalanan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI ke-4, tak bisa dilepaskan dari peristiwa terbentuknya Poros Tengah pada 1999 yang kala itu dimotori oleh mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Amien Rais.

Saat itu, pasca-reformasi, masyarakat terbelah. Sebagian menghendaki agar BJ. Habibie melanjutkan posisinya sebagai Presiden. Sementara dikubu lain, PDI Perjuangan sebagai pemenang pemilu 1999, menghendaki Megawati Soekarno Putri yang jadi Presiden.

Baca Juga: Mbah Misbah dan Gus Dur; Pertengkaran Penuh Akhlaq

Dalam situasi politik yang memanas, bahkan sempat pecah menjadi bentrokan fisik yang dikenal dengan Peristiwa Semanggi antara "Laskar Merah" dan "Laskar Islam" itu, Poros Tengah bentukan Amien Rais muncul sebagai penengah.

Lewat Poros Tengah itu, Pak Amien Rais menengahi. Presidennya bukan Habibie, juga bukan Megawati. Dari sinilah kemudian muncul nama Gus Dur, yang kala itu sedang sakit, sebagai sosok tokoh yang memang bisa diterima oleh berbagai pihak, baik oleh kelompok Megawati maupun oleh kalangan umat Islam, untuk diusung sebagai Presiden.

Baca Juga: Tebuireng dan Gus Dur Dimata Profesor Jepang

Setelah disepakati bahwa Gus Dur yang akan diusung jadi Presiden, Amien Rais kemudian meminta Muhaimin Iskandar (Cak Imin), yang kala itu diminta oleh Amien Rais bergabung dalam gerakan Poros Tengah itu, untuk menemaninya ke Ciganjur menemui Gus Dur.

Sebagai ABG (Anak Buah Gus Dur), saat itu Cak Imin deg-degan. Kondisi Gus Dur sakit, tapi diminta menjadi Presiden.

Baca Juga: Gus Dur, Gus Mus dan Jalan Cinta Untuk Diplomasi Israel-Palestina

Setelah bertemu Gus Dur, Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sedang membutuhkan tokoh yang mampu jadi penengah. Amien mengatakan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang diharapkan mampu menenangkan pertentangan dan pertempuran antara sesama anak bangsa yang tengah memanas dalam menentukan pemimpin kala itu.

Gus Dur, setelah Amien Rais selesai bicara, tiba-tiba ambil posisi duduk dari posisi yang sebelumnya rebahan. Gus Dur pun lalu menyatakan menerima permintaan Poros Tengah itu untuk menjadi calon Presiden Indonesia.

Baca Juga: Keluarga Gus Dur Kunjungi Keluarga Mbah Moen

Mendengar pernyataan Gus Dur yang bersedia menjadi calon Presiden itu, Cak Imin mengaku kaget yang bercampur haru. Namun menurutnya, Amien Rais lebih kaget lagi.

"Lhoh, rencananya, kan, Gus Dur nolak jadi calon Presiden dan menyerahkan posisi calon Presiden pada saya?" bisik Amien Rais pada Cak Imin.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Dalam perjalanan pulang, jawaban Gus Dur yang tidak sesuai dengan skenario awal itu, membuat Cak Imin mendapat banyak pertanyaan dari para kolega yang mendukung Amien Rais menjadi calon Presiden.

Kenapa bukan Amien Rais yang akhirnya muncul sebagai alternatif yang menggantikan Gus Dur sebagai tokoh yang dicalonkan menjadi Presiden yang mewakili dari berbagai kekuatan? Menjawab cecaran pertanyaan itu, Cak Imin pun menyatakan bahwa ia tidak tahu kenapa Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai Presiden dalam kondisi yang sakit itu.

Baca Juga: Politiknya Kiai

Dari sinilah kemudian Gus Dur sering mengutarakan sebuah anekdot yang berbunyi: "Berpolitik tidak usah pakai biaya. Saya saja jadi Presiden tanpa Tim Sukses, tanpa biaya dan hanya modal dengkul. Itu pun dengkulnya Pak Amien Rais."[]
(Redaksi RN)


* Tulisan ini didasarkan pada cerita yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagaimana dimuat di laman tempo.co, ketika ia hadir dalam forum Kongres Ulama Nusantara di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, pada Minggu, 1 Maret 2018.
Read More

Inilah Rais 'Aam dan Mudir Jatman Jatim Periode 2018-2023



rumahnahdliyyin.com, Pasuruan - Salah satu hal penting dalam Musyawarah Idaroh Wustho (MUSDA) ke 4 Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Jatim, 31 Maret-1 April 2018 kemarin, adalah terpilihnya Rais Syuriah dan Mudir Idaroh Wustho periode 2018-2023.

Setelah rapat tertutup yang dilakukan oleh sembilan Mursyid Thoriqoh anggota tim formatur Ahlul Halli wal-Aqdli (AHWA), akhirnya terpilihlah Pengasuh Pondok Pesantren Thariqah Sulaiman, Madiun, KH. Ngadiyin Anwar, sebagai Rais 'Aam (Ifadliyyah) Idaroh Wustho Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Jatim untuk periode 2018-2023.

Baca Juga: Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim

Sembilan anggota Tim AHWA yang melakukan pemilihan tersebut yaitu:
  1. Dr. KH. Ali Mashudi (Sekretaris Jenderal Idaroh 'Aliyah)
  2. KH. Muh. Marta’in Karim (Rais 'Aam Demisioner)
  3. KH. M. Khusnan Ali (Ex. Karasidenan Surabaya)
  4. KH. Syamsuddin (Ex. Bojonegoro)
  5. KH. Solihin Rozin (Ex. Karasidenan Malang)
  6. KH. Robet Wahyudi (Ex. Karasidenan Kediri)
  7. KH. M. Nasruddin (Ex. Karasidenan Madiun)
  8. KH. Amin Musthofa (Ex. Karasidenan Besuki)
  9. KH. Imam Mawardi (Ex. Karasidenan Madura)

Baca Juga: Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis

Sidang pleno yang dipimpin oleh Dr. KH. Mashudi, M.Ag. itu, selain memilih Rais 'Aam, juga menetapkan Mudir (Imdlaiyyah) Idaroh Wustho Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah untuk periode yang sama. Dan yang terpilih untuk mengemban amanat pada periode kali ini yaitu KH. Adam Arifin Khon.

Sekretaris Jenderal Idaroh 'Aliyah, Dr. KH. Mashudi, M.Ag., dalam sambutannya saat memberi ucapan selamat kepada para kiai yang terpilih, juga sekaligus mengingatkan bahwa tugas penting dari Rais 'Aam dan Mudir adalah memasyarakatkan Thoriqoh dan men-Thoriqoh-kan masyarakat. Selain itu, bagaimana supaya Thoriqoh tidak hanya menyentuh level usia lanjut saja, tetapi segala usia, juga merupakan tugas penting pula.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Jawa Timur, lanjut kiai Mashudi, dengan keberadaan 14 Thoriqoh yang berbeda, adalah kekuatan untuk membangun kerukunan, harmoni sekaligus teladan bagi daerah lain.[]
(Redaksi RN)
Read More

Sikap PCINU Tiongkok Terkait Pemberitaan Republika



rumahnahdliyyin.com - Bertanggal 1 April 2018, pukul 05.45 WIB, laman republika.co.id telah memberitakan tentang pelajar Indonesia di Cina yang ternyata dapat pelajaran ideologi Komunis. Berita dengan judul "Di Cina, Pelajar Indonesia Dapat Pelajaran Ideologi Komunis" itu disebutkan oleh republika.co.id dari ungkapan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sofyan Anif.

Sofyan Anif, sebagaimana yang dirilis oleh republika.co.id tersebut, mengetahui hal tersebut setelah Menteri Pendidikan Cina mengundang 10 rektor yang salah satunya dihadiri olehnya yang mewakili UMS di Cina. Dalam pertemuan tersebut, Sofyan mengatakan bahwa salah satu rektor perguruan tinggi di Cina mengungkapkan bahwa saat ini Cina sedang gencar-gencarnya menanamkan ideologi komunis kepada seluruh pelajar di Cina. Termasuk mahasiswa dari Indonesia.

Baca Juga: Strategi Mbah Umar Solo Tepis Hoaks

Terhadap pemberitaan republika.co.id ini, ternyata mengundang reaksi dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok. Bernomor 010/PCINUT/IV/2018, PCINU Tiongkok melayangkan surat kepada Pimpinan Redaksi Harian Republika. Surat yang merupakan sikap PCINU Tiongkok ini berisi sebagai berikut:
  1. Berdasarkan pengalaman kami, Universitas di Tiongkok tidak mengajarkan ideologi Komunisme sebagaimana yang Saudara beritakan.
  2. Kami keberatan dengan judul maupun isi berita yang tidak didasari fakta, bersifat insinuatif dan provokatif.
  3. Meminta kepada Redaktur Republika untuk menarik pemberitaan itu karena dapat mengganggu kenyamanan puluhan ribu mahasiswa Indonesia yang sekarang tengah belajar di Tiongkok.

Baca Juga: PBNU: Ceramah Keagamaan di TV Harus Selektif

Di akhir surat, PCINU Tiongkok juga menuliskan bahwa surat ini sekaligus menjadi Hak Jawab mereka sebagai bagian dari mahasiswa muslim Indonesia di Tiongkok supaya dimuat di Harian Republika.[]




(Redaksi RN)
Read More

Rais 'Aam PBNU Titip NU Pada Raja Bali


rumahnahdliyyin.com, Denpasar - Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Ma'ruf Amin, menitipkan Nahdlatul Ulama kepada Raja Bali, Cokorda Pemecutan XI, AA. Ngurah Manik Parasara.

Permintaan kiai Ma'ruf ini disampaikannya ketika Raja Pemecutan XI berpamitan hendak mendahului meninggalkan Halaqoh Kebangsaan dan Kemandirian Ekonomi Umat yang diselenggarakan oleh PWNU Bali pada Sabtu, 31 Maret 2018, di Aula Gedung NU Bali di Denpasar.

Baca Juga: KH. Ma'ruf Amin: Pancasila dan Piagam Jakarta itu Pemersatu Bangsa

"Saya nitip NU di sini," ucap kiai Ma'ruf Amin dari atas podium.

"Tanpa diminta kiai, NU seperti saudara sendiri," spontan, Raja Pemecutan XI langsung menjawab.

Dari atas podium, kiai Amin juga berpesan, kalau NU salah, tolong diingatkan. Dan kalau NU butuh bantuan, tolong dibantu.

"Iya kiai, sesibuk apapun kalau NU yang mengadakan acara, saya sempatkan hadir," tegas Raja Pemecutan XI lagi.

Baca Juga: KH. Ma'ruf Amin: Jangan Gunakan Nama "Muslim" Untuk Sebar Hoax

Setelah itu, Raja Pemecutan pun menaiki panggung podium untuk bersalaman. Tepuk tangan dari para hadirin pun sontak bergemuruh.

Perlu diketahui, sosok Raja Pemecutan XI ini dikenal begitu dekat dengan kalangan muslim di Bali. Sering kali, ia tampil pada acara-acara umat Islam. Bahkan, ia pernah melindungi kampung Muslim tatkala terjadi sengketa lahan di Pulau Serangan, Denpasar.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Bagi Raja Bali, sikapnya yang demikian ini karena alasan historis hubungan Hindu-Islam di Bali yang sudah terjalin begitu lama. Sehingga, hubungan yang sudah harmonis ini harus tetap dipertahankan.

"Apalagi dengan NU, gak usah ditanyakan lagi sudah saya anggap saudara sendiri dan akan kami jaga," tegas Raja Bali itu, sesaat sebelum memasuki kendaraannya sebagaimana diberitakan oleh NU Online.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : nu.or.id
Read More

Rakernas CSNU


rumahnahdliyyin.com, Probolinggo - CSNU (Computer Society of Nahdlatul Ulama), yang didirikan pada bulan April 2016, merupakan asosiasi dosen dan praktisi dibidang komputer yang berafiliasi kepada NU. Target utama CSNU adalah meningkatkan akreditasi prodi-prodi bidang informatika dan komputer di lingkungan Nahdlatul Ulama. Prodi yang tadinya C diusahakan menjadi B, yang sudah B diusahakan menjadi A.

Pertanggung jawaban pengurus lama dan pemilihan pengurus baru pada Rakernas 2018 kemarin, hari Sabtu, 31 Maret 2018, di Universitas Nurul Jadid, Paiton, alhamduliLlah telah berjalan lancar. Berbagai strategi penting telah berhasil dijalankan dan alhamduliLlah sudah banyak memberikan manfaat luar biasa. Doctoral Camp, berbagai workshop peningkatan kapasitas pendidikan tinggi NU, program Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT), penerbitan jurnal ilmiah yang bernama Nusantara Journal of Computer Applications (NJCA) dan berbagai program lainnya, alhamduliLlah telah berjalan lancar.

Baca Juga: Mengenal ISNU

Semoga lebih banyak lagi prodi-prodi bidang informatika dan komputer dari berbagai Perguruan Tinggi NU di seluruh tanah air yang dapat segera bergabung dan saling berkolaborasi.

Dan selamat atas terpilihnya Dr. Hozairi, Universitas Islam Madura, Pamekasan, sebagai Ketua CSNU. Semoga sukses membawa maju pendidikan tinggi NU di bidang informatika dan komputer.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Terima kasih kepada KH. Najiburrahman Wahid, Universitas Nurul Jadid, Paiton, selaku Ketua CSNU periode 2016-2018 dan seluruh jajaran pengurus atas segala dedikasi dan perjuangannya sejak awal berdirinya CSNU. Semoga Allah SWT. senantiasa meridloi dan menerima seluruh amal ibadah kita.

Mohon do'a juga kepada Ulama dan Masyayikh NU untuk kemajuan pendidikan tinggi di lingkungan NU.[]
Read More

Santri Kediri Ikrar Menjadi Pengawas Pilkada


rumahnahdliyyin.com, Kediri - Bertempat di Hutan Kota Joyoboyo, Jalan Ahmad Yani, Kota Kediri, ditengah guyuran hujan deras, ada sekitar lima ratus santri dan santriwati mengucapkan ikrar menjadi pengawas Pilwali dan Pilgub Jatim 2018.

Pemilihan santri sebagai bagian dari pengawas proses Pilkada di Kota Kediri ini, menurut Anggota Bawaslu, Mansur, sebagaimana dilansir oleh detik.com, karena santri merupakan bagian dari masyarakat yang sangat mudah diterima oleh masyarakat dan oleh berbagai macam kalangan.

Baca Juga: Nurul Jadid Pelopori Media Center Pesantren

Selain itu, Mansur juga mengakui bahwa mengikut sertakan santri dan santriwati pondok pesantren ini merupakan salah satu cara Bawaslu untuk mengajak masyarakat menjadi agen penyampai informasi terkait aturan maupun pelanggaran.

"Iya, memang kami sengaja mengajak santri untuk ikut mengawasi jalannya pesta demokrasi Kota Kediri dan Jawa Timur. Selain mengawasi proses kampanye, nantinya para santri juga menjadi penyampai informasi terkait pilkada," kata Mansur di lokasi acara pada Minggu dini hari, 1 April 2018.

Baca Juga: Santri Milenial dan Tantangan Seabad NU

Fungsi dan tugas mereka nantinya, jelas Mansur, melaporkan kepada Bawaslu jika menemukan adanya pelanggaran kampanye ataupun menyampaikan informasi terkait peraturan kampanye Pilwali dan Pilgub.

"Fungsi dan tugas para santri nantinya adalah mengawasi serta melaporkan kepada Bawaslu jika ada pelanggaran kampanye," imbuh Mansur.

Baca Juga: Kemenag: Diantara Ciri Santri Adalah Mencintai Negeri

Sementara itu, Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, mengapresiasi Bawaslu dan santri yang memiliki niat baik dan berinisiatif untuk ikut ambil bagian dalam pengawasan proses Pilkada.

"Selain Bawaslu, polisi, TNI dan KPU, masyarakat juga memiliki kewajiban ikut serta menjadi pengawas dan melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan adanya pelanggaran, dalam hal ini santri," jelas Anthon.

Baca Juga: Muslim di Kampung Peer Papua Butuh Pembina Agama

Ikrar santri menjadi pengawas Pilkada ini diakhiri dengan Deklarasi Anti-Hoax oleh para santri dan santriwati bersama dengan anggota Bawaslu Kota Kediri, Polres Kediri Kota dan Kodim 0809 Kediri.[]


Editor : Redaksi RN
Sumber : detik.com
Read More

Sejarah dan Keutamaan Istighotsah


rumahnahdliyyin.com - Ketika bangsa mengalami bencana, baik bencana alam, bencana sosial maupun bencana terkait carut-marutnya kepemimpinan nasional, masyarakat Muslim di Indonesia--khususnya kalangan pesantren dan warga NU--terbiasa melaksanakan Istighotsah dalam rangka memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.

Dzikir dan do'a yang terdapat dalam Istighotsah, disusun pertama kali oleh KH. Muhammad Romli Tamim, Jombang, yang kemudian disepakati oleh para kiai sepuh NU dijadikan sebagai bacaan baku secara turun-temurun hingga sekarang.

Baca Juga: Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis

KH. Ishomuddin Ma'shum, telah menulis buku tentang Sejarah dan Keutamaan Istighotsah yang baru-baru ini telah diterbitkan oleh LTN Pustaka PWLTN NU Jawa Timur. Buku ini mengulas dengan sangat menarik mengenai sejarah penyusunan Istighotsah dan perkembangannya dengan disertai kisah-kisah inspiratif yang penuh hikmah.

Buku ini, dengan cukup mendalam, juga mengungkap rahasia dan keutamaan dzikir dalam Istighotsah berdasarkan Al-Qur'an, Hadits dan pendapat para Ulama' Ahlussunnah wal-Jama'ah (Aswaja). Selain itu, buku ini sekaligus juga menjawab secara ilmiah tuduhan kelompok-kelompok tertentu yang telah meyakini adanya unsur-unsur bid’ah dan kesesatan didalam Istighotsah.

Baca Juga: LTN NU Lampung Terbitkan Dua Buku Dalam Satu Periode

Ini beberapa endorsmen dari para kiai terhadap buku tersebut.

“Tradisi Istighotsah adalah tradisi yang baik yang telah diwariskan oleh para kiai pesantren dan NU. Maka, jadikan buku ini sebagai langkah awal untuk mengenalnya, sehingga kita senang menjadikannya sebagai washilah ruhiyyah agar semakin dekat dengan Allah SWT., hingga memperoleh kedamaian jiwa bersama-Nya.” KH. Anwar Manshur (Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur).

Baca Juga: Al-Muna; Kitab Terjemah Pegon Nadhom Asmaul Husna Karya Gus Mus

"Istighotsah adalah sarana seorang hamba untuk mendekat--sekaligus memohon--kepada Allah SWT. agar semua impian dan keinginan dapat dikabulkan. Istilah ini tidaklah asing bagi kalangan pesantren dan NU. Termasuk bagi para pengikut tarekat di Indonesia. Tapi, kita semua hampir tidak tahu, siapakah sebenarnya yang terlibat menyusun bacaan-bacaan Istighotsah. Hingga dalam setiap acara Istighatsah, dipastikan bacaannya sama. Karenanya, buku ini layak dibaca sebab menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus memberikan penjelasan sejarah dan keutamaan-keutamaan dalam setiap bacaanya Istighotsah." KH. Sholeh Qosim (Pengasuh PP. Bahauddin Sepanjang, Sidoarjo).

Mengenai keterangan buku secara lengkap, yaitu:

  • Judul: Sejarah dan Keutamaan Istighotsah
  • Penulis: KH. Ishomuddin Ma'shum
  • Pengantar: KH. Tamim Romli
  • Editor: Wasid Manshur
  • Penerbit: LTN Pustaka PWLTN NU Jatim
  • Tebal: 136 halaman
  • Pemesanan: 085230702045

[]
Read More

Buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme Dibagi Gratis


rumahnahdliyyin.com - Buku berjudul Tarekat & Semangat Nasionalisme yang dibagikan secara gratis pada pembukaan acara Musyawarah Idaroh (MUSDA) ke-4 Jam'iyyah Ahlith-Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Idaroh Wusto Jawa Timur, menampilkan fakta sejarah tentang peran para kaum Tarekat dan kaum Sufi dalam proses berdirinya NKRI hingga kontribusinya dalam mempertahankan dan mengembangkan NKRI. Buku ini juga menepis asumsi bahwa kaum Tarekat dan Sufi hanyalah seorang yang ahli Dzikir.

"Dengan potensi sosial yang solid diikat oleh rasa kebersamaan dan ketaatan searah kepada pimpinan spiritual, maka institusi tarekat menjadi potensial untuk ditransformasikan sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap realitas politik dan pemerintahan yang tidak adil. Termasuk mengawal NKRI," papar Dr. Ahmad Marzuqi, Koordinator Penulisan Buku tersebut disela-sela Pembukaan acara tersebut, Sabtu, 31 Maret 2018.

Baca Juga: Peran Strategis Jatman Dalam Mengawal Keutuhan NKRI

Ada 2000 eksemplar buku Tarekat & Semangat Nasionalisme yang dibagikan secara gratis kepada para peserta aktif dalam acara tersebut. Mereka terdiri dari para Mursyid, pengurus Idaroh Aliyah, pengurus Idaroh Wustho dan beberapa tamu undangan VIP. Tamu-tamu undangan VIP tersebut antara lain yaitu Kapolda, para pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh lintas agama.

Penulisan buku tersebut terinspirasi dari teladan KH. M. Sholeh Bahruddin selaku Pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari, Pasuruan.

Baca Juga: Lima Ribu Arwah Awali Pembukaan Musda Jatman Jatim

“Terkait buku Tarekat dan Semangat Nasionalisme, buku ini lahir diawali dari inspirasi beliau Romo kiai Sholeh Bahruddin selaku pengasuh Pondok Pesantren Ngalah. Selain inspirasi dari beliau, buku ini berawal dari kegelisahan dari situasi dimana negara kita sudah mulai mengalami krisis cinta tanah air," imbuh Alumni Pondok Pesantren Ngalah tersebut saat Konferensi Pers bersama para wartawan disela-sela kegiatan Musda tersebut.[]
(Dianis)
Read More

Nahdliyyin Kalbar Deklarasikan Pilkada Damai


rumahnahdliyyin.com, Sekadau – Sabtu, 31 Maret 2018, ribuan warga Nahdliyyin Kalimantan Barat mengkampanyekan dan mendeklarasikan Pilkada Damai Anti Hoax dan Isu Sara dalam acara Apel Akbar Kesetiaan Pancasila yang berlokasi di Lapangan Parkir Lawang Kuari, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir.

“Kepada Warga NU se-Kalimantan Barat, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan. Yang pertama, tolak politik uang dan politisasi sara Pilkada. Mari kita jaga bersama Pilkada ini menjadi Pilkada yang demokratis dan berintegritas. Tolak uangnya dan laporkan pemberinya. Bantu kami, Bawaslu, untuk mengawasi pemilu,” kata Sarifa Aryana, Komisioner Bawaslu Kalimantan Barat.

Baca Juga: Gema Yalal Wathon di Sekadau Tunjukkan Nahdliyyin di Kalbar Banyak

Bawaslu juga berpesan supaya warga Nahdliyyin memeriksa nama-namanya di DPS. Apakah namanya tercantum dalam daftar pemilihan, atau tidak.

“Dan yang kedua, periksa nama kita di pengumuman DPS dikelurahan, RW dan RT untuk memastikan hak pilih kita. Dan lapor ke posko penerimaan pengaduan jika nama kita tidak terdaftar. Mari kita bergembira menyambut pesta demokrasi pada 27 juni 2018,” pesannya.

Selain itu, Sarifa juga mengajak agar warga NU Kalimantan Barat untuk ikut berperan dan membantu Bawaslu dalam menyampaikan Pilkada Damai.

Baca Juga: LP. Ma'arif NU Kalbar Memantabkan Eksistensinya

Selanjutnya, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, KH. Hildi Hamid, memandu warga Nahdliyyin untuk membacakan Pernyataan sikap warga NU Se-Kalimantan Barat pada Apel Kesetiaan Pancasila dan Harlah NU 92, Sabtu 31 Maret 2018 itu. Isi dari pertanyaan sikap tersebut yaitu:

  1. Menolak berita hoax/berita bohong/fitnah yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
  2. Mendukung kepolisian melakukan penegakan hukum untuk memberantas pelaku hoax.
  3. Kami siap mendukung Pilkada Kalbar berjalan dengai damai dan menjaga pluralisme di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Musda MUI Kalbar Bertema Ukhuwwah dan Wasathiyyah

Deklarasi Pilkada Damai ini bertujuan agar warga Nahdliyyin se-Kalimantan Barat ikut andil dan berperan untuk menebarkan kedamaian. Terutama saat Pilkada mendatang.

Acara apel Akbar yang dinilai merupakan momen yang pas untuk menyampaikan Deklarasi Pilkada Damai ini pun sekaligus untuk memastikan bahwa acara Apel Akbar ini murni acara Nahdlatul Ulama, tidak ada sangkut paut politik didalamnya.[]
(Maulida)
Read More